Contoh Usaha Jus Buah Tanpa Bahan Pengawet Mama Roz

Profil Pengusaha Hendrik Setiawan 


 
Menjadi konsutlan IT sebuah perusahaan terkemuka tidak membuatnya berdiam diri. Dia masih ngebet bisa menjajaki apa itu dunia wirausaha. Untuk yang satu ini, Hendrik Setiawan tidak terburu- buru menanggalkan jabatannya, ada masanya. Sebenarnya Hendrik bukan lah orang biasa, terlahir dari keluarga mapan, memiliki bisnis keluarga di bidang kertas.

Dia ingin melanjutkan bisnis kerta milik keluarga. Hingga ia menanggalkan karirnya sebagai konsultan IT. Dia lantas terus berkembang berkat usaha keluarga. Melanjutkan bisnis keluarga membuatnya mencium tren di masyarakat metropolitan sekarang. Pria kelahiran 1969 ini, akhirnya memulai usahanya sendiri, melepaskan bisnis keluarga dan berusaha mandiri.

Hendrik menyerahkan urusan bisnis kertas ke anggota keluarga lain. Sementara itu, ia mengerjakan bisnisnya sendiri yakni berjualan aneka jus.

Jus sehat


Pasar jus menurutnya makin meluas. Apalagi pemahaman masyarakat akan pola hidup sehat. Karena sadar bahwa bahaya penggunaan bahan pengawet maka ini berbeda. Ia memulai bisnis pembuatan jus sehat tanpa bahan pengawet. Bukannya tidak sadar akan beratnya bisnis tersebut. Pemain bisnis jus sudah banyak dan bisa dijalankan siapa saja.

Maka Hendrik musti memutar otak memberikan pembeda. Itu sebabnya kami menulis dia tidak terburu- buru soal menanggalkan pekerjaan konsultan IT.

Ia menyusun matang rencana bisnis. Harus berpikir secara matang membaca pola pasar dihadapi. Apalagi di usaha jenis ini masih baru dipahaminya. Tahun 2005 merupakan tahun sulit bagi Hendrik membangun bisnsi jus premium. Tetapi bukan tidak mungkin, bermodal Rp.200 juta, ia lantas mendirikan perusahaan bernama PT. Adelphi Transasia.

Uang hasil tabungan tersebut dibelikan mesin pengolah jus impor dari Amerika Serikat dan Eropa. Dibantu sekitar 10 orang karyawan mengerjakan bisnis jus. Ia yakin bisnis jus premium akan sukses. Dia yakin telah menemukan celah diketatnya bisnis jus premium.

Dia juga ikut mendesain botol kemasan, menakar ukuran terbaik, serta target pemasaran tepat sasaran. Dia memilih pasar kelas menengah atas. Harga jus premium buatannya akan dibandrol seharga Rp.13.000 atau Rp.25.000. Tanpa bahan pengawet ataupun mengandung konsentrat. Jus buah bernama Mama Roz ini siap dipasarkan ke seluruh Indonesia.

Agar menarik perhatian masyarakat maka dipakailah sistem jemput bola. Ia bahkan "nekat" siap memberikan layanan pesan antar tanpa biaya tambahan ke seluruh Jakarta. Menurutnya sebagai pemain baru makalah dia wajib menangkap peluang. Ini menjadikan brand Mama Roz menjadi satu- satunya bisnis jus buah yang bisa pesan antar sampai rumah.

"Pesanan satu botol jus pun akan kami antar," jelasnya penuh percaya diri. Menjadi berbeda merupakan cara ampuh menghadapi persaingan ketat.

Ia menawarkan jus murni dari buahnya asli. Pasar jus premium pasti lah tidak terpikirkan. Mereka menyebut diri mereka memakai buah asli tetapi. Nah, Hendrik punya cara lain agar membuktikan keasilaan buahnya, yakni menawarkan konsep peras "sendiri". Pelanggan dibiayarkan dia memilih buah sendiri, pilihan juga nanti bisa diganti- ganti, sesuai permintaan saja.

"Mereka seperti membuat jus sendiri, sesuai dengan selera," jelasnya. Mama Roz akhirnya tumbuh pesat juga melalui konsep berbisnis ini. Dengan dibiarkan memilih buah sendiri, Hendrik bisa membaca buah apa yang tengah digemari masyarakat.

Ini lantas menambah akan kasanah rasa si Mama Roz itu sendiri. Dia membuat aneka variasi dari produknya. Di tahun 2011 permintaan akan jus premium Mama Roz naiknya 40%. Enam tahun berjualan Hendrik mulai menambah jumlah karyawan. Jikalau dulu dibantu 10 karyawan, kini, dia dibantu 160 karyawan serta mesin jus di pabriknya.

Soal ukuran botol, menurut Alumnus Southern California University ini, memilih menggunakan kemasan 600 ml yang memiliki berbagai pertimbangan. Salah satunya, ia inginkan botol tidak terlalu besar sehingga bisa jadi minuman pelepas dahaga ketika berolah raga. "Ukurannya memungkinkan botol mudah digenggam," ujar Hendrik.

Meski ada pembatasan buah impor bukan masalah. Ia sudah membangun hubungan baik dengan vendor di luar negeri. Soal pengiriman buah seperti kiwi dan lemon terjaga. Meski begitu dirinya tidak melupakan akan buah lokal selain impor. Pertumbuhan Mama Roz sampai dua digit alias puluhan juta. Hendrik juga mantap memasuki pasar ritel premium.

Meski masuk pasar ritel tidak lupa senjata andalan, "Direct delivery adalah business model kami sejak awal hingga hari ini," tergasnya. Jangkauan pengiriman mencapai Bandung, Surabaya, dan Medan. Ia memenuhi kebutuhan penjualan lewat membuka pabrik baru di Cikupa Maz, Tangerang. Pelanggan pun bisa senang dikirim Mama Roz setiap empat minggu ke depan.

Nama Merek


Guna mendekatkan brand Mama Roz ke masyarakat berbagai cara dilakukan. Termasuk mengisahkan awal mula Mama Roz ini. Ceritanya tentang asal mula segarnya kandungan jus Mama Roz. Dia memperkenalkan si Mama Roz sebagai cerita ibu berasal asal Tuscani, Italia. Yang mana si ibu senang memetik buah segar untuk disajikan ke anak- anak secara tradional.

Ia sengaja memberikan cerita tersebut dalam bahasa Inggris. Dia mencoba membangun brand image Mama Roz seolah itu sosok nyata. Tambahan saja, menurutnya masyarakat Indonesia masih lebih mempercayai produk makanan dan minuman asal Eropa sana.

"Bukan saya tidak cinta Indonesia, tapi ini merupakan strategi pengenalan brand," tutur Hendrik.

Sengaja produk miliknya memang berkesan kebaratan. Bahkan banyak masyarakat mengira ini adalah salah satu brand waralaba asing. Menurutnya penguatan brand melalui kemasan serta pelabelan itu penting. Mama Roz hanya punya satu kesempatan memberikan kesan pertama. Satu kesempatan menenangkan hati pembeli ketika melihat etalase toko.

"...karena itu, kita harus menyajikan kemasan yang menarik," paparnya. Sistem IT dan call center juga tidak lepas dari perhatian mantan konsultan IT ini. Hendrik menyiapkan infrastruktur yang baik jauh hari untuk melayani aneka pesanan. Dia siap ketika pelanggan Mama Roz dari puluhan menjadi ratusan bahkan menjadi ribuan.

Waktu tiga bulan berjalan semenjak peluncuran Mama Roz menjajaki pasar swalayan. Sudah berjualan jus buah premium selama enam tahun, setiap bulan Hendrik memproduksi tak kurang dari 50.000 botol per- bulan. "Saya ingin bisnis perdana saya sukses," ujar Hendrik.

Memilih jalur berbeda membuat Mama Roz masuk ke Negeri Jiran, Malaysia. Tidak ada kesuksesan tanpa keberanian. Bahkan ia mengibaratkan karena tidak tau sama sekali maka berani. Dia pernah berpikir apa bisa membuat jus segar tanpa bahan pengawet. Kalau tidak dia berani, mencari informasi dimanapun, maka tidak akan ada jus bertahan tiga hari.

Ide memberikan pesan antar juga keberanian. Satu langkah berani lain yakni membeli satu botol bisa diantar. Bagianya aset terpenting dalam bisnis adalah brand. Makanya dia getol membangun brand Mama Roz lewat penggambaran jelas. Membuatnya seolah brand mahal luar negeri hingga nyaman dihati. "...tiga hal penting itu kenyamanan, kemudahan, dan layanan Mama Roz."

Untuk melayani Mama Roz juga bekerja sama dengan pihak lain. Caranya ya melalui setiap terjadi transaksi pembelian produk tertentu gratis satu botol Mama Roz. Memenuhi kebutuhan masyarakat juga termasuk maka Hendrik pun membuka pabrik di Cikupa, Tangerang. Pabrik yang rencananya akan dibuka di tahun 2012 silam.

Melalui aneka rasa baru diharapkan menjadi penyegar. Pasar mampu merespon Mama Roz sampai kenaikan 50% sampai 100% pemesanan. Memperluas pasar maka dibutuhkan second brand. Dan, Hendrik sudah siap untuk satu hal tersebut. Ekspansi agar tidak cuma menyasar kalangan tertentu. Produk terbaru ini akan lebih murah 30% dari produk biasa Mama Roz.

Harga murah tetapi kualitas mutu tetap terjaga. Sekali lagi bukan produk jus dengan pengawet ataupun zat konsentrat. Ia ingin menjangkau pasar anak muda mengajak gaya hidup sehat. Pasar ekspor sudah dijajaki pria berkacamata ini yakni ke Malaysia. Pilihan membangun pabrik di Malaysia atau menjual langsung tengah digodoknya lagi.

Strategi Marketing Terbaik Melalui Trial And Error

Profil Pengusaha Muda Glen Allsop



Satu lagi seorang ahli affiliate marketing mampu menghasilkan $100.000. Glen Allsop menunjukan kekuatan sebuah affiliate dan trafik setara $100.000 atau lebih. Dia dan ViperChill ada di antara blogger dunia sebagai pahlawan SEO/Marketing. Hal ini bukanlah sekedar pengunjung membludak atau mengajarkan apa internet marketing.

Melalui pengalamannya, dia membaginya melalui banyak hal, seperti blog, penulis, dan eBook. Dan, semua tentang caranya merupakan gratis di blog ViperChill.

"Saya tidak pernah berniat untuk masuk internet marketing. itu itu hanya terjadi dari hasil mencari tau bagaimana mempromosikan teknologi dan situs Dj ku. Sejalan dengan waktu saya mulai tertarik dengan  SEO dan sejenisnya, topik tentang itu selalu menarik perhatianku. Saya mencoba semua teori yang saya miliki dan mengaplikasikan ke semua situs."

Glen menyebut tentang bagaimana cara menyampaikan ilmunya ke pengunjung. Dia memulai dengan sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain, dan semuanya merupakan hasil percobaannya sendiri. Ia tidak mungkin menarik pengunjung untuk memahami ide, tetapi membuat percaya kepadanya. Melalui itulah pengunjung blognya memperlihatkan keseriusan seorang remaja.

Google merupakan hal terburuk bagi Long- Tile Keyword. Allsop memulai ide itu dibalik ViperChill dan kecenderungan SEO sekarang. Dia menyatakan keyword seperti long tile sulit untuk sekarang dan semakin parah. Era Google+ membuat algoritma sangat kacau baginya. Google jelas mendukung bagaimana sebuah produk di branding bukan masuk secara paksa.

Sehingga apa yang ada blognya itu merupakan hal yang paling tepat. Meski telah dikenal kejituan marketing di blog miliknya; Glen masih terus belajar.

Sebagai tambahan, blog ViperChill memberikan artikel yang dalam, kuat, dan asli pengalaman penulis sendiri. Kesemuanya cuma bisa didapatkan ya dari blog besar seperti miliknya. Blog ViperChill tidak memiliki iklan, benar- benar fokus di afiliate marketing saja tidak berjualan pula. Allsop secara lugas memberikan empat point yang menjadi dasar di artikelnya.

Point tersebut antara lain tentang:

1. Bagaimana mendapatkan uang secara online (melalui afliasi marketing)

2. Tips meningkatkan pendapatan online

3. Tips mengembangkan sosial media

4. Bukti aktual yang berasal dari dirinya sendiri.

Blog yang ada sejak tahun 2009 memberikan aspek berbeda di setiap artikel. Kontent lengkap untuk kamu yang berminat afiliasi marketing. Blog yang berani memberikan semua artikelnya secara gratis. Jika biasanya, beberapa internet marketer meringkas semua dalam 5000 kata hingga 6000 menjadi eBook lalu menjualnya, dimana Allsop menulis kontent semenarik mungkin.

Dia memastikan pengunjung belajar begaimana mendapatkan uang secara online dengan cara yang tepat dari blognya. Terbukti dari banyaknya Feed untuk 29.312 feed. Jika kamu membaca artikel ini. Tak ada salahnya kamu mengunjungi blog ini ViperChill.com.

Pembuat Tas Palomino Mantan Dokter Gigi

Profil Pengusaha Sukses Tina 



Tinggal lama di Jerman membuatnya tertarik di bisnis fashion. Namun, akarnya ternyata jauh sebelum itu, ia sudah menggemari aneka produk fashion sejak kecil. Lantaran sang ibu merupakan pemilik usaha konvesksi. Ia, Tina semakin punya cita rasa semenjak berkarir. Berprofesi dokter gigi membuat wanita satu ini punya kesempatan ke keluar negeri, melihat pertumbuhan industri fashion dunia.

Semenjak kecil Tina sudah membantu sang ibu berbisnis. Hasrat terbesarnya ada di produk tas wanita. Ia menyebut alasanya waktu itu karena mudah. Wanita asli kelahiran Medan, 50 tahun silam, yang menyandang gelar sarjana dokter gigi di Jerman. Pertama kali membuka pembuatan aneka produk tas wanita, sejak 1988 selepas kembali ke Indonesia.

Meski menyandang gelar dokter gigi tidak membuat surut. Malah, menurut Tina pekerjaan sebagi dokter gigi itu lama serta melelahkan. Pasti, banyak orang menyayangkan keputusan -nya untuk berhenti kerja. Apalagi dia malah nekat membuat tas wanita sendiri.

"Saya berhenti karena pekerjaan dokter gigi itu lama dan melelahkan," ujarnya.

Uang senilai Rp10 juta dijadikan modal olehnya. Sekembalinya ke Indonesia, dia langsung berburu beberapa meter kain di Pasar Tanah Abang dan Mangga Dua. Peralatan mesin jahit juga tidak lupa dibelikannya. Lalu tinggal mencari tukang jahit kusus tas. Tina tidak punya kenalan tukang jahit. Jadi dia berburu sendiri tukang jahitnya ke Bogor dan Bandung.

Alasan ibu dua anak ini karena sudah mendengar ketenaran mereka. Para penjahit disana dikenal memang rapih serta memiliki jiwa seni tinggi. Pemesan pertama datang dari Jerman sendiri. Pesanan sebuah asosiasi asal Jerman untuk menyimpan barang. Sambil berjalan, Tina mulai belajar mendesain tas fashion sendiri.

Tidak mengecewakan


Hasil belajar otodidaknya ternyata berhasil. Tina bahkan mampu masuk ke penjualan di Magga Dua. Tidak lama berbisnis, masalah pertama datang, ini terjadi ketika workshop nya dilalap si jago merah. Semuanya itu hasil kerja keras Tina hangus 80%, termasuk bahan baku dan mesin jahit. Untung karena itu tidak malah jadi hangus semangat Tina.

Malahan, api membakar semangat anak ketiga dari enam bersaudara ini. Tina mulai menyusun kembali bisnis dari nol. Ia mulai mencari bahan, membeli peralatan mesin jahit, dan lain- lainya. Berhasil melewati masalah malah menjadikan tas produksinya semakin laris. Mungkin semangat itu mendorong Tina lebih berpikir out of the box.

Mulai dari menjual di toko Magga Dua, tas buatan Tina merambah ke department store kecil, seperti halnya Cahaya. Menjajaki peluang disana membuatnya mantap. Dia meyakini model bisnis ritel modern cocok buat usaha miliknya. Disini penjualan terjadi lebih jelas serta pembayaran juga. 

"Agak susah menjual barang ke perorangan, karena ragam pesanan lebih banyak dan pembayaran berbeda- beda," tutur Tina.

Bisnis Tina mulai matang sambil berjalan waktu. Tetapi, masalah kembali menghadang, karena krisis moneter menghempas bisnis tas wanitanya. Itu semua lantaran department store kecil seperti Cahaya menutup cabang di beberapa tempat. Dia sempat bingung mengalihkan pasokan barang. Ini semua karena banyak department store tutup.

Tetapi, mulai disini lah, ia mau berani menjajaki department store besar, seperti Matahari dan Metro. Wanita lulusan Freie Universitat Berlin ini, berpikir mereka adalah perusahaa besar. Bagi mereka tentu krisis ini tidak berdampak besar bagi jalannya bisnis. "Apalagi, jam terbang mereka sudah lama di Indonesia," jelas Tina singkat.

Ia harus bersiap mengikuti proses panjang. Memastikan bahwa tas wanitnya terjual banyak. Kala tidak laku, maka dia akan kehilang sumber pendapatan atau putus kontrak. Agar mampu bertahan hadir di department store besar maka butuh perhatian. Dia butuh raw material bagus serta jahitan kuat. Ini juga disoroti oleh si department store loh.

Meski berhasil, dia tidak menampik, mereka pelanggan Palomino (nama brand -nya) adalah pelanggan yang sejak lama. Agar mendapatkan kepercayaan tidak lupa pula menyediakan stok. Banyaknya produk siap jual dibutuhkan apalagi kalau produknya sukses di pasaran. Hubungan baik terjalin sejalan permintaan barang yang semakin banyak.

Sukses bertahan Palomino bertahan selama setengah dekade. Bahkan penjahitnya sudah mencapai 50 orang penjahit. Jumlah penjualan meningkat ketika menjelang hari raya. Untuk itulah, dia siap menyediakan banyak stok agar tetap sukses berjualan. Pokoknya, prinsip Tina, tempatnya di department store tidak lah boleh jadi kosong.

Palomino juga menyegarkan desain tas setiap waktu. Sampai di hari raya, Tina mengeluarkan 15 desain baru serta mempertahankan hubungan baik. Setiap bulan tidak kurang 7.000 tas wanita tersebar lewat department store besar. Passion menjadi kunci suksesnya wanita satu ini. "Department store menuntut para pemasoknya agar selalu up to date soal desain," tutup Tina.

Toko Amanah Muslim Pasar Baru Strategi Jitu

Profil Pengusaha Djoko Sasongko


 
Mantan teknisi ini mencoba peruntungan berbisnis busana muslim. Hasilnya, tak disangka, nama Ir. H. Djoko Sasongko bisa seterkanal ini. Dia menjadi sosok teladan pengusaha pakaian muslim. Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai consultant engineering atau tenaga ahli pesawat. Ia bekerja di sebuah perusahaan bernama PT. Industri Pesawat Nusantara (IPTN) Bandung. 

Pada tahun 1989, Djoko menjabat jabatan Kepala Department Environment Control and Protection System. Karena keahlian inilah, maka Djoko jadi sering berpergian, termasuk bekerja sampai ke Brazil sebagai ahli penerbangan. Dia juga bepergian sampai ke Amerika, Perancis, Belgia, sampai Turki. Djoko jauh- jauh ke sana mendapatkan gaji 7 kali lipat gaji Indonesia.

"...tapi untuk ibadah kurang nyaman," jelasnya. Kenapa, karena Djoko kesulitan menjalankan Shalat Fardhu berjamaah. Anehnya perusahaan juga tidak menyediakan tempat ibadah. Apalagi kalau sudah waktu sholah jum'at, terpaksa, ia berangkat ke luar kota sampai waktu dua jam.

Terbersit pemikiran seandainya membuka usaha sendiri di Indonesia. Bayangan Djojo ialah usaha dengan pendapatan kotor minimal Rp.10 juta saja. Pastilah dia bisa tenang tidak perlu repot ke luar negeri. Memang bertugas sebagai pegawai perusahaan memang menyita waktu. Kontrak ke luar negeri baru selesai di akhir tahun 2003 dan Djoko siap berbisnis.

Lantas pandangan matanya tertuju ke arah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Waktu itu Ia sempat membaca iklan media cetak tentang kios disewakan. Pengelola Pasar Baru menawarkan kios di lantai ke empat. Maklum lah di lantai empat masih kosong melompong. Belum langsung mengundurkan diri, Djoko memilik rencana tersendiri untuk kios tersebut.

Ide bisnis


November 2003, sang istri, Ir. Hj. Prawestri yang bekerja sebagai Kepala System Engineering di  IPTN, mengundurkan diri menjadi pegawai. Ia akan langsung mengerjakan bisnis pakaian muslim dan perlengkapan haji. Dia cukup memakai kios lantai empat yang disediakan oleh Djoko. Nah, selagi sang istri mengerjakan bisnisnya, Djoko melanjutkan kerja di IPTN sebagai karyawan.

Tahun 2005, masih belum berhenti, Djoko malah bekerja sampai ke luar negeri, tepatnya di Belgia. Dimana ia telah menandatangani kontrak kerja setahun. Selama enam bulan, ia bisa menabung sampai Rp.100 juta per- bulan. Uang tabungan tersebut lah menjadi modal tambahan. Kontrak di Belgia selesai, maka dia bisa mambantu sang istri mengerjakan bisnis di Indonesia.

Mengusung nama Amanah Muslim, tempat itu menawarkan busana muslim dan perlengakapan haji. Idenya muncul ketika dirinya menunaikan ibadah haji. Tepatnya waktu itu tahun 1977, di Mekkah, Djoko tengah terpesona atas penghargaan Raja Fahd sebagai pelayan tanah suci. Dorongan lain munculnya ketika tengah menjalankan wukuf, thawaf, serta ifadah.

Ia berbagai minuman sementara teriknya matahari membakar. "Nah dari situlah ide saya membuka busana muslim dengan harga murah untuk membantu muslim," tambah Djoko.

Usaha dijalankan bermodal kios di Pasar Baru seharga Rp.200 juta. Untuk fasilitas serta produk jualan dibeli senilai Rp.35 juta. Kios berukuran 6,25 m2 ini dijadikan bisnis berkonsep one stop shopping. Maknanya, disini, kamu bisa membeli perlengkapan haji atau busana muslim terlengkap. Meski barangnya baru sedikit, Djoko sudah berani menggemborkan konsep tersebut.

Kecendrungan masyarakat menghemat waktu ketika berbelanja terbaca. Pembeli cenderung memilih tempat yang memiliki beragam produk berbeda. Saling melengkapi, jadilah mereka tidak perlu repot kesana- kemari keliling pasar. "Dalam bisnis itu harus punya mimpi besar. Dan mimpi besar saya waktu itu memiliki ingin memiliki mall dengan konsep one stop shopping," jelasnya.

"saking terobsesinya kalimat one stop shopping lebih besar ukuran hurufnya ketimbang nama Amanah Muslim," tuturnya, pria yang didapuk menjadi Ketua Haji dan Umrah Pasar Baru ini.

Padahal cuma toko kecil tetapi berjualan aneka barang. Produknya, awal sekali, bahkan masih bercampur- campur antara perlengkapan haji dan busana muslim. Akal cerdik Djoko muncul mengkonsep agar terlihat rapih. Maka disulapnya rak- rak didepan menjadi lebih rapih. Ia menampilkan bagian depan toko sesuai apa dibutuhkan (musimnya.red).

Ketika musim Ramadhan, maka Amanah Muslim menampilkan busana muslim. Rak di depan menyuguhkan aneka pakaian muslim. Nah, ketika Ramadhan selesai, maka Amanah Muslim akan memajang perlengkapan haji. Usai musim haji maka akan berubah kembali mengikuti. Dalam tempo tujuh bulan, tepatnya Mei 2004, Djoko merambah bisnis penjualan Al- Quran, VCD, serta produk lainnya.

Pengusaha lulusan ITB ini, memang selalu melayani pembeli secara sigap, ramah, dan perhatian. Beda antara bulan Ramadhan dan lainnya tidak berbeda. Djoko tetap menekankan sikap ramah serta tanggap, meski sepi ataupun ramai sama saja. Dia tidak mau pedagang Pasa Baru disebut pengusaha musiman. Cuma lah dagang empat bulan selesai sudah.

Katanya, pedagang semangat ketika Ramadhan tatapi nyatai ketika bulan lain. Djoko tidak mau hal tersebut karena setiap hari orang datang. "Nah ini yang saya tidak mau. Tidak bisa seperti itu, toh setiap hari orang pasti datang,"tutur Djoko. Tidak dipungkiri hasil berjualan di Ramadhan lebih dari mencukupi. Toko Amanah Muslim meraup omzet Rp.20 juta, Rp.30 juta, dan puncaknya di Ramadhan yaitu Rp.35 juta.

Omzetnya bahkan bisa mencapai Rp.1 miliar selama bulan Ramadhan itu. Pasalnya, Djoko sudah memiliki 7 kios beda di Pasa Baru, yakni 3 kios perlengkapan haji dan busana muslim, 1 kios perlengkapan busana muslimah anak, 1 kios perlengakapan busana muslim dan 2 kios toko buku muslim. Hampir setiap tahun selalu saja mengembangkan bisnisnya.

Ia pun memisahkan beberapa kios khusus. Mereka akan menjual produk tertentu, cuma tempatnya dibikin sangat berdekatan. Gencarnya iklan media cetak, iklan online, sangat mendongkrak kesuksesannya. Amanah Muslim dikonsep sedemikian rupa menjadi one stop shopping. Ia berharap bahwa pengunjung tidak akan berhenti belanja satu jenis saja.

Alhasil, penghasilan perbulan mencapai Rp.10 juta, seperti apa harapannya ketika memulai usaha busana muslim. Strateginya agar pembeli yakin tidak membutuhkan produk lain di tempat lain. Strategi ini terbukit berhasil karena pengunjung membeli barang minimal satu sampai dua juta rupiah.

Membuat Tempe Mentega Omzet 4 Juta Harian

Profil Pengusaha M. Rusyad Isnandi 



Ia hanya bekerja menjadi tenaga pemasaran. Tugasnya mengirimkan bahan- bahan pokok ke pasar. Selepas gempa Yogya, warga Dusun Wiyoro, Baturetno, Banguntapan, Bantul, ini akhirnya memutuskan membuksa usaha sendiri. Muhammad Rusyad Isnandi tidak pernah menyangka ide gila itu berhasil. Berkat itulah ia bisa menghasilkan Rp.400.000 per- hari.

Menjadi marketing memang melelahkan. Isnandi akhirnya memutuskan bekerja di tempat sang adik. Ia ikut membuat tempe bersama sang adik. Dia kebingungan mau bekerja apa. Hingga, tanpa terasa, tangannya sudah mulai mahir memproduksi tempe sendiri. Ia lalu memutuskan untuk keluar dan membuat usaha tempe sendiri.

"Kalau lama- lama ikut di tempat adik saya, takut menjadi beban," keluh Isnandi. Daripada menjadi beban ya mending membuka usaha sendiri. Keputusan diambil setelah benar- benar mahir membuat tempe. Awalan menjadi hal tersulit bagi setiap pengusaha. Begitu pula dirinya harus mengerjakan semua sendiri. Ia juga harus menjual -memasarkan sendiri tempe dari pasar ke pasar.

Meski dari tiga tempat, cuma satu saja yang mau dititipi daganganya tidak masalah. Banyak penolakan tidak membuatnya menyerah. Pengalaman diri menjadi bagian marketing perusahaan ternyata bermanfaat. Ini membuatnya tidak mudah berkecil hati. Singkat cerita, dua tahun telah berlalu, usaha Isnadi tidak mengalami perkembangan.

Kondisi inilah yang membuatnya penasaran. Bukan menyerah, ia masih memegang mimpi menjadi pengusaha tempe makmur. Lantas berkeluh- kesah lah si Isnadi kepada seorang teman, dan ditanggapi serius setengah bercanda.

"Teman saya menyarankan agar saya mencoba mencampur tempe dengan mentega," kenangnya. Ini memang terdengar ide konyol. Tetapi anehnya, Isnadi tetap mendengarkan, bahkan mempraktikan langsung. Mulai dari situs setiap berproduksi dicampur lah mentega.

Sebagai catatan mentega dicampur ketika proses peragian. Ditambahnya mentaga menghasilkan rasa gurih. Juga lezat tentunya jikalau kita menggorengnya. Respon pasar ternyata malah positif membawa kejutan. Ia semakin giat membuat untuk berbagai warung makanan. Tidak perlu jauh- jauh, pemesan datang dari warung dekat kos- kosan mahasiswa atau para penjual gorengan.

Prosesnya rumit


Sekarang, berkat tempe mentega, Isnadi mampu memproduksi 6 kuintal kedelai. Untuk segitu diperoleh lah 2.200 potong tempe siap dipasarkan. Harga tempe mentega berkisah Rp.3.000 per- potong. Memang itu lebih mahal dibanding harga tempe biasa. "Kalau tempe lain paling dijual sekitar Rp.2.000 per- potong," jelas Isnadi.

Meski lebih mahal toh buktinya tetap laku juga. Permintaan bahkan naik ketimbah awal pembuatan. Coba kamu bayangkan omzet dihasilkan Isnadi mencapai Rp.4- 5 juta per- hari. Maka dia mempekerjakan 31 orang karyawan yang kebanyakan tetangga sekitar. Menyerap tenaga kerja cukup tinggi membuatnya jadi idaman tetangga.

Pemasaran sendiri dilakukan oleh tim marketing. Isnadi memberikan untung sampai 10 persen harga jual. Ia juga menambahkan uang bensin Rp.2.500 per- hari, ditambah uang oli setiap bulan. "Tingginya permintaan membuat kami kwalahan memasok ke pasar- pasar tradisional," jelasnya. Tenaga pemasaran sudah punya pelanggan tetap masing- masing.

"...yang sebagian besar berupa rumah makan," aku Isnadi.

Proses pembuatan tempe mentega terbilang rumit. Pertama- tama, kedelai direndam dulu kemudian direbus. Hasil rebusan kedelai digiling memakai mesin khusus. Selepas itu, ia kembali merendam kedelai itu, selama semalam suntuk, dicuci, kemudian direbus kembali.

Proses terakhira merupakan proses peragian. Nah, disinilah mentega dimasukan, untuk peragian jika tidak pas maka akan busuk. Pria yang cuma lulusan SMA ini menjelaskan lebih lanjut. Ketika musim panas dimana matahari begitu terik maka pemberian ragi dikurangi. Sebaliknya disaat masuk musim hujan, maka ya ragi diperbanyak.

"Kalau sudah busuk, tempenya harus dibuang karena tidak bisa dijual lagi," ujarnya. Bahan baku sendiri dari kedelai impor yang harganya lebih murah, dimana ia cuma mengeluarkan biaya Rp.4.800 per- kilogram.

Bahan baku utama tempe mentega memakai kedelai impor. Alasannya, kedelai lokal kurang bagus, lebih bagus kalau dipakai tahu. Harga juga lebih murah yakni Rp.4.800 per- kilogram. Untuk kedelai lokal harga mencapai Rp.5.500 per- kilogram. Kapistas sendiri masih naik- turun mengikuti ketersediaan karyawan di tempatnya.

Misal, pada hari raya seperti Lebaran, kapasitas menurun 50 persen karena karyawan mudik. Para perajin tempe akan pulang ke kampung. Kebanyakan mereka adalah warga Pekalongan, Jawa Tengah. Stok tempe maka akan menurun drastis disaat musim libur. "Sebenarnya saya bisa saja menambah produksi sampai 100 persen, tetapi kapasitas mesin dan tenaga yang ada tidak mencukupi," katanya.

Sukses tempe mentega membawa berkah. Dia bisa membangun rumah sendiri, membeli mobil, dan punya pabrik sendiri. Ia berharap sangat usahanya ini bisa sampai ke anaknya. "Saya mulai terapkan pemahaman supaya anak tidak terpaku menjadi pegawai," terang Isnadi. Menjadi pengsuha harus dibangun semenjak masih kecil lewat keuletan dan kerajinan.

"...hasilnya jauh lebih menguntungkan," katanya. Sikap serta pandangan ini tidak lah salah sama sekali. Ia paham Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda. Menjadi wirausahawan berarti membantu orang lain, mambuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba