Dulunya Pengangguran Kemudian Kaya Raya Jualan Batik

Profil Pengusaha Sukses Suntiah 


 
Pernah menjadi pengangguran kini pengusaha kaya. Inilah kisah perempuan bernama Suntiah. Berkat sukses booming batik menjadi warisan budaya. Wanita 39 tahun ini memiliki omzet mencapai ratusan juta, bahkan sampai miliaran rupiah. Alkisah dia memulai berbisnis cuma berjualan batik keliling kampung.

Dia terlahir dari keluarga sederhana. Hidupnya penuh perjuangan berjualan sendiri. Suntiah berjualan kain batik berkeliling kampung. Berkat kreatifitas, tidak cuma berjualan, kini dia dikenal sebagai seniman batik lewat brandnya Royyan Batik. 

"Kalau keuntungan bersih Rp.137 juta," imbuhnya. Warga Desa Tegalrejo, Kec. Merakurak, Kabupaten Tuban ini juga mengajarkan anak- anak membatik.

Dari arahan langsung dirinya, diharapkan kelak mewarnai wirausaha Indonesia. Ketika anak- anak masuk ke tempatnya akan langsung disambut deru mesin jahit. Tidak cuma tempat produksi, juga terpampang koleksi karya Suntiah yang dijejerkan. Galeri kecil- kecilan yang baik berisi batik dan tumpukan kain putih siap.

Bisnis kecilan


Tahun 1988, dia memutuskan berhenti bekerja, dulunya dia bekerja sebagai karyawan pabrik di kawasan kota Sidoarjo. Dia menjadi pengangguran. Bingung akan nasibnya dirinya ditegur. Sang mertua mendatangi Suntiah dan meletakan setumpuk plastik berisi kain batik siap pakai.

Waktu itu bulan puasa dan dia mulai berjualan. "...jualan pakaian dari mertua keliling kampung," kenang dia. Tidak jarang wanita kelahiran 1 Juli 1974 ini sampai ke kampung sebelah.

Mau gimana lagi karena suami juga pengangguran. Posisi kala itu kepepet keduanya tidak punya pekerjaan. Dari perjalanan berjualan kok ternyata lumayan laris. Sambil mengobrol terceletuk keinginan belajar batik ke suami. Suntiah memang sama sekali tidak dapat membatik waktu itu.

Uang dihasilkan memang tidak banyak berjualan pakaian. Dari uang jualan dijadikan modal kembali ke baju batik lain. Inilah mendorong Suntiah ingin membuat batik sendiri. Cara menjual lewat kredit baju memang dirasanya cepat menarik perhatian masyarakat, meski untung sedikit.

Ia lantas belajar ke pembatik profesional. Uang Rp.300 ribu dijadikan mahar buat belajar membatik. Angka segitu terbilang besar buat keluarganya. Tahun 2000 -an mereka memang hidup serba pas- pasan. Namun semangat belajar dan passion lebih besar dibanding harga segitu.

Sempat berpikir mau tidak jadi. Berpikir lebih baik dibelikan baju jadi buat dijual kembali. "Ilmu itu mahal, dan pasti akan berguna kelak," Sutiah menyemangati diri. Suami lah yang mengatakan kalimat tersebut. Dan akhirnya dia bersemangat belajar membuat batik sendiri.

Dia belajar dari pembatik asal desa sebelah. Cuma butuh waktu seminggu dirinya sudah mahir. Dia sudah bisa membuat batik sampai jadi. Langsung diparktikan membuat 12 potong kaos batik. Kemudian  dijualnya seharga Rp.12 ribu per- buah. Dia menawarkan barangnya ke penjual di kawasan makan Sunan Bonang.

Dia dapat uang sampai Rp.60 ribu. Pokoknya tidak ada rasa malu ketika menawarkan. Suntiah sudah sadar betul konsekuensi menjadi pengusaha. Total modal dikeluarkan Rp.300 ribu dan cuma menghasilkan Rp.60 ribu. Berjalan mulus pesanan dari Sunan Bonang membuatnya sampai kesulitan mencari bahan kaos.

Diketahui dulu tidak ada satupun pabrik pembuat bahan kaos. Agar dapat bahan kaos polos, para pembatik harus menyeberang ke daerah Babat, Lamongan. Itupun hanya seorang penjahit biasa, yang sudah menjadi langganan para pengusaha konveksi besar. Jadi yah Suntiah harus mengantri agar dilayani dibuatkan kaos polos.

Menunggu sampai sore terkadang dia, yang ditemani suami, tidak mendapatkan bahan kaos polos. Penjahit itu mengesampingkan pelanggan baru macam Suntiah. Ketika sudah buntu Suntiah memutuskan membeli mesin jahit sendiri. Dia mendapatkan arisan dan dibelikan mesin jahit dari Surabaya.

Bisnis lebih besar


Dari sekedar membuat kaos batik, usaha Suntiah merambah konveksi batik. Berbekal uang seadanya dibeli satu mesin jahit. Karena menjahit urasan berbeda dengan membatik. Maka Suntiah mengajak penjahit buat ikut bergabung dengan bisnisnya. Namun para penjahit sinis mendengar konsep bisnis Suntiah jelaskan.

Mereka ragu akan kemampuan wanita berjilbab ini. Alhasil, dia harus bekerja sendiri, bersyukur tetangganya ada yang mau mengajarkan menjahit gratis. Dimulailah dia berproduksi aneka konveksi batik sendirian. Batik dibuatnya dan dijualnya sendiri.

"Pokoknya saya punya prinsip itu, kalau ingin berhasil jangan punya rasa malu," tips Suntiah.

Lambat laun nama usahanya mulai dikenal. Pesanan batik makin banyak berdatangan. Suntiah jadi semakin serius mengerjakan pesanan. Beberapa kali suami memarahi dia karena terlalu serius. Dia bekerja sampai- sampai lupa waktu. Bekerjanya sampai larut malam kurang istirahat.

Namanya pengusaha pengen usahanya semakin berkembang. Iseng Suntiah melakukan eksplorasi dalam hal bahan batik. Dibelinya bahan kain berbeda dalam jumlah banyak. Sayang, tahun 2003 itu, malah dia jadi gulung tikar lantaran kainnya tidak dapat dibatik. Kain jenis baru tersebut tidak cocok dibuat batik katanya.

Dia ternyata tergiur harga murah. Memang kelihatan bagus tetapi ternyata malah bikin susah. Modal usaha ia keluarkan langsung hangus tidak bersisa.

Tidak ada pengusaha tanpa masalah. Itulah kenapa mental baja dibutuhkan termasuk dalam dirinya. Suntiah memang memiliki mental baja buat bekerja. Tekatnya merintis bisnis kembali dari awal. Lalu dia menyamblon kain yang tidak bagus itu seadanya. Kemudian dijualnya semurah mungkin agar cepat laku.

Masuk tahun 2007, dia nekat mengajukan modal usaha, kepada PT. Semen Gresik atau Semen Indonesia sekarang, yang mana nilai modal usaha tidak dijelaskan. Berkat itulah usahanya dijalankan kembali dengan tekat membenahi semua. "Sempat akan gulung tikar tahun 2003," imbuhnya.

Dia mulai mengikuti pameran dari perusahaan tersebut. Jaringan bisnis Suntiah dibangun sampai keluar Kota Tuban. Disanalah dia mulai dikenal sampai ke Jakarta, Surabaya, Bandung, Kalimantan. Inilah batik yang diberinya nama batik Royyan Batik. Dan omzetnya kini sudah mencapai angka Rp.1 miliaran lebih.

Tidak berhenti keinginan besar Suntiah adalah batik khas Tuban. Untuk mengembangkan budaya membatik, ia mengajarkan cara membatik ke banyak anak muda. Beberapa sekolah sudah mengirimkan anak didiknya buat belajar membatik. Maksud hatinya melakukan regenerasi pembatik Tuban agar tetap bertahan.

SMK Sukses Budidaya Pepaya Calisa Terpadu

Profil Pengusaha Muhammad Tono 



Menjadi pengusaha tidak berpatokan dengan latar pendidikan. Siapa saja, berlatar pendidikan setinggi mana saja, bisa menjadi pengusaha sukses kelak. Perlu dibutuhkan ialah fokus dengan tujuan. Bob Sadino telah membuktikan hal tersebut lewat dirinya.

Contoh lah Muhammad Tono seorang lulusan SMK. Jangan diliat latar pendidikannya, tetapi usaha pepaya miliki Tono maju. Pola pikir dikembangan bisnis Tono unik. Dia menganalisa bahwa Tuban kekurangan buah pepaya. Stoknya yang tipis sementara permintaan besar dari masyarakat.

Jadi tidak salah jika dia memilih pepaya Calina IPB-9. Ia mengembangkan bibit. Budidaya buah pepaya ini menghasikan buah pilihan. Untuk satu toko buah paling tidak dibutuhkan 20 buah pepaya. Di Tuban sendiri banyak sekali toko buah sampai puluhan.

"Saya berpikir untuk mengembangkan budidaya pepaya Calina," jelasnya. Dimana dikesempatan bersama Detik.com menyebutkan omzet sampai Rp.11 jutaan.

"...itu belum dikurangi gaji pegawai," celetuknya.

Pemuda kelahiran Julia 1991 ini memang tahan banting bertani. Tidak cuma jualan buah juga berjualan bibit pepaya. Ia setidaknya mampu meraih Rp.10 jutaan per- bulan. Usaha dibawah bendera CV. Negeri Hijau terus mengembangkan pepayanya.

Bisnis agrari


Belum genap setahun bisnisnya sudah lumayan. Ada dua tempat usaha dijalankan Tono. Pertama ada pusat pembibitan pepaya di Kelurahan Mondakan. Kemudian perkebunan pepaya ada di kawasan Desa Tuwiri. Ia mengatakan tempat pembibitan kecil tetapi menghasilkan empat ribu bibit.

Kebun pepaya Tono memiliki seratus pohon. Karena tempatnya kecil Tono tidak memaksa. Ia mengakali dengan memberikan konsep kerja sama. Yakni masyarakat mitra menjadi pemilik tanah, nanti bibitnya beli dari Tono, setelah berbuah maka akan dibeli Tono.

Ia sendiri tidak memaksa kok. Kalau sudah bisa memasarkan sendiri tidak masalah. Setiap dari mitra, Tono biasanya membeli dikisaran harga Rp.3.500 per- kg. Meski berbekal pendidikan SMK, Tono tidak mau kehilangan akal, langsung saja mencari reverensi dari mana saja cara membudidaya pepaya Calina.

Kelebihan pepaya Calina justru dari kecilnya. Karena buah pepaya cenderungnya tidak habis. Disisi lainnya buah Calina lebih manis. Soal produktifitasnya juga termasuk tinggi. Dalam enam bulan pertama sudah siap berbuah. Kalau sudah begitu buah dapat berbuah tiap 1 minggu. Seminggunya cuma boleh diambil sebuah saja ya.

Kenapa tidak memilih buah impor. Tono menjelaskan bermain buah lokal justru jarang pesaing. Yang kamu butuhkan hanyalah bagaimana membaca kebutuhan pasar. Tono menyebut Tuban merupakan daerah sejuk. Cocok buat menanam buah pepaya dan ternyata buah pepaya cukup digemari di masyarakat.

Mitra petani Tono mencapai 35 orang tersebar di wilayah Tuban. Total laha dikelola mitranya mencapai 13 hektar. Satu hektarnya dia menyebut ditanami 1.300 pohon. Jarak antar pohonnya 2 x 2,5 meter. Lalu ia mengingatkan pepaya tidak berkayu jadi jangan terendam air.

Meski tengah sukses Tono tidak berhenti. Jika dia mendapatkan kesempatan belajar. Maka Tono akan siap mengerjakan termasuk pelatihan wirausaha PT. Semen Gresik. Dapat pinjaman modal sampai 20 juta. Udah begitu Tono mendapatkan pelatihan kewirausahaan Wirausaha Muda Kokoh.

Sebagai pengusaha muda Tono siapkan ekspansi. Dia mengaku beternak kambing dan kotorannya. Kotoran dapat dijadikan pupuk buat pepaya Calina miliknya. Dalam sehari mengantungi 10 kantung kotoran. Ini jadi cara efekif mengurangi biaya budidaya pepaya Calina Tono.

Berawal dari prihatin dengan keadaan petani peternak Indonesia. Mereka punya ternak tetapi tanah mereka tidak terurus terawat. Padahal menurutnya peternakan dan pertanian dapat digabungkan. Tahun 2010, sejak lulus Wirausaha Muda Kokoh, uangnya digunakan juga buat membuka usaha ternak kambing.

Usaha dimulai dari 13 ekor kambing beranak pinak. Pola bagi hasil digunakan Tono kembali. Berbekal uang serta kepercayaan masyarakat sudah memiliki 400 ekor. Kambing titipan tersebut sudah termasuk 30 ekor sapi di kandang. Konsep pertanian terpadu menjadi andalan pengusaha muda 22 tahun tersebut.

Air kencing dan kotoran dijadikan pupuk. Ia kemudian menanam terong di lahan 1.000 meter. Sementara pepaya Calina mencapai luas tanah 1,5 hektar. Kambing akan dijual setelah gemuk setelah tiga bulan. Tono mengantungi Rp.150 ribu sampai Rp.200.000 per- ekor. Dia dibantu tujuh orang karyawan warga setempat.

Karyawan Tono mendapatkan Rp.35 ribu per- hari dibayar perbulan. Untuk petani yang lahannya digunakan juga sudah termasuk uang sewa lahan.

Pengusaha Produk Menyusui Bayi Urban Mom

Profil Pengusaha Edric Eng Cha dan Kristine Gonzales 



Apa dibayangkan kamu tentang ibu menyusui. Sebuah kerepotan tetapi sangat penting untuk dilakukan. Oleh karena itu bisnis dijalankan sepasang pengusaha ini berhasil. Mereka, Edric Eng Cha dan Kristine Gonzales, memulai usaha berkaitan dengan ibu menyusui.

Semua produk dijabarkan mereka sebagai jalan. Bagaimana seorang ibu menjaga tumbuh kembang bayi. Ini tidak cuma produk mempermudah menyusui. Tetapi juga produk makanan ramah bayi. Apakah kamu akan terkejut mendengar roti susu ibu ataupun selimut menyusui?

Roti susu ibu merupakan produk bebas susu buatan. Bukan susu sapi bukan pula susu bubuk kemasan. Keduanya memulai bermodal 100.000 peso. Menjual aneka produknya lewat toko online sendiri. Gonzales menyebutkan semua bermula dari inspirasi sepupu Edric. Dan kemudian berlanjut menjadi satu thesis kuliah mereka.

"Kami melihat bagaiman dia takutnya tentang anak terakhirnya," ujar Gonzales. Ini semua karena sepupunya mengalami kesulitan hamil -jadi hanya punya satu anak.

Bisnis serius


Ia melanjutkan mereka lantas membuat penelitian. Mereka bergabung dengan grup online. Tujuannya adalah mengobservasi dan meneliti ibu muda sekarang. Wanita sekarang, sebagai ibu, lebih memilih memegang anak mereka sendiri. Kalau dulu sih ibu memilih meninggalkan anak ke pengasuh.

Sebuah kesadaran mengenai ibu harus merawat anak sendiri. Oleh karena itulah, mereka menyiapkan cara mudah merawat putra- putri mereka sendiri. "Urban Mom fokus ke produk buatan lokal," imbuh Gonzales. Ia menyebutkan produk mereka mempermudah hidup ibu mudah dan gampang.

Mereka fokus ke produk ibu merawat bayi. Lebih fokusnya ke produk menyusui bayi. Produk andalan yang mereka suguhkan seperti Milking Treats: Produk jajan yang meningkatkan jumlah asi dikeluarkan ibu. Ini sangat populer bagi ibu yang keluar susunya sedikit.

Untuk penjualan Urban Mom menjual online. Mereka aktif mengikuti banyak bazar seperti Baby and Family Expo, Ustepreneur, dan Babypalooza. Kedepan produk Urban Baby masih memilik masa depan buat lebih tumbuh.

"Produknya masih terbatas terdistribusi, perusahaan menginginkan satu cara memperluas distribusi," tutur ia kembali.

Tidak ada agen penjualan lebih hebat dari ibu sendiri. Karena mereka tau tentang kehamilan mereka sendiri. Mereka tau tentang apa terbaik buat anak mereka. Meski mereka berdua belum menjadi pasangan ibu dan ayah. Bisnis mereka menjadi bisnis pertama layaknya anak butuh perhatian ekstra.

Mereka bahkan membolos kuliah buat mengikuti bazar. Justru kesulitan kuliah mereka menjadi cara unik melampaui batas mereka sendiri. Mereka mendapatkan tekanan nyata ketika berbisnis nyata. Namun masih dianggap pengalaman berharga bagi mereka dan bisnis mereka, Urban Mom.

Bisnis berlanjut mereka membuka toko khusus ibu. Ketika teman sekuliah bingung mengerjakan skripsi atau thesis. Maka keduanya sudah mengaplikasikan dan membuka usaha sendiri.

Bisnis Urban Mom lebih dari sekedar menjual kue. Hari ini, mereka menjual selimut menyusui, botol buat menyusui, dan lainnya membantu ibu merawat bayi. Inspirasi mereka adalah ibu sekarang yang mulai sadar merawat bayinya sendiri lebih utama.

Berawal dari sepupu Erick yang susah punya anak. Selepas delapan tahun akhirnya memiliki anak bayi. Lalu kita diamkan saja anak satu- satunya. Tentu tidak. Oleh karena itulah, Urban Mom melahirkan banyak hal buat membantu ibu muda, inilah kisah pengusaha produk ibu menyusui anak.

Usaha Kesenian Sepatu Lukis Tidak Lekang Untung

Profil Pengusaha Dhani Iskandar 



Menjadi pengusaha harus merasakan pahit- manisnya. Walau kamu tidak pernah rugi sekalipun. Masalah itu akan datang lewat cara mana saja. Dari pegawai yang tidak berkualitas dan susah diajarkan. Atau seperti kisah pengusaha bernama Dhani Iskandar. Wanita satu ini pernah melihat sendiri bisnisnya "hangus" habis.

Dhani bersama suami ingat betul semua berawal. Mereka sejak awal memiliki toko sepatu, berbisnis sejak 1986. Dua toko sudah ditangan di kawasan Pasar Turi. Tetapi pada 2007, toko mereka hangus terbakar dan hanya menyisakah puing- puing.

Mereka rugi ratusan juta. Mereka kamudian membuka usaha pakaian tetapi gagal. Ujungnya mereka lalu mencoba berbisnis sepatu kembali. Dua tahun tanpa pekerjaan resmi pengangguran. Kemudian Dhani lihat anaknya tengah melukis sepatu. Lukisan anaknya ternyata disukai teman- teman sekolah.

Bermodal Rp.600 ribu dibelikan enam pasang sepatu. Dhani ikutan melukiskan sepatu polos. Enam pasang tersebut lantas dijualnya. Alhasil, kini, mereka menghasilkan 400 pasang sepatu lukis. Harga antara Rp.100 sampai Rp.300 ribu per- pasang. Omzetnya mencapai angka Rp.16 juta dalam sebulan.

Menjual ke teman, kemudian keberuntungan datang. Dhani sempat menyelipkan sepatunya buat dilirik ibu Gubernur. "Ternyata ibu Gubernur sukam," kenangnya. Dengan respon tersebut ia membranikan diri ikutan ke aneka pameran. Tahun 2009 akhir lahirlah toko sepatu lukis karya Dhani.

Menurut Dhani, dulu sewaktu usaha sepatu biasa, banyak pelukis memesan sepatu polos ke dia. Kebetulan sang anak melukis diatasnya. Kemudian Dhani mulai mempelajari bagaimana cara melukis sepatu. Hambatan terbesar adalah masih kurangnya sumber daya manusia berkualitas.

Sampai pernah sekali waktu dia mendapatkan pesanan dari Amerika. Lantaran permintaan pesanan sampai sekontainer, Dhani berat hati melepaskan. Tetapi tenang, karena usaha dijalankan Dhani ini telah berhasil merambah berbagai daerah di Indonesia. Semua berkat kekuatan internet menjual lebih mudah sekarang.

Dulu Dhani mampu mengantungi omzet Rp.20- 24 juta per- bulan. Kini dia cuma mengantungi Rp.6 juta per- bulan. Semua karena pengaruh ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, dia memaklumi lantaran harga bahan baku naik, dan lain- lain. "Lumayan lah mas jutaan rupiah bisa saya kantongi," tandasnya.

Profesional Muda Belia Venture Capitalist 19 Tahun

Profil Pengusaha Patrick Finnegan


 
Umurnya sih baru 19 tahun, tetapi Patrick Finnegan merupakan salah satu venture capitalist ternama. Nama pemuda kece ini menjadi buah bibir banyak media besar seperti CNBC dan CNN. Dia lah contoh wujud generasi Z, generasi termuda dari milenia.

Berawal dari keinginan mendirikan startup sendiri. Ia mulai fokus mengejar mimpinya menjadi pemodal. Dia pindah ke Manhattan dengan segala kesuksesan.

Drop out sekolah


Anak muda kelahiran Connecticut, dan tumbuh besar di kawasan Willaimstown, Mass -sebuah kota kecil di Berkshire. Dia bersekolah di sekolah asrama bernama Eaglebrook School. Itu merupakan sekolah khusus laki- laki sampai kelas enam. Sebuah pengalaman menyenangkan ujarnya. Selepas lulus hingga sampai kelas delapan dia berjalan dalam kebosanan perjalanan akademis.

Finnegan memiliki pandangan masa depan. Di umur 14 tahun, contohnya, bisnis pertama Finnegan dimulai dan ini tentang startup kupon. Itu loh, bisnis online yang menawarkan kupon aneka diskon baik makan atau traveling. Untuk mengakali umurnya dia terpaksa membuat identitas palsu.

Tidak buruk karena dia mengantungi untung $80.000, mengerjakan aneka proyek online. Dan banyak bisnis dijalankan tetapi tidak selalu berhasil. Ia tidak menjelaskan detailnya kenapa. Yang pasti membuat identitas palsu membuat Finnegan kecil khawatir.

Memang sampai lulus dia tidak pernah tertangkap guru. Tetapi ketika itu ibunya yang memergoki KTP palsu miliknya.

Semua bisnis dijalankan dari balik pintu kamar asrama. Selepas sekolah menengah pertama, Finnegan malah drop out ditengah jalan ketika menengah atas. Mungkin bagi orang tua atau orang tidak mengenalnya, ini menjadi keputusan paling menyedihkan, tetapi salah besar.

Beruntung dia diterima kerja di perusahaan periklanan, Wieden+Kennedy. Dimana merupakan perusahaan agensi yang menangani iklan terbaik Nike. Tidak cuma itu Finnegan juga mendirikan perusahaan sendiri yang bernama WorldState.

Perbedaan terbesar dari generasi milenia adalah brand. Dimana brand "kesusahan" mengenali demografi dari anak- anak jaman sekarang. Inilah kenapa bermunculan anak muda seperti Finnegan. Perjalanan karirnya kemudian melangkah dari satu firma, perusahaan marketing, dan pendanaan startup.

"Saya memiliki beberapa orang saya panggil, dan berkata, "bisakah kamu menaruh (investasi.red) $50 ribu?" atau beberapa $1 juta, sewaktu $2juta," ujar Finnegan bangga.

Meski membangun perusahaan kebanyakan berakhir gagal. Finnegan menemukan karirnya dibidang venture capital. Pengalaman bekerja dibidang periklanan dan diajari oleh para veteran. Nama Finnegan dipercaya oleh perusahaan bernama Studio.VC, untuk memahami bagaimana generasi baru kita dapat dipahami.

Alhasil dia menjadi yang termuda diantara VC di New York. "Patrick adalah networker yang menakjubkan, dan dia sangat cepata belajar mengenai apa orang akan sukai," puji Liam Lynch, pemilik Studio VC.

Pengusaha muda belia


Dia tidak menyebut berapa gajinya. Hanya Finnegan disebutkan mengerjakan proyek senilai $5 juta. Dia cuma menyebutkan pendapatan konsultasi antara $3.000 sampai $7.000. Totalnya dia mengaku sudah dapat mengantungi enam digit angka nol.

Kelebihan Finnegan adalah kegagalan terus menerus. Dari sinilah dia belajar bagaimana memahami tentang generasi kekinian.

"Saya sangat naif. Menjadi muda, kamu bisa memanfaatkan saya," ujarnya. Ia mencontohkan ketika umurnya 16 tahun dia pernah bekerja. Sebuah perusahaan bernama MetricsHub yang kemudian dibeli Microsoft. Dan sebagai pegawai pertama perusahaan, dia tidak dapat apa- apa.

Pelajaran terpenting dalam hidupnya. Kekurangan pendidikan formal bukanlah masalah. Ini terjadi delapan bulan lalu ketika dia bertemu dengan salah satu mentornya di New York. Kehidupan sosial kota besar dan bekerja di banyak perusahaan membawanya bertemu orang hebat.

Waktu itu sang mentor sangat mempercayainya. Sayangnya, dia gagal, mengecewakan mentor padahal dia dianggap lebih tau tentang generasi sekarang. Karena orang telah percaya dengan dia, maka tidak ada waktu berpesta sekarang.

"Saya harus memberikan 150% saya setiap saat," jelasnya.

Bagi anak muda seperti dirinya tentang bersenang- senang tidak lepas. Tetapi sekarang baginya menjadi lebih besar merupakan aset. Mimpinya menjadi pengusaha mogul, sukses dalam hal merombak tatanan pengusaha sekarang dan menstabilkan bisnisnya.

Dia bukanlah lulusan Harvard. Namun Finnegan mampu melihat pola pasarnya anak muda. Para milenia lebih melihat perusahaan berbeda. "Apakah itu trendy? Apakah tahan lama?" jelas Finnegan. Berbicara mengenai tip sukses ala pengusaha muda 19 tahun. Maka tiga hal penting dapat kamu pelajari sebagai berikut:

1. Kamu harusnya mengikuti arus

Dia pindah ke New York dan merasa dikalahkan. Orang berhasil mengejar pengalamannya dulu. Karena dia waktu disana cuma berbicara tidak melakukan. Dan Finnegan menyadari bahwa jika kamu mau menjadi pengusaha besar, kamu membutuhkan penyaluran.

"Saya mau mangatakan bahwa hal paling penting ialah menyalurkan," paparnya.

2. Bicara kurang, mendengar lebih banyak

Menjadi pengusaha berarti berbicara. Tetapi meski kamu butuh menyalurkan lebih banyak, akan ada waktu lebih banyak buat kamu berbicara kurang dan mendengar. Tidak membicarakan semua progres kamu di sosial media lebih penting. Karena itu semua ucapan kamu ke publik, maka kamu tidak akan jadi spesial.

3. Selalu bekerja keras

Kita memiliki akses keluar lebih banyak ketika kita tidak ada internet dulu. Sekarang keluar lah dan kejar mimpi kamu. Yang mana penulis isyaratkan bahwa terkadang internet berarti membuang waktu. Perhatikan apa yang kamu lakukan dan dunia nyata lebih baik.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba