Profil Pengusaha Huang Xiaobin
Pemikiran tidak biasa muncul dibenak Huang Xiaobin. Memilih berhenti jadi dokter mau wirausahaa toko kue. Ia mau banting stir menjadi seorang Chef bakery. Padalah dia tengah menyelesaikan kuliah S3 -nya. Huang benar- benar menganggap membuat roti merupakan passion -nya.
Melepaskan pendidikan selama tujuh tahun demi ketidak pastian. Bayangkan dia mau membuat kue padahal tidak punya pengalaman. Ketertarikan muncul tak disengajar ketika dirinya menonton acara televisi. Acara bernama "Paul's Hollywood Bread" menunjukan kehidupan dunia bakery.
Dia lalu mengejar passion -nya menjadi tukang kue saja.. Huang sendiri merupakan sosok mahasiswa berprestasi. Padahal dia mahasiswa semester akhir di Zhejiang University, China. Dia menyukai soal meriset obat- obata. Riset science sudah tidak menjadi ketertarikan pria berkacamata tersebut.
"Aku belajar obat- obatan karena menyukai riset. Aku masih menyukai apa yang aku lakukan waktu itu," tuturnya.
Passion nya berubah sehingga dia memutuskan keluar kampus. Gelar doktor sudah tidak membuatnya bersemangat; sudah tidak berminat. Ia menyadari kehidupan mengejar kedoteran berat. Semakin dia ingin mendapatkan gelar, malah timbul kesulitan baru yang datang.
Membuat roti dirasa lebih menyenangkan dan membuat bahagia. Ini telah menjadi istana dimana dia leluasan meriset cita rasa. Tidak ada tekanan mendatangi sosok Xiaobin. Tetapi itu membuat orang- orang sekitar beraksi keras.
Mereka tidak senang sehingga menekannya melanjutkan. Orang tua Huang menganggap membuat roti membuang waktu. Huang harusnya belajar dan belajar mengejar gelar tertinggi. Sementara dia menikmati membuat adonan roti.
Meskipun dia harus belajar dari awal karena tidak punya pengalaman. Berbisnis roti itu tidak mudah, tetapi dia juga tidak mengajar keuntungan sebesar- besarnya. "Mereka yang lulusan SMP boleh membuka toko roti, tetapi anakku sudah mempunyai gelar master," ucap ibunya kecewa.
Huang tidak mengindahkan permintaan orang tua. Ia bahkan tidak mempedulikan omongan teman- temannya. Menurut Huang membuat roti juga memerlukan rumus kimia dan biologi. Membuat roti menurutnya sama- sama mempraktikan ilmu akademis juga.
"Tidak masalah kamu ada di tingkatan kehidupan mana, jika kamu melakukan apa yang benar- benar mau kamu ingin lakukan, itu tidak akan membuang waktu dan tidak harus dikasihiani," tuturnya.
Huang telah membuka toko roti pada 2005 silam. Awalnya dia mengalami kesusahan menjual selama tiga bulan pertama. Bahkan pegawai terpaksa membakar roti yang tidak laku, itu terjadi di tiga bulan pertama. Bahkan pernah sama sekali tidak datang pembeli ke tokonya dalam sehari.
Alhasil mereka membakar semua stok tanpa tersisa karena tidak laku. Hingga datanglah seorang food blogger, orangnya terkenal yang tertarik mencicipi kue buatan Huang. Hasilnya food blogger tersebut memviralkan toko kue miliknya. Ia membuat tidak kurang 300 kue setiap hari.
Berkat viralnya toko kue milik Huang ini, banyak orderan dari instansi pemerintah, untuk menyuplai roti ke dua sekolah dasar di kotanya. "Aku belum menghasilkan banyak uang karena aku tidak pandai berbisnis," ucap Huang yang lebih memilih pengalaman.
Mengejar Passion
Dia lalu mengejar passion -nya menjadi tukang kue saja.. Huang sendiri merupakan sosok mahasiswa berprestasi. Padahal dia mahasiswa semester akhir di Zhejiang University, China. Dia menyukai soal meriset obat- obata. Riset science sudah tidak menjadi ketertarikan pria berkacamata tersebut.
"Aku belajar obat- obatan karena menyukai riset. Aku masih menyukai apa yang aku lakukan waktu itu," tuturnya.
Passion nya berubah sehingga dia memutuskan keluar kampus. Gelar doktor sudah tidak membuatnya bersemangat; sudah tidak berminat. Ia menyadari kehidupan mengejar kedoteran berat. Semakin dia ingin mendapatkan gelar, malah timbul kesulitan baru yang datang.
Membuat roti dirasa lebih menyenangkan dan membuat bahagia. Ini telah menjadi istana dimana dia leluasan meriset cita rasa. Tidak ada tekanan mendatangi sosok Xiaobin. Tetapi itu membuat orang- orang sekitar beraksi keras.
Mereka tidak senang sehingga menekannya melanjutkan. Orang tua Huang menganggap membuat roti membuang waktu. Huang harusnya belajar dan belajar mengejar gelar tertinggi. Sementara dia menikmati membuat adonan roti.
Meskipun dia harus belajar dari awal karena tidak punya pengalaman. Berbisnis roti itu tidak mudah, tetapi dia juga tidak mengajar keuntungan sebesar- besarnya. "Mereka yang lulusan SMP boleh membuka toko roti, tetapi anakku sudah mempunyai gelar master," ucap ibunya kecewa.
Huang tidak mengindahkan permintaan orang tua. Ia bahkan tidak mempedulikan omongan teman- temannya. Menurut Huang membuat roti juga memerlukan rumus kimia dan biologi. Membuat roti menurutnya sama- sama mempraktikan ilmu akademis juga.
"Tidak masalah kamu ada di tingkatan kehidupan mana, jika kamu melakukan apa yang benar- benar mau kamu ingin lakukan, itu tidak akan membuang waktu dan tidak harus dikasihiani," tuturnya.
Huang telah membuka toko roti pada 2005 silam. Awalnya dia mengalami kesusahan menjual selama tiga bulan pertama. Bahkan pegawai terpaksa membakar roti yang tidak laku, itu terjadi di tiga bulan pertama. Bahkan pernah sama sekali tidak datang pembeli ke tokonya dalam sehari.
Alhasil mereka membakar semua stok tanpa tersisa karena tidak laku. Hingga datanglah seorang food blogger, orangnya terkenal yang tertarik mencicipi kue buatan Huang. Hasilnya food blogger tersebut memviralkan toko kue miliknya. Ia membuat tidak kurang 300 kue setiap hari.
Berkat viralnya toko kue milik Huang ini, banyak orderan dari instansi pemerintah, untuk menyuplai roti ke dua sekolah dasar di kotanya. "Aku belum menghasilkan banyak uang karena aku tidak pandai berbisnis," ucap Huang yang lebih memilih pengalaman.