Investor Mica Tan Memulai Sejak Umur 13 Tahun

Profil Pengusaha Maria Francesca Tan 



Memulai bermimpi merupakan hal terbaik. Hingga dia menemukan ada kesalahan dalam mimpinya. Ia pun memilih mundur meraih mimpi lain. Maria Francesca "Mica Tan" berharap dirinya kelak akan menjadi dokter. Masih berusia 6 tahun sebuah kewajaran untuk anak sekecil itu. Sampai dia melihat sisi lain, itu tidak seindah terlihat.

Dia mengingat bagaimana setiap hari dia bertanya ke ayah. Berapa uang dihasilkan ayah saat pulang bekerja. "Suatu hari, dia bercanda berkata dia menghasilkan nol," kenang gadis kecil Mica. Kenapa pertanyaan itu terlontar ternyata ada sebab. Dia sudah kadung ingin menghasilkan uang sendiri.
Menjadi dokter bukanlah solusi. Bukan juga menjadi aktor seperti kebanyakan mimpi anak- anak. Hingga ia berumur 13 tahun, masih masa pencarian bagaimana menghasilkan banyak uang. Ia terobsesi menghasilkan uang sendiri, apalagi semenjak membaca buku Rich Dad Poor Dad karya Robert Kiyosaki.

Sejak berumur 13 tahun, percaya atau tidak, Mika sudah belajar tentang saham waktu itu. Bahkan dia sudah aktif trader sejak umur segitu.

"Saya adalah tipikal anak usia 13 tahun di sekolah saya berseragam dan ransel ketika saya memutuskan untuk pergi ke Bursa Efek Filipina sehingga saya bisa mencari pelatihan dan seminar tapi sayangnya itu hanya tersedia untuk lulusan sekolah," kata Mika.

Tidak mau mundur dia belajar sendiri. Dia sudah tidak mau bermimpi menjadi dokter lagi. Untungnya, suatu ketika seorang wanita asal Regina Capital, firma broker, yang menganggap dia serius dan mau mengajarinya. Itu merupakan titik balik terbesar dalam hidupnya.

Akses trading


Berkat mentornya itulah dia mendapatkan akses ke pasar saham. Mica terus belajar sampai umur 18 tahun. Ia terus belajar bahkan lewat berbagai buku tentang trading. Wanita itu bernama Mrs. Martia Limlingan yang menyabut dan duduk disebelahnya. "...dan selanjutnya itulah disaat saya mulai diajari tentang pasar saham."

Tokoh inspirasi seorang Mica Tan adalah Donald Trump. Dia bahkan mengikuti jejak sang idola lewat kuliah di Fordham University, New York. Sukses membawa dia masuk ke tempat kuliah bergengsi itu. Namun, dia mulai mengalami kegalauan, perasaan aneh menghinggapi benaknya.

"Jika saya mau menjadi miliarder, saya harus menyukai belajar lewat miliarder asal Filipina," tandasnya. Ia akhirnya memutuskan tidak melanjutkan kuliah. Tetapi sebelum membatalkan keberangkatan ke New York, Mica menyempatkan diri berbisnis dagang.

"Dua bulan sebelum berangkat ke New York saya memutuskan membiarkannya pergi dan memulai bisnis distribusi, " kata pengusaha muda ini.

Baginya berbisnis langsung berarti kampus dunia nyata. Kehidupan nanti akan menjadi universitas, menjadi satu sekolahnya. Lulus sekolah dia langsung berbisnis menjadi distributor independen perusahaan minuman. Ia juga mulai belajar investasi malaikat menggabungkan pemilik modal dan pemilik usaha.

Masa itulah dia mulai berpikir memanggil teman, guru, dan pemilik industri. Meyakinkan mereka agar mau mendirikan satu perusahaan MFT Group of Companies di 2014. Ia sangat menghargai mereka para top eksekutif perusahaan. Pasalnya, mereka yang meyakinkan uang mereka kepada gadis berusia 20 tahun.

Investasi hybrid


Dasar investasi MFT Group ialah investasi hybrid. Mereka menarget perusahaan yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan stagnan. Banyak alasan meliputi bisnis mereka yang berhenti berkembang. Maka itulah ia akan hadir bukan menyasar perusahaan startup baru lahir.

Dibanding investasi malaikat lain, usaha dijalankan oleh Mica tergolong beresiko tinggi. Tetapi dia menyebut bukan sekedar uang, keinginan membantu pengusaha lain tumbuh merupakan panggilan. Untuk itulah dia juga mengajar tempat belajarnya dulu Regina Online Investing, bersama membantu perusahaan bermasalah.

Terdengar anek kisah Mica Tan memang berbeda. Menurut penulisa sosok Mica mampu menjadi contoh buat kamu mendidik anak. Ia juga meyakinkan bahwa seorang entrepreneur harus siap mengambil resiko. Itu termasuk ketika dia memilih lari ke pasar saham, menolak pendidikan bergengsi, malah memilih berjualan saja.

"Melakukan hal- hal saya takuti untuk lakukan. Cari niche anda sendiri dan menjadi lebih baik. Kelilingi diri anda dengan orang- orang yang lebih baik daripada anda karena anda akan belajar banyak dari mereka."

Kenapa harus membantu bisnis kecil. Mica memiliki jawaban unik: Kita bisa berbicara tentang menubuhkan bisnis, membuat uang bekerja untuk kita, tetapi itu akan menjadi lebih dari sekedar itu. Istilahnya kalau sudah menjadi entrepreneur penuh passion tujuan kita adalah membuat sebuah bisnis bekerja.

Dia hanya membantu orang yang terjatuh. Kita akan membantu mereka yang membutuhkan asisten. Menjadi bekal bagi mereka naik keatas. Mica senang melihat bisnis kembali berjalan dan menghasilkan uang bukan sekedar soal keuntungan.

Sebagai inspirasi dia membeberkan jadwal detailnya. Dia bangun sangat pagi mengkondisikan diri. Berjalan ke kantor, ia akan berbicara dengan patner bisnis meski melalui telephon. Sesampai duduk di kantor, maka dia akan mengecek laporan keuangan, legal, dan aktif ke bagian marketing.

"Saya memiliki pertemuan sarapan, makan siang, dan makan malam setiap hari - saya pastikan untuk tidak pernah makan sendirian, " katanya

Hari- hari Mica mengenai berbicara dan menangani banyak orang, pekerja pabrik, pemilik bisnis dan klien, investor potensial, serta pemilik bisnis. Meski melelahkan tetapi dia menemukan energi. Dia menginginkan mendukung bisnis di Filipina. Tujuan utama Mica mendorong entrepreneur muda membangun negara Filipina.

CEO Citibank Fokus Menjadi Bankir Sejak Muda

Profil Pengusaha Batara Sianturi


 
Mencari bangkir terbaik di tahun 2015, maka layak disandang Batara Sianturi. Yang melejit berkat dipilihnya Indonesia Best Brand 2015 Majalah SWA. Bahkan judul artikelnya bagus, "Sang Meteor yang Terus Melesat". Ia mengakui sejak muda sudah memilih bankir. Berbagai jenjang pendidikan terbaik dilaluinya.

Setelah SMP dan SMA di Kanisius, yang tergolong sekolah terbaik, maka pilihan Batara melanjutkan ke Amerika. Sejak muda sudah memiliki tujuan spesifik. Di Amerika, Batara mendapatkan tiga gelar ilmu pasti yakni Sarjana Teknik Kimia dan Polimer / Makromolekul Science dari Case Western Reserve University.

Dilanjut mendapatkan gelar Teknik Kimia dari Steven Institute of Technology. Soal keuangan diambilnya di St. John's University mengambil gelar bidang keuangan. Pemilihan tempat kerja dipilihkan perusahaan yang dianggapnya terbaik Citibank. Reputasi Citibank baik serta mampu mendukung karir Batara secara pasti.

Angka 26 tahun itu memang menunjukan pengabdian. Batara mengaku mendapatkan lingkungan mendukung selama di Citibank. Dia mendapatkan kesempatan dinamis menjajaki jenjang karir. Motivasi bagu buat karir mendatang paparnya kepada Kontan. Citibank memberikan kesempatan Batara belajar menjadi bankir yang profesional.

Bertahun bekerja bersama Citigroup, New York. Nama Batara melesat ketika ditaruh ke asalnya Indonesia. Ia pernah tercatat menjadi Direktur Keuangan Citibank Indonesia tahun 1992. Di Kurun waktu 1995- 1996, Batara sempat ditugaskan di Citibank Australia. 

Citibank Group memberikan Batara banyak kesempatan. Ia menduduki jabatan tinggi General Cross Border Mortgage. Fokus kerjanya adalah menyangkut kredit kepemilikan properti. Dia pun rajin mengikuti pameran properti serta mendorong pembelian. Bahkan pertumbuhan portfolio pembelian bahkan diatas 20% di tahun pertama.

Komitmen, ketekunan, dan keuletan bekerja. Dia sambil bercanda berseloroh bekerja 24 jam dirasa tidak cukup.Jejak karir paling menonjok ialah ketika bekerja di Citibank Hungaria. Di Desember 2007, Batara diangkat menjadi CEO dan CCO Citibank. Total 2.000 pegawai dipegang Batara di kawasan Baltik dan Balkan.
 
Meski sukses dia tetap menjaga sopan santun karena merupakan pendatang. Termasuk ketika ia ditugaskan menjadi CEO Citibank Filipina. Batara hadir dan diterima para pelaku usaha di Filipina. Jika ditanya siapa pendorong kesuksesan dia sekarang. Maka dia menyebut adalah dibantu oleh tim kerja handal dai Citibank.

"Saya pikir kesuksesan seseorang tergantung dari dirinya dan timnya, serta dukungan keluarga dan dukungan orangtua," paparnya.

Bicara tentang bekerja ke luar negeri, maka Batara mengiyakan adanya perasaan kangen. Tetapi juga sudah menjadi pengalaman menarik. Batara belajar banyak tentang budaya serta tradisi setiap lingkungan kerja. Ia tidak menampik sebagai pemimpin harus rela berkorban. Gunanya membentuk pemimpin baru meneruskan tugas.

Pemimpin butuh banyak tenaga bekerja keras tetap semangat. Batara tidak mau jadi banyak bicara memilih untuk langsung bekerja. "Sikaplah yang menentukan jabatan anda," ujar Batara. Dia mengingatkan menjadi bankir ialah masyarakat. Sedangkan pemegang saham, pegawai, dan klien menjadi pendorong kinerja.

Gaya kepemimpinan dinamis, cepat mengambil keputusan mendapat hal terbaik. Dia menyebut tidak perlu plin- plan mengambil keputusan. "Tak perlu plin- plan jika mengambil keputusan," aku Batara, yang kini telah menjabat CEO Citibank Indonesia berkat pengalaman 27 tahun menjadi bankir.

Nurul Indah Khasanah Mengolah Ikan Tuna Jadi Abon

Profil Pengusaha Ikan Tuna



Mengolah aneka ikan menjadi abon memang enak. Ialah Nurul Indah Khasanah, warga Sleman- Yogyakarta yang sukses mengolah tuna menjadi abon. Lantaran suami asal Palembang mau tidak mau Indah mengolah ikan tuna menjadi aneka sajian. Termasuk mengolahnya menjadi sambel lingkung atau abon.

Ia mempelajari aneka olahan ikan. Dibuka sejak 2007 silam, usaha ini terbilang melajut pesat, dibantu suami memulai semuanya dari nol. Sebelum menjual ke khalayak ramai, Indah mencoba kegemarannya memasak lewat lidah tetangga, saudara, siapapun diluar sana.

"Awalnya saya tawarkan ke saudara, tetangga, teman," tutur Indah. 

Menyeriusi bisnis abon tuna tidak sedikit modal dikeluarkan oleh Indah. Total 20 juta rupiah dikeluarkan untuk memulai usaha Khansa Food. Mulai dari pengemasan abon modern, penyantuman lebel, pendaftaran ijin usaha dilalui. Dua tahun berjalan omzet usahanya mencapai Rp.90 juta per- bulan.

Marketing luar kota


Uniknya dia tidak menjual abon tuna ke Palembang. Padahal tentu orang disana sudah tidak asing dengan olahan seperti itu. Tetapi justru disanalah rahasia sukses Indah memasarkan. Ijin diberikan oleh pemerintah daerah Sleman, Yogyakarta.

Pertama kali jualan produknya tidak disambut. Dia menyebut alasan utama terlalu mahal. Bagaimana tidak ia menjual seharga Rp.12.000- Rp.20.000 cuma dapat 100 gram. Selain itu olahan ikan masih asing di lidah masyarakat Yogyakarta.

Butuh waktu enam bulan sampai nama Abon Tuna Khansa Food dikenal. Sampai pemasaran masuk ke 35 supermarket. Pemasaran lain melalui toko online tidak terbatas di Yogyakarta. Indah juga mengerahkan 23 agen buat memasarkan produknya. Dia menjual sampai ke Jakarta, Bali, Malang, Padang, Kalimantan, dan Singapura.

Awal dia mengerjakan secara manual seperti orang memasak biasa. Lalu semakin besar permintaan maka ia mendapatkan dukungan empat buah mesin pengolah. Seharian Khansa Food mampu mengolah 30- 90 kg abon dikerjakan oleh empat pegawai.

Pertumbuhan bisnis abon ikan tuna menjanjikan. Ia bahkan sudah berproduksi sampai 800 kg. Untuk itu ia membutuhkan tidak kurang 50 kg daging tuna. Indah mendapatkan ikan tersebut dari pemasok asal Sadeng, Gunung Kidul, ataupun bahkan dari Bali. Jenis tuna diolah ialah ikan tuna sirip putih dan juga ikan tuna sirip kuning.

Setiap ikan juga dibatasi cuma yang beratnya diatas 50 kg. Alasannya kalau dibawah itu maka akan mudah jadi hancur karena serat daging kecil. Alumni Universitas Teknik Merdeka, 1998 ini, menyebutkan proses tersebut bisa dibilang mudah.

Cara membuat abon ikan tuna: Pertamanya suwiran ikan tuna direbus sampai lunak dulu. Lalu ditiriskan kemudian dimasukan ke alat penghancur ikan. Sampai ikan lembut selepas itu digoreng bersamaan bumbu serta santan sampai mengering dan diabon. Sudah kering barulah dimasukan dalam kemasan sendiri sesuai takaran.

Wanita kelahiran 1972 ini menyebut nama abon ya sambel lingkung. Karena dia orang Sleman, maka soal cita rasa menyesuaikan rasa lokal. Abon ikan tuna Palembang bercita rasa Sleman. Cita rasa yang disajikan rasa asin dan pedas, tidak ada manis karena menurut mantan pegawai properti ini, orang tidak terlalu suka.

Untuk semakin menambah cakupan pembeli, Indah juga mendatangi aneka ruang promosi, termasuk datang ke Pekan Raya Jakarta 2009 silam. Hasilnya laris manis selama 16 hari menghasilkan 1 juta per- hari. Indah juga mendapatkan tawaran agensi. Melihat peluang semakin besar maka Indah mengeluarkan modal lebih.

"Doakan saja semakin maju," ujar Indah.

Sukses Khansa Food merambah aneka olahan lain. Tidak cuma olahan ikan tuna dijadikan abon, Indah lalu menambahkan aneka nuget, bakso, otak- otak. Indah menegaskan bahwa produk olahan dari Khansa Food tanpa bahan pengawet. Perusahaan menggunakan aneka rempah- rempah khas nusantara.

"Saya tidak bisa sebutkan apa saja rempah- rempahnya karena rahasia perusahaan," jelas Sarjana Arsitektur ini.

Alasan kenapa memilih ikan tuna karena kulit tebal. Mengandung Omega 3 dan Omega 6 berkhasiat buat memperkecil resiko jantung dan meningkatkan kecerdasan. Alasan lain ikan tenggiri terlalu mahal, ikan gabus terlalu banyak duri, lalu ikan marlin sulit didapat. Mimpi selanjutnya ialah memperluas jaringan sampai luar negeri.

Motivasi Pemilik Playboy Bukan Sekedar Iseng


"Menciptakan dunia saya sendiri dalam komik atau menjual koran satu sen pertama saya disaat berusia sembilan, adalah cara untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari rekan-rekan saya. Meskipun saya tidak mengakuinya pada saat itu, saya melakukan hal yang persis sama ketika saya membangun Playboy. Seseorang tumbuh langsung dari orang lain," -Hugh M. Hefner

Anyaman Rumput Kering Aneka Tas Wanita

Profil Pengusaha Mawar 


 
Apa jadinya kalau rumput dijadikan kerajinan. Ternyata bisa, dan menghasilkan jutaan rupiah. Seperti halnya wanita bernama Mawar ini. Wanita 32 tahun asal Nusa Tenggara Barat, asal Dusun Ngurbaya Gawah, Des. Batu Mekar, Kec. Lingsar, Kab. Lombok Barat, yang menamai usahanya Mawar Art Shop.

Usahanya pembuatan aneka tas berbahan rumput. Awalnya masyarakat sekitar membuat menjadi tatakan piring, nampan, ataupun tempat perhiasan. Ditangan Mawar produk lokal merambah aneka aksesori wanita. Uniknya rumput tersebut tidak dimakan rayap tetapi kuat seperti rotan.

Alhasil dia mendapatkan penghargaan UNESCO Award, dari PBB, disaat mengikuti Trade Expo Jakarta tahun 2010 silam. Nama rumput ini adalah rumput ketak. Menurut Mawar sudah lama dikenal memang bisa digunakan menganyam. Meski begitu soal pemasaran warga lokal cenderung enggan dan abai marketing.

Maka Mawar bersama suami, Suhartono, merintih usaha mapan sendiri sejak 1999. Fokus membuat semua kebutuhan fashion wanita. Soal marketing diamati betul oleh pasangan pengusaha ini. Mereka merasakan kita tidak bisa menunggu pelanggan datang ke galeri seni kita.

Mawar berserta beberapa pengrajin lain membuka galeri sendiri. Meski terletak dikawasan pelosok tetapi itu tidak membuat mereka patah semangat. Meski begitu usaha lokal rumput ketak merambah penjualan sampai ke Bali. Setiap produk dipajang dijejerkan siap didatangi pembeli dipesan sampai manca negara.

Hingga, pristiwa bom bali 2002 terjadi, berjatuhanlah galeri kesenian kampung. Berguguran hilang pesanan dari Bali, lain hal Mawar Art Shop, dia dibantu kakaknya tetap mampu bertahan hingga sekarang. Semua karena Mawar tidak mau berdiam diri kehilangan pendapatan, tetapi menjemput bola pelanggan.

Promosi cerdik


Sejak awal Mawar menerapkan marketing langsuang. Salah satu andalannya ialah mengikuti aneka pameran. Dia ikuti saja dinas terkait ataupun bank pemberi kredit bisnisnya. Aneka pameran ternyata memberikan dorongan penjualan partai banyak. Atau juga penjualan secara eceran, laris manis diborong oleh pembeli.

Bahkan dia mendapat pesanan ekspor. Dua tahun berselang sudah mengirim ke Jepang, sampai 3.000 buah per- tiga bulan. Termasuk pesanan langsung Amerika, Kanada, dan Australia, di tempat. Ia mempertahankan strategi tersebut. Di kampung, yang dulunya ada 12 galeri, kini tinggal galeri Mawar Art Shop yang bertahan.

"Dengan jemput bola, justru lama- lama tamu yang mencari art shop kami di kampung," jelas Mawar.

Uniknya melihat bisnis Mawar awet, para perajin lain malah memilih tidak berbisnis. Padahal mereka masih berproduksi. Mereka memilih menyetorkan produk mereka ke Mawar. Inilah yang kita sebut sebagai satu kekuatan brand yang tidak bisa dibeli. Mereka juga menyetor ke toko lain tetapi terbatas di kawasan Bali.

Dia menjelaskan 75% produksinya merupakan tas aneka bentuk khusus perempuan, dikombinasi aneka kain tenun ataupun batik. Sisanya standar produk berupa aneka perelengkapan rumah tangga.

Mengikuti aneka pameran tingkat nasional membawa untunga. Menembus pasar ekspor, membawa nama Mawar sampai ke negara Jepang dan Korea. Tepatnya dia diajak mengikuti pameran Tokyo Gift Show dan Seoul Gift Show. Produk karyanya mendapatkan pendampingan khusus Japan External Trade Organization (Jetro).

Usaha yang didukung oleh ribuang pengrajian lokal daerah. Mawar mampu memenuhi permintaan ekspor yang tinggi. Dia dibantu oleh 30 orang pegawai giat melakukan promosi. Uniknya baik pengrajin maupun dari pegawainya kebanyakan perempuan. Menurut cerita sih mereka ibu- ibu yang ditinggal suami menjadi TKI di Malaysia.

Pekerjaan pun dapat dibawa pulang mempermudah produksi. Mereka cukup membawa bahan baku, yang dibayar sistem borongan, dibawah kordinasi 10- 15 orang kordinator.

Kalau dimisalkan produksi tas butuh waktu 3-4 hari, maka upah dibayar ialah Rp.100.000- 150.000 per- buah. Kebanyakan pegawai Mawar merupakan pegawai sampingan. Mereka nyambi sambi mengurusi anak atau memasak di dapur. "Banyak dari janda- janda Malaysia," pungkasnya. Tetapi mereka bukanlah janda sungguhan.

Itu sebutan bagi mereka istri ditinggal suami bekerja di Malaysia. Mereka baru mendapatkan kiriman enam bulan sekali. Ia menjelaskan bahwa sukar bagi mereka memenuhi kebutuhan, tentu sukar mengatur jumlah pengeluaran. Kerajinan ketak setidaknya memberikan penghasilan tambahan. Harga jualnya Rp.150.000- Rp.1,5 juta.


Semakin rapat rumput maka semakin mahal harga jual. Semakin lama pula pembuatan sehingga kualitas bisa terjamin. Pengolahan rumput ketak cukup dibelah dan diambil intinya. Mawar kemudian menyerut rumput itu disesuaikan ukuran. Rumput lantas dikeringkan diatas matahari sampai kering baru dianyam.

Meski terlihat sepele tetapi dibutuhkan kecekatan. Selain itu kondisi matahari sangat menentukan keringnya bahan baku. Ia menambahkan bagian luar jangan dibuang karena juga dapat dianyam. Mengerjakan usaha ini cukup bermodal pisau, pisau serut, dan kulit bekas baterai (untuk menyeragamkan ukuran).

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba