Usaha Oleh- Oleh Khas Jogja Coklat nDalem

Profil Pengusaha Meika Hazim

 
coklatndalem.png
 
Menjalankan usaha oleh- oleh khas Jogja, Coklat nDalem. Berikut cerita pengusaha Meika Hazim, 32 tahun, yang coba melestarikan budaya lokal. Caranya tidak lain melalui produk- produk coklat. Unik, telah menjadi khas Yogyakarta sekali produknya dan diliput lini masa.
 
Itu berkat mereka tidak hanya menyuguhkan coklat sebagaimana mestinya. Meski diolah modern cita rasanya etnik memanjakan lidah kita yang rindu suasana Kraton. Bermula ketika dirinya bertraveling bersama suami, Wednes Aria Yuda, hingga secara tak sengaja menemukan produknya. 
 
Dia dan suaminya, yang kala itu tengah bertraveling, menemukan sosok olahan biji dari pohon Theobroma Cacao sangat prospektif.
 

Khas Coklat Yogyakarta

 
Tak disangka- sangka pemikiran sekilah tersebut diseriusinya. "Oleh- oleh coklat yang paling gampang, dengan Indonesia sebagai penghasil kakao ketiga terbesar di dunia kenapa tidak kita membuat produk coklat sendiri," ungkapnya.

Meski bisnis coklat telah menjamur. Itu tak menyurutkan langkah Meika dan Yudha. Sebagai penghasil produk kakao terbesar ketiga, baik sekala rumahan atau korporasi besar tentu melirik si buah manis ini. Penikmat coklat tak lagi cuma anak- anak, itu jadi nilai coklat nDalem. 
 
Rasanya yang beda tentu lebih menyerap ke semua lapisan masyarakat. Melting dimulut, dihati masyarakat Indonesia.

Mengusung nama produk "Coklat nDalem", keduanya berkolaborasi membuat bisnisnya. Fokusnya ialah jadi ikonik asli Yogyakarta. Usaha yang didirikan 1 Maret 2013 memang terus fokus menjadi produk oleh- oleh khas Yogya. 
 
Hasilnya, dibanding produk coklat lain, produknya punya keunikan seperti dimana tempat mereka dibuatnya. Bukan cuma rasa tapi kemasannya sangat unik.

Kemasan yang bercerita tentang budaya yang tumbuh dan berkembang di tanah Yogyakarta, Jawa dan Indonesia.Menurut Meika coklat tak sekedar jadi bisnis bagi mereka. Ada idealisme didalam tiap batang produknya. 
 
Lewat perantara coklat, ia ingin mewujudkan rasa cintanya kepada Indonesia. Menurut wanita berhijab ini rasa coklatnya khas Indonesia yang berbeda dengan nagara lain. Ke Indonesiaan yang tercipta dari rasanya, cara penyajian, dan dekorasinya.

Ia melengkapi ilustrasi disetiap produknya. Pada bagian belakang kemasan coklat miliknya ada arti tentang setiap ilustari. Uniknya tulisan arti dibelakang kemasan itu ada dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Tujuan dari keduanya apalagi kalau bukan untuk menempatkan produk go international.

"Kami berharap agar cerita tentang budaya Indonesia ini makin banyak yang bisa menerimanya," ujar Meika.

Nilai pembeda yang manerik para pelancong Kota Gudeg untuk mampir, mencicipi lezatnya Coklat nDalem. Gerai usahanya ada di jalan Kauman, Seturan, dan dimana ada belasan toko cenderamata di kota ini. Di luar Yogya, ada di KemChick’s Pasific Place, Jakarta, umbuhnya.

Usaha mereka tak semudah yang anda bayangkan. Karena mengerjakan semua dari nol, keduanya harus aktif berbagi tugas. Untuk hal produksi sekarang ada ditangan wanita lulusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM ini. 
 
Sedangkan sang suami, ada dibagian marketing. Sebelumnya Yudha lah yang mengurusi bagian riset produk sedangkan dirinya menyangkut legalitas. Begitulah keduanya bekerja sama membangun usaha coklat ini.

Kerjasama ini berjalan harmonis sampai sekarang. Keduanya fokus pada satu bisnis ini, saling berbagi tugas dijalankan agar tetap memproduksi produk inovatif.

"Mas Yuda lebih banyak stay di Jogja untuk mengawal pemasaran online dan segala urusan bisnis coklat, dan saya sendiri lebih aktif keluar untuk mengikuti pameran baik di sekitar daerah Jogja, luar kota bahkan sampai luar negeri," kata pengusaha wanita ini.

Produk coklat nDalem ada 18 rasa yang dikelompokan jadi lima lini. Setiap lini akan memiliki tiga variasi rasa. Lanjutnya, kelima rasa tersebut:

1. Rasa Klasik Dark, Extra Dark, Less Sugar Dark Chocolate, dimana menggunakan motif batik pernikahan ala Yogya

2. Pedas Cabai, Jahe dan Mint yang kemasannya berdekorasi wayang kartun Bima, Wisanggeni dan Gathotkaca. 
 
Filosofisnya ada pada kesamaan karakter “pedas” di telinga jika berbicara.; (3) Rempahnesia, terdiri dari rasa Cengkeh, Sereh dan Kayumanis yang berdekorasi gambar Bregada (prajurit) Keraton Yogyakarta

4. Wedangan terdiri dariWedang Ronde, Wedang Uwuh dan Wedang Bajigur yang berdekorasi landmark terkenal di Yogya di mana wedang-wedang tersebut bisa diperoleh, yaitu Alun-alun Utara, Alun-alun Selatan dan Imogiri

5. Kopinesia yang merupakan perpaduan cokelat dengan isian biji kopi Arabica yang diambil dari berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia seperti Gayo Aceh, Merapi Jogja, Kintamani Bali, Bajawa Flores, Kalosi Toraja dan Wamena Papua. 
 
Untuk lini Kopinesia didekorasi dengan ilustrasi tarian daerah dari mana kopi tersebut berasal.

Usaha Oleh- Oleh Unik


Jika dilihat dari cara mengemas produknya, Coklat nDalem, memang sangat serius. Pasangan ini serius untuk mengkonsep mereka secara matang. Nyatanya, kedua pengusaha suami- istri ini memanglah memiliki latar belakang kebudayan dan pariwisata kental. 
 
Dimana Meika itu MBA di UGM, sedangkan sang suami, lulusan Teknologi Pangolahan Pangan di kampsu yang sama. Keduanya memang asli orang Yogya, istimewa. Bila dirunut balik di 2013, Meika berani mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. 
 
Ia telah sangat mantap ingin menjadi seorang entrepreneur. Sang suami yang seorang entrepreneur tepatnya jadi pengusaha dibidang agen perjalanan wisata. Sosok wanita cantik berkacamata ini, sudah melirik coklat sudah semenjak ia dinobatkan jadi Diajeng Jogja tahun 2005. 
 
Baru kala itu, idenya begitu kuat, sampai- sampai rela melepaskan pekerjaan. Keduanya lantas bersama membangun konsep bisnis mereka. Bersama mereka lantas mendirikan sebuah perusahaan CV. nDalem Mulyo Mandiri. 
 
Bagi Meika sendiri, soal pemasaran bukan masalah, pengalaman dalam dunia marketing beberapa perusahaan menjadi andalan. Ditelisik salah satu perusahaan tempatnya ternyata unik pula yaitu Dagadu Djogja. Bermodal uang tabungan 40 juta keduanya mantap menatap bisnis coklat.

Agar mudah dikenal tidak hanya online tapi offline dilakoni. dengan mengikuti berbagai pameran di dalam Kota Yogya, luar kota, bahkan juga keluar negeri. 
 
"Tahun 2013, kami berkesempatan mengikuti pameran di Hong Kong dan Malaysia. Maret tahun ini, kami telah mengikuti pameran di Jepang," ujarnya bangga.

Berjudi Jadi Pengusaha Donat Kalis Dimas

Profil Pengusaha Dimas Kalis

 

pengusahadonat.png

Berjudi jadi pengusaha mengapa demikian. Sebab Dimas harus merelakan semua demi Donat Kalis. Ia sempat memutuskan kerja tetapi gagal. Alih- alih hidup nyaman, dia harus berkeliling melamar pekerjaan tanpa arah. Dimas merupakan pegawai swasta perusahaan Jakarta.


Selama 11 tahun dia bekerja disuatu perusahaan tetap. Titik jenuh muncul menggugah hati. Dia inginkan suatu perubahan termasuk lingkungan. Dimas jenuh akan rutinitas hidup di Jakarta. Dia ingin bekerja di Yogyakarta; Ia lantas melamar pekerjaan sebuah perusahaan.


Mendadak Buka Usaha


Nekat Dimas berangkat ke Yogyakarta tanpa pekerjaan. Dia bekerja di Yogyakarta. Ternyata pekerjaan barunya tidak seenak dibayangkan. Karena suatu hal, Dimas memutuskan keluar pekerjaan dan menjadi pengangguran.


Dia terus melamar tetapi susah ya. Dimas makin terpuruk secara finansial pada 2018. "Di 2018 posisi saya lagi jatuh tidak punya penghasilan sama sekali," terangnya kepada Detik.com


Dimas sempat menyerah. Hingga ia memutuskan melamar pekerjaan di Jakarta kembali. Beberapa surat lamaran dikirim tidak kunjung direspon; Dia terjebak di Yogyakarta. Keadaan kepepet memaksa Dimas memulai wirausaha.


Dimas memilih usaha kuliner. Berjudi jadi pengusaha kopi tanpa pengalaman. Tanpa ia memiliki satu pengalaman meracik kopi, Dimas membuka usaha kedai kopi. Pikirannya gampang karena usaha kopi tengah naik daun. Selain kopi disuguhi pula makanan pendamping yakni donat.


Ia berpikir sederhana mereka punya usaha kopi, tetapi tidak makanan. "Awalnya ingin juga bisnis kopi tapi pengetahuan saya tentang kopi itu nol besar," ia melanjutkan. Dimas ingin makanan manis buat pendamping kopi makalah donat.


Pernah berpikir berbisnis kuliner lain tetapi tidak sesuai hati. Begitupula ketika dia memilih bisnis kopi begini. Dia memutuskan cuma mengerjakan donat. Tergetnya malah mencoba memenuhi kebutuhan kedai kopi lain.


Berbeda sebelumnya ia memilih mempelajari membuat donat. Bahkan dia berangkat ke Jakarta dan Bali. Bukan buat melamar pekerjaan. Melainkan Dimas mencari- cari contoh donat premium. Baru di 2019, berulah donat diproduksi, dimana awalnya menjual memakai sistem pesanan atau Preorder (PO).


Dimas nanti menawarkan donatnya ke teman- teman. Betul mereka tengah berjualan kopi kekinian, dan ia menangkap peluang. "Kita tawarin ke coffee shop, tapi mereka bimbang laku gak ya. Ada yang mau ambil tetapi tidak mau order lagi. Wah ini kenapa," kenang usaha pengusaha donat ini.


Dia memutuskan melakukan Plan B, alias membuka tempat jualan donat sendiri. Ia merelakan semua tabungan terakhir sejumlah Rp.50 juta. Sebuah perjudian karena uang terakhir bahkan masih kurang. Ia cuma mampu membeli peralatan produksi hingga toko.


Uang tidak cukup cuma mampu menumpang sebuah rumah makan. Kebetulan ada gudang kecil di kawasan tempat makan itu. Tepat di hari ulang tahun istrinya, pada 23 Juli 2019, maka bukalah toko Kalis Donuts yang tempatnya kecil.


Nama Kalis merupakan nama tahapan adonan yang sudah diuline dengan baik. Dimas langsung pakai bahan terbaik ketika memproduksi. Produknya dijual dari Rp.8 ribu sampai Rp.10 ribu perbuah. Lalu dia bekerja sama dengan Se'i Sapi Kana, menjual donat seharga Rp.25 ribu.


Namun ketika membuka toko kecil awal "kesengsaraan" masih lanjut. Dimana tidak memiliki modal membeli bahan. Alhasil Dimas membeli bahan baku melalui sistem ecer, bahkan sempat berhutang ke toko. Buat makan sehari- hari dia mengambili sisa bahan baku membuat donat.


Dimas ambil putih telurnya buat dimasak di rumah. "Saya ke toko sampai bilang, 'Pak boleh enggak saya bayar nanti sore setelah toko saya tutup'," kenangnya. Kondisi berbalik justru diwaktu tidak pernah diduga.


Caranya menjadi sukses juga tidak terbayangkan. Jadi datanglah seorang influencer temannya teman Dimas. Dia berkunjung ke Yogyakarta sembari liburan. Sembari dia mencari makanan unik buat dia review. Nah temannya Dimas mempromosikan Donat Kalis ke si influecer tersebut.


Si influencer rupanya tertarik akan donat tiramisu regal. Dibelinya beberapa dijadikan oleh- oleh. Dan dia ternyata merviewnya positif. "Setelah dia review, malamnya mulai banyak notifikasi di IG kita, banyak yang ngepoin Kalis," kenang Dimas.


Besoknya kan dia membuka toko jam 10, dan ternyata sejak jam 9 sudah mengantri mengular, alhasil dalam 1,5 jam produksi ludes. Bertahap nama Kalis semakin dikenal dan tidak berhenti. Dimas punya trik unik menggaet selebriti atau influencer lain.


Dimana Kali akan kepoin aku mereka yang liburan ke Yogya. Terus Kalis akan DM mereka, walau ada saja yang tidak merespon, ada yang sekedar terima kasih, adapul mau mereview. Tim Kalis sudah macam detektif mencari mereka.


"Jadi memang kita semacam detektif lah cari tahu siapa yang lagi ke Jogja, kita langsung DM dia. Ya responnya beragam, ada yang bales, ada yang review, ada yang nyuekin, ada yang terima kasih aja. Dari situ si kita pelan-pelan mulai dikenal," terang Dimas.


Singkat cerita usahanya menanjak sampai memperluas toko. Produksinya meningkat dari 400- 500 buah perhari jadi 2000 pcs. Paling laku produksi donat regal tiramisunya ikonik. Kali sudah punya cabang di Semarang yang dibuka Oktober 2020, dan Palembang pada Desember 2020.


Omzet tertingginya pernah Rp.600- 700 juta perbulan. Dimana 35% merupakan biaya produksi juga termasuk gaji pegawai. Total 63 pegawai dari produksi sampai penjualan diseluruh cabang. Total 65% keuntungan bersih, dan nanti juga akan dibagikan ke pihak yang invest disini.

Pengusaha Bumbu Masak Sukses Waralaba

Profil Pengusaha Yanty Melianty Isa


pengusahabumbu.png
 
Dia membuktikan bahwa sukses waralaba tidak melulu makanan jadi. Pengusaha bumbu masak, Yanty Melianty Isa, salah satu penggagas berwaralaba brand bumbu masak. Ialah sosok pendiri perusahaan PT. Magfood Inovasi Pangan. 
 
Usaha yang telah didirikannya semenjak Februari 2001, telah memiliki pengalaman 17 tahun menangani berbagai perusahaan multi- nasional sebagai mitra. Bidang yang ditanganinya ialah food seasoning dan product development. 
 
Sudah berbagai perusahaan menyerahkan bisnisnya ditangan Yanty. Bisnisnya dibidang bumbu instan bukan berarti usahanya juga instan. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaan mapan di berbagai perusahaan multi- nasional. 
 

Merintis Usaha

 
Semua karena kecintaanya akan dunia kuliner, dan hasratnya untuk memiliki perusahaan sendiri. Lulusan Institut Teknologi Bandung (1994) tersebut tercatat 17 tahun berkiprah di bidang pengembangan produk beberapa perusahaan multinasional. 
 
Tiga diantaranya adalah di PT Mayora Indah Tbk, PT Nestle Indonesia, dan PT Mustika Ratu Tbk. Dan kembali lebih jauh sebelum Megafood didirikan, lebih jauh sebelum dia bekerja di perusahaan. Sosok Yanty adalah bocah 10 tahun yang sudah gemar memasak dan berwirausaha. 
 
Kecintaanya akan kewirausahaan telah muncul dan tumbuh sejalan waktu bersama kesenanganya memasak. Waktu masih kelas 3SD, ia telah memenangkan lomba di majalah Femina dimana lomba itu diperuntukan untuk orang dewasa. 
 
Dia waktu itu membuat resepnya sendiri, yakni Sop Tahu Sawi Asin. Dia meminjam KTP ibunya untuk mengikuti lomba. Seusai kuliah, pekerjaan pertamanya adalah konsultan teknik lingkungan dalam proyek pengolahan limbah dan air. 
 
Tapi, Yanty hanya bertahan 1,5 tahun bekerja di perusahaan konsultan ini. Terjun ke banyak proyek pemerintah begitu mengusik nuraninya. "Banyak proyek dikorupsi, jadi saya memutuskan membuka perusahaan konsultan sendiri, khusus untuk proyek swasta,"€ ujarnya.

Pada tahun 1992, istri Isa Surya ini kemudian bekerja di sebuah perusahaan sanitasi. Lagi- lagi tak awet, ia hanya bertahan setahun dan memutuskan pindah ke Nestle. €
 
"Agar bisa terus berinovasi, saya harus bekerja di perusahaan fast moving product atau consumer goods," tuturnya, mengikuti nalurinya yang memang gemar memasak.

Kecintaanya akan berwirusaha terasah sampai sudah bekerja sekalipun. Ia masih menyempatkan diri untuk mempunyai usaha di bidang water treatment tapi gagal. Dia juga punya usaha pakaian yang masih ada sampai sekarang. 
 
Barulah di tahun 2001 usahanya sukses moncer jadi bisnis besar.Semuanya karena ia tak mau lagi hidup di zona nyaman. Dimana dia memilih berhenti bekerja. Usaha yang bermodal sedikit menjadi tantangan besar selepas tak lagi jadi karyawan.

Yanty memulai usahanya dengan usaha Magfood Inovasi Pangan hanya ditemani satu karyawan. Usaha yang dirintisnya sejak 2001 membuahkan hasil dan merembet ke beberapa bidang usaha lain. 
 
Perusahaan pertama yang didirikannya 8 tahun lalu itu bergerak dalam bidang pengembangan varian bumbu serta produk baru industri makanan dan minuman.

"Saya kasih karyawan saya PR untuk men-develop produk, jadi kalau saya ngantor ada orang yang melanjutkan pekerjaan di bisnis saya ini," terangnya menambahkan.

Tidak puas akan apa yang dicapai usahanya di awal. Dua tahun berselang, dibuatlah satu usaha baru yang bernama Magfood Red Crispy pada 2003. Yanty menginvestasikan sekitar Rp10 juta sebagai modal awal Magfood Red Crispy. 
 
Bisnisnya ada dibisnis makanan cepat saji, yaitu bisnis ayam goreng. "Sempat berhenti bekerja satu tahun, dengan modal minim saya mulai dari satu gerobak di Bintaro," ujar Yanty.

"Dulu saya berbisnis tetapi kebanyakan gagal. Ada yang karena berantem, tutup, lalu saya pilih usaha sendiri. Saya memang memiliki cita-cita membuat bisnis dari rumah, tetapi mereknya nanti harus multinasional," ujarnya.

Kesemua usahanya dimulai dari sebuah garasi mobil yang dijadikan kantor sekaligus tempat produksi. Usaha itu tumbuh mempunya 40 orang karyawan yang berdesakan di tempat itu. Bukan perkara mudah bagi wanita berjilbab ini, ia butuh satu inovasi. 
 
Dia tak menggunakan cara konvensional dalam berbisnis ini. "Jadi bukannya saya jaga gerobak satu, itu lama besarnya. Saya orang manajemen, jadi saya selalu berpikir untuk mendidik orang, membuat sistem dan menjaga sistem," jelasnya.

Waralaba Sukses


 Ia menekankan kepada kita: pengembangan bisnis itu penting sebagaimana sulitnya itu. Sedikit demi sedikit telah ia rasakan bagaiman cara menngendalikan segala sesuatu tanpa harus hadir di tempat yang bermasalah.

"Walau kantornya di rumah dan masih berantakan, tetapi kita harus cari cara mengembangkan bisnis. Di kondisi seperti itu dulu saya mengusahakan ikut pameran waralaba yang besar-besar, mana bayarnya berat pakai dolar AS lagi."

Mengembangkan usaha rumahan memang butuh konsentrasi dan dedikasi yang besar. Pasalnya, privasi hidup sudah tentu terganggu oleh bisnis yang dikembangkan itu. Tidak hanya itu, tetapi juga ada saja kendala pada masa merintis usaha datang silih berganti. 
 
Begitu yang dirasakan Yanty selama mengerjakan dua usaha yang berbeda. Usahanya di Magfood dan Magfood Red Crispy buktinya bisa dia kawal hingga total ada 400 karyawan.

Salah satu kendala diawal adalah tidak adanya pekerja yang kompeten. Mereka yang terdidik biasanya akan mundurk jika melihat usahanya masih usaha rumahan. Tapi jangan lantas membangun kantor besar jelasnya. Dia lebih memprioritaskan kepada keberlangsungan usahanya dulu. 
 
Dia lebih memilih memfokuskan pikiran kepada pengembangan produk. Pemasukan hasil usaha pun tidak dicampuradukkan dengan penggunaan dana pribadi.

"Saya menahan diri selama 7 tahun untuk bisa punya tempat usaha sendiri, mobil juga masih sewa pada waktu itu." terang Yanty

Kunci kesuksesan baginya ialah pengembangan usaha dan pengembangan diri sendiri. Keduanya merupakan investasi terbesar bagi Yanty. Dalam mengembangkan diri pengusaha penting untuk selalu menjaga reputasi. 
 
Menurut dia, tidak berguna kelihaian berbisnis yang disertai kemampuan berinovasi, kreatif, dan produktif tanpa disertai kemampuan menjaga nama baik dalam berbisnis.

Kini, reputasi baiknya dipertaruhkan dalam mengembangkan merek baru Magfood Amazy, makanan cepat saji yang dirintis sejak 2 tahun lalu. Peluang usaha tersebut menawarkan beberapa pilihan gerai penjualan dan skala usaha. 
 
Tipe usahanya berupa booth standing, food court, kafe mini hingga kafé dengan menyetor dana Rp40 juta-Rp163 juta-an. Untuk biaya royalti, Yanty mematok 3,5% dari omzetnya untuk masing-masing pilihan.

"Ini bisnis uang receh, tetapi saya yakin break even point (BEP/titik impas) untuk setiap tipe yang dipilih hanya memakan waktu sekitar setahun. Kalau mau berhasil di bisnis ini kuncinya adalah harus punya minat di bisnis makanan dan pelayanan." terangnya.

Omzet gerai- gerai itu, baik yang berbentuk booth maupun restoran cukup lebar dan cukup untuk kita pikirkan prospeknya, yakni antara Rp 300.000 -Rp 12 juta per hari. 
 
Sayang, Yanty enggan membeberkan laba bersih yang berhasil ia kantongi dari kedua bisnis waralabanya, Magfood Red Crispy dan Magfood Amazy. "Usaha kami masih akan berkembang terus," katanya beralasan.

Lantaran memulai bisnis dari nol, di tiga tahun pertama, Yanty harus jatuh bangun membangun bisnis bumbunya. Untuk mencari pemasok atau menawarkan contoh dan formula bumbu ke calon klien, ia terpaksa mengerahkan supir. 
 
"Mencari pemasok bahan baku juga sulit karena saya cuma usaha kecil," katanya. Untuk menyiasati kesulitan ini, Yanty mencari calon pemasok lewat internet.

Yanty juga gencar menjadi agen penjual bumbu. "Saya menawarkan ke agen bahan makanan dengan mengirimkan formula buatan kami," katanya. Para agen itu kerap didatangi adalah produsen makanan kecil. Ternyata, sebagian besar menyukai formula bumbu dari Magfood. 
 
"Kami juga punya rasa yang tailor made, sesuai dengan pesanan," katanya.

Agar lebih merasakan kualitas bumbu buatannya, pada tahun 2001, Yanty mendirikan jaringan penjualan ayam goreng Red Crispy, yang didirikan bersama seorang teman sebagai pendorong bisnis bumbunya. 
 
Tujuannya agar orang tau bagaimana rasa bumbu racikan mereka di Megfood Inovasi Pangan. Sayang, kongsi itu pecah dan ia memutuskan meneruskan sendiri dengan merek baru, Magfood Red Crispy dan Magfood Amazy.

Kini, Yanty tengah berambisi membangun perusahaan hilir dengan menjadi produsen minyak goreng. Dimana dia telah memiliki kebun kelapa sawtinya sendiri. Bisnis lain? Ia memiliki ide membuat perusahaan biskuit, menakjubkan.

Es Mendem Duren Sukses Pengusaha

Profil Pengusaha Yustinus Agus Nugroho

 
mendemduren.png
 
Es Mendem Duren begitu mengejutkan. Sukses tersebut pengusaha bermula hobi makan durian. Dia mampu merubah hobi bisa jadi duit. Pria yang bernama lengkap Yustinus Agung Nugroho. Bersama istrinya, Anne Kartika, sukses mengembangkan bisnis es durian. 
 
Usahanya bernama Mendem Duren atau mabuk durian. Dalam bahasan Jawa menunjukan bagaimana memang nikmatnya rasa durian yang memabukan.

Meski gagal karena bisnis handphone, lobster, dan laundry -nya bangkrut. Ia tetap bangkit. Berkat hobi makan durian jadi uang miliaran berkat konsep waralaba. Idenya datang ketika suatu ketika sang istri ingin membeli durian.
 

Es Krim Durian

 
Sulitnya, Anne meminta es krim rasa durian yang memang disenangi suaminya. Lalu terpikir kenapa tidak membuatnya sendiri saja. Lalu pria kelahiran Palembang, 8 Januari 1980, itu menggunakan idenya tersebut dalam bisnis berikutnya. 
 
Waktu itu pula, empat tahun lalu, dirinya juga sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Gagal berbisnis membuatnya berhutang hingga ratusan juta rupiah. Solusi dalam kegundahan memberikan harapan bagi Agung. 
 
Sang pengusaha dan istrinya Anne akhirnya bertekat untuk berbisnis es durian ini. Bermodal gerobak kayu, tanpa rasa malu, ia menjalani usahanya ini dari nol. Mengusung kata Mendem Durian dimaksudkan agar para pembelinya jadi ketagihan. 
 
Modalnya Rp.7 juta hasil jualan motor sang istri. Tak disangka respon masyarakat luar biasa. Dalam dua jam saja, dagangannya bisa laris manis terjual. Usaha yang dirintis sejak 10 Oktober 2009, menyediakan dua jenis rasa, yaitu rasa susu coklat dan putih. 
 
Ia kemudian membagi produknya dalam tiga ukuran berbeda: Kids (70 gram), Large (125 gram), dan Jumbo (200 gram). "Bisnis ini didirikan benar- benar dari ketidak sengajaan," cetusnya. Nampaknya Agung tidak mau kehilangan momentum. 
 
Memasuki 2010, ancang- ancang waralaba sudah ada dana akhirnya jadi. Saat itu, es krim Mendem Duren sukses sukses tembus 14 gerai dalam satu tahun saja. Dimana 6 gerai miliknya sedangkan 8 milik mitra. 
 
Semakin tak terbendung, dari Desember 2011 sampai akhir 2012, sudah ada 58 gerai berhasil didirikan oleh Mendem Duren. Bahkan per- Mei 2013 sudah ada 90 gerai jadi, yaitu 7 cabang milik sendiri, dan 83 gerai lainnya dimiliki mitranya (franchisee).

Perkembangan yang begitu pesat tak lepas dari pemasaran masif. Agung memanfaatkan berbagai media baik offline atau online, melalui media sosial. Ia juga rajin menjalani kerja sama dengan majalah/ tabloid waralaba nasional serta ikut acara kuliner nasional. 
 
Fokusnya ialah agar mendemers sebutan bagi fans Mendem Duren, agar tetap mendukung perkebangan produknya dan pelayanannya. Ia pun menyebut modal awalnya bagi para franchiser sekitar 45 juta.

Ia menjelaskan dari semua mitranya yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia mencatat bahwa gerai Tarakan, Kalimantan Timur dan Karawang, Jawa Barat, menjadi gerai pemegang rekor balik modal. Hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun saja sudah balik modal. 
 
"Untuk penjualan 50 cup/hari balik modal bisa 11 bulan, 75 cup/hari balik modal 7 bulan, dan 100 cup/hari balik modal lima bulan," ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.

Durian yang digunakan adalah durian lokal jadi kadar alkoholnya lebih kentara. Es krim buatannya memang bikin mendem tapi bukan memabukan loh. Perbulannya ia bisa menghabiskan 30.000 butir durian. 
 
Apa yang membuat usahanya maju pesat, ternyata terletak dari sedikitnya pengusaha yang bermain. Andai ada, mereka tak berkonsep, berjualan dengan gerobak seadanya, belum lagi kualitas jualannya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Agung bahwa: Mendem Duren, kini telah memiliki varian produk, dari es mendem duren putih, es mendem duren cokelat, juice mendem duren putih, dan juice mendem duren coklat. Namun,  masih sama cara berjualannya dalam ukuran gelas. 
 
Harga jumbo bisa dijual dari Rp.10.000 hingga Rp.18.000 per- cup.  Dia juga meyakinkan kita bahwa stok durian untuk tiap garai terjamin. Meski buah musiman ia meyakinkan kita ada stok bagi setiapnya. Bahkan jika tak musim, Agung memastikan harga tak akan ikut naik, jelasnya lebih lanjut. 
 
Bagi yang berminat investasi pre- bootnya mebayar cukup Rp.35 juta, gratis fee kemitraan 2 tahun, tenda 2x2, frezer 200 L, gerobak stainless, ice chruser, blender, neonbox 2pcs, bahan awal ±700cup, peralatan, perlengkapan, promosi, buku panduan dan DVD pelatihan. 
 
Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi fans page -nya di Facebook.

Usaha Bandeng Tanpa Duri Kantongi Omzet 50 Juta

Profil Pengusaha Erni Herawati

 

usahabandeng.png

Ingin kantongi omzet 50 juta cobalah inspiriasi berikut. Ibu dua anak ini usaha bandeng tanpa duri. Ibu bernama Erni Herawati, perempuan 46 tahun yang mana merupakan hasil mencari kesibukan. Ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang sembari mengurus suami dan dua anak.


Ikan bandeng memang dikenal banyak durin. Hingga orang enggan membelinya dan memilih ikan lain. Nah, inilah cikal bakal usahanya, dimana bandeng bikinannya tanpa duri. Alhasil ikan bandeng buatannya menjadi makanan khas oleh- oleh.


Dia menjelaskan kedua anaknya mau masuk sekolah dasar. "Mulai lah saya berjualan, karena sejak kecil sudah belajar berdagang dengan orang tua," jelas Yesi kepada Detik.com


Pengusaha ini menceritakan kembali awal Bandeng Rorod. Bagaimana dia mampu menjadikannya oleh- oleh khas Bekasi. Usaha bandeng tanpa duri memiliki makna. Baginya bandeng merupakan menu khas keluarga. Ini dinikmati keluarga bersama- sama dan tidak memandang usia.


Dulu dia menemukan makanan sejenis di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan. Ide Yesi gampang bahwa bandengnya akan disenangi. Resep makanan keluarganya dijamin memanjakan. Nanti tinggal bandeng dikemas agar mudah dipasarkan.


Yesi mulai bergeriliya ke teman- teman dan tetangga. Di tahun 2011, dia memasarkan masakan khas keluarganya, bertahap bersama suami sepakat membuka rumah makan Betawi. Sembari dia pasarkan Bandeng Rorod ke masyarakat.

 

Justru orang berdatangan menanyakan Bandeng Rorod ke rumah makan. Begitu mendapatkan reaksi positif, Yesi menggelontorkan 10 juta buat modal. Dia semakin banyak mendapat penggemar, bahkan sampai keluar Jawa.


Inovasi dihadirkan Yesi termasuk bandeng frozen. Menggunakan sistem agensi, maka ia memiliki 50 orang agen tersebar di Jabodetabek, dijual di toko oleh- oleh, dan mensuplai ruma makan Betawi yang di Bekasi. Yesi sendiri malahan menutup rumah makan miliknya.


Fokus Yesi mengembangkan sekaligus terus melakukan inovasi. Contohnya Yesi membuat tahu bakso bandeng, steak bandeng, dan cilok bandeng. Berkat inovasinya dia mampu mengantongi omzet Rp.50 juta perbulan.


Titik sekarang bukanlah kesuksesan mudah. Awal dia pernah diberikan pesanan banyak, sampai tiga hari tiga malam mengerjakannya. Bayangkan dia lakukan pembersihan duri ikan semalaman. Dalam tiga hari, Yesi mengambili duri menggunakan tangan manual sebanyak pesanan sendiri.


Satu persatu pack dia tangani sampai 200 pesanan terpenuhi. Beruntung teknologi sekarang memberi kemudahan mencabut duri. Kini dia sudah mampu membeli peralatan lengkap bandeng tanpa duri. Yesi memberikan pelajaran bahwa berbisnis haruslah fokus.


Dia menambahkan, harus menjaga kualitas atau tingkat, dan terus melakukan inovasi. "Harus fokus pada bisnis yang dijalani, tidak mudah pindah ke lain hari," tuturnya, dan buat yang mau beli silahkan ke @bandengrorofoficcial

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba