Keluarga Wirausaha Bayu Reksa Ganesha

Biografi Pengusaha Muda Pendidikan



Bayu Reksa Nugraha memang terlahir dari keluarga wirausaha. Tetapi mereka menekankan kemandirian sejak kecil. Dia sendiri merupakan putra pemilik bisnsi Ganesha Group, ialah sebuah grup bisnis dibidang jasa pendidikan. Mungkin kamu sudah tidak asing dengan nama Ganesha itu sendiri ya. Pemuda kelahiran Tasimalaya, 23 Mei 1987, yang mepunyai dua hobi memancing dan menyanyi.

Ia menempuh pendidikan biasa di SD Pajajaran Tasimalaya, lalu dilanjutkan ke SMP Tarbiyatul Mua’allimim Al-Islamiyah Ponpes Walisongo Ngabar, Ponorogo. Setelah pindah ke pulau Kalimantan, Bayu melanjutkan pendidikan di SMKN 5 Samarindah. Lalu dia masuk ke Fakultas Ekonomi, Universitas Mulawarman, di Samarinda, KalTim.

Sejak di sekolah dasar kedua orang tuanya sudah mengajarkan hidup hemat. Bahkan terkadang mereka itu tampak seperti orang pelit. Padahal orang tuanya sukses dalam bisnisnya kan. Untuk jajan di sekolah saja, dia hanya diberi uang pas- pasan untuk satu minggu penuh. Dia harus rela menahan diri dengan didikan yang keras itu.

Namun hasilnya sangat bermanfaat untuk Bayu membentuk mental kewirausahaannya. Ia selalu berfikir untuk bisa mendapatkan uang tambahan jajan sendiri karena uang sakunya pas- pasan. Pertama kali berbisnis, nilai uang saku yang sedikit itu, dibelikannya jambu milik tetangga dan dijual lagi di sekolah. Dari situ ia mendapat laba untuk tambahan uang saku.

Tidak berhenti di situ, ia juga berjualan kertas mewarnai dan gambar tempel. Bayu senang menikmati jerih payahnya sendiri dan terus bersemangat berbisnis. Setiap hari sepulang sekolah ia membantu orangtuanya di kantornya Ganesha sekaligus belajar wirausaha. "Lama- lama sayapun resmi menjadi karyawan di kantor ayah saya sendiri," ujarnya.

Usaha sendiri


Semenjak bergabung menjadi karyawan di perusahaan orang tua, terjadi perubahan besar terjadi dalam dirinya. Ia mengaku mulai bekerja membuatnya selalu mengasah otak, menemukan inovasi, dan selalu berfikir untuk kreatif. Bayu kemudian ditempatkan di bagian kepala bidang marketing. Hal itu dimaksudkan orang tuanya agar ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kesempatan sama.

Pola pikir adalah kunci batasan seseorang itu sukses atau tidak.

"Memang Tuhan tidak akan mengubah seseorang, kecuali seorang itu mau mengubah dirinya," katanya lebih bijak.

Perusahaan orang tuanya kini telah bergerak sangar maju menjadi aneka kursus, seperti mengemudi mobil, komputer, bahasa Inggris, serta Ganesha College yang menjalankan program setara diploma. Kali ini Bayu ditempatkan sebagai Customer Service yang merangkap bagian marketing.

Sejak itu pula jiwa kewirausahaan Bayu terus tumbuh pesat. Kebetulan sekali, kala itu di kantor ada ruang kantin yang sudah lama tidak digunakan lagi.

"Naluri bisnis saya muncul. Lima puluhan karyawan ditambah lima ratusan siswa yang kursus setiap hari beraktifitas ditempat ini. Inilah peluang bisnis yang sangat bagus, pikir saya waktu itu," kisah Bayu.

Bermodal kompor bekas dan uang 81 ribu dimulai lah bisnisnya. Pertama- tama ialah berjualan es teh manis dan kopi serta pisang goreng disana. Dalam sebulan itu, modalnya dari 81 ribu berkembang menjadi ratusan ribu rupiah. Keuntungan itu digunakan kembali untuk modal yaitu membeli kompor gas. Seorang karyawan membisikkan padanya bahwa pisang goreng buatannya enak sekali.

"Sayapun berinovasi. Melalui beberapa eksperimen akhirnya terciptalah Banana Crispy," ungkap Bayu.

Ia kemudian membuat gerobak kayu untuk berjualan Banana Crispi di depan kantor dan hasilnya laris manis juga. Tanpa harus mengganggu jam kerjanya di kantor, Bayu terus untuk berusaha agar mengembangkan usahanya sendiri dengan mengikuti pameran demi pameran. Dari situlah, tiap keuntungannya selalu disisihkan utuk membuat gerobak baru dan seterusnya.

Bayu menarik kesimpulan bahwa Berbisnis Tak Harus Modal Besar. Sukses tersebut terus berlanjut hingga Banana Crispy menjadi bisnis berbasis kemitraan. Dalam waktu empat bulan Bayu telah memiliki 9 outlet yang diversifikasi batagor Bandung, bubur ayam Bandung dan kantin di Kampus Ganesha.

Melihat putranya sukses berwirausaha sang ayah timbul ide membuat jurusan kewirausahaan. Kali ini Bayu didaulat memulai semua itu dari pertama hingga berhasil dijalankan. Programnya berupa program wirausaha 1 tahun aplikatif dan menggunakan tenaga pengajar kompeten, dari pengusaha, kepala daerah, lalu kepala dinas dan pimpinan perusahaan swasta nasional.

Di tahun 2008, ia resmi diangkat menjadi direktur utama yang bertanggung jawab atas berjalannya Ganesha Group. Bayu memang bertangan dingin. Di tangannya Ganesha Group tumbuh pesat dimana mereka dikenal sebagai  lembaga pendidikan yang terpercaya. Bagi Bayu ini bukan sekedar bisnis diwariskan oleh orang tuanya, ia tak main- main mengembangkan bisnis Ganesha Group.

Mulai sekedar bisnis jasa pendidikan, Bayu bisa menjalankan sampai merambah jauh.

"Ketika ayah saya mempercayakan kepemimpinan pada saya, dia tahu bahwa saya bisa mengelola Ganesha meski tanpa embel-embel kepemilikan keluarga," tandasnya.

Berbeda lembaga pendidikan lainnya, jasa pendidikan Ganesha mengajarkan berbagai keterampilan. Selain bimbingan belajar, Ganesha membuka kelas keterampilan mengemudi, komputer, dan internet. Muridnya tidak hanya anak sekolahan tetapi juga orang dewasa. Sejak 2009 lalu, Bayu telah mengembangkan jaringan bisnis Ganesha menawarkan peluang kemitraan.

Hingga kini Ganesha sudah memiliki total lima gerai di Samarinda, Tasikmalaya, dan Bandung.

"Tiga cabang merupakan milik mitra," ungkapnya. Tak puas membesarkan bisnis keluarga saja, ia kembali melihat bisnisnya yang tertinggal, Banana Crispy.

Bayu kemudian mendirikan Rexa Group. Ia melanjutkan bisnis sebelumnya, memasukan bisnis itu dalam satu wadah usaha. Tak berhenti di Banana Crispy, Bayu kemudian mendirikan bisnis- bisnis lain. Ini merupakan usaha pribadi yang dijadikan wadah bereksperimen bagi Bayu. "€œJadi, kalau saya tertarik bikin bisnis baru, Reksa Group inilah tempatnya," tuturnya.

Nama Rexa Group kemudian diubah menjadi Reksa Group. Bisnis merambah ke usaha general kontraktor, supplier, trading dan distributor, reksa food yang terdiri dari banana crispy, Rumah Makan Bandung Mang Kasep, Icon Cafe, Bakmie Tasik. Dia masih melanjutkan usaha milik keluarganya sambil tetap mengerjakan usaha- usaha lain.

Ini disebutnya sebagai lompatan- lompatan Quantum, dari satu bisnis ke bisnis lain. Dari hanya bisnis pisang goreng kini merambah ke bisnis kontraktor. Tidak heran jika ia terpilih menjadi salah satu dari Wirausahan Muda Mandiri pada tahun 2007. Padahal, saat itu kompetitornya kebanyakan pengusaha yang bersekala nasional.

"€œSaya juga kaget waktu terpilih karena usaha saya baru skala Samarinda," kata pria 26 tahun ini. €"Ini bisnis formal yang harus terus dikaji secara mendalam," ucap dia. Bisnis pendidikan baginya mengandung tanggung jawab moral pada masyarakat banyak.

Maka itulah, ia selau berusaha terjun langsung untuk memastikan murid- murid mendapatkan pelayanan prima. Sementara, Reksa Group bisa didelegasikan kepada mereka orang- orang kepercayaan. Rata-rata omzet yang didapat Bayu mencapai Rp 300 juta per- bulan. Meski Reksa Group memiliki banyak lini usaha, Bayu mengaku, 80% waktunya didedikasikan untuk Ganesha Group.

Gagal Bermain Football Sukses Pelatih LinkedIn

Profil Pengusaha Lewis Howes 


 
Terkadang hidup memang tidak adil tetapi selalu ada hikmah. Ketika dia tengah di puncak karirnya, Tuhan berkata lain, dimana Lewis Howes harus mengahiri karirnya. Tentu bukan jiwa entrepreneur kalau segitu saja menyerah. Mungkin kata "segitu" relatif ya tetapi memang semua akan ada hikmahnya.

Howes memulai karir di All American football sejak sekolah menengah dan kampus. Dia tercatat sebagai siswa alumni Principia Collage dan Capital University. Karir American football memang hidup Howes sejak jaman dahulu. Dia pernah mencatatkan rekor paling banyak menampilkan atraksi, yakni menangkap 17 pas untuk 418 yard di 2002.

Dia meninggalkan kampus aka drop out buat American football. Karir Howes terpaksa berhenti ketika ikut Arena Liga pertamanya. Mengejutkan, bahkan membuat ia sempat stress berat, dimana dia jatuh membentur tembok ketika akan menangkap bola dan mematahkan pergelangan.

Namun Howes pantang menyerah jadi bahkan hingga akhir musim dia tetap bermain. Selepas permainan terakhir, dia menjalankan operasi perbaikan, sayangnya, itu tidak berjalan baik sampai dia harus berhenti bermain American football selamanya.

Titik balik


Tahun 2002, dia berangkat ke New York menemukan handball. Dia masuk ke olahraga ini menjadi tim di Team Handball Club. Berkat keuletan, dia masuk tim nasional bernama USA Men's National Team. Agustus 2013, ia menandatangani kontrak satu tim terkenal handball asal Spanyol Ademar Leon, menyandang nomor 15.

Dimana entrepreneurship -nya?

Tunggu, dimasa penyembuhan serta vakum di dunia olah raga, dia sempat melakukan semacam eksperimen hingga menghasilkan. Bayangkan, dia menghasilkan jutaan dollar lewat ya bisnis online.

"Saya sempat seperti jatuh saat itu karena nasib dan sangat depresi, duduk di pinggiran kasur," tuturnya.

"Satu hal saya bisa lakukan adalah mengetik dengan satu tangan dan beberapa jari milik pergelangan yang patah ini. Jadi saya baru saja berpikir jalan keluar saya "harus memikirkan jalan keluarnya dari ini,"."

Jalan keluar tersebut tarnyata adalah sosial media. Tetapi bukan Twitter ataupun Facebook, dia mengenalkan LinkedIn. Tempat terbaik bagi profesional berbagi perjalanan profesionalnya. Dia menjelma menjadi seorang LinkedIn Coach menolong banyak orang di penjuru Amerika.

Ia membantu orang mendapatkan pekerjaan lewat sosial media saja. Howes lantas mengibaratkan LinkedIn sebagai sosial medianya orang dewasa. Mereka pengguna ini adalah orang- orang profesional dibidangnya. Orang bisa menulis profil, pengalaman kerja, pendidikan, dan bahkan rekomendasi dari pengguna LinkedIn lain.

"Seseorang mempunyai gelar MBA dan setelah dua bulan, dia tidak mendapatkan pekerjaan," jelas Howes. Ia menambahkan dia akan mengajarkan one- to- one training. Howes mendirikan SportNetWorker di tahun 2008, sosial media buat konsultasi markerting para pengusaha di industri olahraga.

"Apa yang harus saya lakukan? Jadi saya duduk dengan dia, tetap profil LinkedIn dan dalam dua minggu ke depan, ia punya pekerjaan," ucapnya mereka adegannya.

Menulis sosial media sebagai rujukan kerja memang fenomena. Sesuatu yang belum biasa dalam kehidupan di masyarakat. Dia menjelaskan bahwa ini akan sangat berguna.

"Saya hanya memberitahu orang- orang untuk menghabiskan waktu 10 menit sehari atau 30 menit seminggu, hanya duduk di sana dan bermain- main dengan itu sedikit," jelas Howes. "Baca tutorial, memeriksa blog dan akhirnya itu akan mulai membuat merasakan."

Dia menyarankan pengguna LinkedIn agar profil mereka konsisten serta menarik -kamu harus membuat para pencari kerja percaya apa yang kamu benar bisa dan kamu bisa membantu mereka.

Howes menyarankan kita membuat koneksi sebanyak mungkin. Kalaupun kamu sudah melakukan kesalahan diawal jangan takut lakukan perbaikan -semakin terbiasa akan semakin baik.

Dia, salah satu penulis Linkedworking: Generating Success on the World's Largest Professional Networking. Penulis buku sendiri berjudul The Ultimate Webinar Marketing Guide tahun 2012. Howes juga menulis The School of Greatness: A Real-World Guide to Living Bigger, Loving Deeper, and Leaving a Legacy Oktober 2015.

Howes juga baru menjalankan Sport Executives Association. Sebuah website untuk eksekutif dibidang olah raga yang bersifat membership. Tujuannya adalah marketing, menginspirasi, menciptakan bahan edukasi buat sosial media.

Kemasan Gelas Kertas Omzet Uang Ratusan Miliar

Profil Pengusaha Catur Jatiwaluyo


 
Krisis ekonomi 2008 menjadi titik balik menjadi pengusaha. Waktu itu dia sebenarnya sudah menduduki jabatan enak di Detpack. Perusahaan kemasan asal Australia, yang mempercayainya jadi country manager. Ceritanya semua karena rajukan dua temanya, yaitu Dillion Sutandar dan Philip Sumali. Mereka manawari Catur Jatiwaluyo kesempatan.

Mereka mengajak Catur berbisnis bersama. Dimana keduanya tengah mengalami goyah di bisnisnya karena krisis. Mereka kehilangan banyak pesanan, baik pasar impor ataupun ekspor. Kebetulan usaha keduanya itu sama dengan kebisaan Catur. Mereka adalah pengusaha kemasan tetapi tidak jalan.

"Teman saya lagi kebingungan, sebab dia punya aset tetapi tidak jalan," tuturnya. Catur merespon keberatan karena sudah merasa nyaman. Namun, dua temannya tetap membujuk mengajak usaha bersama, dimana dia diajak ikut patungan berbisnis.

Cukup intens keduanya mengajak Catur berbisnis bersama. Alhasil, dia pun luluh menuruti kemauan mereka ikut nyemplung berbisnis. Sajak 2011, ia resmi mengundurkan diri, lantas mendirikan perusahaan bernama PT. Peperocks. Uniknya pelanggan mereka pertama datang dari kenalan Catur. Jadilah mereka yang seperti teman sendiri menguatkan Catur.

Pertama kali masuk, Catur ikut urunan senilai Rp.200 juta, dimana uangnya digunakan untuk membeli bahan baku. Untuk mesin produksi memanfaatkan mesin sang teman. Mesin yang kebetulan sudah vakum bekerja sejak 1998. Komposisi saham waktu yakni 30% saham miliknya. Sementara sisanya milik kedua temannya itu.

Bisnis bersama

Modal dikeluarkan Catur terbilang cukup banyak. Mulai dari modal uang sampai jaringan pelanggan buat usaha baru mereka. Tetapi lain cerita kalau soal impor, nah, inilah mungkin kelemahan Catur yakni di bidang ekspor. Mungkin dia punya banyak jaringan di lokal tetapi tidak soal luar negeri. Ini menjadi kendala diawal tetapi bisa terselesaikan berkat Dillon.

Dillon sendiri pernah bekerja di Detpack sama halnya Catur. Bedanya, dia kebagian menangani soal pasar ekspor, ketika Catur memang tidak memiliki jaringan pelanggan di luar. "Saya yang network -nya ada di lokal," jelasnya. Memang diawal berdiri memang menggarap pasar lokal. Alasan utamanya karena sedang terjadi krisis ekonomi.

Tetapi berjalannya waktu, ada saatnya, perusahaan mereka pasti mengerjakan pasaran internasional. Catur sendiri cukup mengalami kesulitan ketika menangani pemasaran. Tetapi berkat fokus di mengerjakan pasar lokal, perusahaan dibawah kerja tim meraup pelanggan industri kemasan di dalam dan luar negeri. Ia tidak menampik bahwa mereka cepat berkembang.

"Saya ini sudah 11 tahun di industri yang sama, sebenarnya teman- teman sendiri yang bantuin," jelas Catur merendah.

Pemasaran memang berhasil tetapi tidak mudah. Dia harus mampu berkeliling ke daerah- daerah. Ia rela menemui relasi bisnis satu per- satu. Istilahnya mungkin menjemput bola. Tahun 2012, ia bahkan belum bisa menembus pasar Surabaya, padahal disana lah pintu gerbang masuk ke pasar Jawa Timur.

Pemasaran lokal dikencarkan melalui aneka cara. Mulai cara menjemput bola ketika diperlukan. Dia agak sulit membangun kepercayaan pelanggan. Namun, dirinya pantang menyerah mendekati mereka, alhasil dia sukses melakukan branding. Bukti nyata lambat laun daerah- daerah mulai mempercayai perusahaan. Salah satnya datang dari Surabaya, Jawa Timur.

Padahal, seperti diceritakan diatas, tahun 2012 tidak ada sama sekali penjualan produk Paperocks. Hingga, ia menemukan perusahaan asal Surabaya tersebut. Di tahun 2013 bahkan penjualan bisa melonjak ketika ia telah masuk ke pasar lebih dalam. "Di 2013, penjualan setahun hampir Rp.2 miliar," tuturnya.

Marketing sederhana


Cara terbaik menurutnya itu sederhana. Dia membawa sampel kemasan ke pelanggan baru mereka. Cuma saja, sebagai catatan, perusahaan sebelumnya telah berhasil menggaet perusahaan besar. Ia penuh percaya diri menyodorkan contoh kemasan Burger King dan Nestle. Nah, disetiap sample tersebut, ia menunjukan inilah buatan perusahaan Paperocks.

Dengan melihat logo mereka didepan mata, biasanya calon pelanggan akan langsung memesan. "Biasanya langsung ngomong harga," jelas Catur.

Menurut Catur, marketing menggunakan sample produk sangatlah penting. Karena hampir semua calon pasti menanyakan hal tersebut. Lantaran pesanan dari lokal kebanyak UMKM maka jumlah pesanan terbilang itu sedikit. Tetapi Catur tetap menjalankan tugasnya meski dibawah batas order Paperocks. Siapa satu kelak mereka menjadi perusahaan besar, kan.

Pemesanan cup, contohnya, Paperocks sebenarnya membatasi pemesanan untuk 25.000 cup. Tetapi Catur membolehkan UMKM memesan diangka 5000 cup. Agar tidak tetap berjalan pesanan maka bisa diakali saja lewat partial delivery. Maksudnya Catur dan perusahaan cukup memproduksi di angka sama. Tetapi akan memberikan bertahap sejalan pembayaran.

"Ibaratnya dia menyimpan barang di gudang saya," jelas Catur. Strategi marketing macam ini memang punya resiko tersendiri. Cuma Catur tetap menjalankan karena begitu keadaanya. Alhasil, dia meminta agar para sales lebih seksama selektif menyaring pelanggan. Karena UMKM bisa saja nanti malah gulung tikar dalam perjalanan pemesanan.

Kedepan sendiri tantangan sales akan semakin berat karena lahir banyak pesaing. Mereka para pemain baru di bisnis kemasan memberikan tekanan. Kendati beratnya, ia optimis perusahaannya bertahan berbisnis kemasan. Kunci sukses adalah tetap mempertahankan kualitas. Untuk menambah cakupan dibuka lah divisi baru, agar tidak cuma melayani kemasan makanan dan minuman saja.

"Apa yang ada di restoran, kafe dan bakery, harus bisa kita suplai," jelas Catur. Ambisi memperbesa pangsa pasar benar ditekankan oleh sosok berkacamata ini.

Dia adalah presiden direktur PT. Paperocks Indonesia. Perusahaan kemasan kertas yang sudah beroperasi sejak 2011. Yang pusatnya ada di kawasan industri Newton Techopark, Lippo Cikarang, Paperocks yang sukses mamasok kemasan kertas dan plastik hampir ke 100 perusahaan.

Produknya meliputi gelas kertas, kertas pembungkus plastik, kotak kertas, mangkuk sop, gelas es krim, juga tatakan dan alasa makanan. Yah, hampir disetiap gerai makanan siap saji, tempat kafe yang telah menjamur di kota besar saat ini. Contoh perusahaan besar seperi Nestle, KFC, Burger King, merupakan pelanggan asing.

Untuk lokal banyak UMKM sudah menjadi pelanggan Paperocks. Seperti perusahaan Kopi Brontoseno dari Kediri. Meski begitu dari segi persentase penjualan masih relatif sama. Pasar ekspor meliputi ke Jerman dan Australia serta beberapa negara lain. Cara kerja ekspor yaitu produk dikirim terlebih dahulu ke para distributor di sana. Lantas distributor tinggal melanjutkan pengiriman ke perusahaan lain.

Hal terbaik selama menjalankan perusahaan: Dia bisa masuk ke maskapai penerbangan seperti Singapore Airlines dan Etihad Airways. Padahal, dia menjelaskan bahwa perusahaan penerbangan sulit buat dimasuki. "...itu ketat sekali," jelasnya lagi.

Ia mengamati bahwa masyarakat luar lebih ke bungkus kertas. Berbeda masyarakat Indonesia yang masih nyaman menggunakan bungkus plastik. Modal pabrik seluas 5.000 meter persegi diharapkan bisa mencapai ekspansi lebih. Catur cuma bisa berharap keadaan ekonomi membaik. Maka jumlah usaha makanan dan minuman juga ikutan naik.

Omzet perusaah Catur telah mencapai Rp.18 miliar per- tahun. "Jika ditambah ekspor, omzet bisa mencapai angka Rp.40 miliar," akunya. Permintaan kemasan sendiri masih meningkat signifikan. Catur masih yakin bisa mencapai pertumbuhan 40% sampai 50% per- tahun.

Kaos Kaki Wudhu Soka Berbekal Keluhan Pelanggan

Biografi Pengusaha Aman Suparman


 
Punya hobi aneh malah menjadi usaha menghasilkan. Ini kisah Aman Suparman, yang sejak remaja hobinya mengumpulkan kaos kaki. Aneka bentuk dikoleksinya serta aneka motif menghiasi. Hobi mengumpulkan kaos kaki dari aneka bentuk, aneka motif, dimana Aman sendiri tidak tau pasti kenapa bisa begitu. Kenapa dia suka mengoleksi kaos kaki bahkan sampai kuliah.

Jika ditanya oleh pewarta kenapa hobi mengumpulkan kaos kaki. "Saya juga gak tau kenapa senang koleksi kaos kaki," jawabnya. Karena aneh dirinya kerap mendapatkan cemooh. Aneka ejekan berupa panggilan nyeleh datang dimasa- masa remaja, seperti sebutan Si Pengumpul Kao Kaki Bolong dan Bau. Atau lainnya, tetapi tidak membuat Aman menjadi berhenti.

Hobi Aman mendapatkan tempat malah ketika masuk ke dunia kampus. Tentu di kampus, anak muda bisa bereksperimen dengan penampilannya termasuk aneka jenis kaos kaki. Ia percaya diri saja memakai aneka kaos kaki bermotif aneh. Motifnya kadang berupa gambar kartun lucu, salur, atau pun motif lainnya yang tak biasa.

Setiap keluar negeri pun, dia akan mencari- cari koleksi kaos kaki terus. Perasaan membuka usaha kaos kaki muncul ketika memang susahnya hidup di kampus. Wajar saja, karena di kampus, dalam kehidupan di kampus membutuhkan banyak biaya.

Kaos kaki bolong


Pucuk dicinta ulam pun tiba dihadapan Aman. Waktu itu, ketika masih di kosan, kebetulan sekali salah satu penghuni mempunyai usaha kaos kaki. Dia tertarik hingga menyodorkan diri bergabung. Jadilah sejak Januari 2002, ia resmi menjadi distributor aneka jenis merek kaos kaki berbagai perusahaan. Namun, si patnernya ternyata harus pindah rumah, jadi lah dirinya harus memutar otak menjalankan usaha lagi.

Untuk pertama kalinya dia berpikir layaknya pengusaha. Memutar otak sendiri bagaimana melanjutkan usaha kaos kaki ini. Dia melihat peluang, pangsa pasar besar di bisnis kaos kaki, sayangnya dia tidak cukup buat menimba ilmu distributor cuma dua tahun. "Dan saya memanfaatkan peluang itu untuk dijadikan lahan usaha," paparnya.

Tidak menemukan jawaban akhirnya Aman nekat bikin sendiri. Modal Rp.2 juta dikeluarkan berbekal dari hutang ke orang tua. Uang tersebut dibelikannya kain di Cigondoweh, pusat grosir kain terkenal di Bandung. Soal jahitan diserahkan kepada orang lain lewat biaya produksi. Untuk motif dan desain pun dikerjakan dia sendiri berkaca dari hobinya.

Di 24 Mei 2004, resmi lah berdiri perusahaan bernama CV. Al- Amin. Usaha bernama sama dengan nama di kaos kakinya. Dia lantas jualin kaos kakinya lewat internet. Tetapi dia tidak lupa tidak berhenti dengan cara pemasaran konvesional dari orang- ke orang. Aman lantas menciptakan gebrakan lewat kaos kaki jempol yang terkenal itu.

Dimana kaos kaki bisa dikenakan buat dipakai dengan sandal. Kaos kaki yang punya lekukan diantara ibu jari dan jari kedua telapak kaki. Ini digunakan guna memudahkan kaum muslimin memakai kaos kaki tanpa mencopot jika tidak bersepatu. Kaos kaki Al- Amin namanya menggelora jualannya sampai tidak hanya di Bandung, tetapi menjalar sampai ke kota- kota lainnya.

Namun berjalannya waktu, ternyata banyak produsen kaos kaki meniru modelnya. Produk Al- Amin sudah memiliki banyak pesaing di pasaraan saat itu. "Modelnya hampir sama, tapi harganya lebih murah, dan kualitas dibawahnya," tutur Aman. Alhasil, dirinya mendapatkan keluhan dari agen resminya, tetapi berkah lain datang.

Ia sangat bersyukur karena menemukan keluhan. Berkat itulah usahanya bisa terevaluasi hingga tumbuh. Dia menyebut inspirasi, inovasi, kualitas produk. Ini semua didasarkan reaksi pengusaha terhadap lingkungan, ya termasuk dari keluhan mereka. Saat itu tahun 2004, keluhan datang dari seorang pelanggan bernama Ima, yang baru pulang dari berangkat haji.

Susahnya membuka dan memasang kaos kaki saat berwudhu membuat ide bisnis. Ia akan menciptakan saja kaos kaki wudhu. "Ada kaos kaki yang bolong gak? Jadi, kalau wudhu kaos kakinya gak perlu dilepas," kata Aman menirukan. Aman tidak membuang waktu merencanakan produk tersebut di dunia nyata. Pria asli Bandung, kelahiran 15 Januari 1982 ini, lantas melakukan serangkaian uji coba.

Kaos kaki Islami


Kaos kaki yang nyaman meski dipakai berwudhu sekalipun. Di tahun 2007, lahir lah produk bernama kaos kaki praktis, sayangnya nama tersebut kurang "ngeh" sehingga tidak laku. Sampai ia memutuskan memakai nama "kaos kaki wudhu". Inilah awal naiknya usaha miliknya kembali setelah sempat turun karena peniru- peniru produk Al- Aman.

Intinya kaos kaki dirancang sedemikian rupa hingga ada lubang di telapak kaki. Jelasnya, tinggal dilipat saja ke atas ketika mau mengambil wudhu. Sukses kaos kaki wudhu lantas dipakainnya brand kaos kaki Soka. Perusahaan mampu menghasilkan 12 ribu pasang setiap pemasanannya. Jika musim haji tiba maka akan naik sampai 3- 4 ribu lusin kaos kaki.

Jumlah sebanyak itu berkat para distributor, khususnya dari luar negeri, ya perusahaan Aman telah sukses di luar negeri menjual sampai Singapura dan Malaysia. Dua distributor saja sudah mampu sampai ke Kota Suci Mekah. "Saya dapat kabar dari teman yang pergi haji ke Mekah. Mereka melihat kaos kaki Soka sudah ada di sana," tututnya bangga.

Meski jumlahnya tidak banyak tetapi menjadi kebanggan sendiri. Tidak cuma musim haji, tren dari kaos kaki Soka bahkan tumbuh sejalan tren hijab, dan pada akhirnya kaos kaki Soka menjadi kaos kaki muslimah. Ya dimana banyak wanita mengenakan kaos kaki biar gampang ber- wudhu. Lalu di dunia haji, nama kaos kaki Soka juga memiliki tempat tersendiri yakni kaos kaki haji.

Aman senantiasa optimis meski usahanya mendapat masalah. Meski usaha perdana tetapi bisa langsung dia bikin sukeses, habat! Aman bahkan tercatat memiliki berbagai perusahaan bisnis, yakni ada PT. Mitra Niaga Internasional (MNI), PT. Soka Cipta Niaga (SCN), CV. Al- Amin, CV. Amini Sejahtera. Perusahaan kaos kaki tersebut memilik basis 55 distributor serta 144 agen tersebar di Indonesia dan luar.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kaos Kaki Indonesia (APKKINDO) juga menjadikan ini ajang dakwah agar memudahkan kaum muslimin. Ia ingin kaum muslimin menutup aurat memakai pakaian yang nyaman. Lantas lewat distributor dan keagenan bisa dijadikan ladang Muamalah olehnya. "..menguntungkan dunia dan akhirat," tutup ketua III Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini.

Biografi Priyo Hadisusanto Tionghoa Tanpa Jarak

Pengusaha Pemilik Jajanan Taro



Meninggalnya pimpinan Tiga Pilar Sejahtera memberikan perasaan sendiri. Pasalnya, sejak lama penulis ingin menulis kisahnya, tepat setahun lalu dia berpulang ke sisi Tuhan. Banyak yang menangisi kepergiannya seperti sang Istri, Tanti Inge Sutanto, dalam ruang persemayaman yang dihiasai dekorasi warna ungu. Sang istri saat itu terlihat tegar menerima ucapan belang sungkawa.

Seperti  artikel di Soloblitz, seklumit sosok Priyo memang dikenal bersahaja, hingga tidak tercatat- catatan buruk di masa hidupnya. "Kalau ada Pak Priyo itu suasana jadi cair, banyak joke," tutur Achmad Purnomo, Wakil Walikota Solo. Salah satu pendiri PT. Tiga Pilar Sejahtera Food ini memang tidak pernah marah. Dia selalu ramah termasuk kepada karyawannya sendiri.

Meski kaya raya tetapi suka beramal. Meski keturunan Tionghoa, ketika masa kerusuhan 98, usaha miliknya selamat dari amukan masa. Sang keponakan, Budhi Istanto, menjelaskan sang ayah memilih berbicara halus. Meski dalam kemarahan hanya akan dipanggil dan diingatkan baik- baik. "Selama mengenalnya tak pernah Bapak menunjukan kemarahan," jelasnya.

Dia selalu memberikan wejangan. Priyo selalu mengingatkan ketika berbisnis harus mengedepankan pikiran positif. Jangalah iri kepada kesuksesan orang lain menjadi kunci.

Pengusaha mandiri


Tiga Pilar Sejahtera Food awalnya merupakan bisnis milik ayah Priyo. Sosok Tan Pia Sioe, memulai usaha sejak 1959, usaha pertamanya adalah pabrik pembuatan bihun jagung di Sukoharjo, Jawa Tengah. Produk pertama perusahaan ini adalah produk bihun bermerek Cangak Ular. Lantaran tidak bisa berbahasa Jawa, maka Priyo lah yang maju didepan untuk berkomunikasi denga para karyawan.

Tanpa disadari kelebihan Priyo bisa menjadi senjata sendiri. Berkat itu, ia memiliki andil besar menjadi satu penghubung dengan karyawan. Lewat kamampuan melihat budaya lokal jadilah dirinya presiden direktur. Di tahun 1978 tepatnya, Tan Pia Sioe meninggal, digantikan sang putra melanjutkan usahanya. Waktu itu nama Tiga Pilar Sejahtera (TPS) baru muncul di tahun 1992, dimana presidennya Stefanus Joko Mogoginta.

Stefanus Joko sendiri merupakan putra dari Priyo Hadisusanto. Kembali ke sebelum digantikan sang putra, jauh disaat masih sekolah dasar, Priyo telah dikenal memiliki intuisi bisnis tinggi. Dia rajin membantu bisnis milik keluarga. Ia terlahir dari pasangan Tionghoa, yang merintis usaha makanan di Sukoharjo. Sebagai satu keturunan Tionghoa asli Sukaharjo; Priyo bangga.

Karena dia mendapatkan pengalaman berbahasa Jawa aktif. Alhasil dia dikenal bisa berbahasa Mandarin juga berbaha Jawa. Ini sangatlah membantu ketika memulai usahanya sendiri kelak. Digunakannya bahasa Mandarin sebagai bahasa Internasional. Sementara ketika bersosialisasi terutama kepada karyawan maka dia menggunakan bahasa Jawa baik.

Mental berbisnis muncul tanpa pendidikan khusus. Naluriah, dia memilih berkawan dengan karyawan di pabrik, bahkan dia tidak pulang ke rumah tinggal bersama tiga adik perempuannya. Kemampuan berinteraksi inilah menjadi andalah Priyo dan Tiga Pilar Sejahtera sendiri merintis. "Dari situlah saya bisa belajar budaya Jawa, mulai bahasa hingga budayanya," ujar Priyo.

Jadilah dia menjadi perantara tumbuh pesat usaha Tiga Pilar Sejahtera. Layaknya sudah menjadi pengusaha profesional, dia sudah berkeliling berbisnis menjajakan produk. Dia berkeliling sampai ke Solo, Yogyakarta, Semarang, Pekalongan, Cirebon, Tegal, Jakarta dan berbagai kota lain. Priyo membantu menjajakn mie itu keliling.

"Ya pokoknya nyetori dari pasar satu ke pasar lainnya," kenangnya.

Meski sadar anak pengusaha, dia sama sekali tidak merasa risih menjajakan sampai ke pedagang tradisional. Justru dia mengaku sangat senang bisa bersahabat dengan para pedagang pasar itu. Ia sadar mereka lah yang menentukan jalannya usaha milik kedua orang tuanya.

Usaha milik sang ayah bermetamorfosi ditangannya. Menjadi PT. Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food.tbk sejak tahun 1992. Produknya meliputi aneka biskuit, mie, dan lainnya. Priyo sudah berumur 28 tahun ketika sang ayah meninggal. Dia diserahi tugas berat membesarkan perusahaan menjadi besar. Tetapi dia telah berhasil lebih dari itu, menjadi perusahaan multi- nasional.

Perusahaan yang berpusat di Jalan Raya Solo- Sragen Km16, Desa Sepat, Masaran, Sragen, menurut Priyo kapasitar produksinya telah mencapai 70.000 ton mi kering, 20.000 ton bihun kering, 1 juta bungkus mi instan, 3.500 ton permen dan 30.000 ton biskuit.

Dia sukses membesarkan nama produk turunan Cangak Ular sampai ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Australia, Timur Tengah, dan Amerika Srikat. Ciri kesuksesan seorang Priyo adalah kepercayaan akan potensi lokal. Ambil contoh produk permen asam, yang sukses lokal, dan bisa sampai ke luar negeri semua berkat bahan lokal.

"...permen asam, di luar negeri luar biasa permintaanya, karena rasa dari bahan lokal ini memang khas; tidak ada di sana," ujar Priyo.

Priyo memang pandai melihat kelebihan disekitar. Dalam mengembangkan bisnis pun berasa seperti karakter Semar. Dia mengibaratkan Semar,"...mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bersama." Tiga pilar sendiri memiliki arti sendiri; mengingat Tuhan, selalu bersosialisasi sesama, bersyukur kepada pemberi kehidupan.

Meski sukses merebut pasar impor, tetapi tetap, dia berprinsip lebih menekankan kepada pasar lokal. Dia ingat betul dan bersyukur kepada jasa pasar- pasar tradisional. Priyo mendukung majunya pasar termasuk di Kota Solo sendiri. Kebijakan pembatasan minimarket didukungnya, meski banyak produk Priyo terpajang rapi disana.

Sejak tahun 2001, Tiga Pilar Sejahtera Food sudah menggarap pangsa mie kering. Tetapi mereka juga masih mengolah mie bihun jagong loh. Dua tahun kemudian mereka berekpansif melalui akusisi perusahaan. Kala itu, pemegang jabatan direktur utama bukan lagi Priyo. Sang putra, Stefanus Joko Mogoginta, menggantikan tetapi masih Priyo, masih bekerja dibalik layar perusahaan hingga akhir.

Waktu itu, tahun 2003, TPS mengakuisisi perusahaan mie kering "Ayam 2 Telor" itu, ataupun PT. Asti Inti Selera (AISA). Nama perusahaan akhirnya tercatat dalam bursa mengikuti AISA. Maka tercatat lah nama perusahaan Tiga Pilar Sejahtera Food menjadi AISA di bursa. Usaha berjalan biasa- biasa saja semenjak akuisisi pertama tersebut.

Masuk tahun 2007, AISA berekspansi lebih giat, karena mampu meraup dana lewat saham sebesar Rp.327 miliar. Uang tersebut digunakan mengakuisisi tiga perusahaan sekaligus, yakni PT. Poly Meditra Indonesia (PMI); PT. Bumi Raya Investindo (BRI), dan juga PT. Patra Power Nusantara (PPN).

PMI merupakan perusahaan makanan ringan seperti biskuit, wafer, mie, dan permen. Sementara BRI juga PPN adalah perusahaan dibidang sawit dan listrik milik sendiri. Otomatis ini membuat perusahaan bisa hemat karena kebutuhan pengolahan tertangani mandiri. Alhasil pula, perusahaan bisa menjual produk makanan di angka kecil sesuai kantong masyarakat umum.

Tahun 2010, AISA mengakuisi lima perusahaan perkebunan sawit, semua untuk memenuhi kebutuhan dari BRI berproduksi. Tidak berhenti, langkah selanjutnya oleh AISA, adalah mengakuisisi perusahaan dagang beras, dan juga satu perusahaan penggilingan gabah petani. Jadilah jalan bagi perusahaan menjadi produsen beras yang menguasai 5% pasar lokal.

Di tahun yang sama, perusahaan mengeluarkan aneka produk makanan ringan. Sejalan perusahaan besutan Priyo akhirnya mengakuisisi salah satu merek jajanan terkenal itu, yaitu mengakuisis merek dagang Taro dari asalnya Unilever Indonesia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba