Pengusaha Teh Waralaba Murah Your Tea

Profil Pengusaha Indra Thamrin 


pengusahateh.png

Pengusaha teh waralaba murah Your Tea bukan murahan. Adalah pengusaha kelahiran 29 Juni 1988, pria asli Palembang, Sumatra Selatan. Namanya Indra Thamrin atau sering dikenal sebagai pemilik waralaba teh bernama Your Tea. 
 
Pendidikan formal Indra mulai TK sampai SMA di Yayasan Xaverius Lubuklinggau. Dia memiliki banyak prestasi dibidang akademis sejak bersekolah dulu.
 

Pengusaha Waralaba


Hanya pemuda biasa yang kini menjadi pengusaha sukses. Juga mengawalai hidupnya dari serangkaian kegagalan. Bermula di 2006, dimanan dia merantau sampai ke Bogor, Jawa Barat berniat melanjutkan kuliah Sarjana mengambil Komunikasi dan Pembenganan Masyarakat, Institut Pertani Bogor.

Dalam empat tahun berkuliah ia menyadari akan hal. Bahwa Thamrin memiliki passion dibidang bisnis. Maka dia mulai melirik berbagai peluang berbisnis sendiri. Sambil berkuliah, mengikut ekstra, dia juga sibu bisnis yang dibantu beberapa temannya.

Kemampu dibidang public- speaking yang terasah. Ia mampu meyakinkan bahwa bisnis dijalankan bukanlah sekedar bisnis. Tetapi peluang bagi kita semua mengusung konsep waralaba. Bisnis diusung Thamrin bukan tanpa perjalanan panjang, banyak trial and error dijalaninya.

Usaha dirintis sejak 2008 mengusung selogan bahwa teh menjadi minuman kedua. Setelah air putih makan orang akan melirik minuman lain, seperti teh atau kopi. Rasanya tidak berat serta kandungan nutrisi baik buat tubuh menjadi pilihan. 
 
Dibanding kopi teh lebih baik buat wanita apalagi kalau bukan buat kulit. Sebagai mahasiswa aktif mengikuti kegiatan. Terbersit dipikiran Thamrin disuatu siang akan minuman yang dingin menyegarkan. Menurut Thamrin pilihan minuman favorit orang pertama adalah air putih. 
 
Sedangkan kopi menjadi pihak ketiga setelah teh. Lalu kenapa tidak Thamrin membuka usaha teh di kampusnya?

Pemikiran tersebut disambut beberapa teman Thamrin. Mereka sepakat mencoba berbagai macam cara agar bisa menyuguhkan teh berbeda. Potensi mahasiswa IPB kan mencapai 20 ribu jiwa. Susana cukup panas ketika siang hari di musim kemarau juga mendukung.

Tiga bulan dia mencoba meracik. Memang teh biasa dibuat semua orang. Hanya saja, Thamrin ingin minuman teh berbeda yang akan menjadi sumber bisnisnya. Sekali dipasarkan cita rasa berbeda segera disambut oleh masyarakat sebagai peluang.

Maka nama CV. Sari Hijau Lestari didirikan. Brand andalan mereka adalah Your Tea beralamat lengkap di situs www.waralabateh.com. Tidak buru- buru diwaralabakan, Thamrin segera menyusun rencana sampai ia memasukan tehnya ke HAKI, serta membuat standar operasional.

Konsep waralaba diluncurkan pada tahun 2010. Kemudian Thamrin aktif melakukan digital marketing pada 2013. Tahun 2012 saja, dia sudah mengantungi 82 mitra yang tersebar dari Jakarta, Sukabumi, Bogor. Dan itu tidak berhenti disana bahkan merambah ke Surabaya, Sidoarjo, bahkan Papua.

Usaha Pengusaha Teh

 
Sebenarnya kalau dilihat sekilah sama seperti teh lain. Namun Thamrin mewajibkan pewaralaba memakai es batu kristal dari air matang. Agar tidak menjadi teh biasa, aneka varian rasa seperti honey tea, flavor tea, serta cappuccino tea dihadirkan. 
 
Kulitas daun teh juga diperhatikan betul oleh Thamrin agar aroma melatinya kentara.

Harga ditawarkan setara minuman teh di warung. Dengan kepraktisan bisnis model booth membuat usaha ini lebih mudah dijangkau. Harga per- gelas dibandrol Rp.3000- 5000 bukan pukul 08.00- 21.00. Jika jualan Thamrin mampu menjual 900 cup gelas per- hari dengan omzet Rp.900.00 per- hari.

"Yang paling banyak diminati pelanggan adalah varian rasa original tea dan milk tea," jelas Thamrin.

Paket investasi antara Rp.2 juta sampai Rp.4 jutaan. Dengan peralatan yang telah disediakan oleh pihak Your Tea. Menariknya kontrak kerja bersifat selamanya dan tidak ada royalti fee. Hanya saja kamu wajib membeli bahan baku dari Thamrin.

Agar lebih menarik banyak calon mitra. Thamrin memiliki kelebihan soal dukungan suport. Jika pengusaha biasa cuma melihat konsumen tetapi Thamrin lebih. "Saya juga akan membeberkan cara menjalankan bisnis teh kepada mitra," Thamrin menjelaskan. 
 
Ada panduan lengkap berbentuk e-book buat kamu sebagai mitra.Waktu balik modal menurut Thamrin tergantung pada cuaca dan lokasi. Kalau sukses mitra dapat kantongi omzet Rp.9 juta per- bulan yaitu menjual minimal 100 gelas saja. 
 
Finalis Wirausaha Muda Mandiri ini yakin bahwa tehnya memiliki kelebihan. Bisnis teh Thamrin memiliki segmen luas, tidak tergantung kelas ekonomi, tidak umur, ataupun jenis kelamin jadi ceruk pasarnya luas. Lokasi juga gampang karena sifatnya booth. 
 
Jadi kamu bisa jualan di pinggir jalan karena mudah dibawa- bawa. Selain memberikan peluang investasi ke banyak orang. Thamrin juga berinvestasi ke dirinya sendiri. Yakni ia hidup sebagai vegetarian. Dia juga menjadi pembicara berbagai acara kewirausahaan. 
 
Dia pernah menjadi asisten dosen di kampusnya juga loh. Pria perfeksionis ini sudah 10 tahun lebih menjalani hidup cuma makan sayur. Thamrin juga ketua Indonesian Vegetarian Society (IVS) cabang Bogor. Dia tertarik akan investasi properti dan emas. 
 
Ia melanjutkan kuliah pasca sarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor. Pria yang dikenal dengan motonya "Never Give Up" mengajak kamu menjadi wirausaha muda juga, yuk.

Inovasi Mesin Pemanas Pengusaha ITB

Profil Pengusaha Nafi Rasyid Parikesit 


pengusahaitb.png
 
Pengusaha ITB, Institut Teknologi Bandung, yang membawanya berpikir inovasu mesin pemanas. Apa yang bisa dia dilakukan. Keinginan mengaplikasikan ilmu itu semakin besar ketika melihat masyarakat kesusahan. 
 
Mereka adalah para perajin tahu di Desa Cibuntu, Garut, Jawa Barat, membutuhkan penyelesaian. Ilmuan asli Indonesia ini lantas memilih konsep entrepreneurship. Bermodal uang sendiri membuat mesin pemanas atau boiler untuk mereka.
 

Pengusaha Muda


Sekarang Nafi Rasyid Parikesit menjadi incaran pengrajin tahu seluruh Indonesia. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tidak menyangka bisa begini sukses. Modal awal Rp.5- 10 juta, dalam perjalanan mesin boiler itu terus dikembangkan sampai sesempurna mungkin. 
 
Estimasi total modal dikeluarkan sampai total Rp.700- 800 juta. Terus balik modalnya? Per- mesin  dijual  Rp.45 juta dan dibeli oleh 50- 100 perajin satu gang.

Dimulai delapan tahun lalu, tepatnya tahun 2004, dimana Nafi tengah kebingungan soal tugas akhir. Dia tidak punya ide tentang inovasi teknologi apa. Hingga dia bersama seorang teman memutuskan membuat mesin boiler (pemanas). Konsep teknologi lama yang coba didaur ulang. 
 
Ia ingin menciptakan alat sederhana yang bisa digunakan masyarakat luas. Pengembangan pun terus dilakukan oleh pria yang akrab dipanggil Naf ini.

Tepat selepas lulus kuliah di tahun 2008, ia intensif terus melanjutkan pengembangan mesin boiler. Di tahun 2012 resmi mesin boiler bisa digunakan umum. "Saya buat desain sendiri, dari stainless dan las sendiri," ujar Naf. 
 
Soal biaya pembuatan memang tergolong mahal. Di tahun 2007 sampai tahun 2008 -an sudah keluar uang Rp.800 juta. "...karena pengembangan kita setiap tahun," jelas Naf.

Jadilah tidak begitu terasa biaya telah dikeluarkan. Tahun 2013 sudah dipasarkan di kampung perajin tahu Desa Cibuntu, Jawa Barat. Harga jual Rp.45 juta dan kebutuhan mesin boiler tersebut terus meningkat. Dia sendiri cukup kesulitan akan pesanan. 
 
Ada 19 pekerja mampu memproduksi 4 mesin sebulan. Pemesanan mesin sudah mencapai 1 gang atau 50- 100 orang perajin tahu. Untuk tenaga digunakan bahan bakar batu bara. Tapi tidak memungkinkan sumber energi lain. 
 
Naf sendiri mencontohkan cangkang sawit, kayu atau ranting kayu, batok kelapa, juga bisa memanfaatkan biomassa. Kemudian bahan bakar tersebut dimasukan kedalam mesin blower turbo. Kalau energi kurang itu bisa digantikan tenaga listrik berenergi 750 watt. 
 
Lantas siapa saja pengguna mesin buatan Naf. "Kebanyakan yang pesan itu di Bandung, Cimahi, Garut dan ada yang di Bantul, Solo, Cirebon," jelas Naf kepada Detik.com

Tidak cuma perajin tahu, ada perajin krupuk, kembang tahu, bahkan pengusaha agar atau minuman nata- de coco. Juga bisa digunakan oleh pengusaha jamur. Sebuah mesin yang hemat bahan bakar dan punya panas bagus. 
 
Kalau pakai gas menyerap panas 20%, mesin buatannya mampu menyerap panas 90%. Berkat mesin boiler tersebut banyak penghargaan dibawa pulang Naf. Yang paling bergengsi adalah penghargaan Bank Mandiri.

Nafi Rasyid memanangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri. Juara pertama dari ajang tersebut untuk kategori Young Mandiri Technopreneur. Masuk kedalam kategori Teknologi Non Digital atas produk mesin boiler pembantu UKM ini.

Anak 11 Tahun Jadi Pengusaha Beromzet 6 Juta

Profil Pengusaha Syahrizal Fadillah


anaksebelas.png
 
Ada berita menarik, berjudul "Anak 11 Tahun Jadi Pengusaha Beromzet 6 Juta Perbulan. Menarik karena si bocah ternyata bukan bocah biasa. Pasalnya dia sudah mepunyai jiwa entrepreneurship sejak dini. Ia bahkan sudah punya ambisi "mengalahkan" McDonald. 
 
Ketika ditanya oleh orang yang melihatnya berjual dari sepedanya. Syahrizal Fadillah umur 11 tahun entengnya menjawab hobi berbisnis.
 

Kisah Anak Jadi Pengusaha


Yah, selain membantu ekonomi keluarga, juga karena jiwa entrepreneurshipnya. Kalau anak sebayanya di kampung tengah asik dengan gadgetnya. Begitu pula dia, cuma bedanya dia membeli gadget dari jerih payah dia sendiri. 
 
Bayangkan dalam sebulan sudah mengantongi omzet Rp.6 juta. Gajinya lebih banyak dari upah yang dihasilkan oleh buruh kita. Miris, tapi menginspirasi sekali. terutama buat penulis membacanya.

Rizal begitu sapaan akrabnya. Tidak pernah sekalipun ibu Rizal dilarang ibunya. Karena berdagang juga hasilnya tidak diambil semua. Bahkan dia bisa membeli sendiri sepeda BMX -nya tersebut seharga Rp.700 ribu, lewat apa yang disebutnya hobi ini. 
 
Berbekal sepeda itulah dia berjualan aneka jajanan, seperti jus buah, roti coklat, dan cemilan kering. Dijualnya itu keliling daerah Minomartani Sleman, Yogyakarta. Bahkan sudah menghasilkan tablet sendiri seharga Rp.1 juta.

"Saya bercita- cita menjadi pengusaha. Mau ngalahin pemilik McDonald," ujarnya kepada keluarganya terus terang.

Teringat kisah Warren Buffett penulis ingin kembali lagi. Perlu kamu tau, diumur 11 tahun, seusia Riza sosok investor sepanjang masa ini sudah membeli sahamnya sendiri. Bukan dari mana, tapi dari aneka usaha, sejak kecil sudah bekerja seperti Rizal berjualan aneka jajan. 
 
Buffett juga pernah menjadi loper koran loh. Ada lagi kisah pengusaha seumuran Rizal sekarang. Cory Nieves baru berumur saja 11 tahun. Memulai usaha lewat berjualan aneka kue kering buatan sendiri. Tujuan si bocah ini yakni agar bisa membelikan ibunya sebuah mobil. 
 
Beda Rizal anak Amerika ini berjualan didepan pasar swalayan. Kamudian ada Bridges-Mo yang sudah memulai sejak 9 tahun. Ia memulai lewat dasi kupu- kupu rajutan sang nenek. Adalagi Madison Robinson yang memulai sejak 8 tahun lewat sandal warna- warni.
 

Mengajari Anak Wirausaha

 
Mengajari anak wirausaha memang sulit. Ada orang berpendapat anak bekerja berarti eksploitasi. Tapi, ketika anak sudah punya passion sejak kecil, dalam pendidikan manapun kami yakin harus mengakomodir. Bedanya ada di perlakuan kedua orang tua. 
 
Termasuk orang tua Rizal bocah asal Sleman ini. Anak kedua dari tiga bersaudara ini punya satu semangat perlu kita acungi jempol. Sekali lagi ia mengakui bahwa, "Saya jualan memang karena hobby", juga membantu keluarga.

Kepada pewarta dia bercerita bahwa keinginan itu timbul sendiri. Kedua orang tuanya tidak pernah meminta dirinya bekerja. Ia mulai berjualan bahkan sejak kelas 2 SD. "Saya jualan pulang sekolah. Lalu sore ngaji dulu. Lalu lanjut jualan sampai maghrib," ujar Rizal polos. 
 
Meski berdagang satu hal, dia tidak pernah tinggal soal sholat lima waktu. Bocah chubby berkulit sawo ini akan bermain ketika di sekolah dan di tempat ngaji.

Jualannya dari sandwich, nugget, jus buah, sampai juga coklat pisang. Rizal rata- rata menjualnya Rp.2.500 sampai Rp.3000. Untuk jus buah dibandrol seharga Rp.1.500, yang dibawanya lewat kota merah diikat di belakang sepedanya. Omzet per- harinya Rp.150.000 sampai Rp.200.000. 
 
Hasil jualan akan diberikan ke ibu. Lalu uang tersebut akan ditabungkan oleh ibunya Rp.50.000. Sang ibu juga tidak melarang ketika Rizal memakai uangnya. "Kadang saya pakai beli jajan buat adik," katanya lagi.

Dia pandai membaca Al- Quran di kampung. Ketika pertama kali meminta berjualan. Ibu sudah mewanti- wantinya agar nilainya tidak turun. Rizal penuh semangat bahkan dia ingin mengalahkan pemilik McDonald. 
 
Anak kedua dari tiga bersaudar ini nila ujiannya tidak pernah jeblok. Bahkan bisa masuk sepuluh besar, " Dia rajin belajar dan rajin ngaji sama enggak pernah bolong salat juga," kata Ibu.

Sudah tertarik jualan sejak SD. Ketika itu ibunya langsung mengamini keinginan tersebut. Syarat nilai tidak boleh jeblok dipegang Rizal. Ibu pun mendukung lewat aneka kue bikinan sendiri. "Saya buatkan roti, pisang coklat, dan jus buah buat jualan," tambahnya. 
 
Mulai kelas IV SD berjualan lah si Rizal, yang pertama- tama jualan di kantin sekolah. Padahal ibu dan ayahnya tidak pernah memintanya berjualan. Kedang ibu meras kasihan meminta agar tidak jualan. Cuma ia sendiri yang mau berjualan. 
 
Kalau dilihat dari kacamata awam, beberap ibu- ibu pembeli, melihat si Rizal sangat kasihan awalnya. Masih kecil kok sudah dipaksa jualan tutur seorang pelanggan Rizal. Namun, ketika perbincangan terjadi, sosok Rizal bukan lah anak kecil biasa. 
 
Rizal bahkan membuat anak pelanggan itu terinspirasi. Anak si ibu itu malah ikutan jualan di sekolah.

"Tapi begitu ngobrol-ngobrol saya jadi salut dan respek sama Rizal. Dia jualan karena kemauannya sendiri. Dia menginspirasi Sandy (anaknya)," ujar Santi.

Kegigihan bocah kelahiran 12 Februari 2002 ini juga menular ke kakanya. Dia yang sudah SMK sekarang ikutan berjualan di sekolah. Sejak dulu, ia memang sudah bercita- cita menjadi pengusaha. Meski harus mengayuh sepeda tiap hari dibawah teriknya matahari. 
 
Dia melakoni semuanya demi nama passion. Ketika ditanya siapa inspirasi maka jawabanya salah satu pengusaha Indonesia; bukan pengusaha McDonald.

Disabilitas Menjadi Pengusaha Keset Kaki Ratusan Juta

Profil Pengusaha Irma Suyanti

 

kesetperca.png
 

Tak terbayangkan disabilitas menjadi pengusaha. Wanita ini kini menjadi pengusaha keset kaki hasilakan ratusan juta. Irma Suyanti, warga Kebumen, Jawa Tengah, meyakini disabilitas bukanlah hambatannya mencari rejeki. Dia yakin menemukan celah hingga menghasilkan cuan.


Terbukti dia sukses berkat mengolah kain perca menjadi keset kaki. "Sebagai penyandang disabilitas saya selalu didiskriminasi; Melamar kerja selalu ditolak," ucapnya. Dirinya tau memiliki kelebihan bakat di bidang seni.


Inilah kemudian dieksplor ketika menjadi wirausaha. Dia ingin membuat produk. Dan membuat keset kaki merupakan pilihan. Menimbang dia juga mendapatkan bahan baku murah. Keset karakter yang dianggap ia mudah lakukan. Dia tidak mengeluarkan modal banyak karena bahan sisa.


Nama usahanya Mutiara Handycraft. Walau dia berhasil bikin sesuatu bagus. Itu berkat bakat seni dan ketrampilan. Namun pengusaha ini sempat kebingungan melakukan pemasaran. "Karena salah satu modalnya seni. Kami menjual dengan harga tinggi tapi dengan modal sedikit," lanjutnya.


"Saya sempat bingung pemasarannya," ia melanjutkan. Dia lalu mengingat bahwa Jakarta pusatnya berbisnis. Maka ia ke sana, mencari info pusat grosirnya seluruh Indonesia. Maka ia menemukan Pasar Tanah Abang sebagai tempat pemasaran.


Pengusaha Irma mengatakan usahanya lancar. Ia menghasilkan omzet sampai Rp.200 juta, dan mampu memasarkan sampai ke Australia. Disabilitas menjadi pengusaha keset menginspirasi. Ia mematahkan anggapan sinis akan kehidupan disabilitas.


"Saya bisa membuktikan bahwa penyandang disabilitas kalau diberi kesempatan bisa berwirausaha," dia melanjutkan. Pengusaha wanita ini kemudian diajak oleh pihak Kemenpora. Diajak ikutan festival Festival Indonesia Gathering di Australia.


Dia mendapatkan buyer lewat ajakan tersebut. "Dari situ saya dapat buyer dari Australia. Saya dapat kontrak 8 tahun," lanjut Irma.


Dikisahkan Irma mengalami disabilitas semenjak kecil. Penyebabnya penyakit polio yang diderita semenjak lahir. Dibantu sang suami, Agus Priyanto, keduanya mengumpulkan kain perca buat diolah menjadi keset.


Bermula Irma mengamati lingkungan sekitar banyak usaha garmen. Rumahnya di Semarang banyak hasilkan limbah kain. Dia kemudian kumpulkan kain tersebut. Ditumpuk kemudia dijahitnya menjadi bentuk keset kaki. Awal dia yang penyandang disabilitas harus berjalan jauh sampai ke Ibu Kota.


Dia membawa sendiri tiga karung besar. Pasalnya akan mengeluarkan biaya mahal bila sendirian. Irma langsung berhadapan dengan preman pasar Tanah Abang. Ia bertekat berjualan sampai ke Tanah Abang ini. Hingga ia menemukan jalan melalui ajang kewirausahaan.


Secarik kertas kemudian terbang menyambar wajah Irma. Ternyata isinya mengenai kesempatan ikut lomba wirausaha. Namun dia tidak memenuhi syarat mengikuti perlombaan. Tetapi pihak panitian lalu memberikan kesempatan.


Usaha mereka dirintis semenjak 1999 silam. Berjalan baik ia memiliki 5 otang karyawan. Usaha yang berbasis di Semarang, kemudian dia dan suami pindah ke Kebumen, dan ia membeli rumah di sana lalu menjalankan usaha kembali.


Beruntung tidak mengalami masalah namun tidak mudah. Produksi harus mengalami kendala ketika dia membutuhkan pegawai. Dari door- to- door dirinya menawarkan lapangan pekerjaan. Dia mengajak ibu- ibu rumah tangga menghasilkan uang.


Tetapi niat baiknya malah dianggap sinis lantaran difable. Irma berhasil membuktikan lewat produksi mereka. Ibu- ibu rumah tangga mulai melirik bahwa ini akan berhasil. Dan mereka ikut bergabung dan ikut membuat keset hingga produksi Irma membesar.


Tahun 2003, mereka sepakat mendirikan koperasi simpan pinjam, sekaligus menjadi badan yang memasarkan 1300 lembar kesetnya. Irma pun memanfaatkan 15 orang penjual. Ia juga menjualnya ke gerai- gerai ke berbagai kota.


Anggota koperasinya sampai ke Solo dan kota lain. Penjualanya tidak cuma mencapai Jakarta, tetapi sampai ke Australia, Jerman, Jepang, dan Turki. Omzet perbulannya mencapai Rp.40- 50 juta. Ada 24 jenis keset, diproduksi dan dipasarkan di dalam negeri 15 ribua perbulan, dan 45 ribu keluar negeri.


Usaha Mutiara Handycraft termasuk membuat kotak tisu dari lidi. Dia juga membuat sajadah dari tikar pandan. Kemudian dia mendirikan rumah 7m x 9m. Di rumah belakang rumahnya tersebut menjadi rumah penyandang cacat. Dia juga memberikan pekerjaan agar mandiri lewat membuat keset begini.

Bisnis Telur Asin Rasa Udang Pengusaha Regina

Profil Pengusaha Reginald Indarsin 


telor asin rasa udang
 
Bisnis telur asin rasa udang nampak berbeda. Pengusaha Regina menjalankan bisnis unik dan kreatif demi menarik perhatian. Ini menjadi senjata Reginald Indarsin, yang membuat telor asin kini menjadi berasa udang.
 
Mahasiswa Universitas Prasetya Mulya, anak muda yang baru 21 tahun, mampu membuat telor asin berasa udang. Sebelumnya ia membuat telur asin rasa jahe dan bawang. Reginald memulia usaha sejak awal 2015. Dia memang berambisi menjadi pengusaha muda. 
 

Pengusaha Muda

 
Terutama ketika melihat sukses telur asin Ibu Ambar yang di Jakarta Utara. Dimulai awal tahun tetapi masih percobaan. Meskipun begitu, Reginald berani memasarkan. Dimulai dari rasa jahe, udang, dan bawang. Talur asin buatanyanya cocok dimakan pakai rawon. 
 
Proses pembuatan sih tidak susah. Telur asin diamplas dibubuki bumbu khusus yang dia sediakan. Barulah dilapisi tanah liat layaknya telur asin umum. Perpaduan bumbu diatas kemudian direbus. Rasanya khas dan enak. 
 
Kini dia sudah mensuplai beberapa restoran di kawasan BSD Tangerang, Banten. Dalam satu minggu dua kali bayangkan dia memproduksi 200 telur.

Modal awal ia tidak tanggung- tanggung. Reginald menggelontorkan uang Rp.20 juta, dimana Rp.10 juta buat beli telur asin dan sisanya peralatan produksi. Nekat? Tentu karena bisnisnya boleh dibilang coba- coba. Enak dilidah kita belum tentu masyarakat akan merespon positif seperti kita.

Biaya produksi telur Rp.3000, kita jualnya Rp.6000 per- telurnya dan diproduksi selalu habis. "Kita baru mulai bisnis ini 6 bulan yang lalu. Inovasi rasa kita akan lebih optimalkan," jelasnya. Pasaran telur asin ini memang menjanjikan apalagi selera kuliner kita tidak diragukan lagi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba