Prospek Slondok Renteng Bisnis Kuno

 Profil Pengusaha Purwanto


prospekslondok.png

Prospek slondok rentang adalah bisnis kuno. Usaha Pak Mul ini memang sudah ada sejak lama. Syukur ada internet mebawa namanya semakin terlihat. Mulai sangat terkenal semenjak becana Merapi 2010. Usaha ini yang sebenarnya sudah ada sejak tahun 1960. 
 
Waktu itu masih dikerjakan oleh kakeknya, kini mulai gencar dipasarkan kembali oleh sang generai ketiga. Dialah Purwanto yang memasarkan kembali slondok renteng itu kembali.

Prospek Bisnis

 
Meski di era modern, soal cara pembuatan dan bahan- bahan slondok masih dipertahankannya. Ia menyebut agar cita rasa tidak berubah. Memang secara cita rasa memang khas sekali. Agar ciri khas yang membuat ini menarik semakin diperjelas. 
 
Tetap dipertahankan berenteng- renteng seperti dulu. Meski sekarang sudah ada pembungkus plastik. Purwanto tetap merentengnya dalam satu ikatan.

"Jadi kenapa dinamai slondok renteng? Dulu saat jualan kanjarang ada plastik. Jadi kakek menjualnya dengan direnteng memakai ikatan bambu," tutur Purwanto prospek slondok rentang

Sudah setengah abad umurnya dan masih terjaga. Dan kini, kuliner legendaris, bisnis kuno ini siap mengguncang selera kamu. Purwanto menyebut proses pembuatan slondok renteng masih sama. 
 
Terjaga mulai dari pemilih bahan baku singkong, pengkukusan, dan kemudian dimasukan ke mesin penggiling. Dibutuhkan setidaknya dua hari untuk proses pembuatannya.

Purwanto mengambil singkong langsung dari petani di Turi. Cuma dibumbui bawang putih dan garam. Tanpa ada penyedap rasa sudah siap slondok singkong. Untuk mengawetkan jajanan ini dibutuhkan sinar matahari panas. 
 
Dijemur sampai benar- benar kering, baru dipelintir- pelintir sampai membentuk cincin, "Lalu dikemas dan digoreng," jelasnya kepada Sindonews.

Jika dijual perenteng harganya Rp.11.000/bungkus berisi 30 renteng. Sementara kalau kamu membeli tidak direnteng seharga Rp.22.000/kg. Penjualan sendiri tidak ada di warung atau toko oleh- oleh. Purwanto pun mengajak ke Boyong, RT 01/10, Hargobinangun, Pakem, Sleman. 
 
Atau, kalau kurang paham, masuk ke arag barat menuju Museum Gunung Merapi. Lewat museum itu berjalanlah sekitar 100 meter atau tanyakan orang. Pamor slondok renteng ini yang makin beken. Bahkan mampu menarik pemilik toko oleh- oleh rela datang. 
 
Banyak sekali pesanan mendatangi Purwanto di rumahnya. Toko oleh- oleh Yogya sudah hafal betuk karena sudah sering mondar- mandir. Meski tempatnya agak tersembunyi, tetap saja berbondong- bondong mereka datang. 
 
Selain pemilik toko oleh- oleh, adapula rombongan wisata atau anak SD yang tertarik untuk melihat langsung. Mereka ingin melihat langsung cara pembuatan. Udah banyak, ada juga rombongan wisatawan atau anak sekolah kesini untuk sekedar melihat langsung proses pembuatannya," ceritanya lagi. 
 
Meski mereka juga jadi mengetahui cara pembuatannya bahkan resepnya. Purwanto mengakut tak pernah khawatir. Prinsip dipegang olehnya, "Tongseng saja dengan bumbu yang sama, tapi pembuatnya berbeda, rasanya juga berbeda," jelas Purwanto lagi.

Prospek Bisnis Kuno


Purwanto pemilik slondok renteng Pak Mul merasakan betul. Merasakan betul dampat cepatnya informasi tersebar lewat internet. Meski tidak secara spesifik memasarkan produknya. Dalam waktu beberapa tahun belakangan penjualan slondok naik. 
 
Ia mengaku naik sampai 10 kali lipat. Kalau biasanya Purwanto cuma bisa membuat 10- 20 bungkus. Kini, slondok yang diproduksi di Dusun Boyong, RT 01/10, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, telah memproduksi 70- 100 bungkus. 
 
Banyak wisatawan berkunjung dan membelinya ketika melewati Kaliurang. Mereka wisatawan Kota Yogyakarta pasti akan menyempatkan mampir. Purwanto menyebut peningkatan siginfikan ada di bulan Ramadhan. Jika biasanya membutuhkan 2 kuintal bahan singkong naik jadi 20 kuintal plus 5kg.

Tidak cuma slondok renteng Pak Mul yang ada di Sleman. Purwanto bersama warga satu kampunya tengah mencoba berkolaborasi. Bersama warga Desa Hargobinangun, Pakem, Sleman, mencoba bekerja sama di bidang kuliner khas bertema "Parsel Lereng Merapi". 
 
Lewat parsel- parsel anyaman bambu cantik yang siap diisi aneka jajanan khas. Inilah cara terbaru meningkatkan brand khas jajanan lokal.

Apa saja bisa didapat dari satu parsel?

Ada jajanan ampyang, susu bubuk kambing ettawa, kopi khas yang ditanama di lereng merapi, peyek, madu, jamu godok, dan banyak lagi. Dan, yang paling menarik perhatian apalagi kalau bukan bisnis slondok renteng. 
 
Purwanto selaku pemilik slondok renteng Pak Mul menyebut ini cara baru. Menawarkan paket sekaligus menaikan nama Sleman. Parsel sendiri dibandrol seharga Rp.250- 500 ribu. Ini belum termasuk ongkos kirim.

Djemi Lassa Pengusaha Komputer Bekas Kupang

Biografi Pengusaha Djemi Lassa


pengusahakomputer.png
 
Biografi Djemi Lassa berkesempatan menceritakan kisah suksesnya. Dia pengusaha komputer bekas Kupang, tetapi apa hanya itu. Melalui satu wawancara ekslusip Pos Kupang. Dia adalah anak seorang pengusaha. 
 
Sayangnya, sang ayah sebagai kepala keluarga harus menanggung bangkrut. Ini membuat nasib Djemi sebagai salah satu yang tertua di keluarga. Putra kedua pasangan Alexander Lassa dan Ny. Domina Julianan Ang ini, akhirnya ikutan bekerja.
 

Pengusaha Komputer Bekas


Nyemplung mengerjakan aneka macam pekerjaan. Dia bahkan tidak punya masa kecil. Dalam ingatan itu cuma masa kecilnya tidak terlalu menyenangkan. Jangan salah, meski tidak terlalu menyenangkan, Djemi mengaku ini sangat menyenangkan. 
 
Ia membentuk karakter itu sendiri. Lewat aneka pekerjaan dari berjualan kue, mendorong kereta, dan membuat batako. Ini merupakan palajaran seorang Djemi Lassa sampai sekarang. Dia menjadi sosok pengusaha yang tangguh. 
 
Siapa sih yang tak mengenal pengusaha komputer bekas asal Kupang ini. Pendiri Timorese Group, yang beralamat di Jalan Tom Pello- Kupang, memulai dari bisnis komputer bekas menjadi aneka lini bisnis. Kisah sukses orang berbeda- beda. Ada yang harus bekerja sangat keras sepertihal Djemi dulu.

"Masa kecil saya tidak terlalu bagus. Dalam arti begini, waktu itu papa saya memiliki usaha, tapi bangkrut. Jadi saya ikut kerja membantu keluarga," buka Djemi. Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, membuat Djemi kecil jadi ikut menanggung beban keluarga. 
 
Dia tidak mengeluh. Semua dijalaninya sebagai anak berbakti kepada orang tua. Apa pekerjaan Djemi kecil itu berganti- ganti. Kebanyakan ikut membantu usaha kedua orang tuanya. Ayahnya akhirnya menjadi petani dan tukang kayu, dan Djemi siap membantu sang papa sebisanya.

Papa Djemi bekerja menjadi pencari pohon untuk ditebang diambil kayunya. Tak jarang, ia ikut membantu angkat- angkat kayu. Djemi kecil juga membantu memikul beberapa potong kayu. Dipikulnya itu dibawa ke pinggiran hutan atau tidak jarang sampai pinggiran jalan. 
 
"Anda bisa bayangkan, saya memikul kayu di hutan, jalan jauh bahkan mungkin berkilo- kilo meter," tuturnya. Selepas itu truk akan mengangkut kayu- kayu tersebut.
 
Dia bercerita karena pekerjaan itu. Djemi pernah sekali terkena malaria karena tinggal satu bulan di pelosok. Ya banyak hal dilaluinya ketika membantu keluarga. Hal lain, dia sering ikut membantu mengusir burung- burung di sawah.

Dia pernah berjualan kue keliling kampung. Djemi berkeliling kampung menawarkan kue bikinan sang ibu ke rumah- rumah. Berjalan kaki beberapa kali Djemi akan berhenti. Dia selalu berharap si empunya rumah akan membeli dagangannya. 
 
Berjualan kue dilakukan sejak kelas IV SD sampai SMP. Menyambung saat masuk bangku SMA. Pekerjaan menjual kue dilakukan pukul 05:00- 06:00 Wita dan disambung ke sekolah.

"Jualan sampai jam 06.30Wita. Setelah itu kembali ke rumah karena harus sekolah. Nah pulang sekolah jual lagi," tambah Djemi.

Dia juga pernah bekerja membuat batako. Pekerjaan ini cuma menghasilkan Rp.100 setiap batako yang bisa dihasilkan.

Sejak kelas II sampai III SMA, Djemi punya cita- cita menjadi dokter. Cuma akhirnya kandas kerena dia paham betul keadaan keluarga. Dia mulai berpikir akan mustahil kalau menjadi dokter. Mama pasti tidak mengijinkan karena ekomoni keluarga. 
 
Karena mama cuma ibu rumah tangga biasa, yang membantu suami lewat membuat aneka kripik dan kue. Kebetulan sang mama memang jago memasak.

Tidak bisa menjadi dokter bukan berarti tidak berkuliah. Pada akhirnya Djemi bisa berkuliah semua berkat beasiswa. Waktu itu ia diterima di Universitas Petra Surabaya jurusan teknik sipil. Masuk di tahun 1996, ia melewati serangkaian test dan mendapat beasiswa penuh. 
 
Meski beasiswa penuh ternyata tidak mencangkup biaya makan. Alhasil, meski kuliah gratis, Djemi harus memutar otak agar bisa makan dan minum.

"Nah, uang makan minum ini dari mana, saya sempat bingung juga karena saat itu ekonomi keluarga kami belum membaik. Tapi saya tetap kuliah, meski setengah mati, mama tetap mengirimkan saya uang Rp 150 ribu perbulan, itu untuk uang penginapan dan makan- minum," kenang Djemi lagi.

Biografi Djemi Lassa

 
Karena itulah pola pikir Djemi berbalik arah. Dia berpikir bagaimana bisa menjadi seorang pengusaha. Jika teman- teman sudah punya masa depan jelas. Selepas menjadi insinyur mereka akan langsung bekerja di kontraktor besar. 
 
Dimana mereka berencana akan mengerjakan proyek- proyek pemerintah. Djemi tidak bisa begitu keadaanya. Hingga di tahun 1997- 1999, ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia, sang dosen sempat berpesan agar dia bersiap menjadi pebisnis. 
 
Pelajarilah aneka jenis strategi bisnis dan rangkumlah. Ketika itu ia tengah mengerjakan tugas akhir bertema manajemen proyek. Mengikuti saran mulailah dipelajarinya bisnis ritel, konsultan, bisnis kontraktor. Dia lantas berkesimpulan bahwa dirinya telah salah jurusan.

Menurut pemahaman kami: maksudnya ialah sang dosen telah membaca arah. Dia telah melihat bahwa bisnis kontraktor sulit dimasa tersebut. Untung, ketika kuliah berjalan, Djemi sempat mengerjakan bisnis seriusnya yang pertama. 
 
Sebelum skripis, ketika pulang kampung ke Kupang naik kapal laut, ia sempat membaca satu iklan di salah satu koran. Yakni iklan seseorang yang menawarkan komputer bekas seharga Rp.1 juta.

"Saya berpikir, wah... ini komputer kayaknya bisa dijual di Kupang," jelasnya.

Djemi lantas meminjam uang kepada kakaknya. Uang tersebut cuma cukup dibelikan satu buah komputer bekas. "...jadi saya beli satu unit dan bawa ke Kupang. Di Kupang saya tawarkan kepada kawan-kawan, "hai mau komputer"," ujar Djemi menirukan. 
 
Dia ingat betul sambutan dari teman- temanya ternyata positif. Padahal ketika itu harga jual komputer bekas itu menjadi Rp.2 juta.

Masalah utama berbisnis komputer bekas ada di jarak. Dia menjelaskan bahwa stok komputer diambil dari Surabaya. Untuk menghemat biaya, Djemi sendiri berangkat ke Surabaya, dipanggulnya semua komputer- komputer tersebut sendiri. Dia memanggul sendiri menaiki kapal Dobonsolo.

"Saya sendiri yang beli di Surabaya, saya yang pikir sendiri di kapal dan bawa sampai di Kupang. Anda bayangkan, saya pikul komputer ini dalam dos-dos bekas," jelasnya.

Pertama kali memesan dua- tiga unit. Lama- kelamaan naik sampai memesan lima- enam unit. Hasilnya komputer bekas itu menumpuk. Mau- tidak mau Djemi menyewa rumah untuk gudang penyimpanan. Jadilah menyewa rumah di RSS Liliba No D 47.  
 
Sekembali dari Surabaya dibawa lagi 10 unit. Begitu jualan laku, uangnya langsung digunakan untuk memasang iklan. Waktu itu memang masih jarang orang memasang iklan di koran. Waktu itu iklan di koran masih belum ramai. Iklan di Pos Kupang juga belum ada yang berjualan komputer bekas. 
 
Djemi menjadi yang pertama berjualan komputer bekas di koran. Beriklan di koran ternyata cukup sulit. Sambil menjual komputer bekas sambil mengumpulkan uang. Terkumpul uang 20 juta itu setengah mati langsung digunakan kontrak iklan. 
 
Selepas itu mengumpulkan uang Rp.20 juta lagi dan harus keluar lagi buat sewa tempat.

"Waktu saya lihat iklan ada di gedung Percetakan Negara mau di kontrakan Rp 20 juta. Saya punya uang hanya Rp 20 juta, saya sudah tabung setengah mati dan harus kasih keluar lagi," ujarnya.

Uang tersebut cuma berputar- putar untuk bisnis kembali. Dia tidak mau uangnya habis untuk hal- hal tidak berguna. Djemi langsung menggunakan lagi. Begitu seterusnya menjadi pondasi bisnis. Kalau tidak menyewa tempat sendiri maka tidak akan maju. 
 
Kalau tidak beriklan di Percetakan Negara ya tidak bisa menjual lebih banyak. Dikontraklah satu rumah -dua kamar selama dua tahun. Dia mulai berjualan komputer bekas lambat laun menjadi komputer baru.

Dia kontrak iklan di Percetakan Negara selama tujuh tahun sejak 2002. "Kita baru keluar dari situ tahun 2009 lalu," ujar Djemi.
 
Jujur dia tidak paham soal komputer. Cuma satu prinsip bisnis komputer bekas: bisnis ini pasti laku dan bisa dipelajari sendiri. Semasa kuliah juga tidak memegang komputer. Tapi Djemi punya semangat belajar komputer. Dia tidak malu belajar sendiri. 
 
Sampai- sampai harus meminjam komputer milik orang. Dia belajar secara otodidak. Kendati sukses berbisnis, tidak membuat suami Eliyana Wirawan ini, tak lantas jadi besar kepala.

Dia ingat betul kisah perjalanan hidupnya. Ini merupakan anugrah Tuhan YME. Tetap rendah hati dan bicara sopan santun selalu keluar dari mulutnya. "Praise the Lord, usaha yang saya bangun berkembang," ucap syukur Djemi. 
 
Tahun 2002, seorang pengusaha asal Surabaya datang kepadanya. Dia punya masalah dan ia berharap Djemi bisa membantu. Cabang perusahaan di Kupang milik pengusaha itu tengah mengalami masalah.

Cuma di Kupang saja yang ada kendala luar biasa. Usaha bernama Busi Deso lantas diserahkan kepada Djemi. Maksudnya bagaimana jika dirinya menjadi distributor. Perusahaan spare part sepeda motor ini mencoba menawarkan kerja sama. 
 
Secara Djemi merupakan pengusaha putra asli Kupang. "Awalnya saya ragu, tapi saya diyakinkan prospek usaha ini," jelasnya. Awal usaha menjadi distributor memang susah. Tetapi ketika kamu sudah punya pemasaran yang baik, ia pun melanjutkan, ini menghasilkan dan bisa maju pesat. 
 
Pokoknya Djemi tetap optimis menjadi distributor. Awal- awal diambilah distributor Denso, pada enam bulan kemudian, datang tawaran menjadi distributor SKF. Ini ternyata berjalan sangat baik. Dia menjadi distributor produk bering atau leher. Jelasnya produk untuk bagian as roda.

Informasi tambahan bahwa SKF ini digunakan semua motor. SKF juga menyediakan onderdil after market atau setelah lepas dari pabrikan. Ini menjadi onderdil wajibnya toko- toko onderdil motor. Setelah pegang merek SKF, tawaran produk lain mudah berdatangan. 
 
Bahkan jika umumnya produk besar meminta deposit sebelum menjadi distributor. Ini, mereka tidak meminta sama sekali. Semua karena saking besar percayanya mereka. Dari Denso, menjadikan Djemi distributor spare- part terpercaya aneka busi motor, mobil, dan komponen elektrik lain. 
 
Kemudian mendapatkan kepercayaan dari SKF, yang disusul oleh distributor MTR dan di tahun 2007 remsi menjadi distributor ban merek Mizzle asal Swiss. Bisnis SKF berjalan lama mulai di tahun 2004 sampai 2009. 
 
Di tahun 2005, pengusaha ini mendapat kepercayaan menjadi servis resmi printer Cannon data skrip Jakarta. Usaha aneka distributor tak melengahkan. Dia masih fokus di bisnis komputer miliknya. Untuk itulah, selepas segala kesibukan distributor, pada 2005 dibuka lah cabang pertama bisnis miliknya. 
 
Dibawah bender baru yaitu perusahaan bernama Petra Gemilang. Cabang pertama dibuka di Jalan WJ Lalamentik. "Saya bikin dengan konsep berbeda sedikit dengan nama menggunakan nama Petra Komputer," ujarnya.

Kedua usaha Djemi itu berjalan beriringan sejalan. Tahun 2006- 2007, selaku distributor bisa mendapatkan kepercayaan menjualkan ban Wizzle. Meski di Kupang sendiri ban Wizzle telah menjamur. Secara resmi dirinya lah yang mendapatkan hak distributor tunggal. 
 
Meski mereka lebih dulu ada, toh faktanya, hanya Djemi yang akhirnya paling dipercaya oleh perusahaan asal Swiss tersebut. Ini berkat brand yang dibangun sejak lama. Tahun 2009, ia mulai berjualan Vision Notebook di Jalan Lalametik. 
 
Dimana ia mampu menjual 100 unit notebook tersebut dalam satu bulan. Luar biasa memang pengusaha muda satu ini bekerja. Dari penjualan tersebut dari menyewa tempat, Djemi bisa membeli roko tersebut, dan akhirnya memiliki ruko sendiri yang ditempatinya sajak 2008. 
 
Ketika kita melihat latar belakangn, maka banyak orang tidak akan menyangka ini hasilnya. Dia sendiri tak menyadari bisnisnya begitu besar. Mungkin jikalau dilihari dari orang luar memang besar, tapi dirasanya hanya sebuah kenikmatan dan kesenangan. 
 
Semua dijalaninya mengikuti alur membawa arah hidup Djemi Lassa. Banyak orang berkontribusi bagi berdirinya Timorese Group. Ia mengakui hal tersebut. Selain pegawai adapula sosok istrinya yang selalu mendukung. Papah satu orang anak ini kini menjadi distributor tunggal Cannon di NTT.

Mengenang kisah cintanya ketika masa remaja. Ketika remaja dia masih berjualan kue. Bahkan oleh teman- teman Djemi dipanggil "Djemi si Penjual Kue. Nama panggilan yang membuatnya sangat minder, apalagi jika diucapkan dihadapan cewek yang dianggapnya cantik.

"Omong jual kue gini, masa- masa umur kita 13-14 tahun itu masa puber. Jadi malu setengah mati, apalagi ketemu kawan nona. Tapi saya berusaha tidak malu, seperti tadi saya bilang ini proses yang Tuhan izinkan untuk saya melawan rasa malu yang luar biasa," jelasnya.

Djemi tak pernah malu berjualan kue. Ada alasan menyentuh dibalik itu semua. Kenapa mau berjualan kue, karena rasa hormat dan keinginan sang mama untuk menjualkan kue tersebut. Tidak ada kiat khusus soal berjualan kue ini. 
 
Hanya harus siap menahan rasa malu apalagi didepan cewek. Dia modal nekat cuma ingat kata mama, "mama saya bilang saya harus jual kue. Jadi saya juga harus jual kue, jadi rasa malu itu saya lawan sendiri."

Djemi mensyukuri pengalaman menjual kue tersebut. Inilah menjadi tempatnya menempa mental pengusaha. Kalau bertemu beberap teman, sosok Djemi Lassa masih dikenal sebagai si penjual kue. Dia yang pemalu ketika ketauan tengah berjualan. 
 
Dia yang malu- malu ketika bertemu cewek di sekolahnya. Djemi masih sama ketika dia bertemu teman- teman di sekolahnya.

Biografi Djemi Lassa


Nama : Djemi Lassa
Tempat Tgl Lahir : 13 Juni 1977
Jabatan : Presiden Direktur Timorese Group
Pendidikan : SD Inpres Nifuboko-SoE tamat tahun 1990
SMPN I SoE-TTS tamat tahun 1993
SMAN I SoE-TTS tamat tahun 1996
S1 Teknik Sipil-Universitas Petra Surabaya, tamat tahun 2001.
Istri : Eliyana Wirawan
Anak : Kineshia Lassa

Mantan Pembalap Sukses Punya Usaha Bengkel

Profil Pengusaha Pembalap Ahmad Jayadi


mantanpembalap.png
 
Mantan pembalap sukses punya usaha bengkel. Siapakah Ahmad Jayadi banyak orang belum tau. Termasuk penulis tentang sosoknya masih samar- samar. Dia orang Indonesia yang pernah balapan dengan Valentino Rosi. Jayadi memang seorang pembalap. 
 
Cuma saja pria 39 tahun ini ternyata juga seorang pengusaha. Sudah berpensiun dari dunia balap sejak tahun 2000 -an. Ia kini mengerjakan bisnis yang tidak jauh dari balapan.
 

Usaha Bengkel Sukses


Usahanya ya enggak jauh- jauh dari dunia sirkuit. Dia membuka bengkel dan punya tim balap. Masih aktif mencetak pembalap- pembalap muda. Sudah gantung wearpack atau pensiun, namun tetap sosok pembalap era 90 -an dan 2000 -an, masih -masih ada didalam dunia balap. 
 
Berawal di tahun 1997 -an ketika timnya dituntut "membuat motor" balap sendiri.

"...makanya di rumah saya waktu itu sering bongkar-bongkar mesin, dari situ banyak temen yang datang buat membetulkan motornya, karena mereka pikir saya buka bengkel," ujarnya.

Maka tidak ada salahnya membuka bengkel sendiri. Ini terealisasi di tahun 2001, dia membuka satu bengkel resmi Honda. Adi, begitu sapaan akrabnya, masih menjadi inspirasi pembalap muda. Tapi, kini, sosoknya juga menginspirasi pengusaha muda perbengkelan. 
 
Kita tau menjadi atlit dibatasi oleh umur kita. Nah, sisi baiknya seorang Adi, dia mampu melihat peluang bisnis lain. Jikalau beberapa memilih membuka tim racing sendiri.

Awal- awal, Adi mulai mengoprek motor sendiri di rumah, mulai teman- teman mengamati. Mereka lantas masuk ikut menserviskan motornya. Ada yang minta diservis, ditune up, atau bahkan minta diupgrade untuk dibuat motor balap. Perlahan pasti dari hobi menjadi usaha sendiri. 
 
Fokus bengkel miliknya bernama speed shop. Dimana orang bisa menservis motor Honda resmi. Adapula layanan after- market untuk aneka spare part.

Total dua bengkel dimiliki. Bengkel AHASS dimana sebelahnya speed shop bernama AJM Speedshop, hingga ketika pelanggan datang akan ada layanan prima kedua bengkel. Karena jarak berdekatan jadi bisa lebih mudah bukan. 
 
Antara pelayanan standar atau pelayanan motor racing Adi bisa. AJM Speedshop itu ada memang untuk motor racing, bengkel modifikasi, bengkel tim, serta ada mesi Dyno (untuk R&D).

Ketika ditanya mengenai dunia balap. Adi menyebut ini sudah mendarah daging. Jika pada jamannya masih kurang diperhatikan. Menurut ia kini pembalap sudah mendapatkan perhatian pemerintah dan IMI. Mereka mengetahui jelas kebutuhan perkembangan racing Indonesia.
 
 
Adi memilih membuka bengkel sendiri. Meski juga, pada ujungnya ya Adi membangun tim racing miliknya sendiri. Profesi atlit memang bukan seperti pekerja kantoran. Dibatasi oleh umur salain kemungkinan cedera menghantui. 
 
Kalau cedera pembalap akan bisa saja berhenti ketika masa muda. Namun menurut dia pekerja pembalap sekarang beda. Di jamannya dulu pembalap juga memikirkan tim racing. Sekarang tinggal naik motor memikirkan masuk podium.

Namun, bukan berarti tidak boleh memikirkan hal lain, mungkin dalam pacuan berpikirlah mengenai balapan. Hanya ketika kamu selesai balapan kenapa tidak tentang motor. Dari sana bisa menjadi aset ketika dihari tua kelak. Atau kamu bisa punya orang yang dipercayai mau apa ketika tua nanti. 
 
Pemilik sekaligus manajer racing ini memang lebih sering dijumpai di sirkuit. Tapi tak melupakan bahwa dia adalah pemilik salah satu bengkel terbaik. Pastikan sebagai pembalap aktifitas keatlitan tetap terjaga. Bukan isapan jempol karena dia sendiri telah siap mempraktikan. 
 
Pembalap juara nasional Supersport 600cc di tahun 2006 ini, tengah menikmati hari tuanya di bengkel remsi Hondal miliknya. Sebuah bengkel yang awalnya bernama Suzuki Jayadi Motor, yang berada di kawasan Pondokgede, Bekasi. Meski tidak dipegang langsung. 
 
Dia meyakinkan bisnis bengkel itu masih berjalan. Target pasar Honda dipilih lantaran jumlah motornya. Populasi motor Suzuki itu sedikit. Makanya pria 39 tahun ini memilih Honda sebagai fokus. Dia tinggal mengelola pasar yang sangat besar. 
 
Adi juga aktif menjadi manajer tim racing Ahmada Jayadi Racing. Atau AJM berdiri sejak 1997, sudah meraih berbagai prestasi di kejuaraan nasional atau internasional. Model tim racingnya mencoba membibit, pembinaan, serta penjejangan prestasi.

AHASS Jayadi Motor dan AJM Speedshop mencoba menjadi satu motor menjadi bengkel terbaik Honda. Disisi lain, ada AJM fokus menjadi tim racing terbaik, salah satunya lewat dua pembalap muda juara Ahmad Komar dan Richard. 
 
AJM masih aktif meramaikan dunia peroad racean Indonesia. Ahmad Jayadi adalah sosok pengusaha menunjukan hal berbeda. Sebagai atlit masih memberikan kontribusi lewat potensi- potensi muda.

Pengusaha Kripik Tempe Bertoples Aneka Rasa

Profil Pengusaha Fransiska Sarwono 


pengusaha.png

Pengusaha kripik tempe menjual bertoples- tople. Aneka rasa ia ciptakan dan diterima masyarakat. Ia memulai bisnisnya melanjutkan usaha. Nama pengusaha wanita tersebut Fransiska Sarwono. Usaha yang melanjutkan dulu bersama ibunya.
 
 
Usaha kripik tempe ini pernah ikut membantu biaya kuliah. Kala itu, Siska -panggilan akrab Fransiska Sarwon- masih ingat bagaimana sulitnya mencari uang. Tahun 1997 dimasa dimana ekonomi Indonesia tengah memburuk. Siska harus berpikir keras bagaimana bisa menghasilkan usaha sampingan.

Kripik Tempe Beroples

 
Tempe memang sudah naik kelas. Sumbangsih Siska berupa kripik tempe bernama Kripik Suka. Alkisah, semua berawal dari krisis ekonomi. Membawa hidup susah semakin susah. Apalagi dia tengah menjalankan pendidikan kuliah di Yogyakarta. 
 
Ketika kembali ke Magelang, kota asalnya, bersama sang ibu merintis satu usaha sampingan. Modal seadanya dan peralatan dapur di rumah menjadi pilihan.

Berpikir keras usaha sampingan apa yang membantu studinya. Hingga nasib menuntun Siska membuat kripik tempe Suka. Pertama berproduksi masih sederhana dan sekala rumahan. Sewaktu itu di tahun 1997- 1998 dia bersama sang ibu berjualan kripik tempe di Magelang. 
 
Mereka berkeliling dari rumah- ke rumah naik mobil bak terbuka. "Susah sekali," ujarnya dalah satu sesi wawancara Ciputraentrepreneurship. Sambil berkuliah di Yogyakarta, Siska ketika pulang ke Magelang akan membawa setumpuk kripik tempe. 
 
Dia mulai menawarkan itu kepada teman- teman kuliah. Istilahnya "menodong" mereka agar mau membeli kripik buatannya. Tidak berhenti disitu, dia juga mulai menitipkan itu ke salon- salon atau warung terdekat disekitaran kampus. Hasilnya ternyata cukup memuaskan. 
 
Meski begitu ada saja masalah menerpa bisnisnya. Berusaha makin keras bukan berarti terhindar dari kegagalan. Suatu ketika kemasan kripik tempenya rusak semua dimakan tikus. Itu karena kemasan kripik masih sangat sederhana. 
 
Kantong plastik itu robek dimakan tikus tanpa sepengetahuan pemilik warung. Alhasil Siska rugi besar karena tidak terjual. Apalagi si pemilik warung tidak mau tahu dan meminta pengganti. Siska waktu itu menyanggupi ganti rugi dengan ikhlas.

Baginya warung itu masih punya prospek bagus. Bukan tidak laku malahan laku keras, hanya saja Siska sedang terkena apesnya.

"Ini saya jadikan pelajaran. Setelah kejadian itu kami masih terus titip barang ke sana karena kami lihat prospeknya bagus," ujarnya.

Dua pilihan tengah dihadapi oleh Siska sebagai pengusaha. Apakah memilih mundur atau tetap maju. Dan ia memilih untuk tetap maju apapun halangannya. Cara terbaik yaitu lewat mempelajari apa masalah utamanya. Keinginan kuat menjalankan konsep entrepreneur ada dalam benaknya. 
 
Memang, sejak dulu kala, Siska ingin menjadi pengusaha sukses dan itu lewat Kripik Tempe Suka. Dia berpikir kegagalan adalah pembelajaran. Pelajaran pertama ialah bagaimana memperbaiki kemasan dari produk tersebut. Siska juga belajar untuk tidak terlalu banyak menstok barang.
 

Pengusaha Kripik Tempe

 
Selepas lulus kuliah ada ide bisnis baru yaitu pelatihan bahasa asing. Kedua bisnis itu dijalani olehnya tanpa beban. Namun, ketika sudah menikah lain soal, ibu dua anak ini harus rela harus ikut sang suami dan berhenti berbisnis.

Sekembali dari perjalanan luar kota saatnya berbisnis kembali. Siska fokus melanjutkan bisnis kripik tempe yang berkonsep beda. Lebih modern, variatif rasa, dan bagus kemasannya. Ia melakukan variasi rasa terdiri dari enam varian rasa, yaitu original, daun jeruk, kencur, pedas, super pedas, dan keju. 
 
Soal kemasan ada toples dan plastik. Untuk kemasan plastik seharga relatif murah Rp.7.500, kemudian ada kemasan toples Rp.19.000.

Melalui pembaharuan tersebut berharap pasar lebih tinggi. Dia mencoba memasarkan produknya ke gerai- gerai makanan di sekitar Jakarta. Siska juga mulai bekerja sama dengan pihak lain. Seperti menjual khusus di sebuah supermarket buah dan sayur. 
 
Kripik Tempe Suka juga mencoba masuk lebih dalam ke pasaran luar kota. Agar tidak monoton orang Jakarta saja, tapi juga bisa dinikmati semua warga Pulau Jawa.

"Kemarin dari Sulawesi sudah ada yang Tanya, mudah-mudahan bisa kita taruh di sana. Di medan juga kita sudah mau masuk," ungkap salah satu anggota komunitas TDA ini.

Dia berharap masuk bahkan ke supermarket besar. Merealisasik mimpi butuh perjuangan panuh. Pernah satu kali dia ditolak -dipandang sebelah mata salah satu supermarket besar. Ketika Siska menawarkan sampel ke mereka malah disuruh ditaruh di resepsionis. 
 
"Beberapa hari kemudian saya telepon orang purchasingnya, eh ternyata belum dilihat," ceritanya.

Tidak berhenti disitu, mimpi lainnya menjadikan Tempe Kripik Suka ke luar negeri. Dia berharap bisa menjadi eksportir tempe kripik. Dirinya tertantang membawa makanan khas Indonesia ini sampai ke seluruh dunia. 
 
Produk luar negeri bisa laku kenapa dalam negeri tidak. Untuk hal ini benar- benar dicoba Fransiska Sarwono kedepannya.

Pengusaha Minuman Bubble Untung Miliaran

Biografi Pengusaha Muhammad Syakir


pengusahaminuman.png
 
Pengusaha minuman bubble, Muhammad Syakir, hasrat terbesarnya adalah menjadi wirausahawan di masa depan. Pria asli Makassar, 14 Desember 1974 ini, memulai hasratnya semenjak bangku sekolah. Hal pertama yang dilakukannya ialah membantu sang kakak berbisnis studio foto. 
 
Sambil berkuliah diambilnya kursus fotografi. Tetapi tidak lekas membuanya jadi puas hingga membuka sendiri. Sejak masuk kuliah, dibukalah sebuah toko klontong sederhan depan rumah.
 

Pengusaha Miliaran


Dia adalah sosok apa itu bekerja keras. Tidak pernah berhenti bersemangat berbisnis. Ia setidaknya sudah pernah menjajal empat bisnis berbeda. Ketika harus kuliah sampai ke Jakarta, menyusul kakaknya disana, Syakir membuka toko klontong depan rumah di Tanjung Priok tahun 2000 -an. 
 
Semangat untuk berdagang pertama kali mebawanya berlebihan. Dia membeli aneka barang tanpa melihat apa kebutuhan pasar. Hasilnya, toko klontongnya hanya bertahan 3 bulanan. Merasa tidak berkembang layaklah bisnis tersebut dia tutup. 
 
Uniknya selain tidak bisa membaca apa kebutuhan masyarakat. Syakir juga tidak sadar akan adanya konsep tanggal kadaluwarsa.

"Saya tidak menyadari di antara barang-barang itu, ada yang memiliki masa kedaluwarsa," kenang Syakir.

Gagal, pekerjaan Syakir cuma bisa membantu- bantu bisnis kakaknya. Selepas berkuliah di Universitas Ibnu Choldun, pria asli Bugi ini tak lantas melanjutkan berdagang, ingin mencari satu pengalaman lewat bekerja. Mendaftar menjadi wartawan foto di Harian Republika di tahun 2002. 
 
Delapan tahun bekerja menjadi wartawan tak membuat hasrat itu hilang. Masih membuka bisnis kecil- kecilan sambil ia bekerja.Ayah dua anak ini mengendus paluang baru. Lewat bengkel motor dicobanya bekerja sambil berbisnis (lagi). 
 
Ini hanya pekerjaan sampingan. Bengkel didirikan tahun 2006 ini, dijalankan selepas meliput kejadian di luar. Sepulang bekerja disempatkannya membali barang kebutuhan di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta. "Jadi, kalau pulang, banyak tentengan di motor," ujar Syakir. 
 
Sayang, bisnis sampingan kembali gagal karena satu faktor sepele. Lagi- lagi Syakir tidak bisa membaca kebutuhan masyarakat. Ketika ia membeli barang- barang bengkel yang kualitas original. Masyarakat justru mencari barang kualitas dua. 
 
"Saya memasok suku cadang orisinal, sementara konsumen banyak mencari barang kualitas nomor dua alias kw," jelasnya. Bulan ke enam usaha itu ditutup tanpa kejelasan.
 
Untung karena dia bisa melunasi hutang bank, uang modal bengel itu dilunasi lewat gajinya. Menjadi pegawai sebenarnya menghasilkan. Cuma menurut pengusaha minuman bubble ini, menjadi pegawai menguras waktunya bersama keluarga. Menjadi pengusaha seolah menjadi solusi akhir. 
 
Kondisi ini memaksa otak berputar bisnis apalagi ya. Tahun 2010, ia akhirnya, berhenti menjadi pegawai memilih pengusaha. Modal uang pesangon diputarkan di bisnis sangon. Bertanam kayu sangon di kawasan Purwakarta bersama seorang patner. 
 
Tapi ujung- ujungnya malah ditipu. Kesimpulan dicapainya berbisnis tidak boleh jauh dari rumah. Dia harus bisa mengatur bisnis itu sendiri. Uang pesangon masih bersisa. Itu dijadikannya usaha lain yaitu usaha warung makan. 
 
Bisnis warteg atau warung tegal dimulainya penuh semangat. Kali ini dia punya strategi khusus. Dimulai merencanakan target pasarnya. Kemudian dimasakan aneka masakan enak. Selepas itu, Syakir membagi- bagikan selebaran brosur di jalanan. 
 
Sayang, ternyata salah sasaran, pembeli malah kebanyakan dari kuli bangunan. Ini dirasanya tidak mencukupi jaringannya. Apalagi modal usaha telah menipis, akhirnya dia memutuskan tutup. Tidak ada kata berputus asa soal berbisnis. Ini hasratnya dibawa sampai sampai bisa sukses.

Melihat sang suami lesu, istrinya, Wahyuni mengajukan ide bagaimana jika berbisnis waralaba. Menjadi mitra bisnis dari bisnis sukses. Dia mengajak Syakir berbisnis minuman bubble. Bersemangat kembali, dijualnya motor satu- satunya buat modal. 
 
Terkumpul uang Rp.6 juta hasil berjualan motor Rp.4 juta dan ditambah menjual barang lain. Dibukanya minuman bubble itu di rumahnya, di kawasan Pondok Cabe, Depok. Beruntung karena saat itu di wilayahnya masih jarang orang berjualan bubble. 
 
Penjualan es bubble -nya digilai pelanggan bahkan sampai bisa mengantri- antri. Sebuah gerai depan Alfamart menjadi saksi bangkitnya pengusaha ini. Berjalan waktu, Syakir belajar cepat bahwa sirup dan krim memakan labanya. Dia mencoba mencari alternatif agar bisa lebih untung.

Untung Minuman Bubble

 
Melalui pencarian internet ditemukan produsen bubble. Dia langsung menawari kerja sama. Kali ini selain berjualan bubble juga berjualan bubuknya. Semenjak punya suplier resmi maka resmi waralabanya tidak lagi terikat. 
 
Memang sejak awal sudah ada perasaan bahwa bisnis ini terlalu tergantung pusat. "Lama- lama saya berpikir, kalau usaha ini harus ketergantungan bahan baku dari pusat," jelas singkat. Itulah kenapa dia begitu ngotot.

Resmi Syakir menjadi pengecer bubuk minuman ini. Menelisik besarnya kesempatan, dia berharap bisa menjadi produsen. Namun, pertama- tama yang dilakukannya adalah mencari teman bekerja sama. Sosok yang bisa meracik bubuk minuman. 
 
Syakir menawari kerja sama berbentuk makloon. Dia menemukan orang itu lewat internet lagi. "Saya cari orang yang bisa buat produk ini," kenang dia. Inilah cikal bakal bisnisnya yang utama. Konsep makloon berarti patner membuat bubuk minumannya. 
 
Sementara dirinya menjadi distributor tunggal produknya. Yang mana, berarti patner tidak bisa menjual ke orang lain selain kepadanya. Perjalanan bisnis ini meningkat sampai berdirilah CV. Jakarta Powder Drink. 
 
Dibawanya bisnis ini sampai ke Kota Makassar. Ia cukup puas atas jalan bisnisnya, sampai, pada tahun kedua ada masalah antara dia dan patnernya tersebut. Singkatnya sang patner menjual produknya juga ke orang lain. 
 
Merasa ditipu olehnya, berhentilah bekerja sama keduanya dan menyisakan bubuk- bubuk minuman bertumpuk. Karena tak mau merugi dan berharap bisa balik modal. Dibawalah bisnis tersebut kembali ke bisnisnya di Jakarta. Jadilah cuma ada satu bisnis yang dijalani oleh Syakir di Jakarta. 
 

Menjadi Pengusaha Minuman

 
Harapan terbesar dia hanyalah kapan bisa berproduksi sendiri. Belajar pengalaman buruknya mulailah dia belajar sendiri. Syakir menemukan cara tepat berproduksi sendiri. Lagi- lagi dicarilah orang yang bisa membuat bubuk minuman. 
 
Bedanya kali ini, ia hanya memilih buat belajar kepada orang itu, selama kurang lebih enam bulanan. Sambil belajar diajukan pinjaman ke Bank tak kurang Rp.400 juta. Uang tersebut dibelikan mesin percik bahan minuman, bahan baku, dan kebutuhan lain di tahun 2012.

Awal 2013, dia baru bisa berproduksi sendiri, hasilnya beda dari produk yang pernah dijualnya. Ini minuman bisa dibuat dingin atau panas. Rasa bubuknya juga diklaim lebih enak karena kualitas terjamin. Menekuni ini memang bukan perkara mudah kalau bukan passion. 
 
Waktu berjalan malah membawa M. Syakir semakin berjaya berbisnis sendiri. Masalah tidak kunjung berhenti menempa hidupnya. Dari remaja, bujang, hingga akhirnya menikah dikarunai dua orang putri. Syakir yang sudah berumur 40 tahun tinggal mereguk kerja kerasnya. 
 
Kata- kata bijak pun ia ramu, "Saya tak mau sekadar menjadi pedagang, tapi ingin menjadi pengusaha," ujarnya. Jika pedagang akan berhenti walau sekejap. Tidak buat penguasaha yang selalu akan berusaha.

"Pedagang biasanya hanya cari keuntungan, tapi tidak membuka peluang bagi orang lain untuk mendapatkan untung," kata dia.

Pedagang akan memilih berhenti jika menemukan resiko kedepan. Pengusaha akan terus melangkah meski dibantu oleh hutang atau apapun.

Total CV. Jakarta Powder Drink telah memiliki 40 varian rasa. Ada yang rasa vanila, capucino, mokacino, tiramisu, teh hijau, kopi, kopi hazelnut, dll. Soal kendala adalah mengawali peralihan antara dia dan produk lamanya. 
 
Tentu pelanggan bisa tau perbedaan mencolok diantara keduanya. Syakir sudah siap akan hal tersebut. Lewat mempertajam rasanya menjadi lebih pulen. Jadilah tidak ada hambatan berarti ketika ia mulai ganti.

Jikalau produk powder drink lain hanya cocok dingin. Miliknya bisa disajikan panas atau dingin. Meski nanti dituang panas tetap rasanya tak kalah kalau dingin. Pabrik pun didirikan di Perumahan Wisma Mas, Pondok Cabe, Tangerang. 
 
Jika produk lain seharga Rp.100.000, maka, Syakir percaya diri membandrol Rp.65.000 sampai Rp.75.000 lebih murah. Rata- rata pelanggan produknya ada kafe, hotel, pengusaha minuman bubble. Pabrik itu bisa berproduksi sampai 6 ton bubuk minuman. 
 
Melalui 9 distributor dijualnya ke seluruh penjuru Indonesia. Sistem penjualan beli putus minimal 500kg, distributor tersebar hingga ke Medan, Palembang, Pekanbaru, Tegal, Semarang, Yogyakarta, dan Makassar. 
 
Profil penjualan memang tidak ambil besar dari distributor. Cuma saja karena bermain jumlah membuatnya tetap bisa untung besar.

"Saya belajar dari para CEO perusahaan besar yang pernah saya temui ketika jadi wartawan," ucap dia.

Pria asli Bugis ini tak lantas berpuas hati meski bisnisnya miliaran. Hanya saja pandangannya berbeda yakni ke luar negeri. Ada hasrat mendirikan kafe sekelas Stabucks. Prinsipnya kenapa orang luas bisa, kenapa kita dalam negeri tidak bisa? 
 
Dari segi variasi sebenarnya Jakarta Powder Drink siap bukan kafe. Namun, dia dan istrinya masih menggodok konsepnya. Masih menentukan makanan apa bisa ditaruh di etalase kafenya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba