Pencipta Kompor Air Pemenang Wirausaha Muda Mandiri

Profil Pengusaha Dede Miftahul Anwar


penemu kompor air

Dia terlahir keluarga sederhana asal Desa Cihambulu, Jawa Barat. Pemuda pencipta kompor air yang memenangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015. Dede Miftahul Anwar sempat mengejutkan lini pemberitaan Indonesia. Apakah mungkin kita menciptakan kompor menggunakan bahan bakar air.

Terlahir di Kampung Keranjang, Desa Cihambulu, Kec. Pabuaran, Kab. Subang, Jawa Barat, yang menjadi sosok teladan bagi pemuda di kampunya. Tidak banyak pemuda desa berhasil masuk ke jenjang tertinggi. Kebanyakan mereka merupakan lulusan sekolah menengah pertama atau atas.

Dia termasuk sosok kritis dalam melihat kehidupan sosial masyarakat. Kenapa gas elpiji begitu sulit ditemukan ketika penduduk begitu membutuhkan. Maka Dede menciptakan kompor sendiri sebagai pengganti kompor gas elpiji.

Pengusaha Kompor Air


Sosok cerdas itu lalu mengutak- atik unsur kimiawai air. Mahasiswa Pendidikan Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia, yang terbiasa meneliti unsur- unsur kimiwai benda. Dia mencoba menggali unsur dalam air, yang terdiri dari dua unsur hidrogen dan oksigen.

Dede mengurai hidrogen yang kemudian oksigennya diendapkan. Senyewa air ini memang memiliki banyak unsur. Menurutnya dua unsur tersebut didapat melalui cara khusus. Zat kimia khusus yang bisa didapatkan dimana- mana. Begitu terkena air maka lepaslah dua unsurnya hidrogen dan oksigen.

Nah, unsur hidrogen inilah kunci, untuk menciptakan kompor pengganti elpiji. Unsur hidrogen inilah yang dapat diurai dijadikan api. Dede lalu merubah unsur hidrogen menjadi gas terbakar. Dia lalu menjadikan ini sebagai bahan bakar kompor miliknya.

Dede lebih memilih mengabdikan diri menjadi pengusaha. Begitu produk ini berhasil dia mengajak semua warga desa. Ia membuat pertunjukan dihadapan warga melalui balai desa. Bukan mudah untuk meyakinkan pendudukan akan kompor air.

Penduduk desa nampak meragukan pertunjukan Dede nanti. Tetapi begitu terbukti keluar api, 80% dari penduduk desa tertarik dan setuju menggunakan kompor miliknya. Apalagi ia meyakinkan lewat pertunjukan bahwa ini aman dan mudah digunakan.

Begitu mereka semua membeli maka resmilah CV. Energon Teknologi. Dia mengajak para pemuda untuk ikut bergabung. Agar mudah dia membangun tempat pengisian bahan bakar. Jadi Dede tidak lepas tangan begitu kompor jadi. Dede membangun Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH).

Gas hidrogen yang terurai dari air tersebut dijual lebih murah. CV. Energon menjual Rp.10 ribu setiap tabung untuk tiga minggu. Sejak dia menjual kompor dan bahan bakar ini, permintaan semakin besar berkat diviralkan media masa. Dede mampu meraup omzet sampai ratusan juta di tahun 2015 saja.

"Bahan- bahannya sangat mudah didapatkan dan sangat murah. Jadi saya bisa menjual gas hidrogen lebih murah dibanding elpiji," cetusnya.

Ia membentu tim solit di dalam perusahaan. Begitu hak paten turun, Dede semakin mantap memberi penyuluhan kepada masyarakat luas. Bahwa ini merupakan penemuan baru bahan bakar pengganti gas elpiji. Harga yang dipatok pun lebih murah dibanding gas elpiji di masyarakat umum.

Startup Ekspor Ikan Keluar Negeri Kisah Growpal

Profil Pengusaha Achmad Rizqi Akbar



Membayangkan membuka bisnis startup tanpa pengetahuan teknologi. Startup ekspor ikan ini bisa membuktikan bukan soal pendidikan. Sang pendiri, Achmad Rizqi Akbar, lebih memilih untuk ikut mengkolaborasi gagasan. Dia yang biasa belajar dari indigo.id mulai tertarik mengerjakan startup.

Dia tidak pernah memiliki latar belakang bahkan TIK sederhana. Apalagi coding dia sangat buta akan hal semacam itu. Ia memulai karena rasa kepedulian akan lingkungan sekitar. Dia melihat peternakan ikan di kawasan Pacitan dan Sumbawa, memiliki potensi namun belum tersentuh teknologi.

Pengusaha Startup


Growpal tumbuh dibawah naungan program indigo.id. Startup ini tumbuah menjadi agen yang ikut mengawasi. Mereka menerapkan standarisasi kepada nelayan untuk ekspor. Growpal juga memberi kemudahan dan aksesbilitas masuk ke pasar ekspor.

Dana pun didapat untuk mengembangkan startup sampai berkembang. Tidak hanya dua wilayah itu, Growpal telah menjangkau Situbondo, Banyuwangi, dan Bali lewat kerapu. Adapula sistem agensi dalam bisnis Growpal untuk pembudidayaan.

Rizqi tak ingin sekedar penyalur produk perikanan keluar negeri. Growpal juga ikut aktif untuk bisa berproduksi. Yang penting penuhi dahulu kebutuhan operasional peternakan. Growpal bisa memberi dana talangan sebelum investor masuk.

Pengusaha muda yang memiliki latar belakang Sarjana Perikanan, Universitas Brawijaya, Malang, lulusan 2010. Dia memasuki dunia startup baru setelah 2017 bukan seketika jadi. Dua tahun dirinya bekerja di industri perikanan. Dia juga pernah bekerja dalam bidang budidaya udang konvensional.

Growpal digawangi tidak hanya dirinya sendiri. Ada beberapa orang pendiri yang rata- rata usia 20 tahunan. Ada Shahriansyah Candraditya (CMO), Paundra Noorbaskoro (CEO), dan Raka Kurnia Novriantama (CTO). Growpal menjadi penghubung investor, pertenak, dan konsumen ikan sendiri.

Fokus awal mereka mengerjakan kerapu dan udang. Tingkat pengembalian investasi atau ROi bisa dibilang tinggi. Growpal mampu mengembalikan investasi 30- 50 persen. Mereka pun menjadi sosok supervisor, yang ikut dalam mengawasi peternak sesuai standarisasi siap ekspor.

Ekspor kerapu lewat Growpal mencapai 400 ton, dengan kebutuhan pasar sebenarnya 3000 ton, dan mengekspor udang 50 ton yang cuma seperempat pasar. Growpal sendiri menyadari fungsi investor dalam bisnis mereka. Maka mereka aktif berkomunikasi termasuk soal pemindahan kantor ke Jakarta.

Anak Tukang Bangungan Sukses Berbisnis Jamur

Biografi Pengusaha Taufik Hidayat


pengusaha muda jamur

Taufik Hidayat selalu bekerja keras dan pantang menyerah. Anak tukang bangunan sukses berbisnis jamur. Sadar terlahir dari keluarga kekurangan, Taufik bersemangat mengejar pendidikan, hingga dia diterima bekerja di perusahaan swasta di Jakarta.

Orang tuanya bekerja sebagai tukang bangunan sampai keluar Jawa. Sementara kedua kakaknya jadi tukang ojek di jalan. Berkat kerja keras ayah tersebut membuat Taufik bisa kuliah. Lulusan Politeknik Negeri Bandung ini sadar, bahwa jenjang karir di perusahaan mulai tidak berkembang.

"Sampai kapan melihat bapak saya jadi tukang bangunan, bahkan rela keluar Jawa ketika saya kuliah untuk membiayai saya," Taufik menjelaskan.

Inilah cikal bakal dia nekat resign untuk membuka usaha sendiri. Satu bulan dia tidak bekerja sampai teringat satu pristiwa. Ia mengenang pernah diajak seorang senior ke kebun jamur. Usaha milik senior di kampus itu begitu menarik perhatian Taufik.

Memulai Budidaya Jamur


Tidak puas akan karirnya hingga memilih membuka usaha. Anak tukang bangunan sukses berbisnis jamur. Ide berbisnis jamur muncul ketika dia mengenang seorang senior kampus. Dia ingin memulai usaha tersebut, hingga dia teringat seorang teman di sekolah menengah.

Pria bernama Aep tinggal di Cinangsi, Pengalengan. Teman SMA yang sekarang budidaya tomat di samping rumah. Taufik menganggap Aep mungkin tahu soal perkebunan. Dia bertemu Aep sampai terlibat pembicaraan serius.

Aep berkata bahwa tetangganya membudidaya jamur di rumah. Dia pun mengajak Taufik datang ke tempat sang tetangga. Sembari mengobrol ditemukan fakta, bahwa media tanam didapat dari Ciwidey dan berupa bantuan pemerintah, untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lewat budidaya jamur.

Si tetangga bercerita mengenai kemudahan menanam jamur. Perawatan tidak cepak dan panen bisa setiap hari jadi dapat uang setiap hari. Hanya karena jumlah jamur sedikit, si tetangga cuma menjual ke tetangga lain dan pedagang sayur. Dia mengatakan paling susah mendapatkan media tanam di sini.

Ide berbisnis jamur semakin optimis dilaksanakan. Apalagi Taufik tertempat tinggal di Pengalengan jadi cocok secara suhu. Tingkat kelembapan cocok tinggal menyiapkan tempat. Dia pulang kerumah dan memilih menyewa rumah milik tetangga.

Rumah tersebut disulap sampai menampung 20 ribu media tanam. Sembari mengerjakan ia mulai mengenang susahanya keluarga. Sang ayah bekerja sebagai tukang bangunan sampai keluar Jawa. Sementara kakak- kakaknya, hanya bekerja menjadi tukang ojek berkeliling mencari penumpang.

Bisnis Budidaya Jamur


Dia ingin merubah nasib keluarga lebih baik. Taufik ingin mengajak kakak- kakaknya berusaha bersama. Tidak lagi panas- panasan mencari penumpang di jalanan. Dia juga tak tega melihat desa tempatnya lahir kebanyakan bekerja menjadi buruh tani.

"...tetapi mereka (penduduk desanya) tidak mendapatka apa- apa," ia menjelaskan.

Optimis dibangunlah tempat tanam yang sesuai tingkat kelembapan. Total modal awal dia keluarkan 100 juta rupiah. Modal itu dipinjam dari teman kuliah dan teman kantornya dulu. Jujur ekspetasi seorang Taufik begitu besar akan bisnis jamur ini.

Singkat cerita dia berhasil panen pertama sekali budidaya. Walau nampak berjalan mulus, dia kesulitan untuk menawarkan hasil panen ke pedagang pasar. Baru sekali panen itu malah disambut hujan besar dan banjir.

Sore itu dia dan kakak barus saja memanem jamur. Diluar sudah hujan besar sampai air menggenang. Tampak air hujan mulai memasuki gubuk bambu tersebut. Hujan begitu besar sampai dinding bambu miri dan rak- rak mulai bergoyang.

Ini pertanda hingga keduanya melompat keluar dan rubuhlah rumah jamur tersebut. "Alhamdulillah, selamat hampir tertimpa bangunan di dalam, yang tidak selamat bangunan dan 20.000 media tanam di dalam," kenangnya.

Total kerugian mencapai Rp.80 juta sampai mengelus dada. Baru kali ini dia merasakan kehilangan uang sebesar itu. Apalagi dia sadar uang tersebut merupakan hasil pinjaman teman- teman. Dia tidak patah semangat. Taufik mencoba meminjam kembali ke teman- temannya tersebut.

Kali ini Taufik akan mencoba membuat media tanam sendiri. Berulang kali dia meminjam, tetapi itu berkali- kali gagal juga, sampai memiliki hutang menggunung Rp.500 juta. Taufik tidak patah arah untuk terus mencoba membuat kembali.

"Saya sadar saya terlalu egois dan terlalu idealis, merasa paling bisa dan tidak butuh masukan orang lain," ia menerima nasib.

Pengusaha muda ini mengevaluasi kehidupan dengan kepala jernih. Dia mulai mempelajari dari awal semua. Begitu dipelajari ternyata tidak terlalu sulit membuat media tanam. Bagian terpenting ialah proses sterilisasi. Penggunaan drum secara menual tidak akan dapat dihitung panas api.

Suhu dan tekanan terkadang berbeda tergantung api kayu. Nyala api tidak selalu sama, sehingga bisa berhasil atau tidak. Dia lalu berdiskusi mengajak Pak Yunus (Dosen) untuk membuat alat. Mereka membuat mesin mengontorol suhu dan tekanan panas.

Mereka lalu membuat media tanam dan kegagalan ditekan. Begitu mahir membuat media tanam, dia melihat bisnis semakin membaik dan mencoba ikut perlombaan. Taufik mengikuti ajang wirausaha dari Bank Mandiri, hasilnya mengejutkan dia menang dan mendapatkan modal Rp.40 juta.

Dana tersebut dipakai mengembangkan bisnis jamur. Nama usahanya Villa Mushroom Agrifarm, dan terus berkembang untuk mengajak masyarakat ikut bergabung. Dia membuka usaha kebun jamur bagi masyarakat desa. Mereka akan mendapatkan penghasilan tambahan dan berkebun di rumah sendiri.

Rejeki Pengusaha Jamur


Taufik dibantu 15 petani sampai panen 6 ton atau senilai Rp.75 juta. Dia juga memproduksi media tanam sendiri 1.5000 pilobag. Petani seban bulan mendapatkan 30.000 atau senilai Rp.90 juta. Dia menyebut total penjualan Rp.165 juta dari panen jamur dan menjual baglog.

Laba bersih usaha mencapai 30%- 40% dari penjualan semua usaha. Taufik memiliki aset sampai senilai Rp.600 juta dari tanah, bangunan, dan mesin.

Pemuda kelahiran Bandung, 1 Juni 1992, yang bekerja keras dan belajar otodidak. Dia meminjam uang dari teman banyak. Juga mendapatkan sokongan investor sampai ratusan juta rupiah. Taufik pakai uang itu untuk membiayai operasional, sewa lahan, membuat rumah jamur dari bambu, dll.

Uang pribadi hanya Rp.10 juta dari tabungan bekerja di PT. Toyota Manufacturing. Dia juga pernah bekerja di PT. Samsung Indonesia. Berlatar belakang pegawai kantoran, Taufik meriset sendiri cara bercocok tanam jamur, dan langsung mengaplikasikan.

"Saya tergolong nekat," ujarnya.

Dia mengajak dua kakaknya untuk mengolah baglog. Mereka menanam bibit jamur di dalam rumah kumbung. Ditunggu selama dua minggu sampai bibit jamur tumbuh. Awal panen dia menghasilkan 5 kg hingga 10 kg. Sekarang dia memproduksi 2 ton per- pekan, yang dijual di pasar Pengalengan.

Ia rutin menjual jamur ke pedagang sayuran. Taufik memiliki empat pelanggan. Namun dia harus berhadapan dengan senior pasar. Sosoknya ini menjadi penentu siapa saja yang boleh berdagang di sana. Tata niaga jamur dikontrol sosok tersebut, maka dia segera mendekati sosok tersebut langsung.

Tidak mendekati melalui pasar tetapi dia datangi rumahnya langsung. Dia membangun komunikasi dengan pedagang jamur di sana. Termasuk ketika dia masuk ke pasar daerah Bandung, maka harus mendekati suplier jamur yang terlebih dahulu ada.

Jamur yang dipasok Taufik adalah tiram putih dan jamur cokelat. Sementara orang yang didekatinya menjual jamur kancing. Omzetnya melambung dua kali lipat berkat selalu bekerja sama. Konsumen yang membeli bisa menjadi penjual. Permintaan jamur miliknya meningkat sampai dua kali lipat.

Target produksi perhari 1 ton sehingga menjadi 30 ton perbulan. Dia membidik pasar di Jawa Barat sebagai awalan. Serta ia mulai masuk ke pasar swalayan dan hotel. Agar bisa memenuhi target itu, dia mendirikan CV. sebagai entitas, dan telah memiliki 10 orang karyawan yang dulunya 1- 2.

Biografi Robert Hartono Bisnis Rokok Djarum Triliunan

Biografi Pengusaha Robert Budi Hartono


robert hartono djarum

Biografi Robert Budi Hartono ternyata kelahiran Kudus, Semarang, 18 April 1941, yang memiliki nama asli Oei Hwie Tjhong. Dia anak kedua dari pendiri Djarum Oie Wie Gwan, yang sebelumnya bernama Djarum Gramophon, hanya sebuah usaha kecil dibeli oleh ayahnya di 1951.

Selain bisnis Djarum, bersama kakaknya, Michael Bambang Hartono, tercatat memiliki saham lima puluh persen di Bank BCA. Mereka juga memiliki 65.000 hektar perkebunan sawit di Kalimantan. Ia dan kakaknya, Michael Hartono telah memulai semuanya di bisnis keluarga.

Robert di usia 20 tahun menerima warisan sang ayah. Kedua bersaudara bahu membahu membangun kerajaan bisnis hingga sekarang. Mereka ikhlas mendapat warisan walau tidak sempurna berjalanan, perusahaan tetap mereka jaga hingga akhir.

Cobaan Bisnis Djarum


Bisnis mengalami cobaan di awal, keduanya menerima bisnis tersebut ketika pabriknya mengalami kebakaran. Ayahnya menginggal di tahun 1960- an, tak lama setelah kebakaran di pabrik Djarum. Kala itu, Robert harus menghadapai prasangka masyarakat atas orang keterunan Tionghoa.

Mereka tak ragu melepaskan pendidikan di Universitas Diponegoro. Hartono bersaudara memutuskan menghadapi prasangka soal pendidikan, cuma bermodal bisnis keluarga. Berbekal semangat pantang menyerah, kedua bersaudara memilih fokus mengembangkan bisnis rokoknya.

Jadi Hartono bersaudara merupakan sosok dropout pertama kita. Agar bisnsi Djarum naik setelah tenggelam karena kebarakan. Mereka mendatangkan teknisi asing demi memberi pelatihan pekerja di Djarum. Keduanya berhasil menyelamatkan bisnis keluarga tersebut.

Mereka menjadikan Djarum fokus tidak hanya membuat tapi meriset pasar. Djarum mulai melirik pangsa pasar dunia terutama di kawasan Amerika. Tercatat Djarum mampu menghasilkan 48 milyar per- tahun atau 20% rokok di pasaran.

Pertumbuhan ini membuat perusahaan mudah melakukan ekspansi bisnis. Pabriknya mulai ikut mengadaptasi mesin rokok putih memproduksi rokok kretek. Djarum juga mengadopsi pembukuan modern, lalu memperbaiki manajeman.

Sejak 1972, mereka mengembangkan merek khusus dijual ke luar negeri. Hasilnya mereka mulai memasarkan andalan merek Djarum Super di tahun 1984. Enam tahun dilalui, Djarum menguasai 31% pasar rokok nasional atau menjadi perusahaan rokok kretek nomor 1 di Indonesia.

Keberhasilan tersebut tampaknya tidak membuat kemitraan mereka terpecah. Keduanya semakin solit dalam berbisnis dan berinvestasi. Tercatat jika ada nama Robert Budi Hartono maka disana akan ada biogafi sang kakak, Michael Bambang Hartono.

Ekspansi Bisnis


Dalam biografi Robert Hartono bisnis roko Djarum tak berhenti. Nama Grup Djarum muncul menguasai bisnis di bidang lain, seperti bisnis perbankan bahkan media. Melalui metode kepemilikan saham mayoritas suatu usaha yang terdesak; Grup Djarum menguasai BCA.

Tepatnya di tahun 2008, Grup Djarum telah menguasai 51 persen yang berarti saham mayoritas, dimana PT. Bank Central Asia menurut Bank Indonesia memiliki aset 1,3 triliyun.. Dia dan sang adik melalui Farindo Holding Ltd. yang dibeli melalui Alaerkan, membeli saham BCA senilai 51% itu.

Kontan kedua pengusaha kakak beradik ini membeli saham  Keduanya pula memiliki saham atas Farindo 92, 18 %, selain perusahaan asing Amerika, Farallon dengan saham 7, 82 %. Sebelumnya, Alaerkan hanya pemilik 9, 36% sedangkan Farallon pemilik saham mayoritas 90, 64%.

Berubahnya komposisi saham, ini membuat sacara langsung Alaerka lah pemilik saham mayortias Farindo manjadi penguasa BCA. Melalui penguasaan tidak langsung entah strategi macam apa itu. Tetapi PT. Bank Central Asia, perusahaan asing tersebut telah dikuasai mayoritas lokal.

Farindo sendiri merupakan perusahaan investasi berpusat di Mauritius. Selain BCA, Grup Djarum juga aktif melakukan bisnis lain tapi serupa. Perusahaan memiliki dua buah bank yakni Bank Haga dan Hagakita.

Di 13 Juli 2006, kedua Bank dijual ke pihak Rabbobank Group, yang berpusat di Belanda. Bank Haga dan Hagakita memiliki total aset 3, 97 triliun per- 31 Desember 2005. Keduanya memiliki 78 kantor cabang terbagi di Jawa Tengah, Bali Sumatra, dan total karyawan 1.537.

Grup Djarum memilih fokus di BCA melalui modal kapitalis Rp.61,665 triliun. Mereka masuk ke bisnis properti melalui Grand Indonesia, sedangkan elektronik melalui Polytron. Grand Indonesia sendiri adalah kawasan bisnis mewah tepat di jantung ibu kota, kawasan Hotel Indonesia, Djakarta.

Djarum lantas menggabungkan fungsi pusat belanja, perkantoran, apartment, dan hotel sekaligus. Untuk kawasan belanja dikutip website Grand Indonesia, mereka menawarkan pusat belanja 250 ribu per segi delapan lantai.

Sedangkan Hotel, Djarum memilih mendesain ulang Hotel Indonesia yang sudah ada sejak 1960. Hotel yang dulunya bernama Hotel Indonesia Kempinski oleh Kempinski Group, memiliki 280 kamar yang berstandar Internasional.

Hotel itu dikenal setara  The Raffles Singapura dan The Oriental Bangkok. Yang tak kalah penting, menara BCA yang sejajar pusat belanja Grand Indonesia. Salah satu menara tertinggi di Jakarta dengan total lantai 11 ditambah ruang fitnes.

Sektor lainnya, Group Djarum memilih dunia Internet melalui Kaskus. Malalui Global Digital Prima Venture, Rebert dan kakakanya mencoba menjajaki kerja sama. Ada sedikit kontroverersi, apakah Kaskus dibeli Djarum, tetapi Ken Dean Lawadinata salaku CEO menolak sebutan akuisisi.

Di pihak lain, founder Kaskus, Andrew Darwis mengaku hanya berbagi pertnership bukan dijual. Itu dilengkapi dengan share knowledge dan funding untuk keuntungan. 

Robert Budi Hartono sangat menyukai olah raga terutama bulu tangkis. Ia mendirikan perkumpulan bulutangkis (PB) Djarum terbentuk 1969. Di lapangan melinting kretek, Robert menemukan talenta dLiem Swie King.

Dia benar- benar mampu melihat sesuatu dari anak tersebut, sehingga anak itu tumbuh menjadi legenda, yang dikenal sebagai "King Smash".

Menggagas Desa Wisata Pengusaha Yeni Dwi Fitriani

Profil Pengusaha Yeni Dwi Fitriani


pengusaha desa wisata
 
Menjadi pengusaha Yeni Dwi Fitriani tak sekedar mencari untung. Dia menggagas desa wisata lewat konsep eco- wisata organik. Tujuannya mengangkat taraf hidup masyarakat lewat pariwisata. Taukah kamu bahwa pariwisata menjadi penompang ekonomi nomor dua, setelah sektor migas.

Sektor non- migas ini masih belum dikelola dengan baik. Hingga bermunculan konsep desa wisata yang digagah pemerintah daerah maupun swasta. Yeni hanya satu diantaranya yang melihat prospek suatu daerah. Apapun bisa dijadikan obyek wisata selama memiliki keunikan identitas.

Inilah yang dia coba kerjakan ketika menggarap Desa Temas. Daerah yang berada di kawasan Kota Batu, Jawa Timur. Desa wisata sendiri bukan cuma mengenai keindahan alam. Dari hasil karya warga lokalnya pun dapat dijadikan komoditas, sebut saja aneka kerajinan, sumber daya ikan, dan lain- lain.

Nah, spesial Desa Temas ini soal pertanian, bukan cuma menyodorkan keindahan semata. Yuni lewat Desa Wisata Dewi Temas, mengelola integrated farming dan eco- tourism area. Basis pertanian yang meliputi semua produk pertanian yang berbasis organik.

Usaha Berbasi Sosial Masyarakat


Suatu daerah yang menspesifikan pertaniannya menjadi organik. Kamu tidak hanya menikmati hijau kebun- kebun sayur. Ada pula program yang dirancang untuk mengakomodir wisatawan. Mulai dari wisata belajar bertanam dan kegiatan outbond yang menyegarkan.

Ia mengatakan total lahan seluas 7000 m2 akan menanti kita. Desa Temas sendiri dikenal orang yang ramah- ramah. Kehidupan mereka secara sosial dan budaya pun telah tertata. Lingkungan wisata itu sangat menarik bagi penduduk perkotaan.

Aneka kearifan lokal digali Yeni agar tidak sekedar berkebun. Lingkungan pedesaan mereka masih asri termasuk sungai. Kota Batu sendiri telah diserbu wahana modern yang kurang akomodir. Ini menjadi dilema para petani, kenapa uang hanya berputar di kawasan perkotaan dengan wisatanya.

Petani tidak hanya menanam sayuran. Tidak adanya wisata berbasis lingkungan menjadi prospek bisnis. Apalagi Yeni melihat para petani terus mengeluh, karena hasil pertanian memburuk. Bahkan mungkin mereka akan meninggalkan pertanian organik tersebut.

"Hasil pertanian mereka tidak maksimal. Pada akhirnya banyak petani yang beralih profesi atau menjual lahan," jelasnya kepada Youngster.id

Inilah yang dia coba hentikan agar desa tidak tergerus. Pengusaha muda kelahiran 11 Maret 1994, yang memulai langkah konkrit. Semua berkat pembicaraan dia bersama kawan sekampusnya. Dia bersama teman- teman dari Universitas Negeri Malang, yang melihat dilema permasalahan sosial.

Bekal pengalaman berogranisasi kemudian dia curahkan. Yeni mengajak pemuda asal Desa Temas pada 11 Oktober 2014. Beruntung pemuda Desa Temas memiliki pandangan sama. Mereka juga merasakan kegetiran, lantaran mulai banyak lahan beralih menjadi perumahaan untuk orang kota.

Konsep Desa Wisata yang tengah naik daun ditanggapi positif. Diskusi berlanjut sampai melahirkan kelompok usaha Desa Wisata Dewi Temas. Ingin menjadi desa tersebut pusat pendidikan, ekonomi, dan wisata di bidang eco- tourism.

Berbekal satu petak lahan dekat sungai yang mengalir di desa. Mereka mulai membersihkan sampah dari aliran sungai. Setelah itu mereka mengajak anak- anak bermain di kawasan tersebut. Kebersihan lingkungan dijaga betul, sampai para orang tua dan pihak sekolah ikut meramaikan.

Lahan yang dikelola Desa Wisata Dewi Temas makin luas. Bermacam- macam program dikonsep untuk menggaet lebih banyak pengunjung. Target dioptimalkan yakni bagi mereka rentang usia 27- 40 tahun. Mereka yang datang dari luar desa kebanyakan lembaga pendidikan dan para siswanya.

Wisatawan datang berminat belajar tentang pertanian organik. Yeni mengakui semua berawal dari konsep sederhana. Desa Temas tumbuh berkat kerja sama dengan para penduduknya. Bila tidak, ia mungkin tidak akan mengembangkan ini, karena mereka lah yang mengerti kelebihan desan sendiri.

Ia berhasil menggaet instansi pemerintah, sekolah- sekolah, dan masyarakat umum. Bisnis berbasnis sosial ini menurutnya punya banyak kendala. Ada kendala intern dan ekstern yang terjadi dalam pengelolaan. Maka Yeni rajin membicarakan masalah kepada para pemuda pengelola usaha ini.

Kendala apa yang dia dan mereka hadapi harus dibahas bersama. Dia juga menggandeng Pemerintah Daerah. Ini bukan sekedar wisata yang dikelola oleh pihak swasta. Menggagas desa wisata juga butuh bantuan pemerintahn. Pengusaha sosial ini juga menggagas visi- misi untuk kemajuan desa tersebut.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba