Jual Buah Sayuran Sisa Tetapi Masih Segar

Profil Pengusaha Evan Lutz 



Masalah Amerika adalah membuang- buang makanan. Fakta meski masih banyak orang kelaparan, negara besar masih banyak membuang- buang sayuran dan buah dengan berbagai alasan. Sudah banyak pengusaha mencoba untuk mendobrak tradisi ini mulai tran organik dan jus buah.

Salah satunya, Evan Lutz, pengusaha muda berumur 23 tahun yang masuk acara Shark Tank. Itu loh acara seperti Berani Jadi Miliarder. Bisnisnya bernama Hungry Harvest yang fokus mendistribusikan kembali buah dan sayuran sisa -tetapi masih layak dimakan orang. 

Masalah mereka, buah dan sayur itu, terlalu jelek buat dimakan, kok bisa?

Bisnis unik


Tradisi untuk selalu mengambil produk terbaik. Ketatnya pemilihan sayuran membuat buah dan sayur tidak cantik akhirnya terbuang tidak terjual. Petani menjadi pemilih karena memang distributor diharuskan untuk memilah sayuran dan buah- buahan berfisik bagus, selain tidak ditumbuhi penyakit.

Alhasil petani tidak akan mendistribusikan buah jelek. Tradisi ini pula yang menyebabkan tidak mudah bagi pebisnis agro dari negara seperti kita masuk ke Amerika. Susah karena sangat ketat. Sementara itu aneka makanan fast- food mudah didapatkan. Aneh.

Kembali ke Evan Lutz, pengusaha muda asal Baltimore, dengan bangga menunjukan bisnis miliknya yang kita bisa bilang sederhana. Setiap bok buah dan sayuran jelek maka akan disisihkan satu bok buat disumbangkan ke orang kelaparan. Visi -nya tidak ada lagi makanan terbuang dan orang kelaparan di Amerika Serikat.

Fokus mengambil makanan jelek, dirinya dan beberapa tim Hungry Harvest mampu mendistribusikan sampai 1,2 ton produk untuk dipasarkan. "Kenapa mendonasikan jika kamu tidak menghasilkan?" ujar salah satu juri Shark Tank, Kevin O'Leary.

Memang Kevin terdengar tidak memiliki fokus mengolah. Ia lebih memilih mendistibusikan makanan jelek itu kembali. Hitungan 40% makanan Amerika tidak dimakan sebenarnya cukup. Itu karena distributor mall tidak mau menjual buah atau sayur dengan warna kurang segar, tidak berbentuk bagus, padahal kalau dimakan ya aman.

Model bisnis Hungery Harvest ialah membeli langsung ke petani dan juga distributor besar. Dimana satu bok akan dihargai Evan $15- $55 per- minggu (tergantung ukuran) dan itu sudah termasuk aneka bahan- bahan bumbu. Sebuah perusahaan fokus mengurangi makanan terbuang sia- sia di tempat sampah.

Dalam seminggu penjualan, Hungry Harvest mampu menjual $37.000 sampai $104.000. Sayangnya, jika kita hitung Hungry Harvest sama sekali tidak untung bersih. Bahkan tekor $20.000 padahal kala itu jumlah pelanggan sudah 500 orang. Salah satu juri Shark Tank lantas mengomentari lebih dalam tentang bisnis ini.

Barbara Corcoran mengkritik dia terlalu mencintai ide dan tidak rakus. Maksudnya bisa penulis jelaskan ia terlalu menikmati menjadi orang sosial, bukan pengusaha. Sosok yang terlalu menikmati mengurangi jumlah makanan terbuang dan kelaparan, tetapi disisi lain tidak mempedulikan keberlangsungan perusahaan itu.

Evan dalam acara tersebu sebenarnya hampir kalah. Karena ia menunggu Kevin O'Leary agar mau memberi modal. Dalam proposal diajukan ia menawarkan 5% saham atau senilai $50.000. Dan beruntungnya salah satu juri yaitu Robert Herjavec tertarik, dan memberikan $100.000 atau senilai 10% saham perusahaan.

Bisnis sosial


Sejak awal dia memang ingin menjadi pengusaha. "Saya ingin menjadi seorang pengusaha sepanjang hidup saya," katanya. "Tapi lebih dari itu, tujuan saya adalah untuk menjadi pengusaha sosial, untuk memberikan kembali kepada masyarakat dalam beberapa cara."

Sebelum masuk masa senior kampus University of Maryland's Robert H. Smith Business School, Evan sudah dikenal dengan aktifitas sosial, termasuk menjadi pekerja di organisasi Food Recovery Network. Dia mengambil makanan sisa di tempat makan kampus dan mendonasikan itu ke penampungan.

Dimana kemudian organisasi tersebut mengadakan dana CSA, mereka menciptkan tempat berjualan yang menjual aneka makanan sisa. Sepuluh hari berlalu, 500 mahasiswa membeli dari sana, dan inilah awal ide ia miliki sekarang.

" Saya menyadari ini adalah jauh lebih besar dan dapat ditingkatkan ke model bisnis untuk -profit," katanya. " Toko kelontong akan menolak seluruh produk jelek di truk, dan itu gila karena mereka penuh dengan hal fantastis, buah- buahan segar dan sayuran."

Memang sudah banyak perusahaan mengambil cara berlangganan. Seperti ada BirchBox buat kosmetik dan StitchFix untuk pakaian. Hungry Harvest akan memberikan tiga bok dengan aneka buah dan sayur langsung ke depan pintu. Tiga bok akan dipilih pelanggan satu bok berisi buah dan sayuran.

Perusahaan akan menawarkan apa yang ada. Karena itu pelanggan akan dapat memilih buah dan sayur jika tidak sesuai bisa bilang. Sayur atau buah yang membuat alergi tentu bisa ditolak. Untuk satu bok pembelian maka ada dua pound untuk diberikan ke masyarakat lewat organisasi Moveable Feast dan Maryland Food Bank.

Hungry Harvest juga mengadakan pasar petani bebas di tempat seperti Barat Baltimore. Dimana perusahaan sudah naik 700 pelanggan. Hal tersulit baginya meyakinkan bahwa sayur dan buah dijual segar. Menurut dia alasan sayuran ditolak karena ukuran dan bentuk random sekali. Padahal bisa saja apa yang dijual Evan lebih segar.

Dia sendiri sudah sering ngomong dengan investor. Tetapi untuk berbicara dengan pengusaha sekelas juri di Shark Tank beda. Ini sama halnya seperti mengajukan proposal investasi, bahkan tanpa editing karena reality show, jadi butuh dramatisir. "Ini merupakan pekerjaan mereka untuk membuat dramatis," tutur dia.

Life is Good Kaus Sederhana Memotivasi Hidup

Profil Pengusaha John dan Bert Jacobs 


 
Bert dan John Jacobs merupakan dua bersaudara dari enam orang anak. Sebuah pertanyaan selalu terngiang dalam benak mereka. Apa yang akan mereka lakukan dengan hidup mereka? Sebuah pertanyaan sederhana setiap malam yang menggugah hati dua anak nakal ini.

Mereka adalah dua bersaudara pendiri bisnis kaus Life is Good. Brand kenamaan dengan omzet mencapai $100 juta. Mereka terlahir dari keluarga menengah di Boston. Ketika masuk Sekolah Dasar, kedua orang tua mereka hampir mati karena kecelakaan mobil, maka pertanyaan tersebut diatas pantas ditanyakan.

Sang ibu menderita patah tulang dan utuh. Sementara ayah mereka kehilangan tangan kanannya. Karena satu kecelakaan merubah ayah mereka menjadi keras. "Dia banyak sekali berteriak ketika kami lulus sekolah," John berkata kepada Business Insider. Dan hidup tidaklah sempurna kembali.

Kedua bersaudara tersebut merasakan susah tinggal di rumah. Tetapi ibu mereka, Joan, masih percaya akan hidup itu baik. Life is good. Setiap malam mereka duduk bersama buat makan malam. Joan akan bertanya kepada ke enam anaknya yaitu apa hal baik kamu rasakan seharian itu.

Satu pertanyaan sederhana merubah suasana. Dan tanpa mereka sadari hidup mereka, penuh dengan energi positif, kelucuan, dan hari itu menjadi hari paling aneh mereka. John mengatakan sebuah pelatihan mental agar tidak menjadi sosok bermental korban. "Oh, kamu tidak akan percaya hal buruk ini terjadi kepada saya hari ini."

Ketika pulang sekolah bukannya berbicara tentang tugas sekolah. Bukan tentang dimarahi guru, tetapi akan bercerita tentang lucunya potongan rambut teman sekelas, ataupun pekerjaan menarik selain apa yang telah mereka gagal lakukan. Optimis merupakan hal terbaik dimiliki keluarga mereka sampai sekarang.

Life is good


Mereka berdua merupakan dua termuda dari enam bersaudara. Mereka dalam sebuah buku Life is Good, menjelaskan hidup mereka sempurna sekali tidak sempurna. Rumah mereka tidak punya penghangat. Para anak- anak juga lebih menyenangi bermain di luar. Ketika jam makan mereka akan berlari ke meja makan.

Ibu mereka akan bertanya, "ceritakan sesuatu yang baik terjadi hari ini." Daripada komplain tentang sesuatu menyebalkan terjadi, mereka memilih bercerita positif. Tidak ada cerita tentang berkelahi dengan anak lain dan juga masalah pelajaran.

Tahun 1988 menjadi awal perjalanan mereka selama tujuh hari. Dimana John ketika itu mau sekolah dalam rangka pertukaran pelajar. Hingga mereka berkeliling mencari tujuan hidup. Mereka mulai kehilangan uang simpanan. Cuma ada peta usang Amerika dari kakak mereka, Allan. "...dengan rencana khusus tidak ada rencana."

Tidak cuma berenang di danau indah Southern California, bertemu teman baru, dan bermain basket pinggiran pantai Venice Beach. Jika saja mereka tidak melakukan perjalanan ke tempat baru, orang baru, dan sebuah pengalaman, mungkin mereka tidak akan membuka pola pikir tidak mungkin mereka memulai berbisnis.

Tidak ada alasan mereka berdua tidak berbisnis. Keduanya kan bersaudara bisa melakukan bisnis bersama -meskipun terdengar gila ketika itu bagi teman mereka.

Awal sekali, sebelum perjalanan, ketika kedua bersaudara ini mulai pindah dari rumah dan mereka mulailah menjual aneka kaus dibawah nama Jacob's Gallery dan dijual di jalanan Boston.

"Langsung sukses? Bahkan tidak sampai," terang dia.

Mereka menyadari bahwa anak kampus mampu menjadi pasar baik. Hanya saja mereka tidak dapat terkait dengan brand mereka. Mereka lantas membeli mobil fan Playmouth Voyager untuk $12.000. Mereka lantas bergerak mengunjungi banyak kampus.

Mereka lantas menamai The Enterprise padahal cuma berdua dan kaus. Banyak orang lalu berpikir ini mobil yang hebat. Padahal mereka banyak kesulitan karena kendaraan tidak bagus. "Kami mencoba dan gagal seratus kali," imbuhnya. Penjualan tidak mencapai target mereka harapkan padahal sudah memakai mobil.

Apakah karena desain jelek, apakag mahasiswa tidak punya uang, atau karena mereka bangun pukul 1 pagi dan bertanya,"mau membeli kaus?". Entahlah, mereka berdua cuma meyakini bahwa kamu akan sukses atau gagal dan belajar -kedua hal tersebut sama- sama memenangkan sesuatu.

Umur 20 tahun masih bekerja separuh waktu. Mereka hidup dari satu cek ke cek lain. Pacar Bert lantas minta putuh karena ibunya menyadarkan dia. "Dia hampir berumur 30 tahun, dan dia masih berbagi mobil dengan saudaranya. Kamu butuh menyadarkan diri," ujar pacarnya.

Bisnis motivasi


Hidup bersama seorang ibu hebat -yang menyanyi di dapur, bercerita cerita bergambar, dan berakting seperti tokoh di buku fiksi. Apapun masalah mereka akan hadapi bersama. Pelajaran didapat dua bersaudar ini ialah apapun terjadi kebahagiaan tidak bergantung oleh keadaan.

"Dia memperlihatkan kami optimisme adalah pilihan berani kamu bisa buat setiap harinya, terkhusus ketika menghadapi berbagai kemalangan," lanjutnya.

Tagline bisnis mereka adalah "Life is not perfect. Life is not easy. Life is good." Maka ketika mereka telah memiliki bisnis besar. John dan Bert menanyakan hal sama kepada pegawai mereka. "Ceritakan kami suatu yang baik." Ketika mereka bercerita tentang pengalaman menyenangkan, maka ide muncul dalam semangat.

Kemudian pegawai mereka akan lebih semangat sukses. Mereka malah tidak menunda akan bekerja. Kisah ini tidak semudah dibayangkan. Mungkin Life is good bagi mereka tetapi perjalanan bisnis mereka cukuplah rumit.

Pertanyaan sang ibu menjadi pendorong mereka berjalan jauh. John dan Bert Jacobs melakukan perjalanan selama seminggu dari California ke Boston di 1988. Waktu itu mereka masing- masing umur 20 tahun dan 23 tahun melakukan perjalanan merubah hidup. Mereka lantas berbisnis dengan berjualan kaos di jalanan saja.

Dari asrama kampus lantas tidur di jalanan. Mereka berpindah dari PB&J dan tidur di mobil kami. Bisnis ini dimulai selama 5 tahun tetapi tidak menunjukan kesuksesan. Dalam perjalanan, namanya anak muda mereka merasaka gejolak berita negatif. Berkembanglah bisnis kaus berkonsep Life is Good dan mulai terlihat hasil.

Awal berbisnis mereka mengambil nama Jacob's Gallery. Mereka melalukan travling lama sampai ke East Cost menjual kaus ke anak kampus. Bisnis mereka dilema, mereka menyadari bahwa uang di bank mereka tinggal $78. Ketika bisnis mereka menjadi Life is Good menjadikan bisnis mereka lebih ngejreng dan laris.

"Kami mencari bertahun- tahun untuk, "what do we stand for?"," ucap John. Ide tersebut lantas ditaruh  ke dalam desain. Respon pun datang cepat seperti mereka harapkan.

Mereka menamai ulang bisnis mereka. Rebranded menjadi Life is Good, hingga dalam setahun, mereka telah mampu mengantungi $1 juta penjualan. Dan kini mereka telah menjual sampai $100 juta -menjual produk itu ke 4.500 toko retail berbeda.

Bisnis jiwa


Mereka selalu kuat meski banyak orang meragukan. Justru ketika kamu disepelekan, menjadi pengusaha itu berarti siap untuk membuktikan bahwa mereka salah. Mereka semakin bersemangat buat berbisnis kembali. Mereka tidak mau pulang kerumah, mencari jalur aman, dan melupakan disana potensi besar belum digali.

Pola pikir inilah membawa mereka tetap berpesta. Selepas melewati satu tempat maka mereka akan siap menjadi tempat pesta -seberapa pun penjualan dicapai. Pesta menyenangkan dengan bir gratis serta cerita hangat tentang perjalanan mereka. Tamu akan datang mencari hiburan disisi lain memberikan saran buat kaus mereka.

Menggunakan uang tanpa berpikir bahwa mereka gagal. Hasilnya mereka kehilangan banyak uang. Dengan sisa uang di Bank sejumlah $75 seperti kami ceritakan diatas -mereka kembali akan berpesta walaupun itu berarti pesta terakhi mereka.

Ketika mereka pulang mereka membahas desain baru. Disana mereka membahas tentang berita negatif di berbagai media masa. Apa sulit menjadi positif di jaman sekarang yang begitu penuh kenegatifan. "Tetapi bisa saja mungkin disana ada seseorang yang selalu gembira apapun terjadi kepada merek?" mereka berandai.

Kemudian John menggambar sosok itu. Seseorang dengan janggut berbaret dan kacamata tersenyum lebar itu seperti seniman. Desain mereka ternyata terjual super laris di pesta "terakhir" mereka. Satu komen sangat mengena yaitu "Orang ini mampu menemukan arti hidup". Inilah awal lebih jelas tentang kaus Life is Good nanti.

Mereka mulai mengeprin 48 kaus, dan menjual mereka di jalanan Cambridge pada 1994, Massachusetts. Kaus ini terjual dalam waktu sejam -bahkan dua lagi terjual milik mereka pribadi. "Orang menyadari akan ini dan mereka membeli.Tidak butuh penjelasan lebih lanjut," tulis mereka di buku.

Dua bersaudara ini bersemangat atas hasilnya. Mereka berharap kaus mereka dapat dilihat lebih banyak Ini cikal bakal The Enterprise penuh semangat. Mereka berkeliling Boston tanpa hasil. Sampai ada sebuah toko bernama Cape Cod. Nancy, pemilik toko, meminta 24 kaus dan berkata,"Siapa nama orang tersenyum ini?

"Jake" mereka sepakat menamai ditempat kepandekan dari Jacobs. Kemudian mereka menemukan hal yang mengejutkan. Jake berarti sebuah kata memiliki arti lengkap "semuanya akan baik- baik saja." Kaus terjual dalam dua minggu. Di akhir minggu, Life is Good terjual sampai kaus senilai $87.000.

Ternyata permintaan naik dan mereka mengambil pegawai pertama. Kerrie Gross, seorang pemuda berumur 23 tahun yang tinggal di apartemen dibawah mereka. Ketika mereka menggaet Manajer maka mereka penuh percaya diri memberi gaji $17.000. Untung, di akhir tahun, mereka mencapai penjualan $262.000 jadi bisa menggaji.

Percaya diri akan penjualan mereka. Life is Good kemudian ditempatkan di kantor berbeda yakni dalam satu kontainer dengan tinggi 40 kaki pada 1996. Sebuah desain menarik untuk kaus menarik semenarik judul Life is Good.

Mereka kemudian menempelkan pengingat lucu,"tolong bayar tepat waktu jadi kami bisa menyalakan lampu dan membayar staf toko kami."

Pada 1997, mereka sampai dengan penjualan $1 juta, dan akhirnya mampu menggaet tiga pegawai kembali ke kantor asli mereka Needham, Massachusetts, dimana mereka mulai membangun kultur perusahaan yang menerima humor kantor. Tertawa menenangkan mampu mendorong kita berkomunikasi dan menyelesaikan masalah.

Life is Good melebarkan produk mereka selain kaus. Dimana mereka telah memiliki 160 pegawai, terjual di 4.500 toko, dan berdonasi 10% dari pendapatan mereka. Mereka mengarahkan optimisme menjadi jalan bagi perusahaan mencapai kesuksesan.

"Kami ingin menyebarkan pesan ini dan membantu orang memahami kedalaman apa artinya," kata John l. "Ini bukan berarti bahwa hidup adalah mudah atau kehidupan yang sempurna. Ini bahwa hidup itu baik. "

Dianggap Gila Sepatu Pisang Suminah Sampai Eropa

Profil Pengusaha Suminah 



Pertama kali berbisnis pelepah pisang bukan sepatu. Namun, Pemprov Bengkulu menyarankan Ibu Suminah untuk mencoba sepatu, saran tersebut ditanggapinya serius. Suminah memang dikenal sebagai pengusaha sejak lama. Waktu itu, awal- awalnya dia mengerjakan aneka kerajinan berbahan pelepah pisang biasa.

Tidak ada spesial hanya aneka gantungan kunci, tas cantik, tempat tisu, atau berbagai aksesoris. Penjualan pun terbatas permintaan masyarakat. Berbisnis terkesan aneh ketika pertama kali masyarakat menanggapi produk miliknya. Apalagi ketika Suminah berencana mengeluarkan produk sepatu, apakah menghasilkan?

Mau diapakan lagi nih pelepas pisang?

"Saya sempat dikatakan orang gila oleh tetangga," celetuk Suminah. Mereka geli melihat ibu dua anak ini tengah mengumpulkan pelepas. Dipotongnya pelepas menjadi seperti kain. Kemudian dijemur sinar matahari di depan rumah. "...buat apa? Seperti tidak ada kerjaan saja."

Suminah memang gemar berkreasi. Cara unik ini ditemukan semasa kecil. Hanya baru ditekuninya menjadi bisnis ketika masuk tahun 1995. Dimulai dengan membuat aneka pernak- pernik kecil. Untuk menambah pendapatan suami, Suwarso, seorang PNS maka Suminah mencoba- coba kembali tetapi lebih serius.

Mulai membuat aneka gantungan kunci, dompet, dan seterusnya. Ia sendiri ketika memulai juga memakai bahan sampah plastik. Kedekatan akan alam lebih mendekatkan dia dengan kerajinan daun. Pelepah pisang disulapnya menjadi usaha menghasilkan meski mesih kecil.

Bisnis besar


Suminah tidak berpuas. Penghasilan berbisnis aksesoris pelepah pisang tidak banyak. Untuk itulah saran dari Pemprov diprosesnya dengan cantik. Bisnis kecil di tahun 2009, masuk tahun 2012, ia mulai mengikuti acara sekolah khusus menganyam sepatu dari Balai Persepatuan Indonesia di Sidoarjo. 

Tahun 2014, ia mengikuti sekolah kembali dalam hal pecah pola sepatu. Sepatu buatan Suminah mengikuti tren fasion jadi bukan sembarangan. Mencoba menjual, penjualan sepatu pelapah pisang ini awalnya tidak begitu populer hanya kalangan tertentu. Pemesan kebanyak di luar Bengkulu, mulai Gorontalo, Jateng, dan Jakarta.

Pemesan termasuk istri kalangan pejabat, mulai Gubernur dan Bupati. Pemerintah lantas merespon dengan ia dikirim ke ajang pameran di Tingkok. Bahkan dia dikirim ke Ukraina pada 2014 mempromosikan sepatu dari bahan baku pelepah pisang tersebut.

Dicermati dari hasil sepatu karyanya, cukup modislah buat jalan ke mal. Bisa digunakan baik remaja maupun ibu muda.

Beruntung berkat menyasar sepatu saban hari pesanan mencapai 10- 15 buah. Sepatu berbahan batang pisang ini dijualnya seharga Rp.150.000 sampai Rp.250.000. Variasi produk termasuk sepatu batang pisang bermotif batik buserek khas Bengkulu. Masalah pertama dia hadapi berbisnis apalagi kalau bukan modal.

Memakai brand Mega Souvenir bisnisnya melalang ke pasar Eropa. Hanya bahan baku susah buat dibeli tapi bukan soal batang pisang. Sejak awal, Suminah memang sadar Bengkulu tempatnya pelapah pisang. Tetapi buat bahan baku lem, insol, high heel -nya, dan pengkilap maka butuh beli di Pulau Jawa.

Bisnis sederhana bikin kaya


Bayangkan bisnis ini dimodali uang Rp.150.000. Kini omzetnya sudah mencapai puluhan juta rupiah. Jika beberapa pengusaha mengeluh, Suminah bersyukur akan bantuan pemerintah daerah karena ikut melahirkan ide. Tinggal masalah modal ekspansi saja dibutuhkan dia dan empat karyawannya.

Butuh waktu pula bagi Suminah menemukan pelepah pisang berkualitas. Layaknya bisnis lain ada namanya bahan baku bermutu dan tidak. Untuk sepatu pelepah pisang dibutuhkan yang bertekstur khusus. Apalagi kadar air dan getahnya tinggi, butuh sentuhan panjang agar pelepah nantinya bisa dianyam.

Wanita kelahiran Nganjuk, 12 Agustus 1968 ini, mengatakan pertama kali berbisnis cukup mengambil dari belakang rumah. Batang pohon pisang berserakan mudah didapat. Berbeda sekarang ketika berbisnis, mata harus jeli agar produk Mega Souvenir semakin berkualitas.

Dimulai sejak ikut pelatihan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bengkulu. Selama dua pekan Suminah telah paham betul tentang kualitas pelepah pisang. Keyakinan akan kualitas produk tetap terjaga, harga yang terjangkau, serta memiliki nilai seni tinggi menjadi landasan bisnis Suminah.

"Saya diajarkan cara membuat sepatu, cara membuat polanya, dan mendesainnya," kenang Suminah. Seperti kami jelaskan diatas banyak orang mengira dia gila. "Terkadang, muncul bisikan menyuruh saya berhenti saja dan perasaan bahwa saya tidak akan berhasil."

Ia membuang jauh perasaan tersebut. Suminah tetap ngotot karena didasari banyak alasan. Jika sebelumnya ia didasari kebutuhan, lambat laun dia mulai berpikir tentang membuka lapangan kerja, juga termasuk cara agar memajukan daerah Bengkulu. Sebisa mungkin dia memanfaatkan kelebihan Bengkulu di produknya.

Pelepah pisang dengan tekstur unik menjadi keunggulan. Butuh proses panjang untuk mendapatkan pelepah kering. "Saya sampai lupa, saking seringnya mencoba," terang Suminah soal berapa kali hingga dia berhasil. Ia mulai memotong, dijemur, direndam, sampai benar- benar kering. "Tapi faktanya masih lembab juga."

"Saya coba terus, sampai dikatakan tetangga tidak waras," ujarnya lagi. Sampai dia menemukan satu formula yang tepat. Cara pengeringan melalui oven menjadi andalan. Pertama kali mendesain dan pola sepatu hanya mengikuti pelatihan belum sekreatif sekarang.

Pemesan pertama datang dari kalangan ibu pejabat. Seiring mengikuti mode produknya mampu masuk ke pasar lebih luas. Semakin banyak pesanan semakin banyak merekrut karyawan. Cerdas ia memberdayakan ibu- ibu sekitar -yang menganggapnya gila dulu. Sebagian besar mereka menjadi pensuplai pelepah pisang.

Ada 10 orang warga ikut berbisnis dengannya mendapatkan penghasilan tambahan. Agar lebih mahir mereka diajak Suminah ke balai pelatihan ke Balai Persepatuan Indonesia di Sidoarjo. Meskipun bahan baku masih rumit, masih harus mencari di pulau Jawa, untuk urusan pembuatan dan penyelesaian dilakukan sendiri.

"Saya sama sekali tidak takut bersaing, malah senang membantu orang," jelasnya tidak takut mengajari orang lain.

Sukses Suminah menari perhatian Bank BNI Syariah melirik. Ia pun diangkat menjadi Duta Mutiara Bangsa Berhasanah. Dia menjadi 13 wirausahawan unggulan dari 415 kandidat. Visinya semakin ke arah dimana ia mau menjadikan orang lain berwirausaha.

Sukses Suminah menembus pasar Eropa melalui reseller asal Spanyol. Karena merupakan produk ramah lingkungan maka laris manis. Walau bukan dia langsung memasarkan -dia bersyukur produknya dipakai di Eropa sana. Tidak mau lekas puas, kedatangan seorang bule ke Bengkulu disambutnya menjadi prospek kerja sama.

Ia menargetkan produknya akan masuk pasar Eropa lebih dalam. Agar menguatkan brand maka dia sudah merencanakan mematenkan sepatu pelepah pisang menjadi produk khususnya. Biar lebih mecing dengan pembeli luar negeri, Suminah berencana mengganti nama Mega Souvenir atau agaknya membuat satu nama khusus.

Suwarno, suami Suminah, memang mengakui kegigihan sang istri. Apalagi juga ditambah semangat pantang menyerah dan bekerja keras. Jadia keluarga benar- benar merasakan perbedaan signifikan. Suminah sendiri tidak berubah, tetap menjadi sosok bersyukur karena bisa membantu orang banyak.

"Anak- anak sekolah semua meskipun dia sendiri tidak bersekolah secara layak," ujar Suwarno.

Putra pertama pasangan ini sudah lulus Sarjana dan menjadi pegawai Bank. Putra keduanya tengah sibuk kuliah Sarjana. Dan putra ketiganya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Cita- cita Suminah adalah bisa menyekolahkan mereka kalau perlu sampai jenjang pendidikan S2.

Bagaimana Caranya Berbisnis Fasion eCommerce

Profil Pengusaha Sherlyn Tan 



Lulusan terbaik dibidang keuangan Multimedia University. Sherlyn Tan langsung bekerja untuk Groupon. Di waktu itu, Groupon masih dikenal sebagai startup hebat, dan Sherlyn menjadi yang berkontribusi membuka departemen baru. Dalam 10 hari masa target dia membuka peluang lain salah satunya, ekspansi ke Penang, Malaysia.

Sherlyn mampu menjadi eksekutif, Business Development Director, hanya dengan waktu satu tahun setengah sejak bekerja. Disela- sela pekerjaanya, ia menuliskan nama situs Twenty3, menunjukan ambisi di umurnya 23 tahun bahwa kelak dia akan memiliki bisnis online sendiri. 

Twenty3 sendiri tidak jelas mau berbisnis apa. Sheryln cuma mau memiliki sesuatu yang mampu mensuport ambisinya. Sesuatu yang mensuport ambisinya menjadi artis. Dulu dia pernah mempunyai blog fasion hanya lantas dijualnya. 

Ia memiliki mata jeli tentang apa kesukaan wanita Malaysia. Jadi, dia memilih berbisnis ecommerce fasion.

"Saya cuma mau sesuatu yang bisa mensuport mimpi saya sebagai artis panggung. Saya pernah menjual satu blog fasion melalui blog lama itu dan memiliki cita rasa akan sesuatu disukai oleh gadis Malaysia, jadi saya memutuskan merubah Twenty3 menjadi toko ecommerce fasion," tuturnya.

Awal sekali, tanpa bekerja kembali, Sherlyn akan mengerjakan Twenty3 seharian dan menyanyi di kafe di malam hari. Itu semua berjalan selama tiga tahun agar tetap bisa makan. Kurun waktu tersebut Twenty3 bisa menjadi bisnis besar, menjadi salah satu brand fasion terbesar di negara, kini pendapatan mencapai RM10 juta.

Di bisnis tersebut ada 20 orang pegawai, dua toko retail, dan melalui toko onlinenya itu mampu melayani pengiriman barang 40.000 ke berbagai negara.

Brand tangguh


Buat kalian yang tidak mengenal brand ini. Bukanlah perkara mudah baginya mencapai titik disini. Twenty3 telah memiliki 400.000 'like' di Facebook. Pastilah pencapaian tersebut tidak mudah. Dari menjual pakaian wanita, kemudian menjaul pakaian pengantin atau pakaian keseharian, Twenty3 telah menoreh nama di bisnis fasion.

Dia bukanlah seorang berpendidikan fasion seperti kita bicarakan diatas. Tetapi berkat pendidikan keungan banyak membantu tentang berbisnis. Pengalaman lah yang mendorong dia menjadi pengusaha sukses. Dia ini menyukai menciptakan bisnis dan oleh karenanya, Twenty3 merupakan hal natural dalam kehidupan dia.

Akar bisnis Twenty3 memang sudah cukup lama. Dimulai sejak mendaftarkan domainTwenty3 pada tahun- tahun lalu. Dia terbiasa bereksperimen dengan pakaian sejak muda. Kini, diusianya yang matang, dia lebih memilih pakaian gym. "Ini mendorong saya untuk berolah raga," candanya.

Memotivasi lewat olah raga membentuk brandnya merupakan prinsip bisnis. Dengan pakaian yang tepat, dan ditambah filosofi tentang brand dapat menyuntikan kekuatan, percaya diri dan kekuatan kepada pemakainya. Oleh karena itulah Sheryln lebih ke filosofi brand dibanding sekedar menjual pakaian.

"..dan kami berharap untuk menginspirasi wanita dimanapun agar tidak mau menyerah akan mimpinya," ia melanjutkan.

Sheryln selalu melihat kedepan. Tidak pernah kehilangan arah tujuan. Itu dia dedikasikan lewat kerja keras dan berolah raga. Olah raga baginya merupakan tempat mencek kesehatan. Termasuk kesehatan mental di dalam berbisnis mendatang. Ia mengakui inilah caranya terlepas dari depresi. Hanya lima menit sudah cukup baginya.

Lima menit melalukan dorongan keras sudah cukup, mendorong lebih jauh dan kamu bisa melihat apapun itu mungkin. "Saya belajar melihat setiap masalah hidup seperti lima menit itu," ucapnya. Dan masalah pasangan adalah penting baginya memiliki kekasih yang mengerti. Dimana mau mengajaknya ke gym memulai satu sesi fitnes.

"Itu merupakan fital untuk memiliki seseorang yang mengetahui diri mu dan dimana kamu percayakan dimana bersama kamu memulai perjalanan," jelas Sheryln mengenai kekasih idaman.

Depresi terbesarnya perasaan kurang percaya diri sejak kecil. Maka selama hidupnya jadi pendorongnya agar tidak lekas puas. Contohnya, ya ketika dia bekerja keras untuk sekedar mendapatkan pengakuan tetapi tidak pernah cukup. Mukin terlihat kegilaan, tetapi ini menjadi pendorong dia ke dalam entrepreneurship.

Dia pun sembuh dari perasaan tersebut ketika membagi perjalanannya. Mungkin seperti sebuah pengalaman dia hampir mati. Dimana sejak itu pola pikir tentang kehidupan Sherlyn berubah. Ia mulai melihat kencatikan di setiap benda dan merasakan bahwa dirinya tidak pernah rasakan sebelumnya.

"Saya mulai menghargai pemandangan cantik dari kondominium saya setahun setelah saya pindah! - Dan saya menyadari apa yang benar-benar saya inginkan dan tidak ingin keluar dari kehidupan," dan hari ini, Sherlyn lebih berfokus pada apa yang penting -dan itu adalah kehidupan .

Prinsip hidup mendorong dirinya mencapai tingkat tertinggi. Baik dalah kehidupan berbisnis maupun dalam personal. Ini akan sangat mendukung kamu, apalagi ketika tidak ada satupun percaya padamu, tidak ada satupun pintu terbukan bagi mu. Kamu harus tetap memiliki kepercayaan diri tentang visi kamu tersebut.

Ia mengaku sulit membangun bisnis dan keluarga bersamaan. Apalagi ketika dia harus merawat bayi mungil tetapi dia menikmati hal tersebut. Pencapaian baginya tidak mencoba membangun sesuatu buat orang lain, rasa kepemilikan akan entrepreneurship adalah keberuntungan dan menikmati melihat anaknya tumbuh.

Bisnis kuat


Twenty3 merupakan platform bagi desainer muda. Mereka menjadikan ini tempat belajar tentang fasion. Dan bagaimana berkreatifitas dengan efisiensi karena fasion berubah cepat.

Sheryln memulai bisnis dengan modal RM 15.000 (ringgit Malaysia) di akun bank. Dia mengeluarkan uang sebesar RM.10.000 untuk berbagai developer website agar sesuai keinginan. "Saya menemukan satu orang bisa memenuhi spesifikasi saya."

Dengan uang sisanya, dia pergi ke Bangkok, dan membeli pakaian dijual lagi. Pimikirannya bagaimana bisa untung paling tidak RM 10.000 agar tetap hidup, dan beruntung dia berhasil. Ia menjelaskan lagi masalah ada utama yaitu arus kas.

Kalau diceritakan dia pernah sewaktu- waktu bertahan hidup hanya makan roti. Inilah kenapa dia harus berstrategi ulang tentang keuangan bisnis beradaptasi pasar.

Pertengahan tahun pertama dia menyadari hal. Dia harus mendesain sendiri produknya agar lebih terlihat. Ia mendapatkan banyak pesanan, jadilah Sherlyn mengalihkan produksi ke China. Hanya saja pabrikan China mengisaratkan pemesanan minumun besar. Untuk itulah dia harus mampu menyesuaikan permintaan dan pesanan.

Di tahun ketiga, Sherlyn memutuskan mendesain sendiri -dimana bisnis fasion ecommerce penuh penjiplakan desain. Orang baru akan mengkopi desain miliknya. Dia lantas mempekerjakan desainer sendiri, membuat peragaan busana di KL Fashion Week, brandnya semakin stabil, bukan lagi pabrik fasion cepat ataupun reseller.

Beruntung banyak majalah fasion mulai melirik brand miliknya. Menjadi sebuah transisi dari sekedar blog shop menjadi fasion label. Bisnis modelnya tumbuh dan diakui oleh costumer sebagai brand bukan penjual pakaian. Sherlyn pun memenangkan pengakuan Alliance Bank SME Innovation Challange 2015.

Ada perasaan begetar ketika orang keluar dari toko dan memakai pakaian Twenty3. Meski bisnis di bidang fasion sangat ketat, dia percaya diri dengan filosofi serta kekuatan brand -dimana desain mudah ditiru tapi tidak nama baik.

Sosial media merupakan hal fital dalam hal marketing pakaian wanita, tetapi penuh ranjau. "Salah menginjak bisa meledak, jadi perlakukan hati- hati," saran Sherlyn.

Bisnis fasion memang tentang industri ketahahan. Dimana kedepan tidak ada kepastian dalam soal fasion. Ia menjelaskan tidak ada loyalitas dalam membeli pakaian. Maka dibutuhkan brand kuat bagaimana merasakan tentang brand kamu.

Kesulitan di bisnis fasion ketika kamu tumbuh maka orang dan pabrikan akan lepas kendali. Pada akhirnya ini cuma soal ketekunan. Ketika kamu sudah diatas, maka percayalah bekerja keras akan mampu membawa ketidak kontrolan menjadi terkendali. Pemerintah juga kendala, ketika kamu berlari, mereka sangat lambat menanggapi.

Sukses bagi pengusaha menurutnya menciptakan batasan diri. Sejujurnya, ketika kamu telah mencapai satu pencapaian, kamu akan menciptakan pencapaian lain karena ini tidak akan pernah berakhir. Kunci sukses di entrepreneurship ada dua: jadi keras kepala dan ketekunan. Itu tidak akan sempurna ketika kamu memulai sesuatu.

"Jadi jangan membuang waktu cuma merencanakan bisnis sempurna," ia tambahkan lagi. Karena kamu akan mulai terjebak dalam kebekuan analisis. Jangan terlalu banyak berpikir tetapi mulailah. Meloncat lah belajar bagaimana membangun pesawat ke tujuan mu.

"Memaksakan diri, menantang diri sendiri, lakukan saja sekarang dan berpikir tentang hal itu kemudian - yang terbaik dan tercepat untuk belajar tentang bisnis anda. Ide dapat datang mudah, itu adalah eksekusi yang membuat atau mendobrak bisnis," tutupnya kepada Asianentrepreneur.org.

Facebook: Facebook.com/Twenty3my
Situs: Twenty3.my

Tas Bungkus Kopi Ebibag Berbisnis Lingkungan

Profil Pengusaha Edy Fakar Prasetyo 



Sampah menjadi masalah sekaligus berkah. Pasalnya mereka dibuang seenaknya di jalan. Siapa mau ambil mereka maka gratis. Dan salah satunya yang ikut mengambil mereka adalah Edy Fakar Prasetyo. Mengambil jurusan Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Pengusaha muda satu ini terobsesi akan masalah sampah. Sisanya Edy terobsesi akan UKM. "Saya, inginya menulis skripsi tentang pembiayaan UKM," paparnya. Maka tidak heran jika dirinya menjadi pengusaha. Ia kebetulan termasuk pemerhati lingkungan.

Ia ingin merubah sampah menjadi berkah. Ditangan kreatifnya bungkus kopi, teh, dan sampah plastik lain, ia rubah menjadi gantungan kunci, dompet, dan yang terindah dompet wanita. Tahun 2013, dimulailah ide bisnis tentang merubah sampah di sekitaran lingkungan kampus, bagaimana ya agar sampah bisa dijual.

Lantas pemuda berkacamata ini menemukan konsep upcycle. Jika sampah plastik dibuang maka akan dia rubah menjadi barang jadi. Daripada dibuang ke sungai, terus mengalir ke laut, sampah plastik bisa- bisa merusak ekosistem kelautan. Karena kamu tau sampah bisa termakan ikan atau menghalangi sinar matahari.

Edy jujur tidak mudah. Uang modalnya memang cuma satu jutaan. Tetapi dia tidak berkembang sampai di tahun 2014. Setahun sudah Edy mencoba merintih usaha pengolahan sampah, hanya kok sepertinya gagal. Ia tidak berputus asa dan terus berjuang.

Masalah dianggapnya adalah bagaimana meyakinkan orang. Edy berusaha bagaimana meyakinkan sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bernilai jual. Anak muda kelahiran September 1992 ini terus berusaha ya dengan terus mengedukasi serta memberikan contoh.

Bisnis fasion sampah


"Prosesnya tidak gampang, kita awalnya tidak mendapatkan antusias," ujar dia.

Akhirnya dia mampu mengajak ibu- ibu sekitar berkreasi. Dengan ketekunan mampu mengajak keluarga di sekitar kampus masuk. Bersama mereka mengerjakan bisnis fashion sosial mereka.

Mereka membayar warga Rp.50- 80 persaset. Tidak sedikit cuma mau diberikan produk karya Edy. Total ada 10 orang ibu membantu. "Kami tidak menyebutnya pegawai," tegasnya. Prinsip bisnis Edy ialah Women Empowering untuk menuhi pesanan datang. Edy juga memberdayakan mereka menjadi trainer ketika sukses.

Sukses ia mampu menciptakan produk fasion. Produk terkenalnya mulai dompet, tas, dan souvenir dengan corak menarik. Siapa menyangka bahwa produk tersebut dulunya plastik bekas kopi. Dalam sebulan dia mampu memproduksi 30 sampai 50 item. Untuk menembus pasar maka ia rajin mengikuti pameran selain toko online.

Tidak cuma di dalam negeri, tetapi produknya sudah sampai ke luar negeri. Melalui berbagai ajang pameran termasuk di Malaysia. Produk bernama Ebibag memiliki selera fasion. Maka tidak salah jika menjadi satu produk laris hingga memenangkan penghargaan juara tiga kategori sosial.

Omzetnya dibilang lumayan sampai jutaan. Edy tidak menyebut angka pasti. Tapi dia memberi sinyal angka 14 juta mampu dikantongi.

Mungkin karena pasarnya masih terbatas. Jadi meski Edy membuat tidak dalam jumlah banyak hasil dari penjualan tinggi. Edy sendiri lebih memilih mengedukasi dibanding sekedar untung. Salah satunya lewat satu program bernama Petaka atau Pemberdayaan Tenaga Kreatif. Dia mengedukasi lalu memberi bantuan dalam pemasaran.

Harga murah untuk souvenir yakni Rp.5000, sampai Rp.350 ribu buat tasnya ukuran besar. Untuk penjualan lewat toko online www.ebibag.com. Walaupun khan berjualan di luar negeri besar, prinsip edukasi yang ia tengah tonjolkan. Jadi dia memilih mengedukasi pasar dan memasarkan produknya di dalam negeri.

Ambil contoh ada seorang mahasiswa Belgia, tengah melakukan kegiatan musim panas, dan memborong banyak sekali buat dijual kembali. Pasar internasional diakui olehnya memang masih besar.

Bisnis komunitas


Dia tidak berorientasi bisnis semata. Buktinya mahasiswa semester 7 ini mengajak teman sekampus. Lewat satu program bernama Eco Business Indonesia (EBI). Komunitas bisnis kecil berbasis lingkungan. EBI ialah bisnis hijau atau green business dimana memiliki konsep sendiri. Mengusung tema 3P, yaitu People, Planet, dan Profit.

Penjabarannya People berarti berbisnis pemberdayaan manusia. Tidak ada namanya pegawai tetapi semua orang bekerja bersama. Planet sendiri berarti fokus pada kepedulian akan lingkungan. Bagaiman upaya yang besar berkontribusi akan pelestarian lingkungan. Upaya mengurangi limah plastik memperpanjang daya guna.

Melalui daya upcycle menjadi kerajinan tangan, dari tas aneka ukuran, dompet, soft case, dan masih banyak lain.

Kalau Profit apalagi kalau bukan menghasilkan komersialisasi. Bagaimana memutar roda bisnisnya melalui pengembangan pemberdaya luas. Tidak sekedar menghasilkan keuntungan sebesar- besarnya. Tapi juga satu sinergi dengan Planet dan Peoplenya. Bagaimana melestarikan lingkungan serta membedayakan manusia.

Edy sendiri aktif memfasilitasi pelatihan pengusaha. Lewat GEO atau Green Entrepreneur Organizer bagi mereka pengusaha muda bidang lingkungan. Menjadi wirausaha merupakan jati diri seorang Edy. Meski ini bukanlah usaha beruntung tinggi. Tetapi dia menyadari bisnis hijau merupakan sebuah bentuk sedekah lingkusngan.

Dulu, sejak bangku sekolah dasar, menjadi wirausaha merupakan hal biasa. Ia pernah menjual stiker ketika bersekolah dasar. Masuk SMP, Edy tidak malu menjual kopi dan gorengan di sekolah. Ketika masuki ke masa SMA dia menjadi penjual nasi uduk di kelas. Maka di SMA dirinya didaulat menjadi siswa berprestasi berwirausaha.

Anak kelima dari enam bersaudara sempat tidak ingin jadi pengusaha. Orang tua tidak mendukung secara finansial. Jadi lepas SMA dia berharap menjadi pegawai bergaji biasa. Apalagi menjadi wirausaha banyak ketidak pastian. Ditambah dia masih punya banyak saudara. Hidup Edy mencoba lebih realitis dikedepan hidup.

Masuk Ujian Nasional, Edy mulai ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dia mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Selepas lulus SMA, perlu kamu tau dia sudah bekerja dan berniat masuk kuliah sambil kerja. Jadi dia tidak punya waktu buat seleksi masuk perguruan tinggi; Edy sibuk kerja.

Dia tidak ikut bimbel. Mengakali keadaan maka Edy belajar dari teman yang ikut bimbel. Bermodal itulah ia berharap bisa lulus. Agar peluang makin besar maka dia mengambil jurusan yang jarang. Menurutnya jurusan itu sangat jarang dilirik mahasiswa. Tidak disangka dia diterima di UIN Jakarta.

Tahun 2012, dia menyabet juara Bank Indonesia Green Entrepreneur. Tahun sama menjadi juara Wirausaha Mapan diadakan oleh Pemkot DKI Jakarta. Dia juga masuk dalam finalis Social Entrepreneur Academy tahun 2014. Walapun sukses begitu masalah SDM dan modal menghantui kinerja usahanya.

"Secara teknik, kami masih butuh tenaga ahli," ujar dia. Edy bersama empat rekan bersama sibuk juga soal pelatihan ibu- ibu PKK. Hingga berdirilah E- bi Institute dan kaderisasi ISIS (istri sukses idaman suami). Ia mencetak ibu menjadi kaum kreatif berwirausaha mandiri.

Untuk hitungan masih belum gaji. Ia menyebut upah, atau insentif berupa produk sama bagi hasil. Nilainya 30:70 merupakan penghasil beberapa produk. "...kita tambah upah," ujarnya. Insentifnya tergantung pada hasil produksinya. Dengan sumber bahan baku banyak dan tidak jarang gratis, maka omzetnya berlipat.

Mungkin masalah utamanya diedukasi bagaimana menjual. Penjualan memanfaatkan Instagram dan Twitter yaitu @Ebi-bag. Kemudian ada website edukasi bernama www.menebarmanfaat.com. Hasil karyanya tidak cuma produk, termasuk edukasi hijau, praktik prakarya limbah, "per-bulan 2- 3 juta," imbuhnya.

"Fluktualif, pemasukan lebih besar dari edukasi, sekitar 60:40," ungkap dia. Masalah pertama dia hadapi yaitu mencari bungkus kopi dan SDM buat produksi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba