Pelopor Pengusaha Spa Biografi Henny Anastasia

Biografi Pengusaha Henny Anastasia

 
peloporspa.png
 
Biografi Henny Anastasia pelopor pengusaha spa. Bernama lengkap Henny Masi Anastasi. Bagi kamu yang mencintai dunia kecantikan mungkin mengenal namanya. Dia dikenal sebagai pengusaha, pakar, dan pelatih. Dia lah pemilik bisnis The Secrets Spa dan Beauty Training Centre. 
 
Dia telah tercatat melahirkan banyak entrepreneur dan profesional dibidang kecantikan. Memulai usaha dari salon, bisnis spa miliknya menjulang tinggi. Semua berkat kecintaan akan dunia kecantikan tersebut. Ia menjadi pengusaha spa yang merasakan pahit getirnya berusaha. 
 
Henny mengisahkan perjalanan hidupnya dulu dimulai sebagai seorang pramugari. Dia memulai karir sebagai seorang pramugari Garuda Indonesia sejak tahun 1984. Profesi yang membawanya banyak bepergian ke luar negeri.
 

Pelopor Spa Indonesia

 
Beberapa negara tempatnya singgah juga menawarkan perawatan kecantikan tubuh dan wajah. Mungkin disitulah ketertarikan Henny akan dunia kecantikan. Dalam biografi Henny Anastasi pernah merasakan gangguan kulit.

Dari perjalanan ke luar negeri, serta belajar dari sana- sini, ia jadi paham bagaimana merawat kulit dengen benar. Dia sudah "nyemplung" ke dunia kecantikan di usia 20 tahun. Meski begitu menjadi pengusaha itu lain cerita. 
 
Pada 1987, ia akhirnya memutuskan melepas pekerjaannya sebagai pramugari.
 
"Sejak itu pula saya membuka usaha salon di Jakarta dengan nama Salon Henny. Saya banyak belajar masalah bisnis kecantikan rambut dari Rudy Hadisuwarno. Dalam waktu singkat, saya sudah memiliki kompetensi sebagai hairstylist," jelasnya.

Ya, memulai usaha spa dari nol. Dia bermodal salon bernama Salon Henny. Pandangannya tak hanya terpaku pada bisnis spa. Dia memulai secara total tentang segala perawatan tubuh dan wajah. Saat itu jelasnya masih belum ada kursus kecantikan khusus. 
 
Henny kesana- kemari belajar dari banyak beauty class dari produk- produk kecantikan. Salon Henny sendiri didirikan tahun 1988 di Kelapa Gading, Jakarta. Ini adalah perwujudan keseriusan.
 
"Dengan modal seadanya, dan pemahaman yang ada, saya nekat membuka salon sendiri, untuk mengaplikasikan ilmu yang saya dalami," ujarnya, setahun kemudian, barulah dirinya masuk dunia perawatan kecantikan kulit dan spa. 
 
Untuk usaha pertamanya ini anda jangan berpikir mudah. Berbisnis salon bukanlah perkara mudah apalagi tempatnya tak strategis. Waktu itu ia menjelaskan Kelapa Gading dikelilingi tanaman eceng gondok. Lingkungan usahanya sangatlah sepi. 
 
Meski sepi pelanggan tak membuatnya berhenti. Seiring waktu, muka Kelapa Gading berubah, anda pastilah tau perumahan disana ramainya. Akhirnya, usaha Salon Henny mulai didatangi banyak pelanggan. Ia menyebut tempatnya merupakan salon pertama berspesifikasi lengkap. 
 
Beruntung dia tak langsung berpikir akan pindah. Semuanya berlangsung cepat berubah rejekinya. Sukses Salon Henny inilah, yang membuatnya menggunakan produk PT. Lankom, hingga ketiban rejeki lain. Mendengar bahwa usaha Henny sukses rejekipun datang.
 
Merek mengajak dirinya untuk memperdalam ilmu kecantikan hingga ke Paris. Singkat cerita, Henny belajar di Institut of Lancome selama 3 bulan. Dia belajar bersama Beauty Specialist Lancome, Mrs. Ann Marie, yang selalu merawat kecantikan artis-artis di Paris dan dunia. 
 
Disisi lain, ia juga peduli dengan dunia pendidikan di Indonesia. Henny mulai buat mencoba- coba membuka layanan spa di salonnya. Di tahun 1992, usaha spa masihlah belum selaris sekarang. Jadilah usaha kecilnya menjadi besar berkat penambahan bidang ini.
 

Jadi Pengusaha Spa

 
Sekitar tahun 1998 -an, dimana spa mulai digemari, usaha ini tumbuh subur tak terkontrol. Usaha spa jadi terdengar negatif bagi masyarakat. Henny sempat merasa kecewa karena justru ketika pesatnya, banyak orang tak bertanggung jawab yang justru mencoba menyalah gunakan spa.

Disaat bisnisnya semakin besar. Ia mendapatkan cobaan lagi, tapi bukan dari bisnisnya. Kali ini, Henny dinyatakan tengah menderita penyakit kanker. Hingga ia harus rutin berobat hingga ke Singapura. Inilah yang membuatnya vakum dari dunia spa hingga tahun 1999. 
 
Dalam perjalanan berobat dan pemikiran untuk balik memperbaiki spa. Dia ingin pendidikan tentang kecantikan betul- betul ada. Henny lantas langsung berpikir untuk belajar kembali di universitas. Dia kuliah S1 di Universitas Atmajaya jurusan Bimbingan Konseling dijalaninya selepas sakit. 
 
Tujuan dari apa yang diusahakannya kali ini ialah agar dia memiliki otoritas untuk mengajar dengan baik dan benar. 
 
"Setelah selesai kuliah tahun 2004, saya pun banyak diminta mengajar tentang kecantikan di berbagai instansi seperti karyawan perbankan, pegawai penerbangan, dan instansi lainnya," ungkap Henny. Setelah bisnis spa -nya di Jakarta pesat, ia mulai membangun cabang bisnisnya di Makassar.

Cabang bisnis spa -nya disana diberinya nama Secret Spa. Pemilihan cabang di Makassar sebenarnya tidak lah menguntungkan, kata temannya. Kota itu dianggap kota kecil tak berkembang tapi Henny tak putus asa. Tepat di tahun 2005, usaha spa -nya dibuka dengan 3 karyawan termasuk dirinya. 
 
Ia turun tangan langsung dalam bisnisnya di Makassar. Sebelum spa menjadi gaya hidup, dan untuk menghilangkan kesan negatif dari spa, Henny ikut aktif menulis selain mengurusi dua usahanya. Yakni menulis tentang manfaat spa serta kegunaannya. 
 
Ternyata dari cara ini cukup membantu mengikis citra- citra negatif di mata masyarakat.

"Akhirnya spa yang saya kelolah di Makassar semakin pesat. Dan pada tahun 2006 saya menamba pegawai sebanyak 20 orang, karena pelanggan saya semakin banyak," terangnya.

Mengembangkan industri spa, Henny harus terus belajar, dan dibuktikan dengan melanjutkan kuliah S2 di jurusan magister kebijakan publik. Ia memilih jurusan ini karena ingin membangun industri spa dari kacamata kebijakan publik. 
 
Melalui program magister itulah ia menjadi sosok yang disegani. Pendapatnya begitu kuat di dunia spa, bahkan bagi pembuat kebijakan publik. Selepas program pasca- sarjana, ia menyusun apa- apa yang disebutnya upaya membangun bisnis spa.

Tahun 2010, ia bergabung dengan Asosiasi Spa Indonesia (ASPI), hingga ia ditunjuk menjadi ketua Aspi di daerah Sulsel. Henny terus memberikan kontribusi untuk kemajuan industri spa di tanah air. Dia terus menulis bagi anda yang ingin berbisnis spa. 
 
Ini terbukti dengan buku yang berjudul "Cantik, Sehat, Dan Sukses Berbisnis Spa". Berkat karyanya tersebut, Henny kemudian dipanggil oleh Kementerian Pariwisata dan memberikan penghargaan karena aktif mengembalikan citra spa ke arah positif.

Untuk membantu Kementrian Pariwisata waktu itu. Ia bersama ikut menyusun apa yang namanya Standar Usaha dan Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Ini semuanya diciptakan untuk membanguns satu standar yang jelas tentang spa. 
 
Harus ada kualifikasi dan profesionalisme yang baik. Konsep itulah yang kemudian digodok menjadi Peraturan Menteri. Jika ditanya apa yang membuatnya menjadi pengusaha sukses. Itulah yang kita sebut prinsip. Prinsipnya yang harus terus belajar memperdalam ilmu. 
 
Dia juga fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Dia tak mau sendirian sukses. Buktinya ia membuka tempat pelatihan kecantikan tubuh dan wajah. Henny punya apa yang disebut standar kompetensi yang baik sebagai pengusaha spa. 
 
Berkat kerja kerasnya ia dapat menjadi dirinya yang sekarang. Sukses menghasilkan omzet 200 juta per- bulan, itu hanya dari tiga cabang spa di Jakarta dan Makassar.

Profil pengusaha


Nama: Henny Maria Anastasia S.Pd.M.E

Usaha : -The Secrets Spa dan Beauty Training Centre
            - PT. Tritunggal Megacitra Harmony Realty
            - PT. Tritunggal Pandusakti Bhakti Pertiwi

Pendidikan:

Program Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bidang Managemen dan Perencanaan Kebijakan Publik

Organisasi : -Ketua Bidang Marketing Lembaga Sertifikasi SPA Nasional Indonesia
                  -Ketua V Bidang Komunikasi  Informasi dan Teknologi,  HIPKI

Kisah Guru Honorer Wirausaha Keripik Pisang

Profil Pengusaha Siti Hadra

 

kisahguruhonorer.png
 

Ini kisah guru honorer bernama Siti Hadra. Akibat pandemi banyak guru mengeluhkan kehilangan uang tambahan. Terutama guru honorer yang memang sudah sedikit. Dikisahkan setelah enam bulan tanpa ada tanda dana BOS; Siti berkeluh kesah kepada temannya.


Wanita berhijab tersebut berkeluh kesah kepada Ici Arfanika. Ia mengeluhkan keuangannya seret. Dimana dia cuma mengantongi uang Rp.50 ribu. Mengandalkan gaji guru honorer tentu susah. Mau menunggu dana BOS tetapi belum dikucurkan.


Usaha Keripik Pisang


"Masih saya ingat kala itu, uang dikantong tinggal Rp.50 ribu. Mana dana BOS terputus enam bulan diterima pihak sekolah," ujar guru SMK Negeri di Palu.


Terdesak ekonomi memaksanya berpikir kreatif. Sarjana S2 IAIN Palu, lantas mengajak rekannya Ici berjualan keripik. Ici merupakan rekannya di Kohati HMI Palu. Mereka sepakat membuka usaha keripik pisang.


Ici ikut patungan hanya terkumpul uang Rp.100 ribu. Uang sedikit tersebut dibelikan bahan baku buah pisang. Lalu mereka menggorengnya dan dikemas dijual Rp.2000 -an. Mereka enggak menjual mahal- mahal.


Berbekal dapur seluas 2,5 meter x 2,5 meter dan peralatan pribadi. Siti menggoreng di tempat sempit tersebut. Panasnya kompor membuat suasana panas terasa. Siti pun bercanda bahwa tempat tersebut sudah termasuk sauna.


"Kalau ada di dalam (ruang produksi), seperti kita di dalam sauna. Jadi tidak perlu lagi ke sauna, cukup di sini aja," candanya ketika ditemui pewarta PaluPuso, melalui Kumparan.com.


Usaha tersebut bernama Keripik Asbal Palu. Siti mampu memproduksi sampai berkarung- karung. Siti tetap usaha walau menempati ruangan sempit tersebut. Usahanya berjualan melalui pihak sekolah dan dijual ke anak- anak.


Harga keripik Rp.2000 membuat usahanya laris manis. Murah tetapi berkualitas. Siti semakin terpacu membuat keripik. Apalagi pihak dititipi kembali memesan kembali. Siti bahkan membuat aneka varian keripik. Rencana awal dia mau berjualan buat bertahan satu- dua minggu.


Ternyata Siti menemukan wirausaha keripik pisang menjanjikan. Kisah guru honerer 28 tahun tersebut berlanjut. Kini dia tidak menjual keripik ukuran Rp.2000 -an. Melainkan ukurang besar karena akan dikirim keluar kota. Siti juga memiliki beberapa reseller.


Reseller termasuk dari Luwuk Kabupaten Banggai. Beberapa orang asal Kalimantan Timur dan juga Pulau Jawa. Tempat produksi mereka masih menumpang asrama Mahasiswa Balaesang Kabupaten Donggala. Dimana Siti dan Ici menawarkan pula lapangan pekerjaan.


Mereka mahasiswa asal Balaesang Kabupaten Donggala. Mereka membantu memenuhi pesanan buat reseller sampai 200kg tiap bulan. Diluar kebutuhan reseller sampai 50kg dijual. Nama Keripik Asbal Palu sudah terkenal, dulu tidak punya reseller sekarang sudah punya banyak.


Proses penggajian sudah ditentukan buat mereka. Mahasiswa akan mendapatkan gaji dihitung perbuah pisang dikupas. Perbuahnya dibayar Rp.200 dan terbuka. Bahan baku pisang tanduk, yang mana Siti sempat kesulitan, tetapi Alhamdulillah, sudah mempunyai pemasok asal Balaesang Pantai Barat.


Kemudian buat pengiriman juga memanfaatkan mahasiswa lain. Mereka akan dibayar buat membantu pengiriman. Siti juga menerapkan biaya ongkir diluar harga. Bila memakai jasa pengiriman mungkin akan lebih mahal.

Pengusaha Keripik asal Banyuwangi Berbagi Kiat

Profil Pengusaha Abdul Majid Firdaus

 

pengusahakeripik.png
 

Namanya Abdul Majid Firdaus, pengusaha keripik asal Banyuwangi yang sukses berkat kegigihan. Ia pun berbagi kiat kepada masyarakat melalui Pemkab Banyuwangi. Dia menjelaskan bahwa kita harus pantang menyerah. Firdaus meraup untung Rp.6 juta perbulan dari berbagai jenis keripik.


Firdaus, pria asal Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, kini menjual keripik singkong, talas, keripik pisang dan rengginan. Dulu dia berjuang keras memasarkan hingga terbantu pemerintah.


Dia mengenang pahit manisnya perjuangan. Pada 2003, dirinya merintis usaha keripik, lalu membuat keripik berbekal peralatan rumah tangga. Dia bersama istri Siti Nur Qoyimah. Mereka membuka usaha bermodal uang Rp.300 ribu.

 

Uang segitu dibelikan segepok pisang, minyak goreng, dan plastik kemasan. Pagi hari diawali Firdaus mengupas pisang, merendam, menggoreng, sampai mengemas keripik. Dia mulai proses produksi sejak selepas Sholat Subuh, atau pukul 16.00 dini hari.


Sederhana usaha dijalankan pengusaha keripik asal Banyuwangi tersebut. Tiga hari dipakai buat tahap produksi. Tiga hari kemudian melakukan pemasaran. Dilanjut satu hari dipakai bapak beranak dua tersebut istirahat.


Dia menitipkan keripik pisang ke warung atau dijajakan ke tetangga. "Saya memasarkan keripik pisang dengan sepeda onthel yang saya miliki ke beberapa warung terdekat," begitu kiatnya.


Firdaus kemudian mengecek beberapa hari kemudian. Dia akan mencari tau apakah laku atau tidak. Ia sering mendapati keripiknya kurang laku. Tidak semua konsumen menerima keripik buatannya, dan banyak tidak membeli lagi. 

 

Kejadian begitu dirasakan diawal sampai berminggu- minggu, bahkan sampai berbulan- bulan. Hampir dia putus asa. Tetapi usaha dijalankannya baru seumur jagung. Firdaus tidak jadi menyerah. Malah dia mengikuti aneka pelatihan yang dilakukan pemerintah daerah.

 

Dia diajari memproduksi keripik, mengemas, sampai memasarkan. Barulah di 2005 silam, usahanya mulai berkembang, itu berkat terbuka pikirannya melihat ke depan. Dia melihat berbeda mengenai jualan keripik. Termasuk Firdaus mulai membangun jaringan dan berkembang.


Pelatihan- pelatihan memberikan pengajaran mengenai cita rasa. Diajarkan pula mengenai membangun jaringan. "Saya sangat berharap sekali pemerintah terus melakukan edukasi kepada masyarakatnya melalui pelatihan- pelatihan," tuturnya.


Dia telah memiliki tiga orang karyawan. Firdaus pun telah mengirim produk sampai keluar daerah. Itu berkat banyuwangi-mall.com. Inovasi pemerintah daerah tersebut memberikan peluang. Pemkab coba memanfasilitasi pemilik UMKM asal Banyuwangi biar online.


Dia menembus pasar Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Firdaus juga menitipkan keripik ke toko- toko oleh- oleh khas. Barbagai festival kebudayaan di Banyuwangi juga membantu. Disana tempatnya pemilik usaha UMKM memamerkan produk.


Pengusaha asal Banyuwangi bisa membuka stand. Mereka bisa menerima pesanan keluar daerah. Dia selalu mengingat semua karena ridha Allah. Ada tiga prinsip usahanya sampai sesukses sekarang: Satu, dia selalu belajar, dan kedua, dia tidak menyerah.


Ketiga Firdaus selalu berserah diri dan berdoa. "Tanpa adanya ridha Allah, mustahil saya bisa seperti sekarang," tuturnya.

Usaha Limbah Disepelakan Pengusaha Andreas Susanto

Profil Pengusaha Andreas Susanto  

  

usahalimbah.png
 
Usaha limbah disepelekan orang. Pengusaha Andreas Susanto menjadi bukti nyata. Dari menjadi hobi kemudian menjadi penghasilan tetap. Tetapi Bukannya mengurusi limbah seperti plastik, ia melirik usaha limbah mahluk hidup.
 
 
Usaha yang masih dilirik seinis beberapa orang. Kemudian apa sebenarnya dia olah sampai sesukses sekarang. Bisnisnya tak fokus pada satu macam limbah. Tapi kesemuanya punya kesamaan, yaitu limbah mahluk hidup. 
 
Andreas mengolah limbah manusia, limbah pabrik, perkantoran, industri dan rumahan. Limbah apa saja yang penting limbah biologis. Sebuah mesin buatannya sendiri digunakan untuk mengolahnya. Mesin yang tak akan mencemari lingkungan dan mampu menjadi zat yang bisa dimanfaatkan lagi.
 

Disepelekan Orang


Alatnya ada dua mesin yang mengolah limbah Bioceramic dan instalasi air limbah (Ipal) khusus. Mesinnya ia rancang sendiri. Dia juga mengadopsi teknologi dari Jerman. Alat bioceramic perlu anda ketahui merupakan alat semacam yang mampu mengolah limbah biologis. 
 
Benda tersebut menjadikan zat yang nantinya tak mencemari lingkungan. Tidak akan mencemari tanah resapan. Ditambahkannya: alat ini bisa membunuh bakteri E- Coli yang dihasilkan kotoran manusia.


"Alat ini memang dirancang untuk sistem water closset (WC) baru, seperti septictank, bagi warga yang menginginkan WC-nya menjadi aman, steril dan tidak mencemari lingkungan. Tapi bioceramic bukan septictank karena fungsinya berbeda," pengusaha Andreas Susanto menjelaskan.
 
"Jika Septictank hanya menyimpan saja, sedangkan bioceramic mengolah kotoran sehingga aman bagi lingkungan," imbuhnya.

Menurut bapak tiga anak ini. Air hasil olahan Bioceramic miliknya bisa menghasilkan air bersih. Dia lantas menambahkan bahwa air olahanya bisa digunakan untuk menyirami tanaman. Semua berkat zat- zat racun di dalamnya telah dihilangkan. 
 
Untuk instalasi air limba (Ipal) buatannya mampu membantu pabrik yang akan menghasilkan zat limbah. Hasil buangannya akan jadi lebih bersih untuk digunakan kembali.

Memang mesin pengolahan limbah Bioceramic Filter WC dan Filter Pengolahan Limbah buatanya memang sudah termasyur. Alat buatannya telah dikenal digunakan perusahaan- perusahaan besar, dimana kebanyakan adalah kontraktor perumahaan dan apartemen. 
 
Pria yang sebelumnya berbisnis mobil ini memanglah tercatat sukses besar. Andrean mampu membuka usahanya di berbagai daerah di Indonesia. Namun, untuk menjaga kualitas produk, dirinya cuma mau menerima pesanan langsung. 
 
Andrean juga akan aktif untuk memastikan alatnya tak disimpan saja. Harus berguna bagi pembelinya secara optimal. Dia ingin agar pembeli untuk membelinya langsung. Ia kemudian akan mempelajari kebutuan pembeli. Memastikan apa yang akan dipasang pas bagi kebutuhannya. 
 
Alat buatannya sangat dinamis. Dia bisa mudah membuatnya untuk tempat proyek sedang dibangun. Ia menambahkan jika membuat satuan, dia buat dan kirim. Ketika pembelinya akan membutuhkan banyak untuk usahanya, Andreas rela mengunjungi tempatnya langsung untuk penyesuaian.

Investasi Bodong Koperasi Langit Biru Kisah Pengusaha

Profil Pengusaha Jaya Komara


investasibodong.png
 
Kisah pengusaha berikut mengenai penipuan mengagetkan. Sosok Jaya Komara bisa menjadi inspirasi di sisi lain. Investasi bodong Koperasi Langit Biru sempat menggemparkan. Adalah kisah seorang miskin yang bermimpi menjadi kaya. Berbeda dengan kita yang hanya bermimpi. 
 
Pak Jaya lebih mau berusaha meski usahanya salah. Tak mudah jadi pengusaha, bukan, lebih tepatnya tak mudah untuk menjadi pengusaha sukses bertahan. Bertahan untuk tetap berusaha. Beberapa pengusaha menjadi terlalu tamak.

Menurut berbagai sumber. Dari seorang sekuriti diketahui bahwa dia dulu hanyalah penjual kerupuk di atas kereta. Dia membuat dan menjual kerupuknya sendiri. Kisahnya pun berlanjut setelah ia tak begitu sukses dengan usaha kerupuk, Jaya memilih berjualan daging. 
 
Usaha daging inilah yang menjadi dasar bisnisnya, ia lantas dikenal akrab sebagai seorang Ustad. Dari pengalaman 16 tahun berbisnis daging semua berubah. Dia dikenal sebagai sosok yang baik, yang selalu berpenampilan sederhana. 
 

Kisah Pengusaha

 
Usahanya tumbuh subur dengan nama PT. Transindo Jaya Komara. Perusahaan yang tahun 2011 itu cuma berbisnis konvensional. Jika dirunut sebenarnya usaha miliknya sudahlah cukup. Sebuah usaha konvensional memiliki 62 suplier peternakan, penggemukan, pemotongan serta usaha pendistribusian.

Lantas apanya yang salah? Siapa kah Jaya Komara masih lah misterius dimata orang. Yang pasti masyarakat menyebutnya Ustad, karena memang dia sering aktif di kegiatan keagamaan seperti berceramah. 
 
Menurut Rara warga setempat, bercerita bahwa dia Jaya Komara beserta istrinya adalah warga pendatang bukan warga asli di Perumahan Bukit Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Mereka tinggal di sebuah rumah, rumah tak bertuan.

Rara bercerita bahwa Jaya Komara dan istrinya tinggal di sebuah rumah kosong. Rumah kecil yang tidaklah bertuan. Jaya menempati rumah itu 2003 silam. Dia datang bersama istrinya dan 9 orang anak. Meski telah tinggal lama kemistriusan tetap berasa kala itu. 
 
Rara kemudian melanjutkan bahwa warga tidak tau apakah nama aslinya itu Jaya Komara, atau Jaya saja. Atau namanya Haji Komara pun tak jelas. Tapi, yang pasti, Komara sudah memiliki KTP setempat.

"Malah dia dapat KTP sini, tinggal di sini. Ustadz Jaya bisa melakukan ini, otomatis dia pernah melakukan hal sama di tempat lain," lanjutnya.

Karena sifatnya yang baik dan mudah membaur, penduduk tak mempertanyakan siapa dia. Dia suka datang ke tahlilan walau tak diundang kenang warga sekitar. Warga lain bernama Bu Sri Haryanti bahkan menyebut sosoknya jauh dari duniawi. 
 
Dia yang salah satu investor pertama Jaya Komara menyebutnya dia selalulah mengajak para investor dalam kebaikan dan bersabar. Jaya juga dikenal sebagai orang biasa. Tak mencolok punya bisnis apa ketika pertama kali tiba. 
 
Bahkan dia dikenal suka tidur bersama orang- orang yang tidur di masjid. Untuk menghidupi keluarganya, awalnya, dia bekerja sebagai tukang urut. Komara memulai semua dengan berjualan minyak gosok. Keluarganya tidak lah terdengar berkecukupan. 
 
Bahkan anak- anaknya tidak bersekolah. "Dia itu keluarganya orang susah. Anak- anaknya pun tidak ada yang bersekolah," lanjut Rara.

Ditelisik lebih dalam hampir seluruh warga Bukit Cikasungka, pernah diurut oleh Komara. Sementara itu, Ibu Genta menyebut "pengobatan" yang dilakukanya telah tersohor di luaran. Bahkan warga di luar kampungnya juga suka meminta pengobatan darinya. 
 
"Dia biasa dipanggil ke rumah-rumah buat pengobatan. Orang dari luar juga banyak yang datang," imbuh Ibu Genta.

Menurut kabar, dulu Kasat Samapta Polres Kabupaten Tangerang, Kompol Kustanto sering menggunakan jasa Komara untuk mengurut. Perihal itu, memang dibenarkan oleh Kapolres Tangerang Kabupaten Kombes Bambang Priyo Agodo. 
 
"Iya, betul. Memang dia (Kustanto) sering diurut sama Komara," ujar Bambang saat dihubungi.

Usaha daging


Ia dikenal juga sebagai sosok yang ulet. Segala pekerjaan dan usaha pernah ia tekuni. Dia pernah menjadi tukang urut, pernah juga beternak lele dan belut. Bahkan, dia sigap menanami singkong di kebun di belakang rumah miliknya. 
 
Semua dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari. Usahanya yang selalu jatuh bangun menjadi semangat bagi para investor. Ceritanya yang berusaha dari nol menarik perhatian Ibu Genta pula.

Perlahan tapi pasti, Komara membangun kembali usahanya. Hingga akhirnya, pada tahun 2005, ia memulai berjualan daging sapi ke warga sekitar. Daging yang didapatnya dari suplier. Komara rajin menawarkan produk dagingnya ke pada masyarakata. 
 
Dagingnya bagus, didukung dengan prilaku Komara yang membuat para warga akhirnya ikut membeli daging darinya. Setiap warga yang membeli daging tidak membayar sesuai tarif.

Dulu 1 kilogram daging miliknya dijualnya Rp.60 ribu. Komara pun tak mematok warga harus bayar berapa. Lama- lama pesanan daging semakin tinggi. Daging yang dijualnya dengan sistem kredit diminati warga. 
 
Dia yang tak pernah menghitung- hitung berapa mereka ambil, membuat semakin ramai. Sponta warga melihat peringai Komara menjadi tidak enak sendiri. Mereka raji melunasi hutangnya tanpa diminta.

"Dulu rata-rata warga ambil 5 kg empat kali bayar dan dia suka nyuruh hitung sendiri, tulis sendiri. Jadi sangat bagus sekali, bukannya muji ya," tutur Ibu Genta.

Warga sekitar mulai banyak yang tertarik masuk lebih dalam, hingga akhirnya, Komara menawarkan paket lebaran. Ini menjadi puncak kejayaan Jaya Komara. Di tahun 2010, bisnis dagingnya itu sukses dibawah PT. Transindo Jaya Komara (TJK),  yang usahanya bergerak di bidang investasi daging. 
 
Sistem yang digunakan adalah sistem bagi hasil. Setiap investor menanam modal akan mendapatkan bonus investasi hingga 10 persen. Ibu Genta menjadi salah satu investor pertama di TJK. Kala itu, ia menanamkan modal Rp.8,5 juta untuk paket daging  100 kg daging. 
 
Dia mendapatkan bonus investasi senilai Rp.1,5 juta. Dia bercerita yang waktu itu tengah mencicil montor hanya mendapatkan bonus bersih Rp.1 juta. Dimana uang yang 500 ribu -nya ia gunakan untuk membayar cicilan. 
 
Nah, pada bulan ke sepuluh, dimana masih ada 12 juta sisa cicilan, Ustad Komara sendirilah yang membayarkan cicilannya. Komara sendiri tak terlalu aktif mengajak berinvestasi. Mereka malah mengajak untuk membagi hasil usaha para investor dari TJK untuk dibagikan ke sekitar. 
 
Semua berjalan dari mulut ke mulut. Komara yang selalu mengajarkan kebaikan, memotivasi orang untuk berbuat baik. "Ini semua dari mulut ke mulut. Pak Ustadz sendiri tidak pernah ajak-ajak orang," katanya.
 
Sebagai investor pertama, Ibu Genta juga kecipratan untung. Ia mampu mengumpulkan ratusan hingga ribuan downline. Nilai investasi yang dikumpulkan downline pun mencapai Rp 2 miliar. Nah, sistem dowline inilah yang biasanya jadi masalah. 
 
Entah sejak kapan Komara mulai menggunakan sistem piramida dalam bisnisnya. Tapi menurut Bu Genta semuanya baik- baik saja diawal. Lancar- lancar saja pendapatannya dari investasinya itu.

Seiring waktu naman perusahaan berubah menjadi Koperasi Langit Biru (KLB). Investor KLB tumbuh pesat hingga mencapai 125 ribu yang berasal dari berbagai pelosok. Menurut Rara mungkin karena kegiatan berdakwah Komara di luar kampunglah yang membuat usahanya makin maju. 
 
Di luaran, nyatanya Komara sangatlah dikenal bahkan lebih terkenal dari warga kampungnya. Dikenal sebagai seorang Ustad yang memang memiliki visi tentang berbagi. Tentang usaha bersama- sama berbagai kisah. 
 
Investor KLB telah menembus angka 125 ribu dari berbagai pelosok tanah air dengan nilai investasi mencapai Rp 6 triliun.  Atas usahanya itu, perekonomian Jaya Komara meningkat drastis, jadi kaya mendadak. 
 
Yang dulunya hanya menempati rumah kecil, Komara akhirnya mampu membeli rumah dua lantai dengan ukuran besar. Bahkan, konon katanya, ia mampu membeli tanah perkebunan di Bukit Cikasungka yang luasnya sekitar 1 hektar. 
 
"Dengar- dengar dibeli, apa gimana saya juga kurang tahu persis. Karena saya tidak mau ikut campur urusan dia," timpal Rara. 
 
Komara juga dikabarkan memiliki usaha lain baik berupa sawit, pasir, dan lain- lain. Usut punya usut, meski bisnisnya moncer, Komara bukanlah sosok yang pandai mengelola keuangan. Bukti tentang usaha sawit atapun pasir tidaklah benar.

Kenyataanya bisnisnya jadi gali lobang- tutup lobang. Usaha nyatanya cumalah broker daging sapi yang tak punya perternakan sendiri. Dari sebelumnya bunga atau bonus investasi bersih berasal dari daging. 
 
Namun, lama ke lamaan, usahanya itu tak mampu menutupi bonus investasi yang terlalu banyak. Meski telah berbisnis lama. Namanya bisnis, pasti ada masa lesu atau gagalnya, nah, untuk menutupi janji bonus itulah ia gali lobang.

Lobangnya itu ditutupi dengan uang investor baru, lalu ditutup lagi dengan uang investor lain. Tak disangka- sangka jumlah investornya itu sangat membludak. Semua berkat jabatan Ustad yang disandangnya. 
 
Gambarannya akan seperti ini. Ketika masyarakat malah berbondong- bondong ingin jadi investor karena kisah suksesnya, kewajiban yang disandang Komara makin besar. Disisi lain profit sektor riil tidak ada karena ia hanyalah broker dan uang investasi itu tidak diperuntukan untuk sektor usaha.

Karena memang usahnya tidak sebagus yang anda bayangkan. Akhirnya uang masyarakat untuk masyarakat diputar kembali. Untuk memutarnya, Komara mulai menjual investasi bodong. Dia tak rasional lagi. Menjual harapan bonus besar untuk para investor baru yang akan masuk. 
 
Usut punya usut, uang hasil investasi malah dibelikan rumah di Perum Telaga Asri, ada 30 sertifikat dan akte jual beli tanah. Ada sawah seluas 5.300 meter persegi. 
 
Selain itu ada rumah di Kuningan, Jawa Barat Rp 400 juta, ada 13 bidang tanah, lalu ditambah empat kantor Koperasi Langit Biru, rekening asuransi senilai Rp 700 juta, sepuluh bidang sawah di Banten, sebidang tanah di Serpong, Tangerang. 
 
Kesemuanya dihasilkan dari investasi yang seharusnya peruntukannya untuk usaha- usaha yang lebih produktif. Akhirnya uang investor baru yang digunakan untuk menutup investor diatasnya. Bisnis rasional sang Jaya Komara berubah menjadi sistem downline piramida tak berujung. 
 
Usahanya hanya mengumpulkan investasi. Sayang, lagi- lagi, di usaha nyatanya tak menunjukan hasil apapun. Itu menjadi tak sebanding dengan jumlah uang yang masuk serta bonus yang dijanjikan. Paket investasinya berkisar Rp 385.000-Rp 14 juta. 
 
Diamana imbal hasilnya bisa mencapai 258,97 persen dalam dua tahun atau 10 persen sebulan dari nilai penyertaan. Tentu semua cuma investasi bodong Koperasi Langit Biru. Hingga, akhirnya, si pengusaha Jaya Komara diciduk polisi atas kejahatannya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba