Kulit Jagung Jadi Bunga Pengusaha Raup Puluhan Juta

Profil Pengusaha Nina Kartika 


kulit jagung jadi bunga
 
Bayangkan kulit jagung jadi bunga bernilai ekonomi. Pengusaha ini rauppuluhan juta. Siapa sangka kalau bungan tersebut dari kulit jagung. Teksturnya yang unik, hampir menyerupai apa bunga aslinya. Inilah kisah pengusaha Nina Karika dan ibunya. 
 
Kulit jagung yang tidak bermanfaat, yang sisa, dan menjadi limbah ternyata mampu menghasilkan omzet 30 juta. Bayangkan saja.
 

Bisnis Kulit Jagung


Bunga- bunga cantik buatannya sampai ke manca negara. Bersama ibunya bisnis tersebut diberinya nama Innovart Cornhusk Flower. Awalnya, tahun 1987, ibunya Nina berpikir banyak kulit jagung yang tersisih di pasar, butuh sentuhan.
 
"...daripada dibuang sebaiknya dimanfaatkan," tiru Nina.

Setelah bisnisnya berkembang, maka permintaan melonjak tajam alhasil mereka lumayan keteteran. Jika dulu cukup mengambil di pasar sekarang butuh suplier sendiri. Nina menambahkan apalagi pada jaman itu kertas mahal ditambah kain susah.

Awalnya mereka cuma menggunakan tangan. Lambat laun mereka akhirnya memilih menggunakan mesin juga. Permintaanya banyak sampai tembus pasar Eropa, Amerika, Jepang, Italia, Arab, Jeddah, Spanyol dan Amerika. Dimana bunga- bunga mereka dipajang di toko- toko souvenir mereka.

Tidak cuma toko, mereka masuk supermarket dan home decor. Hingga mereka diundang mengikuti aneka pameran- pameran di luar negeri sampai bisa ekspor terus.

Modal awalnya Rp.50 juta tahun 1987 silam. Bisnis kulit jagung tersebut mampu mengantungi omzet sampai Rp.50- 60 juta per- bulan. Dia juga mampu memproduksi sampai 10.000 tangkai perhari. Ia memulai dari menjual melalui booth kecil di Mall Taman Anggrek dan melalui online.

"Modal awalnya mungkin 50 ribuan ya, kalau omzet sekarang Rp.50- 60 juta," terangnya.

Walau ekspor tidak setiap bulan buktinya di pasar lokal menang. Dia menjelaskan bunga jagung yang mereka jual mampu bertahan sampai 20 tahun. Jujur mereka sedang mengalami kesukaran karena kelangkaan kulit jagung.

Asal tidak kena matahari atau air jaminan 20 tahun kuat. Harga jualnya bervariasi dari Rp.10 ribu hingga Rp.60 ribu per- tangkai. Kendala bertambah apalagi kalau musim hujan tiba, jelasnya kepada pewarta Detik.com

Usaha Bangkrut Kemudian Bangkit Bisnis Pentol

Profil Pengusaha Eko

 

pengusaha pentol lele
 

Eko punya usaha bangkrut kemudian bangkit. Dia mulai bisnis pentol dan ternyata menjanjikan. Dulu Eko pernah menjadi pengusaha roti. Bisa dibilang dia sudah menjadi boss roti. Pasalnya dia memiliki tidak kurang 48 orang pegawai produksi dan sales.

Eko sepuluh tahun berbisnis roti. Sampai dia mampu membelikan satu motor buat pegawai. Tujuannya biar mudah dipasarkan berkeliling kampung. Nyaman berjualan ternyata mengalami titik kemunduran kedepan. Jumlah return roti meningkat dibanding tahun- tahun sebelumnya.

 

Bangkit Bisnis Gagal

 

Tiba- tiba usaha rotinya merosot sampai tutup. Padahal dia tengah merasakan puncak kejayaan. Ini juga dipengaruhi jumlah pegawai ngebon atau hutang. Hingga, tanpa disadari modal tersedot, tercantol masuk ke hutang- hutang karyawan.

"Terus roti yang balik (return) lebih banyak dan menumpuk. Jika dibandingkan orang lain, juga enggak mungkin habis saking banyaknya (puluhan truk)," jelasnya.

Puncak kebangkrutan pada 2004 sampai ditutup total. Peralatan roti, mulai dari mesin oven, mixer, sampai puluhan motor dijual. Itu dilakukan buat membayar hutang bank. Namun, belum cukup, karena dia masih menyisakan hutang Rp.410 juta.

Dalam masa berikut Eko terbilang kuat tanpa frustasi. Malah bangkit, langsung merencanakan bisnis baru, Eko banting stir mencoba usaha lain. Pertama dia mulai melirik kolam lele belakang rumah. Dia membuat itu demi mengatasi kalau roti return.

Dia enggak buang roti ketika kembali tak laku. Eko langsung masukan ke kolam lele. Dijadikan makan hingga besar. Begitu bangkrut, rencananya mau dijual tetapi malah enggak cocok. Dia ingin jual buat modal usaha.

Eh harganya malah murah atau cuma ditawar Rp.8000 perkilogram. Eko pikir- pikir ulang. Mundur ia membiarkan lele di kolam, makin besar, namun harganya malah makin murah. Daripada dia jual murah mending diolah menjadi makanan.

Usaha bangkrut Eko merubah lele menjadi pentol. Itu terjadi di akhir 2004, enam bulan setelah usaha bangkrut total. Pentol hasil percobaanya jadi. Tidak serta- merta dijual. Malah Eko bagi- bagikan ke tetangga. Mereka kemudian menjadi taster menilai pentol buatannya.

Ternyata mereka bilang enak, dan gurih rasanya. Eko berhasil membuat pentol tidak amis. Pujian para tetangga membuatnya tergelitik membisniskan. Mulai dari September 2004, diputuskan sudah, Eko bangkit bisnis pentol dan sosis berbahan lele.

"Saat itu, saya kerjakan sendiri. Karena tidak punya modal, maka bungkusnya plastik es lilin itu, kami pecah jadi dua," ujar ayah dua anak yang dibantu istrinya.

Meskipun dia pernah punya 48 karyawan dan jualan roti banyak; ia tidak gengsi. Turun tangan sendiri Eko memakai motor keliling desa. Dibonceng pentol dan sosisnya dibelakang kemudian dipasarkan. Ia titipkan ke toko- toko.

Rasanya enak sampai dia ditelephon. Minta dikirimin rutin. Rasanya enak tidak kalah dari bakso yang berbahan sapi. Harganya malah lebih murah cuma Rp.40.000 perkilogram atau berisi 120 pentol. Kini dia menjual harganya Rp.52.000 kilogram.

Usaha tersebut sangat menjanjikan. Kini dia memiliki 8 pegawai produksi. Nanti, saban hari, mereka akan menyayat 2 kuintal lele, buat dipisahkan daging dan tulangnya. Lelenya, kini harus membeli karena kolamnya sudah tidak cukup memenuhi pesanan.

Eko mengajak peternak lele memasarkan ke sini. Harganya dia beli Rp.16.000 perkilogram. Dari dua kuintal lele itu, jika diolah pentol, sosis, siomay, dan naget, semuanya akan menghasilkan uang sampai Rp.4,5 juta Eko mengaku usahanya tidak kalah menguntungkan.

Pengusaha veteran tersebut merasakan tidak kesukaran. Pemasaran mengalir sampai menembus ke pasar Hong Kong. Eko mengaku lebih nyaman. Dibanding usaha roti, berjualan pentol lebih tahan lama, dimana roti cuma bertahan beberapa hari.

Cuma bertahan beberapa hari roti rawan return. Produk pentol, siomay, nuget, dan sosis dibuat kering hingga tahan lama. Bahan baku ikan lele mudah didapatkan. Harga bahan baku terjangkau tidak mudah naik turun. Usaha bangkrut kemudian bangkit bisnis pentol lebih untung.

Eko merasa lebih nyaman. Hasilnya tidak kalah, bahkan mampu menguliahkan sang anak ke Unibraw, Malang. Kamu bisa memilih meratapi kegagalan. Atau akan memulai bisnis lagi dan optimis meraih kesuksesan kembali.

Biografi Top Tao Kae Noi Rumput Laut Goreng

Biografi Aitthipat Kulopongvanich


biografi top tao kae noi
 
Biografi Top Tao Kae Noi rumput laut Thailand. Pengusaha muda bernama Aitthipat Kulapongvanich atau Top Ittipat (Top TaoKaeNoi), seorang miliarder muda asal Thailand. Hanyalah pemuda 16 tahun yang menjadi pecandu game online. 
 
Menghabiskan hari- harinya di tempat game online, dari hanya sekedar bermain untuk bersenang- senang hingga terobsesi mencari uang. Dia mendapatkan uang pertama dari mengikuti lomba. Top menghasilkan 400 ribu bath dari menjual berbagai perlengkapan karakter game online.

Bisnis Online Sukses


Awalnya, Top hanya remaja 16 tahun biasa, memiliki hobi biasa yaitu bermain game online. Kala itu game online sangat digandrungi oleh remaja Thailand. Dari sekedar hobi, game online berubah menjadi hidupnya kala itu, bahkan melebihi pendidikannya. 
 
Bahkan jumlah komputer di kamarnya lebih dari 3 unit, dan itu kesemuanya dipergunakan hanya untuk bermain game online. Namun ternyata hobi inilah yang pertama kali memperkenalkan hidupnya ke dunia bisnis.

Top mendapatkan uang dari sekedar menjual item atau senjata- senjata karaker miliknya di game online. Dari bisnis iseng tersebut, ia bahkan menghasilkan uang 1 juta baht bahkan sebuah mobil telah mampu dibelinya. Mobil seharga 600 baht (sekitar 600 juta rupiah). 
 
Namun bisnis tersebut tak bisa berlangsung lama, karena tindakan tersebut dianggap ilegal, rekening game online miliknya diblok. Kebijakan pemilik game online ini membuatnya kehilangan sumber pendapatan dari menjual item miliknya.

Dia juga pernah memenangkan perlombaan game, menghasilkan 400 baht sekali itu.

Dengan sisa uang yang ada, ia mencoba hal lain dalam mencari uang yaitu menjual barang elektronik, namun ini gagal. Top ditipu, semua barang elektronik yang ia jual ternyata barang palsu dan uangnya pun tidak dapat dikembalikan. 
 
Di saat yang sama, keluarganya bangkrut meninggalkan utang sebesar 40 juta Baht (sekitar 12 milyar rupiah). Rumah milik keluarganya pun disita oleh bank. Dan ketika game online tak lagi setenar dulu, Top tak bisa berharap banyak, namun obsesi akan uang telah berubah menjadi ambisi.

Di umur 17 tahun ia memutuskan untuk keluar saja dari sekolah, menyisakan uang hasil bisnis game onlinenya sebagai modal. Dia mendatangi pakan raya bisnis, menemukan sebuah franchise atau waralaba dari Jepang. 
 
 
Karena tak ada biaya untuk mengikuti franchise sebuah mesin chesnut (kacang), ia akhirnya memutuskan membuat waralaba sendiri. Dia tak sanggup membeli secara penuh, jadi ia memilih menyewa mesin itu, lalu membuat mesinnya sendiri.

Dia bersama pamannya mencari strategi berjualan yang baik agar bisnisnya dapat sukses. Ia juga melakukan beberapa eksperimen untuk mendapatkan resep terbaik untuk produk kacangnya agar memiliki rasa yang khas dan unik. 
 
Usahanya pun membuahkan hasil setelah itu, Top membuka kedai kacang di mal dan melakukan ekspansi bisnisnya besar-besaran. Dia menyebut bisnis Roasted Chestnut telah sukses mencapai puncaknya. Bisnisnya ada diberbagai mal seperti Tesco, Carrefour, dan lain- lain.

"Saya punya lebih dari 30 cabang yang membawa dalam penjualan 3 juta baht per bulan," jelasnya. Namun ternyata usahanya memiliki kendala, mesin pembuat kacang panggang yang digunakan Top menimbulkan asap dan mengotori atap mal. 
 
Pengelola mal Tesco, dimana lebih dari 25 cabang bisnisnya bertempat, meminta dirinya menghentikan mesin pemanggang itu.Pihak mal meminta Top menutup kedainya dan membatalkan kontrak kedai yang telah dibuat.
 
"Kamu bisa lemah, tetapi tidak pernah menyerah untuk menjaga permainan berlangsung," ucap Top dalam wawancara untuk Yahoo Singapura. Di titik ini Top hampir putus asa. Ditambah lagi, ia tidak berhasil masuk kuliah di universitas negeri dan harus masuk universitas swasta akibat kemalasannya di sekolah selama ini. 
 
Walaupun telah bangkrut dan terlilit banyak hutang, orangtua terus berusaha agar anaknya dapat kuliah. Dia menolak tawaran orangtuanya dengan mengatakan akan membiayai kuliahnya sendiri.

Akhirnya Top bisa kuliah dengan menggadaikan jimat ayahnya yang ia pernah curi. Dia tercatat sebagai mahasiwa di Univeristy of the Thai Chamber of Commerce. Dalam benak Top Ittipat kala itu hanyalah bagaimana cara berbisnis kembali disela- sela kuliahnya. 
 
Dia hanya berpikir jika saya menjual produk, saya akan mendapatkan uang dari sana selesai. Dia masih memiliki bisnis chestnut, meski sudah tak seramai dulu, bisnisnya sudah turun 50% semenjak pembatalan kontrak. Sisanya ia mulai berpikir ulang apa yang akan dia jual nanti.

Pemilik Tae Kae Noi

 
Untuk menutupi penjualan chestnut yang turun drastis, Top berjualan buah kering dan juga rumput laut. Dia terus memutar otak untuk mengembalikan kejayaan bisnisnya. Ia menemukan ide baru untuk menjual rumput laut goreng. Top memulai kembali bisnis ini dari bawah. 
 
Segala hal dilakukannya untuk mengembangkan konsep bisnisnya. Ia mencari sendiri rumput lautnya, lalu belajar bagaimana cara menggoreng rumput laut agar menghasilkan produk baik dan enak.

Ia juga mempelajari bagaimana caranya agar rumput laut gorengnya tidak cepat basi jika disimpan lama. Top mempelajari ini itu untuk mengembangkan bisnis rumput lautnya. Dia sendiri telah mengeluarkan biaya lebih dari 100 ribu Baht. Tidak hanya sampai disitu. 
 
Dia menemukan resep rahasia untuk rumput laut gorengnya. Ia kembali memutar otak tentang bagaimana memasarkan produk baru tersebut. Jalannya datang dari sebuah mini market bernama 7- Eleven.

Masalah lain datang ketika 7- Eleven mengembalikan produknya. Mereka meminta agar produknya lebih baik berdasarkan standar milik mereka. 7- Eleven meminta agar Top memperbaiki cara pengemasan serta memiliki pabrik untuk memenuhi permintaan pasar. 
 
Dia berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan 7-Eleven, namun ia terus menemui kebuntuan. Top begitu putus asa sampai-sampai ia sempat berpikir untuk berangkat ke China bersama orangtuanya.
 
Sebelum berangkat ke China, ia memutuskan melakukan usaha terkahir yaitu pinjaman bank untuk memenuhi permintaan 7- Eleven. Karena tidak ada modal, ia mengajukan pinjaman ke bank, namun ditolak karena tak cukup umur. Saat itu umurnya masih 19 tahun ketika mencoba membuat pabrik sendiri. 
 
Akhirnya Top dengan sangat terpaksa menjual mobil kesayangannya yang dulu dibelinya dari bisnis item atau senjata game online. Top membuat pabrik kecil untuk usaha rumput laut gorengnya di kantor kecil milik keluarganya yang tersisa. 
 
Usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia karena selalu melanjutkan apa yang pernah dikerjakannya. Dengan sekuat tenaga, akhirnya Top mampu memenuhi semua syarat dari 7-Eleven sehingga produknya dapat dijual di 7-Eleven Thailand. 
 
Dalam jangka waktu 2 tahun, sejak hari itu, Top Ittipat berhasil membayar semua hutang keluarganya dan berhasil mengambil kembali rumah keluarganya. Nama Tao Kae Noi sendiri berasal dari ayahnya, ketika kontrak bisnis itu ditanda tangani, ia mendengar ayahnya berkata 
 
"Anakku akan menjadi TaoKaeNoi." Di umur 26 tahun, produk rumput laut gorengnya yang dinamai “Tao Kae Noi” merupakan rumput laut goreng terlaris di Thailand, bahkan telah masuk juga ke berbagai negara lain termasuk Indonesia. 
 
Usaha Top ini memiliki penghasilan 800 juta Baht (sekitar 235 milyar Rupiah) per tahun, dan mempekerjakan sekitar 2000 karyawan. Ia menjelma menjadi salah satu miliarder termuda. Dia adalah CEO TaoKaeNoi Food & Marketing Co., LTD. Bisnisnya menyangkut produk rumput laut dan jajanan mudah dimakan. 
 
Dia menghabiskan waktu satu tahun untuk memperluas ke 30 cabang, dan ketika itu terkenal, ia mencoba untuk menjual lebih banyak jenis produk di toko-toko seperti buah persik kering, lengkeng kering dan rumput laut. Yang paling populer adalah rumput laut dari produk- produk lainnya.

Hari ini, Tao Kae Noi adalah merek rumput laut-makanan ringan terkemuka, dengan pangsa pasar sebesar 70 persen. Ia terus melanjutkan untuk menciptakan produk rumput laut goreng dalam kemasan, yang dengan cepat menjadi sukses di Thailand, dan diekspor ke Indonesia, Jepang, Taiwan, Singapura, dan Amerika Serikat. 
 
Ia merancang logo nya sendiri sebagai anak laki-laki dengan bendera. Memang produknya ini berkesan seperti produk Korea, tetapi bukan. Dia berhasil dengan Tao Kae Noi, dan menjadi Miliarder. Top akan berusia 27 tahun bulan Desember ini dan sudah menjadi miliarder. 
 
Produk Tao Kae Noi-nya tersedia di banyak negara serta melalui Amazon.com. "Apa yang menggelitik saya adalah sikapnya. Saya ingin tahu apa yang mendorong dia untuk menjadi sukses. Dia tak kenal takut dan tidak pernah menyerah," kata Songyos, produser film "the Billionaire". 
 
Kisah suksesnya difilmkan, menurutnya film tersebut telah 80% benar, sangat menginspirasi bagi pengusaha untuk sukses.

Miliarder Thailand 6 Pengusaha Keren Perlu Kamu Tau

Profil Pengusaha Thailand Terkaya

 
 
pengusaha miliarder thailand
Chaleo Yoovidhya
 
Thailand bukan cuma tujuan wisata yang menarik. Siapa sangka negara ini telah sukses menghasilkan pengusaha kelas dunia. Berikut profil miliarder Thailand pengusaha keren ini. Negara yanng memiliki penduduk lebih dari 67 juta dan $300 miliar kekuatan ekonomi. 
 
Meski para pengusahnya saat ini masih dikuasai oleh kalangan orang tua, tapi mereka membawa perubahan dan inspirasi. Sebut saja pengusaha muda asal Thailand, yaitu Top Tao Kae Noi yang sukses melalui jajanan rumput laut.

Mungkin dia terinspirasi dari salah satu tokoh list kami ini. Berikut lebih lengkapnya 6 miliarder keren asal Thailand dimana kesemuanya berumur 50 tahun ke atas. Mereka menemukan berbagai bisnis revolusioner, menghasilkan jutaan dollar dari bisnis mereka.

1. Chaleo Yoovidhya


Dia adalah salah satu pendiri minuman berenergi ternama dunia, Red Bull, yang dimana memiliki 49% saham. Di 2009 saja, perusahaan Red Bull menghasilkan $4,4 miliar dalam penjualan. Minuman berenergi yang isinya kaya kafein, super-manis dan campuran populer bagi para penghuni klub malam serta pekerja lelah di seluruh dunia. 
 
Chaleo, di usia 78, adalah salah satu warga terkaya Thailand, dengan kekayaan bersih bahwa "Forbes" baru-baru ini diperkirakan mencapai sekitar US $ 4,2 miliar. Red Bull memulai debutnya di tahun 1987, dan sekarang menikmati pasar yang luas hingga kesuluruh penjuru dunia. 
 
Mereka berbagi pasar dengan minuman berenergi lain. Posisinya sebagai minuman energi untuk para olah ragawan memberikan level tersendiri. Sukses Red Bull didukung berbagai kejuaraan dari motor trail hingga NASCAR. 
 
Sebagai tambahan menurut Newly Purnell, penulis dari CNN, menyebut bahwa minuman ini berbasis minuman ringan Krating Daeng, lihat persamaanya?

2. Charoen Sirivadhanabhkadi


Charoen sukses mendirikan ThaiBev atau Thai Beverage Plc, merupakan salah satu produsen minuman beralkohol terbesar Asia Tenggara. Perusahaan ini paling dikenal memproduksi bir Chang, yang kuat, minuman berhias gajah membasahi peluit orang Thailand dan sukses meluncurkan juta backpackers '"Chang-overs."

ThaiBev juga merupakan sponsor dari tim Liga Utama Inggris Everton Football Club, dan ikon Chang (gambar gajah) menghiasi kaos klub. ("Chang" adalah Thailand untuk gajah.) 
 
Perusahaan ini juga sukses memproduksi firewaters lokal Sang Som dan Mekhong rum (istilah "rum" digunakan secara longgar di sini), serta brews murah Archa dan German Beer -terinspirasi Federbrau.

Charoen diperkirakan bernilai lebih dari US $ 4 miliar - tidak buruk mengingat usianya telah 66 tahun dan hanyalah seorang putra dari vendor pancake kerang goreng.

3. William E Heinecke


William E Heinecke adalah nama dibalik produk- produk dunia seperti Burger King, Diary Queen, dan juga Swensen di Thailand. Memang dia bukanlah orang dibalik produk tersebut, namun melalui bisnisnya produk dunia ini melenggang bebas di Thailand. 
 
Pria 61 tahun ini adalah pendiri Minor Group, perusahaan grup yang memiliki ribuan restoran dan 27 hotel, tersebar di seluruh penjuru Asia Tenggara. Di dirikan pada 1967, Minor Group atau Minor International juga membuka berbagai restoran waralaba. 
 
Mereka juga memiliki restoran lain -selain Burger King, Diary Queen, dan Swensen, dibawah kendali Minor Group seperti Marriott, the Four Seasons, Pizza Company dan Sizzler. Thailand telah berbaik hati kepada Heinecke: ia diperkirakan memiliki kekayaan $ 425.000.000. 
 
Heinecke lahir di AS tapi keluarganya pindah ke Thailand saat ia masih remaja. Dia sekarang resmi menjadi warga negara Thailand. Purnell dari CNN menambahkan bahwa Heinecke adalah salah pengusaha tangguh, mengalahkan Pizza Hut pada permainan mereka sendiri. 
 
Dia kala itu membeli waralaba Pizza Hut di Thailand tahun 1980, tetapi memiliki perselisihan kontrak dengan perusahaan induk AS. Pizza Hut kemudian ditutup di Thailand, tapi Heinecke membangun sebuah perusahaan baru - Pizza Company - menggunakan lokasi toko tua Pizza Hut. 
 
Hasilnya: ia menangkap sekitar70 persen dari pasar pizza Thailand hanya dalam waktu enam bulan.

4. Kraisorn Chansiri


Kraisorn Chansiri, 76 tahun, adalah pendiri Thai Union, salah satu perusahaan terbesar untuk produksi tuna. Telah 25 tahun perusahaan yang didirikannya melayani kebutuhan ikan tuna atau seafood secara umum untuk dunia. 
 
Perusahaan ini produk terbesarnya memang ikan tuna beku dalam kemasan kaleng, bahkan mereka sukses mengalahkan produsen tuna beku asal Eropa. Kala itu Thai Union sukses membeli perusahaan tuna asal Eropa bernama MW Brands senilai $860 juta.

5. Vichai Raksriaksorn

/
Vichai jadi yang termuda dalam list ini. Pengusaha yang menjadi CEO sekaligus direktur utama King Power, perusahaan retailer travel dan memiliki banyak cabang di berbagai airport di Thailand. 
 
Outletnya ada yang di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, serta bandara di Chiang Mai dan Phuket; ada juga toko Bangkok pusat kota.

6. Tan Passakornnatee


Tan Passkornnatee, 51 tahun, adalah pendiri Oishi Group, pemilik restoran Jepang yang sangat populer. Dia memiliki Oishi sushi buffet, ada Oishi "expresses," ada ramen bar Oishi, ada teppanyaki Oishi, dan banyak lagi. Bahkan ada merek teh hijau Oishi. Dan Tan bahkan tidak Jepang.

Pria kelahiran Malaysia yang memulai dari menjadi buruh kasar di umur 17 tahun, sebelum memulai satu bisnis pertama - newstand - dan akhirnya pindah ke bisnis real estate. Dia kehilangan semuanya pada tahun 1997, kemudian membangaun kembali kekayaannya dimulai dengan studio pernikahan.

Beberapa tahun yang lalu Tan menjual merek Oishi ke Charoen Sirivadhanabhakdi, pemilik ThaiBev dan nomor dua di daftar CNN. Dia tinggal sebagai CEO sampai tahun lalu. Dia lalu memulai restoran dan minuman lain usaha melalui perusahaan barunya, Mai Tan. 
 
Meskipun kekayaan bersih Tan tidak diketahui, menurut Bangkok Post dia sekarang investasi 2,4 miliar baht (US $ 78 juta) di sebuah pabrik produksi minuman di Ayutthaya untuk menciptakan merek minuman fungsional sendiri.

Pulang Kampung Jadi Peternak Babi

Profil Pengusaha Babi Nie Ling Li


peternak babi
 
Bila kebanyakan oraang memilih mengadu nabis ke perkotaan. Nie Ling Li memutuskan pulang kampung jadi peternak babi. Ia sempat mencari nafkahh ke kota tetapi tidak mudah. Bukan menyerah dia merasa menemukan prospek di bisnis babi.

Taukah kamu bahwa kebutuhan akan daging babi sangat tinggi di China. Bukan tanpa cobaan buat memulai beternak babi. Ia pernah ditawari bekerja menjadi pegawai negeri oleh saudara. Jujur dia itu tidak tau menahu mengenai berternak.
 

Menjadi Peternak Babi

 
Dia merupakan generasi milenial China yang tengah maju. Li harus mempelajarai mengenai hewan babi. Dari awal  Li sangat buta mengenai cara beternak. Dia belakar otodidak tetapi kemudian semua hewannya mati.

Ling Li tidak menyerah mencari segala sumber referensi. "Babi biasanya terlihat sangat malas, tetapi bisa sangat agresif," ia tuturkan. Li membiasakan diri berlari kesana- kemari mengejar babi. Menurut dia ketika sedang aktif mereka bisa sangat cepat, lebih cepat dari orang berlari trademill.

Bekerja keras memenuhi kebutuhan perkotaan membuatnya kaya. Bayangkan Li menghasilkan tidak kurang Rp.2 miliar pertahun. Tidak sedikit para anak muda memilih mengundurkan diri. Tren para pekerja kantoran, seperti Xiang Xhu Mei, yang ikutan menjajal prospek jadi peternak babi.

Mei bahkan sempat menjabat manajer perusahaan elektronik. Dia ditari keluarga untuk beternak babi dan berhasil. Bahkan pemerintah daerah memberikan penghargaan atas kerja kerasnya. Ini membuka mata bahwa pulang kampung juga bisa meraih kesuksesan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba