Bisnis Kasur Berteknologi Mutahir Merek Casper

Profil Pengusaha Neil Parikh dan kawan 



Seorang salesman akan berbicara cepat. Dimana dia akan memberikan banyak pilihan. Hingga kamu akan membeli dengan harga telah mereka tentukan. Disisi lain butuh penyegaran di produk. Sedangkan beberapa produk membutuhkan sentuhan khusus layaknya matras. Inilah kisah sukses perusahaan matras bernama Casper.

Perusahaan senilai industri $14 juta, dimana Casper memberikan inovasi distrup industri matras biasa yang menjual secara tradisional. Bisnis Casper unik yakni menjual satu jenis matras, tanpa fee, dan masa coba selama 100 hari percobaan. Ini bekerja loh bisnis Casper menjual $1 juta dalam satu bulan pertama.

Kemudian perusahaan asal New York ini mendapatkan dukungan modal kapital senilai $70 juta. Apakah ada masalah ternyata menurut salah satu pendirinya, Neil Parikh, semua terletak dibawah kasurnya.

Jika menyebut bisnis Casper ingin merusak sistem bisnis permatrasan. Yah memang sejak awal inilah satu tujuan perusahaan startup ini. Namun, semenjak itu pula, para pendiri perusahaan ingin lebih ke bagaimana mereka menciptakan industri tentang tidur, bukan tempat tidurnya.

Bisnis matras atau kasur ini memang banyak model. Faktanya semua cuma menawarkan model dan semua pada dasarnya sama saja. Kamu tidak berharap 35 model berbeda tetapi tidur kamu tetap sama. Berbeda dengan membeli mobil, dimana kamu punya data tentang kekuatan, hemat bahan bakar, AC -nya, tetapi matras?

Ketika mencoba berbagai macam matras atau kasur. Pendiri Casper, Neil Parikh, membeberakan apa yang dibutuhkan masyarakat adalah backup. Produk memory foam memang penuh dukungan, tetapi panas dan tidak terlalu empuk. Jadilah mereka menambahkan latex dalam garis pinggirnya. "...dan memilik paten."

Luke Shewin, Chief Creative Office Casper dan salah satu pendiri, ia terbangun di kamar lantai empatnya dan mulai berpikir tidak sanggu membawa kasur berukuran besar ukuran queen's size. "Jadi bagaimana jika kita bisa mengkompres matras menjadi seperti bok sebesar lemari es?" jelas Luke.

Lalu bagaimana jika mereka bisa mengirim matras itu lewat jasa pengiriman biasa. Ditambah bagaimana jika kamu bisa mencobanya dulu di rumah. Jika tidak suka maka pihak Casper akan mengambil gratis. Memang beberapa perusahaan sudah melakukan itu. Tetapi berapa jumlah perusahaan meminta tambahan fee untuk pengembalian.

Bayangkan seorang pasangan yang memposting di Youtube tentang matras milik mereka. Mereka merasakan pengalaman menakjubkan dari pemesanan, pingiriman, dan layanan purna- jual. Inilah tujuan utamanya. Para pelanggan akan terus bicara positif lewat sosmed dan mungkin mereka akan membeli beberapa set dan bantal.

Pengembalian karena tidak puas sangat rendah. Mereka juga memberikan beberapa matras sebagai donasi kepada pihak badan amal. Ini akan lebih menguntungkan dibanding membersihkan dan menjual kembali yang mana memakan waktu antar negara bagian.

Bisnis teknologi


Membeli matras atau kasur biasanya setiap delapan sampai sepuluh tahun sekali. Perusahaan kasur tidak akan mikir siapakah kamu -produk mereka akan tetap dijual. Tetapi bagi Casper, bisnis mereka merupakan satu bisnis jangka panjang.

Berbeda perusahaan lain, Casper memberikan pertanyaan dan senang menanggapi hal tersebut. Sebut saja apakah mereka butuh bok. Atau apakah matras mereka cocok dengan dipan yang sudah siap. Casper akan melakukan kegiatan diskusi. Mereka bahkan tau siapa saja yang memakai dan atau jumlah anak, binatang peliharaan.

Mungkin aneh tetapi Casper fokus di kenyaman tidur kita. Bahkan mereka seolah ingin apa saja menganggu tidur kita. "Bagaimana saya mengubah orang ini menjadi advokat terbesar kami?" Ia menambahkan bahwa Casper Lab memiliki data pelanggan. Mereka berjumlah 15.000 orang dalam soal pengembangan produk sendiri.

Mereka (pelanggan) datang ke acara event Casper, mencoba matras baru berupa prototipe, dan mereka itu seolah menjadi terobsesi akan tidur. Mereka mengirimkan data tidur mereka. Lalu mencoba produk baru lalu Casper akan memberi tau mastras mana cocok buat kamu.

"Kami menganggap perusahaan kami perusahaan teknologi dulu," lanjutnya.

Mereka menciptakan software bagaimana materialnya. Kemudian komponen matras apa dan bagaimana itu divisikan dan kapan dibangun. Dan ketika orang belum mendapatkan matrasnya karena kurir pengiriman belum sampai. Maka mereka akan menghubungi langsung bahkan sebelum kamu mengecek nomor resi.

Mereka menjual langsung ke kostumer. Tidak ada struktur biaya bagia Casper. Mereka telah siap akan hal lebih besar yakni material dan nilai kembali. Dimana batas penjualan akan capai $1000 dimana pelanggan akan membeli kasur pertama mereka senilai $500.

Casper menyebutkan lingkungan tidur. Ya jadi ketika mereka mulai mengerjakan matras, maka tangan kreatif mereka masuk ke bantal dan aksesoris lain. Ketika kamu bertanya bagaimana mereka memproduksi itu. Mereka menyebut ada 100 ketebalan berbeda dalam bahan baik untuk matras, bantal, dan pelanggan sudah coba.

Butuh waktu 16 bulan buat satu bantal. Mereka menghitung jumlah bulu angsa bantal yaitu 90 persen dan 110 bahan lain. Mereka juga telah memperhitungkan kenyamanan melebihi perlengkapan tidur yang orang lebih merasa nikmat yakni hotel. Untuk mengecek kenyamanan pelanggan Casper menyediakan satu lampu tracker.

Ketika bisnis Whole Foods menawarkan gerakan makanan sehat. Maka Casper melakukan gerakan agar tidur sehat.

Jualan Bahan Scrapbook Sampai Desain Puluhan Juta

Profil Pengusaha Eugenia Selvia 


 
Hobi bisa jadi bisnis. Buktinya ada di Buku Unik, bisnis yang dijalankan oleh Eugenia Selvia. Berawal dari hobi bernama scrapbook. Yaitu seni menempel berbagai hal diatas kertas scarp. Termasuk menempelkan pita diatas buku. Unik karena fungsi tidak cuma buat menulis, tetapi menggambar, dan hiasan tentunya.

Buku cantik berjejer di rak menawarkan konsep lucu. Ada berkesan feminim ataupun berkesan maskulin. Ia menunjukan scrapbook tidak cuma buat wanita. Berawal membuat sampul buku buat catatan ketika kuliah. Sampul unik karya sendiri berbahan gambar, atau foto berhias pita atau batik. 

"Hanya saja memang belum terarah," ungkapnya.

Belum menjadi bisnis hanya hobi pada tahun 2008 silam. Dia memulai sejak kuliah D- 4 di Trisakti Institute of Tourism. Semasa tingga di Riau hobi mengumpulkan gambar ditempel. Semua Pia -begitu orang akrab memanggilnya- lakukan hanya menganut ilmu otodidak. 

Berlanjut hobi miliknya berarah ke daur ulang. Dia melihat bagaiman scrapbook terpajang di sebuah etalase toko. Mulai dari gambar majalah bekas, digunting dan dilem, ditempel dengan kancing, pita, stempel, agar jadi lebih kreatif.

Mulai berbisnis


Pia melawan arus teknologi. Ternyata buku catatan masih memiliki selera. Dimata masyarakat apalagi yang ia hadirkan memiliki cita rasa seni. Semua dikerjakan dari nol berawal workshop kecil di kamar tidur. Lambat laun hasil karyanya diliri orang sekitar dan minta dibuatkan buku catatan scrapbook.

"Saya bergerak membuat karya sendiri," Pia menambahkan. Menengok kesuksesan berbisnis scrapbook di Amerika. Maka dia mencoba menawarkan usahanya lewat online. Sampai dia bisa memasok untuk mal- mal di Jakarta.

Beda sekarang ketika ia memulai masih awam. Orang Indonesia masih belum melirik scrapbook. Kalau pun kamu bertanya tentang scarpbook, mungkin ada yang tau?

Pia berjualan online lewat www.bukuunik.com menjual 2 ribu buku scrapbook sampai omzet Rp.100 juta. Ia yang awalnya membuatkan cuma- cuma, lantas dibuatkan kusus buat komersil. Hasilnya ternyata sangatlah bagus memuaskan. Peminat mulai anak- anak, remaja, dan dewasa menyukai hasil karya Buku Unik ini.

Untuk menambah penjualan maka Pia memiliki cara. Yakni buku bertema, dari scrapbook bertema masakan untuk buku resep, bertemakan aneka kartun atau princess untuk diary, adapula bertema pendidikan yang ia khususkan buat para guru. Memang scrapbook memiliki aneka kegunaan mulai hiasan, catatan, diary, atau resep.

Dulu lewat situs kemudian dia memasarkan lewat bazar. Disana lah pelua membuka lebar, mulai toko buku terkenal dan sampai retail terkemuka menjadi tempat. Hingga Pia sampai memasarkan sampai ke penjuru daerah lewat sana.

Bukan buku biasa


Fungisnya macam- macam mulai diary sampai album foto. Utamanya sih buat diary interaktif, contoh kamu bisa menempelkan tiket traveling kamu dan diberikan komentar, atau menjadi album foto perjalanan seorang anak, menjadi buku resep interaktif dengan foto, jurnal hamil, dan sebagainya.

Pia menjelaskan bahwa bisnis ini pasar luas. Scapbook fungsional dan lebih mudah jika diakses dibanding ke sosial media. Tidak kalah dengan bentuk blog bahkan lebih kreatif karena kancing, pita, atau apapun yang unik. Margin untung mencapai 20% jadi kalau harga jualnya Rp.75.000 sampai Rp.129.00 hitung sendirilah.

Karena bukanlah produk hasil masal. Maka keunikan disetiap buku berbeda satu sama lain. Oleh karena itu pembeli akan lebih gaya personal, menunjukan jati diri. Kesan inilah dihasilkan Pia sampai menghasilkan omzet jutaan rupiah. Produksi pun dilakukan secara manual, dengan tangan, sehingga bukan pabrikan.

Kini, Pia dibantu oleh enam karyawan, kalau dulu dia bekerja sendiri karena memulai dari hobi sih. Pia juga turun tangan sendiri ketika mengerjakan. Wanita 32 tahun ini telah memproduksi 2.000 buku. Dimana ia telah memiliki desain sendiri dan akan bertambah 1- 2 desain per- bulan.

Bisnis ini memang berlandaskan seni. Melalui seni daur ulang pula membantu lebih banyak lingkungan kita. Pia memanfaatkan kertas majalah. Tetapi dia juga menggunakan bahan baru seperti didesain lewat komputer dan diprint. Sampai sekarang Pia masih mengembangkan desain agar masyarakat tidak bosan.

Cara membuatnya tidak sulit kok. Tekniknya standar dapat kamu pelajari. Kalau menggunting dan tempel kan semua orang bisa. Tinggal bagaiman kreatifitas pembuatnya saja. Ini ado yang gak malu- maluin karena spesial khusus. Mulai menjual tanpa orang tau apa itu Buku Unik, hingga, brand milik Pia kini sudah dikenal luas.

Berawal dari menjual ke teman kampus. Dia mengembangkan sendiri. Tetapi dia masih sebatas hobi belum fokus karena masih kuliah. Tidak cuma satu kelas melebar ke kelas lain satu kampus. Sempat membuat dia pernah tidak fokus berkuliah. "Itu sebabnya, saya kemudian menghentikan meski banyak teman memesan."

Modal minim


Tamat kuliah barulah dia berbisnis kembali. Karena memulai dengan hobi maka tanpa modal. Pia hanya mulai mengalari mengikuti arus. Bermodal menempel- nempelkan kertas dari majalah bekas. Itu dijadikan sampul scrapbook dibikin di kamar. Dibuat sendiri, dipakai sendiri, hingga teman menimpali ingin memiliki hasil karya dia.

Hingga ia menyeriusi di tahun 2008, karena permintaan membludak dan menganggu kuliah, maka Pia memilih berhenti sejenak. Hobi menjadi bisnis ini kemudian didukung sang pacar, Willy. Dia memodali Pia sebesar Rp.500 ribu."Belum ada mesin- mesin gitu masih standar juga lah," kenangnya.

Uang tersebut digunakan berbagai bahan kertas. Setelah selesai dia lantas menjajal berjualan di forum- forum termasuk Kaskus. "...kaya kaskus jadi mesti up, up terus," jelas Pia. Kebetulan sosok pacar -yang kini jadi suami- adalah pendukung berbekal kemampuan komputer.

Melalui itulah dia mendapatkan toko online. Jika sebelum itu Pia kerjakan semuanya sendiri. Lambat laun, ia memiliki karyawan sejumlah 6 orang. Tidak lagi sekedar hobi maka ada desain dari desainer.

Pia pun mulai memperkenalkan kepada masyarakat melalui bazar di Lapiaza, Bulog, pameran handicarft di mal, Indcraft, Icra, Inacraft, Charity Women Internasional Club, Crafina, lalu Bobo Fair. Semula orang tidak paham BukuUnik, kini, mereka menyadari ada sebuah produk unik bikinan anak Indonesia, membanggakan.

Berkat mengikuti bazar jugalah BukuUnik masuk mal- mal di Jakarta. Cara pemesanan Buku Unik cukuplah buka www.bukuunik.com, kemudian lakukan pemesanan, melakukan pembayaran, setelah dikonfirmasi, ia akan memastikan dalam 1- 2 hari buku kamu sampai. Tidak puas? Kamu dapat datang ke galeri miliknya sendiri.

"...kemudian diliput stasiun TV baru dari situ mulai booming," tambah Pia. Ia menjadi pemasok tunggal buat Gramedia, Stroberi, Sogo, Living World di Jakarta, lalu merembet ke Medan, Jogja, Makassar, Surabaya, dan Pia mulai fokus memproduksi masal.

Bermula workshop bermodal rumah sendiri. Lantas terus mencicil kesuksesan Pia mulai terlihat. Sekarang ia sudah memiliki mesin jilid sendiri, mesin laminating sendiri, dari membuat di rumah sekarang dia sudah bisa menyewa ruko. "Jadi ada step by step -nya sih karyawan sudah 10 orang," ungkapnya bangga.

Namanya berbisnis pastilah ada pasang surut. Karena berdasarkan hobi, bisnis dijalankan Pia ternyata tidak membosankan jadi dia terus berusaha. Penjualan memang bisa up and down tetapi menurut dia masih bisa diatasi. Selama respon masyarakat baik maka semua bisa diatasi. Pia sendiri rajin menggali ide tidak cuma di buku catatan.

Pia mulai mendengar permintaan konsumen. Maka setiap model melambangkan keinginan pelanggan. Tetapi ia menyebut tema traveling lebih diminati. Tidak cuma menjual buku catatan, Buku Unik miliknya juga siap menjadi pilihan bagi traveler mengabadikan foto lawat album.

Konsumen mulai anak- anak sampai ibu- ibu. Kebanyakan memang perempuan. Scrapbook dijadikan media anak bersemangat menulis.

Buku tulis langka

Katika dunia digital menulis digantikan mengetik. Buku Unik masih tetap memberikan tangan kita banyak waktu untuk menulis. Bisnis ini juga sudah merambah bisnis souvenir. Tidak sedikit perusahaan memesan sampai ratusan untuk acara mereka. Tidak sedikit pula pasangan membeli souvenir berbentuk scrapbook ini.

Semua dibuat tangan meski sudah dibantu mesin. Disaat menikah, di tahun 2009, Pia menggunakan produk miliknya sendiri menjadi souvenir juga. Ini memang berkesan unik dimata tamu undangan. Apalagi itu dibuat secara handmade pasti sangat ekslusip.

Harga jual Buku Unik antara Rp.50 ribu sampai Rp.95.000. Dimana untuk pesanan bersifat khusus personal, dibuat melalui tangan -gambar digunting satu persatu dengan tangan, sesuai dengan teman kamu sendiri, maka Pia menawarkan harga Rp.200.000. Seperti hal kalau kamu mau menjadikan scrapbook jadi souvenir pernikahan.

Percaya diri merupakan ciri- ciri pengusaha. Inilah Pia yang menawarkan buku handmade atau buatan tangan. "Konsepnya fungsional," tambah Pia. Tidak cuma mereka yang paham scrapbook menikmati hasil karya Buku Unik. Mulai anak SD, SMP, SMA, dan bangku kuliah tau diary, note, sketchbook, itulah Buku Unik.

Varian produk ada 12 varian mulai New Recycle Notebook, Creative Book, Palm Creative Book, Phrase Book, Kartu, Tag, Refill, Stamp, Lace Flower, Buttons, Flowers, serta Mini Charms.

Kemudian Buku Unik juga merambah menjual aneka bahan seni scrapbook. Ide muncul ketika Pia ingin agar toko ramai pembeli. Pernah membuka stand di Mal Taman Anggrek tetapi malah tutup. Kemudian toko di Gading Serpong difokuskan menjadi gerai distributor, toko, sekaligus workshopnya.

Nah, disini konsumen kreatif akan beli bahan, lalu mencoba rangkai sendiri. Sekala produksi Buku Unik sudah mencapai 1.000 produk per- bulan. Untuk omzetnya diakui Pia mencapai Rp.60 juta- 100 juta. Kalau ikut event bisa naik omzetnya berkali lipat.

Kendala terbesar berbisnis scrapbook menurutnya adalah SDM. Meski dibantu karyawan Pia masih turun tangan mendesain konsep dan tema. Jika dulu dia menjadi pemain satu- satunya kini sudah banyak pemain. Bahkan produk kreasinya tidak lolos penjiplakan. Maka itulah dia terus berkreasi menciptakan tema varian produk baru.

Kalau dijiplak berarti bagus tinggal tingkatkan produk lain.
 
Soal ide sekali lagi datang dimana saja. Pia memang rajin mencari ide dan didapat dari sekitar. Seperti hal dia suka traveling maka dibuat yuk scrapbook bertema traveling. "...bisa untuk jurnal tiketnya di tempel- tempel gitu jadi kita kasih ide saja kan kadang enggak tahu bukunya buat apa," tutur dia.

Desain juga datang menurut permintaan konsumen, seperti balet, olahraga, pesawat, dan lain- lain. Pia cuma berusaha memenuhi keinginan pembeli. Pemesanan mulai perusahaan buat souvenir karyawan, ada logo dari perusahaan, ditambah kolom buat foto karyawan.

"Butuh waktu mengerjakannya... beda dengan percetakan yang bisa lebih cepat karena memakai mesin," ia lanjut.

Kunci bisnis sukses di industri kreatif?

Pia menyarankan kita agar selalu memunculkan ide baru. Ikuti pola di masyarakat terutama pasaran kamu. Kalau bicara anak sekolah contohnya, maka buatlah berdasarkan apa mereka butuhkan sebut saja buku tahunan. Pasar masih luas tidak terbatas umur. Pia sendiri tengah fokus buka distributor dan reseller.

Depresi Kuliah Hukum Tidak Menjanjikan Memilih Jus Buah

Profil Pengusaha Annie Lawless 




Sekitar lima tahun lalu lah, Annie Lawless, sedang merasakan betul malah bangun dari tempat tidur. Pasalnya dia adalah mahasiswi hukum dan tidak menyenangkan. Meski begitu dia mengerjakan hal hebat di kelasnya. Dia termasuk mahasiswa baik.

Akan tetapi ia menemukan titik deperesi tentang apa yang dia tidak pernah rasakan.

Dia tau sesuatu haruslah dirubah. Tanpa memikirkan mungkin terburuk sebagai pegangan, tiba- tiba Annie memutskan keluar dari sekolah alias drop- out.

Ia sadar dia butuh inspirasi, daripada letih, karena sesuatu. Dia kemudian ingat tentang satu hal. Kegemaran dia akan nutrisi karena menderita celiac. Sejak kecil dia sudah belajar segala tentang nutrisi buat kesehatan sendiri. Dia belajar tentang makan bernutrisi lewat dijus, terutama cold press juicer.

Apakah itu yaitu bagaimana mengejus tanpa menimbulkan panas. Dimaksudkan agar tidak mempengaruhi vitamin, mineral, dan enzimnya. Sejak saat itu Annie sudah belajar berbagai cara mengejus dengan benar

"Kami tidak melakukan ini untuk membuat uang atau memiliki perusahaan besar. Kami hanya mau berbagi tentang apa kami cintai dengan orang lain dan berharap mereka juga akan suka," tuturnya dalam wawancara bersama The Every Girl.

Pengusaha sehat


Dia tidak pernah membayangkan bisnis akan sukses. "Kami tidak pernah berpikir Suja akan menjadi seperti sekarang," ujar dia. Annie tidak pernah membayangkan usaha berawal dari dapur akan seperti ini. Hari ini, ia malah mengajak teman sesama mahasiswa hukum, agar menjalankan entrepreneurship seperti dia sekarang.

Ikuti mimpi kalian, tujuan kalian, kejar dengan penuh passion, itulah dia harapkan dari kita. Annie Lawless lantas bercerita tentang perjalanan kuliahnya. Kuliah hukum sangat menyita waktu daripada dia bayangkan. Annie merasakan butuh namanya penghilang stress karena kejenuhan.

Ia mengerjakan yoga secara religius sejak 16 tahun. Melanjutkan dia berbisnis studio yoga bernama La Jolla. Tidak dinyana melalui bisnis dia bertemu dengan banyak orang. Bukannya fokus ke sekolah hukum, malah Annie belajar pelajaran mengajar, bekerja dibelakang meja, dan dia akhirnya menjadi guru disana.

Dia menikmati bekerja dan wirausaha. Itu adalah pengalaman sangat menyenangkan dan mencinta bekerja. Ia menderita penyakit yang membuat autoimmune menyerang kulit. Pada saat itu dia mendapatkan obat berupa krim steroid setiap malam agar tidak gatal. Akan tetapi penyakit lain datang yang bernama Celiac's disease.

"...yang saya tidak pernah saya dengar dan tidak tau apapun tentang itu," imbuhnya. Waktu itu gluten adalah hal tidak baik bagi tubuhnya, sementara makanan bebas zat gluten jarang di pasaran.

Di Arizona jujur tidak ada namanya toko semua makanan. Tidak ada makanan bebas zat gula, maka mulai lah dia belajar tentang nutrisi dan menjalankan diet khusus. Beryukur karena berkat itu dia sembuh dari satu penyakitnya yaitu eczema -penyakit kulit tersebut- dengan bantuan diet bebas zat gula atau gluten.

Pengalaman menjadi titik temu bisnis selepas itu. Ia menyadari tubuhnya cocok denga sistem makan dijus. Ia lantas berpikir memperkenalkan cara tersebut. Secara jujur dia menjadi sehat dan terobsesi akan hidup di vegertarian. Dari remaja sampai dewasa dia menikmati makanan dijus lalu menjadi passion sampai dia sadar.

Bisnis baru

Dia bertemu Eric Ethans, juga menyukai kesegaran, utuh, dan tentu organik. Semua yang Annie suka ya di Ethans. Mereka bersama membuat campuran jus dari rumah mereka. Membeli semua buah organik dari pasaran yang ada bahkan dengan harga penuh. Lalu mereka menjual jus itu ke teman komunitas yoga.

Jadi Suja merupakan kolaborasi dua orang. "Kami bertemu di studio yoga," kenang Annie. Ethans awalnya yang membawa sendiri jus hijau buatan dia. Mereka berdua lantas minum bersama ketika jeda. Lantas jadi pembicaraan serius tentang berbisnis jus buah organik.

"Kami bertemu dalam satu pembicaraan dan menemukan cinta kami sama akan kesehatan, nutrisi, membuat jus, dan organik," Annie bercerita.

Mereka berpikir bagaimana jus dingin dapat diakses semua orang, teman dan keluarga. Mereka lantas mulai berbisnis kecilan berbasis di San Diego dengan pengiriman langsung ke rumah.

Permintaan tumbuh cepat. Sampai seorang suami dari seorang kostumer, James Brennan, menawarkan diri ikut nimbrung dalam bisnis mereka. Kebetulan dia merupakan pengusaha sukses. Ia melihat potensi di Suja. Awalnya, merasa skeptis akan bantuan, tetapi mereka berpikir pengalaman James mungkin bisa membantu.

James lalu mengajak CEO NIKA Water, Jeff Church, bergabung membangun Suja. Mereka akhirnya bisa membawa Suja sebagai bisnis jus organik non- GMO. Karena menggunakan teknik dingin maka jus akan bertahan tiga hari. Suja mengalami beberapa kendala ketika mencoba menasional sebagai startup.

Maka Suja mulai memanfaatkan teknologi perusahaan lain. Yakni teknik high- pressure processing (PHP) yang membawa kemungkinan menghancurkan bakteri pada Suja. Itulah kenapa kini Suja memiliki jus yang bisa bertahan sampai 30 hari dan siap dipasarkan nasional.

Di September 2012, setelah satu tahun berjuang keras, maka Suja melahirkan bisnis grosir makanan sehat non- GMO. Mereka kini telah memiliki 10.000 outlet dan menghasilkan $80 juta- $90 juta per- bulan. Di Agustus tahun sama, Annie setuju dengan rekan- rekan menjual 30% sahamnya ke perusahaan Coca- Cola.

Nilai penjualan sampai $90 juta dan menjual 20% lagi ke Goldman Sachs untuk $60 juta, yang kemudian itu bernilai $300 juta. Bekerja sama dengan Coca- Cola memberikan suplie dengan biayan rendah, kemudian diberikan fasilitas, dan rantai distribusi lebih luas.

Inilah kisah Annie, wanita berumur 30 tahun, yang lulus menjadi entrepreneur selama bertahun- tahun. Dia pun dikenal sebagai penulis blog BLAWNDE.

Inspirasi kamu

Memang secara kasat mata bahwa mereka tidak perlu mencari. Soal pendanaan inilah kelebihan Suja, kamu juga bisa meniru apa yang Annie lakukan: Temukanlah niche dalam bisnis menohok tradisi. Ketika orang lebih memilih makanan sembarangan, dan kesadaran akan hidup muncul, maka Suja merupakan solusi kita.

Bagi Annie bekerja sama dengan orang lain ialah tentang belajar. Dia bekerja sama dengan orang yang kerja dibalik permodalan. Annie belajar banyak tentang nilai. Berapa banyak kamu menaruh hubungan personal dalam bisnis.

"...bertanyalah banyak pertanyaan, dan pahami apa yang kamu tengah masukim," ujarnya bijak.

Selain sebagai pengusaha juga seorang blogger. Sebuah tantangan karena dia menulis blog -nya sendirian atau 100% dirinya. Blog bernama BLAWNDE dikerjakan setiap hari. Ia mencintai blognya, mulai mengisi serangkaian foto, melakukan desain grafis, mengedit foto, ataupun menciptakan konten buat sosial media.

Dia benar- benar mencinati Suja dan blog -nya. Meski telah memiliki akar tetap memasuki semua pikiran orang satu per- satu sangat sulit. Tidak semua orang menyukai Suja ataupun beberapa orang akan berharap lebih dari produk Annie.

Apa dilakukan Suja ialah berbagi passion dan mengkoneksikan kostumer ke brand. Mereka seolah akan jadi bagian dari misi Suja menjadi produk sehat.

Soal marketing apakah Annie memanfaatkan blog. Dia secara terus terang blog muncul selepas bisnis Suja. Ia sendiri lebih menikmati menaruh apa yang dia makan, pakaian dia kenakan, atau restoran dia kunjungi ke sosial media, Instagram khususnya.

Sedangkan blog akan lebih ke tulisan dan berbagi cerita tentang hidup. Tidak ada marketing khusus, namun ia selalu mengintegrasikan dirinya dalam brand. Ia akan mengajak pengunjung blog agar memahami apa lebih dari sebotol jus Suja. Ia memilih blog sebagai behind- scane perjalanan bisnis Suja serta pemikirannya.

"Jangan khawatir akan apa orang lain pikirkan! Saya sebenarnya terbiasa begitu, dulu datang ke sekolah hukum, karena mau keluarga dan teman bangga atas saya dan berpikir saya adalah orang di dalam benak mereka," ia menerangkan.

Dan pada akhirnya dia pernah merasakan tidak mau mengecewakan. Padahal perjalanan dirasanya terdapat di entrepreneurship. Sebuah kegundahan berubah menjadi depresi. "Saya belajar keras agar mengikuti jalur saya tidak memiliki passion... Jika kamu kacau dan tidak bahagia, orang lain sanjungkan dan terima tidak penting."

Bangkit Setelah Ditinggal Suami dan Hutang Miliaran

Profil Pengusaha Nani Kurniasari 



Ditinggal suami dan hidup menjadi single parent membuatnya bekerja. Lebih keras dari apapun demi empat orang anak bukanlah hal mudah. Semua demi daput tetap ngebul istilahnya. Hanya tidak semudah itu, tetapi Nani Kurniasari mampu melewati.

Dia berkisah membuka bisnis katering bersama rekan sejak 2008. Namun, harus kandas karena gagal bayar hutang, lebih tepatnya dia bercerita punya hutang Rp.1,5 miliar ditambah Rp.500 juta. Sepanjang waktu itu antara 2003- 2010 memang bisnis katering Nani tengah surut.

Eh, malah dia mengambil hutang Rp.500 juta diatas. Mungkin dia berpikir bahwa bisa membalik nasib. Nani meski begitu gagal dan bangkrut meninggalkan hutang. "...malah jadi tambah utangnya, jadinya malah harus menutup utang sekitar Rp.2 miliar," kenangnya.

Bisnis kasih sayang


Suami pun pergi meninggalkan dia seorang diri. Sudah punya hutang miliaran dan dapat hutang miliaran. Dia tidak mau berlarut- larut. Sedikit Nani mulai membangun bisnis baru dengan modal seadanya. Menata hidup kembali dari nol membangun bisnis lagi dibidang kuliner.

"Saya tidak punya pilihan selain "move on"," Nani menambahkan. Menata hidup lebih baru agar tetap jadi waras. Nani ingin agar anak- anak keurus dengan benar. Tiba- tiba muncul ide membuat selai berdasarkan rasa cinta akan makanan manis.

Lebih tepatnya dia suka kopi manis. Sebelumnya sejak 2010- 2013, praktis dia tidak bekerja, dia menyebut cuma mengandalkan pemberian keluarga. Tahun 2014 mulai berbisnis hijab tetapi tidak begitu untung. Lantas dia mendatangi sebuah life coach penyembuhan diri.

Mendapatkan life coach mulailah berbisnis kembali. Kali ini, Nani menyasar kembali kuliner hanya tidak mau ribet memakai banyak peralatan.

"Saya kan suka masak dan tidak mau ribet kalau katering kan ribet perlatanannya banyak. Nah kalau selai ini mudah dan bisa dikerjain sendiri," tutur dia.

Tiba- tiba tercetus dia mau mengerjakan bisnis karamel. Wanita berhijab yang pernah berkuliah kelautan ini lantas merencanakan bisnis selai karamel. Diakui dia meracik makanan tidak akan mudah. Apalagi ketika itu emosi dirinya tengah terganggu.

Marah dan sedih karena kebangkrutan dan ditinggal suami membuatnya susah. Emosi negatif membuat apa yang dibuatnya tidak berasa enak. Karamel racikannya jadi pahit. Padahal memasak karamel butuh waktu mengaduk kurang lebih 7 jam, mengaduk butuh konsistensi, penuh perasaan dan cinta dibutuhkan.

"Soalnya meleng sedikit, rasa ancur enggak karuan, kekentalan tiba- tiba melenceng dari harapan," jelasnya.

Beruntung dia segera menyadari kesalahannya. Dalam 4 contoh selai cuma 1 botol layak dijual. Bisnis ini dimulai dengan satu varian selai yaitu karamel.

Uang Rp.200.000 dijadikan modal, jadilah produk selai Move One, menunjukan semangat bahwa dia masih memiliki cinta kasih akan berwirausaha. Bisnis ini memiliki omzet Rp.4- 5 juta dalam beberapa bulan saja. Ia pun sudah mengirim sampai ke Papua.

Menjual melalui jasa pengirima ekpedisi ke pelosok nusantara dan di luar sana. Pengiriman luar negeri diakui masih begantung titipan kerabat. Setiap minggu Nani mampu menghasilkan 50 jar dan habis. Kemasan jar yaitu 120ml berharga Rp.40.000 per- jar. "Produksi setiap jum'at," imbuhnya.

"Coach saya bilang fokus untuk kerjain satu walaupun hasilnya kecil tapi harus ditekuni," imbuh dia.

Meski begitu dia butuh waktu seminggu pertama bisa dibilang gagal. Target penjualan saja pernah gagal, ia pernah membuat 10 jar per- minggu tetapi tidak habis. Dia cuma mendapatkan Rp.4- 5 juta sebulan. Dan ia kini mampu mencapai omzet Rp.4 juta per- minggu.

Ibu empat anak ini memiliki strategi pemasaran lewat online. Dibantu dua orang teman, mereka menjual ini lewat Facebook, Instagram dan Twitter. Juga melalui bantuan teman- temannya yang mau mempromosikan si selain karamel Move On ini. Bicara ekspansi adalah dia ingin membuka rumah selai dan produk sejenis lain.

Satu resep pembuatan sampai 10 jam. Pemasaran melalui strategi mulut ke mulut dan melalui sosia. Teman Nani pun diajaknya bagaimana agar bareng ngumpulin modal agar membuat lebih banyak produk. Kemasan pun dipercantik agar dapat dijadikan hadiah oleh teman dibawa ke UK dan Kanada.

Instagram: mamakrempong
Facebook: mamakrempong
Twitter: mamakrempong

Membuat Boneka Tanpa Modal Alfian Toys

Profil Pengusaha Muhammad Munaji



Dia tidak punya rumus khusus berbisnis. Bahkan modal pun tidak punya. Tetapi hasilnya mengejutkan tidak cuma bagi pembaca kisahnya juga si pengusaha. Kadang pengusaha merencanakan sesuatu tetapi gagal pada endingnya.

Justru ketika tidak direncanakan justru sukses bisnis mereka. Salah satunya pengusaha bernama Muhammad Munaji, 34 tahun, merasakan berbisnis tanpa direncanakan seperti kebanyakan. Ini masih menjadi misteri bahkan bagi dirinya sendiri. Kenapa dia sukses dengan bisnis boneka Alfian Toys sejak 5 tahun lalu.

Boneka sendiri sudah lebih lama dibanding bisnis Alfian Toys. Dia bercerita pernah bekerja jadi karyawan pabrik boneka. Duni boneka sudah digeluti di pabrik boneka di daerah Bekasi sejak 1999. Bekerja keras sampai berhenti di tahun 2009.

Titik balik bisnis sejak itu dirasakan seketika tanpa perecanaan. Sebuah pabrik boneka asal Sentul, Bogor, datang menawari dia menjadi pemasok. Mereka meminta Munaji menjadi pemasok boneka buat mereka. Ia cuma diminta membuatkan boneka sesuai pesanan mereka.

Menakjubkan karena dia sama sekali tidak keluar modal. Justru mereka memberikan modal Munaji buat membeli bahan baku boneka dan berbisnis boneka sendiri. Bahkan mereka memberikan uang sewa tenpat usaha untuk dua tahun. Tentu syaratnya dia harus menyelesaikan pesanan khusus mereka.

Munaji takjub karena berbisnis tanpa modal. Hanya saja tidak begitu mudah menjalankan bisnis. Apalagi dia tergolong orang baru dalam pembuatan boneka. Alhasil tahun pertama usahanya lancar. Masuk ke 1,5 tahun kemudian pesanan menurun. Usaha bermodal uang orang tersebut mulai tampak mengkhawatirkan.

Aji, begitu dia akrab dipanggil, merasakan ketar- ketir akan nasib 15 karyawannya. Termasuk dirinya yang sama sekali belum berpengalaman soal pasang surut wirausaha. Ketika pesanan diluar permintaan pabrik tak lagi terasa. Waktu itu pabrik menawarkan agar usahanya dilebur jadi satu dengan pabrik mereka.

Bisnis naik turun


Ketika pesanan biasa menurun, pabrik yang dulu membantu Aji menawarkan bergabung. Dia menerima hal itu tetapi dengan syarat karyawanya ikut dimasukan. Tetapi pabrik menolak permintaan tersebut. Malangnya sewa tempat usaha miliknya hampir habis masa kontrak, dan disaat itupula pesanan dari pabrik menurun.

Dua tahun menjelang habis masa sewa pesanan menurun. Aji lebih kebingungan lagi. Kegalauan tersebut ia utarakan kepada istri apakah bisnis dilanjutkan atau tidak.

Ia khawatir jika pesanan naik turun tidak jelas akan berakhir tutup. Dia lantas memutar otak keras mencari informasi tempat penjualan boneka. Aji lantas menelisik Jakarta menjadi pasar. Dia mencari pembeli dengan frekuensi 2- 3 kali seminggu.

Nama- nama pasar terkenal di Jakarta seperti Pasar Gembrong, Pasar Pagi Mangga- Dua, sampai juga ke Tangerang diselusuri mencari pesanan. Calon konsumen cuma memesan sekitar 60 boneka per- bulan. Jika satu area pasar terdapat lima pedagang maka dia mendapat 300 pesanan.

Ia menjelaskan dengan 15 karyawan pesanan jadi dalam semalam. Sisanya mereka akan menganggur tidak  mengerjakan apa- apa. "Sisanya terus karyawan mau ngapain. Terus terang bingung waktu itu," tutur Aji.

Dalam kegalauan itu, tiba- tiba seseorang menghubungi dia, dari Jakarta orang tersebut mendapat kontak dari pelanggan tetap Aji. Pesanan seribu bulan bonek sudah didepan mata. Ia yakin dengan pesanan segitu dia dapat bangkit. Untungnya bisa membayar gaji karyawan serta memutar modal kembali.

Eh ternyata, diluar dugaan, pembeli tersebut tidak memesan seribu tetapi sepuluh ribu. Terkejut, Aji merasa ragu apakah dia mampu. Bukan soal tenaga dia pikirkan tetapi bahan modal dibutuhkan. Ya dia tidak punya uang modal untuk membelikan bahan dulu. Aji merasa kelimpungan dan terpaksa mengakui kekurangan dia.

Aji mengaku kepada calon pelanggan itu: Dia tidak mempunyai modal yang dihitung bisa mencapai puluhan juta. Aji mengakut tidak punya modal membeli bahan. Selepas mengakui semua perasaan lega ditanggu Aji. Dan dia sudah pasrah jika pesanan 10 ribu tersebut dibatalkan. Keputusan maka ada ditangan si pemesan tersebut.

Seketika itu, sang pembeli mengeluarkan dompet, dikira orang tersebut mau memberikan dia cek dulu. Yah maksudnya biar bisa dapat dijadikan uang muka dulu lah. Aji mengira itu cek karena tidak mungkin cukup di dompet. Eh ternyata, dia malah mengeluarkan kartu nama, dengan enteng dia meminta Aji datang ke toko itu.

Alamat tertera merupakan tempat material boneka. Tanpa banyak omong calon pembeli itu berkata,"...ambil sesuai kebutuhan. Bilang dari saya." Aji ingat betul dia langsung berangkat ke sebuah toko di Bekasi. Cuma modal kartu nama dia mengambil bahan dari toko tersebut. Itulah titik balik bisnis Aji dalam kurun waktu 2011 -an.

Tempat itu lantas menjadi langganan Munaji sampai sekarang. Menurut dia pesanan masih naik- turun sampai tergantung pesanan. Rata- rata produksi sampai 5000 pcs per- bulan harga jual bervarian dari Rp.20 ribu sampai Rp.100 ribu. "Yang penting bisa menggaji karyawan dengan lancar," selorohnya.

Kedepan dia ingin memperkuat branding serta kualitas. Kini Aji tengah mengajukan standar nasional SNI ke pemerintah melalui Badan Standarisasi Nasional. Berharap bonek hasil Alfian Toys dapat menjadi bonek berkualitas nasional. Ia sadar bahwa isu mainan berstandar nasional SNI sudah sangat mendesak.

Ia ingin memberikan garansi kepada pembeli. Disisi lain dia sadar tanggung jawabnya kepada anak- anak. Ia mulai membangun sistem toko online. Segala upaya dilakukan pengusaha ini agar usahanya tetap bertahan dan berekpansi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba