Isi Ulang Toner Cartridge Printer Gaya Newton

Profil Pengusaha Wijaya Tanius 



Pengusaha banyak terlahir ketika masa krisis. Ini sudah penulis buktikan lewat banyak contoh. Penulis nanti akan menulis kisah mereka nama pengusaha lahir dari krisis moneter. Untuk sekarang, kita akan membahas kisah Wijaya Tanius, bagaimana dia menciptakan bisnis baru ketika krisis 1997- 1998.

Wijaya merupakan pemilik bisnis Newton Technology. Dalam definisi singkat majalan Kontan: Merupakan usaha dibidang office print solution. Masa itu ketika krisis ekonomi dollar naik drastis. Maka harga cartridge printer juga naik tinggi. Ketika itu ia tengah asik bergelut di bisnis ATK atau alat tulis kantor susah benar.

Wijaya merasakan betul susahnya waktu itu. Sukar memutar uang ketika masa krisis moneter kala itu. Ia berkata memang betul untuk besar ketika menjual cartridge besar. Hanya saja ketika menstok maka uang buat modal kurang. Dollar naik membuat untung besar tidak sebanding penurunan nilai tukar rupiah.

Harga tinggi maka barang palsu bermunculan. Ini malah merugikan konsumen karena kualitas sangat rendah. Padahal mereka menjual sama seperti harga aslinya. Sampai Wijaya menemukan celah diantara isi cartridge yaitu toner printer. Waktu itu menggelitik jiwa wirausahawan Wijaya. Ternyata kebutuhan toner menjadi lebih tinggi.

Disisi lain banyak konsumen merasa kemahalan membeli toner asli. Dia tergelitik mengganti isi dengan tinta. Ia pun mencari tau teknik bagaimana mengisi cartridge dengan tinta. Maka pria kelahiran 17 Agustus 1769 tersebut mencari teknisi agar mengajari. Tidak puas, dia juga berselancar di internet mencari tau bagaimana cara.

Anggapan bahwa bisnis ini akan menjanjikan kelak terbukti. Dengan aktif mencari tau segala teknik dalam teknologi cartridge maka dia semakin mantap. Apalagi bisnis sejenis sudah terbukti sukses di Amerika sana.

Pria 45 tahun ini akhirnya resmi berbisnis isi ulang cartridge. Bisnis refill tinta untuk cartridge dijalani dengan penuh semangat. Bahkan dia rela menutup usaha ATK miliknya yang sudah jalan 4- 5 tahun. Uang tabungan dijadikan modalnya sejumlah Rp.100 juta. Pria asli Pekanbaru, Riau, merasa biasa saja ketika harus berganti profesi.

Bisnis berani


Memang berani karena sudah teuji. Lewat perjalanan hidup mengajarinya tidak takut. Termasuk hal berbisnis sudah Wijaya melakoni lama. Terlahir sebagai keluarga pengusaha tidak membuatnya jadi merasa sombong pula. Ketika SMA, hidup merantau, jauh dari orang tua yang punya toko emas di Padang.

Mandiri membawanya mulai berbisnis sendiri. Wijaya yang merantau ke Bandung, mulai merintis usaha ATK sejak berkuliah di Universitas. Usaha ATK memang menjadi usaha pertama dan terbukti sukses. Agar lebih mantap dengan bisnis barunya. Wijaya bahkan membuka workshop serta kantor pemasaran refill di Kelapa Gading.

Tidak cuma mengisi ulang tetapi membuat. Usahanya tersebut memproduksi tinta isi ulang sendiri bermerek Newton. Tujuan memasang merek sendiri agar bersaing dengan barang palsa. Caranya yaitu memberikan layanan purna- jual serta back up printer. Memang sejak pertama Wijaya mengincar konsumen perusahaan.

Sebagai mantan pengusaha ATK membuat dia sadar. Ia sadar betul bahwa permintaan toner dari konsumen perkantoran memang tinggi. Menjadi yang asli alternatif pengisian cartridge orisinal, membuat nama Newton layak dipilih.

Sudah dua tahun bisnis pengisian ulang berjalan. Wijaya mulai menyadari harga murah saja tidak cukup. Ia lalu segera melakukan inovasi untuk kepuasan konsumen. Ayah dua anak ini menjalankan bisnis daur ulang. Mengembangkan produknya remanufacturing toner. Newton mencoba mempertahankan pertumbuhan bisnis miliknya.

Tidak cuma mengisi ulang cartridge, tetapi sudah mengganti suku cadang cartridge. Newton memproduksi ulang cartridge memakai suku cadang asli. Kalau proses produksinya tidak mengalami kendala. Suplier nanti datang sendiri tetapi dia juga mencari di koran.

Untuk spare part dan tinta toner masihlah impor dari sejumlah negara, yaitu Korea Selatan, China, dan juga Amerika Serikat. Newton juga melengkapi aneka layanan seperti penyewaan unit. Termasuk aneka promosi jasa lain ke pelanggan. Ia menyadari penting menjaga pelanggan di bisnis tinta, maka permintaan akan terus berulang.

"Kualitas dan kecepatan menjadi pedoman kami," katanya. Klien perusahaan akhirnya bertambah seperti dari BNI, Mitra Adi Perkasa, Group Astra, Bank Mandiri dan B Braun. Perputaran bisnis Newton memang kencang dan Wijaya sungguh menikmati perannya.

Sampai dia menyadari lagi satu hal: Bisnisnya serasa terhenti ditengah- tengah. Berjalan ditempat tanpa lagi menemukan bagaimana cara berkembang. Pasalnya menurut Wijaya, Newton tidak memiliki perusahaan yang dapat menjadi pandangan. Menjadi yang pertama malah diikuti oleh banyak perusahaan baru.

"Sementara kami justru diikuti perusahaan lain," kenang Wijaya. Menghadapi itulah dia mulai membahas apa yang bisa dilakukan. Dia banyak berdiskusi dengan rekan bisnis, yang sekaligus istrinya di Newton. Ia juga rajin mengikuti aneka seminar.

Kesimpulan Wijaya ialah, "Kami akhirnya mendapatkan insight untuk bermimpi lebih besar, yaitu membangun brand." Penghobi buku ini lantas menyewa jasa konsultan. Merasa otodidak saja tidak cukup, maka butuh saran penengah dari ahlinya. Saran disampaikan konsultan memberikan peluang diantara kebuntuan.

Bisnis besar


Sukses mampu remanufacturing sampai 4.000 unit per- bulan. Newton melangkah memperluas misi menjadi office print solution. Mereka menawarkan jasa lebih lengkap seperti servis, rental printer, hingga jasa print yang berbayar per- lembar kertas. Agar mencangkup pasar lebih luas dibukalah depo- depo agar dekat ke konsumen.

Ia menyasar wilayah perkantoran. Dibangun kepercayaan bahwa mereka mampu dekat dan melayani. Inilah kunci sukses bisnis Newton Technology. Permintaan akan aneka layanan semakin meningkat karena aneka promosi gencar. Hingga ia merasakan "kwalahan", maka sang istri Veronica Wijaya langsung diterjunkan ke bisnis.

Mereka berbagi peran dalam bisnis. Wijaya yang sangat pendiam memilih hal teknis. Sepertihal soal produksi dan pengembangan bisnis. Sementara itu istri mengambil pemasaran serta kegiatan costumer care. Istri lah yang mengajari teknisi dan costumer service. "Setiap keluhan pelanggan bisa tuntas dan beras," katanya.

Meski keluhan sepele seperti printer macet ataupun minta dibersihkan, Wijaya meminta hal kecil agar selalu diperhatikan. Istilahnya kalau sampai kecewa mereka akan pindah ke tempat lain. Ini akan memberikan efek domino melalui pengalaman. Selain mengurusi pemasaran Veronica juga mengambil SDM dan opersional.

"Sejak awal pembagiannya memang begitu," tambah Wijaya. Menjalin kerja sama dengan pasangan hidup itu mempunya nilai tambah dan kurang. Nilai plus menurut Veronica ialah komunikasi mereka malah lancar. Tapi harus didukung kondisi memungkinkan.

Agar komunikasi tetap lancar begitu. Komunikasi saling melengkapi dan mengisi. Kalau terjadi kondisi tidak mungkin seperti badang terlalu capek; masalah dapat terjadi seketika. Mereka bisa terpancing konflik dalam pekerjaan maupun di rumah. Inilah kenapa jasa konsultan dijadikan cara penengah agar tidak terjadi konflik.

Pembuat Minatur Harley Dari Jam Bekas

Pengusaha Dewantoro Setyo Purnomo 



Dengan telaten jari- jari Wawan merakit karya seni. Ia merubah tumpukan jam bekas jadi lebih bermakna. Pemuda 21 tahun tersebut lantas menjual karyanya. Siapa sangka, mesin bekas jam tangan dapat diubah jadi Harley Davidson. Berawal sekedar iseng kini bisnisnya mampu menghasilkan jutaan rupiah.

Satu Harley Davidson dijual antara harga Rp.200 ribu sampai Rp.500 ribu. Berawal dari keisengan melihat jam arloji sang kakak yang rusak. Dalam benak pria bernama lengkap Dewantoro Setyo Purnomo ini sayang kalau diperbaiki. "Daripada servis mahal saya buat karya seni," jelasnya singkat.

Akhirnya jadilah miniatur Harley Davidson. Soal penjualan memanfaatkan banyak media. Seperti sosi media untuk menggaet pelanggan. Faktanya berhasil menjual sampai kelur Jawa, seperti Pulau Kalimantan dan juga Bali. Seiring waktu keisengan tersebut menjadi hasrat untuk menjual lebih banyak.

Bahkan hasil karyanya menghasilkan uang buat kuliah. Kendati demikian proses pembuatan yang susah jadi halangan tersendiri.

Pantang menyerah


Awal berbisnis barang karyanya belum diapresiasi. Sambil berjalan jemari Wawan semakin lihat merangkai jam bekas. Maka ketika dia sudah jago, pesanan mengalir sendiri sampai memasan aneka minatur lain selain Harley Davidson. Kebanyakan mereka memasan spesifik khusus seperti mobil, motor jenis lain, dll.

Konsistensi Wawan memang patut diacungi jempol. Dia tidak tergoda menekuni bisnis lain. Masa sulit diawal bisnis dianggap proses biasa. "Pasti ada masa sulit... asal kita konsisten aja dengan apa yang kita kerjakan," Wawan memberi semangat.

Soal bahan baku didapatkan dari pasar loak. Untuk lem dan bentuk dipelajari lebih dahulu hingga dia mampu menemukan. Wawan mengaku membutuhkan 2 jam sampai 5 jam mengerjakan satu miniatur Harley. Kalau bahan baku tidak ada maka dia siap berburu arloji bekas kemanapun.

Mulai dari mengoleksi jam tangan lantas mendaur ulang jam tangan. Namun sayangnya, ternyata tidak semua jam tangan dapat dirakit menjadi miniatur. Maka ketika ia mencoba jam tangan lalu, hasilnya tidak bisa jadi miniatur.

"Saya awalnya tidak tahu untuk apa jam- jam yang sudah mati ini," utas Wawan kembali.

Alumin Hukum Universitas Brawijaya ini memang pantang menyerah. Dalam sehari menggunakan bahan jam tangan Seiko tiga buah, dan dua jam tangan buatan Tingkok, hanya untuk satu David Harley Davidson. Lalu ketika sudah selesai tinggal diupload ke Facebook.

Nah ketika banyak yang nge- lika maka banyak pembeli. Ia yakin menekuini bisnis minatur tersebut. Sebagai pembeli pertama mereka kakak kelas Wawan di Jurusan Hukum. Mereka tertarik karena karya Wawan itu unik, langka, dan dikerjakan semirip mungkin.

Ruang pameran


Pria Kediri ini melanjutkan kisahnya kepada pewarta Surya Malang. Bisnis miniatur miliknya pasang surut, ia ingat pada awal berbisnis sempat menjual laptop miliknya. Padahal, kamu perlu tau nih data kuliah miliknya masih didalam.

"Ya, rela saja (menjual laptop). Sekalian mengisi waktu liburan," ujarnya lagi.

Uang tersebut lantas dibelikan banyak jam bekas. Jam bekas tersebut dibeli di Pasar Combrongan. Semua itu agar bisa memenuhi pesanan yang semakin banyak. Pembeli datang dari Bali, Surabaya, Bontang sampai Jakarta.

Kegiatan baru tersebut sangat didukung oleh pemilik tempatnya tinggal. Iwan, memperkenankan Wawan bisa menggunakan ruang tamu sebagai studio. Ditempat itulah pulalah dia menyimpan ribuan jam tangan bekas koleksi miliknya.

Tempat tersebut juga memajang aneka miniatur mulai Ducati Monster, Harley Davidson Street, atau Harley Davidson Iron.

Variasi produk serta tingkat kesukaran mempengaruhi harga jual. Tetapi tidak sampai menembus jutaan sih. Kebanyakan dijual dijadikan koleksi oleh pecinta motor gede. Hidup mandiri sekarang Wawan sudah bisa mengantongi penjualan Rp.1 juta per- bulan. Uang tersebut digunakan untuk menebus laptop yang digadai.

Ia sendiri tidak menyangkan bahwa produknya akan mendapat apresiasi. "Soalnya saya cuma iseng," celetuk Wawan.

Miliarder Seksi Ivanka Trump Membagi Rahasia

Negosiasi Ala Putri Cantik Donald Trump 



Meski terlahir di kalangan orang kaya. Ivanka Trump membuktikan bisnis sudah mendarah daging. Ia merupakan wakil presiden untuk pengembangan dan akuisisi Trump Organization. Dia juga berbisnis bidang fasion lewat Ivanka Collection. Dalam tulisanya menyebutkan Ivanka belajar banyak tentang bernegosiasi.

Ia mengambil beberapa kasus seperti halnya: Menegosiasikan pengembangan kembali Paviliun Kantor Pos dari Pennsylvania Avanue di Washington DC. Juga termasuk mengakuisi tempat ikonik seluas 800 kb dari Doral Resort & Spa -dilakukan selepas melahiran putrinya, Arabella, di tempat tidur.

"Berbicara tentang anak-anak, saya dapatkan tempat untuk mengasah kemampuan negosiasi saya setiap hari di rumah; tidak ada negosiasi lebih agresif dari anak -dan saya memiliki dua!" Trump menulis.

Dia memiliki atribut negosiasi yakni "persiapan teliti, memiliki temperamen, dan cinta sejati dari permainan itu, " dan ia berbagi sembilan aturan untuk negosiasi bahwa siapa pun dapat mengikuti, untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dari sembilan tersebut, Business Insider memilih yang terbaik yaitu 6 hal, yaitu:

Periapkan tujuan mu kedepan

Apakah kamu mau mencari peningkatan ataupun menegosiasikan jadi lebih fleksibel secara waktu, maka dia  menjelaskan mengetahui apa yang ingin kamu capai sebelum melakukan negosiasi merupakan "aturan emas". Ivanka menyebut banyak orang mengabaikan hal tersebut ketika bernegosiasi.

"Tanpa rencana, anda telah mengizinkan pihak lawan untuk mendefinisikan tujuan anda, bukan sebaliknya," tulisnya.

Cobalah memahami tujuan orang lain

"Hal paling berharga yang anda dapat lakukan secara benar adalah mengidentifikasi prioritas utama orang lain," Trump menulis.

Sewaktu biasa saja tujuan utama orang tersebut tidak bersinggungan dengan punyamu. Mulai dari sana maka kamu bisa memberikan apa tujuan mereka jadi mereka merasa telah menang (padahal kamu lebih menang).

"Ya, negosiasi adalah tentang uang dan kelas bawah, tetapi banyak sekali, itu jauh lebih dari emosional dan kompleks dari itu," tulisnya.

"Menyadari bahwa hasil ekonomi mungkin tidak menjadi prioritas utama pihak lain memberi anda akan lebih banyak chip untuk bermain dengan dan akan memungkinkan anda untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada anda mungkin telah mengantisipasi," paparnya lagi.

Bernegosiasi secara personal, lebih baik di wilayah sendiri

Jangan bernegosiasi melalui email, Ivanka mengingatkan.

"Ini (email) adalah bunuh diri yang menguntungkan pihak lebih lemah dengan memungkinkan mereka untuk menghindari konfrontasi langsung dan mengambil lebih banyak waktu untuk kerajinan respon yang kuat." Dan itu mudah untuk salah menilai nada melalui email, yang bisa menjadi masalah, katanya.

Perhatikan bahasa tubuh kamu

Cara pembawaan kamu meskipun tengah duduk itu penting. Dia memberi catatn kebanyak komunikasi kita merupakan non- verbal meyakinkan lewat ekspresi muka, gestur, postur, dan elemen suara, seperti pertanda.

Maka saran dia: Jangan gelisah. Jangan bermain dengan kuku atau mengetuk kaki. Janganlah duduk di tepian tempat duduk mu karena itu akan membuat kamu tampak canggung. Jangan beprasangka dulu dan mengetuk kuku jari karena itu menunjukan agesifitas atau juga kekhawatiran.

Jangan menyilangkan tangan mu secara protektif karena itu akan terlihat lemah dan terintimidasi.

"Terlepas dari seberapa cepat detak jantung andamengalahkan, duduklah tegak, buatlah kontak mata, dan fokus pada pernapasan merata," Trump menulis.

Mendengarlah lebih dari bicara

Ketika orang tidak nyaman, dan banyak orang ketika bernegosiasi, maka akan mulai bergumam jadi satu alat menutup kevakuman pembicaraan.



"Beberapa negosiator terkuat saya tahu hanya duduk dan mendengarkan. Semakin sedikit mereka terlibat, semakin besar kemungkinan orang lain untuk tergelincir dan menawarkan informasi yang mereka dinyatakan akan terus dijaga," katanya.

Beriaplah untuk mengikhlaskan

Jika segala sesuatunya menjadi memanas atau kamu tidak memiliki halaman sama tentang maksud tertentu, kamu selalu bisa menyarankan beberapa hari untuk berpikir tentang sesuatu dan terkoneksi.

"Negosiasi bisa kembali ke jalur cukup cepat ketika anda membiarkan orang memiliki waktu mendinginkan," tulisnya.

Biografi David Si Tukang Permak Jean JJH

Pengusaha Muda Muh. David Octavian



Menjadi muda jangan cuma foya- foya. Mulailah berbisnis mungkin dari hal paling sederhana. Ini kisah David atau nama panjanganya Muhammad David Octavian. Pengusaha muda dibidang permak jean. Usaha yang dinamainya Jakarta Jean House (JJH), merupakan salah satu usaha permak jean premiusm di Indonesia.

Sejak kecil rajin menabung memang untung. Itulah kunci sukses David. Dimana ia bermodal uang tabungan sejak dulu kala. Memiliki langganan kelas atas dimana menghasilkan Rp.35 juta setiap bulan. Memang sajak duduk di bangku sekolah dasar sudah terlihat jiwa wirausahanya.

Pemuda Betawi ini membiasakan diri menyimpan uang ketika itu. Putra dari pasangan Wawan Wahyudi dan Kokoh Rukoyoh ini, menyasar jean khusus milik brand ternama dunia. Bukanlah perkara mudah loh. Karena bisa- bisa nanti apa bedanya dengan permak biasa? Perjuangan dimulai ketika ia berjualan gelang rajutan.

Kemudian David pernah berjualan jaket sampai melayani jasa percetakan buku. Di masa sekolah menengah lah merupakan masa tersulit. Dimana dia menyadari pentingnya kesuksesan. Ia waktu itu merasakan minder ketika temannya berkecukupan. Bayangkan masa itu teman- temannya asik nongkrong minta uang mama.

"...pergaulan dengan teman- teman yang cukup tinggi taraf ekonominya. Kadang- kada saya ingin seperti apa teman- teman saya, ingin minta uang sama mama untuk jajan dan nongkrong bareng teman- teman," kenang David.

Tetapi dia menyadari bahwa harus bekerja keras. Hanya semakin bekerja keras, David menyadari bahwa meminta uang ke orang tua tidak baik. Makanya dia malah semakin asik berbisnis sendiri. Hasratnya lebih ke passion berwirausaha dibanding mencari uang buat bersenang- senang.

Maka dia bertahan tetap berbisnis membuat brosur, panflet, poster atau sepanduk. Bisnisnya menyasar acara yang diselenggarakan oleh sekolah.

Tidak mau kuliah


"Saya mulai belajar berbisnis sejak masih duduk di bangku SD," tutur David.

Dia tidak mau membebani orang tua. Sudah dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. David kecil yang mendapatkan uang saku Rp.700. Uang tersebut dianggap tidak mencukupi bagi kelas lima. Naik angkot pun butuh uang Rp.200. Dibanding teman- temannya yang punya uang saku Rp.1.200 setiap hari.

Ia tidak mau merengek. Maka mencari akal melalui barang bekas sekitar. David kecil mulailah menjual aneka barang bekas. Kebetulah nih, sang ayah, yang juga montir banyak mengepul barang- barang sisa mesin. Seperti kabel diutak- atik menjadi ornamen manik- manik.

"Itulah bisnis pertama saya, berjualan gelang di kelas," kenangnya. Maka gelang tersebut dijual Rp.200- 250 setiap gelang. Pertama kali mencoba ternyata langsung laku. Sejak saat itu, bisnisnya ekspansif sampai nanti ke sekolah dasar lain, disekitar Ciputat.

Untuk pemasaran kemudian diserahkan ke teman di SD lain. Ia memberikan bonus khusus bagi penjualan terbanyak. Entah disadari atau tidak David kecil menerapkan strategi bisnis kelas dewasa. Usaha itu ternyata terkenal dikalangan anak seumuran. Usaha gelang tersebut dijalani sampai enam tahun atau sampai kelas 6.

Semakin besar usahanya semakin besar juga. Dia mulai berbisnis garmen lewat almameter sekolah. Ia juga pernah menjadi tenaga pemasaran produk jam dan kacamata lewat online. Pengalaman didukung naluri alami sampai kesuksesan bisnis permak jean. David memiliki segudang pengalamana untuk membidik kesempatan.

Dia tidak berpikir akan kuliah. Selepas masa SMA, ia tidak mau menambah beban orang tua dan memilih berwirausaha. Namun, keinginan orang tua tidak terbendung, mereka ingin anaknya sampai ke jenjang yang tertinggi yaitu universitas. Demi memenuhi permintaan tersebua maka David mengiyakan maju kuliah.

Ayah David adalah seorang pekerja bengkel mobil, sementara sang ibu bekerja sebagai penjaga toko. Ibu David sangat menginginkan anaknya menjadi sarjana. Sebagai anak berbakti, David melihat jelas dimatanya tidak ada hal paling membanggakan selain gelar sarjana. Ibu David rela bekerja lebih keras agar dirinya bisa kuliah.

Akhirnya David berkuliah disalah satu universitas swasta mengambil jurusan IT. Ketika masuk semester 2, ia menyadari bahwa biaya kuliah merupakan hasil jualan gelang sang ibu. Buat membiayai kuliah ibunya rela menjual barang berharga turun- menurun. Maka semenjak itupula lah, David memutuskan harus lebih bekerja keras.

Bisnis cerdas


Menyadari ibunya berkorban banyak. Sejak berkuliah, dia mulai berpikir bekerja dan menambah uang saku sendiri. Mulailah dia menggunakan uang tabungan sejak kecil. Uang tersebut lantas dijadikannya pakaian yang dijual kepada teman- temannya. Total Rp.3 jutaan dibelikan pakaian pria maupun wanita ke Mangga Dua.

Setiap harinya harus bangun pukul 5 pagi. Dia naik busway ke Mangga Dua, membeli pakaian pria maupun wanita. Pemuda kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1989 ini, maka saban hari mententang dua tas penuh berisi pakaian siap jual. Seorang pedagang yang akhirnya menemukan titik jenuh. David ingin jadi entrepreneur sejati.

Dia ingin punya tempat bisnis sendiri. Ingin membantu orang banyak, membuka lapangan pekerjaan, punya karyawan sendiri. Disaat itu, tahun Oktober 2009, ketika usianya 20 tahun mengalirlah masuk serbuah aneka brand jean asing; Lee, Levis, Tsubi, LeeCoper, Imperial, Ksubi, Cheap Monday, Truly Legend, April 77, Iron Heart.dll.

Banyak brand jean masuk tetapi sedikit permak jean. Meskipun banyak di jalanan tidak banyak yang khusus menangani brand khusus asing. Inilah pasar disasar oleh David ketika ingin punya usaha sendiri. Menyasar jean ukuran besar karena tidak sesuai badan orang Indonesia.

Selama itu sebenarnya banyak permak jean tersebar. Hanya, kebanyakan pemilik brand jean mahal itu tidak mau sembarangan mempermak jeannya. Sayang kan mahal- mahal ktalau hasilnya ternyata tidak memuaskan. Oleh karena itulah lahir Jakarta Jean House, menjawab kegundahan pemilik jean mahal impor tersebut.

Diibaratkan David bahwa jean mahal seperti mobil mewah. Kalau sampai pemilik salah mengganti oil maka akan berabe. Alumni Universitas Bina Nusantara tersebut akan meyakinkan hati pelanggan. Maka dia belajar keras soal jean impor mahal tersebut. Dia juga mendatangkan mesin chainstitch khusus jean dari Jepang.

Bayangkan jean berbagai merek tersebut harganya sampai Rp.3 juta- Rp.6 juta per- potong. Berkat niat tulus memperdalam pengetahun tentang jean itulah; David dipercaya pelanggan mampu. Hingga dia menggaet pelanggan dari pejabat, selebriti, mahasiswa, pengusaha, dan profesi lainnya.

Dia menggaet bahkan keluarga Cendana. Beberapa pemain bola nasional juga menjadi pelanggannya. Sudah dua tahun lebih berjalan, David telah memiliki dua gerai besar di mall terkemuka Jakarta. Pelanggan juga rela datang dari Yogyakarta, Medan, Pekanbaru, sampai luar negeri yaitu Singapura dan Australia.

Pelanggan datang langsung atau mengirim lewat ekspedisi. Permak ala Jakarta Jean House (JJH) mencapai Rp.15.000- Rp.120.000. Sehari pihaknya mampu mereperasi 50 jean impor. Bisnis ini juga telah merambah jin impor kustom Rp.538.000- Rp.688.000 per- potong. Kalau jasa baru ini David menerima tujuh pesanan sehari.

Anak montir


Otak bisnis pakaian sudah sejak kuliah. Dia menjual lewat memotret baju- baju di Pasar Tanah Abang. Tiap pagi rela mengantri membeli baju. Ke kampus maka kanan- kiri menenteng tumpukan baju. Bahkan sempat dia akan diskor lantaran berjualan. "Pak, bapak tahu enggak kenapa saya jualan? Untuk bayar kuliah," ujar David.

Dia lantas menambahi kalau dia tidak jualan maka tidak kuliah. Tidak kuliah berarti tidak membayar gaji para dosen. "Kalau saya tidak kuliah, bapak tidak bisa gajian karena gaji bapak berasal dari duit mahasiswa," ujar David menirukan.

Tren nudie jean memang tengah digandrungi. Selain karena brand tetapi juga karena mahal. Ini kesempatan tidak dibuang sia- sia. Kalau ayah David membuka bengkel otomotif, maka putranya membuka bengkel buat jean. Waktu itu ia sempat disepelekan teman- teman. Mereka masih asing menganggap kecil tukang permak jean.

Agar tidak disepelekan uang Rp.15 juta dikeluarkan sisa Rp.300 ribu. Uang hasil jualan pakaian selama berkuliah diputar kembali jadi bisnis. Memang permak jean dimana- mana tetapi bukan khusus jean mahal. Maka termasuk memberikan solusi menjaga kualitas jean.

JJH dibuka di Cipete berukuran 1,3 meter, membeli mesin, dan renovasi. Mesin permak impor dari Jepang tersebut menghasilkan jaitan berantai. Yang menghasilkan roping effect khas jean impor. Dia menyebutkan keasilian jean akan terjaga.

Ini membuat JJH menjadi permak jean terbaik se- Indonesia bahkan Asia. Enam bulan pertama perjalanan bisnis mampu membelik orang tua mobil.

"Saya cari tau masalah jean. Ketika dipotong ternyata tidak sembarangan dipotong," tuturnya. Omzet dapat dikantongi sampai Rp.35 jutaan. Berbeka keyakinan saja maka bisnis sepele mampu mendapatkan nilai jual lebih.

Strategi marketing terbaik tidak spesifik sih. Dia memanfaatkan sosial media, mulai dari Twitter, Facebook, Instagram, BBM, dan lainnya. Tidak ada terori khusus, seperti dana cadangan agar selama 3 bulan kemudian ada backup. Itulah David cuma bergerak berdasarkan insting akan sukses. Semua tinggal dijalankan sambil jalan.

Membuat Aneka Makanan Jamur Selepas Office Boy

Profil Pengusaha Tandri Kurniawan dan Siti Rohayati


Merantau sampai ke Bandung membuahkan hasil. Tandri Kurniawan ketika tahun 2000 merantau dari asal Pekanbaru, Riau sampai ke Bandung, Jawa Barat. Alasannya mendapatkan pekerjaan tetap menjadi office boy salah satu hotel. Jujur saja bekerja menjadi tukang bersih- bersih tidak menghasilkan cukup.

Maka dia membanting stir menjadi pengusaha. Awalnya mencoba menanam jamur di rumah. Ini menjadi satu langkah dirinya menjadi juragan jamur tiram. Sukses dijalani di rumah, ia lalu membuka gubuk sederhana dari bambu sebagai tempat budidaya.

Sebuah bilik bambu menjadi saksi bisu sejak 2005. Tandri memutuskan berhenti bekerja di hotel. Menekuni usaha jamur tiram, yang awalnya di dalam rumah, lalu mulai dari bilik bambu menampung 12.000 baglog bersewa Rp.3,7 juta. Meski sukses sebagai petani jamur maka hidupnya ditangan tengkulak.

Harganya rendah di petani, tetapi tinggi sesampai di tengkulak. Benar berbanding terbalik harga perkilonya. Harga di tingkat petani Rp.1.000- 1.500 per- kg. Sementara harga tingkat pasar mencapai Rp.6.000- Rp.7.000 per- kg. "...artinya yang paling untung tengkulaknya," ujar Tandri miris.

Maka semenjak itulah hasrat berubah. Ia ingin menghasilkan lebih besar untung. Maka, Tandri mulai berpikir bagaimana mengolah jamur tiramnya. Akhirnya, di tahun 2011, maka diputuskan ia akan mengolah jamur jadi keripik.

Mencoba bisnis


Berawal dari rasa jengkel dimulailah percobaan membuat keripik. Tidak langsung berhasil dibutuhkan waktu, dia sendiri memang baru pertama kali. Hasilnya pertamanya selalu gagal terlalu lembek. Atau, akhirnya dia menggoreng malah tetapi malah keras. Untuk resep dicarinya lewat internet sampai ketemu yang cocok.

"...akhirnya dapat resep yang pas," kenangnya. Sukses menghasilkan keripik bercitara rasa, sedap, dan juga crispy. Kini giliran kebingungan kemanda dia akan pasarkan. "Saya jadi dilema, rumah tinggal saya berada di dalam gang sempit, tidak punya toko jualan."

Tandri mulai menawarkan keripik jamur lewat BBM. Penjualan online sangat membantu tumbuh kembang bisnisnya. Ia bahkan mampu menjual seribu bungkus keripik perbulan. Harga perbungkus dijual Rp.15.000 sampai Rp.17.000 per- bungkus.

Keuntungan bersih berjualan keripik mencapai Rp.4 juta. Padahal, sebulan pertama sejak sukses budidaya, ia menjual ke tengkulak cuma untunga Rp.600.000 ribu, beda kan? Maka tidak sia- sia keputusannya untuk keluar office boy. Sebagai tambahan gajinya waktu itu, jikalau sesuai UMK Bandung, maka senilai Rp.2 juta.

Bersama istrinya fokus Tandri bagaimana masuk ke supermarket. Untuk satu ini dibutuhkan lebih banyak ia keluarkan. Baik uang ataupun tenaga produksi agar lebih banyak. Ia menyebutkan untuk sekarang masih ada kebutuhan tidak terpenuhi. Oleh sebabnya dia meminta bantuan kepada teman- teman sesama petani.

Agar mampu masuk ke supermarket dibutuhkan 1.000 bungkus per- hari. Agar pendapatan semakin tinggi maka disediakan ruang kerja sama berupa reseller. Masyarakat bisa menjual dengan potongan harga senilai Rp.5000 per- bungkus, atau Rp.15.000 per- bungkus menjadi Rp.10.000 per- bungkus untuk kemasan biasa.

Untuk kemasan alumunium foil harga semula Rp.17.000 menjadi Rp.13.000 per- bungkus. "Dengan menjaga kualitas, menciptakan aneka kreasi jamur terbaru, saya yakin bisnis saya akan terus maju," ujar Siti Rohayati, wanita yang penulis kira merupakan istri Tandri Kurniawan.

Berbekal kepercayaan diri itulah, produk Azka Mushroom berkembang pesat. Aneka rasa disuguhkan mulai dari original, keju, barbeque, balado, pedas manis juga ekstra pedas. Tambahan adalah produk baru yaitu aneka nuget jamur. Tandri mengaku mampu menjual 500 bungkus nuget jamur meski produk baru.

Bisnis serba jamur


Berbeda versi Siti, usahanya dijalankan sejak Desember 2011, dan merupakan bisnis yang tengah menjamur lebat. Niat berbisnis terinspirasi sang suami yang juga memiliki usaha sejenis. Bedanya sang suami memiliki usaha di kawasan Cisarua Lembang. Ia tanpa ragu meminta pasokan jamur milik suaminya.

Olahan jamur berbagai bentuk tinggal mencari di internet. Siti menggunakan bahan terbaik milik suami. Jamur haruslah segar, berukuran besar, hingga mudah dan banyak jika diolah menjadi keripik. Sebagai wanita, Siti terbilang perfeksionis termasuk soal minyak, tepung, yang juga harus berkualitas.

Uang modalnya cuma Rp.500 ribu awalan. Uang tabungan dibelanjakan jamur tiram, tepung terigu, dan juga bumbu. Produksi pertama menghasilkan berat 250 gram masing- masing. Semua dipasarkan ke tetangga dan teman terdekat. Olahan tersebut lantas dinamainya Marrema. Nama didasari bahasa Sunda yang berarti laris manis.

Nama tersebut didasarkan berdasarkan lokal sekaligus doa. Membutuhkan ketukan ketika memulai usaha jamur tersebut.

Rahasia sukses bisnis jamur adalah ketekunan ditambah ketelitian. Pasalnya kita tau dibutuhkan kecermatan soal persentasi adonan. Juga termasuk proses penggorengan sampai ke pengemasan. Dibutuhkan ketelitian bagi Siti mengerjakan hal tersebut. Untungnya nih dia tidak mengalami kesulitas berarti dibanding suaminya.

Dalam pembuatan keripik jamur 15 kg butuh 12 jam. Kalau nuget jamur lebih lama lagi dibanding keripik. Bayangkan nuget jamur 20 bungkus atau 5 kg nuget membutuhkan waktu 12 jam. Satu hari pengukusan, dan dua hari untuk pemotongan, memberi tepung, menggoreng, didinginkan, dikemas sampai dimasukan kulkas.

"Produksi keripik dan nuget tidak bisa sekaligus," paparnya. Dibutuhkan waktu bergiliran agar tidak menjadi kerepotan. Agar lebih sempurna maka penirisan minyak dibikin sekering mungkin.

Tanpa monosodium glutamate (MSG) membuatnya tidak tahan lama. Meski begitu rasanya gurih karena ia membei campuran daging ayam asli dicampur gula, garam, dan rempah. Sekali lagi tanpa bahan pengawet juga tanpa pengembang. Siti memilih makanan sehat meski harga jualnya akan jatuh lebih mahal.

Olaha hasil karya Sitis dibagi dua yaitu nuget jamur dan keripik jamur. Yang masing- masing terbagi menjadi nuget jamur original, jamur brokoli, keju nuget jamur ekstra keju dan udang, jamur wortel, dan terkahir jamur lele.

Promosinya melalui mulut ke mulut. Karena variasi produknya banyak membuat orang cepat tertarik. Bukan sekedar membuat keripik jamur biasa. Siti juga mulai merambah internet lewat Facebook pribadi di akun Siti Rohiyati. Pesanannya sudah datang dari Palembang, Makassar, Bali, Pekanbaru, Kalimantan, Lampung, dan Palembang.

Ia menjelaskan tidak semua pesanan terlayani. Pengiriman yang lama malah nanti merusak kualitas produk. Produksi per- harinya 400- 500 bungkus keripik dan 100 bungkus nuget. Pesanan tersebut menghasilkan omzet empat juta per- bulan. Empat tahun sudah, kesulitan terbesar Siti meliputi SDM, proses produksi, dan modal.

"Kuncinya adalah menjaga semangat dan melakukan keseharian bisnis dengan senang hati," saran Siti.

Mulai membangun mimpi bisnisnya berkembang. Hasil keuntungan dibelikan mesin produksi lebih besar. Dia membeli kompos, wajan khusus, pendingin, alat peniris minya seharga dua jutaan. Waktu mendatang mulai direncanakan booth jamur di Bandung.

Maksudnya menampilkan aneka olahan jamur dan cara memproduksi jamur. Usahanya juga ditargetkan oleh Siti menjadi restoran jamur ataupun rumah makan aneka jamur.

Catatan: Penulis sedikit ragu atas kesimpulan bahwa keduanya adalah suami istri. Hingga kami menemukan dua alamat sama persis di kedua yaitu Jalan Siliwangi Dalam I No 89 A/155bB RT 1 RW 1, Bandung, Jawa Barat (sumber Republika dan Detik)

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba