Usaha Sampingan Tak Perlu Resign Pekerjaan

Profil Pengusaha Kartini 


usahasampingan.png

Usaha sampingan tak perlu resign pekerjaan. Dia yang awalnya cuma mencoba- coba. Lama kelamaan, Kartini keterusan mengerjakan usaha barunya tersebut. Bayangkan saja dalam dua bulan sejak dibuka. Dia sukses mereguk untung bahkan bisa balik modal  langsung. 
 
Usut- punya usut ternyata jiwa wirausaha sudah lama. Kini, modal itulah yang dibawa membesarkan usaha siomay Mommy's Kitchen.
 

Tak Perlu Resign Pekerjaan


Bukan hal baru bagi wanita kelahiran Tanjung Pinang, 21 Maret 1972 ini. Kartini sudah biasa berdagang sejak dini. Dulu ketika sekolah dasar sudah berdagang kue. Sejak SD, dia telah terbiasa bangun pagi, dibawanya kue- kue bikinan ibunya ke warung. 
 
Kemudian ketika sore tiba dikunjunginya warung lagi. Tangan kecil itu sudah biasa menghitung keuntungan. Tidak hanya berjualan kue. Ketika ibu membuka warung nasi, dia juga ikut membantu.

Kartini akan ditugasi berbelanja ke pasar. Sejak subuh, sebelum matahari tampak, anak seusia itu sudah ada di pasar berbelanja. Dia tidak merasa dipaksa oleh keadaan tersebut. Selepas belanja barulah berangkat ke sekolah. 
 
Ketika pulang sekolah, Kartini akan membantu sang ibu menjaga warung miliknya. 

"Kasihan tak ada yang menemani dia," kenang Kartini.

Dari usaha tersebut, Kartini kecil mendapat tambahan uang jajan. Dia mendapat beberapa ribu buat membeli buku cerita atau baju baru. Itulah awal jiwa wirausahaan Kartini terus tumbuh. Perasaan senang ketika kerja kerasnya dihargai. 
 
Bukan soal uang sih, tentu karena anak sekecil itu tidak paham soal untung rugi. Dalam benaknya ada kesenangan bisa membantu dan apa itu penghargaan.

Jiwa wirausaha membawa Kartini berbisnis kembali. Sambil berkuliah di Akademi Bahasa Asing Lampung, Kartini memulai berbisnis sendiri. Sambil sibuk berkuliah sambil berjualan kosmetik. Teman sekampus pun merespon baik. 
 
Itu membuatnya semakin besemangat. Ketika berkuliah di London School, Jakarta, dia lalu mulai berbisnis kembali. Prinsipnya jalankan apa saja asal menghasilkan. Alhasil tidak ada bisnis yang bisa berjalan awet. 

Kebanyakan berganti- ganti setiap ada kesempatan. Dia belum berpikir menyeriusi usaha apapun. Selepas kuliah dan bekerja, dia kembali mencoba berbisnis kembali cuma berbeda dari sebelumnya. Cuma dia sudah menyadari bahwa tidak bisa sembarangan. 
 
Kartini memilih untuk masuk ke seminar. Dia mencoba mencari tau ide bisnis sampingan awet. "Dari seminar itu saya mendapatkan ilmu bahwa bisnis harus dilandasi dari hobi kita," terang Kartini.

Usaha Sampingan


Selain mengenai bisnis harus mengikuti passion. Kartini belajar banyak tentang manajemen bisnis UKMKU. Sekembalinya dari sana, Kartini mantap mau memulai usaha kembali. Ibu dari satu anak bernama Kanzie ini tidak menarik kata- katanya. 
 
Dia langsung membuat aneka makanan seperti mie, empek- empek, bakso, dan siomay. Pokoknya apa saja yang itu disukai masyarakat umum. Sebelum dijual ke masyarakat umum. Hal pertama dilakukan Kartini menjualnya ke keluarga terdekat. 
 
Dia tidak percaya diri akan hasilnya. Dia sempat takut kalau- kalau makanan itu tidak akan laku. Untung respon mereka ternyata positif bisa dijual. Karini pun semakin bersemangat mengembangkan usaha ini. 
 
Enam bulan kemudian dijualah semua itu ke masyarakat. Marketing awal cukup membagikan brosur ke tetangga dan dekat kantor.

"Kebetulan tempat tinggal saya dekat dengan kampus," terusnya. 
 
Ia tidak meninggalkan kesempata tersebut. Dia mulai menjajakan daganganya disana. Ia memberi nama bisnis ini Mommy's Kitchen. Dari kos- kosan terdekat mulai mendatangi kosan teman. Begitu seterusnya menjalar jauh sampai ke berbagai arah. 
 
Di tempat kos 30 kamar tersebut dibagikan lah brosur lagi. Ternyata menghasilkan, terbukti melalui pesanan yang mulai ramai datang. Modal Rp.7 juta kembali modal bahkan untung dibulan kedua. Sang suami ternyata juga membantu dia agar bisa begini. 
 
Dia ikut menawarkan makanan itu ke teman- teman kantor. Dari situ pulalah pesanan bertambah datang banyak. Berkat usaha tersebut rata- rata menghasilkan uang tambahan Rp.10 juta/bulan. Dia cuma mengerjakan aneka makanan/jajanan khas. 
 
Seperti hal pempek, lumpia, pisang goreng, bakso, tekwan, mie ayam, dll. Untuk siomay paling mendapatkan sambutan baik. Seminggu saja orderan khusus siomay berkali- kali. Oleh karena itulah diadakan layanan kirim. Kartini memberikan minimum pembelian buat satu ini. 
 
Siomay akan siap diantar ke rumah kamu masing- masing. Minimal order mencapai 300 buah untuk perusahaan. Perorang minimal Rp.25 ribu tapi cuma kawasan Kuningan dan Sudirman.

Apakah dia berhenti bekerja?

Ternyata tidak sama sekali. Malah Kartini membuka lapangan pekerjaan. Dia mempekerjakan empat karyawan sehari- hari. Tiga orang diplot menjadi juru masak dan satu orang menjadi kurir antar. Kedapan, apa lagi yang bisa dilakukan 
 
Kartini buat usaha sampingan ini, ia mau membuka bisnis kantin. Bayangkan kantin sekolah atau kantor khusus menjajakan masakan bikinan Mommy's Kitchen.

Penemu Metode Jarimatika Septi Peni Wulandani

Kisah Penemuan Metode Matematika 


penemujarimatika.png

Penemu metode Jarimatika bukan sembarang ibu rumah tangga. Perempuan asli Salatiga yang menghabiskan sekolah menengah disana. Ia lantas hijrah sampai Semarang berkuliah di Universitas Dipenogoro. Septi Peni Wulandani mengambil jurusan Ilmu Gizi. 
 
Rencana menjadi pegawai negeri sipil sudah terbuka luas. Pasalnya, Septi masuk jalur kedinasan, dan sayangnya, rencana itu buyar gara- gara suami. Sang suami meminta agar fokus mengurusi rumah tangga saja.
 

Ide Jarimatika


Gagal menjadi PNS, Septi cuma menjadi ibu rumah tangga biasa. Pesan sang suami masih terngiang jelas di telingan perempuan berjilbab ini. "Anak itu mendapatkan pendidikan langsung dari orangtuanya, bukan dari orang lain" kenangnya. 
 
Keputusan mengikuti kehendak suami cukup menyentak. Terutama kedua orang tua Septi. Mereka menganggap PNS adalah pekerjaan yang terjamin di hari tua.

Tahun 1995, Septi diboyong suami yang pegawai bank ke Jakarta. Mereka harus menetap di Depok, Jawa Barat. Ia sendiri sebenernya selalu iri melihat kehidupan wanita karir. Sudah setahun tidak lagi bekerja, Septi masih ingin bekerja. Diskusi panjang pun terjadi diantara pasangan ini. 
 
Ia terngiang ucapan sang suami jelas waktu itu, "kesuksesan seorang perempuan dimulai dari dalam rumah tangga dan akan tampak hasilnya di luar."

Hasrat bekerja meredup ketika putri pertama lahir. Dialah Nurul Syahid Kusuma, mulai membuat Septi jadi menikmati peran ibu rumah tangga. Pekerjaan yang tidak bisa disepelekan. Tidak semua orang bisa menjadi ibu yang baik. Ibu menurut Septi bukan golongan second class. 
 
Mereka bukan yang cuma berpakaian daster seharian. Justru perempuan musti bangga ketika menjadi ibu rumah tangga. Ini profesi mulia dan alami bagi seorang ibu.

"Bayangkan kita harus mengelola semua urusan rumah," ujarnya.

"Bekerja" menjadi ibu rumah tangga bukan berarti diam. Dia aktif mencari tau soal beraneka macam. Tujuan akhirnya bagaimana agar menjadikan rumah kantor. Septi mulai menyusun jadwal kerja. Dia mulai banyak baca buku tentang parenting. 
 
Juga aneka buku inspiratif buatnya ibu rumah tangga. Dia bahkan ikut kuliah umum tentang pendidikan. Jadwal kerja tersebut dimulai dari pukul delapan pagi sampai empat sore.  Bahkan, kalau di rumah, Septi percaya diri berpakaian rapi layaknya wanita kantoran. 
 
Ia menjadikan rumah menjadi kantor. Di jam kerja termasuk belajar berbagai keterampilan buat sang anak. Bahkan, kala itu, jika tetangga mengajak mengoborol di jam tersebut; Septi menolak. Secara bertahap pula dirinya menumbuhkan jiwa entrepreneurship. 
 
Jiwa itu diuji ketika krisis ekonomi 1998 dimana banyak perbankan mulai gulung tikar. Termasuk, tempat kerja sang suami, yang mau- tak mau turun tangan keluar dari zona nyaman.

Jiwa Entrepreneurship


Hal pertama dibenaknya adalah berdagang. Berbisnis merupakan pilihan tepat. Untuk membantu ekonomi keluarga jadilah Septi berjualan pakaian muslim. Ini sesuai passion -nya di pakaian muslim. Wanita berjilbab ini mulai keluar berjualan door- to- door. 
 
Modal sepeda motor berkeliling sekitar komplek. Ia senidir dapat stok dari rekan yang memiliki toko di Tanah Abang Jakarta. Modal uang? Dia dapat dari sisa uang tabungan suami.

"Sampai kami pernah merasakan rekening yang ada di bank semua zaro," kenang Septi.

Sang anak pertama sebenarnya telah membuka kesuksesan. Lewat putri pertamanya menjadi jalan pembuka lahirnya Jarimatika. Ya siapa Septi Peni Wulandari adalah penemu metode Jarimatika. Ketika Enes (nama panggilan putrinya) mulai dewasa dan mampu menggerakan jarinya. 
 
Ia mulai berpikir tentang bagaiman cara mengajar agar lebih mudah. Sebagai seorang ibu rumah tangga profesional harus memperlihatkan hasilnya. Septi memilih berdagang baju muslim. "Karena passion saya di busana muslim, saya berjualan baju muslim," terangnya. 
 
Dimana barang tersebut dibawa dari seorang teman yang punya ruko di Tanah Abang Jakarta. Ia mulai berjualan lewat door to door. Berkendara motor berkeliling komplek menawarkan baju muslim. Modal uang didapat dari sisa tabungan suami. Dia mengaku semua tabungan mereka ludes.

"Sampai kami pernah merasakan rekening yang ada di bank zero," beber dia.

Sambil berdagang sambil mengajari anak. Dia mengajari Enes membaca menghitung. Enes menggerakan jari- jari kecil itu mengeja angka. Langkah awal ialah bagaimana menghitung angka satuan. 
 
Masalah muncul ketika mulai menghitung puluhan. Meski berhitung jari lebih menyenangkan. Butuh solusi lebih lanjutan agar  anak bisa menghitung lebih banyak. Itulah mengapa terbersit ide membangun Jarimatika darisana.

Perjalanan tiga tahun lewat trial and error. Aneka cara sudah pernah dicoba seorang Septi. "...tapi kami tetap semangat," kenang dia. Tahun 2000 barulah konsep Jarimatika mulai diajarkan. Jarimatika terlahir dari rasa sayang terhadap sang anak. 
 
Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi Jarimatika mulai dipasarkan. Awalan dipasarkan ke tetangga dan teman yang tertarik. Bermodal pengalaman berdagang, Septi menyusuri jalanan ibu kota.

Dia naik turun bus berkeliling kota. Keluar masuk sekolah atau lembaga pendidikan. Adapun prinsip metode ini ialah belajar bertahap. Tahap awal, anak Septi diajarkan metode membaca menyenangkan. Anak tidak diajarkan membaca, duduk, kemudian membaca lagi. 
 
Benar menyenangkan sampai tidak terasa anak bisa membaca di usia 9 bulan. Usia dua hingga tiga bulan sudah bisa membaca koran. Ini merupakan proses yang menyenangkan.

Metode membaca tersebut lantas dikembangkan lebih lanjut. Nama metode ini adalah Abaca Baca. Kini ibu lebih gampang mengajarkan membaca. Tahap kedua yakni mengajarkan berhitung. Inilah awal metode utama Jarimatika. 
 
Kalau kamu bertanya Jarimatika atau Abaca Baca duluan? Jawaban ada di Jarimatika, untuk satu ini lebih sulit pengembangannya, butuh waktu lama bahkan mencoba aneka metode terlebih dulu.

"Setiap ada ide baru, kami tulis diatas kertas dan ditempel," jelasnya.

Septi selalu mengganti cara berhitung anak. Banyak metode telah digunakan termasuk lewat peraga. Cuma masalahnya si anak itu tidak aktif. Ketika alat peraga rusak anak akan enggan memakai lagi. Ketika jari anak mulai terlihat aktif. 
 
Ia dan suami melihat sebuah cara mengajar. Ingin mengoptimalkan jari sebagai alat bantu hitung. Rumus- rumus mulai dieksperimen lewat jari jemari. Dia bahkan membawa atribut Jarimatika lengkap. Dari satu bus ke bus lain menyusuri lembaga pendidikan, menawarkan metode ini. 
 
Di rumah, Septi menerapkan metode home schooling dulu buat anaknya. Menurut pemikirannya inilah saat membangun karakter si anak. Di sekolah justru tempat anak bersosialisasi. Karakter menurut dia adalah kemampuan agar si anak percaya diri. Diumur 1 tahun bisa membaca pasti anak semangat.

Usia nol sampai 12 tahun masa tepat membangun karakter. Terutama diawal ketika kita masih bisa pegang sendiri. Umur 13 tahun anak sudah siap bersekolah di luar rumah. Singkat, anak akan bisa hidup mandiri jika sudah berumur 15 tahu. 
 
Prinsip lain adalah anak harus ditangani ahlinya. Hasil kerajin datang ke seminar- seminar pendidikan membuahkan hasil. Agar bisa mengikuti seminar di kampus bahkan membubuhi jabatan dia.

Dia menulis "ibu rumah tangga profesional". Lewat kartu nama unik inilah bisa mengikuti sampai anaka kuliah umum. Tambahan lain menurut dia kalau anak dari kelas 1-6 di SD sama; ini bukan sosialisasi. Menurutnya anak akan minder jikalau masuk ke lingkungan baru. 
 
Sebuah komunitas sama dalam waktu lama itu dianggap tidak efektif. Padahal konsep tersebut dijalankan baik di desa sampai di kota.

Merintis Usaha


Melalui marketing dibukukan Jarimatika menyebar. Bak virus tanggapan masyarakat luas ternyata antusias. Tapi apakah menguntungkan? Tentu, lewat buku tersebut metode ini menjual, di tahun 2003 bertemulah dia dengan seorang wanita. 
 
Inilah awal Jarimatika menyebar lebih ke tingkat selanjutnya. "Kita enggak kepikiran sampai sejauh itu," ujarnya. Dia sendiri waktu itu bahkan tidak punya komputer. Mulai satu per- satu rumus dijadikan satu.

Dia mulai mengumpulkan flip card berisi rumus. Jadilah sebuah buku dan mulai dijual ke masyarakat luas. Sampai kita sekarang mengenal apa itu Jarimatika. Lewat buku Jarimatika, Septi mulai diminati untuk maju menjadi pembicara aneka seminar. 
 
Buku Jarimatika bahkan terjual 130.000 eksemplar di pasar. Namanya sudah wara- wiri di aneka seminar Jabodetabek. Tahun 2005 Jarimatika sudah dipatenkan buat melindungi hak cipta.

Di tahun 2006, kabar tidak enak datang, ketika itu sang ibu mertua sakit. Dia harus dibawa ke rumah sakit Elizabeth Semarang. Didasari karena keluarga Septi lebih mudah bergerak. Septi kembali ke Salatiga untuk merawat sang ayah selama satu bulan. 
 
Tinggal di Salatiga usaha miliknya mulai dari nol kembali. Pasalnya uang tabungan habis untuk merawat ayah mertuanya. Ia mengalami keraguan akan masa depan Jarimatika.

Beruntung media mulai meliput sukses Jarimatika. Beruntung lagi, suami menenangkan berkata, "Bersungguh-sungguhlah kamu pada Allah, Rasulullah, bapak dan ibu. Ketika kamu bersungguh-sungguh, maka masalah dunia, Allah yang mengatur." 
 
Berkat media masa nama Jarimatika masih bergaung. Menggaung sampai ke Pantura, dari Solo, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Bisa diterima siapa saja, bisa cepat tersebar 33 kota (saat itu). Waralaba tidak pernah terpikir oleh Septi. Untuk itulah biaya waralaba Jarimatika sangat murah. 
 
Namun ada hal untik terjadi ketika biayanya terlalu murah. Ketika waralaba cuma 3 jutaan malah komitmen mitar turun. Bahkan dianggap bukan lagi investasi bisnis. Ini membuat mereka bekerja setengah hati. Justru ketika naik sampai Rp.9 jutaan malah berbalik. 
 
Melalui waralaba sudah bisa membantu jalan dan bahkan membayar hutang. Hutang bank untuk pengembangan Jarimatika terbayar lunas. Dia berani mempersentasikan bisnis ini ke bank untuk menutup hutang. 
 
Tiga bank dikunjungi olehnya dan dua menolak, alasannya apalagi kalau bukan Septi tidak punya agunan. "Saya tidak menyangka bunga bank sangat memeberatkan," ujar Septi. Dia bisa bolak- balik Salatiga- Semarang. 
 
Tidak perlu modal proposal cukup kliping media masa. Hingga ada satu bank yang mau. Bahkan bank tersebut memberi bantuan tanpa agunan. Utang sudah tertutup tinggal bagaimana membesarkan Jarimatika. Inilah jalan penemu Jarimatika yang menjadi pengajar dan sekaligus pengusaha sukses.

Strategi Bisnis Asuransi Generali di Pasar Indonesia

Profil Pengusaha Edy Tuhirman


strategibisnis.png

Startegi bisnis asuransi Generali di Indonesia. Mereka menunjuk  Direktur Utama yang baru. Direktur utama sekaligus penguat keberadaan perusahaan di negeri Indonesia. Dia adalah seorang mantan engineering di Papua sana. 
 
Sampai akhirnya, Edy Tuhirman tersesat masuk ke dunia perbankan dan asuransi. Pria kelahiran 19 Maret 1964, yang punya trik jitu membangun ide baru.

Bisnis Asuransi

 
Dia mensarankan kamu perbanyakkah traveling dan ide itu akan datang sendiri. Hasilnya bisa dilihat dari kinerja asuransi Generali Indonesia. Meski persaingan asuransi Indonesia terbilang ketat. Generali termasuk terkuat. 
 
Salah satu ide bisnisnya yaitu lewat asuransi traveler. Enaknya menurut Edy besar premi tergantung panjang perjalanan. Lewat iTravel ini diharapkan mampu mengkover traveler. Ini sejalab dengan hobi travel Edy.

Layanan iTravel meliputi layanan rawat inap, perawatan gigi paca kecelakaan, evakuasi, pemulangan, dan lain- lain.

"...pemegang polis dapat langsung menghubungi nomor telepon yang kami berikan dan orang kami akan memandunya," kata Edy.

Tahun 2008, ketika dirinya dan keluarga jalan- jalan, dari sana ditemukanlah produk unitlink. Lewat traveling Generali Indonesia mampu maraup untung besar. Traveling juga termasuk caranya menatap masa depan dari ekonomi Indonesia. 
 
Istilahnya semakin baik ekonomi semakin banyak orang berpikir membeli asuransi. Nah, selain mencari ide bisnis, traveling menurut Edy juga hobi. Disana dia belajar tentang fotografi dan menikmati hidup.
 
Generali Indonesia sebenarnya sudah berdiri sejak 1994. Dimana namanya saat itu masih Asuransi Jiwa Arta Mandiri. Hingga 1999, nama perusahaan berubah Asuransi Jiwa AMP Panin Life. Kemudian berubah lagi ketika diambil alih oleh Generalis Asia N.V. 
 
Sosok Edy sendiri menjadi dibalik bangkitnya Generali dari nol. Dia dulunya adalah mantan teknisi di Papua. Masuk ke perbankan dan Asuransi dipercaya ekspansif untuk Generalis.

"Saya mulai di industri asuransi sejak 6 tahun lalu, memulai Generali dari nol hingga membesarkan sampai sekarang," tuturnya.

Dia menyebut sukses bisnis dimulai dari bermimpi. Kemudian kamu harus punya sebuah bisnis model. Apa yang tengah kamu kerjakan dan akan capai kelak. Edy mengibaratkan usahanya seperti tim sepak bola. Ia lantas menambahkan, "cari orang yang tepat di posisi tersebut." Prestasi terbesar? 
 
Dia mengisahkan tentang kisahs seorang pengusaha siomay asal Semarang. Berkat Generali, dia sekarang bisa sukses bahkan punya mobil. Mimpi Edy layaknya CEO lain yakni membesarkan perusahaan. Utamanya tentang bagaimana asuransi bisa mengkover semua hal. 
 
Dia meyakini lewat asuransi keluarga akan kuat. Jikalau keluarga telah terlindungi dari asuransi maka Indonesia akan kuat. Perusahaan asuransi asal Italia ini memang bertumbuh pesat.  Sejak mulai masuk 2009, lewat tangan dingin dari Edy, peringkat Generali masuk enam besar dan premi tumbuh sampai Rp.500 miliar. 
 
Tumbuh dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Dari September 2011, menurut Edy kepada Majalah SWA, pendapatan premi dari Generali mencapai Rp.400 miliar. Atau itu tumbuh 95% dibanding harapan Edy Tuhirman dari tahun sebelumnya.

Untuk mencapai angka lebih tinggi. Dia mengatakan Generali akan fokus mengambangkan satu- per satu. Ia tidak langsung menggarap saluran distribusi yang sudah ada. Untuk pertama kali, Generali langsung tancap gas lewat asuransi kesahatan employee benefit. 
 
Cuma bermodal fokus itu saja sudah bisa masuk ke 6 besar perusahaan asuransi. Tahun 2010 Generali mulai menggarap channel asuransi seperti kerja sama dengan satu bank. Melalui strategi cabang asuransi lewat bank terbukti manjur. 
 
Kerja sama ini menaikan premi 55% dari pihak mitra banka. Untuk saat ini, Generali fokus bermitra dengan empat bank, utamanya yaitu ANZ, DBS, dan BTPN. Edy menekankan ini bukan kerja sama jangka pendek. Generali aktif menyeleksi calon mitra bank sendiri. 
 
Di tahun 2011, konsep agensi asuransi dikembangkan dan booming besar. Total 2000 agen berlisensi resmi.

Hobi Makan Bisnis Restoran Jepang

Profil Pengusaha Fransisca Tjong


hobimakan.png

Hobi makan bisnis restoran Jepang. Mengawali bisnis kuliner karena hobi makan. Fransisca Tjong mencoba membuka wawasan baru kita soal masakan Jepang. Melalui restoran Roba Yakitori, Fransisca mengaku awalnya cuma coba- coba. 
 
Mulai berbisnis kuliner dan ternyata malah mampu membuka banyak peluang. Sukses Roba membawa namanya menjadi salah satu CEO dari group bisnis terkemuka.
 

Usaha Hobi Makan


Dia adalah salah satu pendiri Pancious Group. Bersama PT. Tri Samudra Sentosa baru- baru ini membuka anak usaha lain. Usaha masakan Taiwan waralaba asal Singapura, Xi Men Ding di Senayan City. 
 
Bisnis berumur 18 tahun yang dibawa Fransisca, mencoba menjadi pioner restoran Taiwan. Setelah sebelumnya sukses Roba Yakitori lewat aneka masakan Jepang. Fransisca mengaku memulai usaha kuliner karena coba- coba saja. 
 
Dia memang hobi makan. Bahkan bertraveling keliling Indonesia, bahkan dunia cuma buat makanan. Tetapi berbeda dengan kita kebanyakan membuahkan hasil selera kuliner. Ia yakin membuka usaha masakan Jepang berdasar lidahnya.

"Saya memulai bisnis kuliner dari hobi coba-coba semua makanan dari satu kota ke kota lain hingga luar negeri," tuturnya kepada Bisnis.com

Dalam artikel, Fransisca mengaku sebelum mantap, usaha pertama dilakukanya adalah mencicipi aneka rasa. Ia menjajal aneka makanan baik tradisional ataupun asing. Dia tau jenis kuliner apa diinginkan olehnya. Tahap selanjutnya adalah memilih diantara sekian banyak. 
 

Bisnis Restoran Jepang

 
Siska menyebut tidak cuma selera pribadi. Dia harus tau apa yang belum ada dipasaran. Bersama saudara berkeliling menikmati aneka kuliner. Dia bersama saudari kembarnya, Veronica; adik laki- lakinya, Fredy; dan seorang sepupu bernama Siska. 
 
Mereka sepakat pergi bersama makan- makan berkala. Hingga mereka mulai menyadari kegiatan mereka membuang waktu. "Buang- buang waktu" tetapi tidak menghasilkan. Padahal ketika Fransisca mulai membuka matanya lebar- lebar; ia melihat peluang bisnis ada disana.

Mereka hobi makan bahkan sampai ke Australia. Bersama, tidak cuma mencari cita rasa, tetapi tempat menarik dan pelayanan. Tanpa terasa mereka mendapat banyak ilmu tentang caranya mengelola restoran. "Kami banyak ilmu, inspirasi, untuk membuka usaha kuliner," jelasnya. 
 
Dan, untungnya mereka juga hobi memasak selain makan. Sekembalinya ke Indonesia, di tahun 2006, Fransisca mulai mengajak berbicara bisnis serius.

"Kami membuat konsep, yang dijual pancake," lanjutnya. Dibuka tahun 2007, usaha pancake sederhana tersebut ternyata langsung booming. Bahkan mereka mantap meminjam uang modal masing- masing. Uang modal dari orang tua dijadikan cabang kedua di Pacific Place. 
 
Walau terkesan cepat sukses tetapi jalan itu tidak semuanya. Fransisca menjelaskan membuat pancake penuh trial and error. Masa mencoba tersebut diabadikan lewat kenangan. Dia menyabut dulu tidak punya resep khusus. 
 
Pengusaha wanita ini memang termasuk orang yang percaya faktor X. Mau dihitung ataupun direncanakan kalau tidak ada faktor tersebut; tidak jadi. Rumus faktor X tersebut baru bisa kamu lihat ketika dijalani.

Usaha bernama Pancious ini semula cuma dikerjakan seminimal mungkin. Dimana mereka memilih agar tidak punya banyak karyawan disana. Sehingga di cabang kedua, dia bersama saudaranya harus rela ikut masuk ke dapur. 
 
Urusan cuci piring hari ini, besok Fransisca giliran menjadi kasir, atau siapa saja bisa bergantian terus. Selama empat bulan pertama cabang kedua menjadi lumrah. Passion hobi mereka menjadi landasan kuat.

So, meski susah tetap dijalani dengan ceria lewat senyum, alhasil Pancious sukses memiliki 10 gerai selama 8 tahun dan menjadi satu group usaha.
 
Menurut Fransisca paling penting kita musti tahu dimana. Letaknya bakat kita itu dimana, lantas dimatangkan lagi sedetail mungkin. Aplikasikan hal tersebut di bisnis real kita. Kalau bicara modal memang menjadi satu alasan banyak pengusaha. 
 
Fransisca sendiri menganggap soal modal bisa bersumber dari mana saja. Bisa jadi lewat rekanan, pinjaman bank, dan lain sebagainya.

"Tapi, punya banyak uang sebanyak apapun, akan percuma kalau tidak tahu mau apa," jelas Fransisca.

Secara jujur awal sekali Pancious memang modal kecil. Berkat kerja keras munculah kepercayaan baik dari orang tua atau pihak ketiga. Adapun soal manajeman perusahaan, Fransisca mensiasati melalui perekrutan orang- orang profesional dibidangnya. 
 
Selepas bisnis kita berjalan baik. Ada baiknya mulai memikirkan mau dibawa kemana. Termasuk memasuk tenaga dalam jajaran kepimpinan perusahaan kamu. Ini dibuktikan lewat perjalanan Pancious menjadi group bisnis. 
 
Setelah 8 tahun eksis, dari Pancious Group, di awal tahun 2015 -an, membidik pasar bisnis kuliner Jepang. Pancake yang kebaratan dipadukan kuliner khas Jepang. "Kebetulan kami lumayan sering ke Jepang," kenang Fransisca. 
 
Kesenangan akan kuliner Yokitari itu lalu diabadikan lewat usaha baru. Ya, bisnis baru Fransisca selanjutnya adalah sate khas Jepang. Kesolitan tim kerja pendiri Pancious terbukti. Lewat pembicaraan bersama terbentuklah kesepakatan untuk menyajikan masakan Jepang. 
 
Manajeman matang menjadi perusahaan makin ekspansif juga. Termasuk mau mendatangkan chef asli Jepang. Ini dimaksudkan agar tersaji masakan berkualitas. "Ini berkaitan dengan maintaining, tentang kualitas makanan yang harus dijaga," ujarnya. Adapula training agar standar perusahaan terjaga.

Baggu Bags Jualan Online Shop Melegenda

Kisah Sukses Toko Online Tas


onlineshop.png
 
 
 
Jualan online shop melegenda Baggu Bags. Menurutu empunya bisnis tas tidak ada rugi. Tidak akan pernah mati sepanjang jalan. Tentu saja kita harus siap secara matang untuk persaingan ketat. Itulah penjelasan singkat Ion tentang bisnis Baggu Bags. 
 
Wanita yang belum jelas kami ketehaui identitasnya. Namun, menurut Warta Wirausaha, adalah ibu satu orang anak yang dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan tas.
 

Bisnis Online Shop


Mengetahui untungnya, dia bersama sang suami memulasi usaha ini dari nol. Dia bermodal kepercayaan saja. Bisnis tas kulit produksi sendiri yang punya pasar tersendiri. Ion mendirikan perusahaan tas pada 2001. 
 
Ia berbekal ilmu pengetahuan dari pengalaman masa lalu. "Asalkan kita terus berinovasi dan memiliki strategi pemasaran yang baik," jelas Ion.

Apakah semudah itu?

Fakta Ion tidak lah semudah dibayangkan. Perjalanan selama tiga tahun, Ion harus rela berkeliling door-to- door. Berjualan dari satu rumah ke rumah lain. Dia mengadaptasi startegi marketing klasik. 
 
Dia menuturkan meski klasik atau kuno tetapi ampuh. Startegi lain adalah penguatan bahwa produk Baggu Bags merupakan hasil rancangan sendiri. Bahkan, Ion meyakinkan orang mereka punya perusahaan sendiri. 

Ini menjadikan tas mereka tidak pasaran. Alhasil, penjualan Baggu Bags diluar dugaan, sukses door-to-door kemudian disusul menyambangi perusakaan lain.

"Aku memberanikan diri saja. Aku sama sekali tidak punya jaringan waktu itu. Kira- kira 15 kantor yang aku sambangi" kata Ion.

Kunci sukses Baggu Bags ada pada keyakinan sang pemilik. Untuk klien pertama tuturnya, ada perusahaan yang bernama ACE Hardware. Awalan mereka menjual tas milik Ion dengan mereka mereka. 
 
Ya, diawal itu produk Baggu Bags belum tercipta. Nama tersebut kemudian disematkan sendiri. Tentu agar bisa menunjang konsep bisnis mereka selanjutnya.

Pemasaran berikut meliputi pameran- pameran dan online. Namun, menurut Ion waktu terbuang percuma ketika mengadakan pameran. Dia memutuskan menjual melalui online saja. 
 
Bagi wanita yang juga pernah bekerja sebagai marketing ini, menjual lewat online membuatnya mempunyai banyak waktu luang untuk keluarga. Baggu Bags memang tidak memiliki model umum. Ion merancangnya aneka model menurut konsep sendiri.

Untuk meyakinkan konsumen termasuk memberikan garansi. Selama satu tahun kalau produk Baggu Bags rusak; langsung diperbaiki.

"Kalau resleting atau aksesoris lainnya rusak kami bisa memperbaikinya," tutur Alumni Universitas Indonesia Jurusan Hukum.

Tidak menyakiti kepercayaan konsumen merupakan kunci Baggu Bags. Semua produk merupakan yang terbaik dan terjangkau. Baggu Bags dijual antara harga Rp.150- 350 ribu. Variasi Baggu Bags buatan Ion, meliputi pemilihan bahan kulit domba, kambing, dan sapi. 
 
Untuk berproduksi Ion dibantu oleh 15 karyawan. Dalam sebulan menghasilkan laba Rp.10 juta- Rp.15 juta. Seminggu ia memproduksi 400 buah tas aneka bentuk.

Tetapi itu semua belum memuaskan hasratnya dalam berekspansi. Meski sudah punya banyak reseller masih belum cukup. Selanjutnya, adalah keinginan untuk memiliki galeri sendiri khusus Baggu Bags. 
 
Ia masih yakin betul akan bertahan, karena Baggu Bags memang memilik ciri khas dibanding produk luaran sana.

Catatan: ketika kami mencari siapa sosok Ion. Hal mengejutkan kami temukan bahwa "online shop ini sudah tutup". Bahkan ditengarai terlibat penipuan dari testimoni Facebook. Melalui akun Baggu Bags di Facebook, kami menemukan situs toko onlinenya www.baggu-bags.com sudah tutup. 
 
Atau, apakah ini ada hubungan dengan pemilik merek Baggu milik Emily Sugihara.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba