Agen Rendang Dunia Prospek 20 Juta

Profil Pengusaha Jualan Rendang  



Usaha rendang layaknya kamu coba menjadi pilihan di masa depan. Apalagi sejak dunia mengakui  rendang sebagai makanan terenak sedunia. Terbukti beberapa pengusaha sukses telah meraih bisnis rendang. Bahkan banyak diantaranya sampai di Amerika, atau negara lain.

Cerita ini tentang Prima Ega Yanti, pengusaha pemilik usaha Rendang Dunia. Beda dari usaha sejenis karena dia memanfaatkan rendang kering tahan lama. Pemasaran juga sudah masuk ke negara kawasan Eropa, dan juga Amerika Serikat. Dikelola oleh seorang ibu yang memulai karena rasa kecintaan.

Awal tahun 2012, dimulailah bisnis rendang berkonsep kemasan praktis. Rendang kering yang sangat enak buat dibawa kemana saja. Alasan memilih bisnis rendang karena melihat kemajuan kuliner. Rendang memang digemari semua kalangan di Indonesia. Cara menjual rendang pun lebih mudah, tahan lama dan makin enak semakin lama.

Ini hobi loh. Dalam perjalannanya berubah menjadi bisnis sampingan. Terus berkembang sampai akhirnya dia kualahan. Hal lain mendorong dirinya maju berbisnis sendiri. Yang bukan orang Minang saja mau berjualan rendang, kenapa dia tidak?

Usaha kemitraan


"Yang bukan orang minang saja mau majukan kuliner rendang," tuturnya. Maka Ega sebagai warga minang di Jakarta maka harus memajukan. "...bisa dong mempromosikan rendang," imbuh Ibu Ega. Uniknya dia tidak bekerja sendiri tetapi mengajak teman sekampung.

Dia mengajak warga Sumbar bersama membangun. Mereka lantas membangun kelompok usaha yang terus dipanggil Dunia Rendang. Sementara pemasaran dilakukan di Jakarta maka produksi rendang dilakukan di tempat asalnya. Kelompok produksi dibagi menjadi empat kelompok produksi.

Tidak cuma memasarkan rendang pada umumnya, mereka punya Rendang Daging Runtiah, Rendang Paru, Rendang Keripik Telur, serta Rendang Teri. Untuk rendang daging harganya Rp.55.000 sedangkan rendang telur Rp.25.000. Selai itu Ega juga menerima pesanan rendang basah dalam kemasan.

Rendang basah dijual menurut pesanan karena cuma bertahan 15 hari. Sedangkan rendang kering mampu bertahan sampai 100 hari. Untuk rendang basah dibutuhkan perlakuan khusus soal kemasan. Setiap minggu dia memproduksi 100 kg rendang. Produksi terbanyak ya rendang daging, kerena rendang identik sama daging.

Proses distribusi mencapai 100 kg hingga 500 kg seputar Jakarta. Jualannya kebanyakan memang Jakarta, tapi kebanyakan juga dikirim ke Eropa lewat pembeli, mereka adalah orang yang bekerja di Amerika, yang tengah berlibur di China dan sebagainya.

Ini benar- benar sama lezatnya dengan restoran khas Padang. Lalu munculah ide kemitraan dibangun ketika Ega tengah mengikuti pameran. Konsep ini tidak dijelaskan detail apakah waralaba, tetapi yang pasti mitra merupakan agen resmi. Kemitraan terbilang cukup murah yakni Rp.1,5 juta, dimana mendapat 40 boks yang berisi 200 gram rendang.

Jenis rendang juga lengkap seperti ada rendang runtiah, paru, keripik telur, serta ubi maco atau teri singkong. Ia menambahkan banner serta kartu nama. Totalnya dia memiliki 17 agen tersebar di Jabodetabek. Palingan banyak ada di daerah Bekasi. Keuntungan didapat Ega telah mencapai Rp.50 juta- Rp.80 juta.

Ega tidak menampik kesempatan masuk ke ritel. Salah satu toko ritel modern dijajalnya menjadi sarana. Lalu yang paling banyak diminati adalah rendang runtiah. Cara pemasakan yang masih tradisional yakni selama 8 jam dimasak pakai kayu bakar.

Travel Online Valadoo Pelajari Kegagalan

Profil Pengusaha Jaka Wiradisuria



Kenapa membukan jasa travel online. Tentu ini kan jamannya teknologi internet ada di genggaman kita. Inilah kisah tiga orang sahabat yaitu ada Jaka Wiradisuria, Aris Suryamas, dan Bondan Herumurti, yang berjaya memberikan layanan travel online. Pada Desember 2010, lahirlah Valadoo fokus melayani liburan domestik.

Tentu lewat jalur internet memudahkan kita semua. Salah satu pendiri, Jaka Wiradisuria, menjelaskan bahwa mereka bukanlah keturunan pengusaha. Terutama dia yang menyebut keputusan menjadi pengusaha gila. Dia tidak pernah membayangkan bahwa bisnis ini sukses.

Bahkan sejak awal pembuatan, Valadoo bukan disiapkan menjadi bisnis travel online. Mereka saat itu tengah keranjingan bisnis daily deal. Waktu itu memang bisnis online daily deal tengah naik daun alias booming. Jika dirunut munculnya Valadoo bersamaan Disdus dan Dealkeren asli Indonesia.

Untuk kasus lain Disdu dan Dealkeren masing- masing diakuisis oleh Groupon dan Livingsocial. Sementara itu mereka tertinggal beberapa saat -tetapi malah menjadi berkah tersendiri. "Kami kesulitan tanpa ada investor. Setelah empat bulan berdiri, perkembangan Valadoo cenderung stagnan," kenang Jaka.

Bukan bisnis biasa


Jaka sendiri selepas kuliah pernah bekerja di satu perusahaan asing. Hanya saja setelah 2,5 tahun mengalami kejenuhan. Sebelum berbisnis Valadoo pernah beberapa kali berbisnis. Jaka pernah berbisnis karet bersama teman tetapi ya gagal. Alasan Jaka adalah kehilangan fokus karena bisnis tidak penuh.

Perubahan bisnis daily deal menjadi travel online butuh pertimbangan. Mereka kemudian mengambil kiblat ke arah Wego, sebuah mesin pencari travel besutan Ross Veitch, eksekutif Yahoo dan sekaligus menjadi mitra bisnis Valadoo. Jaka melihat potensi pasar travel Indonesia besar sekali. Mereka akhirnya fokus pada bisnis travel domestik saja.

Pasar target adalah anak muda yang rindu tujuan domestik. Ukuran Sabang sampai Marauke memang dirasa menggambarkan bisnis Valadoo yang senilai Rp.5 miliar. Mereka menawarkan paket portfolio destinasi yang dikategorikan khusus, mulai gunung, olah raga menyelam, aneka pantai, kesenian dan budaya, romantis, dan banyak lagi.

Jaka menjelaskan menguatkan spesialisasi justru menjadi kunci. Istilahnya kalau menyasar tujuan luar negeri apa bedanya Panorama Tour. Dia sambil bercanda kalau itu sudah ada sejak dia lahir. Maka Valadoo harus memiliki perbedaan signifikan. "Jadi kami hanya fokus di traveling Indonesia saja," kata Jaka.

Dia sendiri meyakinkan bahwa Valadoo berbeda. Termasuk soal kemudahan, serta kelengakapan destinasi terbaik di Indonesia. Sebagai CEO Valadoo, meyakinkan kamu mendapatkan yang terbaik, sekaligu mudah mendapatkan tiket perjalanan. Bahkan kalau musim hujan maka tidak akan menampilkan liburan di luar.

Melengkapi pelayanan, perusahaan menyediakan blog travel bernama Jelajah. Memastikan kamu mendapat pengalaman review destinasi seapik mungkin. Tambahan lain yaitu adanya konsultan destinasi yang berasal dari kalangan selebriti. Ada 13 konsultan membantu berjalannya bisnsi Valadoo. Pendekatan akan melalui sosial media.

Strategi bisnis travel online: Engagement, newsletter, dan penjualan. Engagement dilakukan lewat sosial meda Facebook, Twitter, Pinterest. Kamu harus meyakinkan bahwa tidak cuma sekedar jualan. Soal newsletter berarti email yang dikirim ke email kamu. Tidak cuma berisi produk ditawarkan tetapi juga aneka tips dan review.

Total menurut Jaka berjumlah 26.000 pelanggan. Melalui engagement, kemudian newsletter sampai saatnya berjualan. Tambahan lain yakni melakukan branding lewat Malesbanget.com. Kamudian ditambah layanan Google Adword dan penerapan SEO (Search Engine Optimization) supaya relevan pencarian pengunjung.

Tiga bulan saja pengunjung situs naik 300% dan penjualan meningkat 500%. Karena mengandalkan tujuan wisata sendiri, Valadoo siap menggaet pengunjung luar negeri. Mereka bahkan menargetkan pendapatan bisa naik sampai Rp.1 miliar per- bulan.

Pembayaran paket wisata pun dibuat semudah mungkin. Yakni melalui kartu kredit, PayPal, atau ATM, dan lainnya yang mempermudah siapapun (wisatwan asing atau lokal). Paket wisata dijualnya variatif mulai dari Rp.100 ribu hingga Rp.10 juta. Valadoo sudah memiliki 80.000 orang hingga omzet mencapai Rp.5 miliar.

Bisnis tidak berarah


Sukses Valadoo ternyata tidak selamanya bertahan. Agustus 2014, menurut Techinasia.com, perusahaan Jaka mulai kehilangan arah dari tujuan semula. Biaya marketing membengkak sementara target pasar mereka lepas. Kerja sama dengan situs Malesbanget.com ternyata tidak berarti.

"Sebelumnya biaya marketing kami sangat tinggi. Salah satunya adalah ketika menjalani kerja sama dengan MaleBanget.com," tuturnya dalam satu sesi wawancara.

Dalam wawancara ini keputusan melakukan marger malah berakhir sia- sia. Padahal maksud awal dia adalah mengurangi biaya marketing. Marger dengan Burufly tidak berarti kerena perbedaan basis aplikasi: Valadoo menggunakan Drupal, sementara untuk Burufly menggunakan Drupal. Burufly sendiri merupakan sosial media sejenis Pinterest.

Bedanya Burufly fokus hal travel khususnya tanah air, "...maka kami memutuskan untuk melakukan merger," tuturnya.

Meski sudah didukung oleh Wego berupa pendanaan. Sayang, Jaka dan kawan- kawan setuju untuk segera menutup Valadoo. Meski berat sebagai CEO, kepercayaan staf ada ditanganya, keputusan menutup bisnis ini tidak terelakan. Menutup Valadoo berarti membuang aset berharga tetapi tidak dijelaskan berapa nilainya.

Situs Valadoo secara akses masih bisa diakses, tetapi tidak dapat berfungsi seperti halnya. Tidak dapat dia pungkiri bahwa berbisnis travel berat. Apalagi ternyata pemain terus bermunculan mengusung layanan yang hampir sama. Sebut saja Gogonesia, yang disarankan Jaka mempertajam arah bisnis mereka lebih tajam.

Gogonesia sendiri masih memiliki lima orang pegawai. Jadi tepat bagi mereka agar lebih membaca hal pasar agar tidak terulang kesalahan Valadoo. "...karena model layanan kami sangat mirip," kenangnya. Sementara itu pegawai Valadoo sebagian besar sudah berpindah. Sebagian mereka masuk Tiket.com atau industri travel lain.

Menjadi entrepreneur ada perasaan ego harus dilawan. Ini memukul telak bagi kehidupan seorang Jaka. Ia pun menambahkan kesalahan sudah sejak tiga sampai lima tahun lalu. Jaka sempat akan mendirikan startup baru. Teman dekat Jaka, Aldi Haryopratomo, sang CEO Ruma sempat menawarkan bergabung.

Egonya muncul karena harus bekerja untuk orang lain. Tetapi sudahlah, dianggap oleh Jaka bahwa ini akan menjadi S-2 baginya di dunia nyata.

Yukka Harlanda Bagaimana Memulai Usaha Sepatu Brodo

Biografi Pengusaha Pemilik Brodo


 
Siapa tidak kenal nama pemilik sepatu Brodo. Cuma tidak semua orang kenal akan kisahnya. Diambil dari bermacam referensi. Awal kisah Yukka Harlanda ternyata cuma coba- coba. Mencoba menjadi pengusaha muda ternyata menyenangkan. Bahkan hasilnya diluar harapan mahasiswa teknik Institut Teknologi Bandung ini.

Sejak masuk kuliah ada hasrat ingin memulai usaha sendiri. Mungkin Yukka sangat terinspirasi kisah sukses yang ada di internet. Padahal sejak awal, pemikiran mahasiswa Teknik Sipil layaknyanya teman- teman lain, yaitu masa depan enak menjadi pegawai perusahaan migas.

Dia akan digaji dollar. Namun, hasrat menjadi pengusaha yang muncul ditengah jalan tidak terbendung. Dia ingin membuktikan sambil berkuliah sambil berbisnis. Pilihan Yukka dirasa tepat karena ketika kita kuliah merupakan waktu penentuan. Kalau gagal Yukka bisa kembali ke jalur utama, atau sukses mambawa nama.

Cuma memulai sebuah bisnis tidak semudah itu. Bersema seorang teman, Putera Dwi Karunia, keduanya telah sepakat berbisnis bersama. Hanya mereka belum menemukan bisnis apa. Berkaca dari pengusaha lain seperti Chairul Tanjung tekat mereka berdua tidak terhentikan.

Menemukan jalan


Layaknya kisah pengusaha lain, akan muncul jalan ketika kita fokus menginginkan sesuatu. Ide bisnis sepatu muncul seketika ketika dihadapkan suatu keadaan. Yukka bercerita kepada SWA: Suatu hari Yukka harus mengikuti tugas akhir dan butuh sepatu formal. Ia bercerita sejak kuliah tidak pernah memiliki satupun sepatu formal.

Pasalnya menurut Yukka sepatu formal di toko tidak menggugah. Selain karena ukurannya sulit, juga desain yang dirasa tidak cocok. "Awalnya susah banget nyaris sepatu, ukuran 46, jadi untuk mencari sepatu agak susah," kenang Yukka.

Sekali menemukan sepatu malah mahal dan desain tidak bagus. Ia cukup putus asa berkeliling mal, ketemu tapi desainnya jelek, harga mahal, itulah masalahnya, hingga Yukka tidak memiliki sepatu formal sama sekali. Dia kemudian merencanakan membuat sepatu sendiri.

Yukka mulai menjelajah Bandung. Mencari tau bagaimana membuat sepatu. Inilah awal lahirnya bisnis sepatu Brodo bermodal ketidak sengajaan. Ia mencoba mendesain sesuai selera pribadi. Yukka berjalan sampai di Bandung Selatan.

Tahun 2007, dia berjalan sampai ke sentra pembuatan sepatu Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat. Fakta yang mencengangkan ditemui bahwa sepatu merek global bahan kulitnya dari Cibaduyut. Ini semakin mendorong dia untuk membuat sepatu sendiri, yang nyaman, dan berharga cocok. "Waktu itu saya pikir pasarnya ada, tapi kok tidak ada brand Indonesia."

Bertepatan akan hasratnya saat itu ada booming sosial media. Pada tahun 2010, anak mudah tengah asiknya menggandrungi Facebook. Dimana pengguna internet meningkat drastis bertambah terutama Indonesia. Ini sangat menguntungkan keinginan bisnis Yukka. Untuk modalnya Rp.7 dibagi Rp.3,5 juta diantara mereka berdua.

Sepanjang perjalanan mulai berproduksi, Yukka sempat meminjam uang teman, orang tua, bahkan sampai ke Bank. Awal produksi cukup lima pasang sepatu asli buatan Cibaduyut. Pasar pertama disasar adalah teman mereka sendiri. "Saya tanya ke teman-teman, bagus atau enggak? Eh katanya bagus ya udah dibayar deh," kenang Yukka.

Mereka bersama belajar sendiri dari perajin Cibaduyut. Awal memang selalu gagal terus, tetapi kegagalan demi kegagalan menempa selera mereka. Mereka mencoba membuat standarisasi agar tidak ada kecacatan. Waktu itu belum sepenuhnya berpikir wirausaha. Masih mengukur kedalaman sampai akhirnya mereka lulus ITB.

Pengusaha otodidak


Yukka rela memempet banyak perajin untuk diambil ilmu. Agar bisa membuat sepatu idaman mereka. Agar dia mendapatkan rahasia ilmu membuat sepatu. Cara mendapat ilmu membuat sepatu cukup lewat ngobrol. Yukka membangun hubungan sebaik mungkin. Hinga terbuka pintu network dengan perajin asal Cibaduyut.

Nama Brodo sendiri tidak memiliki hubungan dengan sepatu. Katanya nih, itu diambil dari komik masakan Italia, yang mana tokoh utamanya memasak kaldu ayam. Kaldu tersebut bernama Brodo. Lalu itulah yang diambil namanya Brodo berlogo seperti gambar ayam.

Brodo merupakan esensi masakan Italia. Jika sepatu jelek, tetapi pakaiannya bagus, yah tetap saja hasilnya mengecewakan. Sepatu Brodo merupakan buah idealisme seorang Yukka. Waktu periode akhir masa kuliah, ia mulai menawarkan ke teman- temannya. Agak maksa sih harus dipepet sampai mereka mau membeli.

Teman Yukka memberikan tanggapan berbeda. Mereka tertarik akan desain buatannya. Dan sedikit mereka bercanda ngapain belajar kalkulus, fisika, kalau akhirnya jualan sepatu. Yukka cukup mengamini hal itu dan harapan membuka toko sendiri sudah di depan mata.

Menggunakan strategi membuat sepatu, menjual, membuat sepatu lagi, lalu dia jual lagi. Jadi Yukka tidak perlu menghabiskan banyak biaya. Uniknya, uang Rp.3,5 juta ternyata Yukka dapatkan sebagian besar dari tabungan waktu kecil yang merupakan angpao pas Hari Raya Idul Fitri.

Soal desain sepatu sampai detailnya dipelajari lewat YouTube. Sedangkan proses pembuatan harus dipelajari langsung ke perajin. Karena perjalanannya memakai passion maka hasilnya tidak mengecewakan. Ia mulai menawarkan melalui sarana SMS. Brodo lantas dijualnya melalui Kaskus, Facebook, Twitter, serta website sendiri.

Iseng mulai mengupload foto produk. Dia terus mentag teman, kenalan, pokoknya promosi Brodo saat itu gratis 100%. Harga Brodo saat itu dibandrol Rp.300.000 per- pasang. Perlahan namun pasti nama sepatu Brodo tersebar lewat mulut ke mulut. Dari berjualan cuma sepasang, berkembang sampai menjual 5-6 pasang.

Bisnis mepet


Karena masihlah kuliah dibutuhkan kerja ekstra keras. Dia harus bekerja efisien. Makanya Yukka dan Putra rela membayar pembantu di kosan menjadi tenaga pengirim. Yukka sendiri merangkap jabatan, mulai dari pembuat sepatu, ya costumer service juga.

Efisiensi digalakan sedemikian rupa diawal- awal. Yukka bahkan melakukan efisiensi bahkan ke baha baku. Hanya saja ternyata salah perhitungan soal satu ini. Mencoba mengirit bahan baku sampai bisa menurunkan harga justru berakhir bencana. Kualitas sepatu Brodo tidak terjamin. Alhasil banyak sepatu gagal produksi alias cacat.

Membeli bahan baku murah bukan solusi. Malah membuat Yukka rugi besar. Sebuah pelajaran dipetik oleh satu pengusaha muda ini. Oleh karenannya dia sekarang memilih menaikan harga sepatu ketika bahan baku naik.

Mulai dari 2007 sampai tahun 2012, Yukka dan Putra cuma mendapatkan bantuan dari seorang pegawai. Ya karena mereka mahasiswa jadilah tidak ada dana. Hanya dibantu beberapa teman kampus itupun seadanya. Yukka sendiri sempat diolok- olok karena ngotot. Bahkan sampai lulus kuliah bisnis Brodo terus dijaga.

Selesai kuliah membuat Yukka sempat berhenti sejenak. Dia mulai mencari pekerjaan sesuai latar belakang pendidikan. Namun seperti sudah bisa kita duga tidak bisa pindah ke lain hati. Ia melanjutkan bisnis tersebut, hingga menawarkan ke distribution outlet (distro). Selain penjualan online juga ditawarkan melalui offline ke masyarakat.

Berhenti mencari kerja, ia mulai bekerja di Brodo secara full time. Ia mulai merekrut orang bekerja sampai 75 pegawai. Semua sejalan dengan penjualan sepatu Brodo yang makin laris. Ada satu hal ditemuinya bahwa penjualan online ternyata lebih bagus. Oleh sejak itu sepatu Brodo fokus dijual melalui internet, termasuk dari toko online sendiri.

Kunci sukses sepatu Brodo: Menerapkan costumer service terbaik kamu. Dalam 3 tahun saja usahanya bisa naik tinggi. Mungkin terkesan basi tetapi manjur. Perlakukan pelanggan itu layaknya teman, sampai mereka merasa nyaman membeli produk kamu. Kalau sudah begitu pelanggan nanti akan menyebarkan cerita kita ke orang lain.

Sarjana teknik yang capek- capek kuliah cuma buat jualan sepatu. Yukka tidak pernah merasa terasing akan fakta itu. Dia tetap melanjutkan sepak terjangnnya. Bahkan semakin selektif dalam mengangkat pegawai di perusahaan kecilnya. Agar terus menjaga kualitas barang serta layanan memuaskan bagi pelanggan.

Dia mengadakan training. Melihat sendiri apakah pegawai sesuai karakternya dengan kultur perusahaan. Ia sekarang mempunyai 118 orang pegawai yang tersebar di sentra sepatu Cibaduyut. Produksi sepatu cukup diberikan perajin yang sudah mempunyai mesin. Berawal 5-6 pasang, kini, Brodo berproduksi 5000 sampai 6000 pasang.

Permintaan pun datang dari Jepang dan Amerika. Hanya prosesnya yang rumit membuat dia berhenti. Cuma sementara sampai perusahaan benar siap. Pasar incaran Brodo yakni Jabodetabek dan Jawa sebesar 40%- 50%.

Tidak berhenti kerja


Antara Yukka dan Putra sampai saat ini masih bekerja bersama. Mereka menerapkan manajemen kerja yang unik; defense dan offense. Maksudnya adalah defense untuk Putra yang tinggal di Bandung. Dia mengurusi semua produksi, gudang, pengiriman, serta costumer service. Untuk offense adalah Yukke meliputi marketing dan website.

Target pasar antara umur 19 sampai 35 tahun. Fokus penjualan lewat sarana digital marketing. Alasanya di umur segitu masih asiknya mengeksplor internet. Tetapi tidak menutup kemungkinan merubah gaya penjualan mengikuti tren. Sekarang sih hanya fokus dulu apa yang telah mereka kerjakan.

Untuk sepatu Brodo cewek belum dipikirkan. Fokus mereka hanya untuk konsumen sekarang. Harga sepatu paling murah dikisaran Rp.250 ribu sampai Rp.700 ribu. Untuk desain menggunakan desain timeless, yang berarti bisa dipakai sekarang atau untuk sepuluh tahun mendatang. Soal servis selalu meminta feedback dari pelanggan.

Setiap hari harus siap melayani pelanggan, mendapatkan masukan, pokoknya investasi terdepan ialah soal kepuasan pelanggan. Ambil contoh Brodo merekrut pegawai agar siap menerima telephon 24 jam termasuk pembelian 24 jam. Termasuk membeli software penjualan, jadi seperti di bank, ada ID nya serta history dari pembelian.

Tidak ada persaingan diutarakan oleh Yukka. Mereka hanya fokus menggarap produk, pasar, dan melayani pelanggan. Timbal balik berupa saran atau kritik menjadi makanan sehari- hari. Mulai dari sosial media, dari telephon, dan juga email. Penjualan pun sudah merambah Medan, Surabaya, dan masih akan terus meluas.

Awal berdiri, terhitung 2010 sampai 2013, Brodo tumbuh konsisten sampai 400%. Hanya untuk tahun ke depan sejalan pertumbuhan volume permintaan; Yukka tidak mau berlebihan. Target pertumbuhan dipatok antara 200% sampai 300%. Penjualan offline pun digalakan kembali, namun melalui penjualan di toko milik sendiri.

Menurut Yukka potensi pasar dalam negeri masih terbuka luas. Tidak terburu- terburu menyasar pasar luar negeri dulu. Ambil contoh pertumbuhan toko di Medan dan Surabaya. Desain toko sangat unik disesuaikan memanfaatkan sela kosong kantor perwakilan Brodo di daerah, terang pria kelahiran Jakarta, 18 Juli 1988 ini.

Penasehat Keuangan Cantik Alexa von Tobel

Profil Pengusaha Perencana Keuangan



Muda dan cerdas menjadi ikonik dalam diri Alexa von Tobel. Wanita kelahiran Circa, 1984, memulai karir yang cemerlang dalam dunia finansial. Unik karena tidak memegang gelar sarjana ekonomi ataupun finansial. Memulai karirnya sebagai trader di Morgan Stanley. Ia belajar berkarir hingga meluncurkan LearnVest.com

Ia mulai berpikir tentang LearnVest ketika bekerja di Morgan Stanley. Ketika itu dia mulai menyadari bahwa orang lain belum tentu belajar tentang personal finansial. Berkaca dari dirinya sendiri menjadi poin penting dari lahirnya usaha tersebut.

Tidak semua memiliki latar belakang pendidikan finansial. Tumbuh di Wall Street, tujuan utamanya bagaimana finansial mudah diakses semua wanita. Dia tidak pernah mundur sekalipun soal finansial. Von Tobel berpikir keras bagaimana mengatur uang menjadi lebih mudah. Berdasarkan passion itulah terciptalah serial tutorial online.

"Di sini saya bertanggung jawab atas jutaan dan jutaan dolar dan saya tidak tahu apa- apa tentang cara mendapatkan kartu kredit atau asuransi," kenang von Tobel. "Saya butuh alat seperti ini."

Bukannya fokus melanjutkan kuliah lagi di Harvard. Von Tobel malah memilih menggunakan uang untuk mulai membangun LearnVest. Sejak saat itu, perusahaan sukses $5,5 juta di finansial, berlanjut melalui tambahan modal senilai $4,5 juta oleh Accel Patners di April 2009.

Sang CEO LearnVest ini mendapatkan perhatian media masa. Bahkan dia dibahas oleh Business Insider dan juga New York Times. Softwarenya Suze Orman 2.0 mendapatkan perhatian seketika ketika dibahas oleh reporter Fox news.

Dia mendapatkan panggilan Finance Barbie, yang ditujukan kepada obsesinya akan entrepreneurship. Von Tobel memiliki selera humor dan juga tingkah laku baik penuh kejujuran. Dia ingin belajar tentang finansial menjadi menyenangkan. Itulah tujuan perusahaan asal New York dimaksudkan.

Menarik banyak orang


LearnVest menarik pengunjung 360.000 unik visitor per- bulan. Mungki von Tobel sangat berpassion agar mampu memberikan saran finansial tanpa biasa. Disisi lain dirinya mampu menghasilkan pundi- pundi uang untuk investor. Banyak hal dapat dipelajari dari situs personal finansial tersebut.

Yang terbaru adalah program online bootcamps. Pembelajaran online selama tiga minggu berturut seperti hal email harian lengkap informasi dan item mudah dijalanakan, menurut von Tobel. Berinvastasi di Bootcamp berarti kamu harus membayar $7,99 per- user.

"Ini lebih murah dibanding "Personal Finance for Dummies" dan lebih mudah dimengerti dan dijalankan ujar von Tobel. "Kami tidak ingin para user menjadi kesulitan."

Untuk urusan bisnis menarik, yakni memberikan kerja sama afiliasi marketing untuk startup asal New York, dimana LearnVast memberikan uang untuk menawarkan produk personal finansial seperti kartu kredit. Selai itu adapula penjualan iklan. Von Tobel mampu mengumpulkan sponsorsip dari perusahaan finansial menarget wanita.

Sejak saat itupula, usahanya menghasilkan investasi sampai senilai $72 juta, dari perusahaan finansial besar seperti Accel Patners, AmericanExpress Ventures dan Northwestern Mutual Capital. Pada 25 Maret 2015, dikabarkan bahwa Northwestern Mutual Life Insurance Co., berbasis Milwaukee, akan mendapatkan situs ini.

Berapa dihasilkan dari penjualan atau akusisi tersebut tidak disebutkan. Tetapi von Tobel masih memiliki jabatannya CEO dan LearnVest berdiri menjadi satu perusahaaan yang terpisah. Hubungan ini dimaksudkan menggabungkan kekuatan digital atas finansial. Northwestern sendiri pasti akan memiliki banyak ahli finansial profesional.

Northwestern setidaknya menggarap 400.000 rencana keuangan tahun 2014. Menambahkan teknologi dari LearnVest berarti: Meningkatkan perencanaan lewat platform dan menambahkan waktu penasehat keuangan bekerja membawa rekomendasi. Kostumer akan mudah menghubungi penasehat keuangan dimanapun dan kapanpun.

Ia mendapatkan penghargaan Silicon Valley 100 Business Insider, Inc Magazine 30 Under 30: The Top Young Entrepreneurs of 2010, Women to Watch Forbes, 18 Women Changing the World Marie Claire, dan BusinessWeek Best Young Tech Entrepreneurs. Von Tobel juga penulis best seller buku Financially Fearless tahun 2013.

"Saya melakukan latihan di pagi hari, dan sering saya mengajak seseorang dari tim saya. Orang yang bersama saya bisa memilih kelas, apakah itu spin atau kelas barre, atau pergi untuk berjalan jauh. Sulit untuk berlari dan berbicara -saya belum menguasai hal itu."

Disibukan oleh bisnis konsultasi finansial. Hidup seorang von Tobel layaknya wanita lain yang memperhatikan kecantikan. Dia secara teratur melakukan diet -makan apel, almond, yogurt- dan tidak bisa sambil duduk santai saja. Sebagai penasehat berarti memiliki keteraturan begitu pula hidup keseharian.

Dikutip dari Inc.com, von Tobel menyebut hidupnya adalah bagaimana menjalankan operating system. Yaitu bagaimana agar dirinya sekecil mungkin melakukan keputusan bodoh. Ia suka makanan sehat dan pertemuan terencana. Jika banyak orang mebutuhkan 30 menit maka bisa lebih kurang dari itu. "Saya juga tidak memuja jadwal."

Itu mudah kalender mendikte tentang hidup kamu. Tapi kalender tidak bisa mendikte tentang masa depan perusahaan. Dia tidak khawatir merubah jadwal dan memindahkan barang. Namun juga bukan berarti kamu harus menghapus jadwal mingguan kamu. Tetapi juga bukan berarti jadwal tiga minggu lalu berarti di minggu ini.

Guru PAUD Mengejar Mimpi Keripik Lebay

Profil Pengusaha Rini Sumiarsih 



Merasakan kebingungan mau membuka usaha apa. Mungkin menjadi puncak pengusaha pemula. Termasuk penulis masih meraba- raba. Rini Sumiarsih layaknya pengusaha pemula bingung mau berbisnis pertama kali. Mantan guru PAUD ini akhirnya menemukan titik terang pada satu kejadian.

Dia pernah mau berjualan keripik pisang. Namun usaha tersebut ternyata sudah diambil orang lain, tetangga sendiri satu kampung yang sama. Ternyata warga asli Desa Mayak, Kec. Cibeber, Cianjur, Jawa Timur ini, kalah cepat melihat peluang. Sampai dia melihat kembali bagaimana kerja keras sang suami mencari nafkah.

"Lalu mikir mau bisnis apa lagi, masa sama," kenang Rini. Sang suami sendiri seorang wirausaha sederhana yang berjualan bakso bakar. Untung per- harinya mencapai Rp.15.000 sampai Rp.20.000. Ini mendorong dia harus berbisnis kembali.

Rini melihat banyak sekali talas. Ia membayangkan kebiasan talas jika direbus. Apalagi cara agar merubah  talas menjadi bisnis. Hingga dia kembali menyusuri kisah bisnis sebelumnya; keripik pisang. Maka Rini mulai berpikir, "...dibuat keripik bagus enggak". Tanpa pikir panjang dia langsung mencoba mengolah talas menjadi keripik.

Usaha pertama dilakukan lewat serangkain percobaan. Tidak berjalan mulus layaknya usaha pertama pernah dilakukan pengusaha pemula.

Eksperimen bisnis


Eksperimen panjang menemukan resep kuliner. Dia mencoba berbagai cara agar talas enak ketika dikeripiki. Maklum lah pertama kali mencoba sesuatu yang asing. Bahkan bagi beberapa orang keripik talas terdengar agak ganjil.

Strategi jitu dilakukan Rini ketika bereksperimen: Membagikan keripik gratis ke tetengga agar dicoba secara gratis. Percobaan membuat resep keripik terus dilakukan. Bahkan suami Rini ikut membantu usaha berhenti berjualan bakso. Suami Rini lantas memasarkan keripik talas kepada masyarakat luas.

"Was- was pertama enggak ada label. Saya sama ibu berkeliling menjajakan keripik masing- masing 20 buah bungkus," ujar Dede, semuai Rini. Masih pertama kali jadi jualannya cuma keripik rasa asin. Belum sempat mereka memodifikasi itu menjadi macam- macam.

Ia lalu berpikir mau berjualan titip ke warung- warung. Mereka menaruh keripik talas di warung kecil sekitar Cibeber. Rini hanya menitip di enam gerai warung saja. Tetapi produknya mendapatkan perhatian lebih oleh masyarakat Cibeber pada umumnya.

Sukses menarik perhatian justru membuat dia khawatir. Mereka berdua kebingungan karena berjualan tanpa identitas. Jika produk mereka ingin lebih dikenal dan punya masa depan, hingga nama "lebay" lalu terbersit ketika mencari nama. Bukan perkara mudah mencari nama bagi ibu dari 3 orang anak ini.

Dia sadar nama merupakan kunci sukses lain. Bagaimana agar muda diingat oleh masyarakat. Nama lebay itu diambil dari julukan oleh ibu- ibu PKK. Julukan yang diberikan kepada Rini, yang entah ada alasan apa dibalik nama tersebut. "Akhirnya ya sudah pakai nama keripik lebay," lanjut Dede.

Tahun 2014, Rini mendapatkan bantuan pihak Prasetyia Mulya Business School, melalui 8 orang mahasiswa asal kampus ini mengambangkan usaha. Mereka membantu masalah pemasaran, pembukuan, bagaimana bisa meningkatkan kapasitas dan berbagai bimbingan lain.

Rini mengembangkan aneka rasa; balado, keju dan original. Jangkauan pasar meningkat sampai 135 toko. Kalau dikerjakan sendiri menurut Rini pendapatan kotor mencapai Rp.150- 200 ribu/minggu. Kemudian setelah dibantu mahasiswa meraup Rp.1,5 juta per- minggu. "Bersihnya Rp.300 ribu per- minggu," tuturnya.

Selanjunya ialah menunggu surat Kemenkes, fungsinya agar usaha Keripik Lebay bisa masuk ke toko- toko oleh- oleh Cianjur. Maka mimpi besar Rini ialah menjadikan Keripik Lebay ikonik Kota Cianjur.

Meski telah menjadi pengusaha sukses, Rini masih hidup dalam kesederhanaan. Ketika menerima mahasiswa asal Prasmul. Ibu tiga anak ini menyambut delapan mahasiswa program Community Development (Comdev). Dia menyapa,"gimana kuliah mu nak?", menyambut mahasiswa yang kemudian mencium tangannya.

Memang ibu tiga orang anak ini seolah menjadi ibu mereka sendiri. Menurut www.ceritaprasmul.com, sosok Rini dikenal tetangga sosok ramah, jujur, dan rajin mendoakan orang terdekatnya. Soal urusan berbisnis para mahasiswa kagum akan sosok Rini. Pihak kampus menjadikan rumah Rini menjadi bagian tempat balajar lansung.

Kemitraan ini dijalin waktu 2014 ketika usahnya tengah berproses. Bermula dari gubuk kusam dan seperti hendak runtuh. Para mahasiswa Comdev datang lalu mengetuk rumah tersebut. Ia menerima tamu itu dengan tangan terbuka. Ketika pasangan suami- istri ini tengah membangun asa memulai usaha kecil- kecilan.

Pasangan pengusaha ini dijadikan ibu asuh bagi mahasiswa. Jika mahasiswa membantu hal pengembangan aspek bisnis Keripik Lebay, maka para mahasiswa diajarkan hidup penuh perjuangan. Ketika mendapatkan kesempatan diajak ke Jakarta. Disana dia berbagi cerita suksesnya kepada mahasiswa serta wartawan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba