Berkat Dimentori Kini Pengusaha Tas Kulit Nasional

Profil Pengusaha Aesta Fajar


pengusaha tas kulit
 
Berkat dimentori Wawan Hermawan pada 2015, Aesta Fajar belajar menjadi pengusaha tas kulit nasional. Perusahaan ekspor impor tas asal Yogyakarta, yang tertarik mengajak empat pemuda ini dalam inkubasi bisnis. Mereka akan bekerja sekaligus diajari cara menjadi pengusaha di masa depan.

Mereka lalu mendirikan Alra Lifestyle berbisnis tas kulit. Mengapa memilih berbisnis tas kulit, ya karena prospek harga jualnya baik di Yogyakarta. Selain bisnis tas kulit mereka juga merambah tas kanvas batik. Nama Alra sendiri merupakan akronim dari ucapanya syukur dalam bahasa Arab.

Perjalan bisnis tas Alra Lifestyle tergolong tidak mudah. Total lima orang bersama dirinya mencoba berbisnis. Mereka berasal dari latar belakang beda, ada yang teknik industri, IT, teknik kulit, dan desain produk. Mereka menjadikan satu pengetahuan masing- masing untuk berbisnis.

Semua bermula ketika pihak kampus mengajukan kerja magang. Ini menjadi salah satu syarat lulus Jurusan Manajemen, Universitas Islam Indonesia (UII). Dia magang ke PT. Harpa Inti Mandiri, yang pemiliknya Pak Wawan, dan bertemu empat orang pemagang lain.

Di perusahaan terdapat 20 orang pekerja tetap. Dengan 10 orang pekerja yang menjadi pengrajin tas kulit. Kenapa Fajar bisa sampai disana karena pernah bertemu Wawan. Saat itu, di Kadin Yogyakarta, sang Wakil Ketua Kadin itu memanggil sang mahasiswa yang tujuh tahun kuliah tidak lulus.

Mencoba Tes Pasar


Dia sempatkan buat meminta jalur buat magang di perusahaan. Ia bertemu empat orang tersebut, dan ternyata berakhir meminta lebih. Mereka sepakat meminta tidak cuma bekerja magang di sana. Minta agar bisa diajari menjadi pengusaha kerajinan seperti dirinya.

Kelima pemuda ini lalu mulai menjalankan bisnis Alfra Lifestyle. Mereka tidak memiliki karyawan satupun. Bisnis dibawah naungan inkubasi milik Herpa Inti. Fajar bersama empat rekannya memilih bisnis tas kulit dan kanvas. Ini sesuai dengan potensi Yogyakarta yang banyak tas kulit dan batik.

Prinsip bisnisnya bahwa tas bukan sekedar fungsional. Ini sudah masuk gaya hidup bukan lagi cuma ketika butuh. Awal bisnis, dia menaruh proses produksi ke pihak ketiga, sementara soal desain dia dan kawan- kawan lakukan sendiri.

Berbisnis bukan hal baru bagi seorang Aesta Fajar. Dia pernah menjadi pemasok bawang ke sejumlah pasar di Bringharjo, Yogyakarta. Maklum dia kelahiran Tegal, yang dikenal sebagai produsen bawang walau akhirnya rugi. Fajar lalu menutup bisnis tersebut memilih membuka usaha baru.

Sebelumnya, Fajar pernah berbisnis ikan bermodal uang dari PT. Pegadaian, dan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Modal ini kemudian dijadikan modal berbisnis bawang tadi. Pada 10 bulan pertama, Fajar memilih mengetes pasar karena tidak tau model, warna, dan berapa harganya.

Mereka lalu membuat aneka bentuk tas, tetapi tidak terlalu banyak. Tim Alfra kemudian mengikuti pameran dan menawarkan ke teman terdekat. Selama perjalanan, tanpa menghasilkan apapun, hingga mulailah teman- temannya hengkang satu- persatu.

Karena tidak memiliki modal Fajar rela mencari celah. Termasuk mengikuti pameran gratisan demi publisitas. Ia rajin mengikuti pameran Pemerintah Daerah Yogyakarta, atau dari Dinas Perindustrian dan Dinas Kebudayaan. Dia mendapatkan jawaban ketika mengikuti aneka pameran tersebut.

"Lebih senang yang minimalis. Untuk warna, babay pink atau kuning," jelasnya.

Walau demikian dia tetap memproduksi aneka warna. Inilah kunci sukses Alra Lifestyle dimana dia punya banyak warna. Sistem kemitraan juga dirasakan cocok memasarkan produk. "Selama pameran, banyak yang tanya, kalau beli lebih dari satu dapat diskon berapa," tuturnya.

Mereka ternyata tanya karena ingin menjual kembali. Sekarang, Alra Lifestyle memiliki lebih dari 20 reseller tersebar di Jawa dan Sumatera. Keputusan lain datang ketika dia menghentikan penjualan tas kanvas. Semua itu karena harga jual tas kanvas menjadi lebih murah, dibanding tas kulit miliknya.

Ternyata semua keputusan karena dia mengetest pasar dahulu. Fajar mengatakan, dua produk dalam satu wadah bisnis fashion, justru akan menghabat satu sama lain. Sebab pengembangan produk- produk fashion itu bersifat terus menerus, dan pengusaha membutuhkan modal yang besar.

"Kami kan baru mulai usaha, maka memutuskan untuk stop dulu yang kanvas," jelas Fajar.

Strategi Bisnis


Tahun 2016, dia menjajal mengikuti ajang Innovating Jogja, kompetisi berbasis inovasi industri batik, kulit, dan kerajinan. Ajang kerja sama antar negara Europen Union- Indonesia Trade Cooperation Industry. Alra masuk 12 pemenang dan ikut program akselerasi, dan mendapatkan modal Rp.30 juta.

Ia kemudian mendapat masukan soal legalitas hak kekayaan intelektual dan badan hukum. Fajar juga pemenang dari Wirausaha Muda Mandiri 2016, Kategori Industri Perdagangan dan Jasa Kelompok Mahasiswa Sarjana dan Diploma.

Berkat dimentori Fajar mendirikan PT. Alra Makmur Cahaya Selaras. Pengusaha tas kulit yang kini mempunya banyak karyawan. Ia mulai membagi tugas perusahaan ke beberapa orang lain. Bila kamu ingin punya usaha besar maka kerjakan dalam tim.

Dia membangun standar operasional agar tidak keroyokan. Tiap orang akan memiliki fungsi masing- masing. "...sifatnya saya sebagai kontrol," tuturnya.

Ia lalu membuka bengkel pembuatan tas sendiri di Bantul. D isini dikenal sebagai sentra kerajinan, alhasil memiliki sumber daya manusia dan bahan baku cukup. Fajar pernah punya pengalaman pahit soal kongsi pihak ketiga.

Dia mengatakan mereka terkadang membuang- buang bahan baku. Ambil contoh, satu bahan kulit yang harusnya menjadi dua tas, malah cuma jadi satu tas oleh sang penjahit. Dengan membuka satu bengkel sendiri, dia kini memiliki pegawai di bagian penjahitan yang lebih efektif.

Fajar menjual melalui media online sejak 2017, dari Facebook, Instagram, dan juga toko online. Dia menjelaskan bukan cuma mengurangi biaya. Tetapi juga agar mendapatkan sorotan sehingga naiklah penjualan. Cara konvensional memang membuat penjualan naik, tetapi biaya dikeluarkan ikutan naik.

Awal 2018, dia fokus mengerjakan pasar online secara konsisten dan komprehensif. Fajar merekrut orang khusus mengurusi digital marketing. Penjualan produk meningkat, satu tas seharga Rp.500 ribu sampai Rp.1 jutaan, dan setiap bulan dia mampu menghasilkan Rp.200- Rp.450 juta.

Ini hanya bermula dari ketika dia mengikuti ajang Inacraft. Fajar yang niatnya mau membawa tas berwarna camel, eh malah membawa tas berwarna kuning. Dari situ, fungsi tes pasar menghasilkan sesuatu, ia menyadari bahwa orang menyukai warna cerah terutama ketika diaplikasikan di tas kulit.

Calon Arsitektur Berbisnis Maket Desain Gedung 3D

Profil Pengusaha Jelsy Meivira


usaha maket gedung
 
Calon arsitektur memilih berbisnis maket desain gedung 3D. Bermula dari kepala Prodi Arsitektur yang menantang para mahasiswa. Ia menantang siapapun untuk membuat market gedung berbiaya minimalis. Kepala Prodi mengatakan itu ketika mengajar manajemen dan pengolahan usaha.

Menjadi arsitektur identik dengan membuat gambar bangunan. Membuat maket atau miniatur dari bangunan terbilang tidak murah. Apalagi bila mahasiswa mencoba membuatnya pastilah mahal. Nah, sang kepala Prodi menantang, dan Jelsy Meivira menanggapi tantangan itu serius.

"Meket yang murah untuk kalangan mahasiswa tugas akhir di arsitektur," kenang dia.

Berani Jadi Pengusaha


Membuat maket murah tampak sukar tetapi menantang diri. Jelsy kemudian mencoba dan bisa menghasilkan maket murah. Bahkan dia menciptakan konsep 3D, dan akhirnya dia mampu menjual dikalangan fakultas arsitektur.

Hasil produk maket miliknya berkelas profesional dibanding lainnya. Alhasil, berkat pengalaman ini berdiri bisnis nyata, ia bahkan menyebut telah memiliki dua klien perusahaan. Mereka sudah closing pemesanan melalui Dinas Pemerintah.

Bisnis ini bukan sekedar menerima tantangan Kepala Prodi saja. Dia memilih melanjutkan karena terdesak kebutuhan. "Saya masuk kuliah itu tidak ditanggung orang tua," Jelsy melanjutkan. Awalnya dia pernah berjualan kertas A3, yang banyak digunakan mahasiswa di Prodi tersebut.

Teman- teman sekuliahnya mendukung sekali Jelsy berbisnis. Dosen pun mendukung dirinya buat berwirausaha. Selepas sukses membangun maket murah, dia ingin melanjutkan usaha tersebut lebih serius. Profit bisnis ini lumayan dan dia mencoba mengembangkan bisnis dengan merekrut teman.

Dia tidak sendiri dengan merekrut teman- teman seprodi. Kota Pontianak memang dikenal masih di dalam proses pengebangan. Banyak infrastrutkur maupun properti tengah dibangun pengembang. Dia menawarkan maketnya kepada perusahaan pengembang.

Fungsi maket menjadi informasi bagi calon pembeli buat memutuskan. Biasa digunakan pengembang untuk mempromosikan gedung. Minatur properti ini umumnya dikenal memiliki harga mahal. Tapi dia mampu memberikan lebih murah, dengan kualitas baik cocok sebagai media persentasi.

Maket biasa digunakan sebagai pengganti baner atau video. Penggunaan bahan bekas membuat maket bikinannya lebih murah. Pengusaha kelahiran 19 Mei 1993 ini, menjelaskan proses pembuatan dia lakukan secara handmade, bernilai kreatifitas tinggi yang presisi dengan gedung asli,

Demi mendapatkan kemajuan dalam berbisnis. Jelsy memilih mengkuti ajang bisnis Wirausaha Muda Mandiri. Selain mendapatkan sorotan, melalui ajang bisnis ini ternyata ada proses inkubasi bisnis, yang mendorong Jelsy lebih baik dalam wirausaha.

Inkubator bisnis ini memberikan pengalaman mengani pemasaran dan pasar. Ia senang karena pihak penyelenggara menampilkan pengusaha sukses. Mereka menjadi mentor bagi pemula, agar bisnisnya nanti terangkat. "Alhamdulillah, saya pemenang," ucapnya, dan berhak atas uang modal Rp.40 juta.

Jujur lawanya pada kategori mahasiswa sangat ketat. Mereka semua telah memiliki bisnis berstatus CV dan PT. Sementara dirinya masih memulai usaha dengan omzet minimal. Ada total 12 peserta dan dia merasa minder juga. Apalagi masuk proses penjurian, dia melihat usaha mereka itu hebat- hebat.

Dia terharu sekaligus bangga menjadi pemenang. Selain membawa nama keluarga dan kampus, dia menjadi perwakilan Pontianak di ajang bergengsi. Ini membuktikan pengusaha asal Kalimantan juga punya prestasi. Jelsy bangga bisa bersaing ketat dengan mereka para pengusaha asal Pula Jawa.

Jual Beras Organik Rahasia Sukses Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Ahmed Tessario


jual beras organik
 
Produk organik juga merambah ke kebutuhan mendasar. Jual beras organik menjadi rahasia sukses pengusaha muda ini. Pemuda bernama Ahmed Tessario menarik perhatian masyarakat. Ia merupakan insisiator bagi para petani asal Banyuwangi, untuk memilih cara organik.

Tidak mudah karena masyarakat petani telah terbiasa. Menumbuhkan padi tanpa zat kimia bukan lah perkara mudah. Mulai dari masalah masa panen, dan apakah laku menjadi persoalan. Apalagi Ahmed mengajarkan menanam beras merah yang asing.

Industri makanan sehat telah berkembang pesat di perkotaan. Namun petani kita tidak menyadari, baik karena kurang edukasi dan masalah sarana produksi pertanian. Produktivitas lahan menurun tapi hasil panen tidak terjual. Padahal nih industri makanan sehat menjanjikan keuntungan berlipat ganda.

Di tahun 2011, dia diajak seorang teman menjalankan program pertanian. Saat itu Ahmed diajak ke Banyuwangi buat program ini. Tahap awal, dia diajak sosialisasi mengenai beras merah, yang sangat tidak familiar. Pemuda 26 tahun ini mengaku tidak mudah meyakinkan para petani buat dipercaya.

Ia berinisiatif melalukan kerjasama percobaan dengan 17 petani. Mereka akan nanti menanam beras organik pada lahan 0,1 Ha setiap petani. Program ini berjalan lancar, bahkan sampai menyebar ke seluruh Kecamatan Banyuwangi pada 2015 silam.

Pengusaha Beras Organik


Percobaan swadaya ini berkembang sampai ke 7 kecamatan di Banyuwangi. Dengan luas tanah yang sampai 128 Ha, dan sudah ada 99 petani bekerja bersama menghasilkan 5,2 ton/Ha. Bukan hanya dia menghasilkan beras meras, adapula beras putih, beras coklat, dan hitam organik.

Omzet penjualannya sampai Rp.127,5 juta pertahun, dan di 2015, omzetnya naik tajam sampai ke angka Rp.1,758 miliar pertahun. Rata- rata penjualan sabulan Rp.250- 300 juta dari semua produk organik.

Tidak mudah memang menghasilkan angka tersebut. Awal- awal Ahmed berkorban, dengan berani memberi bibit dan pupuk gratis. Pembayaran baru dilakukan bila panen itupun kalau berhasil. Dia menanggu resiko gagal, terlalu percaya diri cukup menjadi masalah baginya kala itu.

Karena terlalu percaya diri malah menghasilkan overstock. Bahkan mencapai 100 ton yang membuat dia kebingungan. Overstock berari dia mengeluarkan biaya diluar dugaan. Sampai dia harus relakan menjual mobil, rumah, dan pinjam bank untuk membayar.

Dia mengajukan pinjaman ke bank sampai Rp.500 juta. Begitu selesai, Ahmed dibingungkan dimana harus menjual beras- beras tersebut. Pria lulusan Insitut Teknologi Sepuluh November, tiba- tiba punya ide diluar kebiasaan, yakni menjual beras itu ke apotik- apotik, toko, dan minimarket lokal.

Cara jual beras organik seperti itu ternyata berhasil. Ahmed kemudian menjual berasnya sampai di luar Banyuwangi. Ia berekspansi sampai ke beberapa wilayah sekitar Banyuwangi. Lalu dia pasarkan bahkan sampai ke Surabaya, Malang, dan beberapa kota lain di Jawa Timur.

Ia lalu melebarkan sayap sampai di Jakarta, Bali, Jambi dan Kalimantan Timur. Dia tidak menjual ke toko lokal saja, tetapi juga menjual ke pasar menengah bawah. Startegi bisnisnya meliputi melabeli nama Seblang Banyuwangi, dan memberika edukasi aktif ke masyarakat.

Mengedukasi Pasar


Ahmed mengedukasi masyarakat yang mengaggap beras ini mahal. Pemikiran bahwa beras organik mahal sudah menjadi momok. Bagi pengusaha muda inilah tantangan, buat meyakinkan bahwa beras organik ini sehat dan tidak semahal bayangan.

Proses edukasi termasuk melalui kader- kader posyandu di Puskesmas. Ditambah kegiatan positif seperti cek darah gratis. Edukasi termasuk mengenai beras putih biasa menyebabkan diabetes. Hasil penyuluhan ini masyarakat jadi aware, dimana 50% pesertanya membeli sampai berulang kali.

Ada sekitar 32 mitra yang tersebar mayoritas di pulau Jawa. Ia mengakui tantangan terbesar ialah menemukan distributor. Padahal kedepan, dia berharap produksi berasnya tersebar ke seluruh wilayah Indonesia. Pertengahan 2016, dia berinisiasi buat mengekspor beras organik ini keluar negeri.

Permintaan akan beras meningkat dan Ahmed butuh manajemen lahan. Dia mengikuti metode milik Prof Endah. Metodenya akan mempercepat peralihan lahan sampai setahun. Padahal umumnya, bila kamu ingin pindah dari beras biasa ke organik, dibutuhkan tidak kurang kurun waktu sampai 4 tahun.

Edukasi lainnya meliputi pengajaran membuat pupuk sendiri. Mengajarkan cara menanam yang baik dan cara panen agar berkualitas. Menurut Ahmed, salah satu kelemahan beras ini ialah tidak tahan kutu, maka bila ada kemasan organik dana tahan disimpan lama patut dipertanyakan.

Sukses delapan tahun menjadikan dirinya pengusaha agrari. Ahmed Tessario mulai merambah ke bisnis lain. Kali ini di bidang startup co- working space, yang diberi nama Satu Atap dengan prinsip menghubungkan. Ahmed mencoba mempertemukan investor dengan investasi yang disasar.

Satu Atap mencoba memberika ruang achievable bagi pengusaha. Ia termasuk tak kenal lelah, bahkan kembali melakukan edukasi tentang co- working space ini. Banyak orang Surabaya belum sadar akan konsep co- working space. Percuma memulai bisnis bila tidak optimal karena kurangnya edukasi.

Bisnis Lain


Bukan menjadi pengusaha baru tetapi telah berpengalaman. Ia berkisah bahwa dulu sempat berbisnis diluar beras organik. Ketika kuliah dia berbisnis Joy Fresh International, dengan konsep bisnisnya penyedia bahan alternatif katering dan hotel, yang berjalan cukup lama tetapi bangkrut.

Ia terpaksa menjual bisnis tersebut buat bisnis lain. Kemudian dia membuka warung kopi tapi gagal kembali, dia bangkit dan mencoba sesuatu baru. Sukses beras organik membuka pandangan Ahmed dalam mengedukasi pasar, termasuk keberanian membuka usaha co- working space yang jarang ini.

Satu Atap berhasil membuka 53 acara dengan perusahaan startup. Dimana ia kini lebih memilih buat meningkatkan kualitas layanan. Usahakan buat menyenangkan costumer, dalam hal ini perusahaan- perusahaan startup. Ia juga mengadakan kerja sama langsung dengan usaha startup asal Surabaya.

Beda dengan bisnis sebelumnya, Ahmed harus memastikan memilik pegawai dengan aneka variasi keahlian. Rekrutmen dalam bisnis ini tentu berbeda dibanding usaha beras organik. Banyak aspek dalam hal teknikal, maka ia pun tak mau setengah- setengah dalam hal rekrutmen pegawai.

Buat kamu yang ingin menjadi pengusaha muda. Ahmed mempunya saran, pertama pastikan kamu memiliki perencanaan. Tidak ada namanya bisnis sukses seketika dalam semalam saja. Itu hanyalah mitos dan fiksi belaka. Tanpa perencanaan matang maka tidak ada bisnis yang berjalan sukses kelak.

Ubahlah pola pikir kamu mengenai ilmu pengetahuan. Jangan berpikir pendidikan tidak perlu tinggi. Pola pikir kalau sudah tau alur bisnisnya tidak perlu pendidikan. Atau, pola pikirnya bahwa buat apa ilmu tinggi bila tidak sukses. Faktanya Ahmed mengenyam pendidikan dari S1 bahkan sampai S2.

Ia mengatakan bila tidak memiliki bekal pendidikan tinggi. Mungkin dia tidak akan memiliki pola pikir analisis cermat. Pendidikan jangan diremehkan, berpeganglah pada prinsip bahwa kita semua harus terus belajar. Termasuk kamu harus rajin- rajin membaca buku buat menambah pengetahuan.

Memulai Bisnis Fashion Bersama Noonaku Signature

Profil Pengusaha Florentia Jeanne Sutanto


designer noonaku signature


Apa tips memulai bisnis fashion menurut NoonaKu Signature. Pendirinya, Florentia Jeanne Sutanto, menjelaskan bahwa semua berawal dari passion. Berbisnis fashion lah karena pakaian sudah menjadi salah satu kebutuhan primer. Ini satu dari 16 industri kreatif penyangga perekonomian Indonesia.

Belakangan banyak anak muda memulai usaha fashion kreatif. Banyak usaha rintisan dibangun oleh pengusaha muda. Mereka membuat produk diluar jalur umum lebih kreatif. Jadilah omzet miliara rupiah menjadi hal wajar mereka dapatkan.

Flo mengaku tidak memiliki dasar mendesain pakaian. Bukan perancang busana, hanya mahasiswi yang mencari uang demi meringankan orang tua. Dia ingin membantu orang tua untuk membiayai kuliahnya. Flo berpikir untuk berdagang menjadi reseller pakaian demi kebutuhan.

Tips Bisnis Fashion


Mulainya tahun 2015, dimana dia menjadi reseller pakaian fashion, bermula dari melihat teman yang jualan online di Facebook. Temannya itu berjualan peritem mengambil untung Rp.20.000. Maka ia berpikir mengapa tidak mencoba menjadi reseller.

Memulai bisnis fashion pertama kali menjadi reseller dahulu. Tahun 2015, Flo mulai berjualan hingga mengalami masa bosan. Dia dan adiknya berpikir mengapa tidak membuat sendiri. Inilah cikal bakal bisnis NoonaKu Signature.

Diceritakan kepada Youngster.id, bahwasanya nama tersebut diambil karena memiliki makna. Bahwa kata Noona berarti "anak perempuan", sedangkan "Ku" -nya merujuk Tuhan. Berarti usaha ini punya arti Anak Perempuan Tuhan. Harapan itu muncul agar bisnis ini berjalan baik dan diberkahi.

"Kami ingin bisnis kami diberkati Tuhan," ucapnya.

Putri sulung dari Hendrik Susanto dan Suzy Burnadhi, memiliki komitmen mewujudkan mimpi tersebut. Meskipun, diakui dia tidak punya modal besar tetapi memiliki keberanian mencoba. Dia lalu membuat desain pertama. Flo menawarkan pakain terjangkau dikisaran dibawah Rp.100.000.

Ia berkaca dari dirinya dan teman- teman kuliah rasakan. Sulit menemukan pakaian bagus dan punya kualitas. Flo kemudian menawarkan produk berkualitas tinggi dan up to date. Dia juga menyadari mereka membutuhkan pakaian dengan harga terjangkau.

Bermula dari aplikasi chat, hingga menawarkan produk ke akun sosial media dan marketplace. Apa yang ditawarkan NoonaKu adalah ciri khas pendiri. Flo harus mampu membaca keinginan pasar dan mengaplikasikan. Signature menunjukan inilah gaya Flo yang cocok buat anak muda jaman now.

Sudah mendapatkan modal bergeraklah Flo memulai produksi. Tanda sukses itu terasa ketika dirinya mendapatkan doorprize. Suatu hari, Flo mendapatkan hadiah handphone dari acara pernikahan. Hari berikutnya, salah satu omnya membeli hp baru, lalu memberikan hp lamanya ke Flo gratis.

Ini pertanda dari Tuhan bahwa dia harus terus mencoba. Berbekal handphone dia dan adiknya mulai aktif di sosial media. Ia menawarkan melalui fitur pesan cepat lewat platform smartphone. Hasilnya menarik, karena sangat murah sempat terpikir dibenak orang bahwa ini barang bekas.

Alhasil dia sempat mendapatkan cemooh pembeli. Tidak hanya soal kualitas diragukan. Teman- teman sekampus mengomentari pilihan Flo. Mereka berkata, "...udah kuliah susah- susah kok malah dagang online.". Ini sangat mengena hatinya tetapi keputusan bulat telah dia tetapkan.

Memulai Usaha Tanpa Modal


Flo tetap berpikir positif baginya ilmu bukan cuma soal teori. Di kampus tak hanya mengajarkan kita menjadi tenaga profesional. Kampus juga mengajarkan kita menjadi analisisi akan kebutuhan. Kita diajarkan menjadi pengusaha melalui peluang dan strategi bisnis.

Inilah yang menguatkan Flo untuk menjadi pengusaha. Bukan sekedar berdagang, tetapi dia mampu memberikan nilai lebih dari produk NoonaKu Signature ini. "Semua orang berhak tampil gaya meski budget terbatas. Prinsipnya fashion tak harus mahal," ucapnya.

Dia bukanlah terlahir dari keluarga berada. Bukanlah tanpa pertimbangan matang ketika memulai di tahun 2011. Flo bukanlah berasal dari keluarga pengusaha. Hampir tidak memiliki modal, tetapi dia memiliki keberanian, semangat, dan keyakinan.

Mulailah usaha menggunakan sistem jualan online. Pastikan bahwa produk yang dipasang online dari produk asli. Jangan mencomot gambar dari internet buat menarik perhatian orang. Tumbuhkan rasa kepercayaan kepada pembeli.

Jangan biarkan pelanggan sampai menunggu balasan chat. Rajinlah membalas chat walau sederhana saja. Lebih lengkapnya, dia menjelaskan mengenai konsep GPA, dimana "G" yang pertama memiliki arti selalu "Refer to God". Terus "A" terakhir berarti "Action" atau segera mengerjakan jangan tunda.

Mangapa demikian karena ketika kamu mendekatkan diri ke Tuhan: Percayalah kamu akan mulai menemukan jalan akan usahamu. Kita akan lebih kreatif ketika terkoneksi dengan Sang Pencipta. Itu bahkan akan datang dari tempat yang tak terduga.

Kemudian "P" ditengah bermakna "Passion" atau kecintaan. Kamu akan menjalankan sesuatu dengan semangat, bila perasaan cinta. Keterbatasan modal bukan halangan, jalani saja, kalaupun gagal anggap pelajaran. Pembelajaran yang baik agar menjadi pengusaha terbaik di masa depan nanti.

Ekspansi Bisnis NoonaKu


Flo dan adiknya sangat memanfaatkan blackberry. Mereka berjualan melalui blackberry group yang berisi teman- temannya. Keuntungan mulai tumbuh, kemudain Flo memutar uang tersebut untuk bisnis lagi. Usaha mereka tumbuh baik berkat rajin dan bekerja keras, walau bukan tanpa halangan.

Ketika menjadi reseller, dia menemukan satu kelemahan menjadi reseller, dimana pihak distributor memakai foto dari internet. Foto Google itu tidak sesuai dengan keadaan barang. Alhasil banyak para pembeli yang mengeluhkan kualitas barang, mereka kecewa ketika barang telah sampai.

Ini menjadi pembalajaran baik ketika Flo memproduksi sendiri. Pembeli yang kecewa akan enggan buat kembali lagi. Uang untung yang masih tersisa kemudian ditabung. Dari uang tabungan itu, dia gunakan sebagai modal membangun bisnis NoonaKu Signature.

Dia menguatkan kepercayaan pembeli. Buat desain secara rutin mengikuti perkembangan pasar. Dia menjadi sosok yang update fashion dan pasar. Menurutnya bisnis ini sangat cepat berputar. Walau Flo mampu mengikuti pasar, dia tidak meniru persis tetapi memilah dan membuat signaturnya sendiri.

Ia hanya mengikuti tren yang senafas dengan NoonaKu. Soal kualitas produk, walau NoonaKu ini menawarkan produk terjangkau, tetapi kualitas tidak murahan. Produk yang mereka jual tergolong prima. Kualitas bahan dan pola dijahit dengan baik dengan penawaran berkualitas tinggi.

Bisnis ini berkembang menjadi PT. NoonaKu Desain Indonesia. Mereka menyasar segemntasi umur 14- 40 tahun. Peresmian perusahaan NoonaKu merupakan wujud komitmen. Berkat kerja keras, dia mampu membawa perusahaan ini sampai ke Singapura.

Ternyata selera pasar Singapura cocok dengannya. Pihak Singapura sendiri yang menawarkan kerja sama. Sempat tidak percaya, tetapi pihak dari Singapura itu begitu serius buat membawa NoonaKu ke sana, target selanjutnya dia akan membangun produk pakian pria dan membuka 3 cabang baru.

Usaha Brownis Manten Berkat Galau Cinta

Profil Pengusaha Patria Prima Putra


pemilik brownis manten

Menjadi pengusaha harus memiliki sensitiftas tinggi. Kisah usaha Brownis Manten, yang bermula akbibat kegalauan cinta nitizen Indonesia. Kalau kamu membuka sosmed, maka 50% statusnya berisi curhatan soal cinta. Mulai dari yang patah hati, tersakiti, atau mereka yang sedang jatuh cinta.

Itulah kenapa Patria Prima Putra membuat usaha Brownis Manten. Semua karena cinta, Patria lantas membuat kue yang menyampaikan perasaan kita. Sejak September 2014, ia melakukan survei kecil- kecilan mengenai cinta, hasilnya orang takut untuk menyampaikan perasaan.

Banyak media digunakan menyampaikan perasaan termasuk sosmed. Nah, munculah produk ini, ya karena dia ingin membantu orang menyatakan perasaan. Patria menggelontorkan uang Rp.3 juta buat bisnis ini. Dia mengeluarkan uang modal hasil tabungan pribadinya saat itu.

Mengembangkan Usaha


"Kami hadir untuk membantu untuk mengungkapkan perasaan masyarakat," jelasnya.

Kemudain temannya, Awalinda Bestari ikut bergabung, dan uniknya mereka berdua sama sekali tak pernah bertemu. Mereka bertemu di forumWhatsApp Indonesia Sharing Club, yang menyatukan jalan pikiran sama soal percintaan.

Uang tersebut digunakan menjadi modal membeli bahan. Patria tidak membeli bahan tepung, kuning telur, dan bahan pengawet. Ia menggunakan bahan baku bebas lemak dan putih telur. Kue brownis ini unik karena dibuat berbentuk hati, rasanya bermacam- macam seperti coklat dan green tea.

Menurut ceritanya sebelum dia sukses berbisnis Brownis Manten. Anak pertama dari pasangan Eva Lucida dan Alm. Abu Sucahman, yang sudah kerajingan wirausaha sejak muda. Semenjak ayahnya meninggal dirinya selalu berusaha. Dia berjualan aneka kue buatan sendiri ke Koperasi Sekolah.

Aneka usaha pernah dia lalui tetapi tidak menetab. Ia selalu loncat- loncat dari satu bisnis ke lainnya. Dia pernah berbisnis Cafe Bandrek tetapi bangkrut. Tutup, dia membuka bisnis clothing yang cukup berjalan lancar. Dia membuka usaha clothing modern memanfaatkan batik asli Jambi
Ia mengatakan Brownis Manten bertahan setahun. Pengusaha muda 22 tahun, yang menawarkan ini ke sosial media terutama Facebook. Dia menjual seharga Rp.25 ribu pertam kali launching. Gilanya, Patria mampu meraup omzet Rp.40 juta dalam tiga hari.

Dia memanfaatkan pemasaran lewat iklan berbayar Facebook. Mahasiswa Universitas Jambi tersebut mampu meraup ratusan juta. Saban hari, dia menjual sampai 1.500 bungkus perhari, dan berapa dia untung pastinya tidak dijelaskan.

Pengusaha muda ini lalu menjual melalui agen dan reseller. Usaha Brownis Manten sukses berkat galau cinta. Unik karena setiap agen dan reseller mempunyai nama khusus. Nama buat distributor adalah KUA, reseller dinamai penghulu, dan pembeli dijuliki manten.

Dia memiliki 500 distributor dan 3000- 4000 reseller. Istilah digunakan buat mempermudah orang buat mengenali. Kini, berkat kemasan yang makin menarik, ia mampu menjual keluar negeri seperti ke Turki, Korea, dan beberapa negara di Asia Tenggara.

"Orang- orang dengan mudah dapat saling bercerita dengan kerabatnya," jelasnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba