Kain Khas Gorontalo Namanya Kain Karawo Mewah

Profil Pengusaha Karsumbunda 


 
Nampaknya kesadaran masyarakat akan tekstil lokal meningkat tajam. Dulu tekstil lokal tradisional yang keliatan kuno berubah keren. Inilah pengalaman seorang ibu asal Gorontalo. Namanya Ibu Karsumbunda, yang sukses mempromosikan kain sulam Karawo, khas Gorontalo.

Dimulai sejak 2004 silam, dimana cara pembuatannya terbilang sulit. Untuk awalan bisnis Karsumbunda menggelontorkan dana Rp.15 juta. Sekarang dia mampu mengantungi omzetnya  mencapai angka Rp.30 juta/bulannya atau minimal Rp.360 juta per- tahun.

Cara membuat kain Karawo memang sulit. Pertama kain katun dibentuk motif Gorontalo. Lalu diiris agar membentuk lubang. Dari lubang lah, lubang tersebut dihitung lalu dicabuti benangnya, kemudian terakhir diikat dimasukan benang baru.

Dia mampu mempekerjakan 50 karyawan tetap. Dimana mereka mengerjakan 600 potong stok dan dapat mencapai 1.000 -an bila ada pesanan khusus. Semenjak tahun 2011 silam, ia mendapatkan binaan dari BI (Bank Indonesia) Cabang Gorontalo, kemudian juga tergabung dalam Kelompok Gabungan Cinta Karawo.

Dia mendapatkan suport mengembangkan motif. Disisi lain juga bagaimana memasarkan produk itu. Ia mengaku kepada Detik bahwa BI banyak membantu promosi. Contohnya ya pegawai BI sendiri memakai kain Karawo setiap hari kamis.

Harga dipatok antara Rp.700.000 sampai Rp.1,2 juta, yang mana bahannya sifon, dobi, hingga sutra. Juga ada kain SBY, diambil dari nama mantan President kita loh, waktu itu ceritanya President Susilo Bambang Yudhoyono membeli kain dengan motif tersebut. Saat ia memakainya, maka nge- hit dicari banyak orang disana.

Pembeli mayoritas orang Gorontalo, karena memang pada hari kamis diwajibkan memakai kain Karawo. Gerainya ada empat tersebar di sekitaran Gorontalo. Kemudian penjualan online bisa lewat situs toko online www.tokokarowo.com.

YouTuber Teknologi Terbaik Terprofesional

Biografi Pengusaha Marques Brownlee



Dia tidak langsung sukses semalam. Marques Brownlee bekerja keras selama lima tahun. Melalui channel You Tube, dia mulai berbagi kegemarannya akan dunia gadget, atau teknologi pada umumnya. Dia secara konstan terus memposting kritik tentang teknologi baru. 

Tujuannya adalah membantu banyak orang umum di luaran sana. "Ketika saya membuat video pertama kali, saya tidak mengatakannya kepada siapapun," dia mengawali. Bahkan tidak seorang keluarga tau apa yang dilakukan pemuda 20 tahun ini di kamarnya.

"Saya membuat banyak sekali video.... saya hanya merasa tidak penting menceritakan itu tentang penelitian saya tengah lakukan," paparnya. Review produk dihasilkan oleh Marques memang tidak mau tanggung. Dia bahkan pernah membuat review tentang iPhone 6 Sapphire: Membuktikan layar anti goresnya denga pisau.

Butuh waktu hingga terlihat mempesona. Sisanya kebelakang, Marques menggunakan metode yang sangat sederhana untuk memembuat video. Hingga dia sudah memiliki studio sendiri dibalik kamar ukuran 12x 12 di apartemen kawasan Hoboken. Gedung lama yang kemudian disulap menjadi apartemen asik.

Mungkin tidak nyama, ia ditemani pemutar video, suara konstuksi di luar jendela, dan kebisingan jalanan yang bahkan ketika jendela ditutup tetap ada. Rasa suka akan teknologi sudah dirasakan ketika dia masuk tahun baru di Steven Collage, Hoboke, New Jersey.

Dengan kamera laptop biasa. Video pertama dihasilkan Marques benar- benar amateur banget. Namun seiring waktu dia memiliki kamera studio sendiri.

Bisnis review


Ayahnya bekerja dibidang teknologi. Seorang ahli pemrograman dan sistem informasi. Ketertarikan dia lebih ke teknologi konsumen. Atau apa- apa produk elektronik kegemaran masyarakat sekarang. Bukan hal mendalam tentang software atau hardware. Ia mulai dari komputer kuno dimulai dari rekorder di rumah.

Alat review pertama digunakan: Dia menggunakan kamera laptop Dell. Dengan layar 15 inchi yang mana tampak jadul. Ini lebih ke hobi awalnya. Jadi ya dia tidak menceritakan apa yang dilakukan. Masuki ke sekolah atas dia sangat ingin membeli laptop.

Lalu dia mulai mencari banyak reverensi. Ia mencari komputer apa. Marques juga mencari tutorial ringan tentang laptop. Bagaimana melalukan trik keren dengan layar komputer. Atau bagaimana caranya buat sekedar mengkustom isinya.

Dari melihat orang lain membuat tutorial, dia lantas ingin membuat tutorialnya sendiri. Tutorial sederhana yang cuma berbekal aplikasi biasa. Hasilnya tidak cukup membangun penonton. Tidak mudah memang. Ia mengatakan video pertamanya sangat- sangatlah lambat.

"Tidak ada penonton dan tidak ada komentar," kenangnya, dia mengatakan sejarahnya kepada pewarta dari Business Insider.

Kemudian tiba- tiba, ada seseorang komen dan bertanya beberapa hal, secara berkala dia mulai menjawab pertanyaan tentang videonya. Kemudian pengunjung semakin banyak. Dan tanpa dirasa dia sudah memiliki 100 -an video.

Tapi dia cuma punya 78 follower. Tetapi dia tetap bekerja. Apa yang dimasa depan merupakan bentuk kerja keras dan konsistensi. Diantara kesibukan universitas, juga membuat video, Marques merupakan seorang atlit profesional Ultimate Frisbee. Dalam benak pemuda ini belum tau mau kerja apa ketika lulus.

Yang pasti dia sudah punya cukup uang. Channel You Tube nya cukup menghasilkan banyak uang. Hari ini, channel nya menghasilkan cukup uang dari iklan. "Untuk memodali usaha (membeli perlengkapan studio kecilnya) dan membuat waktu ku berharga."

Profesional muda


Ia mengingatkan awal mula. Semuanya gampang, tinggal membuka laptop, membuka software video dan ia akan segera mereview. Hanya butuh waktu dua sampai tiga menit sejak merekam. Ketika sudah selesai dia mereview, ya tinggal di upload ke You Tube. Dan selesai sudah.

Marques bisa membuat video sebanyak mungkin. Tapi kini, dia berbeda, pekerjaanya lebih kolaboratif dengan aneka pendukung. Ini layaknya sebuah film bukan lagi video recorder. Dia kini memproduksi aneka jenis video. Mulai review, penjelasan, dan membayangkan, bagaimana dia menghadapai sebuah teknologi.

Tidak cuma berhenti disana. Ia masih banyak proyek lainnya. Dalam pembuatan video, akan butuh waktu lama karena butuh review. Beda lah dari video sebelumnya. Layaknya pembeli umumnya, ketika produk dia beli dibuka dari bungkus, maka dia akan segera memberikan reaksi.

Semuanya berjalan sangat natural, meski dengan gambar lebih komplek. Untuk memulai sebuah rekording dia butuh beberapa waktu persiapan. Semuanya akan segera berjalan ketika ia menyentuh tombol "rekam". Dia memiliki microfon sendiri, lensa Canon, dan menggunakan Adobe buat mengedit videonya nanti.

Dia cukup perfeksionis soal kualitas gambar. Alhasil perlengkapan digunakan tidak jarang berganti. Dia akan asik menganalisa perlengakapan apa lebih baik. Mungkin perbedaan dibelakang layar tidak orang luar lihat. Tetapi mereka akan menikmati hasilnya nanti ketika videonya sudah jadi.

Meski beberapa reviewnya dulu tidak begitu akurat. Tetapi tidak masalah. Karena Margues memilik satu karisma sebagai ahli teknologi. Komentarnya tentang sesuatu jujur adanya. Videonya sejumlah 686 video sudah disaksikan 158 juta kali. Dia tidak segan membuka percakapan dari komentar yang datang.

Meski tidak mau menyebutkan angka. Ia mengatakan dia jarang tidur. Bahkan dia mengenakan gelang karet berhastag #NoSleepTeam. "Saya tidak mendapatkan banyak tidur," ujarnya. Prioritas baginya untuk siap memposting satu video per- hari. Kemudian nama channelnya yaitu MKBHD -atau plus high definition. 

Bisnis Adsense


Apa yang membuatnya berbeda menurut penulis: Spontanitas. Ketika pertama kali membuka laptop. Pertama kali menyalakan video, Marques, 15 tahun spontan berteriak ke arah kamera penuh kegirangan. Review pertamanya juga termasuk bagaimana dia mengomentari tangannya sendiri.

Tahun 2008, dia sangat ingin laptop, lewat You Tube dia mencurahkan keingannya. Dia memang tidak lah langsung terlihat. Sang ibu, Jeaniene Brownlee, tidak melihatnya aktif berteknologi. Memang sejak kecil dia memiliki rasa ingin tau tinggi, tetapi tidak tenggelam bermain teknologi sepanjang hari.

Marlon Brownlee, sang ayah, justru menekankan pentingnya sekolah. Dia menggunakan metoda bernama Academic, Athletic, dan Artistic. Inilah menjadi semangatnya tetap berkarya dibidang atletik. Meski dia disibukkan membuat video di kamar asramanya.

Soal nilai akademis dia juga mampu mengendalikannya baik. Dia bahkan mendapatkan gelar honor student. Marques memiliki talenta selain video. Marques diakui ibunya memang jago soal mengatur waktu. Wanita yang dulunya bekerja sebagai akuntan -dan memutuskan keluar demi anak-, benar- benar kagum akan itu.

Dia membuatnya bangga. Bagaimana Marques mengatur waktu merupakan menakjubkan. Dia sendiri tak melihat prosesnya. Namun dia pernah melihatnya ketika dia tidak di rumah. Justru perasaan khawatir yang muncul tentang anak. Di kampus sendiri, Marques dikenal pendiam atau introvet tidak seperti di video.

Berawal dari kamera laptop, yang mana susah, dia tidak mudah menggunakannya -karena tidak biasa. Dia menyalakan software dan butuh beberapa jam hingga ia siap. Nampak lebih seperti siswa yang tengah belajar mengerjakan proyek sekolah. Benar- benar jadul ketika ia memulai membuat channel You Tube.

Ketika merekam, tanpa sadar dia meminta maaf, reaksinya suara bising diluar masuk ke videonya. Tidak ada perencanaan atau skrip. Di video ke 100 -nya, dia berteriak keras senang, padahal waktu itu dia cuma memiliki 78 pelanggan, lihat bagaimana remaja 15 tahun tersebut begitu senang.

Dia menarik perhatian petinggi teknologi. Termasuk CEO Motorola, Dennis Woodside, yang mengajak wawancara ekslusip. Uniknya Marques tidak langsung ke teknologi. Dia membangun suasana yang seakrab mungkin. Dia sempat menanyakan tentang keluarga, berapa anaknya, dan lain- lain.

Dia memiliki gaya menghindari script. Tidak pula memanfaatkan poin- poin seperti You Tuber lainnya. Ia sangat rilek tanpa ada "umhh" atau "ahhh" disetiap video. Gabungan antara gaya broadcast dengan mengajak teman ngomong di telephon. Dengan iklan Google Adsense, keuangan Marques mulai mendukung dia.

Uang iklan digunakan membeli perlengkapan. Investasi berupa kamera buat studio HD, yang mana dulu butuh beberapa menit video dibuat, kini dia butuh waktu berjam buat sekedar diupload ke You Tube.  Nilai iklannya diperkirakan $117.000- $934.000. Kini industri teknologi terbuka mengendorse dia berbicara.

Desainer Sofie Mimpi Menjadi Fashion Designer

Profil Pengusaha Ahmad Sofiyulloh 



Tidak mudah baginya mencapai posisi sekarang. Nama Hadriani Ahmad Sofiyulloh mungkin akan terasa canggung. Tetapi nama Sofie merupakan salah satu desainer kenamaan. Dia merupakan salah satu rising star soal merancang busana. Salah satu perancang busana berbakat asal Indonesia raya.

Dia berkisah pernah menjadi pegawai toko. Pernah pula bekerja menjadi penjahit kecil- kecilan. Ketika banyak produk fasion asing masuk. Disana justru Sofie mulai mengepakan sayap. Kemudian meluncurkan anake pakaian wanita dan anak lewat Sofie Design.

Pria kelahiran Jember, 9 Maret 1969 silam, yang menggarap pakaian siap pakai. Atau ready to wear untuk anak dan wanita. Memang usaha pakaian siap pakai tengah gandrung. Banyak sudah pusat perbelanjaan menyuguhkan pakaian ini. Semua karena banyak manfaat dapat dikenakan dalam satu buah pakaian.

Satu pakaian bisa dipakai pesta, tapi nyaman buat santai, ataupun bekerja. Berawal dari cita- cita Sofie kecil yang ingin menjadi insinyur. Namun apa daya, keadaan ekonomi keluarga serba kekurangan, jadi ya tidak mungkin menyekolahkan Sofie sampai tingkatan mahasiswa.

Disisi lain Sofie kecil memiliki talenta terpendam. Hobi menggambar dan melukis sejak kecil. Hobi yang kemudian menjadi sandaran menjadi perancang busana. Sadar akan ekonomi keluarga, Sofie kecil tidak mau ambil pusing, dia tetap melanjutkan sekolah sebisa mungkin dan mengisi waktu dengan melukis saja.

Bisnis menjahit


Anak keenam dari delapan bersaudara, Sofie memilih bekerja membantu ekonomi keluarga. Tangan kecil itu mulai aktif membantu menjahit. Kebetulan kakak punya mesin jahit. Mereka juga membuka usaha jahitan kecil- kecilan. Sofie kemudian membuka usaha jahitan seragam atau pakaian robek.

Dia belajar sendiri menjahit. Mulai menjahit seragam robek kemudian membuatkan seragam. Ia menjadi kepercayaan teman- teman dan sekolah. Lulus MAN Jember, pada 1989, Sofie berangkat ke Jakarta dan mencoba mengadu nasib. Di Ibu Kota, dia ditampung di rumah milik saudara, setahun disana tidak bekerja.

Menjadi pengangguran membuat Sofie mungkin malu. Ia memutuskan buat tinggal di kos- kosan. Alhasil pekerjaan apapun dia jabani, seperti menjadi cleaning service kawasan Jakarta Barat, waktu itu cuma bisa bertahan dua hari.

Sadar bahwa dia memiliki kelebihan. Ia mulai berpikir kembali menjahit. Namun, waktu itu 1994, dia tidak langsung bekerja tetapi memperdalam ilmu. Sofie ingi belajar tentang fashion mode. Belajar di Lembaga Tata Busana Susan Budihardjo. Padahal uangnya di kantong cuma Rp.500 ribu dan biaya kursus Rp.5 juta.

Pengajar disana menerima Sofie karena takadnya. Ia terlihat sangat ingin membepelajari fashion designer. Dalam dua tahun kursus, akhirnya Sofie memulai karir profesional, waktu tersebut dia bekerja menjadi bagian pembelian barang di Ramayana Department Store.

Di sanalah dia paham mengenai proses bisnis pakain ritel. Disaat bekerja, pulangnya digunakan Sofie buat membuat rancangan busana dan membuatnya. Kalau mau masuk kantor, Sofie sempatkan diri buat belanja ke Tanah Abang. Lantas dia menaruh rancangan, bahan, dan menjahitkannya ke penjahit langganannya.

Sofie tingga terima bersih. Kemudian dia mulai memasarkan produknya. Bisnis pakaian Sofie ternyata samakin tumbuh. Untuk menjadikan dirinya lebih mandiri. Sofie tidak malu mengikuti aneka perlombaan. Dia menjadi juara 3 Indonesia Fashion Competition pada 1995.

Sudah mendapatkan nama saatnya membuka usaha. Ia ingin berhenti bekerja dan fokus. Nah, mementum datang ketika 1998, ketika krisis moneter menyerah justru dia melihat peluang. Sofie mengundurkan diri dari Ramayana. Serius, ia meluncurkan brand Sofie Design, merek yang inspirasinya dari nama akrabnya.

Agar namanya makin dikenal hanya ada cara. Sofie rajin mengikuti berbagai lomba peragaan busana. Baik luar negeri ataupun dalam negeri sudah disambangi. Barulah di tahun 2000, pakaian buatan Sofie dapat diterima oleh pusat perbelanjaan besar Indonesia.

Pria asal Jember, Jawa Timur, ini juga dikenal mengolah batik. Aneka karyanya merupakan inspirasi akan lingkungan hidup. Konsep batik kontemporer Sofie dijadikan celana korduroi, kemudian syal yang pakai motif lurik, dimana dia menambahkan aksen tali dan pita.

Sofie fleksibel mampu mengambil pasar pria. Lewat warna- warna cerah pun ditangani baik. Dalam sebuah kesempatan batiknya dilelang Rp.2 juta. Yang mana uangnya digunakan sebagai sumbangan. Bagi Sofie berbagi sudah biasa. Mereka mengajari anak putus sekolah buat membantik aneka motif.

Pengusaha Tanpa Gelar Sarjana Punya Seribu Cara

Profil Pengusaha Sam Sianata 


 
Namanya Sam Sianata, di dalam profil Kompasiana -nya, menyebut dirinya sebagai wirausaha kuliner dan seorang aktivis. Dia juga suka berkesenian. Baginya membangun jaringan merupakan hal terpenting. Soal hobi mungkin jurnalistik sudah tidak asing lagi.

Berawal iseng bisnis Sam semerbak. Seperti harumnya bebek kremes buatannya. Sejak 2006 ia membuka satu restoran bermenu andalan bebek goreng. Agar beda maka dia menciptakan inovasi lewat sagu. Ya sagu dibalutkan ke tubuh bebek kemudian digoreng renyah.

Perpaduan tepung serta sagu membuatnya kremes ajib. Untuk tambahan dia memiliki aneka bumbu yang khas Indonesia. Dagingnya empuk tidak berbau amis. Bisnis Bebek Kremes Wong Jogja menyediakan 19 macam menu. Adapula tujuh macam minuman segar buat pendamping bebek kremes.

Minuman wedang wayang, merupakan campuran rempah dan krim, menjadi andalan bisnis miliknya. Pada April 2008 sudah membuka peluang usaha waralaba. Terjaring lah 18 mitra tersebar di Jakarta, Bekasi, Depok, Bandung, Yogyakarta, dan Medan.

Tidak cuma berhenti di bebek loh. Adapula nasi sama yakni nasi berbeda. Berbahan beras merah dicampur aneka rempah. Aromanya harum serta nasinya empuk. Nama utamanya Nasi Jombronk atau nasi sam jika pewarta menyebut. Bisnis tersebut mampu mengantungi omzet mencapai Rp.3 juta per-hari.

Bisnis tidak butuh title


Menurut Kontan, pengusaha satu ini tidak memiliki gelar sarjana, tetapi bukan lah halangan membangun kerajaan bisnisnya. Dia fokus mengerjakan bisnis aneka kuliner. Mulai dari restoran bebek dan aneka jenis nasi sedap.

Dia lah pemilik restoran Bebek Kremes Wong Jogja. Kemudian menyambar bisnis kuliner lain. Dilanjut bisnis batu gambar.

Tidak mau kuliah malah berwirausaha. Bukan berarti Sam tidak punya otak. Justru kreatifitasnya diuji di dunia nyata. Tekanan hidup membuatnya harus berpikir keras. Aneka bisnis kreatif dijalankan olehnya sejak muda. Seperti tahun 1985, ketika masih SMA sudah berbisnis sepatu, buku, kerupuk, sampai tiket.

Ia juga menyukai kesenian lukis. Maka dia juga senang membuat aneka lukisan. Memasuki tahun 2004 -an dirinya mantap buat fokus pada satu bisnis. Pilihan Sam adalah berbisnis kuliner. Dianggapnya lebih cepat naik daun. Pria penghobi menulis ini memulai usahanya dari nol besar loh kawan.

Butuh biaya dan pemikiran matang bisnis apa yang belum ada. Ia menginginkan bisnis yang belum dilirik oleh masyarakat. Sang pioner kemudian memilih bisnis bebek. Waktu dia memulai bisnis tersebut. Jarang orang melirik bebek karena memang proses memasaknya sulit.

Bebek waktu tersebut dikenal amis dan alot. Tidak canggung Sam turun tangan sendiri mengolah. Belajar sendiri bagaimana membuat bumbu bebek. Berjalan waktu akhirnya mampu membuat bebek tidak amis. Ia juga berhasil membuat bebek gurih. Sam lantas membagi sedikit rahasia bebek milik dapur miliknya.

Dia merebus bebek dua jam. Kemudian mencampur bumbu yaitu rempah, sereh, merica dan garam. Walau sukses namun dia mengalami masalah kembali. Faktanya menjadi pionir bisnis tidak selalu sukses. Ketika itu bisnis bebek Sam malah sepi peminat. Karena waktu itu olahan bebek masih belum diminati orang.

Satu tahun digunakan untuk memperkenalkan bisnis. Saat itu dia menjadi satu- satunya orang berbisnis bebek kremes. Masyarakat Yogyakarta nyatanya belum tertarik. Kesan alot dan amis masih terngian dalam benak mereka. Alhasil restoran yang dijalankan Sam selalu sepi pelanggan, benar- benar kosong.

Konsisten bisnis


Kelebihan Sam adalah konsisten akan berbisnis. Wirausahawan sejati yang rela menunggu dua tahun baru ramai. Masuk tahun 2006, Sam memutuskan mewaralabakan bisnisnya, keputusan waralaba membuka keran investasi. Hasilnya nama Bebek Kremes Wong Jogja makin berjaya dimana- mana.

Langsung banyak pelanggan tertarik bermitra. Sampai 2011, sudah ada 28 mitra, yang tersebar di Yogya, dan juga sampai Jakarta. Memang berbisnis bebek memiliki banyak tantangan. Apalagi menjamurnya usaha sejenis berbahan baku bebek. Sudah tidak ada tabu ketika pengusaha membuka usaha olahan bebek.

Agar usahanya tetap berjalan baik. Ia selalu menciptakan inovasi menu. Termasuk nama nasi jambronk itu dan nasi bumbung. Keunggulan aroma menjadi ciri khas pengolahan.

Sukses berbisnis kuliner, tidak memilih berlian ataupun batu bara, Sam memilih berbisnis batu gambar yang didasari hobi. Bisnis batu gambar miliknya lebih gila. Omzetnya mencapai Rp.145 juta per- bulan. Dan, Ia mengerjakan bisnis batu gambar jenis agate, batu gambar menurutnya memiliki nilai seni tinggi.

Untuk mencapai titik tersebut lebih dulu ia memastikan bisnisnya sudah stabil. Dia tidak mau bisnis baru membuat bisnis bebek kremesnya jatuh. Berbekal batu gambar imajinasi Sam timbul. Mengajak pecinta seni mengapresiasi seni lewat aneka jenis batu, beraneka gambar.

Ia mengandaikan satu batu orang bisa melihat banyak. Ada orang bisa melihat gambar lutung atau gambar ayam jago. Ini berbeda dengan berlian atau emas. Kalau batu gambar bisa muncul aneka gambar sesuai imajinasi. Sam sudah memiliki 33 koleksi gambar, dari gambar binatang, tanaman, sampai matahari ada.

Buat batu gambar kualitas A, maka tidak akan ada goresan tanpa cacat dan memiliki gambar jelas. Harga jualnya sampai hingga Rp.10 juta. Batu gambar bergambar kantong semar menurut Sam, memilik harga jual tembus Rp.5 miliar ketika dilelang di pasar internasional, Christie's dan Sotheby's.

Batu kualitas B gambarnya ada di permukaan bukan di dalam. Kalau jenis ini harganya bervariasi mulai Rp1 juta hingga Rp.25 juta. Batu gambar kualitas B murah karena gambar dilur; mudah rusak. Batu agate dianggapnya memiliki ekslusip. Gambar hanya akan muncul bisa pengasahan dan pengirisan yang teliti.

Satu batu bisa sampai empat minggu agar bentuknya sempurna. Transaksi jual- beli paling banyak terjadi diantara sesama pecinta batu gambar. Minat akan batu gambar terbilang sedikit. Kalah pamor, tetapi mulai banyak anak muda mulai tertarik.

Di Malaysia lain lagi, peminat batu gambar banyak, maka disanalah Sam mendapatkan banyak pembeli. Ia sendiri aktif mempromosikan bisnis batu gambarnya. Indonesia sendiri disebut paling cantik soal batu gambar. Belum ada bahkan sesama negara Asia Tenggara, belum ada sepandai orang Indonesia mengasah.

Bra Buatan Sendiri Elling Bra Sempat Dicemooh Orang

Profil Pengusaha Sukses Fenny 



Ia berkisah pola pikir membantu dia sekarang. Sejak dulu, dalam pemikirannya bahwa seseorang barulah mencapai titik kesuksesan karir, apalagi kalau bukan mencapai jenjang Direktur. Dorongan inilah yang membuat Fani rela melepaskan jabatan Purchasing Manager, malah memilih menjadi pengusaha saja.

Dia membuka usaha bra. Namu beda dia membuat sendiri. Costume size bra membantu wanita dalam hal merawat payudara. Semua berawal dari pengalaman pribadi. Dari mencari bra menyusui tetapi nyaman sesuai ukuran sebenarnya. Tidak ada satupun ada sesuai ukuran, kalaupun ada, harga tidak cocok dikantung.

Ketrampilan menjahitnya dulu lantas digunakan. Ia mulai menjahit bra menyusui sendiri. Singkat cerita dia menemukan ukuran pas. Bahkan berkat bra buatan sendiri, dia mampu mengembalikan bentuk payudaranya kembali seperti sebelum menyusui.

Bisnis ukuran


Ia bercerita dari sanalah dimulai. Mulai membuat bra menyusui sendiri. Fani kemudian mencoba mencari ukuran bra di luar negeri. Tetap saja ada ketidak puasan dibenak wanita asal Malang ini. Ia mulai membuka banyak literatur tentang anatomi payudara.

Kebetulan ibunya Fani adalah penjahit. Jadilah menjahit bukan hal baru bagi wanita 42 tahun ini. Agar bisa meyakinkan pembeli dia mencoba sendiri. Dari ditawarkan kepada rekan kerja. Ia mendapatkan pujian dari mereka. Yakin dia memberika penawaran pemesanan kepada teman- teman kantor pada 2000 silam.

Hasilnya ternyata gagal tidak susai. Kalau membuat buat diri sendiri sesuai. Namun ketika membuatkan buat teman malah salah. Jawaban singkat ditemukan: Feni tidak mengenal ukuran tubuh teman- temanya. Hingga dia meluncurkan bisnis Elling Bra. Adalah bisnis bra yang didesain khusus buat pemakainya.

"Beha buatan saya pas buat saya, tapi tidak buat perempuan lain," tutur Feni kepada pewarta.

Walau berbekal mesin jahit biasa. Feni tetap menjalankan bisnisnya. Meski, menurutnya, bisnis dijalankan olehnya akan sempurna dengan delapan mesin jahit. Dalam serba keterbatasan, Feni fokus melakukan aneka riset anatomi wanita daripada sibuk memikirkan mesih jahit seharga Rp.25 juta/buah.

Tiga tahun dibutuhkan Elling Bra hingga sempurna. Dalam kurun waktu tersebut dia juga belajar mengenai desain bra. Dia rajin mengikuti berbagai seminar tentang kesehatan payudara. Ia pun menjalin hubungan baik dengan dokter, tujuannya agar mendapatkan masukan tentang cara membuat bra yang sehat.

Masa trial and error dijalani. Hingga Elling Bra memiliki distributor hampir di seluruh penjuru Indonesia. Sebut saja di Medan, Palembang, Lampung, Makassar hingga Menado. Untuk Jawa ada di Cirebon, daerah Semarang, Blora, Solo, Yogyakarta dan Surabaya.

Ia menawarkan kesehatan. Semua dihasilkan tidak ada bahan tambahan. Contohnya macam ion atau magnet tidak ada. Prinsipnya nyaman dipakai serta sesuai. Bra buatan Fani biasa saja. Tahun 2000 -an ketika ia mulai, banyak orang mencibir karena desainnya terlalu konvensional, tapi sekarang lihat lah koleksinya.

Feni memiliki 60 ukuran bra dan memiliki banyak desain. Semua bisa disesuaikan bentuk tubuh, diukur dari tinggi badan, lebar tubuh, pokoknya hingga konsumen merasa nyaman di payudaranya. "Saya juga menerima servis loh," Feni mempromosikan. Tubuh wanita menurutnya memang cenderung tidak stabil.

Kan sayang kalau beli mahal- mahal tidak kepakai. Tubuh wanita kan tidak tetap. Bisa naik atau turun dalam tempo relatif cepat. Ia memberi harga satu paket bra seharga Rp.500 ribu. Memang cukup mahal, tetapi ia meyakinkan bahwa dia membuat sesuai kebutuhan si pemakai.

Jiwa wirausaha


Anak kedua dari tujuh bersaudara. Sudah terbayang beratnya hidup seorang Fani. Dia merupakan putri dari keluarga pengusaha garmen. Pengusaha kecil- kecilan, ayahnya memproduksi taplak, seprai, sarung bantal. Sang ibu juga pandai menjahit pakaian sendiri. Sejak kecil dia dan saudarnya sudah terbiasa akan kegiatan menjahit.

Tahun 1986, lulus SMA, Feni mengadu nasib ke Jakarta, tujuannya untuk mengikuti aneka kursus seperti menjahit, membuat motif, kursus bahasa asing, menari, ketrampilan sekertaris dan akuntansi. Memasuki 1989, dia bekerja menjadi sekertaris di sebuah restoran Jepang di Blok M, dan bertemu calon suaminya.

Dia lantas pindah ke sebuah perusahaan. Dia menjadi asisten manajer dan menjadi manajer pembelian. Ia kemudian menikah dengan suaminya, Saubiantoro, pada 1990. Kemudian memutuskan meninggalkan karir sebagai manajer. Feni memilih menjadi ibu rumah tangga biasa.

Menjadi ibu rumah tangga, Feni mengisi waktu dengan menjahit kecil- kecilan. Sampai dia menemukan passion dibidang bra. Ia ketika itu, selepas melahiran putranya Marciano, merasakan betul bahwa payudara miliknya tidak seindah dulu. Dia lantas berpikir membeli barang impor karena lokal cup -nya tidak pas.

Perjalanan menjadi pengusaha penuh tantanga. Banyak masalah diawal bisnis dimulai. Ia ingat betul proses dia membangun brand. Pertama kali dia menawarkan produknya ke tempat- tempat senam. Pertama kali itu dia malah mendapatkan penghinaan. Brand Elling Bra dianggap tidak berkelas lah, apalah, mengejutkan.

"Elling Bra? Merk kok kayak gitu, buatan mana sih? Ga elit banget," ia menirukan mereka.

Hinaan tersebut langsung membuat Feni menangis. Apalah yang dia bisa lakukan selain sedih. Nama Elling sebenarnya dipilih agar memudahkan mengingat.

Selama setahun dia mencari data tentang payudara. Satu kekecewaan tidak membuat dia berhenti. Feni tak segan langsung menawarkan produknya. Menawarkan dari pintu ke pintu pernah dia lakukan. Hinaan dan ketidak percayaan akan Elling Bra sudah biasa. Apalagi produk buatannya merupakan produk lokal.

Meski begitu dia tidak merubah nama. Tidak memakai nama ke barat- baratan. Nama Elling ternyata juga memiliki ikatan emosional. Karena nama tersebut diberikan oleh sang suami, Awi. Yang mengandung satu makna bahwa mengingat pentingnya merawat payudara.

Elling berasal dari bahasa Jawa "Eling" atau ingat. Bahkan sekarang nama Elling sudah dipatenkan olehnya. Hinaan orang banyak dianggapnya tantangan. Secara konsisten dia memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa kesehatan payudara lebih penting dibanding brand ataupun desain semata.

Bahkan Feni ngotot memberikan penawaran. Ia rela mendatangi pelanggan. Dengan tangannya sendiri mau mengukur payudara pelanggan langsung. Memang dia menganggap lebih baik begitu. Mengukur langsung payudara pelanggan menjadi andalan bisnis Elling Bra.

Memulai usaha banyak masalah


Tidak cuma kepercayaan akan brand. Kebanyakan orang ditemui Fani juga tidak percaya akan kegunaan. Orang lebih percaya manfaat jika produknya buatan luar negeri. Dia mengatakan jika bra kesehatan lain asal luar negeri harganya jutaan. Sementara buatannya cuma seharga Rp.500 ribu itupun sudah dua pasang.

Sempat dia berpikir memahalkan produknya. Tetapi semua dia jawab malah melalui riset terus- menerus. Tidak terhitung berapa banyak uang ia keluarkan. Asalkan ada masyarakat mau menggunakan, dia sudah cukup merasa senang.

Sang suami yang juga seorang pengusaha mendukung. Usaha mabel kayu jati suami memberikan dorongan juga. Ia semakin giat melakukan riset. Dari sekedar menjual dan menjahitkan, target bisnis Feni lantas berkembang menjadi mereparasi ukuran. Mengecilkan atau membesarkan dikenai biaya Rp.40 ribu saja.

Berbekal dukungan layanan reperasi. Lambat laun bisnisnya mulai tumbuh. Maka datanglah banyak wanita berbagai latar belakang. Mulai artis atau ibu pejabat datang ke tempatnya. Mulai umur 20 -an sampai 60 -an tidak masalah. Pegawai Feni juga dibekali cara mengukur payudara dengan benar dan tepat.

Feni tidak segan turun tangan langsung mengukur. Distributor tinggal mengirim gambar maka dia akan langsung kerjakan. Empat orang pegawai dalam sebulan mengerjakan ratusan pesanan. Pelanggan puas karena produk Feni bertahan sampai tahunan.

Meski repeat order lama tidak masalah karena pelanggan baru datang. Marketing mulut ke mulut berjalan otomatis tanpa repot. Walau banyak orang memintanya membuat gerai kusus. Dia ingin tetap seperti sekarang yakni melalui pengukuran dulu, bukan buat dan dipajang di gerai tanpa proses mengukur.

Bahan digunakan benar sesuai iklim tropis. Penyangga menggunakan 100% katun sebagai pengganti bahan kawat, tali nylon non- elastis mudah diatur dikencangkan, kemudian ada katup berbahan brokat disetiap sisi untuk ibu menyusui.

Untuk desain sendiri tidak terlalu macam- macam. Tetapi kesini, Feni mulai merancang tidak terbatas pada bra kesehatan, produknya juga termasuk pantysuit, longtorso, bustie yang kesemuanya itu costume made.

Walaupun sudah dikenal dia belum berkeinginan mengekspor produknya. Ia hanya ingin aktif mengedukasi lebih banyak lagi orang. Akan pentingnya memilih bra sesuai ukuran. Beberapa dokter juga sudah ikutan merekomendasikan produknya.

Penjualan pun meningkat dari rumah sakit kanker RS Kanker Darmaris. Sebagai bentuk bakti sosial maka Elling Bra, memberikan busa gratis buat penderita kanker, terutama buat mereka yang kanker payudaranya sudah diangkat. Dia bekerja sama dengan RS Darmaris melalui SADARI -atau periksa payudara sendiri.

Sejak kecila dia selalu ingat bagaimana orang tua mengajarkan. Kita haruslah menjadi sosok mandiri, menjahit sendiri, lalu menjualnya. Soal payudara dia berprinsip harus dirawat, jadi bukan cuma merawat kesehatan tubuh dan wajah.

Sebagai ibu rumah tangga, Fani, masih sempat bercengkrama dengan kedua anaknya. Dia senang hal yang rapih. Jalan- jalan bersama kedua anaknya, Morciana (19) dan Naomi (12), dan soal bisnis Elling Bra kedua anaknya juga dia libatkan loh. Dia ingin mengajarkan kemandirian serta kesadaran akan kesehatan.

Apalagi salah satu anaknya adalah perempuan. Untuk pesanan buat anak ABG juga sudah mulai ada. Dia mendapatkan pesanan dari mereka yang masih tumbuh payudaranya. Ia senang karena anak jaman sekarang sudah paham akan kesehatan payudara bahkan dimasa pertumbuhan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba