Pembuat Tas Palomino Mantan Dokter Gigi

Profil Pengusaha Sukses Tina 



Tinggal lama di Jerman membuatnya tertarik di bisnis fashion. Namun, akarnya ternyata jauh sebelum itu, ia sudah menggemari aneka produk fashion sejak kecil. Lantaran sang ibu merupakan pemilik usaha konvesksi. Ia, Tina semakin punya cita rasa semenjak berkarir. Berprofesi dokter gigi membuat wanita satu ini punya kesempatan ke keluar negeri, melihat pertumbuhan industri fashion dunia.

Semenjak kecil Tina sudah membantu sang ibu berbisnis. Hasrat terbesarnya ada di produk tas wanita. Ia menyebut alasanya waktu itu karena mudah. Wanita asli kelahiran Medan, 50 tahun silam, yang menyandang gelar sarjana dokter gigi di Jerman. Pertama kali membuka pembuatan aneka produk tas wanita, sejak 1988 selepas kembali ke Indonesia.

Meski menyandang gelar dokter gigi tidak membuat surut. Malah, menurut Tina pekerjaan sebagi dokter gigi itu lama serta melelahkan. Pasti, banyak orang menyayangkan keputusan -nya untuk berhenti kerja. Apalagi dia malah nekat membuat tas wanita sendiri.

"Saya berhenti karena pekerjaan dokter gigi itu lama dan melelahkan," ujarnya.

Uang senilai Rp10 juta dijadikan modal olehnya. Sekembalinya ke Indonesia, dia langsung berburu beberapa meter kain di Pasar Tanah Abang dan Mangga Dua. Peralatan mesin jahit juga tidak lupa dibelikannya. Lalu tinggal mencari tukang jahit kusus tas. Tina tidak punya kenalan tukang jahit. Jadi dia berburu sendiri tukang jahitnya ke Bogor dan Bandung.

Alasan ibu dua anak ini karena sudah mendengar ketenaran mereka. Para penjahit disana dikenal memang rapih serta memiliki jiwa seni tinggi. Pemesan pertama datang dari Jerman sendiri. Pesanan sebuah asosiasi asal Jerman untuk menyimpan barang. Sambil berjalan, Tina mulai belajar mendesain tas fashion sendiri.

Tidak mengecewakan


Hasil belajar otodidaknya ternyata berhasil. Tina bahkan mampu masuk ke penjualan di Magga Dua. Tidak lama berbisnis, masalah pertama datang, ini terjadi ketika workshop nya dilalap si jago merah. Semuanya itu hasil kerja keras Tina hangus 80%, termasuk bahan baku dan mesin jahit. Untung karena itu tidak malah jadi hangus semangat Tina.

Malahan, api membakar semangat anak ketiga dari enam bersaudara ini. Tina mulai menyusun kembali bisnis dari nol. Ia mulai mencari bahan, membeli peralatan mesin jahit, dan lain- lainya. Berhasil melewati masalah malah menjadikan tas produksinya semakin laris. Mungkin semangat itu mendorong Tina lebih berpikir out of the box.

Mulai dari menjual di toko Magga Dua, tas buatan Tina merambah ke department store kecil, seperti halnya Cahaya. Menjajaki peluang disana membuatnya mantap. Dia meyakini model bisnis ritel modern cocok buat usaha miliknya. Disini penjualan terjadi lebih jelas serta pembayaran juga. 

"Agak susah menjual barang ke perorangan, karena ragam pesanan lebih banyak dan pembayaran berbeda- beda," tutur Tina.

Bisnis Tina mulai matang sambil berjalan waktu. Tetapi, masalah kembali menghadang, karena krisis moneter menghempas bisnis tas wanitanya. Itu semua lantaran department store kecil seperti Cahaya menutup cabang di beberapa tempat. Dia sempat bingung mengalihkan pasokan barang. Ini semua karena banyak department store tutup.

Tetapi, mulai disini lah, ia mau berani menjajaki department store besar, seperti Matahari dan Metro. Wanita lulusan Freie Universitat Berlin ini, berpikir mereka adalah perusahaa besar. Bagi mereka tentu krisis ini tidak berdampak besar bagi jalannya bisnis. "Apalagi, jam terbang mereka sudah lama di Indonesia," jelas Tina singkat.

Ia harus bersiap mengikuti proses panjang. Memastikan bahwa tas wanitnya terjual banyak. Kala tidak laku, maka dia akan kehilang sumber pendapatan atau putus kontrak. Agar mampu bertahan hadir di department store besar maka butuh perhatian. Dia butuh raw material bagus serta jahitan kuat. Ini juga disoroti oleh si department store loh.

Meski berhasil, dia tidak menampik, mereka pelanggan Palomino (nama brand -nya) adalah pelanggan yang sejak lama. Agar mendapatkan kepercayaan tidak lupa pula menyediakan stok. Banyaknya produk siap jual dibutuhkan apalagi kalau produknya sukses di pasaran. Hubungan baik terjalin sejalan permintaan barang yang semakin banyak.

Sukses bertahan Palomino bertahan selama setengah dekade. Bahkan penjahitnya sudah mencapai 50 orang penjahit. Jumlah penjualan meningkat ketika menjelang hari raya. Untuk itulah, dia siap menyediakan banyak stok agar tetap sukses berjualan. Pokoknya, prinsip Tina, tempatnya di department store tidak lah boleh jadi kosong.

Palomino juga menyegarkan desain tas setiap waktu. Sampai di hari raya, Tina mengeluarkan 15 desain baru serta mempertahankan hubungan baik. Setiap bulan tidak kurang 7.000 tas wanita tersebar lewat department store besar. Passion menjadi kunci suksesnya wanita satu ini. "Department store menuntut para pemasoknya agar selalu up to date soal desain," tutup Tina.

Toko Amanah Muslim Pasar Baru Strategi Jitu

Profil Pengusaha Djoko Sasongko


 
Mantan teknisi ini mencoba peruntungan berbisnis busana muslim. Hasilnya, tak disangka, nama Ir. H. Djoko Sasongko bisa seterkanal ini. Dia menjadi sosok teladan pengusaha pakaian muslim. Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai consultant engineering atau tenaga ahli pesawat. Ia bekerja di sebuah perusahaan bernama PT. Industri Pesawat Nusantara (IPTN) Bandung. 

Pada tahun 1989, Djoko menjabat jabatan Kepala Department Environment Control and Protection System. Karena keahlian inilah, maka Djoko jadi sering berpergian, termasuk bekerja sampai ke Brazil sebagai ahli penerbangan. Dia juga bepergian sampai ke Amerika, Perancis, Belgia, sampai Turki. Djoko jauh- jauh ke sana mendapatkan gaji 7 kali lipat gaji Indonesia.

"...tapi untuk ibadah kurang nyaman," jelasnya. Kenapa, karena Djoko kesulitan menjalankan Shalat Fardhu berjamaah. Anehnya perusahaan juga tidak menyediakan tempat ibadah. Apalagi kalau sudah waktu sholah jum'at, terpaksa, ia berangkat ke luar kota sampai waktu dua jam.

Terbersit pemikiran seandainya membuka usaha sendiri di Indonesia. Bayangan Djojo ialah usaha dengan pendapatan kotor minimal Rp.10 juta saja. Pastilah dia bisa tenang tidak perlu repot ke luar negeri. Memang bertugas sebagai pegawai perusahaan memang menyita waktu. Kontrak ke luar negeri baru selesai di akhir tahun 2003 dan Djoko siap berbisnis.

Lantas pandangan matanya tertuju ke arah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Waktu itu Ia sempat membaca iklan media cetak tentang kios disewakan. Pengelola Pasar Baru menawarkan kios di lantai ke empat. Maklum lah di lantai empat masih kosong melompong. Belum langsung mengundurkan diri, Djoko memilik rencana tersendiri untuk kios tersebut.

Ide bisnis


November 2003, sang istri, Ir. Hj. Prawestri yang bekerja sebagai Kepala System Engineering di  IPTN, mengundurkan diri menjadi pegawai. Ia akan langsung mengerjakan bisnis pakaian muslim dan perlengkapan haji. Dia cukup memakai kios lantai empat yang disediakan oleh Djoko. Nah, selagi sang istri mengerjakan bisnisnya, Djoko melanjutkan kerja di IPTN sebagai karyawan.

Tahun 2005, masih belum berhenti, Djoko malah bekerja sampai ke luar negeri, tepatnya di Belgia. Dimana ia telah menandatangani kontrak kerja setahun. Selama enam bulan, ia bisa menabung sampai Rp.100 juta per- bulan. Uang tabungan tersebut lah menjadi modal tambahan. Kontrak di Belgia selesai, maka dia bisa mambantu sang istri mengerjakan bisnis di Indonesia.

Mengusung nama Amanah Muslim, tempat itu menawarkan busana muslim dan perlengakapan haji. Idenya muncul ketika dirinya menunaikan ibadah haji. Tepatnya waktu itu tahun 1977, di Mekkah, Djoko tengah terpesona atas penghargaan Raja Fahd sebagai pelayan tanah suci. Dorongan lain munculnya ketika tengah menjalankan wukuf, thawaf, serta ifadah.

Ia berbagai minuman sementara teriknya matahari membakar. "Nah dari situlah ide saya membuka busana muslim dengan harga murah untuk membantu muslim," tambah Djoko.

Usaha dijalankan bermodal kios di Pasar Baru seharga Rp.200 juta. Untuk fasilitas serta produk jualan dibeli senilai Rp.35 juta. Kios berukuran 6,25 m2 ini dijadikan bisnis berkonsep one stop shopping. Maknanya, disini, kamu bisa membeli perlengkapan haji atau busana muslim terlengkap. Meski barangnya baru sedikit, Djoko sudah berani menggemborkan konsep tersebut.

Kecendrungan masyarakat menghemat waktu ketika berbelanja terbaca. Pembeli cenderung memilih tempat yang memiliki beragam produk berbeda. Saling melengkapi, jadilah mereka tidak perlu repot kesana- kemari keliling pasar. "Dalam bisnis itu harus punya mimpi besar. Dan mimpi besar saya waktu itu memiliki ingin memiliki mall dengan konsep one stop shopping," jelasnya.

"saking terobsesinya kalimat one stop shopping lebih besar ukuran hurufnya ketimbang nama Amanah Muslim," tuturnya, pria yang didapuk menjadi Ketua Haji dan Umrah Pasar Baru ini.

Padahal cuma toko kecil tetapi berjualan aneka barang. Produknya, awal sekali, bahkan masih bercampur- campur antara perlengkapan haji dan busana muslim. Akal cerdik Djoko muncul mengkonsep agar terlihat rapih. Maka disulapnya rak- rak didepan menjadi lebih rapih. Ia menampilkan bagian depan toko sesuai apa dibutuhkan (musimnya.red).

Ketika musim Ramadhan, maka Amanah Muslim menampilkan busana muslim. Rak di depan menyuguhkan aneka pakaian muslim. Nah, ketika Ramadhan selesai, maka Amanah Muslim akan memajang perlengkapan haji. Usai musim haji maka akan berubah kembali mengikuti. Dalam tempo tujuh bulan, tepatnya Mei 2004, Djoko merambah bisnis penjualan Al- Quran, VCD, serta produk lainnya.

Pengusaha lulusan ITB ini, memang selalu melayani pembeli secara sigap, ramah, dan perhatian. Beda antara bulan Ramadhan dan lainnya tidak berbeda. Djoko tetap menekankan sikap ramah serta tanggap, meski sepi ataupun ramai sama saja. Dia tidak mau pedagang Pasa Baru disebut pengusaha musiman. Cuma lah dagang empat bulan selesai sudah.

Katanya, pedagang semangat ketika Ramadhan tatapi nyatai ketika bulan lain. Djoko tidak mau hal tersebut karena setiap hari orang datang. "Nah ini yang saya tidak mau. Tidak bisa seperti itu, toh setiap hari orang pasti datang,"tutur Djoko. Tidak dipungkiri hasil berjualan di Ramadhan lebih dari mencukupi. Toko Amanah Muslim meraup omzet Rp.20 juta, Rp.30 juta, dan puncaknya di Ramadhan yaitu Rp.35 juta.

Omzetnya bahkan bisa mencapai Rp.1 miliar selama bulan Ramadhan itu. Pasalnya, Djoko sudah memiliki 7 kios beda di Pasa Baru, yakni 3 kios perlengkapan haji dan busana muslim, 1 kios perlengkapan busana muslimah anak, 1 kios perlengakapan busana muslim dan 2 kios toko buku muslim. Hampir setiap tahun selalu saja mengembangkan bisnisnya.

Ia pun memisahkan beberapa kios khusus. Mereka akan menjual produk tertentu, cuma tempatnya dibikin sangat berdekatan. Gencarnya iklan media cetak, iklan online, sangat mendongkrak kesuksesannya. Amanah Muslim dikonsep sedemikian rupa menjadi one stop shopping. Ia berharap bahwa pengunjung tidak akan berhenti belanja satu jenis saja.

Alhasil, penghasilan perbulan mencapai Rp.10 juta, seperti apa harapannya ketika memulai usaha busana muslim. Strateginya agar pembeli yakin tidak membutuhkan produk lain di tempat lain. Strategi ini terbukit berhasil karena pengunjung membeli barang minimal satu sampai dua juta rupiah.

Membuat Tempe Mentega Omzet 4 Juta Harian

Profil Pengusaha M. Rusyad Isnandi 



Ia hanya bekerja menjadi tenaga pemasaran. Tugasnya mengirimkan bahan- bahan pokok ke pasar. Selepas gempa Yogya, warga Dusun Wiyoro, Baturetno, Banguntapan, Bantul, ini akhirnya memutuskan membuksa usaha sendiri. Muhammad Rusyad Isnandi tidak pernah menyangka ide gila itu berhasil. Berkat itulah ia bisa menghasilkan Rp.400.000 per- hari.

Menjadi marketing memang melelahkan. Isnandi akhirnya memutuskan bekerja di tempat sang adik. Ia ikut membuat tempe bersama sang adik. Dia kebingungan mau bekerja apa. Hingga, tanpa terasa, tangannya sudah mulai mahir memproduksi tempe sendiri. Ia lalu memutuskan untuk keluar dan membuat usaha tempe sendiri.

"Kalau lama- lama ikut di tempat adik saya, takut menjadi beban," keluh Isnandi. Daripada menjadi beban ya mending membuka usaha sendiri. Keputusan diambil setelah benar- benar mahir membuat tempe. Awalan menjadi hal tersulit bagi setiap pengusaha. Begitu pula dirinya harus mengerjakan semua sendiri. Ia juga harus menjual -memasarkan sendiri tempe dari pasar ke pasar.

Meski dari tiga tempat, cuma satu saja yang mau dititipi daganganya tidak masalah. Banyak penolakan tidak membuatnya menyerah. Pengalaman diri menjadi bagian marketing perusahaan ternyata bermanfaat. Ini membuatnya tidak mudah berkecil hati. Singkat cerita, dua tahun telah berlalu, usaha Isnadi tidak mengalami perkembangan.

Kondisi inilah yang membuatnya penasaran. Bukan menyerah, ia masih memegang mimpi menjadi pengusaha tempe makmur. Lantas berkeluh- kesah lah si Isnadi kepada seorang teman, dan ditanggapi serius setengah bercanda.

"Teman saya menyarankan agar saya mencoba mencampur tempe dengan mentega," kenangnya. Ini memang terdengar ide konyol. Tetapi anehnya, Isnadi tetap mendengarkan, bahkan mempraktikan langsung. Mulai dari situs setiap berproduksi dicampur lah mentega.

Sebagai catatan mentega dicampur ketika proses peragian. Ditambahnya mentaga menghasilkan rasa gurih. Juga lezat tentunya jikalau kita menggorengnya. Respon pasar ternyata malah positif membawa kejutan. Ia semakin giat membuat untuk berbagai warung makanan. Tidak perlu jauh- jauh, pemesan datang dari warung dekat kos- kosan mahasiswa atau para penjual gorengan.

Prosesnya rumit


Sekarang, berkat tempe mentega, Isnadi mampu memproduksi 6 kuintal kedelai. Untuk segitu diperoleh lah 2.200 potong tempe siap dipasarkan. Harga tempe mentega berkisah Rp.3.000 per- potong. Memang itu lebih mahal dibanding harga tempe biasa. "Kalau tempe lain paling dijual sekitar Rp.2.000 per- potong," jelas Isnadi.

Meski lebih mahal toh buktinya tetap laku juga. Permintaan bahkan naik ketimbah awal pembuatan. Coba kamu bayangkan omzet dihasilkan Isnadi mencapai Rp.4- 5 juta per- hari. Maka dia mempekerjakan 31 orang karyawan yang kebanyakan tetangga sekitar. Menyerap tenaga kerja cukup tinggi membuatnya jadi idaman tetangga.

Pemasaran sendiri dilakukan oleh tim marketing. Isnadi memberikan untung sampai 10 persen harga jual. Ia juga menambahkan uang bensin Rp.2.500 per- hari, ditambah uang oli setiap bulan. "Tingginya permintaan membuat kami kwalahan memasok ke pasar- pasar tradisional," jelasnya. Tenaga pemasaran sudah punya pelanggan tetap masing- masing.

"...yang sebagian besar berupa rumah makan," aku Isnadi.

Proses pembuatan tempe mentega terbilang rumit. Pertama- tama, kedelai direndam dulu kemudian direbus. Hasil rebusan kedelai digiling memakai mesin khusus. Selepas itu, ia kembali merendam kedelai itu, selama semalam suntuk, dicuci, kemudian direbus kembali.

Proses terakhira merupakan proses peragian. Nah, disinilah mentega dimasukan, untuk peragian jika tidak pas maka akan busuk. Pria yang cuma lulusan SMA ini menjelaskan lebih lanjut. Ketika musim panas dimana matahari begitu terik maka pemberian ragi dikurangi. Sebaliknya disaat masuk musim hujan, maka ya ragi diperbanyak.

"Kalau sudah busuk, tempenya harus dibuang karena tidak bisa dijual lagi," ujarnya. Bahan baku sendiri dari kedelai impor yang harganya lebih murah, dimana ia cuma mengeluarkan biaya Rp.4.800 per- kilogram.

Bahan baku utama tempe mentega memakai kedelai impor. Alasannya, kedelai lokal kurang bagus, lebih bagus kalau dipakai tahu. Harga juga lebih murah yakni Rp.4.800 per- kilogram. Untuk kedelai lokal harga mencapai Rp.5.500 per- kilogram. Kapistas sendiri masih naik- turun mengikuti ketersediaan karyawan di tempatnya.

Misal, pada hari raya seperti Lebaran, kapasitas menurun 50 persen karena karyawan mudik. Para perajin tempe akan pulang ke kampung. Kebanyakan mereka adalah warga Pekalongan, Jawa Tengah. Stok tempe maka akan menurun drastis disaat musim libur. "Sebenarnya saya bisa saja menambah produksi sampai 100 persen, tetapi kapasitas mesin dan tenaga yang ada tidak mencukupi," katanya.

Sukses tempe mentega membawa berkah. Dia bisa membangun rumah sendiri, membeli mobil, dan punya pabrik sendiri. Ia berharap sangat usahanya ini bisa sampai ke anaknya. "Saya mulai terapkan pemahaman supaya anak tidak terpaku menjadi pegawai," terang Isnadi. Menjadi pengsuha harus dibangun semenjak masih kecil lewat keuletan dan kerajinan.

"...hasilnya jauh lebih menguntungkan," katanya. Sikap serta pandangan ini tidak lah salah sama sekali. Ia paham Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda. Menjadi wirausahawan berarti membantu orang lain, mambuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Pengusaha 15 Tahun Pencinta Game Online

Profil Pengusaha Online Kyle



Memulai bisnis memang seharusnya lebih awal sehingga terbebas beban lain. Salah satunya, ya, adalah kita terbebas dari tugas akhir yang menyita waktu atau masalah cinta. Dan, jika waktu kamu itu tersita, maka akhirnya lupa bagaimana rasanya menjadi pengusaha. Selanjutnya Kyle, hanya remaja 15 tahun menciptakan peluang bisnis di sekolah menengah, ketika uang sakunya masih lebih dari cukup.

Dia seperti layaknya remaja pada umumnya memiliki masa masa bermain yang normal. Tetapi, dia sudah tau rasanya mencari uang sendiri loh. Dia tahu akan sebuah usaha. Kyle tertarik menjadi mandiri seperti seluruh keluarganya. Terinspirasi kisah keluarga, Kyle membangun blog Extreme-days.com, menjadi bisnis onlinenya sendiri.

Dia sedang berbicara passion yakni elektronik dan menjual aneka produk. Kyle memulai semua sebagai seorang anak yang berasal dari keluarga di era kekinian, yaitu mereka yang sangat dekat dengan dunia internet termasuk bisnis internet. Ayahnya bekerja secara online terhubung dengan internet secara 24 jam. Kakaknya sendiri juga memiliki sebuah bisnis internet dibidang online shop.

Terinspirasi keluarga pengusaha online, ia yang sebelumnya menyukai game dan design, mulai meluangkan waktu mengikuti trend bisnis online. Dia mulai mendesign webnya sendiri, menciptakan mesin uang, dan terus ketagihan. Ia mengaku sangat senang akan  lifestyle -nya sekarang. Kyle lebih memilih topik elektronik, atau gadget serta segala sesuatu tentang modifikasi.

Tidak seperti kakaknya, ia tidak lah menjual apapun pertama- tama. Dia, berbekal kemampuan design, serta membuat kostum di gamenya. Kyle memodifikasi gamenya agar dimenangkan mudah. Kyle lantas membuat beberapa review produk dan sedikit tips jitu. Dia memberikan beberapa aplikasi atau softwere pendukung di permainan tersebut (bahkan gratis), atau menuliskan tentang kesalahan mereka pemain pemula.

Menurut Kyle, seperti umunya blog, dia memilih sosial bookmarking sebagai media marketing. Dia memilih ranking 1-10 sosial bookmarking tetapi menghindari sosial media. Ia tau, ayahnya tidak akan mau melihatnya memiliki akun Facebook atau Twitter sekarang ini, meski karena alasan apapun. Itu cukup sulit, hingga ia mengambil jalan diam- diam.

Kyle mengaku mempunyai akun bisnis di Facebook serta akun MySpace. Ia sendiri lebih memilih Facebook karena mudah diatur.

"Saya akan menjual produk elektronik yang sudah di custom melalui voting terbaik dari tiap pembaca, saya juga akan menjual produk lain seperti kaos mengenai elektronik seperti beberapa web lain" tegasnya.

Extreme-Days.com menawarkan sesuatu berbeda. Bukan cuma design yang simple, tetapi Kyle benar fokus di previewnya. Selain itu dia memberikan video tutorial, seperti bagaimana mengkostume iPhone atau gadget lain. Dia benar- benar seorang profesional. Bisa dibayangkan, sulitnya membuat video review melalui video YouTube. Dia berbicara segala sesuatu mengenai game lewat penggambaran langsung.

Atau, pengunjung melihat Kyle bermain langsung yang direviewkan. Apa bisnis selanjutnya? Ia berucap, "mungkin, saya akan memulai untuk membuat sebuah website mengenai sulap, ya sulap jalanan, menurut saya ini akan sangat bagus. Saya memang berlatih sedikit mengenai sulap jalanan. Saya akan membuat website mengenai ini dan akan belajar lebih keras lagi".

Dia sendiri belum mendapatkan ponselnya, meski ia telah memiliki bisnis dan komputer. Ponsel adalah tujuan mendatang, ia sampai mohon kepada ayahnya setelah komputer di tahun 2000 -an. Aneh karena si Kyle seharusnya punya uang lebih. Yah, mungkin itu karena ayahnya paham soal internet jadi lebih ketat. Jadi, itulah satu kisah pengusaha Kyle, lalu, bagaimana website kamu?

Memulai Bisnis Lingerie Wacoal di Indonesia

Biografi Pengusaha Suryadi Sasmita 



Kisah orang miskin kemudian kaya sudah biasa. Namun, menarik ditelisik adalah kisah Suryadi Sasmita, pria kalem ini ternyata sukses berkat pakaian dalam wanita. Sulit dibayangkan, tetapi ayolah, kita bebas memulai usaha apapun selama bukan ilegal. Lanjut ceritanya sejak Sekolah Menengah Atas, Suryadi sudah menjadi sosok tulang punggu keluarga yang serba kekurangan.

Kesuksesan tentu tidak lah mudah dilalui. Pria kelahiran Jakarta, 12 April 1948 ini, mamang berasal dari satu keluarga tidak mampu. Manalagi dia adalah anak lelaki tertua dalam keluarga. Faktor itulah yang mendorong dia harus berpikir mandiri sejak dini. Dia bersama sang ayah lantas membuka toko konveksi tas. Sayang, itu harus gulung tikar karena bangkrut.

Selepas lulus SMA, ia melanjutkan bekerja di sebuah toko tekstil di Pasar Pagi, Jakarta. Pekerjaanya kala itu bekerja sebagai penjaga toko melayani pembeli. Kerja keras terbukti dari pilihannya untuk bekerja dalam dua sift sekaligus. Ya, Suryadi bekerja dari pagi ke sore dan sore ke malam. Hal ini menarik perhatian sang atasan sampai dikuliahkan.

Keberuntungan memang, Suryadi bisa berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. Kulih jalan tetapi dia lupa bekerja di tempat atasannya itu. Sebagai wujud terima kasihnya kepada atasan, dilakukanya lewat bekerja lebih keras. Suryadi pun menjadi tidak konsentrasi dalam kuliah. Dikuliahkan, baru jalan enam bulan, Suryadi memilih berhenti kuliah dan kembali bekerja saja.

Alasannya karena dia masih memiliki tanggungan nafkah keluarga. Hasilnya bekerja di toko dikumpulkan sedikit- demi sedikit. Ia belikan toko kecil di Jembatan Lima. Toko inilah modalnya merajut asa untuk masa depan lebih baik.

Bisnis garmen


Toko tersebut sebagai catatan dikerjakan keluarga. Sementara Suryadi memilih tetap bekerja di Pasar Pagi. Empat tahun bekerja dibidang tekstil ternyata cukup. Dia lantas melompat ke perusahaan tekstil asal Jepang. Suryadi bekerja sebagai karyawan disana C. Jtoh. Ini merupakan perusahaan besar kelas dunia. Suryadi mendapatka kesempatan menjadi pengantar dokumen.

"Saya merasa gaji saya terlalu besar kalau hanya bekerja sebagai pengantar dokumen," kenangnya. Dia pun memberanikan diri menghadap pimpinan perusahaan. Dengan gagah berani Suryandi meminta ditambahi kerjaannya. Dia meminta diberikan kesempatan berjualan benang. "Saya minta diizinkan berjualan benang," jelasnya.

Permintaan Suryadi diterima oleh atasa. Ia mendapatkan pekerjaan tambahan selain mengantar dokumen. Dia memang pekerja keras. Dari matahari terbit sampai matahari terbenam, ia bekerja keras menjadi salah satu salesman perusahaan. Semuanya dilakoni sampai- sampai target setahun menjadi setengah tahun. Ya, ia berhasil memenuhi target bahkan sebelum masa tenggangnya.

Singkat cerita karir Suryadi meroket dan menambah banyak koneksi. Jaringan luas membawanya membuka perusahaan sandiri dibidang trading pada 1976. Usaha bernama Moritex Trading Company, menjadi jalan mengumpulkan lebih banyak modal. Dalam tempo setahun dibuka lah usaha lain dibidang rajut (knitting). Ia berinama usahanya tersebut Moritex Knitting.

"Keduanya saya kelola bersamaan dan hanya saya cek di sore hari," jelasnya. Sambil itu dia masih bekerja di C. Jtoh loh. Dan, jabatan Suryadi bukan lagi salesman tetapi sales representative.

Jaringan koneksi


Untungnya menjadi salesman adalah mampu membangun jaringan. Inilah manfaat dirasakan oleh Suryadi di masa menjadi pegawai gugus depan itu. Pokoknya, menurut Suryadi, seorang sales tugas utamanya hanya ya berdagang yang ada di kepala. Hanya kita harus memberikan informasi yang benar tentang produk. Ini akan membangun satu jalan pertemanan seperti halnya Suryadi.

"Kalau mereka puas, mereka pasti akan pesan," paparnya. Berkat ini pula usahanya sekarang menjadi- jadi. Dia dikenal sebagai salah satu pengusaha garmen. Usaha bernama Wacoal mampu menghasilkan penjualan naik 30%. Kini, dia sudah memiliki 50 gerai, balum lagi angka ratusan gerai yang tersebar di pusat- pusat belanja.

Suryadi menyandang gelar Direktur semua berkat salesman. Ia bertemu seseorang yang menawarinya kerja bersama perusahaan asal Jepang, Wacoal. Pernah bekerja di perusahaan Jepang, Suryadi tau betul kualitas dari produk mereka. Wacoal memiliki standar tinggi soal barang, bahan, dan pengerjaan. Bahan baku pun sebagai besar merupakan bahan impor dari luar.

Setelah delapan tahun bekerja di C.Jtoh, barulah Suryadi mengundurkan diri. Waktu cukup lama bahkan ia melakukan pekerjaan sambil menjadi pengusaha. Disaat mundur itulah seseorang menawarinya kerja sama bersama perusahaan Wacoal. Modal dikumpulkan sejak 1981 langsung digunakan untuk mebawa brand ini masuk ke Indonesia.

Usaha premium


Uang dipakai modal katanya sih sedikit. Biaya produksi pakaian dalam lebih menunjang budget Suryadi. Ia bicara alasan lain kenapa menerima tawaran Wacoal: Karena pengerjaanya sukar sehingga sulit menemukan pesaing dalam bisnis garmen pakaian dalam. Satu bra saja membutuhkan 27 komponen berbeda agar bisa nyaman.

Apalagi kalau bicara menyamakan warna dan desain. Butuh karyawan handal dan memilik ketrampilan soal jahit- menjahit. "Saya bekerja sama dengan perusahaan Wacoal dari Jepang, Prancis, dan Taiwan," jelasnya. Ia membeli borong produk mereka. Membawa teknisi kesana bahkan karyawan dikirim kesana. Sejak awal, Suryadi sudah memperhitungkan kerugian berbisnis manufakturing ini.

Hasil bisnis manufakturing jelasnya, bukan merupakan bisnis jangka pendek, tatapi jangkan panjang yang baru terlihat untungnya ke depan. Alurnya beda dengan usaha dagang yang cuma beli lantas dijual. Dia lalu menambahkan investasi jangka panjang yang butuh modal besar. "Bagi saya, salah satu investasi yang paling penting adalah sumber daya manusia," aku Suryadi.

Menarik kalau bicara tentang Presiden Direktur PT. Indonesian Wacoal ini. Secara gambal dia meyakinkan bahwa Wacoal Indonesia adalah Indonesia. Ini seperti dikutip dalam wawancara majalah SWA, bahwa itu tak penting brand luar, asalkan merupakan produksi dalam negeri dan ia setuju mendukung 70- 80% -nya merupakan hasil dalam negeri.

Perbedaan mencolok tentang bisnis pakaian dalam memang berasa. Kalau dulu, orang tidak berani menjual di display depan toko. Jualannya sembunyi- sembunyi bahkan dilarang pegang. Waktu Wacoal mulai jualan pertama kali memasang konsep berbeda. Suryadi memajang produk pakaian dalam di display bahkan boleh dipegang.

"Waktu itu orang cuma pegang- pegang, tapi enggak beli," kenangnya. Tempo tiga bulan semenjak pertama kali diluncurkan responnya datar. Apalagi jualan Suryadi merupakan pakain dalam wanita (lingerie.red) yang harganya 2 lebih mahal. "Sampai istilahnya barang jadi dekil and the kumel, hahahaha!! Dipegang- pegang tetapi tidak beli akhirnya kotor."

Ia ingat bagaimana akhirnya dia menggunakan dry cleaner. Tetapi dia yakin bahwa suatu hari pasti akan laku terjual. Sampai akhirnya sekarang produk pakaian dalam bebas masuk display. Lucunya dijelaskan olehnya sendiri produk pakaian dalam memakai formalin. Loh, kok, ya karena bahannya yang rentan jadi butuh satu sentuhan bahan kimia didalamnya.

Tetapi Wacoal tidak, ia meyakinkan tanpa bahan kimia dalam pakain dalam. Untuk menjual lebih banyak ada startegi 7 hari coba. Bayangkan, orang bisa beli pakaian dalam sampai tujuh hari jaminan. Dipakai dulu kalau nanti tidak nyaman boleh dikembalikan ke toko. Alasan mudahnya karena menyasar kepuasan pelanggan akan produk pakaian dalam Wacoal.

Memberikan pelayanan maksimal menjadi andalan. Suryadi bahkan mengkususkan SPG -nya mencontoh kinerja orang Jepang. Pengandaiannya, pengalaman ketika ia pernah melihat- lihat kamera, ada SPG datang melayani penuh keramahan. Dia pun bertanya tentang kamera tersebut dan malah tidak jadi beli. Reaksinya? Si SPG tersenyum, membungkukan badan, dan berterima kasih.

Produk Wacoal sendiri begitu hygienists proses pembuatannya. Tidak cuma pegawai, direksi juga kalau mau masuk ke pabrik harus disterilkan. Memakai tutup kepala, tidak boleh keringetan, jadinya kalau produksi satu produk harus disemprot AC. "Kalian tahu tidak komponen 1 bra ada berapa? Kalau bikin baju mah enak, 1 lembar cukup, tinggal jahit doang. Nah komponen bra, meskipun kecil, wah ribet dia."

Kenapa memilih bisnis pakaian dalam? Karena cari yang susah produksinya, karena pasti akan jarang lah diminati pengusaha lain. Wacoal sendiri kini sudah mengekspor sampai 10 negara. Kualitasnya sudah kualitas internasional atau dunia loh. "...bukan kualitas Citereup saja," candanya. Untuk inovasi jangan ditanya lagi soal hal semacam ini.

Wanita sekarang sudah menganggap pakaian dalam bukan lagi tempelan. Tetapi ini merupakan wujud dari fashion sendiri jadi ya aneka jenis serta modal pastilah selalu tersedia. Selain itu, mengikuti perkembangan gadget, ia juga mengembangkan pasarnya sendiri lewat Android. Mudahnya berbelanja lingerie kini makin mudah tanpa ribet.

"Makanya kenapa kami bikin Wacoal Sexy Look? Karena perempuan pada dasarnya ingin kelihatan sexy. Jadi kami bikin speck yang memperlihatkan bentuk sexy itu," tutur Suryadi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba