Usaha Sate Laka Laka Tegal Mantan Wartawan

Profil Pengusaha Sunarto


mantawartawan.png
   
Usaha sate Laka- Laka Tegal langganan Istana itu, ternyata milik mantan wartawan yang berbalik arah menjadi pengusaha. Memilih pensiun dini sebagai wartawan, Sunarto banting setir menekuni bisnis kuliner dengan mendirikan warung sate tegal sejak tahun 2003. 
 
Padahal karier lulusan Universitas Diponegoro, Semarang ini sebenarnya tengah di moncer-moncernya di surat kabar nasional di Ibu Kota.

Usaha Sate Tegal

 
“Saya tertarik bisnis kuliner antara lain didorong saat sering liputan dan menangani rubrik tentang kuliner,” ujar pengusaha Narto, panggilan rekan- rekannya saat masih di media. Saat memulai, dia mengaku dapat pinjaman modal dari saudaranya.

Namun, jalan yang dilalui ayah dari Raidha ini cukup terjal dan berliku. Saat mulai membuka warung dia langsung dihadang masalah. tanah yang dia beli untuk mendirikan warung di daerah Cibinong ternyata jalur hijau. 
 
Sehingga baru sekitar enam bulan bangunan permanen dua tingkat didirikan dan warung dibuka terkena penggusuran.

Dia, istri dan anak semata wayang menyaksikan langsung penggusuran bangunan yang menghabiskan puluhan juta saat dibangun itu. Dia mengaku salah dan tertipu saat membeli tanah. Namun Narto justru mendapat jalan di tengah penggusuran itu. 00
000
“Habis penggusuran saya malah ditawari petugas Trantib untuk mendirikan tenda di depan Kantor Pemkab Bogor di Cibinong,” ujar Narto.

Tawaran itu langsung ditangkap. Dia mendirikan warung tenda dengan menu bebek goreng yang dinamakan “Bego”. Selain tentu saja menu sate kambing. Perlahan tapi pasti warungnya banyak pembelinya. 
 
Hanya berselang dua bulan dia membuka satu cabang masih tak jauh dari lokasi yang pertama. Tak lama kemudian satu warung tenda dibuka lagi. Sehingga dalam waktu setahun setelah tergusur dia bisa mendirikan tiga warung tenda.

Merasa terlanjur “basah” di bisnis kuliner, Narto mengaku semakin menekuni kegiatannya itu. Apalagi ada 20 karyawan yang bekerja pada dia. Untuk itu tak jarang, sehabis menutup warung tenda ditengah malam, dia lanjutkan belanja sayuran ke pasar hingga subuh. 
 
Usaha- usaha pengembangan tak henti dilakukan. “Terpenting adalah mencari lokasi yang tepat,” ujarnya. Setelah berkali-kali tak berhasil, akhirnya dia mendapatkan lahan sewa di pinggir jalan baru Bogor-Parung. 
 
Di tempat yang kini semakin ramai setelah dibukanya jalan tol luar Bogor itu Narto menyewa lahan seluas 200 meter persegi selama 10 tahun untuk dirikan warung sate “Laka-laka” tahun 2010. Berarti dia butuh waktu tujuh tahun untuk bisa bangkit mendirikan warung lagi.

Pilihan Narto tidak salah. Warung yang didirikan di atas lahan sewa itu banyak dikunjungi pembeli. Menunya pun bervariasi. Selain menu utama sate kambing, dia juga menjual bebek goreng, ayam goreng, sop sapi, sate ayam, sop kambing. Selain berbagai minuman. 
 
Ia pun mengajak keluarga pemilik lahan itu untuk menjual es kelapa muda. Dia menyebut rata-rata untuk kambing dia bisa menghabiskan lima ekor.

Bulan Juni 2012, dia kembali membuka cabang sate “Laka-laka” di Kota Bogor. Di kawasan kuliner itu, dia mengaku menginvestasikan dananya sampai Rp 750 juta untuk sewa lahan dan mendirikan restoran. Kini dia lebih fokus mengelola dua restonya. 
 
Tiga warung tenda sudah ditutup. “Anak-anak (karyawan-red) pada ogah disuruh kerja di warung tenda mas. Jadi saat saya gilir ke sini pada tidak mau lagi ke warung tenda,” ujarnya.

Sekarang Narto semakin menata pengelolaan usahanya. Dari sekitar 40 karyawan yang bergabung di bagi dalam dua bagian yaitu bagian produksi dan bagian pelayanan. Sedang untuk yang bertugas pada kasir, dalam sehari tiga kali melaporkan ke dia.

Pengusaha Madu Amfoang Mantan Kontraktor

Profil Pengusaha Roby Manoh 


pengusahamadu.png
 
Pengusaha madu Amfoang bermula mantan kontraktor. Siapa sangka potensi sumber daya alam kita begitu kaya. Pria ini sukses melihat hal tersebut di Kota Kupang khususnya, dan juga Nusa Tenggara Timur umumnya. 
 
Poteni tersebut ialah madu hutan menyehatkan. Yang terkenal akan khasiatnya khusus untuk menjaga kesehatan dan kecantikan.

Pengusaha Madu

 
Sayangnya, produksi madu hutan ini jumlahnya masih terbatas, belum bisa memenuhi kebutuhan pasar.

"Saat itu nama madu Amfoang sedang meledak. Saya pikir mengapa saya tidak kembangkan anugrah Tuhan ini," tuturnya.

Roby Manoh melihat potensi besar sumber daya alam untuk Indonesia Timur. Sumber daya yang menurutnya terabaikan selama ini. Mereka para wisatawan disuguhkan madu tetapi dengan konsep tak profesional. 
 
Hati kecilnya terpanggil untuk merubahnya. Bayangkan madu- madu itu hanya dikemas dengan botol bekas air kemasan. Padahal wisatawan itu jauh- jauh ke NTT untuk menikmati dasyatnya madu hutan ini

Ia tercatat pernah menjadi karyawan  sebuah perusahaan kontraktor di Kupang dari 1990- 2002. Sampai persaingan antar kontraktor semakin ketat, yang membawanya memilih menjadi pengusaha. 
 
Sebagai awalan, Roby langsung pergi magang di pengelolaan madu Balai Besar Industri Nasional di Bogor, Jawa Barat. Hingga tahun 2002, sekembali dari Bogor, ia aktif mengunjungi sumber- sumber potensi madu hutan yang ada.

Sejumlah kawasan di Amfoang dan daratan Timor Barat dikunjunginya. Tahun 2003, Roby mulai membentuk kelompok pengumpul madu. Pertama kalinya cuma ada 10 orang yang bersedia bergabung. Satu kelompok yang diberinya nama Kelompok Amfoang. 
 
Kini, sudah banyak orang mengikuti, total sudah 43 kelompok mengikuti jejak Roby, mulai dari kelompok Amfoang, Amarasi, dan sampai ke penjuru daratan Timor Barat lain.

Nama Amfoang sendiri terinspirasi atas nama sebuah daerah meliputi tiga kecamatan di Kabupaten Kupang. Sampai tahun 1990 -an, penyebutan nama Amfoang, maka akan identik akan madu hutan asli khas Nusa Tenggara Timur. 
 
Madu Amfoang sendiri memiliki khasiat beragam, dari cuma menyebuhkan luka terbuka, sampai mengatasi tuberkulosis, masuk angin, jantung, darah tinggi dan menambah kecantikan perempuan.

Mantan Kontraktor Sukses


Amfoang merupakan kawasan hutan seluas 1.000 hektar. Hutan yang didukung beragam kekayaan hayati berkualitas seperti cendana, kayu putih, dan kenari. Bunga- bunga aneka ragam yang dihinggapi lebah hutan pencari makan. 
 
Lebah ini asli dari hutan sengaja tidak diternakan. "Jika diternakan, berpotensi menggunakan bahan kimia," tuturnya. Madunya alami, mulai dari hutannya, proses pengambilan, proses penyimpanan, dan penjualan.

Madu standar ekspor memiliki kadar air 18 persen, panasnya 40- 60 derajat celcius, kadar air maksimal di 21 persen, dan debu atau abu 1 persen. Madu Amfoang memiliki kadar air 16- 17 persen, panas 50- 60 derajat dalam kandungan madu, dan debunya cuma 0,6 persen. 
 
Pendiri CV. Amfoang Jaya ini mengatakan madunya tersebut sudah diseleksi ketat. Cakupan madu Amfoang sudah mencapai Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Timor Leste. Ada laboratorium dan tabung pendeteksi memastikan keaslian madu. 
 
Dibeli dari 43 kelompok binaan, yang jumlah anggotanya mencapai 1.500 orang. Dimana setiap kelompok beranggotakan 25 orang. Harga per- botol Rp.25.000 (650ml). Dan, rata- rata tiap kelompok menghasilkan 25 botol per- pekan atau 600 botol per- bulan.

Madu biasanya bersumber dari madu gantung di pohon. Tetapi tidak ada perbedaan antara madu gantung atau batu. Kualitas bukan ditentukan tempat tetapi kualitas serbuk bunga. Pengambilan madu dilakukan berdasarkan kearifan lokal, tidak menebang pohon, ataupun merusak hutan. 
 
Jumlah 43 orang kelompok bisa menghasilkan 2.000- 10.000 liter madu per- bulan. Roby akan membeli madu mereka seharga Rp.40.000 per- liter.

Kelompok binaan menghasilkan 40- 250 liter madu per- bulan. Tidak mencolok kecuali kelompok tersebut rajin mengamati ke hutan. Proses standarisasi dijalankan lewat showroom. 
 
Diberinya kemasan menarik, dan diberi lebel Madu Amfoang Timur, kemudian dikirim ke Jakarta, Surabaya, dan Timor Leste. Dimana Per- bulan perusahaan mengirim 4.000- 5.000 botol ke Jakarta dan Surabaya. Timor Leste sendiri mendapatkan jatah 3.000 botol.

"Permintaan dari Jakarta 12.000 botol, tetapi kami hanya mampu 5.000 botol per bulan," jelas Roby lagi. 
 
Kemudian 1.000 botol dipajang di showroom dan didistribusikan ke toko, pusat cendramata, souvenir, dan swalayan 2.000 botol per- bulan. Harga madu ini di kupang Rp.100.000 per- botol (650ml), Jakarta Rp.120.000 per- botol, dan Surabaya Rp.150.000 per- botol. 
 
Untuk inovasi ada madu yang diberi ramuan khusus. Madu vitalitas tersebut dijualnya seharga Rp.100.000 per- botol, tetapi isinya cuma 350ml. Kekuatan dari produk Amfoang sendiri adalah keasliannya. Mampu memberikan alternatif suplemen sehari- hari. 
 
Memang CV. Amfoang Jaya dikenal getol mempertahankan keaslian madu. Lima liter madu yang dibeli cuma hasilkan tiga liter saja. Karena namanya madu hutan maka dibuat di hutan, sudah tercampuran air hujan, kotoran, dan lainnya.

Semua unsur sudah dibuang terlebih dahulu dalam proses deteksi. Kepercayaan akan kebersihan memang sangat dijaga CV. Amfoang Jaya. "Madu tidak boleh disimpan di dalam bahan plastik berupa jeriken dan bekas botol air mineral seperti kebanyakan dilakukan masyarakat," jelas Roby. 
 
Ada fakta menarik kalau madu disimpan di botol. Katanya akan meledak jika dimasukan ke bekas air mineral, buka karena gas tetapi higenitas.

"Madu di dalam jeriken atau botol plastik sering meledak bukan karena panas, melainkan karena wadah itu kotor," imbuhnya.

Madu baiknya disimpan di wadah tabung gelas atau bekas botol minuman dan sejenisnya. Kelompok binaan tidak cuma diajarkan bagaimana mencari madu tetapi juga menjaga hutan. 
 
Karena jika makin rimbun hutan maka semakin potensial madu hutan banyak disana. Ia menjelaskan prospek madu juga karena ini minuman segala usia.

Pemilik Foremost Biografi Fauzan Adhima Efwandaputra

Biografi Fauzan Efwandaputra


pemilikforemost.png
 
Pemilik Foremost bercerita mengenai semangat anak muda Bandng. Mereka memang dikenal memiliki selera fashion tinggi. Dan merea juga memiliki semangat entrepeneurship. Layaknya anak lain, Fauzan Adhima Efwandaputra, punya hobi jalan- jalan terutama di kawasan Jalan Trunojoyo, Bandung. 
 
Hobi jalan yang sudah dilakukan sejak sekolah menengah atas. Ia pun hobi menghabiskan uang di distribution store atau distro. Efwan, begitu sapaan akrab pemuda ini, mulai timbul perasaan lain. Imajinasi liarnya membawa ke sebuah mimpi wirausaha. 
 
Bilamana dia mempunyai distro dan memajang brand fasion hasil karyanya sendiri.
 

Mendirikan Bisnis


"Waktu itu, ya kami suka ngabisisn duit," ujarnya. "Biasalah, pingin ini pingin itu." Impian Efwan baru terwujud ketika usia 23 tahun. Ketika itu, dirinya masih berstatus mahasiswa Jurusan Hubungan Masyarakat Unpad. Wujud dari usahanya ialah mengajak teman- teman sekampus.

"Karena kami menyukai sepatu, kami jadi tahu kualitas sepatu yang baik seperti apa," jelas Efwan tentang usaha pertamanya.

Tanpa disangka baru sajalah memulai usaha tersebut menarik perhatian. Di awal 2010, Efwan mulai menekuni usaha fashion tetapi modal coba- coba. Mulai coba menjual produk seperti ini. Kemudian membuat aneka produk sendiri seperti sepatu, dompet, dan kaos. 
 
Dia juga aktif mengajak beberapa kawan membantunya. Dari satu patner bisnis tidak cocok, ke patner bisnis lain bisa sangat cocok. Kemudian Efwan resmi berpatner dengan rekan sejawat bernama Yusuf Ramdhani. Keduanya berjalan searah berbisnis brand sepatu. 
 
Usaha yang sebelumnya tidak punya merek sama sekali. Sekitar Oktober 2010 usahanya terbilang cukup moncer dengan sepatu dan kaos.  Lama kelamaan usahanya semakin dikenal karena barangnya menarik di pasaran. 
 
Mereka sepakat mengambil nama brand. Intinya sebuah usaha pembuatan sepatu bot homemade. Ada nilai tambah lain adalah footprint -nya.

"Awalnya saya membuat sepatu kets dan kasual," terang Efwan.

Ia menjelaskan tentang aksara Sunda di footprin. Yang kalau diterjemahkan nanti berarti "Indonesia Pride". Itulah pula yang dianggapnya menjadi alasan kemenangan Foremost di ajang Wirausaha Muda Mandiri. 
 
Dia lanta  mencetak sejarah lewat ajang bernama Wirausaha Mandiri 2011. Dari sana, namanya tercatat menjadi pengusaha muda sukses dikategori kreatif.

Usahanya tersebut bahkan mendapatkan perhatian pemodal. "Nilai tambah dan keunikan ini yang mungkin membuat kami menang," akunya bangga.

Efwan memulai usaha berjualan lewat online. Karena produk bersifat handmade maka tidak sama yang ada di pasaran. 
 
Alhasil usaha sepatu ini dijalankan hampir tanpa modal berarti. Istilah Efwan cukup memasang foto, uang masuk ke rekening, dan orderan tinggal dikerjakan. Namun cara ini malah membikin dirinya jadi super kwalahan.

"Pusing. Banyak yang rewel," kenang Efwan. Mereka terlanjur pegang uang sementara produksi masih dalam proses berjalan. 
 
Nah, para pembeli ini rewelnya minta ampu meminta kapan produknya jadi. Untuk itulah muncul ide memakai konsep ready stock. Produk itu diproduksi dahulu kemudian baru dipostingkan. Produk kemudian difokuskan di sepatu kulit. Ia juga mulai mengeplorasi bentuk sepatu. 
 
Efwan mulai mencari ciri khas produknya. Cirinya yaitu memakai kulit sapi berkualitas baik. Juga dibuat secara handmade (buatan tangan) jahitan rapih. Foremost juga menambahkan spons insole agar memberikan kenyamanan ekstra.

Sementara outsole -nya dibikin original sole berbahan dasar karet matang. Mengenai rujukan gaya mengambil fashion western yang digemari anak muda. Untuk menonjolkan adanya kesan etnik maka ditambahlah aksara Sunda. 
 
Dipatri ditulis dibawah sole Foremost yang membentuk bentuk kepulauan Indonesia.Efwan menginginkan Foremost -nya menjadi brand terkemuka Indonesia; tidak masalah jika modal cekak.
 
 
 
Menurut bahasa Foremost sendiri berarti terkemuka, kalau diturunkan ke Indonesia berarti mengemukakan Indonesia kepada Dunia. Memadukan cita rasa barat agar mudah diterima siapa saja diluar.

Sementara itu juga bisa masuk ke dalam hati masyarakat Indonesia.

"Tulisan aksara Sunda itu sebenarnya bertuliskan Indonesian Pride. Kita ingin menjadikan Foremost sebagai kebanggaan orang Indonesia," jelasnya lebih dalam, ternyata Efwan tidak main- main soal mimpinya.

Dia menyebut sepatunya dirancang senyaman mungkin bagi para pengguna. Pengalaman panjang dan hobi sepatu membuatnya kuat. Agar tidak jenuh, adanya produk seperti dompet, jaket, dan kaos menjadi tambahan. 
 
"Rata- rata 30- 40 pieces melalui online dan 30 pieces untuk offline," terang Yusuf, patner Efwan yang fokus pada marketing.

Target panjang Yusuf menjelaskan untuk Foremost adalah menguasai pasar Internasional. Termasuk sukses buat masuk ke Asia, utamanya di Singapura. Mereka mengcampaign Foremost for the People. Kata- kata itu artinya adalah meng- foremost- kan orang. 
 
Atau ingin aktif dibicarakan, dikenal, dan dipakai tuturnya lagi.

Dia bersama Efwan terus mencoba menggebrak lewat brand lokal cita rasa internasional. Menurut Efwan sendiri keilmuan menjadi kendala utama pebisnis. Sebagai pengusaha muda, rentan untuk bermasalah di manajemen dan keuangan. 
 
Dia sendiri memfokuskan hal tersebut selama perjalanan bisnis. Dia bahkan belajar merancang rencana keuangan sendiri. Proses marketing sendiri dibuat isitilah zona market  horizontal. "Kalau ini tidak terlalu bermasalah asal tak bodoh banget tentang Facebook dan Twitter," katanya.

Sukses lewat sosial media tinggal masuk ke pasar offline. Untuk ini dibutuhkan pusat distribusi- distribusi yang kuat. Lain hal dengan maen online dimana uang datang barung barang. Dia mencoba memanfaatkan pasar yang bersifat curated market atau pasar terkurasi. 
 
Untuk itulah ia mulai rajin membawa masuk ke ajang pameran. Disana terseleksi sendiri sesama brand lokal. Ajang curated market bidikannya adalah pameran Trademark dan Brightspot. Pemasaran Foremost mengikuti tiga market menggiurkan. 
 
Selain itu menarget pasar anak muda, Foremost ingin menyasar wanita, pengguna internet umumnya atau mereka orang tua yang mau bergaya masa kini. Tetapi fokus produk sepatu bot kulit ini tetap di pasar anak muda. 
 
Khususnya anak muda mahasiswa, terspesialnya buat anak- anak cowok. Putusan tersebut dirasa tepat karena segmen pasarnya. Plus tim kerjanya adalah seratus persen itu cowok. Jujur Efwan belum berani betul melangkah masuk ke pasar perempuan.

"Kalau cowok seumuran ini, kitalah yang paling mendalami," jelasnya. Takutnya mereka "ngeblur" ketika berhadapan dengan pasar cewek. 
 
Dia juga menambahkan produk lain sebagai bentuk fokus. Difersifikasi barang macam dompet dan kausnya itu seolah menegaskan konsepnya. Untuk pasar sendiri, maka seperti hal produk lain, Efwan telah siap semua kalangan.

Segmen menengah bawah akan diisi oleh McMaker. Brand dibawah Foremost ini memang berharga murah meriah. Tetapi rata- rata penjualan menembus 300 pasang. Disisi lain, produk Foremost -nya memang harus diakui lebih ke musiman. Foremost cuma menembus angka 200 pasang sebulan pada musim tertentu.

McMaker merupakan bantalan agar modal berputar. Namun, karena sambutan baik, maka jadilah salah satu produk utama dijual Rp.120- 300 ribu. "Kalau Foremost seperti menjual Mercy, McMaker seperti jualan Avanza," lurus pria kelahiran 11 Agustus 1989 ini.

Usaha Sampingan Tak Perlu Resign Pekerjaan

Profil Pengusaha Kartini 


usahasampingan.png

Usaha sampingan tak perlu resign pekerjaan. Dia yang awalnya cuma mencoba- coba. Lama kelamaan, Kartini keterusan mengerjakan usaha barunya tersebut. Bayangkan saja dalam dua bulan sejak dibuka. Dia sukses mereguk untung bahkan bisa balik modal  langsung. 
 
Usut- punya usut ternyata jiwa wirausaha sudah lama. Kini, modal itulah yang dibawa membesarkan usaha siomay Mommy's Kitchen.
 

Tak Perlu Resign Pekerjaan


Bukan hal baru bagi wanita kelahiran Tanjung Pinang, 21 Maret 1972 ini. Kartini sudah biasa berdagang sejak dini. Dulu ketika sekolah dasar sudah berdagang kue. Sejak SD, dia telah terbiasa bangun pagi, dibawanya kue- kue bikinan ibunya ke warung. 
 
Kemudian ketika sore tiba dikunjunginya warung lagi. Tangan kecil itu sudah biasa menghitung keuntungan. Tidak hanya berjualan kue. Ketika ibu membuka warung nasi, dia juga ikut membantu.

Kartini akan ditugasi berbelanja ke pasar. Sejak subuh, sebelum matahari tampak, anak seusia itu sudah ada di pasar berbelanja. Dia tidak merasa dipaksa oleh keadaan tersebut. Selepas belanja barulah berangkat ke sekolah. 
 
Ketika pulang sekolah, Kartini akan membantu sang ibu menjaga warung miliknya. 

"Kasihan tak ada yang menemani dia," kenang Kartini.

Dari usaha tersebut, Kartini kecil mendapat tambahan uang jajan. Dia mendapat beberapa ribu buat membeli buku cerita atau baju baru. Itulah awal jiwa wirausahaan Kartini terus tumbuh. Perasaan senang ketika kerja kerasnya dihargai. 
 
Bukan soal uang sih, tentu karena anak sekecil itu tidak paham soal untung rugi. Dalam benaknya ada kesenangan bisa membantu dan apa itu penghargaan.

Jiwa wirausaha membawa Kartini berbisnis kembali. Sambil berkuliah di Akademi Bahasa Asing Lampung, Kartini memulai berbisnis sendiri. Sambil sibuk berkuliah sambil berjualan kosmetik. Teman sekampus pun merespon baik. 
 
Itu membuatnya semakin besemangat. Ketika berkuliah di London School, Jakarta, dia lalu mulai berbisnis kembali. Prinsipnya jalankan apa saja asal menghasilkan. Alhasil tidak ada bisnis yang bisa berjalan awet. 

Kebanyakan berganti- ganti setiap ada kesempatan. Dia belum berpikir menyeriusi usaha apapun. Selepas kuliah dan bekerja, dia kembali mencoba berbisnis kembali cuma berbeda dari sebelumnya. Cuma dia sudah menyadari bahwa tidak bisa sembarangan. 
 
Kartini memilih untuk masuk ke seminar. Dia mencoba mencari tau ide bisnis sampingan awet. "Dari seminar itu saya mendapatkan ilmu bahwa bisnis harus dilandasi dari hobi kita," terang Kartini.

Usaha Sampingan


Selain mengenai bisnis harus mengikuti passion. Kartini belajar banyak tentang manajemen bisnis UKMKU. Sekembalinya dari sana, Kartini mantap mau memulai usaha kembali. Ibu dari satu anak bernama Kanzie ini tidak menarik kata- katanya. 
 
Dia langsung membuat aneka makanan seperti mie, empek- empek, bakso, dan siomay. Pokoknya apa saja yang itu disukai masyarakat umum. Sebelum dijual ke masyarakat umum. Hal pertama dilakukan Kartini menjualnya ke keluarga terdekat. 
 
Dia tidak percaya diri akan hasilnya. Dia sempat takut kalau- kalau makanan itu tidak akan laku. Untung respon mereka ternyata positif bisa dijual. Karini pun semakin bersemangat mengembangkan usaha ini. 
 
Enam bulan kemudian dijualah semua itu ke masyarakat. Marketing awal cukup membagikan brosur ke tetangga dan dekat kantor.

"Kebetulan tempat tinggal saya dekat dengan kampus," terusnya. 
 
Ia tidak meninggalkan kesempata tersebut. Dia mulai menjajakan daganganya disana. Ia memberi nama bisnis ini Mommy's Kitchen. Dari kos- kosan terdekat mulai mendatangi kosan teman. Begitu seterusnya menjalar jauh sampai ke berbagai arah. 
 
Di tempat kos 30 kamar tersebut dibagikan lah brosur lagi. Ternyata menghasilkan, terbukti melalui pesanan yang mulai ramai datang. Modal Rp.7 juta kembali modal bahkan untung dibulan kedua. Sang suami ternyata juga membantu dia agar bisa begini. 
 
Dia ikut menawarkan makanan itu ke teman- teman kantor. Dari situ pulalah pesanan bertambah datang banyak. Berkat usaha tersebut rata- rata menghasilkan uang tambahan Rp.10 juta/bulan. Dia cuma mengerjakan aneka makanan/jajanan khas. 
 
Seperti hal pempek, lumpia, pisang goreng, bakso, tekwan, mie ayam, dll. Untuk siomay paling mendapatkan sambutan baik. Seminggu saja orderan khusus siomay berkali- kali. Oleh karena itulah diadakan layanan kirim. Kartini memberikan minimum pembelian buat satu ini. 
 
Siomay akan siap diantar ke rumah kamu masing- masing. Minimal order mencapai 300 buah untuk perusahaan. Perorang minimal Rp.25 ribu tapi cuma kawasan Kuningan dan Sudirman.

Apakah dia berhenti bekerja?

Ternyata tidak sama sekali. Malah Kartini membuka lapangan pekerjaan. Dia mempekerjakan empat karyawan sehari- hari. Tiga orang diplot menjadi juru masak dan satu orang menjadi kurir antar. Kedapan, apa lagi yang bisa dilakukan 
 
Kartini buat usaha sampingan ini, ia mau membuka bisnis kantin. Bayangkan kantin sekolah atau kantor khusus menjajakan masakan bikinan Mommy's Kitchen.

Penemu Metode Jarimatika Septi Peni Wulandani

Kisah Penemuan Metode Matematika 


penemujarimatika.png

Penemu metode Jarimatika bukan sembarang ibu rumah tangga. Perempuan asli Salatiga yang menghabiskan sekolah menengah disana. Ia lantas hijrah sampai Semarang berkuliah di Universitas Dipenogoro. Septi Peni Wulandani mengambil jurusan Ilmu Gizi. 
 
Rencana menjadi pegawai negeri sipil sudah terbuka luas. Pasalnya, Septi masuk jalur kedinasan, dan sayangnya, rencana itu buyar gara- gara suami. Sang suami meminta agar fokus mengurusi rumah tangga saja.
 

Ide Jarimatika


Gagal menjadi PNS, Septi cuma menjadi ibu rumah tangga biasa. Pesan sang suami masih terngiang jelas di telingan perempuan berjilbab ini. "Anak itu mendapatkan pendidikan langsung dari orangtuanya, bukan dari orang lain" kenangnya. 
 
Keputusan mengikuti kehendak suami cukup menyentak. Terutama kedua orang tua Septi. Mereka menganggap PNS adalah pekerjaan yang terjamin di hari tua.

Tahun 1995, Septi diboyong suami yang pegawai bank ke Jakarta. Mereka harus menetap di Depok, Jawa Barat. Ia sendiri sebenernya selalu iri melihat kehidupan wanita karir. Sudah setahun tidak lagi bekerja, Septi masih ingin bekerja. Diskusi panjang pun terjadi diantara pasangan ini. 
 
Ia terngiang ucapan sang suami jelas waktu itu, "kesuksesan seorang perempuan dimulai dari dalam rumah tangga dan akan tampak hasilnya di luar."

Hasrat bekerja meredup ketika putri pertama lahir. Dialah Nurul Syahid Kusuma, mulai membuat Septi jadi menikmati peran ibu rumah tangga. Pekerjaan yang tidak bisa disepelekan. Tidak semua orang bisa menjadi ibu yang baik. Ibu menurut Septi bukan golongan second class. 
 
Mereka bukan yang cuma berpakaian daster seharian. Justru perempuan musti bangga ketika menjadi ibu rumah tangga. Ini profesi mulia dan alami bagi seorang ibu.

"Bayangkan kita harus mengelola semua urusan rumah," ujarnya.

"Bekerja" menjadi ibu rumah tangga bukan berarti diam. Dia aktif mencari tau soal beraneka macam. Tujuan akhirnya bagaimana agar menjadikan rumah kantor. Septi mulai menyusun jadwal kerja. Dia mulai banyak baca buku tentang parenting. 
 
Juga aneka buku inspiratif buatnya ibu rumah tangga. Dia bahkan ikut kuliah umum tentang pendidikan. Jadwal kerja tersebut dimulai dari pukul delapan pagi sampai empat sore.  Bahkan, kalau di rumah, Septi percaya diri berpakaian rapi layaknya wanita kantoran. 
 
Ia menjadikan rumah menjadi kantor. Di jam kerja termasuk belajar berbagai keterampilan buat sang anak. Bahkan, kala itu, jika tetangga mengajak mengoborol di jam tersebut; Septi menolak. Secara bertahap pula dirinya menumbuhkan jiwa entrepreneurship. 
 
Jiwa itu diuji ketika krisis ekonomi 1998 dimana banyak perbankan mulai gulung tikar. Termasuk, tempat kerja sang suami, yang mau- tak mau turun tangan keluar dari zona nyaman.

Jiwa Entrepreneurship


Hal pertama dibenaknya adalah berdagang. Berbisnis merupakan pilihan tepat. Untuk membantu ekonomi keluarga jadilah Septi berjualan pakaian muslim. Ini sesuai passion -nya di pakaian muslim. Wanita berjilbab ini mulai keluar berjualan door- to- door. 
 
Modal sepeda motor berkeliling sekitar komplek. Ia senidir dapat stok dari rekan yang memiliki toko di Tanah Abang Jakarta. Modal uang? Dia dapat dari sisa uang tabungan suami.

"Sampai kami pernah merasakan rekening yang ada di bank semua zaro," kenang Septi.

Sang anak pertama sebenarnya telah membuka kesuksesan. Lewat putri pertamanya menjadi jalan pembuka lahirnya Jarimatika. Ya siapa Septi Peni Wulandari adalah penemu metode Jarimatika. Ketika Enes (nama panggilan putrinya) mulai dewasa dan mampu menggerakan jarinya. 
 
Ia mulai berpikir tentang bagaiman cara mengajar agar lebih mudah. Sebagai seorang ibu rumah tangga profesional harus memperlihatkan hasilnya. Septi memilih berdagang baju muslim. "Karena passion saya di busana muslim, saya berjualan baju muslim," terangnya. 
 
Dimana barang tersebut dibawa dari seorang teman yang punya ruko di Tanah Abang Jakarta. Ia mulai berjualan lewat door to door. Berkendara motor berkeliling komplek menawarkan baju muslim. Modal uang didapat dari sisa tabungan suami. Dia mengaku semua tabungan mereka ludes.

"Sampai kami pernah merasakan rekening yang ada di bank zero," beber dia.

Sambil berdagang sambil mengajari anak. Dia mengajari Enes membaca menghitung. Enes menggerakan jari- jari kecil itu mengeja angka. Langkah awal ialah bagaimana menghitung angka satuan. 
 
Masalah muncul ketika mulai menghitung puluhan. Meski berhitung jari lebih menyenangkan. Butuh solusi lebih lanjutan agar  anak bisa menghitung lebih banyak. Itulah mengapa terbersit ide membangun Jarimatika darisana.

Perjalanan tiga tahun lewat trial and error. Aneka cara sudah pernah dicoba seorang Septi. "...tapi kami tetap semangat," kenang dia. Tahun 2000 barulah konsep Jarimatika mulai diajarkan. Jarimatika terlahir dari rasa sayang terhadap sang anak. 
 
Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi Jarimatika mulai dipasarkan. Awalan dipasarkan ke tetangga dan teman yang tertarik. Bermodal pengalaman berdagang, Septi menyusuri jalanan ibu kota.

Dia naik turun bus berkeliling kota. Keluar masuk sekolah atau lembaga pendidikan. Adapun prinsip metode ini ialah belajar bertahap. Tahap awal, anak Septi diajarkan metode membaca menyenangkan. Anak tidak diajarkan membaca, duduk, kemudian membaca lagi. 
 
Benar menyenangkan sampai tidak terasa anak bisa membaca di usia 9 bulan. Usia dua hingga tiga bulan sudah bisa membaca koran. Ini merupakan proses yang menyenangkan.

Metode membaca tersebut lantas dikembangkan lebih lanjut. Nama metode ini adalah Abaca Baca. Kini ibu lebih gampang mengajarkan membaca. Tahap kedua yakni mengajarkan berhitung. Inilah awal metode utama Jarimatika. 
 
Kalau kamu bertanya Jarimatika atau Abaca Baca duluan? Jawaban ada di Jarimatika, untuk satu ini lebih sulit pengembangannya, butuh waktu lama bahkan mencoba aneka metode terlebih dulu.

"Setiap ada ide baru, kami tulis diatas kertas dan ditempel," jelasnya.

Septi selalu mengganti cara berhitung anak. Banyak metode telah digunakan termasuk lewat peraga. Cuma masalahnya si anak itu tidak aktif. Ketika alat peraga rusak anak akan enggan memakai lagi. Ketika jari anak mulai terlihat aktif. 
 
Ia dan suami melihat sebuah cara mengajar. Ingin mengoptimalkan jari sebagai alat bantu hitung. Rumus- rumus mulai dieksperimen lewat jari jemari. Dia bahkan membawa atribut Jarimatika lengkap. Dari satu bus ke bus lain menyusuri lembaga pendidikan, menawarkan metode ini. 
 
Di rumah, Septi menerapkan metode home schooling dulu buat anaknya. Menurut pemikirannya inilah saat membangun karakter si anak. Di sekolah justru tempat anak bersosialisasi. Karakter menurut dia adalah kemampuan agar si anak percaya diri. Diumur 1 tahun bisa membaca pasti anak semangat.

Usia nol sampai 12 tahun masa tepat membangun karakter. Terutama diawal ketika kita masih bisa pegang sendiri. Umur 13 tahun anak sudah siap bersekolah di luar rumah. Singkat, anak akan bisa hidup mandiri jika sudah berumur 15 tahu. 
 
Prinsip lain adalah anak harus ditangani ahlinya. Hasil kerajin datang ke seminar- seminar pendidikan membuahkan hasil. Agar bisa mengikuti seminar di kampus bahkan membubuhi jabatan dia.

Dia menulis "ibu rumah tangga profesional". Lewat kartu nama unik inilah bisa mengikuti sampai anaka kuliah umum. Tambahan lain menurut dia kalau anak dari kelas 1-6 di SD sama; ini bukan sosialisasi. Menurutnya anak akan minder jikalau masuk ke lingkungan baru. 
 
Sebuah komunitas sama dalam waktu lama itu dianggap tidak efektif. Padahal konsep tersebut dijalankan baik di desa sampai di kota.

Merintis Usaha


Melalui marketing dibukukan Jarimatika menyebar. Bak virus tanggapan masyarakat luas ternyata antusias. Tapi apakah menguntungkan? Tentu, lewat buku tersebut metode ini menjual, di tahun 2003 bertemulah dia dengan seorang wanita. 
 
Inilah awal Jarimatika menyebar lebih ke tingkat selanjutnya. "Kita enggak kepikiran sampai sejauh itu," ujarnya. Dia sendiri waktu itu bahkan tidak punya komputer. Mulai satu per- satu rumus dijadikan satu.

Dia mulai mengumpulkan flip card berisi rumus. Jadilah sebuah buku dan mulai dijual ke masyarakat luas. Sampai kita sekarang mengenal apa itu Jarimatika. Lewat buku Jarimatika, Septi mulai diminati untuk maju menjadi pembicara aneka seminar. 
 
Buku Jarimatika bahkan terjual 130.000 eksemplar di pasar. Namanya sudah wara- wiri di aneka seminar Jabodetabek. Tahun 2005 Jarimatika sudah dipatenkan buat melindungi hak cipta.

Di tahun 2006, kabar tidak enak datang, ketika itu sang ibu mertua sakit. Dia harus dibawa ke rumah sakit Elizabeth Semarang. Didasari karena keluarga Septi lebih mudah bergerak. Septi kembali ke Salatiga untuk merawat sang ayah selama satu bulan. 
 
Tinggal di Salatiga usaha miliknya mulai dari nol kembali. Pasalnya uang tabungan habis untuk merawat ayah mertuanya. Ia mengalami keraguan akan masa depan Jarimatika.

Beruntung media mulai meliput sukses Jarimatika. Beruntung lagi, suami menenangkan berkata, "Bersungguh-sungguhlah kamu pada Allah, Rasulullah, bapak dan ibu. Ketika kamu bersungguh-sungguh, maka masalah dunia, Allah yang mengatur." 
 
Berkat media masa nama Jarimatika masih bergaung. Menggaung sampai ke Pantura, dari Solo, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Bisa diterima siapa saja, bisa cepat tersebar 33 kota (saat itu). Waralaba tidak pernah terpikir oleh Septi. Untuk itulah biaya waralaba Jarimatika sangat murah. 
 
Namun ada hal untik terjadi ketika biayanya terlalu murah. Ketika waralaba cuma 3 jutaan malah komitmen mitar turun. Bahkan dianggap bukan lagi investasi bisnis. Ini membuat mereka bekerja setengah hati. Justru ketika naik sampai Rp.9 jutaan malah berbalik. 
 
Melalui waralaba sudah bisa membantu jalan dan bahkan membayar hutang. Hutang bank untuk pengembangan Jarimatika terbayar lunas. Dia berani mempersentasikan bisnis ini ke bank untuk menutup hutang. 
 
Tiga bank dikunjungi olehnya dan dua menolak, alasannya apalagi kalau bukan Septi tidak punya agunan. "Saya tidak menyangka bunga bank sangat memeberatkan," ujar Septi. Dia bisa bolak- balik Salatiga- Semarang. 
 
Tidak perlu modal proposal cukup kliping media masa. Hingga ada satu bank yang mau. Bahkan bank tersebut memberi bantuan tanpa agunan. Utang sudah tertutup tinggal bagaimana membesarkan Jarimatika. Inilah jalan penemu Jarimatika yang menjadi pengajar dan sekaligus pengusaha sukses.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba