Beternak Sapi dan Membuat Biogas Wirausaha Menjanjikan

Profil Pengusaha Pak Oman

 

pakoman.png

Mencari wirausaha menjanjikan coba beternak sapi dan membuat biogas. Serius, ini dikerjakan Pak Oman selema dekade terakhir. Ia sukses berkat berani meminta bantuan pemerintah. Dikisahkan dia mendapat bantuan pemerintah berupa sapi.

 

Dia sukses berkat mengikuti aneka pelatihan pemerintah. Sekarang tidak sedikit perusahaan BUMN dan kedinasan meminta diajarinya. Mereka para peternak pemula ingin menimba ilmu kepada Pak Oman.

 

Pak Oman basiknya wirausahawan. Dia berjualan sayur pada 1951 di Pasar Senen, Jakarta. Disaat ada perombakan Pasar Senen. Pak Oman menjadi salah satu pedagang terdampak. Ia pindah ke Pasar Kramat Jati masih berjualan sayur.

 

Lalu dia berjualan kembali sampai perekonomiannya membaik. Pada 1987, ada Koperasi Peternak Sapi Perah Bandung Utara (PSPBU), menawarkan sapi perah New Zealand untuk dikreditkan. Mereka lantas menawarkan ke Pak Oman senilai 7 tahun.

 

Pak Oman setuju mengambil empat sapi senilai Rp.4,4 juta. Dimana dia membayar melalui hasil susu yang diperah. Dari setoran susu setiap hari ternyata sangat cepat hasilkan. Dia dalam tempo lima tahun sudah melunasi. Ia kini mempunyai 11 sapi perah, 4 ekor anak sapi, dan 18- 20 liter susu perhari.

 

Harga persusu 108 liter perhari dari enam ekor sapi. Pihak koperasi membeli susu sapinya Rp.3.300- Rp.3.500 perliter dan dihargai sesuai kualitas. Ia yang menjadi anggota koperasi diwajibkan memberi iuran Rp.25.000 perbulan.

 

Ia juga mendapatkan kunjungan dokter gratis. Bahkan bukan satu namun 4 orang dari pihak Kabupaten Lembang. Kemudian layanan dari 15 manteri di Kabupaten Lembang, mereka yang bekerja di koperasi, yang berkala mengunjungi Pak Oman.

 

Taukah kamu bisa sapi masih menghasilkan susu laku dijual Rp.14 juta perekor. Bila sudah sangat sering hamil, umumnya 7- 9 kali bunting, maka harga jualnya turun Rp.7- 9 juta perekor. Dan sapi yang tidak produktif masih dapat diambil dagingnya.

 

Berkat sapi, empat dari 8 anaknya kini sudah lulus sarjana. Pemberian makan sapi dilakukan tiga kali. Pertama, pagi hari dan sore hari, mendapat pakan dedaunan rumput gajah, rumput taiwan. dll. Lalu di siang hari, sapi mendapatkan pakan konsentrat yang dibeli dari koperasi Rp.75.000 perkarung.

 

Perlu diperhatikan perawatan kandang, kualitas pakan, dan porsi sangat diperhatikan disesuaikan berat sapi. Ini demi menghasilkan susus berkualitas. Hasil kotoran sapi dikumpulkan dimasukan ke sepitank, ditutup plastik, agar gas dihasilkan naik ke atas kemudian disalurkan melalui pipa.

 

Pak Oman menghasilkan biogas berkat diajari Departemen Pertambangan. Dialirkan ke atas melalui pipa plastik ke kompor. Ia membuat kompornya khusus hingga tidak berbau. Biogas yang dihasilkan berbeda dari LPG dimana butuh dinyalakan pakai korek api.

Jualan Keong Sawah Usaha Sederhana Menguntungkan

Profil Pengusaha Sada Firdaus


jualan keong sawah
 
Cari ide usaha sederhana menguntungkan cobalah kuliner ini. Jualan keong sawah atau tutut ternyata bisa hasilkan cuan. Buat yang tidak percaya bisa datang ke kawasan Jalan Abdullah Bin Nuh, Taman Yasmin Bogor, Jawa Barat. Banyak penjual tutut rebus berjejer menjajakan kepada orang- orang.

Jualan tutut atau keong sawah setara kerang laut. Dari rasanya mirip walau tentu berbeda sumbernya. Bila tutut berasal dari air tawar, maka kerang air asin. Olahan yang pantas disandingkan nasi panas. Buat orang Sunda, makan tutut sudah biasa sampai sekarang.

Terdapat 50 gerobak berderet di kawasan Jalan Abdullah Bin Nuh. Uniknya pedagang tidak cuma jualan keong sawah memakai gerobak. Beberapa mobil berderet memberikan tempat makan. Mereka bahkan menyediakan tikar, kursi, bahkan meja buat pembeli makan di tempat.

Usaha Sederhana


Pelanggan tidak sedikit membawa pulang makanannya. Pedagang gerobak tersebut bernama Ade. Ia berjualan tutut divariasi. Ditambahkan aneka bumbu mulai orginal, rendang, asam manis, saus tiram, rasa pedas, dan kari.

Diceritakan Ade bahwa perporsi dijual Rp.3000 buat orginal. Rasa saus tiram dijualnya Rp.4000 perporsi. Dia mampu menjual 100- 300 porsi perhari. Dari berat segitu dibutuhkan setidaknya 50 kg- 300 kg tutut perhari. Total keuntungan Rp. 200.000 sampai Rp. 300.000 perhari.

Usaha sederhana menguntungkan bukan. Bahkan ia bisa menjual sampai Rp. 400.000 perhari. Kisah sukses lain juga direguk Gayanto. Yang mana dia menjajakan tutut melalui jualan di dalam mobil. Dia menjual 20 kg perhari. Keuntungan Rp.200.000- Rp.300.000 perhari.

Biasanya Giyanto membeli tutut di Pasar Anyar Bogor. Namun belakangan, jualan keong sawah sudah masif diminati pengusaha baru. Alhasil dia harus lebih kreatif membeli langsung ke petani Bogor. Atau ia akan membeli langsung dari pembudidaya tutut asal Cianjur.

Kisah pemuda Sada Firdaus juga tidak kalah menarik. Dia mereguk untung Rp.18 juta perbulan. Beda dari lainnya, Sada memilih menjadi distributor tutut ke pedagang lain. Pengusaha muda ini menjual dari pedagang sampai ke rumah makan.

Sada pernah menjadi Kepala Marchandiser Display (MD). Dia nekat memutuskan resign kerja. Demi berbisnis keong sawah. "Saya lihat beberapa teman sekolah saya lebih sukses dari saya karena usaha sendiri," tuturnya.

Ia tertarik mau usaha tutut. Kemudian dia keluar pekerjaan, walaupun dia sudah berkeluarga tetap usaha walau lebih beresiko. Sada lantas meniru temannya. Dia berbisnis tutut sawah tetapi kurang berkembang.

"Kalau kita enggak berani mulai enggak akan bisa," tuturnya. Usaha keong sawah lantaran wilayah rumahnya kawasan persawahan.

Uniknya dia mengambil kesempatan diantara teman- temannya. Ya melalui internet penjualan lebih cepat dilakukan. Dia jual mentah Rp.8500- 9500 sudah dipotong- potong. Kalau membeli di pasar, pedagang seperti Ade dan Giyanto, malah harga dipatok lebih mahal yakni Rp.12.000 perkilo.

Bisa membeli tanpa dipotong kok. Keong beserta cangkang dijual perkilo Rp.6.500 saja. Perbulan pengusaha muda ini mampu mendapat 1,2 sampai 2 ton tutut. Berbisnis membuatnya hidup lebih sejahtera dibanding menjadi karyawan.

"Awalnya juga saya sulit untuk jalani bisnis, saya merasakan titik nol dulu," kenang Sada. Modal pertama usahanya dari Rp.500 ribu sampai Rp.1 juta. Uang segitu nanti buat membeli peralatan menangkap tutut.

Dia juga mengupahi warga mau membantu menangkap tutut. "Saya juga cari sendiri awal di sawah- sawah," ia mengenang. Dibutuhkan kerja keras lumayan buat menyusuri persawahan. Sada akan memberi uang bayaran Rp.500- 1 juta.

Mereka akan mencari masuk ke sawah sampai ke setu. Kalau kendala sih, menurutnya adalah cuaca yang tak menentu berubah. Ketika musim hujan, air akan banyak sampai sawah atau setu meluap airnya menyulitkan pencarian.

Menjadi pengusaha memang selalu terdapat tantangan. Kamu harus mempunyai niat yang kuat dan pantang menyerah.

Pengusaha Tanah Abang Sukses Bisnis Online

Biografi Pengusaha Edi S. Kurniawan


pengusaha tanah abang

Namanya begitu terkenal pengusaha tanah abang. Dia sukses bisnis online. Di era digital kini, bisnis online berkembang pesat, seperti itu pula bisnis seorang Edi S. Kurniawan. Pengusaha pakaian 32 tahun asli Tanah Abang yang terkenal akan produk pakaian jadinya.

Dia jualan pakaian bayi, yang lantas menangkap pentingnya koneksi internet sekarang. Dalam dirinya terbesit pengharapan, bahwa kelak teman sesama pengusaha di kawasan Tanah Abang, hingga bisa seperti dirinya, memiliki koneksi internet.

Suatu siang saat Warta Kota menyambangi Alifia, toko super grosir pakaian anak dan perlengkapan bayi di Thamrin City, Jalan Kebonkacang Raya, Tanahabang, Jakarta Pusat. Masih tampak masih sepi. Di beberapa sudut toko ada kantung- kantung plastik berjejer tertumpuk rapi.

Ada seorang pria terlihat tengah sibuk mengutak- atik laptopnya. Seorang tengah sibuk dengan komputer PC. Dan, ada dua orang lagi yang sibuk merapikan barang disana.

Jualan Bisnis Online


Dia lah Edi S. Kurniawan atau Pak Edi yang tengah sibuk bekerja dengan laptop warna merahnya. "Saya sengaja memilih lantai yang sepi. Sebab, 100% transaksi bisnis saya lewat internet. Disini lokasi enggak penting. Tempat sepi, sewanya lebih murah.

Yang penting, masih ada bau-bau Tanah Abang," ujar Pak Edi, sang pemilik toko online www.grosirtanahabang.com, membuka percakapan dengan Warta Kota, belum lama ini.

Memang di era sekarang kita pembeli tak harus mengunjungi pembeli langsung ke tempatnya, cukup melalui koneksi internet. Meski bisnisnya dikerjakan secara online, tapi nama Tanah Abang masih jadi andalan.

Ya, karena memang disinilah pusat dimana produk- produknya dipaketkan untuk dikirim. Tanah Abang memang jadi ikon tekstil Indonesia. Bahkan, Tanah Abang telah menjadi pusat perdagangan tekstil terbesar se Asia Tenggara.

Bagi ayah Randika Chandra Aryandi ini, Tanahabang mempunyai arti khusus. Mantan buruh pabrik di Tangerang, yang mulai belajar bisnis dengan mengikuti program magang di toko milik H. Alay, inspirator berdirinya komunitas Tangan Di Atas (TDA) dan raja tekstil dan properti di Tanahabang.

Berkat ilmu serta pengalaman magang membuatnya menjadi pedagang tekstil handal, pengusaha besar. Edi memang telah melewati masa sulitnya sebagai seorang pengusaha. Dia telah sukses memasuki ranah eCommerce atau online, www.grosirtanahabang.com dan www.alifiababyshop.com.

Saat ini, bisnis grosir pakaian anak dan perlengkapan bayi online milik mantan buruh pabrik di PT. Bando Indonesia itu tumbuh pesat diamana omsetnya mencapai rata- rata Rp. 100 juta per bulan.

Hutang usaha


Jalan menuju sukses selalu melalui proses jatuh bangun dulu. Pria kelahiran Lampung ini, telah berulang kali membangun bisnis, tetapi semua berakhir dengan kegagalan. Edi pusing karena kegagalan itu meninggalkan banyak utang.

Ia pun melakoni bisnis pulsa sampai buka toko fashion dan busana muslim serta usaha catering dan kantin. Semua dilakoni demi kata merubah nasib.

Bisnis-bisnis yang disebut terakhir modalnya diperoleh dari pinjaman bank maupun kantor. Karena gagal, utangnya sampai Rp. 50 juta. Sebagai buruh pabrik gaji per- bulan Rp.2, 7 juta per- bulan. Edi dan istrinya, Siti Aminah, terus memutar otak mencari solusi.

Buruh teladan PT. Bando Indonesia (2005-2006) ini harus menyisihkan Rp. 2 juta untuk membayar cicilan hutang per bulan.

Dalam kondisi sulit dan kepepet itu, Edi beruntung mendapat info dari TDA terkait satu program magang di jaringan toko H. Alay di Tanahabang. Dia tertarik dengan program itu, karena kegagalan bisnisnya selama ini, antara lain adalah tak memiliki ilmu bisnis.

Meski syarat mengikuti program magang itu berat tetap tak mematahkan semangatnya. Edi nekat mengambil kesempatan itu, apalagi ia mendapatkan dukungan dari sang istri. Untuk ikut magang itu, dia wajib bekerja enam hari seminggu selama tiga bulan nonstop.

Itu berarti tragedi. Edi wajib keluar dari pekerjaanya di PT. Bando Indonesia, Gajah Tunggal Group, Tangerang. Sebagai syarat tambahan yaitu ketika magang tersebut dirinya tak mendapatkan gaji, uang transport, bahkan untuk uang makan juga tidak. Sungguh berat prosesnya.

Walaupun teman-temannya menyebut keputusannya mengundurkan diri sebagai tindakan gila, tapi tekad Edi untuk belajar bisnis tidak surut.

"Saya bersyukur, meski saya mengundurkan diri, tapi pihak manajemen masih memberi pesangon Rp. 55 juta sehingga saya bisa melunasi utang saya. Sisanya untuk modal saya, "ujarnya.

"Dan, karena saya tidak bekerja lagi, istri saya bersedia bekerja kembali di pabrik tas. Itulah bentuk dukungan luar biasa dari istri saya," lanjut sang pengusaha tanah abang.

Pak Edi keluar kerja tepatnya sekitar bulan maret 2007. "Sebab kalau diterusin kerja di pabrik, saya udah enggak semangat. Hampir semua gaji saya habis untuk bayar cicilan utang. Bayangkan, utang saya baru lunas sekitar 10 tahun. Makanya saya semangat pindah quadran," katanya.

Sarjana hukum lulusan STHI Jakarta tahun 2003 itu yakin, di balik kesulitan hidup, pasti akan ada suatu kemudahan. Edi mulai merasakan manfaat positif, khususnya pada bulan ketiga magang. Saat itu, dia telah diberi kesempatan buka toko mukena sendiri dengan modal dari H. Alay Rp. 50 juta.

Selanjutnya, setelah sukses lulus magang, Edi bekerja sama dengan H. Alay membuka toko pakaian anak dan perlengkapan bayi di Blok F 3 Tanahabang.

Saat itu, katanya, dia diberi modal awal berupa celana anak dari kain perca senilai Rp. 200 juta.

"Setelah tiga tahun bekerja sama dengan H. Alay, akhirnya saya memutuskan untuk mandiri, maksudnya supaya bisa lebih kreatif mengembangkan bisnis sendiri. Toko offline saya kembalikan kepada pak haji, lalu saya fokus mengembangkan bisnis online,” ujar Edi.

Membantu Pengusaha Lain


Untuk bisnis baru, ia memilih menggalang dana dari para investor. Ia sukses menggalang dana Rp.100 juta.

"Ternyata semangat bagi hasil sangat mendukung upaya saya mengembangkan bisnis online. Rencana saya kedepan, ingin mengajak toko-toko di Tanah Abang untuk membuka toko online. Sambutannya positif bahkan beberapa sangat antusias," lanjutnya.

"Mimpi saya, semoga kawasan Tanahabang bebas macet karena semua transaksi lewat internet," ujar Edi mantap. Setelah melewati perjuangan berat, inilah masa dimana Edi S. Kurniawan bisa mencapai masa win (menang).

Dia dalam masa tersebut sebaiknya ikut membangun masyarakat. Mereka baik teman- teman atau orang yang belum dikenalnya perlu tau bahwa usaha selalu membuahkan hasil jika dikerjakan secara sungguh- sungguh.

Menurutnya salah satu usahanya yaitu melalui komunitas TDA. Dia juga memberikan berbagai paket kerja sama, biar sama- sama sukses.

"Jangan takut berwirausaha karena ternyata tak seberat dan sesulit yang kita bayangkan. Disini saya ingin sharing ilmu dan pengetahuan agar orang yang mulai bisnis tak melewati tahap trial and error yang terlalu berat seperti saya dulu," ujar Edi. yang  pernah 11 tahun kerja di pabrik V-belt mobil di Tangerang.

Sekarang, Selain sibuk berbisnis Edi tak lupa membantu sesama dengan caranya sendiri. Pak Edi memberikan bantuan bagi masyarakat yang berminat belajar berbisnis, bahkan dibantu modal.

"Bahkan, saya siap bantu orang yang mau jualan (pakaian bayi-Red) dan enggak punya modal. Tapi, basisnya tetap toko online," tambahnya.

Syaratnya gampang cukup gampang kita hanya harus memiliki blog atau akun facebook. Edi akan sediakan foto-foto produk miliknya. Kita tinggal pasang itu di internet lalu gencarkan promosi untuk membeli produk miliknya.

"Kalau ada pesanan, tinggal salurkan kepada saya. Dari transaksi itu, mereka akan dapat untung. Di sini selain bisa bantu orang, saya juga diuntungkan karena punya ujung tombak pemasaran dimana-mana," kata Edi mengenai startegi marketingnya.

Kalau dicermati apa yang dilakukan oleh Pak Edi adalah bisnis dropship, dimana cukup menerima pesanan. Ia berkata cara berjualan seperti ini baru dilakukan beberapa tahun belakangan. Waktu ia pertama kali mencobanya hanya dibatasi untuk 10 orang saja per- bulan.

Kerja sama bisnis lain yaitu lima paket kerja sama usaha, mulai dari paket distributor wilayah dengan modal awal Rp. 10 juta, paket toko bayi (start up Rp.13 juta dan paket toko lengkap Rp. 46 juta), paket sample produk hingga paket toko online plus produknya seharga 2,5 juta.

"Kami juga menyediakan karyawan yang meng-handle pesanan Anda, mulai dari penerimaan, persiapan, packing hingga pengiriman barang. Kami juga selalu siapkan barang lengkap, dengan stok senilai lebih dari Rp. 500 juta sehingga selalu bisa memenuhi pesanan pelanggan," ujarnya.

Terkait paket bisnisnya ini, Edi pun tak segan memberikan bantuan 24 jam untuk konsultasi bisnis. Ia memberikan bantuan dari menejemen toko online maupun strategi pemasaran.

Edi menyebut tahun 2010 adalah tahu dirinya melakukan ekspansi usaha. Dia membangun sekitar dua unit usaha baru yang lebih besar. Edi akan mengembangkan usaha dibidang IT Consulting dan Online Marketing serta satu lagi di bidang produksi, distribusi dan penjualan umum.

Proyek pertama yang sudah berjalan baik ialah memproduksi kaos anak, kaos remaja dan kaos busana muslim dengan kapasitas produksi 3.000 lusin per- bulan.

Koneksi:

Twitter: @edieska
Facebook:  https://www.facebook.com/edieska

Membuat Nendo Wirausaha Unik Asal Jepang

Profil Pengusaha Emmy Subagyo 


pembuat nendo

Kesenian berikut bisa menjadi wirausaha unik asal Jepang. Emmy Subagyo membuat nendo menjadi peluang usaha. Ia begitu telaten dan terampil mengerjakan "nendo", sebuah produk unik aneka fungsi. Produk yang berasal dari negeri Sakura dimana memiliki nilai seni tinggi.

Kita tau begaimana seni dan bisnis menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Emmy mampu merubah roti basi menjadi adonan clay, atau biasa disebut nendo, yang memang dipelajarinya langsung dari Jepang. 

Ragam nendo karya Emmy bisa dijumpai di rumah makan soto karak miliknya di Jalan Jenderal Sudirman, Bogor, Jawa Barat. Di restoran itulah, Emmy memajang aneka lukisan, hiasan dinding, hingga boneka nendo.

Untuk obyek yang besar seperti lukisan sakura di Gunung Fuji, Jepang, misalnya, ia mengaku menghabiskan waktu hingga satu tahun pengerjaan. Setiap kuntumnya dibuat secara telaten olehnya setiap pagi satu per- satu.

Wirausaha Unik


Ia pasti mempunyai waktu khusus satu jam di pagi hari untuk membuat nendo. Sebagai usaha, Emmy lebih memilih membuka kursus membuat nendo kepada masyarakat umum, terutama jika di akhir pekan. Dia juga membagikan kemampuannya itu kepada tamu- tamu restorannya.

Ternyata nendo yang terbuat dari roti basi bisa dijual atau jadi alat marketing menarik. Ia memulai dengan memperlihatkan roti tawar basi kepada pengunjung, lem, dan lotion.

Semua bahan itu kemudian dicampur menjadi adonan clay sebelum kemudian dibentuk menjadi bunga atau tokoh kartun Angry Bird. Bulatan kecil adonan nendo dipipihkan untuk membuat kelopak bunga.

Tujuh kelopak mungil itu lalu disatukan membentuk bunga mawar yang merekah sempurna. Memang nendo yang terbuat dari adonan ini punya bentuk seperti lilin, jadi mudah dibentuk.

"Pertama kali pasti saya ajari membuat bunga. Bunga paling mudah karena enggak ada dimensi waktunya," kata Emmy. Ia mulai belajar membuat nendo ketika tinggal di Jepang selama enam tahun sejak 1994.

Waktu itu, ia mengikuti sang suami yang bekerja sebagai bankir di sana. Untuk mengisi waktu luang sembari menunggu anak- anak pulang sekolah, ia menyempatkan mengikuti kursus membuat nendo pada saorang sensei.

Guru tersebut mengajarinya agar terampil dengan tangannya. Ia diminta membuat seribu benang sari dari nendo. Dari sekedar benang sari, Emmy akhirnya mampu membuat sebuah lukisan yang laku puluhan juta rupiah.

"Otomotasi tangan saya bergerak terus," ujarnya. Ketika suaminya sakit, nendo la yang menjadi semacam "pelarian" bagi Emmy.

Sembari menunggui sang suami di rumah sakit; ia membuat banyak lukisan nendo. Setelah suaminya meninggal, Emmy tetap membuat nendo. Ia mulai menerima pesanan kreasi nendo setelah pulang ke Indonesia di 2001.

Di Tanah Air, nendo bak primadona karena memang harga clay pabrikan cenderung mahal. Selain murah, nendo juga bisa digunakan untuk terapi kesehatan syaraf karena hanya bisa dibentuk dengan keterampilan tangan."Nendo melatih kesabaran dan memotivasi," ujar Emmy.

Selain memproduksi nendo, Emmy menularkan keahlian lewat kursus yang dibuka bagi masyarakat umum dari anak-anak hingga lanjut usia (lansia).

Siswa- siswanya adalah mereka yang berkebutuhan khusus yang berhasil belajar konsentrasi melalui nendo. Bagi anak di bawah usia lima tahun, nendo bisa menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan motorik halus, belajar pengenalan warna, serta tekstur.

Para lansia memperoleh manfaat yaitu memelihara ingatan agar tidak mudah lupa. Selain nendo atau clay dari roti basi, clay yang terbuat dari tepung tapioka, maizena, tepung terigu atau tepung beras juga diminati.

Menjadi Wisata


RM. Soto Karak, restoran milik Emmy Subagyo, menawarkan wisata unik bagi yang berkunjung ke Solo, Jawa Tengah. Rumah makan biasa namun memberikan pengalaman menarik dari sang pemilik sendiri.

Berkat tangan terampi miliknya, Emmy sukses menggabungkan keduanya jadi satu paket lengkap. Bicara tentang nilai jual karya seni nendo, ternyata usut punya usut, ia menjual sebuah lukisan nendo seharga Rp.30 juta ketika masih di Jepang.

Kembali ke tempat RM. Soto Kratak, peserta kursus sebagian besar adalah kalangan perempuan mulai dari ibu-ibu muda sampai ibu-ibu pejabat. Selain lukisan kanvas, nendo juga bisa dikreasikan pada berbagai bidang lain seperti vas bunga.

Sekilas ketika anda berkunjung ke tempatnya, maka anda akan merasa takjub ketika melihat kerya nendo nya. Mereka terlihat seperti lukisan tiga dimensi, seperti ornamen plastik yang melekat apik.

Jika anda tertarik ingin membuat Nendo, pertama-tama adalah membuat adonan yang berbentuk seperti tanah liat. Untuk menghasilkan adonan tersebut anda perlu menyobek roti menjadi remahan kecil-kecil.

Lalu campurkan remahan roti dengan lotion pelembab dan lem putih dengan perbandingan yang sama. Namun jangan lakukan secara sekaligus. Remahan roti pertama diberi lotion pelembab lalu uleni hingga tercampur.

Kemudian tuang lem putih dan terus ulenin hingga menjadi liat dan tidak lengket lagi.

"Seperti sedang membuat adonan pempek saja," kata Emmy sambil tertawa. Setelah itu, gunakan lah cat minyak untuk memberi warna pada adonan roti. Tapi pakai saja sedikit, cukup setetes kurang sudah dapat menghasilkan warna yang pekat pada adonan.

Setelah itu kamu bisa langsung membentuknya sesuai keinginan, bisa bentuk bunga, buah, atau apa saja sesuai kreativita. Wirausaha unik asal Jepang berikut masih memiliki potensi. Pasalnya nendo masih belum sepopuler kesenian Jepang lain.

Perlu diingat karena memakai lem putih maka adonan akan cepat kering. Oleh kerena itu, anda juga perlu menyiapkan beberapa kantung plastik untuk menyimpan. Jika tidak dipakai sebagaiknya adonan nendo yang telah berwarna tersebut segera disimpan.

"Dengan coating lem putih, hasilnya jadi lebih tahan lama dan tidak akan dimakan semut. Selain itu memberi efek mengkilap," jelas Emmy kepada Kompas.

Biografi Rusdi Kirana Lengkap Karir Pengusaha

Biografi Pengusaha Rusdi Kirana


biografi rusdi kirana

Biografi Rusdi Kirana lengkap menjelaskan tentang karirnya. Dia bukanlah siapa- siapa. Mantan calo tiket yang nekat buat membuka jasa penerbangan. Dulu, orang menganggap jasa penerbangan adalah untuk mereka yang berduit.

Harga tiket begitu selangi seolah perjalanan singkat itu hanya untuk mereka yang kaya. Jika melihat ke luar jendela, dulu, kita akan selalu berpikir kapan saya akan naik pesawat, sebuah pesawat terbang baru saja melintas.

Kita mungkin waktu itu masih anak kecil, melambaikan tangan dan berharap bisa menaikinya. Mulai tahun tahun 2000 -an, sepertinya mimpi kita berangsur terwujud, kita semua bisa menikmati perjalanan angkasa itu.

Di dunia sedang dilanda low- cost flight, penerbangan yang akan membawa anda kapanpun dan dengan biaya termiring. Jika di Malaysia ada maskapai penerbangan Air Asia, di Indonesia nama Lion Air pastilah yang pertama teringat ketika berbicara penerbangan murah.

Mantan calo tiket


Rusdi Kirana kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 17 Agustus 1963, dikenal memang dekat dengan dunia bisnis. Orang tuanya dikenal memang dari keluarga pedagang. Jejak bisnis pertama Rusdi masihlah dibilang abu- abu ada yang menyebutnya memulai dari seorang marketing.

Dia diberitakan pernah menjadi sales marketing satu perusahaan asing asal Amerika serta berjualan tepung terigu. Ia menjadi sales untuk mesin ketik bermerek "Brother". Tiap bulannya ia mengaku menghasilkan uang $10 atau Rp.95.000.

Langkah pertama pria yang dikenal dengan kumisnya dalam dunia penerbangan ialah berjualan tiket. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pancasilan ini mengaku selama menjadi mahasiswa hingga lulus kuliah memang bandara Soekarno- Hatta menjadi tempat tongkrongnya.

"Saya mantan calo airport," ucapnya tanpa risih. Semasa menjadi calo tak jarang ia menginap di tempat itu. Bekal yang dibawa hanya sikat gigi, odol, dan handuk.

Selama sewindu menjalani pekerjaan baru itu, tak jarang dampratan atau makian menjadi makanan sehari- hari. Musuh besarnya cuma satu yaitu para satpam penjaga bandara. Pengalaman kejar- kejaran inilah yang menjadi jalan ia membuka sebuah biro perjalanan.

Di tahun 1990 ia bersama sang kakak, Kusnan Kirana, mendirikan Lion Tour yang melayani tiket, checkin penumpang, imigrasi, sampai menjemput tamu. Untuk jasa tiket, ia mengaku mengantongi 20 ribu/tiket, sementara untuk checkin dan imigrasi sekitar Rp.75 ribu.

"Itu gue jalani ari pukul 5 pagi sampai 11 siang," ujar Rusdi mengenang. Pengalaman di lapangan ditambah kedekatannya dengan petugas imigrasi membuat perusahaan travel besar, Vaya Tour, setuju mempercayakan pengurusan paspor di bandara kepada Rusdi selama tiga tahun penuh.

"Selama saya bekerja dengan Vaya Tour, tak ada satu pun penumpang dari ribuan penumpang yang tertinggal," cerita Rusdi yang sempat menjadi salesman mesin tik dan tepung terigu ke perusahaan-perusahaan roti.

"Saya memanggul tepung terigu seberat 25 kg, lho," katanya.

Rusdi adalah sosok yang pandai dalam mengatur dan mengelola checkin. Ini terlihat dari pengalaman Rusdi saat untuk men-checkin-kan 300 penumpang dengan tiga pesawat yang berbeda, tetapi jamnya bersamaan. "Itu harus saya lakukan sendirian," ujarnya.

Dia tak pernah kehabisan akal. Malam sebelum hari keberangkatan, ia sudah melakukan checkin dan membuat pita di tas masing-masing penumpang.

Lantas, Rusdi meminta bantuan porter untuk mencarikan tour leader-nya dan membawakan bagasi rombongan pada tempat yang ditentukan. "Gue bisa checkin semua dan berbarengan bisa berangkat," ceritanya.

Tak jarang, ia juga diminta menjemput tamu. Ia mengaku, untuk urusan itu, ia memiliki penciuman yang tajam. "Bukan sombong, asal diberi tahu ciri-cirinya, dengan mudah saya bisa menemui tamu itu. Intuisi gue terlatih di situ," tambahnya, dalam biografi Rusdi Kirana lengkap.

Dari satu pengalaman itu lah yang membuatnya dikenal masyarakat sekitar bandara Soekarno- Hatta, apalagi kini, ia telah bergelar bos Lion Air, salah satu maskapai terkenal di Indonesia.

Bisnis penerbangan


Rusdi disebut memulai bisnis penerbangan pertamanya pada Oktober 1999. Modal awalnya $10 juta yang prinsipnya harus menciptakan penerbangan low- cost. Gebrakannya itu membuat susah para pengusaha lain.

Keduanya menyewa satu satu pesawat  pesawat Boeing 737-200, setelah mendapat izin penerbangan pada Oktober 1999. Pada 30 Juni tahun 2000, Lion Air terbang untuk pertama kali dan dalam waktu sekejap, simsalabim, Lion Air dan Rusdi Kirana menjadi sangat besar.

Strategi Rusdi Kirana bersama PT. Mentari Lion Air bisa dibilang fenomenal. Ia mencoba memastikan agar ada tiket murah meriah bahkan untuk orang bersandal jepit sekelas kuli bangunan pun menikmati indahnya dunia di atas awan.

"Saya tidak pernah membayangkan bisa naik pesawat," ujar seorang kakek terharu di penerbangan pertamanya. Sepanjang usianya yang telah merambat 70 tahun, baru sekali ini ia bisa naik pesawat menuju Jakarta dari Medan, karena tarifnya bisa dijangkau isi kantongnya.

Dari satu pesawat yang disewa akhirnya Lion Air punya pesawat sendiri. Di perjalanan, Rusdi pernah juga merasakan rasa gagal dan ingin berhenti, menjual satu pesawat itu.

Untunglah sang istri mencegahnya dan mencoba terus memotivasi suaminya untuk melanjutkan mimpi-mimpinya bersama sang kakak. Disinilah awal mula Lion Air diuji. Belum genap satu tahun, sudah banyak pakar yang memperkirakan bahwa Rusdi bakal gagal mempertahankan Lion Air.

Perkiraaan itu agaknya betul ketika ia akan menjual saham Lion Air untuk lebih dari $1 juta. Akan tetapi kala itu pasar saham masih belum kondusif, Rusdi memutuskan untuk membatalkan penjualan. Perlahan tapi pasti ia mencoba menaikan pasar Lion Air lagi.

Sejak berdiri memang Lion Air seperti pertunjukan bagaimana seorang Rusdi Kirana menjalankan keputusan bisnis. Mereka yang ada di dalam perusahaan ialah mareka yang dari awal berjuang bersama.

Tindak tanduknya yang secara langsung masuk ke urusan tersepele sekalipun dirasa kurang baik. Rusdi tau dia harus mendelegasikan semua masalah ke setiap post- postnya.

"Saya sudah tidak campur tangan lagi, tapi memonitor yang dilakukan anak buah," katanya. Misalnya, teknis masalah keuangan, beragam hal tidak akan di monitornya sampai detail teknisnya. "Tapi, saya harus tahu untung dan ruginya," tandasnya.

Banyak cemooh datang menyebut Rusdi itu dibekingi perusahaan penerbangan asing. Dia selalu diragukan karena bagaimana bisa mendapatkan modal pinjaman. Orang cenderung akan menyebut ada sesuatu dibalik namanya.

"Dari mana saya punya uang? Ini karena kepercayaan," kata Rusdi Kirana. "Selama ini kami hanya tidak ingin pamer. Tapi Anda bisa berbicara dengan para perbankan, mereka tidak akan membiayai Lion Air jika kondisi keuangan perusahaan tidak bagus."

Memang, sampai masih banyak kalangan bertanya- tanya, apakah hanya bermodal kepercayaan, perbankan bersedia mengucurkan kredit dalam jumlah yang sangat besar hingga ratusan triliun rupiah. Adakah tokoh lain di belakang Rusdi Kirana.

Apalagi, kekayaan Rusdi Kirana dan Kusnan Kirana, menurut majalah Forbes, tahun 2012 hanya US$ 900 juta atau Rp 8,37 triliun. Apapun itu kemampuan Rusdi sudah terlatih sejak menjabat jabatan paling bawah; penjual tiket.

Sayangnya, hingga kini, perusahaan yang kini bernama PT Lion Mentari Airline masih merupakan perusahaan tertutup, tidak pula merilis pendapatannya. Lion Air mulai beroperasi pada 2000 dengan hanya satu pesawat. Maskapai ini lalu berkembang menjadi yang terbesar di Indonesia.

Pertumbuhan Lion Air umumnya berasal dari penerbangan dalam negeri berbiaya murah. Lion Air juga melayani penerbangan rute internasional, termasuk Singapura dan Malaysia. Namun, sebanyak 90% kursi tetap diperuntukkan bagi penerbangan domestik.

Di tahun 2012, menurut data Direktorat Jenderal Angkutan Udara Kementerian Perhubungan:

Lion Air mengangkut 23,93 juta penumpang, Garuda Indonesia Airways (14,07 juta penumpang), Sriwijaya Air (8,1 juta penumpang), Batavia Air sebelum dipailitkan (6,01 juta penumpang), Merpati Nusantara Airlines (2,11 juta penumpang), dan 8,96 juta sisanya tersebar di maskapai penerbangan kecil dengan armada terbatas.

Gebrakan Lion Air


Meski Lion Air sukses memimpin pasar domestik tapi apakah Rusdi menghasilkan lebih. Pertanyaan ini lalu memunculkan spekulasi lain- lain. Akhir- akhir ini gebrakan Rusdi mengejutkan dunia dan juga pemerintah, melalui pembelian pesawat Airbus dan Boing sejumlah 464 buah.


Lagi- lagi darimana Lion Air sanggup untuk membeli pesawat tersebut. Ambisi Rusdi memang untuk membuat Lion Air menjadi maskapai penerbangan murah kelas dunia. Meski ini dinilai tidak sejalan dengan pembelian pesawat jenis Boing tersebut.

Perusahaan penerbangan yang awalnya, mereka menggunakan pesawat Boeing 737-900ER, lalu menggebrak pasaran dunia dengan ditandatanganinya surat pembelian pesawat Airbus jenis A320 sebanyak 234 buah di Paris, Prancis pada Senin 18 Maret 2013.

234 pesawat tersebut terdiri dari 109 pesawat A320neo, 65 A321neo, & 60 A320ceo. Dalam tahun tersebut mereka akan mengeluarkan dana sebesar USD 24 miliar (Rp 233 triliun) cuma untuk merefitalisasi kualitas pesawat mereka.

Padahal, tahun 2011, Lion Air telah mengumumkan pembelian 201 pesawat Boeing yang nilainya USD 22 miliar (Rp 214 triliun).

Lion Air memang terkenal sebagai maskapai penerbangan yang paling banyak memakai pesawat Boeing  737-900ER dan sekarang mempelopori penggunaan jenis pesawat airbus yang tentu lebih canggih.

Dari tangan dingin itu, ia mampu membuat perjanjian pembelian kelas dunia yang bahkan dihadiri Presiden Francois Hollande, dan menteri dan penjabat tinggi Prancis serta Duta Besar Indonesia untuk Perancis, Monaco, dan Andorra, Rezlan Ishar Jenie.

Pembelian pesawat 234 untuk Airbus memang dianggap tepat ketika kesulitan ekonomi di Eropa, terutama Prancis. Kini seluruh mata mengarah kepada Rusdi, membuatnya jadi bintang penerbangan dunia. Seolah menunggu akan diapakan semua pesawat yang berjumlah 464 buah itu.

Kita hanya bisa menunggu gebrakan selanjutnya. Saat ini nampaknya Rusdi tak lagi hanya berbisnis langkah memasuki dunia politik mengejutkan. Mungkin ini gebrakan lain seorang Rusdi Kirana. Ini karir pengusaha yang bermula dari nol besar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba