Hobi Makan Bisnis Restoran Jepang

Profil Pengusaha Fransisca Tjong


hobimakan.png

Hobi makan bisnis restoran Jepang. Mengawali bisnis kuliner karena hobi makan. Fransisca Tjong mencoba membuka wawasan baru kita soal masakan Jepang. Melalui restoran Roba Yakitori, Fransisca mengaku awalnya cuma coba- coba. 
 
Mulai berbisnis kuliner dan ternyata malah mampu membuka banyak peluang. Sukses Roba membawa namanya menjadi salah satu CEO dari group bisnis terkemuka.
 

Usaha Hobi Makan


Dia adalah salah satu pendiri Pancious Group. Bersama PT. Tri Samudra Sentosa baru- baru ini membuka anak usaha lain. Usaha masakan Taiwan waralaba asal Singapura, Xi Men Ding di Senayan City. 
 
Bisnis berumur 18 tahun yang dibawa Fransisca, mencoba menjadi pioner restoran Taiwan. Setelah sebelumnya sukses Roba Yakitori lewat aneka masakan Jepang. Fransisca mengaku memulai usaha kuliner karena coba- coba saja. 
 
Dia memang hobi makan. Bahkan bertraveling keliling Indonesia, bahkan dunia cuma buat makanan. Tetapi berbeda dengan kita kebanyakan membuahkan hasil selera kuliner. Ia yakin membuka usaha masakan Jepang berdasar lidahnya.

"Saya memulai bisnis kuliner dari hobi coba-coba semua makanan dari satu kota ke kota lain hingga luar negeri," tuturnya kepada Bisnis.com

Dalam artikel, Fransisca mengaku sebelum mantap, usaha pertama dilakukanya adalah mencicipi aneka rasa. Ia menjajal aneka makanan baik tradisional ataupun asing. Dia tau jenis kuliner apa diinginkan olehnya. Tahap selanjutnya adalah memilih diantara sekian banyak. 
 

Bisnis Restoran Jepang

 
Siska menyebut tidak cuma selera pribadi. Dia harus tau apa yang belum ada dipasaran. Bersama saudara berkeliling menikmati aneka kuliner. Dia bersama saudari kembarnya, Veronica; adik laki- lakinya, Fredy; dan seorang sepupu bernama Siska. 
 
Mereka sepakat pergi bersama makan- makan berkala. Hingga mereka mulai menyadari kegiatan mereka membuang waktu. "Buang- buang waktu" tetapi tidak menghasilkan. Padahal ketika Fransisca mulai membuka matanya lebar- lebar; ia melihat peluang bisnis ada disana.

Mereka hobi makan bahkan sampai ke Australia. Bersama, tidak cuma mencari cita rasa, tetapi tempat menarik dan pelayanan. Tanpa terasa mereka mendapat banyak ilmu tentang caranya mengelola restoran. "Kami banyak ilmu, inspirasi, untuk membuka usaha kuliner," jelasnya. 
 
Dan, untungnya mereka juga hobi memasak selain makan. Sekembalinya ke Indonesia, di tahun 2006, Fransisca mulai mengajak berbicara bisnis serius.

"Kami membuat konsep, yang dijual pancake," lanjutnya. Dibuka tahun 2007, usaha pancake sederhana tersebut ternyata langsung booming. Bahkan mereka mantap meminjam uang modal masing- masing. Uang modal dari orang tua dijadikan cabang kedua di Pacific Place. 
 
Walau terkesan cepat sukses tetapi jalan itu tidak semuanya. Fransisca menjelaskan membuat pancake penuh trial and error. Masa mencoba tersebut diabadikan lewat kenangan. Dia menyabut dulu tidak punya resep khusus. 
 
Pengusaha wanita ini memang termasuk orang yang percaya faktor X. Mau dihitung ataupun direncanakan kalau tidak ada faktor tersebut; tidak jadi. Rumus faktor X tersebut baru bisa kamu lihat ketika dijalani.

Usaha bernama Pancious ini semula cuma dikerjakan seminimal mungkin. Dimana mereka memilih agar tidak punya banyak karyawan disana. Sehingga di cabang kedua, dia bersama saudaranya harus rela ikut masuk ke dapur. 
 
Urusan cuci piring hari ini, besok Fransisca giliran menjadi kasir, atau siapa saja bisa bergantian terus. Selama empat bulan pertama cabang kedua menjadi lumrah. Passion hobi mereka menjadi landasan kuat.

So, meski susah tetap dijalani dengan ceria lewat senyum, alhasil Pancious sukses memiliki 10 gerai selama 8 tahun dan menjadi satu group usaha.
 
Menurut Fransisca paling penting kita musti tahu dimana. Letaknya bakat kita itu dimana, lantas dimatangkan lagi sedetail mungkin. Aplikasikan hal tersebut di bisnis real kita. Kalau bicara modal memang menjadi satu alasan banyak pengusaha. 
 
Fransisca sendiri menganggap soal modal bisa bersumber dari mana saja. Bisa jadi lewat rekanan, pinjaman bank, dan lain sebagainya.

"Tapi, punya banyak uang sebanyak apapun, akan percuma kalau tidak tahu mau apa," jelas Fransisca.

Secara jujur awal sekali Pancious memang modal kecil. Berkat kerja keras munculah kepercayaan baik dari orang tua atau pihak ketiga. Adapun soal manajeman perusahaan, Fransisca mensiasati melalui perekrutan orang- orang profesional dibidangnya. 
 
Selepas bisnis kita berjalan baik. Ada baiknya mulai memikirkan mau dibawa kemana. Termasuk memasuk tenaga dalam jajaran kepimpinan perusahaan kamu. Ini dibuktikan lewat perjalanan Pancious menjadi group bisnis. 
 
Setelah 8 tahun eksis, dari Pancious Group, di awal tahun 2015 -an, membidik pasar bisnis kuliner Jepang. Pancake yang kebaratan dipadukan kuliner khas Jepang. "Kebetulan kami lumayan sering ke Jepang," kenang Fransisca. 
 
Kesenangan akan kuliner Yokitari itu lalu diabadikan lewat usaha baru. Ya, bisnis baru Fransisca selanjutnya adalah sate khas Jepang. Kesolitan tim kerja pendiri Pancious terbukti. Lewat pembicaraan bersama terbentuklah kesepakatan untuk menyajikan masakan Jepang. 
 
Manajeman matang menjadi perusahaan makin ekspansif juga. Termasuk mau mendatangkan chef asli Jepang. Ini dimaksudkan agar tersaji masakan berkualitas. "Ini berkaitan dengan maintaining, tentang kualitas makanan yang harus dijaga," ujarnya. Adapula training agar standar perusahaan terjaga.

Baggu Bags Jualan Online Shop Melegenda

Kisah Sukses Toko Online Tas


onlineshop.png
 
 
 
Jualan online shop melegenda Baggu Bags. Menurutu empunya bisnis tas tidak ada rugi. Tidak akan pernah mati sepanjang jalan. Tentu saja kita harus siap secara matang untuk persaingan ketat. Itulah penjelasan singkat Ion tentang bisnis Baggu Bags. 
 
Wanita yang belum jelas kami ketehaui identitasnya. Namun, menurut Warta Wirausaha, adalah ibu satu orang anak yang dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan tas.
 

Bisnis Online Shop


Mengetahui untungnya, dia bersama sang suami memulasi usaha ini dari nol. Dia bermodal kepercayaan saja. Bisnis tas kulit produksi sendiri yang punya pasar tersendiri. Ion mendirikan perusahaan tas pada 2001. 
 
Ia berbekal ilmu pengetahuan dari pengalaman masa lalu. "Asalkan kita terus berinovasi dan memiliki strategi pemasaran yang baik," jelas Ion.

Apakah semudah itu?

Fakta Ion tidak lah semudah dibayangkan. Perjalanan selama tiga tahun, Ion harus rela berkeliling door-to- door. Berjualan dari satu rumah ke rumah lain. Dia mengadaptasi startegi marketing klasik. 
 
Dia menuturkan meski klasik atau kuno tetapi ampuh. Startegi lain adalah penguatan bahwa produk Baggu Bags merupakan hasil rancangan sendiri. Bahkan, Ion meyakinkan orang mereka punya perusahaan sendiri. 

Ini menjadikan tas mereka tidak pasaran. Alhasil, penjualan Baggu Bags diluar dugaan, sukses door-to-door kemudian disusul menyambangi perusakaan lain.

"Aku memberanikan diri saja. Aku sama sekali tidak punya jaringan waktu itu. Kira- kira 15 kantor yang aku sambangi" kata Ion.

Kunci sukses Baggu Bags ada pada keyakinan sang pemilik. Untuk klien pertama tuturnya, ada perusahaan yang bernama ACE Hardware. Awalan mereka menjual tas milik Ion dengan mereka mereka. 
 
Ya, diawal itu produk Baggu Bags belum tercipta. Nama tersebut kemudian disematkan sendiri. Tentu agar bisa menunjang konsep bisnis mereka selanjutnya.

Pemasaran berikut meliputi pameran- pameran dan online. Namun, menurut Ion waktu terbuang percuma ketika mengadakan pameran. Dia memutuskan menjual melalui online saja. 
 
Bagi wanita yang juga pernah bekerja sebagai marketing ini, menjual lewat online membuatnya mempunyai banyak waktu luang untuk keluarga. Baggu Bags memang tidak memiliki model umum. Ion merancangnya aneka model menurut konsep sendiri.

Untuk meyakinkan konsumen termasuk memberikan garansi. Selama satu tahun kalau produk Baggu Bags rusak; langsung diperbaiki.

"Kalau resleting atau aksesoris lainnya rusak kami bisa memperbaikinya," tutur Alumni Universitas Indonesia Jurusan Hukum.

Tidak menyakiti kepercayaan konsumen merupakan kunci Baggu Bags. Semua produk merupakan yang terbaik dan terjangkau. Baggu Bags dijual antara harga Rp.150- 350 ribu. Variasi Baggu Bags buatan Ion, meliputi pemilihan bahan kulit domba, kambing, dan sapi. 
 
Untuk berproduksi Ion dibantu oleh 15 karyawan. Dalam sebulan menghasilkan laba Rp.10 juta- Rp.15 juta. Seminggu ia memproduksi 400 buah tas aneka bentuk.

Tetapi itu semua belum memuaskan hasratnya dalam berekspansi. Meski sudah punya banyak reseller masih belum cukup. Selanjutnya, adalah keinginan untuk memiliki galeri sendiri khusus Baggu Bags. 
 
Ia masih yakin betul akan bertahan, karena Baggu Bags memang memilik ciri khas dibanding produk luaran sana.

Catatan: ketika kami mencari siapa sosok Ion. Hal mengejutkan kami temukan bahwa "online shop ini sudah tutup". Bahkan ditengarai terlibat penipuan dari testimoni Facebook. Melalui akun Baggu Bags di Facebook, kami menemukan situs toko onlinenya www.baggu-bags.com sudah tutup. 
 
Atau, apakah ini ada hubungan dengan pemilik merek Baggu milik Emily Sugihara.

Jual Kerupuk Ceker Usaha Tanpa Merek

Profil Pengusaha Nyoman Wahyuliani


usahakerupukceker.png
 
Usaha tanpa merek atau berjualan sistem curah. Ia jual kerupuk ceker tanpa merek. Kreatifitas memang tanpa batas. Bisa menjadi penopang kehidupan kita sampai esok. Tidak sedikit jiwa kreatifitas terlahir dari kesederhanaan. 
 
Bisnis kreatif yang mengambil ceruk pasar meski dalam kekurangan. Contoh nyata ya Nyoman Wahyuliani, seorang ibu muda yang bertahun- tahun menggeluti satu usaha sendiri; usaha pembuatan cemilan kerupuk ceker.
 

Usaha Tanpa Merek


Melalui sentuhan tangan Wahyuliani menjadi epik. Usaha turun- temurun yang diwariskan oleh sang mertua bisa tetap bertahan. Jika dilihat kemasannya sederhana, tetapi tidak pernah tidak laku di pasaran. Pasar tidak jenuh akan produk kerupuk ceker ini. 
 
Bahkan permintaan terus meningkat setiap tahun. Serbuan cemilan asing atau lokal berkemasan modern tidak menyurutkan. Mereka tidak mampu menggeser gurinya kerupuk ceker.

Selama kualitas produk terjaga dan tidak tergantikan. Kemasan memang tidak masalah, jika kamu pandai- pandai mengambil pasar. Wahyuliani memilih berjualan dari warung ke warung. Menjual kerupuk ceker tanpa ada merek dagang. Usaha tersebut menyasar mereka kelas menengah ke bawah. 
 
Hasilnya? Dia tidak pernah telat mendapat bayaran.



Wahyuliani tidak memaksa harus masuk ke supermarket. Dalam benaknya masuk pasar supermarket butuh modal besar. Tetapi keluarnya tidak mencukupi kebutuhan produksi. Harus memasang merek dan membuat kemasan baik. 
 
Tetapi disisi lain, dia tidak bisa mendapatkan uang sebelum dagangan laku. Bahkan meski ia dibujuk bantuan modal; tidak bergeming. 

Koperasi Srikandi pernah menawari ibu emapat anak ini modal. Dengan syarat harus mau memperbaiki dari segi kemasan. Namun itu belum juga kesampaian. Soal modal sendiri tidak menjadi kendala. Sekali produksi membutuhkan modal Rp.120 ribu. 
 
Itu untuk membeli 10- 12kg ceker ayam. Juga sudah termasuk pembelian bumbu. Ia juga cukup memakai peralatan dapur biasa. Untung yang bisa didapat sekali berproduksi Rp.100 ribu.
 
Mendapatkan bahan baku ceker ayam tergolong mudah. Dia mendapat dari tempat pemotongan di  sekitar Paguyungan. Bahan baku sudah tersedia dalam jumlah cukup. Harga bahan baku juga sudah terjangkau. 
 
Dia membandingkan dengan harga daging ayam; ceker ayam jauh lebih murah. Ditingkat pengecer harga jualnya kisaran Rp.10 ribu per- kilo. Harga semakin murah jika punya koneksi membeli langsung.

"Bahan baku selalu saya dapatkan di tempat pemotongan ayam. Dalam sekali produksi saya hanya bisa mengolah 10-12 kg ceker ayam mentah," tutur Wahyuliani.

Pembuatan kerupuk ceker akan dikerjakan oleh dia dan kaluarga. Dari proses paling awal hingg akhir sudah dihafal diluar kepala. Dimulai dari membersihkan ceker dari kotoran, kuku, kulit yang berwarna kekuningan, yang terkadang terbawa dikulit ceker. 
 
Usai dicuci bersih tinggal masuk tahap perebusan. Tahap inilah yang menjadi tahap penting dalam proses pemasakan. Ceker ayam musti direbus dengan tingkat kematengan pas tidak kurang. Kalau kurang matang maka akan susah memisahkan tulang. 
 
Kalau terlalu matang Wahyuliani mengingatkan itu akan hancur. Selepas direbus kemudian ditiriskan sambi diangin- anginkan. Barulah selepas itu masuk ke tahap pemisahan tulang. Menurut wanita 38 tahun ini, menjadi bagian tersulit dan memakan tenaga lebih banyak. 
 
"Biasanya saat mengerjakan proses ini saya dibantu oleh suami," tuturnya.

Proses pembubutan tulang itulah paling susah. Dia menyebut bahwa ini tersulit, apalagi ketika pesanan datang banyak. Ceker ayam yang telah bersih dari tulangnya diberi bumbu. Proses pembumbuan gampang loh cuma pakai bawang putih, garam, dan penyedap. 
 
Setelah dibumbui kemudian dijemur. Kemudian kamu campur itu dengan tepung beras agar teksturnya lebih baik. Usai itu tinggal digoreng, dikemas, kemudian bisa langsung dijual.

"Ceker tidak bisa langsung digoreng dihari yang samam," tutur Wahyuliani kepada Tabloid Galang Kangin.

Ketika direndam air bumbu maka baru besoknya digoreng. Tujuannya apalagi kalau bukan agar bumbunya meresap. Dia menjual kerupuk ceker ayam itu ke warung- warung terdekat. 
 
Disekitar tempat tinggalnya, namun kerap juga Wahyuliani menerima pesanan, yang mana akan diambil langsung oleh konsumen di rumahnya. Meski dijual tanpa merek tetap berjaya.

Kue Kering Bisnis Bulan Puasa Menjanjikan

Profil Pengusaha Yeffi Rahmawati 


bisnisbulanpuasa.png
 
Bulan puasa menjanjikan keberkahan berupa rejeki. Kue kering bisnis musiman tetapi hasilkan banyak keuntungan.  Pemilik usaha kue kering ini akan menceritakan kiat suksesnya. Yeffi Rahmawati pemilik bisnis Evita Cakes, bercerita ke Kompas.com apakah bisnis musiman ini, benar- benar menghasilkan. 
 
Maka jawabanya adalah "Iyah". Awalnya bisa dimulai dari hobi membuat kue ketika lebaran. Kemudian lewat marketing mulut ke mulut kisah lezatnya kue buatan Evi menggaung.
 

Rahasia Sukses


Hingga sekarang, kalau Ramdhan tiba, Evi akan siap sedia aneka peralatan membuat kue. Berawal sekedar hobi membuat kue dan aneka parsel. Dia memulai memenuhi kebutuhan pesanan teman. Juga menjalar ke kerabat, sampai  tetangga juga keluarga. 
 
Kue enak yang dibuat berdasarkan pesanan terlebih dahulu. Istilah kata Ramdhan bulan berkah termasuk soal pemasukan. Usaha apa saja yang menjelang Ramdhan pasti akan laku.

Tetapi apakah benar begitu adanya. Dia merasakan potensinya dalam dua tahun berjalan. Usaha kue kering bisa sukses asal punya tekat. Lezatnya kue bikinan sendiri bisa terbawa sampai nanti tahun berikutnya. Evi menyebut banyak orang tak mau repot membuat kue sendiri.
 
 "Solusinya adalah mereka mencari penjual kue kering," ujarnya singkat.

Aneka kue kering khas Ramadhan dijual Evita Cakes. Seperti kue nastar, putri salju, kue kacang, kastangel, kacang mede, kacang mede pedas manis asam jawa, dan cheese stick. Itu semua memang andalan produk Evita Cakes. 
 
Jenisnya memang sama dengan yang ada di pasaran. Resep sukses bisnis kue Ramdhan alanya ada di tidak perhitungan soal bahan. Kemudian lebih murah setengah kilo dibanding lainnya.

Alhasil kue kering karyanya menjadi lebih kaya rasa meski murah. Untuk lebih mengurangi biaya produksi, ia juga memilih menjual ketika ada pesanan. Dia akan langsung membuat fresh from the oven. Harga akan dia sesuaikan antara Rp.37.500 sampai Rp.150.000 per- toples. 
 
Kalau mau jenis cheese stick yang notabennya paling laris dicari. Evi menjualnya pakai kantong plastik.

"Karena banyak permintaan yang tidak ingin pakai kemasan, saya jual dengan menggunakan kantong plastik kemasan ukuran ¼ kg dan 1 kg. Harga perkilo Rp 140.000," terangnya.

Bisnis ini sudah dijalankan olehnya sejak masih gadis. Diumur 22 tahun, masih berkuliah, dan sudah memulai bisnis kue khas Ramadhan. Dia awal sekali menjual kue- kue berat. 
 
Macam kue brownies, cake tape, atau banana cake, lalu mencoba sampai ke kue kering. Evi menjajakan kuenya ke teman kuliah, sampai akhirnya dia bekerja, dijajakan teman sekantor. Nama Evita sendiri datang dari nama panggilan Evi dan suami Tata. 
 
Menurut penuturan Evi, bisnis kuenya ini sudah dikenal masyarakat luas. Tidak cuma Jakarta bahkan menyambar sampai Malaysia. Saking banyaknya sampai harus ada pegawai membantu memenuhi pesanan. Di rumah Evi sendiri sudah ada 20 orang pegawai pembuat kue.

"Semenjak ada internet (sosial media) orderan kue terus bertambah," ujarnya. Mereka yang membeli dari sosmed kebanyakan pelanggan. Kemudian merambah ke orang lain lewat saran mereka. Evi menyebut harus ada sikap mempertahankan kualitas. 
 
Harus memiliki standarisasi agar bisnis musiman khas Lebaran ini tetap berjaya. Kemasan menarik juga meningkatkan minat pembeli. Dia menyebut bahwa apa yang diperhatikan oleh pembeli adalah kemasan luarnya. 
 
Evi menyebut pula kalau mau bahan pengawet dan pewarna, harus pakai yang khusus makanan. Untuk pemilihan bahan baku maka gunakan bahan- bahan berkualitas. Jangan lupa perhatikan tanggal kadaluwarsa. Kita tidak boleh membahayakan kesehatan masyarakat.

"Kue kering saya kebetulan tidak pakai bahan pengawet karena masih fresh," jelasnya. Menurut Evi untung berjualan kue kering mampu awet enam bulan tanpa bahan pengawet.

Dia fokus pada kemasan agar menarik masyarakat mencoba. Sementara itu kualitas rasa yang mumpuni bisa menarik mereka menjadi pelanggan tetap. Dia menggunakan berbagai macm bentuk toples kedap udara.
 
Atau juga menggunakan kertas mika yang ditutup rapat kedap udara pakai plaster transparan. Evi juga tak lupa menambahkan hiasan dan nama merek diatasnya.

Fotokopi Percetakan Xerography Bisnis Prima

Profil Pengusaha Harjanto Sudarsono 


bisnisprima.png
 
Bisnis prima fotokopi percetakan Xerography. Pengusaha. Bernama Harjanto Sudarsono begitu asing ditelinga kita. Apasih bisnis pengusaha muda yang satu ini. Dia cuma seorang pengusaha fotokopi. Lantas apa hebatanya dari usaha tersebut. 
 
Usaha yang katanya merupakan satu warisan keluarga. Sebagai seorang penerus bisnis keluarga ceritanya sangat menarik. Dimulai ketika usia Harjanto masih 22 tahun di 1992.

"Saya mendapatkan warisan usaha itu setelah ayah saya meninggal dunia tahun 1992," kenang Harjanto lagi.
 

Pengusaha Fotokopi Percetakan


Terpaksa itulah kata pertama terucap dari mulutnya. Terpaksa dijalankan, awalnya usaha fotokopi ini ya seperti fotokopi biasanya. Tidak memiliki perbedaan dibanding pesaingnya. Orang tua Harjanto menyewa satu tempat di kawasan pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat. 
 
Usaha fotokopi standar dimulai sejak 1987 dan benar- benar tidak menarik perhatian Harjanto. Lebih- lebih dia harus meninggalkan bangku kuliah. Padahal masih ada dua orang kakak, yang pada akhirnya menyerah tanda tak sanggup. 
 
Ya, dia pun terpanggil melanjutkan, menghadapi tantangan dari bisnis sebagai orang super awam. Ditambah fakta sang ayah punya tanggungan hutang Rp.100 juta. Tidak mau patah arang mulailah dari nol lagi. Hal pertama dilakukan olehnya kala itu adalah membongkar sendiri mesin fotokopi tua.

Jadilah mesin fotokopi menghasilkan kopian bagus. Untuk menekan biaya produksi, dia memilih membeli mesin fotokopi bekas. Diperbaikinya sendiri kemudian dijadikan layaknya baru. Soal satu ini dia mau belajar sendiri karena terpaksa. 
 
Mau gimana lagi, Harjanto memang awam soal bisnis fotokopi, istilahnya kalau pun ditipu mekanik, dibelikan suku cadang palsu, ya alamat nasib sial. Untung semangat belajar Harjanto masih kuat.
 
Semua belajar otodidak dari menjalankan dan sampai bisa memperbaiki mesin fotokopi. "Saya terus belajar sampai bisa bongkar pasangs sendiri," jelasnya. Bisnis fotokopi memang masih menjanjikan kala itu. 
 
Dalam rentang waktu cukup singkat sudah bisa tumbuh stabil. Hingga, tahun 1996, Harjanto mantap membuka satu cabang di Cibinong, Bogor. Terus berekspansi bahkan sampai ke luar kota. Dia resmi mendirikan perusahaan PT. Xerography Indonesia. 
 
Dilakukan bersamaan pembukaan cabang fotokopi pertama di Jakarta. Terus berekpansi sukses Xerography mampu meluniasi hutang sang ayah. Dia membayar melalui sistem mencicil. Barulah terlunasi ketika masuk ke tahun 2000 -an. 
 
PT. Xerography sendiri berkembang tidak cuma fotokopi. Bisnisnya telah merambah bisnis percatakan.

Kunci Bisnis Prima

 
Kunci sukses bisnis fotokopi alanya: pelanggan harus terpuaskan. Layanan prima selalu ditonjolkan seorang Harjanto Sudarsono. Prinsip jujur pantang menyerah menjadi cara pemilik dari PT. Xerography ini. 
 
Alhasil, dia menakankan pelayanan menjadi modal utama. Ambil contoh kisah seorang artis yang datang ke tempatnya. Dia memintanya membuatkan buku mewah. Soal anggaran sang artis sama sekali tidak ambil pusing.

Soal anggaran tidak masalah asal hasilnya bagus. Terkejut, sang artis mendapati Harjanto menyarankan dia memakai kertas murahan. Kertas HVS berawarna kuning tersebut pasti membuat bergidik. Tetapi ia terus mencoba meyakinkan bahwa ini cocok. 
 
Pada akhirnya sang artis terkesan atas penjelasan Harjanto soal pilihan tersebut. Dia berpikira kalau buku perjalanan karir baiknya pakai kertas ini.

"...pakai kertas HVS kuning yang menimbulkan kesan kuno," kata Harjanto.

Tentu bukan serta mereta begitu. Awal dibuatlah dua versi buku yaitu kertas mahal dan HVS kunging murah tersebut. Ternyata terlihat "wah" justru kertas berwarna kuning tersebut. Dia meyakini meski pelanggan bisa mahal; harus bisa tidak berasa kemahalan. 
 
Intinya memberikan pelayanan meyakinkan. Kalau mahal tetapi ternyata cuma bua mengambil untung besar dan hasilnya jelek. Sampai sekarang sang arti itu menjadi pelanggan tetap. "Intinya saya tidak ingin pelanggan merasa kemahalan dan memikirkan keberlanjutan," pungkasnya. 
 
Selain itu, ia juga menyampaikan layanan cek ulang file dicetak. Meyakinkan bahwa barang dibawa oleh pelanggan benar. Itu sudah termasuk satu layanan konsultasi bahan kertas paling tepat. Dia menuturkan proses awal ini penting karena 70% biaya tergantung bahan cetak.

Harjanto menyarankan bahwa desain mewah tidak tergantung bahan mahal. Efek mewah muncul kalau saja bahan itu sesuai penggunaan. Selain itu sudah termasuk aspek penghematan biaya. Pentingnya konsultasi jadi andalah usaha fotokopi miliknya. 
 
Usaha lain, dia menyiapkan tim tersendiri, yakni satu tim desain yang sudah punya pengalaman mendesain. Buktinya ialah kemanangan atas ajang desain bertingkat Asia kategori Art Fotobook. Dia cuma berharap apa yang dilakukanya mampu memuaskan pelanggan. 
 
Layanan prima menjadi andalan utama seorang Harjanto. "Dengan begitu bisnis bisa berkembang," ujarnya singkat. Dia juga percaya diri bisa memenangkan sengitnya persaingan bisnis fotokopi.
 
Kalau mungkin di bisnis lain pegawai adalah aset. Menurutnya pegawai merupakan rekan kerja yang harus diajak kerja sama. Dia pun tidak segan mengadakan pelatihan dan pendidikan bagi mereka. Bahkan sampai ke luar negeri segala. 
 
"Pernah dua orang, kami training sampai ke Singapura," paparnya. Adapula yang bisa sampai ke Jerman mengunjungi pameran mesin fotokopi. Sekitar 20% karyawan sudah menikmati aneka pelatihan ini.

Semua penting bagi perkembangan si karyawan sendiri dalam bekerja. Ia bahkan tidak memandang bulu tentang siap orangnya. Ambil contoh seorang office boy cerdas yang diberinya kesempatan belajar bahasa Inggris.
 

Kualitas Pegawai

 
Ini fakta bahwa pegawai bukanlah aset seperti didengungkan. Pria kelahiran Bogor 1969 ini sendiri turun tangan memberi penilaian. Ia tengah membayangkan tim kerja masa depan PT. Xerography Indonesia (XG).

Ia masih punya sejuta mimpi bersama XG. Itulah mengapa dirinya begitu getol memperkuat garis depan dari perusahaan. XG bukan sekedar tempat kerja jelasnya. Kebijakan memberika pelatihan dan pendidikan juga membuat kesal. Lantara pegawai yang sudah belajar malah bekerja di tempat lain. 
 
Ia mengaku hal tersebut sudah sangat sering terjadi. Termasuk pegawai yang sudah mendapat training mesin fotokopi di Singapura itu. Dia sadar bahwa perlu pembenahan di SDM. Agar tidak siapa keluar dari XG akan merasakan rasa ingin kembali lagi. 
 
Sukses di bisnis fotokopi merambaha digital printing. Apalagi hal ingin dicapai seorang Harjanto adalah bisnis XG Cyber. Ia ingin mengembakan percetakan lewat dunia maya. Dia juga berancang membuka waralaba XG. 
 
Itu untuk jangka panjangnya sih. Tetapi dia sudah mempersiapkan betul semua kemungkinan tersebut.

"Kami akan fokus pada percetakan laporan tahunan perusahaan, majalah internal institusi, hingga pelbagai buku," tutupnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba