Bisnis Cheese Cake Dalam Toples Instagram

Profil Pengusaha Cheese Cake 


bisnischeesecake.png
 
Bisnis cheese cake dalam toples menguntungkan. Kisah pengusaha Instagram memilih keluar dari pekerjaan mapan. Mereka ingin memulai entrepreneurship. Meski begitu harus punya landasan kuat untuk itu. Tidak bisa tiba- tiba berhenti bekerja begitu saja. 
 
Seperti kisah Selly, wirausahawan muda yang dulunya adalah pegawai perusahaan iklan. Awal mula dari perasaan tidak enak menjadi pegawai super sibuk. Dia merasakan betul tidak bisa bersantai, tidak bisa menjakan diri padahal itu mudah.
 

Pengusaha Instagram


Pengusaha kue cheesecake cantik dalam toples ini. Memulai landasan dari perasaan tersebut, perasaan kenapda tidak bisa bersantai merawat sendiri. Dia pernah bekerja di perusahaan iklan dimana deadline adalah makanan. 
 
Tekanan besar membuat Selly berpikir ulang. Dia memilih resign dan jadi ibu rumah tangga saja. Menurut ibu muda satu ini sebenarnya memanjakan diri sangat mudah. Itu tidak melulu harus ke tempat tertentu. 

Cukup makan- makanan manis saja sudah bisa kok. Hanya saja, saking sibuknya menjadikan hal tersebut menjadi sangat sukar sekali. Butuh inovasi menurutnya agar lebih mudah dilakukan. Jadilah bisnis bernama Treat Inc yang kemudian semakin berkembang pesat. 
 
Upaya untuk membantu orang merasakan makna dari memanjakan diri.

"Miris saja ngeliat orang di Jakarta sibuk banget dan nggak punya waktu nge-treat diri sendiri, mikirnya ribet, padahal treat itu mudah banget, dengan makan yang manis-manis, makan makanan yang enak-enak, itu sudah menghargai," jelas Selly kepada Detik.com.


Bersama seorang teman Amelia (29 tahun) memulai Treat Inc. Bisnis membuat cemilan manis dan sehat juga terjangkau. Adalah cheese cake dalam toples yang praktis dinikmati dimana saja. Makanan kelas premium yang bisa dinikmati siapa saja. Bahan- bahannya juga sehat dan mudah. 
 
Cocok buat segala jenjang usia dari anak- anak sampai tua. Dia telah menemukan caranya bagaimana memanjakan diri. Cheese cake yang tediri dari 8 pilihan rasa. Rasa cheese cake original, oreo, chocochips, M&M, greetea, ovomaltime, blueberry dan raspberry. 
 
Itu juga dibuat fresh baru dibuat ketika dipesan. Akan dikirim sehari itu juga dibuat atau dia menjelaskan kamu akan dapat keesokan harinya. Selly sendiri tidak memutuskan berhenti akan mimpinya. Dia bahkan berencana akan membuat treat lain. 
 
Makanan lain yang mudah dibawa dan enak dinikmati siapa saja. Dia juga membuka konsep reseller buat kamu. Saat ini memang masih di Jakarta tapi sudah punya konsep akan sampai ke Bali dan Jawa. Bisnis cheese cake dalam toples, baru beberapa pekan dimulai sejak itu sudah menjual 200 toples. 
 
Dimana ia mengaku omzetnya mencapai Rp.3 juta/minggu. Harga tergantung rasa serta lama pengiriman langsung yaitu seharga Rp.25-32 ribu. Jika kamu berminat cukup kunjungi online store nya lewat Instagram @treat_inc.

Dulu TKI Sekarang Pengusaha Pemilik CV Bandeng

Profil Pengusaha Maidah Dahmalia


macam- macam olahan bandeng
 
Dulu TKI sekarang pengusaha pemilik CV usaha. Sejak awal wanita tersebut terbiasa bekerja dalam ruangan. Sebagai mantan TKI, dulunya bekerja sebagai buruh pabrik baterai di Malaysia. Dua tahun masa kontrak dia kembali ke Indonesia. 
 
Lantas apa yang bisa dilakukannya untuk bertahan hidup sekarang. Masa itu dia tinggal di Serang, Banten, perihatin melihat bagaimana bandeng berlimpahan. Di 2000 -an, bandeng begitu berlimpah belum tersentuh variasi, "...saya pikir ikan bandeng yang banyak ini harus dimanfaatkan," tuturnya.
 

Pengusaha Pemilik CV


Midah Dahmalia kemudian menyulap bandeng menjadi sate. Memang sudah menjadi makanan khas Serang kalau sate bandeng. Selanjutnya pengusaha ini membuat aneka olahan bervariasi, seperti ada nuget, abon, pangsit, kerupuk tulang bandeng, kerupuk bakso ikan, bandeng basah, sampai telur ikan.

Bersama bisnis CV. Bilvie. Modal awalnya Rp.2 juta, ikan bandeng didapat dari tempat budidaya setempat. Tahun 2013 menjadi awal titit kewirausahaannya. Sempat mau hutang bank, namun tidak jadi karena takut tidak bisa bayar karena usahanya masih kecil.

Menjadi pengusaha oleh- oleh tidak membuat dia lupa asal. Midah memberdayakan para TKI yang sudah pulang kampung. Membuat sebuah sentra produksi bersama dengan pengawasan dia. Sebuah bentuk solidaritas karena memang sulit mendapatkan pekerjaan kalau sudah pulang kampung.

Dari Serang, Pandeglang, Rangkasbitung, hingga daerah lain sekitar Serang. "Habis gimana kalau mereka pulang kampung kadang kehabisan uang," jelas Midah.

Tidak jarang mereka yang sudah mantap, kemudian memisahkan diri dari kelompok binaan Midah, dan akhirnya membangun usaha sendiri. Dia tidak menganggap itu sebagai apa. Pada prinsipnya dia senang jika rekan- rekannya ini menemukan pendapatan mereka sendiri tanpa bekerja keluar negeri.

Midah sendiri tidak sendirian mengembangkan usaha. Ada pihak kementrian kelautan yang menjadi pembina usahanya. Pihak KPP, mengundah Midah sampai ke Malaysia untuk mengikuti bazar UKM, dimana dia bercerita produk olahan miliknya langsung ludes ketika dipasarkan di sana.

Namun begitu, walau laris manis, ternyata untuk pasar ekpor ke Malaysia masih kecil. Midah sendiri tidak menampik program kala itu sebagai "icip- icip". Meskipun begitu dirinya masih yakin. Apalagi kalau produk turunannya tidak umum, produk abon bandeng jadi terlaris ketika disajikan di bazar.

Bisnis Cemilan Kacang Oven Pengusaha Brusli

Profil Pengusaha M. Burhanuddin Rusli


jualan kacang brusli

Pengusaha Brusli atau Kacang Brusli begitu enak. Bisnis cemilan kacang oven ternyata menjanjikan. Ia
menjadi pengusaha lantaran mengikuti jejak orang tua. Inilah kisah Muhammad Burhanuddin Rusli, pria asal Surabaya, Jawa Timur, sukses merintis bisnis kacang oven. 
 
Bisnis tersebut diberinya nama Kacang Brusli. Produk kacangnya sukses dipasarkan ke beberapa kota di Jawa Timur. Sebelum menjadi pengusaha, ia adalah seorang guru di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Surabaya, dan sangat ingin mandiri. 
 
Karena keinginan kuat untuk menjadi pengusaha, maka dia mantab berganti profesi. Dia menjelaskan bukanlah kebetulan dirinya memulai usaha kacang tersebut.

Pengusaha Cemilan


Bisnis kacang bawang tersebut dimulai sang ibu. Rusli kecil terbiasa membantu ibunya produksi kacang bawang. Lantas dia aplikasikan bisnis kacang tersebut kembali. Namun bedanya kalau Rusli memilih memproduksi kacang oven.

"Saya sengaja memilih kacang oven karena lebih praktis," tuturnya.

Kalau kacang bawang kan minyaknya banyak, susah buat dikemasnya. Kacang Bursli namanya sudah tersohor sebagai oleh- oleh Kota Surabaya. Bukan cuma wisatawan lokal tetapi juga wisatawan asing yang mampir mencicipi produk kacangnya.

Menyebar melalui sistem keagenan, kacang Brusli dijual di Jakarta, Balikpapan, Malang, dan kota lainnya. Bapak dua anak ini bahkan mampu menjual sampai ke Malaysia, Dubai, dan Hong Kong. Ia menjual sacara online melalui berbagai platform eCommerce.

Dia sudah menjalin kerja sama dengan 40 agen tersebar. Kalau yang dari luar negeri biasanya pakai ambil sendiri atau bisa dititipkan teman. Pengusaha 29 tahun ini mengaku, bisnisnya tidak menyasar segmen menengah bawah, karena tentu akan mematikan pasaran masyarakat biasa.

Untuk itu dirinya mengemas kacang Brusli sebagai produk premium. Tujuannya menyasar pasar kelas menengah atas dan terbukti berhasil. Cita rasa pun disesuaikan agar tidak mengecewakan. Dia menjual satu bungkusnya Rp.25.000 ukuran 222gram.

Varian rasanya asin, manis, dan pedas asin. Sebulan pengusaha muda satu ini memproduksi 2.000- 3.000 bungkus. Saat lebaran produknya bisa meningkat sampai tiga kali lipat. Pemenang wirausaha muda 2010 ini, menyebutkan dalam sebulan penjualannya rata- rata Rp.75 juta.

Dari bahan baku sampai proses pembuatan, dia mendapatkan omzet sampai 50%, marginya tentu bisa lebih besar namun kenaikan BBM cukup membebani.

Bisnis Rusli tidak instan langsung sukses. Kacang oven miliknya sudah diuji coba resepnya dulu. Ada tujuh kali uji coba resep sampai sukses dipasarkan. Alasannya adalah agar mencapai produk yang berkualitas. Bahan baku dia bekerja sama dengan beberapa pemasok untuk bahan baku.

Bisnis Kacang Oven

 
Cara pertama penjualan kacang Brusli melalui sistem titip. Dia menjual ke toko- toko kue, oleh- oleh, tetapi tidak berhasil mendongkrak penjualan. Memang waktu itu dia masih menggunakan peralatan sederhana, mulai dari mesin vakum, kemasan juga sederhana dan hasilnya jadi cepat melempem.

Sempat berputus asa, jualannya tidak laku, Rusli lantas banting stir bejualan kebab. Memang kala itu masih trennya usaha kebab. Tahun 2008 itu lahir bisnis kebab bernama D'Brusli Kebab. Tidak mau dipandang ikut- ikutan maka Rusli juga menjajakan burger, hotdog, nachos,dll.
 
 Setahun berbisnis dia lantas menawarkan kemitraan untuk kebabnya. Diperjalanan kemitraan tersebut gagal karena mitra tidak mau mengikuti manajemen dia tetapkan. Meski gagal tiga kedai miliknya masih berjalan sebagai investasi.

Tahun 2010, dia kemudian mengikuti sebuah pameran usaha mikro, disinilah awal mula Rusli buat kembali menawarkan produk kacangnya. Lewat berbagai perbaikan bisnis kacang Brusli mulai lagi. Jadilah produk kacang Brusli menarik perhatian pembeli di acara tersebut.

Dia mulai lagi membuka keagenan. Kemudian memanfaatkan media digital buat berpromosi. Buat produksi sudah tidak lagi sederhana. Rusli menyisihkan biaya untuk membeli mesin vakum. Maka dengan kemasan vakum kacangnya dapat bertahan empat bulan.

Meskipun sempat dipandang akan mengalami kegagalan. Nyatanya bisnis kacang Brusli semaki baik prospeknya. Sambil jualan kacang, Rusli masih mengurus usaha kebabnya, dan melakukan aktifitas pelatihan kewirausahaan.

Ketatnya perasaingan bisnis kuliner memang tidak dipungkiri. Ia sendiri menganalisa tersebut, jadi banyak hal dilakukan olehnya. Aneka inovasi dilakukan untuk menghadapi produsen kacang sekala besar. Ada varian rasa baru kacang Brusli yang siap diluncurkan.

Tidak mudah mencari konsumen memang. Dia mengelola baik hubungan dengan konsumen. Promosi juga tidak berhenti. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini, melakukan promosi yang gencar dan tidak lupa mengikuti aneka pameran di luar kota.

Promosi digital sangat membantu bisnis Rusli. Apalagi jaman sekarang orang lebih memilih buat belanja online. Meski begitu, dia tetap tidak melupakan bisnis offline, maka Rusli bertekat membuka gerai tinggal mencari tempat yang cocok buat usaha kacangnya.

Sistem keagenan dipatoknya biaya Rp.1,5 juta/agen. Maka agen akan mendapatkan produk senilai Rp.1 juta. Tidak cuma berhenti di kebab, burger, dan kacang Brusli, yang dikemasnya dalam bisnis bernama D'Brusli Cafe. Dia masih berpikir untuk membuka bisnis minuman kesehatan Isajenik.

Produk ini difokuskan Rusli untuk mereka wanita yang mau menurunkan berat badan. Karena dia liat produk minuman diet tengah digemari. Tidak ada hambatan berarti dalam bisnis Rusli. Semuanya ia siapkan dan siap diluncurkan.

"Sebenarnya ini produk luar negeri, cuma kita kombinasikan dalam negeri," paparnya.

Prospek Slondok Renteng Bisnis Kuno

 Profil Pengusaha Purwanto


prospekslondok.png

Prospek slondok rentang adalah bisnis kuno. Usaha Pak Mul ini memang sudah ada sejak lama. Syukur ada internet mebawa namanya semakin terlihat. Mulai sangat terkenal semenjak becana Merapi 2010. Usaha ini yang sebenarnya sudah ada sejak tahun 1960. 
 
Waktu itu masih dikerjakan oleh kakeknya, kini mulai gencar dipasarkan kembali oleh sang generai ketiga. Dialah Purwanto yang memasarkan kembali slondok renteng itu kembali.

Prospek Bisnis

 
Meski di era modern, soal cara pembuatan dan bahan- bahan slondok masih dipertahankannya. Ia menyebut agar cita rasa tidak berubah. Memang secara cita rasa memang khas sekali. Agar ciri khas yang membuat ini menarik semakin diperjelas. 
 
Tetap dipertahankan berenteng- renteng seperti dulu. Meski sekarang sudah ada pembungkus plastik. Purwanto tetap merentengnya dalam satu ikatan.

"Jadi kenapa dinamai slondok renteng? Dulu saat jualan kanjarang ada plastik. Jadi kakek menjualnya dengan direnteng memakai ikatan bambu," tutur Purwanto prospek slondok rentang

Sudah setengah abad umurnya dan masih terjaga. Dan kini, kuliner legendaris, bisnis kuno ini siap mengguncang selera kamu. Purwanto menyebut proses pembuatan slondok renteng masih sama. 
 
Terjaga mulai dari pemilih bahan baku singkong, pengkukusan, dan kemudian dimasukan ke mesin penggiling. Dibutuhkan setidaknya dua hari untuk proses pembuatannya.

Purwanto mengambil singkong langsung dari petani di Turi. Cuma dibumbui bawang putih dan garam. Tanpa ada penyedap rasa sudah siap slondok singkong. Untuk mengawetkan jajanan ini dibutuhkan sinar matahari panas. 
 
Dijemur sampai benar- benar kering, baru dipelintir- pelintir sampai membentuk cincin, "Lalu dikemas dan digoreng," jelasnya kepada Sindonews.

Jika dijual perenteng harganya Rp.11.000/bungkus berisi 30 renteng. Sementara kalau kamu membeli tidak direnteng seharga Rp.22.000/kg. Penjualan sendiri tidak ada di warung atau toko oleh- oleh. Purwanto pun mengajak ke Boyong, RT 01/10, Hargobinangun, Pakem, Sleman. 
 
Atau, kalau kurang paham, masuk ke arag barat menuju Museum Gunung Merapi. Lewat museum itu berjalanlah sekitar 100 meter atau tanyakan orang. Pamor slondok renteng ini yang makin beken. Bahkan mampu menarik pemilik toko oleh- oleh rela datang. 
 
Banyak sekali pesanan mendatangi Purwanto di rumahnya. Toko oleh- oleh Yogya sudah hafal betuk karena sudah sering mondar- mandir. Meski tempatnya agak tersembunyi, tetap saja berbondong- bondong mereka datang. 
 
Selain pemilik toko oleh- oleh, adapula rombongan wisata atau anak SD yang tertarik untuk melihat langsung. Mereka ingin melihat langsung cara pembuatan. Udah banyak, ada juga rombongan wisatawan atau anak sekolah kesini untuk sekedar melihat langsung proses pembuatannya," ceritanya lagi. 
 
Meski mereka juga jadi mengetahui cara pembuatannya bahkan resepnya. Purwanto mengakut tak pernah khawatir. Prinsip dipegang olehnya, "Tongseng saja dengan bumbu yang sama, tapi pembuatnya berbeda, rasanya juga berbeda," jelas Purwanto lagi.

Prospek Bisnis Kuno


Purwanto pemilik slondok renteng Pak Mul merasakan betul. Merasakan betul dampat cepatnya informasi tersebar lewat internet. Meski tidak secara spesifik memasarkan produknya. Dalam waktu beberapa tahun belakangan penjualan slondok naik. 
 
Ia mengaku naik sampai 10 kali lipat. Kalau biasanya Purwanto cuma bisa membuat 10- 20 bungkus. Kini, slondok yang diproduksi di Dusun Boyong, RT 01/10, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, telah memproduksi 70- 100 bungkus. 
 
Banyak wisatawan berkunjung dan membelinya ketika melewati Kaliurang. Mereka wisatawan Kota Yogyakarta pasti akan menyempatkan mampir. Purwanto menyebut peningkatan siginfikan ada di bulan Ramadhan. Jika biasanya membutuhkan 2 kuintal bahan singkong naik jadi 20 kuintal plus 5kg.

Tidak cuma slondok renteng Pak Mul yang ada di Sleman. Purwanto bersama warga satu kampunya tengah mencoba berkolaborasi. Bersama warga Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, mencoba bekerja sama di bidang kuliner khas bertema "Parsel Lereng Merapi". 
 
Lewat parsel- parsel anyaman bambu cantik yang siap diisi aneka jajanan khas. Inilah cara terbaru meningkatkan brand khas jajanan lokal.

Apa saja bisa didapat dari satu parsel?

Ada jajanan ampyang, susu bubuk kambing ettawa, kopi khas yang ditanama di lereng merapi, peyek, madu, jamu godok, dan banyak lagi. Dan, yang paling menarik perhatian apalagi kalau bukan bisnis slondok renteng. 
 
Purwanto selaku pemilik slondok renteng Pak Mul menyebut ini cara baru. Menawarkan paket sekaligus menaikan nama Sleman. Parsel sendiri dibandrol seharga Rp.250- 500 ribu. Ini belum termasuk ongkos kirim.

Djemi Lassa Pengusaha Komputer Bekas Kupang

Biografi Pengusaha Djemi Lassa


pengusahakomputer.png
 
Biografi Djemi Lassa berkesempatan menceritakan kisah suksesnya. Dia pengusaha komputer bekas Kupang, tetapi apa hanya itu. Melalui satu wawancara ekslusip Pos Kupang. Dia adalah anak seorang pengusaha. 
 
Sayangnya, sang ayah sebagai kepala keluarga harus menanggung bangkrut. Ini membuat nasib Djemi sebagai salah satu yang tertua di keluarga. Putra kedua pasangan Alexander Lassa dan Ny. Domina Julianan Ang ini, akhirnya ikutan bekerja.
 

Pengusaha Komputer Bekas


Nyemplung mengerjakan aneka macam pekerjaan. Dia bahkan tidak punya masa kecil. Dalam ingatan itu cuma masa kecilnya tidak terlalu menyenangkan. Jangan salah, meski tidak terlalu menyenangkan, Djemi mengaku ini sangat menyenangkan. 
 
Ia membentuk karakter itu sendiri. Lewat aneka pekerjaan dari berjualan kue, mendorong kereta, dan membuat batako. Ini merupakan palajaran seorang Djemi Lassa sampai sekarang. Dia menjadi sosok pengusaha yang tangguh. 
 
Siapa sih yang tak mengenal pengusaha komputer bekas asal Kupang ini. Pendiri Timorese Group, yang beralamat di Jalan Tom Pello- Kupang, memulai dari bisnis komputer bekas menjadi aneka lini bisnis. Kisah sukses orang berbeda- beda. Ada yang harus bekerja sangat keras sepertihal Djemi dulu.

"Masa kecil saya tidak terlalu bagus. Dalam arti begini, waktu itu papa saya memiliki usaha, tapi bangkrut. Jadi saya ikut kerja membantu keluarga," buka Djemi. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, membuat Djemi kecil jadi ikut menanggung beban keluarga. 
 
Dia tidak mengeluh. Semua dijalaninya sebagai anak berbakti kepada orang tua. Apa pekerjaan Djemi kecil itu berganti- ganti. Kebanyakan ikut membantu usaha kedua orang tuanya. Ayahnya akhirnya menjadi petani dan tukang kayu, dan Djemi siap membantu sang papa sebisanya.

Papa Djemi bekerja menjadi pencari pohon untuk ditebang diambil kayunya. Tak jarang, ia ikut membantu angkat- angkat kayu. Djemi kecil juga membantu memikul beberapa potong kayu. Dipikulnya itu dibawa ke pinggiran hutan atau tidak jarang sampai pinggiran jalan. 
 
"Anda bisa bayangkan, saya memikul kayu di hutan, jalan jauh bahkan mungkin berkilo- kilo meter," tuturnya. Selepas itu truk akan mengangkut kayu- kayu tersebut.
 
Dia bercerita karena pekerjaan itu. Djemi pernah sekali terkena malaria karena tinggal satu bulan di pelosok. Ya banyak hal dilaluinya ketika membantu keluarga. Hal lain, dia sering ikut membantu mengusir burung- burung di sawah.

Dia pernah berjualan kue keliling kampung. Djemi berkeliling kampung menawarkan kue bikinan sang ibu ke rumah- rumah. Berjalan kaki beberapa kali Djemi akan berhenti. Dia selalu berharap si empunya rumah akan membeli dagangannya. 
 
Berjualan kue dilakukan sejak kelas IV SD sampai SMP. Menyambung saat masuk bangku SMA. Pekerjaan menjual kue dilakukan pukul 05:00- 06:00 Wita dan disambung ke sekolah.

"Jualan sampai jam 06.30Wita. Setelah itu kembali ke rumah karena harus sekolah. Nah pulang sekolah jual lagi," tambah Djemi.

Dia juga pernah bekerja membuat batako. Pekerjaan ini cuma menghasilkan Rp.100 setiap batako yang bisa dihasilkan.

Sejak kelas II sampai III SMA, Djemi punya cita- cita menjadi dokter. Cuma akhirnya kandas kerena dia paham betul keadaan keluarga. Dia mulai berpikir akan mustahil kalau menjadi dokter. Mama pasti tidak mengijinkan karena ekomoni keluarga. 
 
Karena mama cuma ibu rumah tangga biasa, yang membantu suami lewat membuat aneka kripik dan kue. Kebetulan sang mama memang jago memasak.

Tidak bisa menjadi dokter bukan berarti tidak berkuliah. Pada akhirnya Djemi bisa berkuliah semua berkat beasiswa. Waktu itu ia diterima di Universitas Petra Surabaya jurusan teknik sipil. Masuk di tahun 1996, ia melewati serangkaian test dan mendapat beasiswa penuh. 
 
Meski beasiswa penuh ternyata tidak mencangkup biaya makan. Alhasil, meski kuliah gratis, Djemi harus memutar otak agar bisa makan dan minum.

"Nah, uang makan minum ini dari mana, saya sempat bingung juga karena saat itu ekonomi keluarga kami belum membaik. Tapi saya tetap kuliah, meski setengah mati, mama tetap mengirimkan saya uang Rp 150 ribu perbulan, itu untuk uang penginapan dan makan- minum," kenang Djemi lagi.

Biografi Djemi Lassa

 
Karena itulah pola pikir Djemi berbalik arah. Dia berpikir bagaimana bisa menjadi seorang pengusaha. Jika teman- teman sudah punya masa depan jelas. Selepas menjadi insinyur mereka akan langsung bekerja di kontraktor besar. 
 
Dimana mereka berencana akan mengerjakan proyek- proyek pemerintah. Djemi tidak bisa begitu keadaanya. Hingga di tahun 1997- 1999, ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia, sang dosen sempat berpesan agar dia bersiap menjadi pebisnis. 
 
Pelajarilah aneka jenis strategi bisnis dan rangkumlah. Ketika itu ia tengah mengerjakan tugas akhir bertema manajemen proyek. Mengikuti saran mulailah dipelajarinya bisnis ritel, konsultan, bisnis kontraktor. Dia lantas berkesimpulan bahwa dirinya telah salah jurusan.

Menurut pemahaman kami: maksudnya ialah sang dosen telah membaca arah. Dia telah melihat bahwa bisnis kontraktor sulit dimasa tersebut. Untung, ketika kuliah berjalan, Djemi sempat mengerjakan bisnis seriusnya yang pertama. 
 
Sebelum skripis, ketika pulang kampung ke Kupang naik kapal laut, ia sempat membaca satu iklan di salah satu koran. Yakni iklan seseorang yang menawarkan komputer bekas seharga Rp.1 juta.

"Saya berpikir, wah... ini komputer kayaknya bisa dijual di Kupang," jelasnya.

Djemi lantas meminjam uang kepada kakaknya. Uang tersebut cuma cukup dibelikan satu buah komputer bekas. "...jadi saya beli satu unit dan bawa ke Kupang. Di Kupang saya tawarkan kepada kawan-kawan, "hai mau komputer"," ujar Djemi menirukan. 
 
Dia ingat betul sambutan dari teman- temanya ternyata positif. Padahal ketika itu harga jual komputer bekas itu menjadi Rp.2 juta.

Masalah utama berbisnis komputer bekas ada di jarak. Dia menjelaskan bahwa stok komputer diambil dari Surabaya. Untuk menghemat biaya, Djemi sendiri berangkat ke Surabaya, dipanggulnya semua komputer- komputer tersebut sendiri. Dia memanggul sendiri menaiki kapal Dobonsolo.

"Saya sendiri yang beli di Surabaya, saya yang pikir sendiri di kapal dan bawa sampai di Kupang. Anda bayangkan, saya pikul komputer ini dalam dos-dos bekas," jelasnya.

Pertama kali memesan dua- tiga unit. Lama- kelamaan naik sampai memesan lima- enam unit. Hasilnya komputer bekas itu menumpuk. Mau- tidak mau Djemi menyewa rumah untuk gudang penyimpanan. Jadilah menyewa rumah di RSS Liliba No D 47.  
 
Sekembali dari Surabaya dibawa lagi 10 unit. Begitu jualan laku, uangnya langsung digunakan untuk memasang iklan. Waktu itu memang masih jarang orang memasang iklan di koran. Waktu itu iklan di koran masih belum ramai. Iklan di Pos Kupang juga belum ada yang berjualan komputer bekas. 
 
Djemi menjadi yang pertama berjualan komputer bekas di koran. Beriklan di koran ternyata cukup sulit. Sambil menjual komputer bekas sambil mengumpulkan uang. Terkumpul uang 20 juta itu setengah mati langsung digunakan kontrak iklan. 
 
Selepas itu mengumpulkan uang Rp.20 juta lagi dan harus keluar lagi buat sewa tempat.

"Waktu saya lihat iklan ada di gedung Percetakan Negara mau di kontrakan Rp 20 juta. Saya punya uang hanya Rp 20 juta, saya sudah tabung setengah mati dan harus kasih keluar lagi," ujarnya.

Uang tersebut cuma berputar- putar untuk bisnis kembali. Dia tidak mau uangnya habis untuk hal- hal tidak berguna. Djemi langsung menggunakan lagi. Begitu seterusnya menjadi pondasi bisnis. Kalau tidak menyewa tempat sendiri maka tidak akan maju. 
 
Kalau tidak beriklan di Percetakan Negara ya tidak bisa menjual lebih banyak. Dikontraklah satu rumah -dua kamar selama dua tahun. Dia mulai berjualan komputer bekas lambat laun menjadi komputer baru.

Dia kontrak iklan di Percetakan Negara selama tujuh tahun sejak 2002. "Kita baru keluar dari situ tahun 2009 lalu," ujar Djemi.
 
Jujur dia tidak paham soal komputer. Cuma satu prinsip bisnis komputer bekas: bisnis ini pasti laku dan bisa dipelajari sendiri. Semasa kuliah juga tidak memegang komputer. Tapi Djemi punya semangat belajar komputer. Dia tidak malu belajar sendiri. 
 
Sampai- sampai harus meminjam komputer milik orang. Dia belajar secara otodidak. Kendati sukses berbisnis, tidak membuat suami Eliyana Wirawan ini, tak lantas jadi besar kepala.

Dia ingat betul kisah perjalanan hidupnya. Ini merupakan anugrah Tuhan YME. Tetap rendah hati dan bicara sopan santun selalu keluar dari mulutnya. "Praise the Lord, usaha yang saya bangun berkembang," ucap syukur Djemi. 
 
Tahun 2002, seorang pengusaha asal Surabaya datang kepadanya. Dia punya masalah dan ia berharap Djemi bisa membantu. Cabang perusahaan di Kupang milik pengusaha itu tengah mengalami masalah.

Cuma di Kupang saja yang ada kendala luar biasa. Usaha bernama Busi Deso lantas diserahkan kepada Djemi. Maksudnya bagaimana jika dirinya menjadi distributor. Perusahaan spare part sepeda motor ini mencoba menawarkan kerja sama. 
 
Secara Djemi merupakan pengusaha putra asli Kupang. "Awalnya saya ragu, tapi saya diyakinkan prospek usaha ini," jelasnya. Awal usaha menjadi distributor memang susah. Tetapi ketika kamu sudah punya pemasaran yang baik, ia pun melanjutkan, ini menghasilkan dan bisa maju pesat. 
 
Pokoknya Djemi tetap optimis menjadi distributor. Awal- awal diambilah distributor Denso, pada enam bulan kemudian, datang tawaran menjadi distributor SKF. Ini ternyata berjalan sangat baik. Dia menjadi distributor produk bering atau leher. Jelasnya produk untuk bagian as roda.

Informasi tambahan bahwa SKF ini digunakan semua motor. SKF juga menyediakan onderdil after market atau setelah lepas dari pabrikan. Ini menjadi onderdil wajibnya toko- toko onderdil motor. Setelah pegang merek SKF, tawaran produk lain mudah berdatangan. 
 
Bahkan jika umumnya produk besar meminta deposit sebelum menjadi distributor. Ini, mereka tidak meminta sama sekali. Semua karena saking besar percayanya mereka. Dari Denso, menjadikan Djemi distributor spare- part terpercaya aneka busi motor, mobil, dan komponen elektrik lain. 
 
Kemudian mendapatkan kepercayaan dari SKF, yang disusul oleh distributor MTR dan di tahun 2007 remsi menjadi distributor ban merek Mizzle asal Swiss. Bisnis SKF berjalan lama mulai di tahun 2004 sampai 2009. 
 
Di tahun 2005, pengusaha ini mendapat kepercayaan menjadi servis resmi printer Cannon data skrip Jakarta. Usaha aneka distributor tak melengahkan. Dia masih fokus di bisnis komputer miliknya. Untuk itulah, selepas segala kesibukan distributor, pada 2005 dibuka lah cabang pertama bisnis miliknya. 
 
Dibawah bender baru yaitu perusahaan bernama Petra Gemilang. Cabang pertama dibuka di Jalan WJ Lalamentik. "Saya bikin dengan konsep berbeda sedikit dengan nama menggunakan nama Petra Komputer," ujarnya.

Kedua usaha Djemi itu berjalan beriringan sejalan. Tahun 2006- 2007, selaku distributor bisa mendapatkan kepercayaan menjualkan ban Wizzle. Meski di Kupang sendiri ban Wizzle telah menjamur. Secara resmi dirinya lah yang mendapatkan hak distributor tunggal. 
 
Meski mereka lebih dulu ada, toh faktanya, hanya Djemi yang akhirnya paling dipercaya oleh perusahaan asal Swiss tersebut. Ini berkat brand yang dibangun sejak lama. Tahun 2009, ia mulai berjualan Vision Notebook di Jalan Lalametik. 
 
Dimana ia mampu menjual 100 unit notebook tersebut dalam satu bulan. Luar biasa memang pengusaha muda satu ini bekerja. Dari penjualan tersebut dari menyewa tempat, Djemi bisa membeli roko tersebut, dan akhirnya memiliki ruko sendiri yang ditempatinya sajak 2008. 
 
Ketika kita melihat latar belakangn, maka banyak orang tidak akan menyangka ini hasilnya. Dia sendiri tak menyadari bisnisnya begitu besar. Mungkin jikalau dilihari dari orang luar memang besar, tapi dirasanya hanya sebuah kenikmatan dan kesenangan. 
 
Semua dijalaninya mengikuti alur membawa arah hidup Djemi Lassa. Banyak orang berkontribusi bagi berdirinya Timorese Group. Ia mengakui hal tersebut. Selain pegawai adapula sosok istrinya yang selalu mendukung. Papah satu orang anak ini kini menjadi distributor tunggal Cannon di NTT.

Mengenang kisah cintanya ketika masa remaja. Ketika remaja dia masih berjualan kue. Bahkan oleh teman- teman Djemi dipanggil "Djemi si Penjual Kue. Nama panggilan yang membuatnya sangat minder, apalagi jika diucapkan dihadapan cewek yang dianggapnya cantik.

"Omong jual kue gini, masa- masa umur kita 13-14 tahun itu masa puber. Jadi malu setengah mati, apalagi ketemu kawan nona. Tapi saya berusaha tidak malu, seperti tadi saya bilang ini proses yang Tuhan izinkan untuk saya melawan rasa malu yang luar biasa," jelasnya.

Djemi tak pernah malu berjualan kue. Ada alasan menyentuh dibalik itu semua. Kenapa mau berjualan kue, karena rasa hormat dan keinginan sang mama untuk menjualkan kue tersebut. Tidak ada kiat khusus soal berjualan kue ini. 
 
Hanya harus siap menahan rasa malu apalagi didepan cewek. Dia modal nekat cuma ingat kata mama, "mama saya bilang saya harus jual kue. Jadi saya juga harus jual kue, jadi rasa malu itu saya lawan sendiri."

Djemi mensyukuri pengalaman menjual kue tersebut. Inilah menjadi tempatnya menempa mental pengusaha. Kalau bertemu beberap teman, sosok Djemi Lassa masih dikenal sebagai si penjual kue. Dia yang pemalu ketika ketauan tengah berjualan. 
 
Dia yang malu- malu ketika bertemu cewek di sekolahnya. Djemi masih sama ketika dia bertemu teman- teman di sekolahnya.

Biografi Djemi Lassa


Nama : Djemi Lassa
Tempat Tgl Lahir : 13 Juni 1977
Jabatan : Presiden Direktur Timorese Group
Pendidikan : SD Inpres Nifuboko-SoE tamat tahun 1990
SMPN I SoE-TTS tamat tahun 1993
SMAN I SoE-TTS tamat tahun 1996
S1 Teknik Sipil-Universitas Petra Surabaya, tamat tahun 2001.
Istri : Eliyana Wirawan
Anak : Kineshia Lassa

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba