Pemilik Usaha Waroeng Steak Pengusaha

Biografi Pengusaha Jody Brotosuseno

 
jodysteak.png
 
Dialah pengusaha dibalik usaha Waroeng Steak. Biografi Jody Brotosuseno, pemilik usaha yang berani mengorbankan tenaga dan pikiran. Otaknya dituntut harus membuat terobosan baru. Wirausahawan dituntut memiliki ide- ide segar,  tak cuma berpatok apa yang tersedia di bumi Indonesia.
 
 Menjadi pengusaha dibidang kuliner butuh pembeda. Perlu identitas kuat untuk membedakan kamu dengan binsnis kuliner lain. Jika menjadi pengusaha bakso sudah umum ada disekitar, maka bagaimana jika jadi pengusaha steak. 
 
Tak perlu memanggil chef asing. Kamu cukup belajar keras untuk membuat menu itu menjadi nyata. Ini kisah pasangan Jody Brotosuseno dan Siti Hariyani. Kisah jatuh bangun membangun berbagai usaha sudah dilakoninya.
 

Pengorbanan Pengusaha

 
Peluang aneka kuliner sudah mereka coba, dari roti bakar, berjualan susu, sampai bisnis kaos partai, yang cuma musiman. Semua usaha mereka jalani tapi tak bertahan lama. Belum ketemu chemistry -nya kalo kata orang. 
 
Nah, karena wirausaha sudah mendarah daging, keduanya lantas memulai bisnis kembali. Awal kesuksesan bisnisnya baru di tahun 2000, Jody dan Anik cuma membuka usaha warungan. Bukan lah juga warung biasa keduanya membuka warung steak. 
 
Ya, makan ala barat itu mampu diolahnya jadi usaha di warung makan. Hasilnya, mengejutkan, usaha yang mengawali semuanya di teras rumah. Keduanya sepakat membuka usaha warung steak pertama di Jalan Cendrawasih 30 Demangan Yogyakarta.

Mereka mencoba sesuatu cuma bermodal jiwa entrepreneurship. Waroeng Steak n Shake, atau terkenalnya bernama WS, hanya dibangun di pekarangan rumahnya. Idenya jika steak makanan barat itu cuma untuk orang tertentu, WS mencoba menghadirkannya. 
 
Tak kan lagi jadi makanan mahal khas hotel karena WS mencoba membuat sedemikian mungkin. Jody dan Anik, keduanya telah membuat satu gebarakan baru.

Mereka mencoba menawarkan steak dan shake di warung pinggir jalan. Tak ada kesan mewak ketika kita menyambangi pusat atau cabangnya. Semua cuma bermodal 5 hotplate, 5 buah meja makan, dan sebuah ruang berdaya tampung 20 orang, kini usahanya tumbuh pesat. 
 
Usut- punya usut ternyata sosok Jodi sendiri bukanlah orang susah seperti kita akan bayangkan. Ayah Jodi, Sugondo dikenal pemilik jaringan restoran Obonk Steak dan Ribs.
 
Berlatar belakang pengusaha sukses, kaya, tak membuatnya jadi anak orang kaya manja. Justru dia sangat pekerja keras. Dia pernah berkuliah Arsitektur, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tapi berhenti ditengah jalan. Jadilah ia hanya berijasah SMA saja. 
 
Karena tak melanjutkan pendidikan Jodi harus putar otak untuk bekerja. Sayangnya, tak mudah bekerja dengan ijasah SMA saja. Mau- tak mau dia akhirnya memilih untuk bekerja di restoran ayahnya.

Ketika itu ia cuma bekerja menjadi pegawai biasa. Gajinya tak sanggup memenuhi kebutuhan, apalagi setelah ia memutuskan untuk menikah dengan Siti Hariani atau Aniek pada 1998. Gajinya itu dirasa tak lagi cukup. Jodi pun tak merengek meminta jabatan. 
 
Justru ia makin getol berusaha sendiri. Pertama kali usaha, ia mulai dengan berjualan aneka makanan sambil bekerja di Obonk. Awalnya ia berjualan susu segar, roti bakar, dan jus buah. Namun semua usahanya itu sia- sia ketika perlatannya banyak dicuri orang. 
 
Jodi lantas berjualan kaos partai, dimana saat itu partai membengkak dari tiga jadi 48 partai. Alhasil menjual kaos partai jadi prospek bisnis yang menguntungkan saat itu. Hasil penjualannya, akhirnya, ia bisa mengontrak rumah sendiri di kawasan Demangan, Yogyakarta.
 
Selepas pemilu, Jodi dan Anik memutar otak kembali, apalagi dengan kehadiran putra pertama mereka, Yuda Adiaksa. Akhirnya pasangan pengusaha ini memilih berbisnis steak. Tapi tak mau mencontoh bisnis milik ayahnya. Jodi memilih usaha steak warungan. 
 

Usaha Waroeng Steak

 
Usaha pertamanya dibuka di teras rumah karena tak punya modal menyewa tempat. Jodi memilih kata "waroeng" agar menegaskan apa yang dijualnya tidak mahal. Namun usaha baru itu terbentur modal dimana Jodi dan Aniek cuma punya 100.000 dikantong. 
 
Akhirnya ia menjual motor satu- satunya untuk modal. Dalam biografi Jody Brotosuseno dikatakan bahwa mereka kerjakan semua sendiri. Pertama- tama Jodi mengerjakan dapur dan melayani pembeli, sang istri bekerja sebagai kasir. 
 
Warungnya itu tak langsung sukses. Pernah dalam sehari mereka cuma menjual 30.000. Pembeli masih sepi karena memang konsep bisnisnya sangatlah baru. Siapa yang berpikir bahwa steak itu murah waktu itu. 
 
Beberapa pembeli pun ikut memberi saran agar warungnya lebih ramai. Sarannya, ia lantas membuat spanduk besar berwarna mencolok di depan warung steak -nya. Di spanduk itu dituliskan harga steak yang murah itu. Ia juga mempromosikan melalui selebaran. 
 
Dari semua usaha promosi itulah, warung milik Jodi mulai ramai, utamanya mereka dari kalangan mahasiswa dan pelajar. "Malah kami mulai kewalahan," ungkapnya. Meski sudah ramai, nyatanya, Jodi cuma punya 10 hotplate di meja. 
 
Jadilah orang- orang sampai harus mengantri untuk dilayani di mejanya. Untuk mengatasi hal itu Jodi pun mengambil hotplate dari meja. Prinsipnya habis pakai, cuci, langsung bisa digunakan lagi untuk pelanggan lain. Pelan tapi pasti Waroeng Steak mulai menambah peralatan. 
 
Ia juga merekrut pegawai untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Setahun ia telah berbisnis di Demangan, ia lantas membuka cabang. Gerai kedua tak begitu sulit dimulai. Kerabatnya mau untuk ikut menanamkan modal. Dengan konsep bagi hasil jalanlah gerai keduanya.

Pola yang sama digunakan hingga ke 8 gerai tercatat dibuka. Selanjutnya Jodi bisa mendanai sendiri gerai ke 9 dan seterusnya.
 
"Asal bisa menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan pasar, bisa berkembang terus. Masukan pelanggan selalu kami perhatikan," tuturnya.

Masukan menjadi ciri khas WS untuk berkembang hingga sekarang. Jodi selalu bertanya apa keinginan dari mereka para pelanggan. Menu- menu baru pun disuguhkan menyesuaikan permintaan. Meski warungnya itu mengusung menu steak dan shake, Jodi masih menyediakan menu nasi. 
 
Jika biasanya kamu ketemu steak dan kentang tidak khusus untuk Waroeng Steak. Saat usahanya makin berkembang ia pun yakin memilih untuk konsentrasi dibisnisnya. Sejak 2002, ia terus fokus menambah jumlah gerai di seluruh penjuru Indonesia. 
 
Total ada 50 gerai telah ia buka di sejumlah kota. Jodi pun membuka gerai aneka makanan berbendera Festival Kuliner.  Konsep ini ia sebut sebagai konsep dimana tidak hanya ada WS, ada pula Waroeng Penyetan dan Bebaqaran serta ada delapan gerai waralaba lain. 
 
Untuk ekspansi lain, diluar bisnis kuliner, Jodi memilih membuka arena futsal. Sukses Waroeng Steak menariknya tak menerapkan konsep waralaba. Ya, tak ada waralaba Waroeng Steak, namun untuk pangsa luar negeri, Jodi memilih mewaralabakan miliknya.  
 
Wajarlah jika ia sanggup membangun bisnisnya sendiri.  Untuk satu gerai, di wilayah Yogyakarta contohnya, ia mengantongi 500 juta. Jumlah cabangnya jadi 30 gerai yang tersebar di Jakarta, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Yogya, Bali dan terakhir ada di Pekanbaru. 
 
Omzetnya ya, bisa kita bayangkan, bisa mencapai miliaran rupiah. Melalui mottonya "bukan steak biasa" berfokus pada menempatkan makanan mahal jadi milik siapa saja. Di konsep ini kamu bisa membuat kuliner eklusip jadi umum. 
 
Contoh lain yaitu gerai makanan susi yang juga mulai diwaralabakan. Tak semua bisnis harus diwaralabakan juga bisa kita ambil hikmahnya dari kisah ini. Tapi menggunakan konsep waralaba kamu bisa lebih cepat. 
 
Dia hanya memanfaatkan konsep warlaba dari bisnis barunya Waroeng Penyetan dan Bebaqaran. Ini konsep bisnis bagus jika kami rasa.

Cara Membuat Produk Paten dan Aman Dijual

Artikel Bisnis: Cara Membuat Produk Paten

 
produk paten dan aman
 
Ketika ide itu muncul sejalan pula keraguan akan produk yang dihasilkan. Ada banyak pertimbangan muncul sebelum produk itu dibuat. Bicara tentang keaslian, keamanan, dan apakah produk kamu benar- benar bisa diterima pasar. 
 
Ide besar belum tentung menghasilkan sebuah produk. Bagaimana nanti kamu akan menjual produk kamu, langsung atau dilisensikan melalui waralaba, ada proses yang harus dilalui. Memang, beberapa pengusaha melewati beberapa hal, beberapa orang menyukai spontanitas.

Namun, perlu dicermati pula, ada beberapa langkah yang kamu perlu ketahui. Langkah bagaimana lampu ide itu benar- benar menjadi produk berkualitas dan terjaga. Dikutip dari entrepreneur.com, situs tentang ide- ide kreatif wirausahawan menyebut lima langkah. Cukuplah rumit jika dibaca. Kamu harus melewati lima langkah bagiamana merubah ide kamu menjadi produk, berikut langkahnya:

1. Langkah 1: Dokumentasikan


Hanya punya ide akan jadi sia- sia -tidak ada bukti bahwa kamu pemilik ide atas temuan tersebut. Tulis lah semua tentang ide kamu sebelum menjadi produk, mulai dari produk apakah itu dan bagaimana caranya. 
 
Ini adalah langkah awal mematenkan produk kamu. Jika perlu tulislah pada selembar dokumen atau mungkin jurnal pastikan kamu memiliki saksi atas dokumentasi tersebut. Dokumen atau jurnal tersebut akan menjadi satu kitab yang diturunkan dari generasi ke generasi bukan hanya omongan.

2. Langkah 2: Teliti dahulu


Kamu perlu mencari tau atau menteliti dari aspek legal hingga bisnisnya. Sebelum dipatenkan, ini dimulai dari:

a. Cari hak cipta atau paten sejenis.


Jika kamu bilang itu temuan kamu bukan berarti tidak ada yang telah mematenkan. Sebelum mematenkan itu secara resmi cobalah kunjungi situs paten seperti dgip.go.id, memastikan tak ada produk lain seperti temuan kamu. 

b. Teliti pasar kamu


Mungkin saudara kamu bilang ide bisnis kamu sangat menakjubkan, tapi apakah tetangga kamu akan beli? 
 
Ini bisa jadi masalah serius, di Amerika, lebih dari 95% paten tidak menghasilkan UANG. Daripada sibuk untuk mematenkan produk kamu, lebih baik mulai menjajaki pasar. Beberapa pengusaha sukses melakukan ini, dan ingat ada berbagai jenis paten seperti merek atau produk itu sendiri. 

3. Langkah 3: Buat prototype


Atau buatlah barang contoh terlebih dahulu untuk dikerjakan lagi. Kamu akan memastikan produk tersebut siap dipasarkan, caranya tarus semua di catatan ke dunia nyaata. Bagaimana jika gagal? 
 
Kamu pastilah akan menemukan kegagalan pada produk baru, beberapa pengusaha mengulang hingga puluhan kali. Bahkan untuk seorang Kolonel Sanders harus mengulang prototype miliknya hingga ribuan kali.

4. Langkah 4: Patenkan


Setelah lama berkutat dengan prototype yang disempurnakan. Atau, kamu telah menjual cukup banyak untuk produk baru ini, barulah patenkan. Ada dua jenis paten: paten utilitas (untuk proses atau mesin baru) atau paten desain (untuk manufaktur baru, desain ornamen yang belum ada). 
 
Kamu dapat menulis paten kemudian mengisi aplikasi sendiri, tapi jangan mengarsipkannya sendiri sampai kamu benar mendapatkan pengawasan dari orang yang profesional dibidang ini

5. Langkah 5: Buat produknya


Ya, ada beberapa yang telah terlebih dahulu menjual namun dengan patensi hal lain bisa terjadi. Kamu akan lebih luas memasarkan produk kamu tanpa perasaan was- was. Cobalah memilih waralaba atau franchise ketika produk kamu telah dipatenkan. 
 
Kamu cukup menjual kesempatan menggunakan produk kamu untuk orang lain berusaha, dan kamu dibayar dari royaltinya. enak kan? Ketika kamu hanya meroyaltikan paten kamu mungkin kamu akan hanya mendapatkan sekitar 2- 5 persen, lain hal berusaha sendiri.

Catatan: sebelum produk kamu dipatenkan anggap apa yang dihasilkan hanyalah prototype. Kita tak pernah tau apakah satu tahun lagi, dua atau lebih, produk kamu akan ditiru. Jadi, kamu harus bersiap ketika bisnis itu sudah moncer dan menghasilkan cukup biaya paten. 
 
Untuk Indonesia sendiri, biayanya memang cukup mahal dan ribet, inilah beberapa pengusaha tidak terproteksi baik produknya.

Penghasilan Triliunan Reiner Bonifasius Rahardja

Biografi Pengusaha Reiner Bonifasius Rahardja


pengusahariener.png
 
Pengusaha muda Reiner Bonifasius Rahardja mungkin belum kamu kenal. Tapi bukannya tak terkenal karena dia memiliki penghasilan triliun. Mungkin kamu kurang gaul berbicara apa bisnis anak muda kekinian. Modalnya tekat kuat khas anak muda merintis bisnis.
 
Biografi Riener Bonifasius Rahardja, sosok pengusaha muda yang sukses menembus angka setengah triliun, bukan perkara mudah baginya karena umurnya saat itu baru 26 tahun. Kisah hidupnya bisa dibilang begitu inspirasif buat dibaca. 
 
Ia terlahir dari keluarga sederhana sehingga menjadi sosok tangguh. Lahir dari keluarga sederhana memutuskan hidupnya harus lebih baik. Dia telah bertekat membiayai sendiri hidupnya sejak lulus SMA di tahun 2006. 
 

Penghasilan Triliun

 
Dulu, jauh sebelum memutuskan itu, dia adalah sosok minderan atau tidak percaya diri karena "merasa jelek". Cibiran perkatan kecut sudah makanan sehari- harinya disaat mengenyam pendidikan formal. Bahkan teman- teman sudah men- judge dirinya tak punya masa depan. 
 
Padahal masa depan baginya masihlah panjang karena baru belasan tahun. Alasannya karena sosok fisiknya enggak banget buat anak sekolah. Masa itu bobotnya mencapai 100 kg. Ia pun tak punya prestasi akademis menonjol. Dia juga bukan anak orang kaya. 
 
Siapa sangka berkat tumbuh rasa rendah diri karena di bully. Menjadikan hati pemuda kelahiran 13 Juli 1988 ini punya hati yang besar. Mudah memaafkan mareka dari masa lalunya. Rasa pahit tak membunuh karekternya ini sama sekali.

Ia selalu menggenggam semangat,"jangan takut, terus berusaha dan mencoba! Semua itu akan berubah." Itu ada dalam benaknya terus. Riener pun memutuskan menjalankan entrepreneurship.

Seorang entrepreneur menurut penjelasannya. Adalah mampu merubah apapapun bahkan merubah kotoran jadi uang. Dunia bisnis bukanlah hal baru loh. Dimulai ketika masih masa- masa Sekolah Menengah Atas ketika memutuskan untuk mandiri. 
 
Dia bahkan tak mau menerima sepeser pun uang dari orang tuanya. Tahun 2006 -an, Riener mulai menjual kartu kredit. Kemudian membagi waktunya antara berjualan dan kuliah. Tak cuma menjual kartu kredit tapi juga bekerja paruh waktu di beberapa perusahaan. 
 
Sukses berjualan tak berarti meninggalkan pendidikan loh. Semenjak memutuskan menjadi kuat. Nilai akademisnya meningkat dan bisa berkuliah hingga ke Australia. Dia harus bekerja untuk membiayai segalanya dari kuliah sampai makan. 
 
"Ya saya harus kerja sambilan di beberapa tempat. Akibatnya, sehari hanya tidur empat jam," kenangnya lagi.

Menjadi Pengusaha


Tekadnya kuat agar bisa mematahkan stigma akan dirinya. Dia dianggap banyak bicara kala sekolah. Namun terbukti dia tak cuma berbicara kosong. Tercatat bekerja di tiga perusahaan sekaligus yaitu ada perusahaan kartu kredit, broker saham, hingga jadi marketing planner buat satu perusahaan konstruksi. 
 
Dia sudah menghasilkan lebih dari 20 jutaan ketika masih berumur 20 tahun. Catatan akademisnya pun memuaskan selepas SMA. Dimana ia pernah berkuliah model distant learning atau kuliah jarak jauh di Inti Collage Indonesia. 
 
Ia mendapatkan gelar pertamanya yaitu Sarjana Business Administration dari University of Southern Queensland, Australia. Itu semuanya tidak mungkin akan diraihnya dengan mudah. Riener harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. 
 
Tiap harinya dia cuma bisa tidur 3 sampai 4 jam saja per- hari selama dua tahun.  Puncaknya ketika kesehatannya menurun dratis. Dia dinyatakan sakit batu ginjal hingga diharuskan dioperasi. Padahal umurnya baru 20 tahun, sang ayah pun jadi orang pertama menegurnya, bagi ayahnya buat apa ia sukses jika mengorbankan kesehatannya. 
 
Kalimat itulah merubah pola pikirnya jadi karyawan ke wirausaha. Dia menjadi entrepreneur muda inspiratif kita. Sadar akan ritme kerja tak sehat di perusahaan memutuskan menggunakan semua jirih payanya.

Pengusaha Reiner mengorbankan uang tabungan, membangun perusahaan sendiri di tahun 2008. Saat itu, ia memberanikan buat mendorong gerobak cireng. Mungkin buat beberapa orang memalukan dari anak kantoran jadi cuma, ah, cumalah penjual cireng keliling. 
 
Hasil kerja kerasnya kini dijadikan tepung kanji goreng (cireng). Usaha itu dinamainya Cireng Isi Kodjo. Usaha ini ternyata berbuah menjadi bisnis menjanjikan. Hanya butuh waktu satu tahun sudah menghasilkan 20 gerobak cireng.

Bisnisnya tersebar di minimerket sampai supermarket. Dimulai cuma 5 cabang didekat kawasan rumahnya jadi 20 buah setahun kemudian. Hebat tapi belum berhenti disitu. Berbekal pendidikan bisnis semasa kuliah membuatnya melek bisnis beneran. 
 
Usaha cireng digabung konsep perusahaan hingga menghasiklan apa itu difersifikasi. Riener kemudian membuka usaha rumah makan Jepang, Minori Bento Restaurant. Pemilihan tempat pun sudah diperhitungkannya matang- matang.

Usaha tersebar di kampus- kampus dan sekolah. "Puji Tuhan, dari dua usaha ini selalu ada profit, meskipun awalnya selalu gagal," ucapnya.

Tantang menjadi tak begitu beban baginya. Seolah semua sudah ada dibelakang hidupnya. Dia malahan bersyukur pernah merasa "dibully" teman. Kedua usahanya tersebut dijualnya. Semua karena ia ingin fokus mempertajam penjualan dan marketing. 
 
Nah, berkat pengalaman panjang itulah, ia bisa dipilih menjadi sosok presiden direktur perusahaan asing tahun 2010. Dia sukses meningkatkan penjualan perusahaan. Sayangnya cuma memuaskan hasratnya selama dua tahun. 
 
Ia memutuskan keluar dan maunya menjadi pengusaha kembali. Meski cuma jadi karyawan ketika itu. Dia membuktikan bisa jadi bukan karyawan biasa. Berkat pengalaman panjang di entrepreneurship membuatnya mudah masuk perusahaan besar. 
 
Perusahaan besar asal Malaysia itu menjadikan suatu catatan menarik dalam biografi Reiner Bonifasius Rahardja.

Mendirikan Perusahaan


Bekerja menjadi direktur lagi- lagi memakan waktunya. Memang menjadi pengusaha bisa lebih fleksiberl soal waktu. Sukse meningkatkan penjualan, dia dihadapkan kepada keluarga yang merasa dirinya semakin jauh dari mereka. 
 
Sibuk terus, sibuk terus, itulah hari- hari seorang Renier ketika menjabat menjadi karyawan bertitle presiden direktur.

"Orang sibuk membuang kesehatan demi mencari uang, tapi nantinya mereka sibuk membuang uang demi mengembalikan kesehatan. Menginspirasi orang bukan dengan sakit-sakitan dan tidak punya waktu untuk keluarga!" tegasnya, mengenang ketika sang ayah lagi- lagi mengingatkan.

Pemuda yang terlah merasakan serunya berkeliling 130 kota di 32 negara ini, memutuskan keluar saja dari perusahaan asing, seperti kisahkan diatas. Keingan mapan di umur 25 tahun sudah tercapai. Ia juga sudah bisa membahagiakan mereka secara materi. 
 
Tapi bukan soal waktu luang yang tak bisa dipenuhinya. Inilah mengapa dirinya memilih membuka usaha sendiri lagi.  Dari nol, Renier memilih membangun perusahaanya sendiri, yakni Reitech Solusindo tahun 2011. Usahanya begerak dibidang ekspor- impor. 
 
Total sudah menghasilkan seperempat triliun semenjak usahanya baru saja dibuka. Kunci suksesnya adalah fokus, jikalau gagal, ya harus berusaha kembali. Apa mimpi selanjutnya adalah agar bisa menginspirasi anak muda. Ia berharap bisa membuka sekolah non- formal bagi wirausahawan muda.

Lahirlah sebuah organisasi non- profit ONE (Opportunity Never Ending). Ia bersama timnya bekerja sama agar mencetak pengusaha baru. Apalagi Indonesia sendiri barulah punya pengusaha kurang dari dua persen. Padahal idealnya negara berkembang harunsya punya tujuh persen. 
 
"Maka, kami mencoba hadir membantu melahirkan generasi muda yang ingin menjadi pengusaha sukses," tekad pria ini. Bicara soal modal ternyata ia punya prinsip sendiri.

Bisnis tak selamanya butuh modal besar. Semua bisnis katanya selalu dari nol berapapun modalnya. Karena itu akan berjalan sejalannya waktu. Semua usaha bisa dimulai dari modal kecil, dan semuanya sama- sama menemui kegagalan, dimana 50 persen -nya sama- sama gagalnya. 
 
Yang membedakan ialah apakah kamu bisa merubah pola pikir sukses mu. Jangan hanya mau jadi pengusaha saja. Akan tetapi jadilah pengusaha yang sukses usahanya.

"Sukses itu sama dengan persiapan ditambah kesempatan," tegas Reiner

Riener kemudian mengingatkan. Jangalah berangan jadi motivator tapi jadilah inspirator. Buatalah kisah mu sendiri dulu. Menurutnya motivasi cuma kata- kata membuat orang mau melakukan sesuatu. Sementara itu inspirasi berasal dari pengalaman nyata. 
 
Kiprahnya di dunia entrepreneurship memang gaunya tak lah setenar sosok Merry Riana, tapi menurut penulis, kisahnya lebih inspiratif karena menggambarkan sendiri siapa saja bisa jadi pengusaha.
 
Sukses berbisnis dan berorganisasi, impianya kini bagaimana menciptakan wirausahawan dibawah 40 tahun. Sebuah gerakan sosial dimana akan mengajak 1.000 orang wirausahawan. Ini akan disatukan jadi satu dibawah Entrepreneurs Convention Under 40. 
 
Acara yang mampu mengangkat semangat wirausaha agar bisa mempercepat lahirnya pengusaha baru. Riener kemudian memberikan pesan kembali. Yakni jangan sibuk saja ber- doa saja tapi lakukan lah sesuatu.

Biografi Abdul Latief Pendiri HIPMI Pengusaha

Biografi Pengusaha Abdul Latief


abdul latief

Biografi Abdul Latief, ayah dari pengusaha Dipo Latief dan pendiri HIPMI, kelahiran 27 April 1940, Kampung Baru, Banda Aceh. Sosok anak ke enam dari sembilan bersaudara, yang hidup di jaman perjuangan masih penjajahan.

Abdul kecil telah melihat ayahnya berdagang lama. Dua puluh tahun merantau, ayahnya pergi dari tanah Minang, lalu menetap di Aceh sambil berdagang. Umur empat tahun, Abdul Latief ditinggal oleh sang ayah, padahan suasana tengah memanas secara keamanan dan politik.

Hari- hari merupakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Masyarakat Aceh tengah berjuang sementara dia masih kecil. Ibunya merawat anak- anaknya sendirian dengan keadaan seadanya. Dari jaman penuh pergolakan secara sosial- politik, membawa sosok Abdul kecil bercita- cita jadi politisi.

Masa Muda Bergelora


Namun ibunya sudah mengarahkan Abdul Latif menjadi pengusaha. Ingin menjadikannya pedagang besar tingkat nasional. Ibunya kemudian mewujudkan mimpinya melalui merantau. Dia telah menjadi pejuang hebat, membawa semua anaknya ke Jakarta, demi mendapatkan hidup lebih baik di 1950.

Kehidupan remaja Abdul dekat dengan kehidupan remaja Betawi. Tidak banyak dikisahkan tetapi dia mampu sekolah menengah. Dia melanjutkan pendidikan di APP kemudian masuk Sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, Jakarta.

Tahun 1945 dan 1966, suasana politik kacau balau, demonstran bergerak memenuhi jalan raya sampai bakar- bakar. Tampak sosok Abdul Latief nampak membagikan makanan ke para pendemo. Dalam suasana kacau tersebut ia malah mendapatkan pekerjaan.

Dia belajar mengenai manajemen toserba dan supermarket di Seibu Group, Tokyo. Sepulangnya dari Jepang, Abdul menikahi Nursiah, gadis tetangga yang di Jakarta pada tahun 1967.

Abdul lulusan Akademi Pemimpin Perusahaan (APP), Jakarta. Pada 1963, dia meraih cumlaud dan mendapatkan tawaran kerja di Stanvac di Sungai Gerong. Perusahaan perminyakan asing yang telah menjanjikan gaji menarik dan karir menjanjikan.

Akan tetapi, gurunya di APP menyarankan lain, disuruhnya dia bekerja di Pasar Sarinah. Perusahaan pasar swalayan milik pemerintah tersebut dianggap lebih menjanjikan. Mungkin bagi pandangan kita yang sekarang tentu terbalik.

Tetapi Abdul setuju mengembangkan toko serba ada terbesar pertama yang ada di Indonesia. Anjuran sang guru belum nampak hingga perjalanan panjang. Abdul bertugas melakukan perencanaan. Dari sini, dia malah diajak belajar bahkan sampai keliling luar negeri, diminta pelajari iklim usaha negara- negara lain.

Dia berangkat ke Singapura, Jepang, Eropa, dan hingga Amerika. Berjalannya waktu dia mempelajari banyak hal mengenai perdagangan. Kemudian berselang beberapa waktu, Abdul Latief diangkan menjadi Pimpinan Promosi Penjualan dan Pengembangan PT. Department Store Indonesia Sarinah.

Banyak dia menimba pengalaman dan pengetahuan. Berkat bekerja di Sarinah, dia menjalin relasi bisnis kuat diantara pemain dalam negeri maupun luar negeri, dalam delapan tahun semua pekerjaan telah dilalui. Dia mampu menyelesaikan tantangan demi tantangan masa depan.

Abdul mampu membawa Sarinah menghadapi persaingan masa depan. Dalam biografi Abdul Latief, mendapatkan perhatian pimpinan Sarinah, itu berkat kemampuan mengaplikasikan konsep Jepang ke dalam negeri. Inilah cikal dirinya disekolahkan sampai ke Jepang demi mempelajari pasar swalayan.

Pulang dari Jepang seperti dikisahkan di atas, menikah dan sudah memiliki karir mapan, membawa pulang uang dan mobil. Relasi bisnisnya begitu luas terbesar diluar dan dalam negeri. Inilah cikal- bakal dirinya mapan mendirikan perusahaan sendiri.

Di tahun 1971, pengusaha konglomerat properti ini memulai usaha kecil- kecilan di bidang ekspor- impor.  Uang hasil keuntungan digunakan mebeli tanah luas temannya. Kebetulan dia tengah butuh uang. Di tahun yang sama, ia mulai menjaminkan tanah- tanah untuk mendapatkan kredit bank.

Total dia mendapatkan uang Rp.30 juta diperoleh dari BDN. Uang kemudian diputar buat menambah modal maka jadilah PT. Latief Marda Corporation, yang bergerak di bidang ekspor- impor. Dia tidak sendiri tetapi dibantu adiknya, Abdul Muthalib, bersama mengembangkan usaha ini.

Pengusaha satu ini getol membeli tanah sebagai investasi jangka panjang. Keberhasilan pertamanya ialah ketika menjual tanah sangat mahal di jalan Jakarta By Pass. Uang sangat banyak itu digunakan demi membangun PT. Indonesia Product Centre Sarinah Jaya.

Ya, nama tersebut memang didedikasikan buat tempat awal bekerja, perusahaanya itu juga di bidang sama yakni pasar swalayan. Nama tersebut begitu historis sampai kebawa sampai sukses sekarang. Ia mondar- mandir Jakarta dan Singapura.

Dari bisnis eskpor- impor kemudian mengembangan properti mandiri. Ia bukan lagi juragan tanah tapi mengembangkan bangunan. Proses bisnis panjang menghasilkan pundi- pundi rupiah. Abdul memilih menginvestasikan kembali melalui Pasaraya di Blok M.

Pasaraya Blok M menjadi salah satu gedung mentereng di tahun 1981. Ini mengukuhkan dirinya menjadi pengusaha, pedagang, yang patut diperhitungkan. Berkembang dia mampu mendapatkan julukan konglomerat -istilah yang tidak disukainya- , namun itulah dia mampu tumbuh menggeluti usaha dagang.

Pilihan Tepat


Tiap kesuksesan merupakan buah pilihan dahulu kita geluti. Abdul tidak salah ketika menerima kerja di perusahaan milik negara. Alhasil dia menjadi sosok kesayangan pemerintah ketika masa tersebut. Ia dihormati pemerintah karena meningkatkan ekonomi masyarakat Indonesia.

Sang pengusaha mampu menggairahkan usaha ritel ketika masa awal. Ia mampu memberikan banyak pekerjaan bagi anak muda. Keaktifan di HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), membuat Abdul Latief mendorong lebih banyak anak muda, ini menjadi salah satu penyaluran kesukaannya akan organisasi.

Dia nampak segar dan sehat ketika menjadi pengusaha sukses. Pakaiannya trendi, gemar olah raga, dan selalu bersemangat menarik perhatian. Ia memiliki idealisme tersendiri mengenai membangun bangsa. Kesukaan akan berogranisasi disalurkan melalui organisasi himpunan para pengusaha ini.

Penampilan bugar dan nampak lebih muda daripada umur sebenarnya. Dia mampu menarik perhatian menjalin jaringan baru. Dikenal pula ia lihai bernegosisasi hingga mendapatkan mitra bisnis strategis. Dengan sifat profesional dan dedikasi membuatnya dipercaya oleh banyak orang.

Bahkan, rekan bisnis luar negeri sangat mengingat dirinya, walau jalinan kerja sama telah berhenti atau belum terealisasi. Orang mudah mengenal dia sebagai sosok pengusaha kawakan. Dirinya bisa dibilang menjadi penarik, sehingga organisasi HIPMI sangat digandrungi anak muda, untuk menjadi pengusaha muda.

Banyak diantara mereka anak pejabat dan pejabat. HIPMI dikenal menjadi wadahnya para prefesional dibidang kewirausahaan. Ia selalu terlibat menjadi pembicara atau diskusi tentang generasi muda. Dia dianggap memiliki pandangan luas, gesit bergerak, dan memiliki pemikiran jauh ke depan.

Alkisah dia berkisah kepada peserta acara diskusi, bahwa pernah barang kelontong di pasar swalayan miliknya seret. Tidak laku- laku sampai terjual begitu lama. Banyak pengunjung tetapi jualannya malah tidak tumbuh. Dia kemudian menceritakan strategi apa yang akan kamu mungkin ambil.

Pertama Abdul mengamati langsung dan mempelajari data angka datang. Ia berkesimpulan bahwa daya beli masyarakat rendah. Bahwa dibutuhkan gerakan meniakan pendapatan masyarakat. Inilah cikal lahirnya HIPMI, dimana dia menjadi pendirinya pada 1979, demi bisa menaikan ekonomi masyarakat.

Dia menggalang para pengusaha baru terlahir. Abdul Latief menjadi ketua umum pertama organisasi anak muda tersebut. Para anggota HIPMI didorong membangun usaha, demi menarik produksi dan pendapatan masyarakat. Abdul pun membantu mereka untuk menjual barangnya di pasar swalayan miliknya.

Ia juga mendorong ekspor alih- alih bertahan. Tidak perlu bergantung kepada daya beli masyarakat. Ekspor meningkat berarti membantu pemerintah mengelola ekonomi. Hasilnya daya beli masyarakat ikut naik melalui aneka kebijakan stimulus.

Pengusaha konglomerat ini melihat bahwa usaha kecil merupakan landasan. Mereka menopang daya beli masyarakat bawah. Ketika pengusaha lain berbondong melirik industri berat. Abdul Latief fokus meningkatakan ekonomi kerakyatan.

Ia dipercaya menjadi Ketua Kompertemen Perdagangan dan Koperasi KADIN masa 1979- 1982. Dia menjadi sosok yang menyadari kesenjangan diantara pengusaha. Semenjak ia menduduki puncak kepimpinan Pasar Sarinah memang sudah nampak berbeda.

Dia telah terlihat menjadi sosok yang peduli akan ekonomi masyarakat. Mampu membangkitkan pendapatan pasar swalayan berkat kerja sama. Abdul memilih merangkul usaha kecil- menengah dalam naungan usaha miliknya.

Ia empat dianugrahi gelar "Pahlawan pengusaha kerajinan rakyat Indonesia". Namanya juga dilirik Ir. Ganjar Kartasasmita, Menteri Muda urusan peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Abdul digayang menaikan produksi dalam negeri, sekaligus membumikan produk tersebut ke khalayak ramai.

Pada akhir tahun 1984, Pasar Sarinah Jaya kepunyaanya di Blok M terbakar. Inilah cobaan pertama bagi Abdul sebagai pengusaha berpengalaman. Kerugian dialaminya mencapai ratusan miliar rupiah, kehilangan puluhan ribu pengunjung, dimana gedung hangus harus diperbaiki total segera.

Pasar swalayan berhenti total menyisakan 2000 usaha kecil suplier tanpa arah. Dia juga berhadapan dengan pilihan bagi kurang lebih 1.200 karyawan. Alih- alih dia memberhentikan mereka semua, malah disuruh belajar kembali dari manajemen, bahasa Inggris, dan accounting.

Ia bahkan merogoh kocek mendatangkan pelatih dari Singapura dan Hong Kong. Disisi lain pilihan buat bertahan menyisakan harapan. Bahwa pihak asuransi mau menanggung sebagian kerugian dari kebakaran.

Bantuan datang dari rekan, teman- temannya, juga dari pemerintah dan pihak swasta dikenal. Ini menjadi titik terang bagi Abdul membangun kembali. Kerugian puluhan miliar bertahap menghilang dari pikirannya. Dia menyusun kembali jalan- jalan bisnis yang sudah sempat terputus.

Bisnis Ritel Indonesia


Disana, di atas bekas gedung tersebut terbakar, berdirilah megahnya Pasaraya Sarinah lebih daripada dahulu. Bangunan sembilan lantai seluas 42.000 meter. Pengunjung pasar ini sampai 100.000 orang perharinya. Total 40% dari pengunjung merupakan pembeli rutin datang berbelanja.

Pertahun penjualan naik menambah modal Abdul berekspansi. Berdirilah Alatief Corporation dengan banyak rekanan perusahaan kecil. Mereka dibimbing dan diajak kerja sama dalam naungan. Dan tidak hanya ritel, usahanya juga merambah properti dan bisnis- bisnis lain.

Gedung Sarinah Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, telah menjadi tempat ikonik dengan banyak toko berderet. Dari pagi sampai malam, dalam gedung bertingkat sembilan tersebut, ada segala macam pakaian trendi, barang elektronik, dan macam- macam kerajinan.

Gedung bernilai Rp.200 miliar tersebut menaungi usaha- usaha kecil. Dia pun menyayangkan berdiri banyak toko modern tanpa sensitifitas. Mereka lebih senang menjual produk- produk ekspor. Para pengusaha bermodal besar bahkan membawa pasarswalayan asing seperti SOGO, asal Jepang.

Dia sempat memprotes karena otomatis mematikan usaha lokal. Mereka memangsa pasar tradisional dan mematikan bisnis eceran. Bayangkan SOGO, saat itu, bukannya memajukan produk dalam negeri malah membawa 805 produk impor.

Pasaraya Sarinah sendiri merupakan konsep berbisnis tanpa meninggalkan. Abdul mendirikan tempat ini diatas lahan luas Blok M. Dimana namanya belum seramai sekarang, hingga Pasaraya Sarinah menggaet lebih banyak, lambat laun terisilah kapling- kapling sekitaran Sarinah Blok M sendiri.

Memang bila memasukan barang ke pasarswalayan modern menjanjikan. Namun apakah sanggup, belum lagi pemilik gedung memiliki modal besar, mereka lebih memilih mematikan usaha kecil di sekitaran mereka. Mereka tidak mempedulikan produk apa, siapa, dipajang tetapi berapa banyak akan terjual.

Pasaraya Sarinah lebih memilih mendorong usaha kecil berkembang. Mulai dari model baju, yang mana dikembangkan desainnya, bahkan seperti model di negara- negara mode seperti Prancis. Ini tidak sulit karena dia memiliki kesenangan akan mode pakaian.

Bila supermarket lain mementingkan produk terstandarisasi bahkan impor. Maka Pasaraya Sarinah mengedepankan produk kreatif. Dibutuhkan staretegi khusus biar pembeli tidak merasa bosan. Abdul menginstrusikan melakukan aneka inovasi.

Biasanya toko- toko nampak monoton direnovasi nampak lebih menarik. Imajinasi digunakan buat mendesain ruangan toko lebih menarik. Pedagang juga harus kreatif menyusuk barang- barang. Dia menekankan budaya dalam penjualan dan pembuatan produk juga.

Selain berbisnis pasar swalayan, Abdul Latief merambah budidaya benur di Bulikumba, Sulawesi Utara. Usaha ini menghasilkan benur 100 juta pertahun. Ia lalu membuka tambak udang dengan luas 120 hektar menghasilkan 4 ton perhektar.

Usaha agro yang mampu panen dua sampai tiga kali dalam setahun. Abdul Latief juga mengelola usaha asuransi, perkebunan, penerbitan buku, jasa periklanan, dan lain- lain. Spesifik ia tertarik buat membangun bisnis pendidikan untuk membangun manusia.

Ia pernah tercatat menjadi Direktur Akedemi Pimpinan Perusahaan Department Perindustrian. Juga kemudian mendirikan Politeknik, yang mana dibawah Yayasan Abdul Latief dan diketuai dirinya sendiri. Abdul Latief sang pendiri HIPMI selalu nampak bugar walaupun telah setengah abad.

Dia masih sering disebut sebagai pengusaha muda. Penampilannya masih menarik, modis, dan trendi mengikuti perkembangan jaman. Demi kesehatan dia melakukan general cek up dua kali setahun, main golf, joging, senam, dan olah raga pagi.

Bisnis Daur Ulang Indra Novint Pengusaha

Profil Pengusaha Indra Novint Noviansyah


pengusaha indra novint

Bisnis daur ulang memang terdengar kurang populer di kalangan masyarakat. Namun, kenyataanya banya manfaat, dan bisnis semacam ini sudahlah menjadi bagian sejarah umat manusia sendiri. Kita, manusia, hanyalah pebisnis yang merubah benda yang sudah ada menjadi lebih baik lagi.

Pengusaha Indra Noviansyah telah berbisnis daur ulang cukup lama. Dia yang sebelumnya berkerja mengumpulkan sampah di Jakarta, melebarkan sayap di Pontianak. Bertempat di Jalan Teuku Umar, dekat Pontianak Mall, pabrik kecilnya telah berdiri diantara tumpukan sampah yang telah menggunung tinggi.

Pengusaha Daur Ulang

 
Ia tampak sibuk mengamati pekerja di pabriknya. Beberapa orang sibuk memilah sampah- sampah yang telah terkumpul. "Kebetulan anak buah saya banyak yang lagi cuti, jadi agak sepi," ucap sosok pengusaha muda yang akrab dipanggil Novint ini.
 
Tiap harinya, Novint mengaku mampu menghasilkan berton- ton sampah. Itu semua sudah siap kirim ke berbagai negara, utamanya China. Dia, lajang 24 tahun sudah dua tahun ini merambah bisnis daur ulang sampah plastik.

Dia fokus pada produk plastik baik sampah botol air mineral, tutup botol air minum, sampai gelas mineral. Novint memulai di Jakarta bersama beberapa orang dalam satu konsorium bisnis. Mereka memulai di Jakarta dimana memang asalnya.

Di Jakarta terdapat kemudahan akses, dan dekat dengan pusat bisnis di Indonesia. Taukah kamu alat pengolahan sampah ini sangatlah berat dan besar. Sukses di Kota Jakarta, Novint ingin merambah Pontianak, mengirimkan alat ke Pontianak melalui kapal laut.

Di Pontianak, kini, ia telah memiliki alat pengolah sampah bernama plastic crusher, alat yang mampu menggiling sampah plastik dalam jumlah lebih besar. Alatnya terbuat dari besi baja yang didatangkan menggunakan kapal laut dari Jakarta.

Alat tersebut belum diproduksi di Pontianak karena kerumitannya. Alat tersebut memanglah sangat berat, jadi jangan salahkan, kalau satu mesinnya bisa berharga ratusan juta.  Alat ini digunakan untuk melumat sampah yang sebelumnya telah dipilah.

Para pekerja akan bertugas untuk memilah berdasarkan warna serta jenisnya. Setelah dipilah lalu dibersihkan guna menghilangkan kotoran yang mungkin mengganggu. Kemudian, si mesin plastic crusher yang akan berkerja mengolah sampah plastik tersebut.

Nantinya sampah yang telah diolah kecil- kecil akan dikirim ke Jakarta melalui peti kemas. Novint lantas menjelaskan pebrikanya harus menghasilkan setidaknya 10 ton baru dikirim ke Jakarta.

"Minimal 10 ton supaya tidak rugi. Kalau bawah itu rugi shipping- nya," tambahnya, kemudian sampah- sampah olahan tersebut dikirim ke China.

Jadi permasalah lain karena faktanya Pontianak tidak punya pelabuhan international sendiri. Jadi ia haruslah bersusah payah mengirim ke Jakarta dahulu. Ini menjadi tambahan modal tersendiri yaitu biaya bensin dan waktu.

Di Jakarta, barang- barang tersebut akan disatukan barang- barang lain. Setelah dikurangi oleh biaya pembelian, penyortiran, penggilingan, dan biaya pengiriman. Tiap 10 ton sampah mampu memeberi penghasilan hingga ratusan juta rupiah.

Barang yang terlihat tidak berguna tersebut ternyata harganya jadi lebih tinggi Novint berujar bahwa sampah di Pontianak kurang banyak dibandingkan yang ada di Jakarta.

"Kalau disini paling banyak sehari saya bisa mengumpulkan satu ton sampah," katanya.

Peluang Bisnis


Bisnis daur ulang punya banyak potenis. Di Pontianak terlalu banyak mafia sampah, dimana mereka membeli di pemulung dibawah harga kemudian dijual lebih tinggi. Agar pabriknya bisa mendapatkan sampah bagus, maka ia mengambil inisiatif membuat bank sampah.

Ini akan menghemat waktu tanpa melalui perantara pemulung, tetapi langsung ke si pemilik sampah. Ia akan menyiapkan tong sampah khsusus di kampung- kampung, lalu membeli secara langsung ke warga sendiri. Tanpa perantara ini akan membuat lebih mudah dibanding menggunakan perantara.

Manfaatnya makin berasa ke masyarakat langsung Cara lain yakni merangkul siswa- siswa sekolah, Novint akan menempatkan tong- tong sampah di sekolah- sekolah. Para siswa akan dikordinasi oleh OSIS guna mengumpulkan sampah plastik di tempatnya.

Setelah terkumpul, ia akan membelinya bukan gratis loh, dan uangnya akan digunakan keperluan siswa itu sendiri nanti. Usaha samapahnya ternyata mendapatkan perhatian dari pemerintahan Brunei Darussalam.

Saat mengikuti saty delegasi Asean- China Entrepreneur di Brunei Darussalam, dirinya sempat ikut mempresentasikan usaha sampahnya didepan delegasi se- Asean dan China.

"Semua delegasi presentasi banyak berbagai persoalan. Kami hanya persentasi soal sampah. Ternyata tanggapannya positif," katanya.

Pemerintah Brunei Darussalam bahkan sangat tertarik mengembangkan bisnis ini. Dia resmi diminta menjadi operator daur ulang di Brunei. "Kami bahkan sudah diberi tanah untuk mengelola sampah di sana. Pemerintah akan mendapatkan 60 persen keuntungan, dan dirinya mendapat 40 persen.

"Kami telah menyiapkan segala sesuatunya agar usaha kami berjalan di Brunei," sebut pria lulusan Fakultas Ekonomi di UNTAN ini. "Sudah ada agreement nya," imbuhnya bersemangat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba