Kuli Bangunan Miliarder Pengusaha Asli Sleman

Profil Pengusaha Sukses: Joko Sriyatno


kuli bangunan miliarder

Ini kisah pengusaha asli Sleman yang tidak bermimpi muluk.  Kuli bangunan miliarder bukan karena mimpi tetapi bekerja keras. Setiap orang bisa menjadi pengusaha kok, bahkan tanpa berpikir macam- macam.

Mengalir seperti air istilahnya. Seperti halnya Joko Sriyatno, seorang kuli bangunan, tak pernah terpikir akan menjadi seorang pengusaha kelak. Ia masih sibuk mengerjakan peralatan kasar.Ketika ide bisnis itu muncul seketikan.

Bukan ide bagaimana membuk usaha pembuatan batako di rumah. Dia mengenang usahanya itu kecil cuma berjualan batako; itupun secara tak sengaja. Tepatnya di tahun 1987, ketika Joko muda bekerja di sebuah bengkel mobil di Kota Jakarta.

Setelah beberapa bulan bekerja, ia tak kunjung mendapatkan upah. Merasa diperlakukan semena- mena oleh sang pemilik usaha; Joko pun lantas minggat. Ia memilih bekerja serabutan agar bertahan hidup.

Cara Bertahan Hidup


Yang ada dibenaknya saat itu, hanya tentang bagaimana agar bisa makan dan pulang kampung. Joko lalu bekerja menjadi kuli bangunan.

"Saya butuh duit, jadi saya terima pekerjaan kasar itu," terangnya.

Tapi tak disangka, melalui pekerjaan itu, seorang pria biasa bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Selepas empat bulan bekerja sebagai kuli bangunan, ia bisa kembali ke kampung halamannya di Sleman.

Di kampung ia bekerja bersama kakaknya sebagai pekerja kasar lagi. Dia terdorong akan semangat hidup mandiri. Joko memutuskan membuka usaha bangunan sendiri. Bermodal Rp.350.000 dari hasil sumbangan pernikahannya, suami Istuti Ening Setiawati ini, memutuskan membuka bisnis sendiri.

Joko menggunakan uangnya buat membeli 100 sak semen. Ia mengolah bahan mentah tersebut menjadi 400 buah batako.

"Untuk cetakan, saya pinjam dari kakak," ujarnya tersenyum. Ke- 400 batako tersebut kemudian dijual, menghasilkan Rp.1,2 juta.

Uang tersebut tidak digunakan kebutuhan keluarga di rumah. Joko langsung saja memutarkan uang tersebut menjadi modal. Ia kemudian membeli semen serta pasir diubah menjadi bis beton kembali. Tak disangka ternyata produksi Joko kembali laris- manis dibeli.

Prinsip bisnisnya cuma satu yaitu kualitas terjaga baik. Pembeli menyukai beton- beton bikinan Joko karena kualitas serta cara penjualannya baik. Ia mudahnya memberikan hutangan kepada pembeli.

Beton buatannya sudah ditunggu banyak pelanggan bahkan sebelum kering betul terkena panasnya matahari. "Bahkan sebelum sempat kering, orang sudah antre beli bis beton," ucapnya sembari tertawa terkekeh.

Ia menyebut modal utama berwirausaha yaitu kemauan ditambah keberanian mengambil resiko. Dia cuma bermodal Rp.350.000, menyulapnya menjadi Rp.1,2 juta. Dia memiliki modal pengetahuan bahwa bisnis juga tentang konsep.

Lelaki yang kini berumur 40 tahun ini cuma lulusan STM. Joko, kini, telah sukses terlahir kembali menjadi seorang pengusaha sukses. Keseharian hidupnya antara mengurusi bisnis sendiri serta jalan- jalan berkendara mobil barunya.

Joko memilih mengendarai Mercedes-Benz bernomor lucu J 0 KO. "Kemarin saya juga barusan naik haji," tuturnya.

Joko dulunya hidup di rumah berukuran cuma 2x6 meter selama 10 tahun, kini tinggal di rumah megah, yang berdiri kokoh di atas tanah seluas 6.000 m2. Adakah kesulitan? Tentu, sukses Joko bukan tanpa kendala sedikit pun.

Ia yang telah mapan berbisnis beton berniat mengembangkan bisnis. Dipilihlah bisnis tegel menjadi sasaran ekspansi bisnisnya. Tapi, ternyata, permintaan ubin atau tegel tersebut justru menurun. Dia salah memperhitungkan bahwa tren bisnis berubah sesuai waktu.

"Waktu itu orang lebih memilih memakai keramik ketimbang ubin buat membangun rumah," tutur lelaki kelahiran Klaten ini.

Otak kreatifnya lalu berpikir agar bisnisnya tak merugi besar. Ia pun segera mengutak- atik mesin pembuat tegel tersebut. Joko merubah fungsi mesin yang sebelumnya sebagai pembuat tegel menjadi pembuat batako. Alhasil, ia terselamatkan karena sekarang produksi batakonya meningkat.

Di sisi lain, kemurahan hati sang juragan batako melalui sistem pembayaran kredit berbuah kesialan. Di tahun 2009, bisnis batakonya merugi besar senilai Rp.240 juta.

Para pengambil hutang ternyata mangkir tak mampu membayar cicilan. Ia mau menagih hutang lucunya malah diancam balik. Banyak preman yang kemudian datang ke rumah kenangnya getir. Gempa Yogyakarta juga menghancurkan fondasi bisnisnya.

"Pas gempa, batako saya hancur dan menimpa mesin," kenangnya. Ia harus merugi Rp.100 juta. Meski begitu Joko tak mau menyerah dan belajar dari kegagalannya. Untunglah ia termasuk orang yang rajin menabung.

Di tahun 2006, bisnisnya masih tahap pemulihan, belum kembali normal sediakala. Joko cuma bisa membeli motor secara kredit berbiaya angsuran Rp.250.000, tetapi harus rela menjualnya setelah dua tahun lunas. Motor itu dijualnya buat membayar muka mesin pembuat genteng.

Ya, Joko kini mulai membidik produk lain selain tetap pada batako. Ia yang kini berhasil memulihkan bisnisnya secara perlahan masih tetap sama. Joko tetap menjadi seorang hidup sederhana tidak pernah berubah. Ia selalu mengenang bagaimana susahnya dulu.

Joko tidak hidup segampang sekarang melalui perusahaannya, UD Marga Jaya. Bisnisnya kini bernilai Rp.2 miliar rupiah dari perusahaan didirikan sejak 1999. Ia masih ingat betul bagaimana susahnya ketika akan masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG), dan berkahir di STM.

"Tinggi badan saya tidak cukup," candanya. Di sana pula, ia selalu menghargai jenjang pendidikan apapun itu, terutama mereka yang hanya lulusan SD.

"Saya banyak mengambil pekerja lulusan SD," kata bapak tiga anak dari satu istri ini.

Perusahaan kecilnya telah mempekerjakan pekerja sekitar 140 orang dan 14 truk pengangkut. Pelanggannya meliputi perusahaan kontraktor perumahan swasta di Semarang, Tegal, Yogyakarta, dan Solo.

Joko dulu hanyalah seorang kuli bangunan bisa berubah menjadi seorang juragan batako terbesar di Sleman. Melalui bisnis inilah kuli bangunan jadi miliarder. Meski begitu, sang pengusaha asli Sleman tak tercatat di buku pengusaha sukses apapun.

Pernah Miskin Mau Makan Susah Kini Pengusaha

Profil Pengusaha Lailatin Afiffah


pernah miskin sukses
 
Dulu, dia pernah miskin, bahkan mau makan susah karena tidak punya uang. Kini pengusaha opak yang hasilkan omzet rata- rata 30 juta. Lailatin Afiffah (36) dan keluarganya pernah berhutang beras untuk makan sehari- hari. 

Tapi kini, dia merupakan pengusaha sukses berkat jualan camilan opak. Warga Dusun Srimulyo, Kliber, Mojotengah, Wonosobo, yang tak menyangkan begini. Karena ekonomi susah dia sama sekali tidak berpikir sukses.

Kehidupan Afiffah bekerja buat bertahan hidup. Ekonomi keluarga begitu sulit, namun suatu hari malah terkena masalah melebihi batasan. Masalah tersebut apalagi kalau bukan mengenai kesehatan anak. Dia terkenang terpaksa berhutang untuk imunisasi anak.

Orang Miskin


Awal kehidupan rumah tangga sudah diderita kekurangan. Ekonomi mereka rendah bahkan cuma sisa uang Rp.3000 di dompet. Padahal anak ketiganya harus melakukan imunisasi segera. Ia yang peduli kesehatan anak harus berjuang.

Afiffah sempat lantas berhutang beras ke tetangga. Kendati sulit, dia pantang menangis dan mengeluh di hadapan suami. Ia tak mau mengeluh urusan dapur. Afiffah tak mau membebani dan menambah pusing sang suami. 

"Saya tak ingin mengeluh urusan dapur di depan suami.... Jadi, saya tetap berupaya mencari solusi sendiri," jelasnya.

Tidak punya uang namun harus memastikan kesehatan sang anak. Dia sempat menangis berdoa ke Allah. Afiffah meminta tolong kepada -Nya karena terdesak. Pertolongan apa saja, dari siapa saja, asal dia bisa menyelesaikan masalah dapur dan kesehatan.

Tidak lama berselang tiba- tiba seekor burung datang masuk ke rumah. Burung entah milik siapa, langsung masuk ke ruang tamu dan bertengger di atas meja. "Ya, memang aneh. Barangkali karena kala itu dinding rumah saya masih berlobang- lobang (yang terbuat dari anyaman bambu)," tuturnya.

Aneh memang walaupun memungkinan burung nyasar, tetapi kemungkinan langsung bertengger di atas meja mustahil. Kalau tidak ada kehendak Allah mana mungkin begitu. Afiffah meyakini bahwa burung ini adalah doanya kepada Allah Ta'ala.

Dan ternyata benar, begitu ditangkap sang suami kemudian dijual harganya lumayan. Burung yang berjenis anis laku terjual sampai Rp.100 ribu. Uang itu dipakai membayar hutang beras tetangga. Saat itu pertama kalinya Afiffah menangis dihadapan suami.

Berawal kisah tersebut membuat Afiffah makin meyakini perubahan. Ia semakin rajin berdoa kepada Allah SWT. Afiffah pun mendorong sang suami lebih bersemangat bekerja. Suaminya, selain bekerja menjadi tukang bangunan, bila sepi juga mulai mengerjakan pembuatan perabotan rumah tangga.

Suami sambilan membuat kursi, meja, lemari, dan kusen pintu/ jendela. Selain dia membuat aneka barang rumah tangga, juga menerima jasa reperasi. Silih berganti orang datang membetulkan prabot kayu yang rusak.

Ditengah kondisi perekonomian yang mulai positif membaik. Masalah kembali mendatangi pasangan suami istri ini. Rumah mereka kecurian sampai semua alat pertukangan kayu suami diambil. Total kerugian mencapai Rp.1,7 juta.

Ironis perlengkapan pertukangan tersebut ternyata berstatus hutang. Rumah yang bertembok bambu tersebut memang banyak celah. Loba- loba tersebut dimanfaatkan pencuri mengambil peralatan kayu itu. Tanpa alat pertukangan maka otomatis sang suami menjadi pengangguran.

Beruntung pasangan suami istri ini malah menemukan ide bisnis. Mereka memutuskan berjualan opak singkong. Semua bermula ketidak sengajaan ketika dipesani opak oleh adik Afiffah. Sang adik meminta diambilkan opak 15 kg seharga Rp.85 ribu.

Adiknya berumah di berbeda kecamatan dengan Afiffah dan penjual opak. Afiffah diminta membawa opak yang dijanjikan dibayar. Namun ketika dia menemui sang pembuat opak malah kosong. Dia pergi dan opaknya tidak bisa diambil.

Karena sudah keburu waktu, Afiffah memilih improfisasi dengan memilih mengambil opak di tempat lain. Nah, inilah malahnya, si pemilik opak merasa dirugikan karena sudah dijanjikan akan dibayar. Ia kecewa akan Afiffah karena berharap opaknya dibeli.

Masalah tersebut diselesaikan dengan Afiffah mengganti rugi. Ia terpaksa membeli opak bermodal pinjaman. Afiffah kasihan kemudian membeli opak- opak tersebut. Setelah dibeli, opak tersebut lalu dikemas berbagai ukuran, lantas ia mengajak suami berkeliling menjajakan.

Sungguh diluar dugaan opak tersebut laku keras bahkan untung. Opak seharga Rp.85.000 malah bisa untung sampai Rp.55.000.

Rahasia Sukses


Pernah miskin mau makan susah sekarang pengusaha. Afiffah mereguk untung dengan bermodalkan kemasan. Opak kucai nikmat berjejer rapih dipajang di pusat oleh- oleh. Bermerek Afiffah dengan berat 3,5 ons dijual seharga Rp.5000 perbungkus.

Sejak dua tahun lalu, bersama lima pengrajin opak di kampungnya, Afiffah agresif berproduksi dan memasarkan kemana- mana. Awalnya mereka menjual produk opak tanpa kemasan. Afiffah lantas mencari celah agar semakin laku.

Afiffah mulai mempelajari kebutuhan konsumen. Dalam konsepnya bahwa orang menengah bawah memilih isi. Tetapi orang kelas menengah atas malah memilih kemasan. Ibu tiga anak ini mempunyai kesimpulan bulat.

"Orang belanja di pasar tak peduli kemasan, yang penting isi. Tapi, kalau orarrg menengah atas yang dilihat pertama pasti kemasannya," jelasnya kepada Kompas.com

Kemasan opak dibuat ekslusif kemudian dibubuhi merek namanya. Setelah kemasan ekslusif, harga masuk di pasaran malah berubah, dari Rp.5000 per- kg menjadi Rp.5000 per- 3,5 ons. Perbulannya Afiffah menyetok untuk pusat oleh- oleh khas Wonosobo.

Semua opak aneka varian terjual habis sampai 1000 buah perbulan. Omzet masuk Rp.5 juta perbulan hasil penjualan. Keuntungan bersih Afiffah mampu mencapai Rp.1,4 juta perbulan. Uang sisanya dipakai mulai dari beli bahan baku, dan membayar karyawan.

Dikala musim liburan atau lebaran penghasilan naik tiga kali lipat. Omzet tersebut baru didapat dari wilayah Wonosoba saja loh. Khusus di Bali, opaknya dibuat lebih mahal Rp.2000 demi menutupi ongkos kirim. Opaknya di Bali mampu menghasilkan keuntungan Rp.2,2 juta perbulan.

Dia secara rutin mengirim 1000 bungkus perbulan ke Bali. Afiffah sebenarnya berniat menjual untuk Jawa Tengah. Namun terkendala daya beli, dimana bagi orang Jawa Tengah harga Rp.5000 sudah kemahalan, padahal itu mepet belum ditambah biaya transportasi ke sana.

Ketika ditanya mengapa Afiffah tidak memasok ritel modern. Dia tidak sanggup untuk membiayai uang panjer. "Wah, tidak bisa membayar uang panjer," celetuknya. Kualitas opak miliknya empuk dan bisa langsung digoreng.

Afiffah bahkan sudah mematenkan Dinas Perdagangan. Ia juga punya ijin Dinas Kesehatan setempat. Opaknya dijamin sertus persen halal dimakan. Baru dua kota, Afiffah telah menunjukan geliat baik ke depannya. Dari Wonosobo dan Bali sudah cukup membiaya produksi sekaligus hasilkan untung.

Jual Kerupuk Padang Pasir Wirausahawan Sukses

Profil Pengusaha Bambang Suparno


pengusaha kerupuk pasir
 
Bapak Bambang Suparno menjadi wirausahawan sukses. Pria berusia 49 tahun yang masih bekerja keras walau usia tak muda. Dia adalah mantan buruh migran Indonesia. Sudah tidak lagi bekerja di luar negeri, mungkin kamu bisa meniru bisnis yang dijalankan Suparno.

Dia berbisnis kerupuk goreng pasir. Namanya begitu spektakuler kerupuk padang pasir. Pekerjaan dia adalah menggoreng kerupuk tanpa minyak. Warga Dusun Jeruk, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ini mengantongi omzet 90 juta.

Ia mengganti minyak dengan pasir halus hasil penyaringan. Pasir dipanaskan dengan api yang akan memanaskan permukannya. Alhasil walau tidak pakai minyak sudah bisa mekar. Kerupuk digoreng gini bila dirasa- rasa memang berbeda.

Rasanya berbeda dibandingkan digoreng pakai minyak. Tetapi ini sama enaknya kok, bahkan orang beberapa berpendapat jauh lebih enak, lebih gurih dan krenyes. Karena digoreng tanpa minyak maka tidak mengandung kolesterol. 

Proses pembuatan pun lebih hemat alhasil menekah biaya produksi. Jadi kamu bisa mengantongi nilai omzet lebih tinggi. Bahkan nih, bila kerupuk biasa mudah mlempem maka ini tidak, semua karena kerupuk padang pasir bisa didaur ulang

Suparno memiliki cara agar produknya kekinian. Dia menciptakan aneka varian rasa kerupuk. Ada 7 varian rasa dikembangkan Suparno. Antara lain kerupuk pedas, manis, pedas manis, terasi, rujak, sledri, bawang serta ubi.

Pemberian rasa ada dua cara: Kerupuk diberikan bumbu rasa sebelum digoreng. Atau diberi bumbu setelah digoreng. Kerupuk selepas digoreng dimasukan plastik ukuran setengah kilogram dan panjang 30- 40 cm.

Ukuran besar dijual Rp.1000- Rp.2.500 dimana tiap rasa pengaruhi harga. Kerupuk tersebut lantas dikirim ke agennya yang tersebar, seperti di Kediri, Nganjuk, Kartosono, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Ngawi, Malang dan Sidoarjo.

Para agen berjualan di pusat oleh- oleh daerah masing- masing. Bapak Bambang Suparno memang dikenal wirausahawan sukses. Pengusaha ulet yang mengerjakan semua sendiri dari nol. Usahanya kini memiliki empat pekerja pria.

Para pekerja bekerja dari proses produksi, penjemuran dan digoreng. Pengemasan dilakukan istri dan enam anaknya dibantu tenaga borongan. Tetangga dipekerjakan untuk membantu mengemasi. Lalu tugas Suparno mengatur pengiriman kerupuk ke beberapa kota.

Bisnis kerupuk padang pasir Arofa membuka mata kita. Bahwa usaha sederhana menghasilkan nilai berlipat asal tekun. Awalnya dia mengenang memproduksi cuma 30 kilogram krupuk. Itupun lakunya dalam beberapa hari.

Karena permintaan selalu ada maka dia memutuskan melanjutkan usaha. Suparno bereksperimen soal rasa hingga makin terkenal. Perusahaan Suparno kini mampu memproduksi sampai 2,5 kuintal. Kalau omzet ya perkilo Rp.12.000, dikalikan 250 kilogram, dan dikalikan 30 hari.

Menemukan bisnis ini membutuhkan waktu pengalaman lain. Suparno pernah berbisnis lain seperti berjualan bakso. Wirausahawan sukses ini juga pernah menjadi kuli di negeri sebrang. Pernah dia mau berjualan pelumas diajak temannya, namun urung dilakukan.

Dia berjualan kerupuk lantaran melihat saudara berjualan ini. Suparno lalu mempelajari bisnis ini, lalu meyakini bahwa kerupuk punya prospek.

Usaha Jamur Ir. Eddy Pengusaha Teknik ITB

Biografi Pengusaha Ir. Eddy Santoso

ir. eddy usaha jamur

Pengusaha teknik ITB ini membuka usaha jamur. Namanya Ir. Eddy W. Santoso, sosoknya menjadi catatan penting dalam bisnis hortikultural. Eddy, begitu sapaanya, bukan hanya sukses dalam bidang akademis namun di dalam berbisnis.

Memulai berbisni ketika krisis moneter juga masuk catatan tersendiri kita semua. Pada awalnya lelaki lulusan Teknik ITB ini tak tertarik ikut- ikutan terjun menekuni usaha jamur. Dia lebih berminat pada bisnis komputer sesuai latar pendidikannya.

Sayangnya, bisnis itu harus gulung tikar ketika krisis moneter. Eddy harus rela bisnis 15 tahun telah digeluti itu hilang oleh kejamnya krisi moneter di tahun 1997.

Memulai Bisnis Jamur


Ir. Eddy sempat memulai usaha lain sebelum jamur. Kegagalan bisnis komputer tak membuat Eddy patah semangat. Dia kembali mencari- cari bisnis lain, mencoba bangkit kembali. Saat itu permintaan akan komputer berhenti total.

Eddy setiap hari meriset pasar dan mulai belajar banyak dari pengusaha sukses di berbagai sumber. Setelah cukup lama mengamati pasar, ia akhirnya memutuskan menekuni bisnis jamur sebagai usahanya. Budidaya jamur terbilang mudah dilakukan pemula -mudah dipelajari pula.

Menjadi pengusaha teknik ITB malah memilih usaha jamur.  Ini karena tempat tinggal Eddy memang memiliki iklim sesuai buat budidaya. Meski begitu tiap jamur tetap memiliki pengaturan suhu khusus dan berbeda- beda loh.

Ambil contoh jamur kuping akan tumbuh optimal di suhu 22 0C dan kelembaban 93 %, jamur tiram akan tumbuh dengan optimal pada suhu 27 0C dan kelembaban 60 %, jamur lingzhi akan tumbuh dengan optimal pada suhu 25 0C dan kelembaban 65 %, jamur shiitake akan tumbuh dengan optimal di suhu 16 0C dan kelembaban 97 %.

Jika kamu melihat potensi bisnisnya budidaya jamur sangat menguntungkan. Untuk jamur merang saja, para petani di sekitar Jawa Tengah, Yogya, Jawa Barat, bahkan Jakarta telah masuk pasar ekspor.

Jawa Tengah saja bisa menghasilkan ekspor tercatat sebesar 11.800 ton atau senilai $12,1 juta ke Amerika, Australia, Taiwan, Korea Selatan, Saudi Arabia, dan Kanada. Milihat permintaan jamur (hiartake dan lingzhi) yang terus menerus meningkat, Eddy optimis bisa menjalani bisnis tersebut.

Meski melenceng dari latar belakang pendidikan tak membuat minder. Bahkan sukses memanfaatkan kurang lebih 1 hektar lahan yang ada di Lembang. Eddy menggandeng para pemuda pengangguran di sekitar lokasi tersebut.

Dia turun tangan mengajari mereka budidaya jamur. Ia kemudian membangun PT. Teras Desa Intidaya sebagai bendera bisnis, mengajak pemuda- pemuda itu menjadi pegawai tetapnya. Setelah tiga tahun berbisnis ternyata pilihannya memang tak salah.

Bisnisnya kini maju pesat meski hambatan itu masih ada. Pada 1994 saja tecatat bisnis ekspor jamur terlihat menurun dari tingkat jumlah. Hal ini telah berlangsung cukup lama. Namun optimisi itu masih ada mengingat permintaan itu tumbuh kembali.

Eddy tak ambil pusing akan hal ini. Ia masih memiliki pasar lokal untuk digarap. Dia bahkan menambah jaringan bisnis jamur melalui sistem plasma. Ini akan membantu memenuhi jumlah permintaan dalam negeri yang cukup tinggi.

Di pasar swalayan lokal, harga eceran jamur merang khususnya berkisar antara Rp.11.000- Rp.12.500 per- kg. Sementara dari petani sendiri harga jamur berkisar Rp.5.800 per- kg. Asumsinya petani memiliki satu kumbung (tempat budidaya) mengantungi untung Rp.600.000 per- bulan.

Asumsi tiap petani memiliki delapan kumbung berarti mencapai Rp.4,2 juta per- bulan. Perusahaan milik Eddy bisa mendapatkan nilai dua kali lipat jika satu petani binaan memiliki delapan kumbung; sebuah simbiosis.

Sejarah Kamera Canon Pengusaha Yoshida Goro

Profil Pengusaha Yoshida Goro


sejarah kamera canon
 
Kita tidak pernah mendengar pengusaha Yoshida Goro ini. Siapa sangka dia dibalik sejarah kamera Canon. Bermula dari pekerjaannya sebagai tukang betul elektronik. Yoshida tertarik akan kamera asli Leica, yang konon pada masanya sangat mahal karena suatu sebab.

Yoshida kelahiran Hiroshima, Jepang, dan merantau sampai ke Tokya. Di sana, Yosida bersekolah sampai tamat pendidikan menengah. Dia dulu sempat magang di perusahaan perbaikan dan renovasi film. 

Dua tahunan, di pertengahan 1920 -an, pertumbuhan dunia film membuat hidupnya penuh kesibukan baru. Dia bisa berkali- kali berkunjung ke Sanghai, China. Usianya masih 20 -an dengan kemampuan mengaggumkan. Ia lantas dipasrahi mengelola kamera besutan perusahaan asal Jerman, Leica.

Membesarkan Perusahaan


Leica Model II diperkenalkan pada tahun 1938, kemudian disusul Contax Model I diperkenalkan di 1933. Teknologi kamera merupakan kebanggaan bangsa Jerman. Bahkan sebutan kamera kerajaan karena dianggap paling memuaskan hasilnya.

Teknologi terbaru ini membuat semangat penggemar kamera di dunia. Untuk membuat kamera kelas tinggi ukuran 35mm dibutuhkan keahlian. Yoshida bercerita dirinya dipasrahi kamera tersebut. Dan ia sengaja mengutak- atik bahkan sampai melihat ke dalam.

"Saya hanya membongkar kamera tanpa rencana khusus, tetapi hanya sekedar ingin melihat isinya," ia menjelaskan.

Dia bertanya- tanya mengapa kamera tersebut begitu mahal. Tidak ada mesin spesial disana, bahkan imajinasi liar kita membayangkan ada berlian tidak terbukti. "Saya begitu terkejut ketika barang tak mahal ini dimasukan menjadi kamera," lanjutnya.

Isinya kuningan, alumunium, besi dan karet. Yoshida "marah" karena material murahan dijual dengan harga terlalu tinggi.

Yoshida kemudian memiliki ide gila membangun bisnis. Pengusaha Yoshida Goro mengajak adik iparnya, Uchida Saburo. Mereka awalnya hanya melakukan riset terlebih dahulu. Keduanya mencari tau cara membuat kamera berkualitas

Mereka lalu memunculkan ide gila membuat kamera sendiri. Tujuannya menciptakan kamera 35mm berkualitas. Pada Juli 1934, mereka mengeluarkan produk kamera pertama bernama "Kwanon". Yang namanya diambil dari nama Dewa di agama Budha.

Kemudian mereka memberi nama lensanya Kasyapa, dari nama murid Budha bernama Mahakasyapa. Mereka meluncurkan tiga produk Kwanon. Sayangnya, ketiganya tidak satupun dijumpai di pasar, nama- nama ketiga produknya merupakan model kamera.

Ada Kwanon Model D yang ditemukan 1995, produk tiruan yang persis Leica Model II dan bukanlah buatan Yoshida. Perusahaan besutan Yoshida tidak mampu memproduksi sendiri. Alhasil mereka ini membuat namun tidak dipasarkan.

Kwanon mulai aktif ketika berdiri Precision Optical Instrument Laboratory. Di 1937, sosok Takeshi Mitarai bergabung, yang memiliki latar belakang optikal. Ada empat orang dalam Precision Optical Instrument Laborartory, ialah Takeshi Mitarai, Goro Yoshida, Takaeo Maeda, dan Saburo Uchida.

Mereka bekerja sama dengan Nippon Kogaku Kogyo atau Nikon Jepang. Kerja sama yang memberi kesempatan Kwanon memakai lensa Nikon. Mereka bekerja sama membangun produk Hansa Canon, yang meluncur pada Februari 1936 tetapi sudah ada di Oktober 1935.

Test pasar mungkin bila kita istilahkan. Keberhasilan Canon nampak nyata namun serba tanggung. Ini karena Precision Optical Instrument Laboratory belum lengkap. Mereka belum bisa membuat apa isi kamera Kwanon -kemudian bernama Canon.

Dulu Yoshida dan kawan- kawan hanya membuat prototipe. Itupun isinya merupakan produl Leika. Perusahaan mereka sekarang sudah memiliki semua aspek. Precision Optical Instrument Laboratory menggarap focal- plane sutter, rangefinder, dan merakitnya dengan brand Canon.

Sementara Nippon Kogaku atau Nikon mengerjakan lensa Nikkor 50mm, mount lensa, opical system, viewfinder, dan rangefinder. Nama Kwanon diganti Canon berdasarkan nama standar script Alkitab. Uniknya, ketika Hansa Canon diluncurkan, nama Precision Optical Instrument Laboratory tidak ada.

Alisa nama perusahaan Yoshida tidak dicantumkan. Karena memang ini bukanlah perusahaan resmi atau tidak punya jaringan penjualan. Precision Optical lantas bekerja sama dengan perusahaan Omiya Shasin Yohin, Co, yang bertugas menjadi penjual produk.

Ingat Nippon Kogaku sendiri hanya kerja sama material. Maka Shasin Yohin yang memang bisnisnya penjual dan toko, menjalankan tugas penjualan. Shasin Yohin sendiri memegang kamera Omiya. Nah, lantas "Hansa" menjadi merek dagang Omniya, yang namanya berasal dari perjanjian Uni Eropa abad pertengahan.

Membingungkan bukan ketika kamu membuat produk tetapi tidak jelas. Kamu memiliki usaha tetapi hanya brand sementara tanpa perusahaan. Proses penjualan pun "dititipkan" melalui perusahaan lain lagi.

Bulan Juni 1946, nama Precision Optical Instrument Laboratory berubah nama, lebih tepatnya cuma diberi nama Jepang di depannya. Usaha asal daerah Meguro mulai muncul ke publik. Melalui sebuah majalah bernama Asahi Camera, namanya muncul bersamaan produk "Hansa Canon" ini.

Perkembangan bisnis pengusaha Yoshida Goro bagus. Bahkan mereka telah mampu memproduksi lensa sendiri. Tahun 1937 bernama lensa "Serenar" dan mulai memiliki status kuat. Mitarai ditunjuk menjadi Presiden Direktur perusahaan yang baru ini.

Takeshi Mitarai teman Yoshida melakukan perubahan besar. Nama perusahaanya diubah menjadi Canon Camera Co., Ltd. Nah, semenjak itu namanya menjadi Canon, semua produk dilabeli nama Canon sebagai brand asli.

Uniknya perusahaan Canon juga membuat produk kalkulator. Mereka terinspirasi usaha perusahaan asing Bell Punch. Mereka meluncurkan Canola 130, dimana menjadi kalkulator Jepang pertama yang memiliki 10 kunci.

Canon memfokuskan ke produk elektronik. Terciptanya produk kalkukaltor bukan berarti mereka ganti arah. Justru perusahaan ini semakin menstabilkan dirinya dalam bisnis kamera. Lebih jelasnya mereka mulai menguasai bisnis image meliputi produk turunan kamera lensa.

Mereka membuat scanner, binocular, digital kamera, film SLR, digital SLR kamera, lensa, video cam, dan unit layanan digital visual. Canon juga menyediakan business solution untuk produk printer mereka.

Canon memiliki brand Lasser meliputi aneka produk. Dari produk perkantoran sampai medis, antara lain mesin x- ray. Mereka juga menjadi pemain di bisnis broadcasting dari lensa, semi konduktor, display, dan digital mikro film scanner.

Yoshida Goro diakui menjadi sejarah kamera Canon. Namun, sepanjang hidupnya, tidak merasakan keuntungan perusahaan sampai 3 triliun yen. Hidupnya sederhana namun menghasilkan aneka produk membantu manusia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba