Biografi Pengusaha Tjipto Widodo
Biografi Tjipto Widodo yang sempat masuk orang terkaya nomor 5. Dia pemain bisnis sawit yang memberikan contoh konsistensi. Berbeda dari beberapa pengusaha lain, Tjipto memilih fokuskan diri menggarap pasar sawit melalui PT. BW Plantation.
Perusahaan sawit pengendali 96 ribu hektar dan sudah saham publik. Nilai perusahaan sampai $390, hasilkan pendapatan Rp.584, 1 miliar pada 2009 silam. Nilai tersebut terus naik menancapkan peran Tjipto sebagai pengusaha kelas atas.
Sayangnya, banyak orang cuma melihat Tjipto senangnya, padahal dia bekerja keras dari nol buat membangun bisnis. Dia menghadapi aneka problem. Mulai dari penanaman yang terhambat banyak faktor. Problem termasuk rumitnya penanaman serta pengolahan kelapa sawit.
"Saya dulu inginnya instan, maunya punya bisnis yang langsung kuat dan besar. Praktiknya, segala sesuatu harus melewati tahap perjalanan tertentu, mesti step by step," jelas Tjipto Dia memimpin 7 ribu karyawan.
Dia merupakan generai kedua. Bisnis BWP memang berakar dari ayahnya, Budiono Widodo, yang merupakan pengusaha hak guna lahan dari Group Wanaasri. Ayahnya memang sejak awal melihat potensi berbisnis sawit.
Mereka memiliki lahan luas, iklim mendukung, tanah subur, dan dukungan pemerintah. Dulu melalui bendera usaha pertama PT. Bumilanggeng, membibit dan penanaman perdana lahan 722 ha di Kotawaringin Barat, Kalimantan Utara.
Ayah Tjipto pemilik PT. Wanaasari Fajarindo Perkasa: yang kelak mengelola PT. Bumilanggeng, PT. Bumihutani Lestari, dan PT. Sawit Sukss Sejahtera. Sedangkan Tjipto masih mengurusi bisnis batu granit melalui PT. Pacific Granitama.
Bungsu dari empat bersaudara ini tercatat menjadi komisari Wanaasari. Dia masih sibuk menjadi urus granit. Belum mengurusi harian bisnis sawit mereka yang menanjak. Ingat masa awal bisnis sawit jangan minder. Sangat sulit mulai dari penanaman dan pembibitan butuh lebih dari sekedar paham.
Tiga tahun investasi dan penanaman hasilnya dibawah harapan. Namun Budiono meyakini kenaikan kebutuhan produk turunan sawit. Modal pribadi digelontorkan Rp. 30 miliar bersumber dari aneka bisnis dulu.
Ayah Tjipto meyakini bahwa semua butuh perbaikan, belum lagi krisis moneter menerap. Jadi usaha mereka tengah dipupuk ketika krisis moneter menerjang. Kondisi kebun masih memprihatinkan. Di sana- sini masih tampak kotor tidak tertata.
Banyak tanaman sakit. Sialnya unsur hara tanah ternyata tidak mendukung. Ditambah alat berat dibeli malah macet. Ya mereka tengah merintis usaha tentu tidak semudah bayangan. Alumni California State University of Los Angles, mengenang bahwa perkebunan mereka masih tahap menanam.
Belum memproduksi produk turunan buat dijual. Biaya dikeluarkan lebih besar dibanding dihasilkan mereka. Dana modal Rp.30 miliar nampak belum membuahkan. Ayah Tjipto lantas mengajaknya masuk karena dianggap berhasil mengolah granit.
"Saya dipandang mampu membangun tim yang kuat menjalankan perusahaan," ujarnya, yang lantas terjun langsung di tahun 1999.
Pengusaha kelahiran Jakarta, tahun 1970, yang langsung mengunjungi perkebunan mereka. Dari mata memandang memang sangat kacau. Kesimpulannya Tjipto memilih untuk tidak menanam terlebih dahulu. Modal mulai habis, sementara butuh banyak perbaikan perkebunan yang sudah ada.
Tjipto memberi perkiraan tiga tahun baru rapih. Proses perbaikan dan pembersihan perkebunan membutuhkan kerja tim. Maka Tjipto mulai membangun manajemen, merekrut tanaga handal, dan membuat cetak biru kultur perusahaan.
Kemudian, tiga tahun menata semua, Tjipto mulai berpikir mencari dana diluar uang pribadi. Uang tersebut akan digunakan membayar hutang pemasok, mendirikan pabrik kelapa sawit, dan menanam perkebunan kembali.
Sayangnya, upaca pinjam ke bank dirasa terlalu berat menjadi nyata, faktor utama ialah mereka tepat berada di masa krisis moneter. Kalangan bank melakukan startegi dana keluar sangat ketat. Kredit macet kalau bisa tidak ada.
"Semua bank menutup pintu. Hampir setiap bank menolak saya," kenang Tjopto.
Kegigihan Tjipto mengunjungi bank satu persatu. Dari bank multi nasional sampai bank- bank kecil pernah didatangi. Kelebihan Tjipto ialah ketika terpojok. "Kalau terpojok, the best nya keluar," kesan Abdul Halim Ashari, karyawan utama yang menjadi Presider BWP.
Tidak puas akan penolakan pihak bank. Tjipto nekat mengunjungi petinggi bank ke rumah. Dari pintu ke pintu disambangi demi dana segar. Beda dengan Malaysia, perusahaan seolah dimanjakan karena dana segar malah diberikan langsung tanpa capek- capek.
Tjipto "mengemis" ke bank. Nyeletuklah ucapan bahwa mereka tidak akan kesini lagi. Tidak akan berkantor di bank buat meminta- minta.
"Halim, suatu hari nanti kita tidak akan di sini lagi (kantor bank), mereka yang akan datang ke kantor kita.' Tekad itu yang dijalankan. Dalam krisis kelihatan kekuatan Pak Tjipto," tutur Halim.
Bekerja Keras
Ia bertekat membalik keadaan disama sulit. Kerja keras ditambah kegigihannya menghasilkan. Pihak Bank BNI menggelontorkan dana pada 2009. Uang tersebut dipakai. Untung tersisa, termasuk buat membangun PT. Bumi Perdana Prima Internasional, yang berkapasitas 45 ton perjam.
Awal dia bersama tim kerja merasa keberatan mengerjakan tiga kebun. Sebab itu, mereka mengambil keputusan mengelola Bumilenggang dan Bumihutani dulu. Setelah stabil, mereka baru mengerjakan kebun Sawit Sukses Sejahtera.
Dibutuhkan waktu bertahun- tahun bahkan sampai 2005. Bisnis sawit mereka mulai stabil. Bahkan dia mendapatkan dua izin lokasi, dan mendirikan PT. Wana Catur Jaya Utama di Kabupaten Kapuas, dan PT. Adhayaksa Dharmasatya di Katowaringin Timur, keduanya Kalimantan Utara.
Kapasitas kebun tertanam sampai 15 ribu hektar. Mereka pun berpikir melakukan investasi kembali. Ia melakukan reorganisasi melalui Bumi Putra yang disulap menjadi BW Plantation.
Dimana satu perusahaan menginduki lima anak perusahaan: Bumilanggeng, Bumihutani, Sawit Sukses, Wanacatur, dan Adhayaksa. Kata "BW" memiliki kepanjangan nama ayahnya, Budiono Widodo.
Tahun 2008, mereka mengakuisisi ijin PT. Satria Manunggal Sejahtera dan PT. Agrolestari Kencana Makmur. Sebenarnya di tahun 2001, usahanya sudah menghasilkan sawit berbuah, namun kapasitas tak tercapai atau 6- 8 ton/ha dari 722 ha, maka hasil dijual dan belum memiliki pabrik pengolahan.
Tahun 2007, mereka membangun pabrik kedua, dengan kapasitas 60 ton/jam. Kini total kapasitas produksi crude palm oil (CPO) BWP mencapai 105/jam. Dan Tjipto sedang membangun lagi dengan kapasitas 45 ton perjam.
Meskipun banyak perusahaan membangun pengelolaan hilir. BWP memilih bisnis crude oil bukan mengerjakan hili lebih jauh. Margin untung dihasilkan penjualan minyak lebih dibanding olahan. Dia menambahkan bahwa bisnis CPO lebih banyak kegunaan.
Menjual minyak goreng maka akan dipengaruhi harga CPO, atau naik sendiri. Sementara bila dia menjual minyak, bisa digunakan untuk kosmetik, biofuel, dan turunan lainnya. Sejauh ini CPO nya masih diperdagangkan lokal, dan pembelinya melakukan impor.
Sementara mereka dapat menjual buat kebutuhan domestik sampai habis. Alih- alih mereka menjual keluar sudah cukup menjalankan tander. Minyak mereka akan diterima perusahaan multi- nasional, dari Wilmar, Best Agro, dan D