Pengusaha Mambantu Warga Dolly Setelah Ditutup

Profil Pengusaha Dalu Nuzlul Kiram


pengusahabaik.png

Pengusaha baik membantu warga Dolly setelah ditutup. Lokalisasi yang dulnya dikenal  terbesar Asia Tenggara, kini nasibnya berubah menjadi perkampungan biasa. Warga Dolly mulai berbenah menjadi masyarakat biasa sautuhnya.
 
Wirausaha digabungkan kegiatan sosial bukan perkara mudah.. Satu pemuda ini sukses menolong warga Dolly, ialah Dalu Nuzlul Kiram, tak tanggung dia tidak cuma bersosial. Dia mampu merubah lokalisasi Dolly jadi tampak tak sesuram penghuninya. 
 
Tak cuma menyasar mereka yang menetap disana. Ia juga telah punya segudang rencana lain.
 

Pengusaha Sosial


Nilai bisnis berhasil jika bermanfaat bagi orang disekitar. Itulah moto seorang Dalu yang tak mengukur nilai omzet dihasilkannya. Ini bukan sekedar mencari untung semata. Pemuda 26 tahun aktif mendorong mereka warga biasa yang tinggal di kawasan Dolly. 
 
Ia Mencoba membangkitkan ekonomi masyarakat pasca ditutupnya lokalisasi Dolly. Idenya adalah memberdayakan mereka. Mencoba menciptakan sumber pendapatan baru bagi mereka.

Berkat kegigihannya tersebut, ia pernah diganjar penghargaan Kreatif Wirausahawan Mandiri 2015. Ia fokus memberdayakan masyarakat Dolly mengembangkan aneka bisnis. 
 
Awalnya cuma, berkonsep usaha berbasis wisata kuliner dan edukasi, kini, ia juga merambah mengajak mereka menjadi pengusaha batik. 

"Jadi masyarakat tidak bertumpu pada bisnis itu (seks komersil) tetapi pada bisnis ini (UMKM)" teranya kepada Detik.com

Dolly sebagai tempat prostitusi tengah diubah citranya. Bersama wadah Tim Melukis Harapan. Dalu sebagai pemimpin memimpin 80 orang anggota. Ia kemudian dijuluki Dalu Dolly. 
 
Suksesnya tidak begitu mudahnya, itu semua berkat kerja kerasnya. Dia bersama kawanya tak menjanjikan keuntungan. Namun, mereka janji bahawa akan ada perubahan pada jejak masa lalu mereka.

Melatih PSK

 
Awalnya, mereka bersama fokus pada mambantu para PSK. Mengajari mereka agar bisa lepas dari dunia kelamnya. Kemudian fokus pada membeperbaiki kehidupan masyarakat. Ada total sekitar 4 rukun tetangga termasuk orang dewasa, ibu- ibu, dan anak- anaknya. 
 
Untuk eks- PSK baru cuma 5 orang saja baru mau diajak, tapi tetap, dirinya optimis akan jumlahnya. Cuma bermodal kepercayaan dirinya mampu menjalankan bisnis sosial tersebut. 
 
Soal modal perlatan dan lain- lainnya, mereka memanfaatkan donasi, ditambah ada dukungan fasiliasi dari Pemerintahan Daerah Surabaya. Bu Risma selaku Walikota sangat mendukung kerjanya. Apalagi semenjak ditertibkannya lokalisasi Dolly. 
 
"Kami juga mengajak mucikari," jelas Dalu. Fokus usahanya ini menghasilkan aneka usaha seperti batik, pembuatan kue, telur asin, nugget, sabun, dan makanan- makanan umum lainnya. Meski telah terlihat arahnya ia mengaku tak semudah itu.

Tak mudah, karena nilai uang berputar dalam bisnis tersebut mencapai miliaran rupiah. Sebelum ditutup nilai uangnya mencapai Rp.1,2 miliar- Rp.2 miliar. Bisnisnya meliputi pegawai PSK sejumlah 1.500, narkoba, karaoke, tukang parkir, laundry, warkop, dan sebagainya. 
 
Tentu sulit untuk mengajak mereka yang terlibat apalagi dengan keuntungan tak menentu. Penawaran Dalu tak bisa bermodal kata keuntungan menggiurkan. Ia cuma menekankan sumber pendapatan lebih baik.

Aktif mendorong mereka berjualan. Tugas Tim Melukis Harapan tak berhenti disitu. Dia bersama juga aktif membantu mempromosikan. Membantu mengemaskan produk- produk buatan mereka. Tuganya kemudian adalah untuk meningkatkan ketertarikan pembeli. 
 
Berbekal donasi serta kemampuan marketing modern telah membawa pengusaha lokal menghasilkan 5 juta per- bulan. Hasil penjualan oleh tim -nya akan dikembalikan kepada masyarakat.

"Belum besar, tetapi itu masih bisa meningkat lebih besar lagi, bila kita konsisten memberi motivasi," jelasnya.

Kurang lebih 10 bulanan hal ini dikerjakan dia bersama tim -nya. Aneka penghargaan telah dihasilkan oleh pemuda satu ini. Ia bahkan mendapatkan modal langsung oleh Presiden Joko Widodo. Uang sebesar 100 juta diberikan karena usahanya mampu merubah kehidupan masyarakat banyak. 
 
Meski sukses membawa 200 juta dari acara Wirausaha Mandiri oleh Bank Mandiri. Itu dianggapnya sebagai amanah. Dirinya yakin yang terutama adalah kepercayaan masyarakat bukan uang.

"Karena, berkat kemenangan ini kepercayaan berbagai pihak kepada kami pun semakin meningkat," ujarnya dengan suara serak karena menahan haru.

Uang tersebut ia kembalikan lagi ke masyarakat. Digunakan untuk apa? Tentu untuk modal kembali guna menjalankan roda bisnis di kampung Dolly. Ia mengharapkan lompatan. Bagi penduduk disana agar tidak cuma mengandalkan bantuan. 
 
Dia berharap mereka bisa lebih profesional dan mandiri lagi. Visi kedepannya adalah mengembangkan kawasan Dolly menjadi pusat industri wisata. Kesemuanya akan terintegrasi apik menjadikan Dolly sebagai wisata sejarah.

Pemerintah Surabaya membantunya menggapai ini. Yakni dengan menyediakan 12 titik bekas lokalisasi yang akan disulapnya menjadi sesuatu. Ini akan dijadikan wahana belajar sejarah, semacam meseum, serta juga tempat berwisata kuliner dan oleh- oleh, tegasnya. 
 
Adapula keinginan merambah industri jasa tapi bukan jasa seperti dulu loh. Dalam benaknya yakni dibidang transportasi, yang mana dalam bayanganya mendatang akan terintegrasi dengan kota wisata edukasi.

Pemilik Apotek K- 24 Biografi Gideon Hartono

Biografi Pengusaha Gideon Hartono


apotek24.png
 
Biografi Gideon Hartono pemilik Apotek K- 24 apotik 24 jam. Terlahir sebagai keturunan Tionghoa, tetapi tidak terlahir dari keluarga berada di jamannya. Dia cuma anak biasa lahir di keluarga biasa. Jadi perbedaan fakta bahwa keluarganya adalah seorang penganut entrepreneurship kuat. 
 
Jiwa kewiruasahaan itu tumbuh dalam tubuh kecil Gideon; disadari ataupun tidak, kala itu. Dia terlahir dari keluarga pembuat kue tradisional khas China. Dia mepunyai satu mimpi yakni jadi dokter khususnya dokter mata.
 

Bisnis Sendiri


Hal tersebut diwujudkannya melalui pendidikan dokter. Biografi Gideon Hartono lulus sebagai dokter mata seperti mimpinya. Meski begitu sebelum masuk bukanlah perkara mudah. Statusnya sebagai warga keturunan mengunci pintu memasuki pendidikan kedokteran lebih tinggi. 
 
Kala itu, di Era Orde Baru, baginya sulit bagai warga biasa bisa masuk ke kuliah kedokteran umum. Apalagi ketika dia mencoba mendapatkan gelar spesialisnya. Untuk masuk ke kampus saja sudah susah.

Indonesia, di awal 1980 -an, menjadi masa terberat bagi sebagian masyarakat Tionghoa. Meski sudah bisa lulus dan menjadi dokter, ia masih dikecilkan, pilihannya tak lain cuma bekerja di sebuah Puskesmas di daerah Yogyakarta. 
 
Seperti dilansir laman The Jakarta Globe, jiwa entrepreneurship -nya tak pernah hilang, justru tumbuh seiring keterpaksaan (kepepet), diantara kegetirannya sebagai dokter mata jadi dokter umum PNS; dia berusaha.

Berkat hobinya fotografi membawanya mulai berpikir ke arah sana. Bisnis pertama Gideon adalah sebuah studio foto bernama Agatha Foto. Guna menjalankan usahanya diajaklah sang adik bersama, Tulus Benyamin, jadi salah satu patner bisnisnya. 
 
Usaha itu berjalan cukup prospektif dari pendapatan. Sukses Gideon memilih agar usahanya dikerjakan total oleh adiknya. Sementara dia? Dia kembali menjadi dokter. Dalam perjalanan pemikirannya tentang obat murah- mudah timbul.

Di benaknya terpikir tentang kebutuhan masyarakat. Bisnis keduanya adalah bagaimana mendapat obat jadi lebih murah. Kemudian berkembang tepikirkan bagaimana lebih maju. Gideon lantas juga mengamati satu kesulitan lagi yang jarang terpikirkan. 
 
Sulitnya mendapatkan obat di Sabtu atau Minggu ada dalam teropong bisnis keduanya. Ia pun mulai mengkonsep sistem bisnis apotik 24 jam. Ide bisnis ini tanpa ada perencanaan khusus; mengalir apa adanya.

Tak ada dalam benaknya akan mewaralabakan. Gideon cuma fokus membangun brand image. Sementara itu ia aktif dalam promosi dan marketingnya langsung. Bak "pucuk dicinta, ulam pun tiba" itulah istilah sukses yang bisa menggambarkan bisnisnya. 
 
Tanpa ada analisis pasar cuma bukan satu apotik saja. Cuma saja jalan bisnisnya tak semudah itu pada masanya. Ada kewajiban mendapatkan lisensi dari asosiasi apoteker atau kita kenal Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI).

Salah satu anggota ISFI sadar akan niatan Gideon Hartono. Sosok itulah menjadi penghalang utama bagi lahirnya Apotek K- 24. Ia pun tak segan menantang langsung ISFI. Dia mengajukan laporan hukum atas hal- hal tidak menyenangkan tersebut. 
 
Sebuah langkah tak perlu, karena pada akhirnya, lisensi itu berhasil turun dan berada ditangannya. Modal membangun apotek adalah 400 juta. Dibukalah satu apotik pertama di Jalan Magelang, Yogyakarta, tahun 2002.

Awal berbisnis tentu sepi- sepi saja begitulah adanya. Apalagi nama apotik miliknya masih terbilang baru. Dia tak pantang menyerah. Berbulan- bulan dilalui hingga orang- orang mulai sadar satu hal; apotik miliknya itu tidak pernah tutup. 
 

Pemilik Apotek K- 24

 
Dalam tiga bulan itu orang sudah sadar bahwa apotiknya selalu buka -bahkan di Hari Raya seperti Idul Fitri, Natal, atau bahkan di tahun baru. Begitu pula pada hari Sabtu malam dimana di tengah malam pun masih buka.

Perjalanan waktu membawa lebih banyak orang bedatangan. Responnya terlalu sangat positif hingga mampu membawa nama Gideon naik. Kurang dari satu tahun, ia sudah mampu membuka satu apotik lagi, yaitu di Jl. Gejayan Yogyakarta. 
 
Meski sudah jadi Pegawai Negeri Sipil, hasratnya telah bertemu hal lain, mimpinya sudah terpenuhi (sebagai dokter) kini giliran menjadi wiraswasta. Jadilah dia memutuskan berhenti dari pekerjaannya.

Butuh waktu sembilan tahun sebelum memutuskan waralaba. Bisnis franchise digulirkan setelah ia matang membangun konsep Apotek K- 24. Setiap apotik miliknya memiliki dua orang ahli farmasi. 
 
Dimana merujuk peraturan negara bahwa mereka bisa mengganti sesuai kebutuhan dokter atau pasien. Ini dimaksud bahwa Apotek K- 24 juga menjangkau kebutuha masyarakat kelas menengah- bawah. Intinya bekerja di sini berarti seorang farmasi tidak cuma harus profesional.

"Caranya? Mudah! Tawarkan mereka obat generik, yang biasanya 15% murah dari produksi bermerek. Ini akan mengurangi biaya pengeluaran modal juga, disisi lain akan menaikan nilai dimata mereka bagaimana kita melayani mereka. Ini adalah cara terbaik beriklan," jelas pihak Apotek K- 24.

Konsep franchisenya dijelaskan mencangkup angka 800 juta modal. Pembayaran sistem royalti 1,8% dari nilai keuntungan kamu tiap bulan, soal obat sudah disuport oleh Apotek K- 24, juga termasuk biaya sewa di lokasi selama dua tahun. 
 
Menjadi tantangan sendiri bagi para pewaralaba adalah bahwa kita harus tau betul komposisi gaji. Karena membayar listrik dan gaji ada pada tanggungan kita. Apalagi ditambah apotik harus bukan 24 jam selama 7 hari.

Logo Apotek K- 24 sendiri punya filosofi dari warna hijau, merah, kuning, dan putih. Sebuah konsep yang berarti pluralisme. Dimana menurut Gideon harus dijalankan pula para pewaralaba. Yaitu bahwa pewaralaba dalam mencari pekerja harus tanpa pandang bulu etnis, agama, atau diskriminasi apapun. 
 
Dalam perjalanan bisnis, ia memastikan, perusahaan akan mensuport perihal pelatihan tiga bulan dan jikalau pewaralaba itu jau maka ada pelatihan berupa video.
 
Kapan Apotek K- 24 pertama kali didirikan adalah tanggal 24 Oktober 2002. Dia sama sekali melakukan riset pasar. Dalam benaknya yakin bahwa konsep apotik 24 jam pasti akan sukses. Pada tiga bulan pertama berdiri seperti diceritakan diatas; sepi, lesu pembeli. 
 
Namun, semakin lama, apotik 24 jam -nya semakin lah ramai. Ternyata intuisi bapak dua anak ini terbukti benar. Mungkin terdengar aneh tapi agaknya Gideon selalu percaya angka 24 merupakan pembawa keberuntungan.

Tidak cuma membuka apotike pertama, dalam perjalanannya, ia selalu membuka pada tanggal 24. Angka tersebut juga termasuk soal membayar gajian pegawai. 
 
"Setiap membuka outlet baru, saya memang memilih angka 24, demikian pula pembayaran gaji karyawan, kalau tanggal 24 jatuh pada hari minggu gajiannya dimajukan bukan dimundurkan. Tapi semua itu tidak ada hubungan dengan hongsui karena saya tidak percaya hong sui," tegasnya.

Meski jadi apotik 24 jam tidak berarti harga akan berbeda di siang atau malam. Dirinya meyakinkan bahwa ada misi mulai dibalik berdirinya apotik tersebut. Bukan soal keuntungan dari 365 hari, tapi ada nilai ingin membantu masyarakat, membantu mendapatkan akses obat mudah. 
 
Gideon mengaku tak mengambil untung dari obat dijualnya. Melainkan mengambil untung dari omzet penjualan saja. Padahal jikalau mau, ia bisa saja mendapatkan margin obat 20- 40 persen.

Berpendapatan margin untung saja, dijelaskannya, tidak 100% diambil semua. "Saya hanya mengambil 17 sampai 25 persen saja, sisanya biar konsumen menikmati," jelasnya kembali dalam biografi Gideon Hartono.

Sejak dibuka Apotek K- 24 telah buka selama 24 jam, 365 hari penuh, bahkan di hari- hari libur nasional, ini lantas membawa nama perusahaanya masuk rekor MURI. "Sejak buka sampai sekarang, kami tidak pernah tutup," paparnya, Gideo merasa bangga atas penghargaan tersebut. 
 
Hasrat lain yang belum tuntas yakni bagaimana agar bisnisnya menyebar di Pulau Jawa. Maka, dipilihlah konsep waralaba, Ia sendiri selalu melakukan seleksi ketat untuk patner pengusahanya.

Banyak tawaran tapi beberapa saja benar- benar bisa bukan. Dalam setahun, tiap outlet, tercatat berhasil membukukan transaksi antara 350- 500 item, nila penjualan Rp.250- 300 juta. Ia sendiri mengisaratkan tak mau mencari investor pasif. Termasuk harus ada survei kelayakan lokasi. 
 
"Kalau lokasinya bagus, kami baru bisa memutuskan oke," kata lelaki hobi membaca ini. Untuk mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan dirinya, kamu harus merogoh kocek antara Rp.300- 600 juta.

Usaha Pupuk Pengusaha Muda Modal Kotoran Sapi

Profil Pengusaha Daniel Wahyudi


usahapupuk.png
   
Pengusaha muda berbisnis kuliner mah biasa. Tapi bagaimana bila usaha pupuk. Gak jijik ia mengolah kotoran menjadi cuan. Bukan jorok tetapi uang. Inilah gambaran profil seorang Daniel Wahyudi, sosok
mahasiswa akhir berusia 22 tahun dan wirausahawan muda.
 
 
Pemuda berkacamata ini tercatat mahasiswa tingkat akhir di Universitas Prasetya Mulya. Bukannya berbisnis kuliner dia memilih mengolah kotoran menjadi pupuk.
 

Wirausaha Muda


Daniel berani mengambil langkah sendiri. Bersama perusahaan bernama Agri Maestro Perkasa, ia mendapat nama di kawasan Tangerang, khususnya kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Perusahaan tersebut dikenal punya dua bisnis khusus: pupuk dan peternakan. 
 
Mengolah limbah kotoran menjadi pupuk. Sementara itu sisanya berbisnis peternakan.

"Perusahaan Agri Maestro Perkasa adalah perusahaan yang menggabungkan dua core bisnis yaitu pepuk dan peternakan," terangnya kepada Detik.com.

Produknya kemudian diberinya nama pupuk Lokos. Sudah banyak pupuk telah diproduksinya yang memiliki aneka kegunaan. Kesemuanya dibuat diperuntukan sesuai dengan jenis tanamannya. Ambil contohnya seperti Lokos Natural 555 digunakan sebagai pupuk tanaman rumahan. 
 
Lalu, ada Lokos Super Kascing, Lokos Sawit, adapula Lokos Fruity khusus buat buah- buahan. Untuk Lokos 555 sudah distribusikan ke BSD. Ia mengaku tiap minggunya bisa laku 50 pac- kemasan.

"Kalau Lokos Super Kascing ini dibuat dari limbah kotoran sapi dan kambing diekstrak dengan cacing tanah. Fungsinya tanaman yang sudah layu akan direhabilitasi," jelasnya.

Soal Lokos Sawit masih belum diluncurkan tetapi sesuai dengan namanya. Rencananya Daniel akan siapkan ini sebagai produk baru unggulan. Kurun waktunya akan diluncurkan 6 bulan selepas ini. Tidak cuma sudah diterima masyarakat Tangerang. 
 
Pupuknya juga sudah mulai distribusikan ke penjuru Pulau Jawa hingga ke Bangka Belitung. Dari bisnisnya Deniel mengantongi keuntungan signifikan.

Coba bayangkan harga produksinya cuma Rp.4.300/kg, kemudian dijualnya ke distributor jatuhnya seharga Rp.8.500/kg. Sesampainya ke para pengguna adalah Rp.15.000/kg loh. Disaat diajak berbicara berapa dia hasilkan dari bisnis pupuk. Dengan rendah hati Daniel tak mau menyebutkan spesifik. 
 
Akan tetapi sudah bisa terbersit dari angka diatas. Dia sendiri tengah berusaha meningkatkan produknya. Sebagai pengusaha muda dirinya menyadari bisnisnya masih jauh. Ia ingin jadi lebih besar. Selain untung apa jadi konsernnya adalah bagaimana membuka lapangan kerja baru. 
 
Sejak pertama kali dibangun 2014 lalu, usahanya tergolong cepat tumbuh, oleh karena itu Daniel tampak masih hati- hati. Dia menyebutkan bahwa sekala produksinya masih rumahan berkaryawan 5 orang.

Dia Pengusaha Martabak Inovatif Indonesia

Profil Pengusaha Paulus Gunawan

 

martabakhouse.png
 

Dia bisa dibilang pengusaha martabak paling menarik. Dia menciptakan martabak inovatif se- Indonesia. Masyarakat cuma mengenal dua jenis martabak: Manis dan Telur. Makanan ini sudah melekat lama walau martabak inovatif hanya sebatas topping.

 

Martabak merupakan makanan populer akrab di lidah kita. Pengusaha muda bernama Paulus Gunawan lantas menunjukan varian martabak lain. Dia menjajakan martabak unik di kafenya. Pria 38 tahun ini menyajikan martabak panas di atas loyang steak daging.


Bisnis Pengusaha Martabak

 

Ia menawarkan steak martabak atau martabak hot plate. Kafe tersebut lantas dinamai Martabak House. Ia membuat martabak layak makan steak. Tidak dibawa pulang melainkan dinikmati di tempat. "Di sini, orang makan martabak tidak dibawa pulang, tapi dimakan di tempat," ia menjelaskan.

 

Martabak House menyuguhkan banyak inovasi. Menu mereka meliputi steak martabak bakar, martabak ufo, crispy martabak, martabak mayo, dan sebagainya. Kafe khusus martabak tetapi aneka varian rasa dan bentuk. 

 

Rasa unik ambil contohnya crispy martabak, bentuknya martabak telur dibikin super garing berkat ada tepung khusus. Paulus lalu menulis tulisan di kafe "Cara Asik Menikmati Martabak". Berkat inovasi keunikan tersebut Paulus mengantongi omzet besar.


Paulus beromzet Rp.120 juta dari Martabak House di Semarang. Padahal dia merintis usahanya pada Juni 2007 dan membuka cabang pada Desember 2008. Kesuksesa mendapat omzet besar berkat banyak aspek tidak cuma varian menu.

 

Dia menjelaskan, "sebelumnya, saya sudah berjualan martabak grobak sejak 1994. Jadi, saya paham betul resep martabak." Rasa enak dan varian banyak unik membuat masyarakat ingin mencicipi. Dari mencoba menjadi pelanggan reguler Martabak House.


Maka Martabak House membuka sistem waralaba. Sudah banyak orang berminat menjadi mitra bisnis Paulus. Ia meyakini selama lokasi mereka strategis akan sukses. Dalam sebulan ia meyakinkan mitra akan balik modal, karena sudah termasuk pelatihan, peralatan, dan bahan baku senilai Rp.10 juta.


Uang kemitraan waralabanya antara Rp.100- 150 juta. Itu sudah termasuk peralatan lengkap dan biaya kontrak 5 tahun. Soal bahan baku sudah disiapkan orang Martabak House. Ada tepung khusus Paulus siapkan seharga Rp.3000- 3500.


Dalam setahun Paulus menjamin balik modal. Syaratnya pendapatan kotor perhari Rp.4 juta. Martabak House di Semarang sendiri menghasilkan omzet Rp.120 juta. Uang sewa tempat Rp.17 juta pertahun. Dan 50% omzet merupakan belanja bahan termasuk gaji pegawai.

Usaha Kapal Replika Bandong Kerajinan Kalimantan Barat

Profil Pengusaha Rivai Nafis

 
kapalreplika.png
 
Taukah kawan usaha kapal replika bandong merupakan khas. Ini merupakan salah satu dari kerajinan Kalimantan Barat. Berawal dari rasa suka kemudian menjadi usaha. Ini kisah, layak disebut pengusaha, Muhammad Rivai Nafis pria 73 -tahun yang hidup dari usaha replika kapal bandong. 
 
Kapal bandong merupakan perahu besar yang menjadi moda transportasi sungai di Kalimantan Barat. Namun, kapal ini tak lagi populer, angkutan sungai ini tergerus jaman dimana transportasi darat dianggap lebih cepat, murah.

Memulai Usaha Kapal Replika


Rivai menjelaskan, selain karena suka, membuat replika kapal juga usaha untuk melestarikan budaya Kalbar sendiri.

"Ini satu- satunya kerajinan khas Kalimantan Barat," ujarnya.

Ia mengisahkan sedari kecil dia hidup dipinggiran sungai. Rivai setiap hari melihat kapal- kapal bondong ini berlalu- lalang. Namun, kapal ini kini hilang, tergerus jaman jumlahnya tak sebanyak dulu lagi. Terinspirasi, Rivai mulai membuat miniatur kapal bandong sebagai hobi awalnya.

Dibuatlah satu gerai kecil di pinggiran Sungai Sekayam, Kelurahan Tanjung Sekayam, Kapuas, Sanggau, ia sehari-harin merakit kayu-kayu kecil jadi kapal bandong kecil. Tangannya cekatan, dan sangat terampil.

Awalnya cuma iseng, tapi ternyata produk- produk tersebut laku dijual. Bahkan harganya lebih dari yang diharapkan Rivai. Bayangkan satu replika kapal bandong bisa laku mahal. Antara Rp200-500 ribu per buah. Permintaan yang tinggi membuat ia harus dibantu tiga pekerja. 
 
"Sebulan bisa ratusan pesanan," katanya.

Tak cuma berhenti di Kalimantan, replika buatannya ternyata terjual hingga diluar wilayah Kalimantan Barat. Usaha kecilnya bisa menjual hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan ke sejumlah negara tetangga lain. 
 
Hitung- hitungnya, omzet Rivai bisa puluhan juta rupiah sebulan. Jauh dari ongkos pembuatan tetap dijalankan. Meskipun beromzet besar, dia justru khawatir kerjinan ini putus tak ada penerusnya, jelasnya kepada VIVA News. 
 
Tak bisa diwariskan ke orang lain. Ia mengaku pernah mencoba mengajarkan caranya ke masyarakat sekitar, tapi belum terlihat juga hasilnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba