Strategi Bisnis Asuransi Generali di Pasar Indonesia

Profil Pengusaha Edy Tuhirman


strategibisnis.png

Startegi bisnis asuransi Generali di Indonesia. Mereka menunjuk  Direktur Utama yang baru. Direktur utama sekaligus penguat keberadaan perusahaan di negeri Indonesia. Dia adalah seorang mantan engineering di Papua sana. 
 
Sampai akhirnya, Edy Tuhirman tersesat masuk ke dunia perbankan dan asuransi. Pria kelahiran 19 Maret 1964, yang punya trik jitu membangun ide baru.

Bisnis Asuransi

 
Dia mensarankan kamu perbanyakkah traveling dan ide itu akan datang sendiri. Hasilnya bisa dilihat dari kinerja asuransi Generali Indonesia. Meski persaingan asuransi Indonesia terbilang ketat. Generali termasuk terkuat. 
 
Salah satu ide bisnisnya yaitu lewat asuransi traveler. Enaknya menurut Edy besar premi tergantung panjang perjalanan. Lewat iTravel ini diharapkan mampu mengkover traveler. Ini sejalab dengan hobi travel Edy.

Layanan iTravel meliputi layanan rawat inap, perawatan gigi paca kecelakaan, evakuasi, pemulangan, dan lain- lain.

"...pemegang polis dapat langsung menghubungi nomor telepon yang kami berikan dan orang kami akan memandunya," kata Edy.

Tahun 2008, ketika dirinya dan keluarga jalan- jalan, dari sana ditemukanlah produk unitlink. Lewat traveling Generali Indonesia mampu maraup untung besar. Traveling juga termasuk caranya menatap masa depan dari ekonomi Indonesia. 
 
Istilahnya semakin baik ekonomi semakin banyak orang berpikir membeli asuransi. Nah, selain mencari ide bisnis, traveling menurut Edy juga hobi. Disana dia belajar tentang fotografi dan menikmati hidup.
 
Generali Indonesia sebenarnya sudah berdiri sejak 1994. Dimana namanya saat itu masih Asuransi Jiwa Arta Mandiri. Hingga 1999, nama perusahaan berubah Asuransi Jiwa AMP Panin Life. Kemudian berubah lagi ketika diambil alih oleh Generalis Asia N.V. 
 
Sosok Edy sendiri menjadi dibalik bangkitnya Generali dari nol. Dia dulunya adalah mantan teknisi di Papua. Masuk ke perbankan dan Asuransi dipercaya ekspansif untuk Generalis.

"Saya mulai di industri asuransi sejak 6 tahun lalu, memulai Generali dari nol hingga membesarkan sampai sekarang," tuturnya.

Dia menyebut sukses bisnis dimulai dari bermimpi. Kemudian kamu harus punya sebuah bisnis model. Apa yang tengah kamu kerjakan dan akan capai kelak. Edy mengibaratkan usahanya seperti tim sepak bola. Ia lantas menambahkan, "cari orang yang tepat di posisi tersebut." Prestasi terbesar? 
 
Dia mengisahkan tentang kisahs seorang pengusaha siomay asal Semarang. Berkat Generali, dia sekarang bisa sukses bahkan punya mobil. Mimpi Edy layaknya CEO lain yakni membesarkan perusahaan. Utamanya tentang bagaimana asuransi bisa mengkover semua hal. 
 
Dia meyakini lewat asuransi keluarga akan kuat. Jikalau keluarga telah terlindungi dari asuransi maka Indonesia akan kuat. Perusahaan asuransi asal Italia ini memang bertumbuh pesat.  Sejak mulai masuk 2009, lewat tangan dingin dari Edy, peringkat Generali masuk enam besar dan premi tumbuh sampai Rp.500 miliar. 
 
Tumbuh dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Dari September 2011, menurut Edy kepada Majalah SWA, pendapatan premi dari Generali mencapai Rp.400 miliar. Atau itu tumbuh 95% dibanding harapan Edy Tuhirman dari tahun sebelumnya.

Untuk mencapai angka lebih tinggi. Dia mengatakan Generali akan fokus mengambangkan satu- per satu. Ia tidak langsung menggarap saluran distribusi yang sudah ada. Untuk pertama kali, Generali langsung tancap gas lewat asuransi kesahatan employee benefit. 
 
Cuma bermodal fokus itu saja sudah bisa masuk ke 6 besar perusahaan asuransi. Tahun 2010 Generali mulai menggarap channel asuransi seperti kerja sama dengan satu bank. Melalui strategi cabang asuransi lewat bank terbukti manjur. 
 
Kerja sama ini menaikan premi 55% dari pihak mitra banka. Untuk saat ini, Generali fokus bermitra dengan empat bank, utamanya yaitu ANZ, DBS, dan BTPN. Edy menekankan ini bukan kerja sama jangka pendek. Generali aktif menyeleksi calon mitra bank sendiri. 
 
Di tahun 2011, konsep agensi asuransi dikembangkan dan booming besar. Total 2000 agen berlisensi resmi.

Hobi Makan Bisnis Restoran Jepang

Profil Pengusaha Fransisca Tjong


hobimakan.png

Hobi makan bisnis restoran Jepang. Mengawali bisnis kuliner karena hobi makan. Fransisca Tjong mencoba membuka wawasan baru kita soal masakan Jepang. Melalui restoran Roba Yakitori, Fransisca mengaku awalnya cuma coba- coba. 
 
Mulai berbisnis kuliner dan ternyata malah mampu membuka banyak peluang. Sukses Roba membawa namanya menjadi salah satu CEO dari group bisnis terkemuka.
 

Usaha Hobi Makan


Dia adalah salah satu pendiri Pancious Group. Bersama PT. Tri Samudra Sentosa baru- baru ini membuka anak usaha lain. Usaha masakan Taiwan waralaba asal Singapura, Xi Men Ding di Senayan City. 
 
Bisnis berumur 18 tahun yang dibawa Fransisca, mencoba menjadi pioner restoran Taiwan. Setelah sebelumnya sukses Roba Yakitori lewat aneka masakan Jepang. Fransisca mengaku memulai usaha kuliner karena coba- coba saja. 
 
Dia memang hobi makan. Bahkan bertraveling keliling Indonesia, bahkan dunia cuma buat makanan. Tetapi berbeda dengan kita kebanyakan membuahkan hasil selera kuliner. Ia yakin membuka usaha masakan Jepang berdasar lidahnya.

"Saya memulai bisnis kuliner dari hobi coba-coba semua makanan dari satu kota ke kota lain hingga luar negeri," tuturnya kepada Bisnis.com

Dalam artikel, Fransisca mengaku sebelum mantap, usaha pertama dilakukanya adalah mencicipi aneka rasa. Ia menjajal aneka makanan baik tradisional ataupun asing. Dia tau jenis kuliner apa diinginkan olehnya. Tahap selanjutnya adalah memilih diantara sekian banyak. 
 

Bisnis Restoran Jepang

 
Siska menyebut tidak cuma selera pribadi. Dia harus tau apa yang belum ada dipasaran. Bersama saudara berkeliling menikmati aneka kuliner. Dia bersama saudari kembarnya, Veronica; adik laki- lakinya, Fredy; dan seorang sepupu bernama Siska. 
 
Mereka sepakat pergi bersama makan- makan berkala. Hingga mereka mulai menyadari kegiatan mereka membuang waktu. "Buang- buang waktu" tetapi tidak menghasilkan. Padahal ketika Fransisca mulai membuka matanya lebar- lebar; ia melihat peluang bisnis ada disana.

Mereka hobi makan bahkan sampai ke Australia. Bersama, tidak cuma mencari cita rasa, tetapi tempat menarik dan pelayanan. Tanpa terasa mereka mendapat banyak ilmu tentang caranya mengelola restoran. "Kami banyak ilmu, inspirasi, untuk membuka usaha kuliner," jelasnya. 
 
Dan, untungnya mereka juga hobi memasak selain makan. Sekembalinya ke Indonesia, di tahun 2006, Fransisca mulai mengajak berbicara bisnis serius.

"Kami membuat konsep, yang dijual pancake," lanjutnya. Dibuka tahun 2007, usaha pancake sederhana tersebut ternyata langsung booming. Bahkan mereka mantap meminjam uang modal masing- masing. Uang modal dari orang tua dijadikan cabang kedua di Pacific Place. 
 
Walau terkesan cepat sukses tetapi jalan itu tidak semuanya. Fransisca menjelaskan membuat pancake penuh trial and error. Masa mencoba tersebut diabadikan lewat kenangan. Dia menyabut dulu tidak punya resep khusus. 
 
Pengusaha wanita ini memang termasuk orang yang percaya faktor X. Mau dihitung ataupun direncanakan kalau tidak ada faktor tersebut; tidak jadi. Rumus faktor X tersebut baru bisa kamu lihat ketika dijalani.

Usaha bernama Pancious ini semula cuma dikerjakan seminimal mungkin. Dimana mereka memilih agar tidak punya banyak karyawan disana. Sehingga di cabang kedua, dia bersama saudaranya harus rela ikut masuk ke dapur. 
 
Urusan cuci piring hari ini, besok Fransisca giliran menjadi kasir, atau siapa saja bisa bergantian terus. Selama empat bulan pertama cabang kedua menjadi lumrah. Passion hobi mereka menjadi landasan kuat.

So, meski susah tetap dijalani dengan ceria lewat senyum, alhasil Pancious sukses memiliki 10 gerai selama 8 tahun dan menjadi satu group usaha.
 
Menurut Fransisca paling penting kita musti tahu dimana. Letaknya bakat kita itu dimana, lantas dimatangkan lagi sedetail mungkin. Aplikasikan hal tersebut di bisnis real kita. Kalau bicara modal memang menjadi satu alasan banyak pengusaha. 
 
Fransisca sendiri menganggap soal modal bisa bersumber dari mana saja. Bisa jadi lewat rekanan, pinjaman bank, dan lain sebagainya.

"Tapi, punya banyak uang sebanyak apapun, akan percuma kalau tidak tahu mau apa," jelas Fransisca.

Secara jujur awal sekali Pancious memang modal kecil. Berkat kerja keras munculah kepercayaan baik dari orang tua atau pihak ketiga. Adapun soal manajeman perusahaan, Fransisca mensiasati melalui perekrutan orang- orang profesional dibidangnya. 
 
Selepas bisnis kita berjalan baik. Ada baiknya mulai memikirkan mau dibawa kemana. Termasuk memasuk tenaga dalam jajaran kepimpinan perusahaan kamu. Ini dibuktikan lewat perjalanan Pancious menjadi group bisnis. 
 
Setelah 8 tahun eksis, dari Pancious Group, di awal tahun 2015 -an, membidik pasar bisnis kuliner Jepang. Pancake yang kebaratan dipadukan kuliner khas Jepang. "Kebetulan kami lumayan sering ke Jepang," kenang Fransisca. 
 
Kesenangan akan kuliner Yokitari itu lalu diabadikan lewat usaha baru. Ya, bisnis baru Fransisca selanjutnya adalah sate khas Jepang. Kesolitan tim kerja pendiri Pancious terbukti. Lewat pembicaraan bersama terbentuklah kesepakatan untuk menyajikan masakan Jepang. 
 
Manajeman matang menjadi perusahaan makin ekspansif juga. Termasuk mau mendatangkan chef asli Jepang. Ini dimaksudkan agar tersaji masakan berkualitas. "Ini berkaitan dengan maintaining, tentang kualitas makanan yang harus dijaga," ujarnya. Adapula training agar standar perusahaan terjaga.

Baggu Bags Jualan Online Shop Melegenda

Kisah Sukses Toko Online Tas


onlineshop.png
 
 
 
Jualan online shop melegenda Baggu Bags. Menurutu empunya bisnis tas tidak ada rugi. Tidak akan pernah mati sepanjang jalan. Tentu saja kita harus siap secara matang untuk persaingan ketat. Itulah penjelasan singkat Ion tentang bisnis Baggu Bags. 
 
Wanita yang belum jelas kami ketehaui identitasnya. Namun, menurut Warta Wirausaha, adalah ibu satu orang anak yang dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan tas.
 

Bisnis Online Shop


Mengetahui untungnya, dia bersama sang suami memulasi usaha ini dari nol. Dia bermodal kepercayaan saja. Bisnis tas kulit produksi sendiri yang punya pasar tersendiri. Ion mendirikan perusahaan tas pada 2001. 
 
Ia berbekal ilmu pengetahuan dari pengalaman masa lalu. "Asalkan kita terus berinovasi dan memiliki strategi pemasaran yang baik," jelas Ion.

Apakah semudah itu?

Fakta Ion tidak lah semudah dibayangkan. Perjalanan selama tiga tahun, Ion harus rela berkeliling door-to- door. Berjualan dari satu rumah ke rumah lain. Dia mengadaptasi startegi marketing klasik. 
 
Dia menuturkan meski klasik atau kuno tetapi ampuh. Startegi lain adalah penguatan bahwa produk Baggu Bags merupakan hasil rancangan sendiri. Bahkan, Ion meyakinkan orang mereka punya perusahaan sendiri. 

Ini menjadikan tas mereka tidak pasaran. Alhasil, penjualan Baggu Bags diluar dugaan, sukses door-to-door kemudian disusul menyambangi perusakaan lain.

"Aku memberanikan diri saja. Aku sama sekali tidak punya jaringan waktu itu. Kira- kira 15 kantor yang aku sambangi" kata Ion.

Kunci sukses Baggu Bags ada pada keyakinan sang pemilik. Untuk klien pertama tuturnya, ada perusahaan yang bernama ACE Hardware. Awalan mereka menjual tas milik Ion dengan mereka mereka. 
 
Ya, diawal itu produk Baggu Bags belum tercipta. Nama tersebut kemudian disematkan sendiri. Tentu agar bisa menunjang konsep bisnis mereka selanjutnya.

Pemasaran berikut meliputi pameran- pameran dan online. Namun, menurut Ion waktu terbuang percuma ketika mengadakan pameran. Dia memutuskan menjual melalui online saja. 
 
Bagi wanita yang juga pernah bekerja sebagai marketing ini, menjual lewat online membuatnya mempunyai banyak waktu luang untuk keluarga. Baggu Bags memang tidak memiliki model umum. Ion merancangnya aneka model menurut konsep sendiri.

Untuk meyakinkan konsumen termasuk memberikan garansi. Selama satu tahun kalau produk Baggu Bags rusak; langsung diperbaiki.

"Kalau resleting atau aksesoris lainnya rusak kami bisa memperbaikinya," tutur Alumni Universitas Indonesia Jurusan Hukum.

Tidak menyakiti kepercayaan konsumen merupakan kunci Baggu Bags. Semua produk merupakan yang terbaik dan terjangkau. Baggu Bags dijual antara harga Rp.150- 350 ribu. Variasi Baggu Bags buatan Ion, meliputi pemilihan bahan kulit domba, kambing, dan sapi. 
 
Untuk berproduksi Ion dibantu oleh 15 karyawan. Dalam sebulan menghasilkan laba Rp.10 juta- Rp.15 juta. Seminggu ia memproduksi 400 buah tas aneka bentuk.

Tetapi itu semua belum memuaskan hasratnya dalam berekspansi. Meski sudah punya banyak reseller masih belum cukup. Selanjutnya, adalah keinginan untuk memiliki galeri sendiri khusus Baggu Bags. 
 
Ia masih yakin betul akan bertahan, karena Baggu Bags memang memilik ciri khas dibanding produk luaran sana.

Catatan: ketika kami mencari siapa sosok Ion. Hal mengejutkan kami temukan bahwa "online shop ini sudah tutup". Bahkan ditengarai terlibat penipuan dari testimoni Facebook. Melalui akun Baggu Bags di Facebook, kami menemukan situs toko onlinenya www.baggu-bags.com sudah tutup. 
 
Atau, apakah ini ada hubungan dengan pemilik merek Baggu milik Emily Sugihara.

Jual Kerupuk Ceker Usaha Tanpa Merek

Profil Pengusaha Nyoman Wahyuliani


usahakerupukceker.png
 
Usaha tanpa merek atau berjualan sistem curah. Ia jual kerupuk ceker tanpa merek. Kreatifitas memang tanpa batas. Bisa menjadi penopang kehidupan kita sampai esok. Tidak sedikit jiwa kreatifitas terlahir dari kesederhanaan. 
 
Bisnis kreatif yang mengambil ceruk pasar meski dalam kekurangan. Contoh nyata ya Nyoman Wahyuliani, seorang ibu muda yang bertahun- tahun menggeluti satu usaha sendiri; usaha pembuatan cemilan kerupuk ceker.
 

Usaha Tanpa Merek


Melalui sentuhan tangan Wahyuliani menjadi epik. Usaha turun- temurun yang diwariskan oleh sang mertua bisa tetap bertahan. Jika dilihat kemasannya sederhana, tetapi tidak pernah tidak laku di pasaran. Pasar tidak jenuh akan produk kerupuk ceker ini. 
 
Bahkan permintaan terus meningkat setiap tahun. Serbuan cemilan asing atau lokal berkemasan modern tidak menyurutkan. Mereka tidak mampu menggeser gurinya kerupuk ceker.

Selama kualitas produk terjaga dan tidak tergantikan. Kemasan memang tidak masalah, jika kamu pandai- pandai mengambil pasar. Wahyuliani memilih berjualan dari warung ke warung. Menjual kerupuk ceker tanpa ada merek dagang. Usaha tersebut menyasar mereka kelas menengah ke bawah. 
 
Hasilnya? Dia tidak pernah telat mendapat bayaran.



Wahyuliani tidak memaksa harus masuk ke supermarket. Dalam benaknya masuk pasar supermarket butuh modal besar. Tetapi keluarnya tidak mencukupi kebutuhan produksi. Harus memasang merek dan membuat kemasan baik. 
 
Tetapi disisi lain, dia tidak bisa mendapatkan uang sebelum dagangan laku. Bahkan meski ia dibujuk bantuan modal; tidak bergeming. 

Koperasi Srikandi pernah menawari ibu emapat anak ini modal. Dengan syarat harus mau memperbaiki dari segi kemasan. Namun itu belum juga kesampaian. Soal modal sendiri tidak menjadi kendala. Sekali produksi membutuhkan modal Rp.120 ribu. 
 
Itu untuk membeli 10- 12kg ceker ayam. Juga sudah termasuk pembelian bumbu. Ia juga cukup memakai peralatan dapur biasa. Untung yang bisa didapat sekali berproduksi Rp.100 ribu.
 
Mendapatkan bahan baku ceker ayam tergolong mudah. Dia mendapat dari tempat pemotongan di  sekitar Paguyungan. Bahan baku sudah tersedia dalam jumlah cukup. Harga bahan baku juga sudah terjangkau. 
 
Dia membandingkan dengan harga daging ayam; ceker ayam jauh lebih murah. Ditingkat pengecer harga jualnya kisaran Rp.10 ribu per- kilo. Harga semakin murah jika punya koneksi membeli langsung.

"Bahan baku selalu saya dapatkan di tempat pemotongan ayam. Dalam sekali produksi saya hanya bisa mengolah 10-12 kg ceker ayam mentah," tutur Wahyuliani.

Pembuatan kerupuk ceker akan dikerjakan oleh dia dan kaluarga. Dari proses paling awal hingg akhir sudah dihafal diluar kepala. Dimulai dari membersihkan ceker dari kotoran, kuku, kulit yang berwarna kekuningan, yang terkadang terbawa dikulit ceker. 
 
Usai dicuci bersih tinggal masuk tahap perebusan. Tahap inilah yang menjadi tahap penting dalam proses pemasakan. Ceker ayam musti direbus dengan tingkat kematengan pas tidak kurang. Kalau kurang matang maka akan susah memisahkan tulang. 
 
Kalau terlalu matang Wahyuliani mengingatkan itu akan hancur. Selepas direbus kemudian ditiriskan sambi diangin- anginkan. Barulah selepas itu masuk ke tahap pemisahan tulang. Menurut wanita 38 tahun ini, menjadi bagian tersulit dan memakan tenaga lebih banyak. 
 
"Biasanya saat mengerjakan proses ini saya dibantu oleh suami," tuturnya.

Proses pembubutan tulang itulah paling susah. Dia menyebut bahwa ini tersulit, apalagi ketika pesanan datang banyak. Ceker ayam yang telah bersih dari tulangnya diberi bumbu. Proses pembumbuan gampang loh cuma pakai bawang putih, garam, dan penyedap. 
 
Setelah dibumbui kemudian dijemur. Kemudian kamu campur itu dengan tepung beras agar teksturnya lebih baik. Usai itu tinggal digoreng, dikemas, kemudian bisa langsung dijual.

"Ceker tidak bisa langsung digoreng dihari yang samam," tutur Wahyuliani kepada Tabloid Galang Kangin.

Ketika direndam air bumbu maka baru besoknya digoreng. Tujuannya apalagi kalau bukan agar bumbunya meresap. Dia menjual kerupuk ceker ayam itu ke warung- warung terdekat. 
 
Disekitar tempat tinggalnya, namun kerap juga Wahyuliani menerima pesanan, yang mana akan diambil langsung oleh konsumen di rumahnya. Meski dijual tanpa merek tetap berjaya.

Kue Kering Bisnis Bulan Puasa Menjanjikan

Profil Pengusaha Yeffi Rahmawati 


bisnisbulanpuasa.png
 
Bulan puasa menjanjikan keberkahan berupa rejeki. Kue kering bisnis musiman tetapi hasilkan banyak keuntungan.  Pemilik usaha kue kering ini akan menceritakan kiat suksesnya. Yeffi Rahmawati pemilik bisnis Evita Cakes, bercerita ke Kompas.com apakah bisnis musiman ini, benar- benar menghasilkan. 
 
Maka jawabanya adalah "Iyah". Awalnya bisa dimulai dari hobi membuat kue ketika lebaran. Kemudian lewat marketing mulut ke mulut kisah lezatnya kue buatan Evi menggaung.
 

Rahasia Sukses


Hingga sekarang, kalau Ramdhan tiba, Evi akan siap sedia aneka peralatan membuat kue. Berawal sekedar hobi membuat kue dan aneka parsel. Dia memulai memenuhi kebutuhan pesanan teman. Juga menjalar ke kerabat, sampai  tetangga juga keluarga. 
 
Kue enak yang dibuat berdasarkan pesanan terlebih dahulu. Istilah kata Ramdhan bulan berkah termasuk soal pemasukan. Usaha apa saja yang menjelang Ramdhan pasti akan laku.

Tetapi apakah benar begitu adanya. Dia merasakan potensinya dalam dua tahun berjalan. Usaha kue kering bisa sukses asal punya tekat. Lezatnya kue bikinan sendiri bisa terbawa sampai nanti tahun berikutnya. Evi menyebut banyak orang tak mau repot membuat kue sendiri.
 
 "Solusinya adalah mereka mencari penjual kue kering," ujarnya singkat.

Aneka kue kering khas Ramadhan dijual Evita Cakes. Seperti kue nastar, putri salju, kue kacang, kastangel, kacang mede, kacang mede pedas manis asam jawa, dan cheese stick. Itu semua memang andalan produk Evita Cakes. 
 
Jenisnya memang sama dengan yang ada di pasaran. Resep sukses bisnis kue Ramdhan alanya ada di tidak perhitungan soal bahan. Kemudian lebih murah setengah kilo dibanding lainnya.

Alhasil kue kering karyanya menjadi lebih kaya rasa meski murah. Untuk lebih mengurangi biaya produksi, ia juga memilih menjual ketika ada pesanan. Dia akan langsung membuat fresh from the oven. Harga akan dia sesuaikan antara Rp.37.500 sampai Rp.150.000 per- toples. 
 
Kalau mau jenis cheese stick yang notabennya paling laris dicari. Evi menjualnya pakai kantong plastik.

"Karena banyak permintaan yang tidak ingin pakai kemasan, saya jual dengan menggunakan kantong plastik kemasan ukuran ¼ kg dan 1 kg. Harga perkilo Rp 140.000," terangnya.

Bisnis ini sudah dijalankan olehnya sejak masih gadis. Diumur 22 tahun, masih berkuliah, dan sudah memulai bisnis kue khas Ramadhan. Dia awal sekali menjual kue- kue berat. 
 
Macam kue brownies, cake tape, atau banana cake, lalu mencoba sampai ke kue kering. Evi menjajakan kuenya ke teman kuliah, sampai akhirnya dia bekerja, dijajakan teman sekantor. Nama Evita sendiri datang dari nama panggilan Evi dan suami Tata. 
 
Menurut penuturan Evi, bisnis kuenya ini sudah dikenal masyarakat luas. Tidak cuma Jakarta bahkan menyambar sampai Malaysia. Saking banyaknya sampai harus ada pegawai membantu memenuhi pesanan. Di rumah Evi sendiri sudah ada 20 orang pegawai pembuat kue.

"Semenjak ada internet (sosial media) orderan kue terus bertambah," ujarnya. Mereka yang membeli dari sosmed kebanyakan pelanggan. Kemudian merambah ke orang lain lewat saran mereka. Evi menyebut harus ada sikap mempertahankan kualitas. 
 
Harus memiliki standarisasi agar bisnis musiman khas Lebaran ini tetap berjaya. Kemasan menarik juga meningkatkan minat pembeli. Dia menyebut bahwa apa yang diperhatikan oleh pembeli adalah kemasan luarnya. 
 
Evi menyebut pula kalau mau bahan pengawet dan pewarna, harus pakai yang khusus makanan. Untuk pemilihan bahan baku maka gunakan bahan- bahan berkualitas. Jangan lupa perhatikan tanggal kadaluwarsa. Kita tidak boleh membahayakan kesehatan masyarakat.

"Kue kering saya kebetulan tidak pakai bahan pengawet karena masih fresh," jelasnya. Menurut Evi untung berjualan kue kering mampu awet enam bulan tanpa bahan pengawet.

Dia fokus pada kemasan agar menarik masyarakat mencoba. Sementara itu kualitas rasa yang mumpuni bisa menarik mereka menjadi pelanggan tetap. Dia menggunakan berbagai macm bentuk toples kedap udara.
 
Atau juga menggunakan kertas mika yang ditutup rapat kedap udara pakai plaster transparan. Evi juga tak lupa menambahkan hiasan dan nama merek diatasnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba