Tertipu Puluhan Juta Pengusaha Putu Sudarma

Biografi Pengusaha I Putu Ngurah Sudarma


putusudarma.png

Pengusaha Putu Sudarma sudah ingin menjadi entrepreneur. Jiwa entrepreneurship nya harus dibayar mahal, ia tertipu puluhan juta. Ia ingin menjadi pengusaha sejak masih duduk dibangku kuliah. I Putu Ngurah Sudarma ancang- ancang buat cari modal. 
 
Dia lantas masuk STIE Pariwisata Yapri Aktripa Bandung. Sudarma sadar disinilah akan jadi ladang bisnisnya. Hanya saja, ada satu fakta tak bisa dipungkirinya, membangun usaha butuh modal besar. Untuk itulah keinginan menjadi pengusaha ditahannya.
 

Jiwa Entrepreneurship

 
Selepas kuliah hasrat terbesarnya menjadi bagian dari industri kapal pesiar. Sebuah batu loncatan pikir Sudarma. Lewat berkerja di pesiar, ia akan mampu mengumpulkan uang, karena di sana uang gajinya sangat besar. Ia segera melamar ketika selesai sekolah. 
 
Sayangnya, apa yang sudah ia rencanakan tak sesuai harapan. Sudah puluhan lamaran dimasukan ke aneka perusahaan kapal pesiar tidak terbalas, dari Royal Caribbean, Holland America Line, sampai Carnival Cruise Line.

Sialnya lagi malah terkena tipu sampai 40 juta. Dia tertipu agen cruise line di tahun 2006. Mungkin karena pola pikirnya kala itu yang berpikir bisnis itu mahal. Menjadi pengusaha buktinya tak selalu mahal. Ambil saja contoh pengusaha kami disini. 
 
Uang 40 juta sebenarnya bisa menjadi bisnis. Tapi entahlah bisnis apa yang ia ingin kala itu tak tersampaikan.

"Sampai sekarang uang itu tak kembali," sesalnya, padahal uang itu ternyata boleh pinjam orang tuanya lewat rentenir. 

Ayahnya telah menjaminkan tanahnya buat membayar rentenir. Nasi telah menjadi bubur, maka dia Sudarma seolah lupa tujuan jadi pengusaha, namun tak menyerah untuk bekerja di kapal pesiar. 
 
Sudarma kemudian bekerja di spa milik temannya yang berwarga negara Australia. Menurutnya bekerja di spa sebenarnya iseng. Sambil menunggu kesempatan buat bekerja di kapal pesiar dan menunggu uang Rp.40 juta kembali. 

Selepas tujuh bulan bekerja di spa, pikirannya berbeda dan menyerah menunggu panggilan ke kapal pesiar. Sebelum bekerja di spa tersebut, ternyata Sudarma pernah bekerja di Singapura. Menurut berita dia pernah bekerja menjadi pelayan sebuah kasino di kapal. 
 
Cuma bertahan 2 tahun, ini karena bukan pekerjaan yang ia inginkan. Mencoba kembali melamar ke kapal pesiar, enam kali ditolak perusahaan, dan akhirnya ia masuk bekerja di spa. Disaat bekerja di spa bertemulah ia dengan kekasih hatinya. Sosoknya seolah menjadi pelega disuramnya nasib hidupnya. 
 
"Untung saat stress itu saya tidak bunuh diri," kenangnya. Disaat galau tak menentu hadirnya sosok wanita membawanya damai. Akhirnya Sudarma memutuskan untuk menikahi sang pujuan hati. Disini keberuntungan seorang Sudarma seolah berubah.

Sang kekasih hatinya, Komang Astini, dinikahinya di awal 2007. Mereka berdua bersama bekerja di tempat yang sama. September 2007, ia memutuskan keluar dari tempat spa tersebut, alasanya karena dia merasa ide- ide bisnisnya ditolak sang pemilik spa. 
 
Ia pun memutuskan mengejar mimpi lamanya yaitu menjadi pengusaha. Sementara itu gajinya saja tak cukup membayar hutang ayahnya. Lantas mau modal berapa dia memulai usahanya. Sang ayah mencoba membantunya kembali. Dia rela meminjamkan uang Rp.60 juta, bermodal pinjaman lewat tanah warisan sang ayah. Sebenarnya ini adalah beban tersendiri baginya. 
 

Wirausaha Spa

 
Modal Rp.60 juta digunakan buat menyewa tanah. Ia membangun tempat pijat sederhana. Yang cuma berisi peralatan dan perlengkapan seadanya. Bahkan tempatnya mendapat julukan spa kandang kuda. Sudarma membuka tempat spa di kawasan Ubud.

Alasan khusus adalah karena tempat itu berasa aura spiritual dan seni budayanya. Ubud baginya adalah desa internasional. Menurutnya hampir setiap orang menatap Ubud. Baik aspek bisnisnya, tempat bekerja, tujuan wisata dan istirahat, atau buat mereka yang menikmati masa pensiun ada di Ubud. 
 
Menurutnya bisnis spa menjadi sebuah penyalur imajinasi. Alasan lainnya? "Itulah tempat termurah," jelasnya lagi, yang disusul tawa berderai Membuka usaha ternyata passion pria kelahiran Singaraja 10 Juni 1980 ini. Sang Spa berdiri di gang kecil di Jalan Jembawan, Ubud. 
 
Tempatnya tanpa polesan dinding, cuma punya dua ruangan, cuma punya dua terapis diawalnya yakni dirinya dan istrinya Astini. Pulau Bali memang surganya bisnis spa. Tetapi, tak semua bisnis spa memiliki kisah menarik, seperti halnya kisah Sudarma. 
 
Menarik karena bisnis ini dimulai dari nol. Cuma bermodal sewa tanah lokasi yang seluas 3m x 6m. Bersama dia dan istrinya, yang juga mantan pegawai spa, keduanya bekerja untuk spa milik mereka sendiri. Uang sewa tempat dibayar Rp.10 juta selama 10 tahun. 
 
Pekerjaan spa dilakukan semuanya oleh mereka berdua. Semuanya dimulai dari hal paling bawah, dari pembangunan gedung, layanan antra jemput pelanggan, dan pemberian treatment pijat, semuanya itu dilakukan oleh Sudarma dan istrinya tanpa bantuan. 
 
Bersama- sama pula mereka melakukan aneka promosi. Mulai membuat desain brosur sendiri. Hingga menyebar brosur pun bersama. Fokus awalnya ialah mempromosikan spa lewat restoran, hotel, villa, dan cottage di kawasan Ubud.

Usaha spa miliknya lantas dinamai Sang Spa. Sayang, Sang Spa tidak terlalu diminati meski keduanya agresif dalam berpromosi. Modal motor butut membantunya menyebarkan 1.000 brosur. Sebagian besar brosur dibuat fotokopi agar harganya lebih murah. 
 
Motor tua yang dikendarai Sudarma sendiri juga digunakan buat antar- jemput pelanggan. Hasilnya pengunjung cuma datang satu- dua orang maksimal lima orang saja per- hari. Terkadang juga tidak ada pelanggan sama sekali. Layanan ditawarkan pertama kali begitu sederhana dan simple. 
 
Bulan pertama pendapatan Sang Spa cuma Rp.980.000 (tergolong rendah di Bali). Dia tak berputus asa mempromosikan spa miliknya lagi. Pada bulan ke dua, mulailah ia fokus lagi membesarkan kembali bisnis Sang Spa. 
 
Kali ini mereka berdua tak sendiri lagi, dibantu oleh sang keponakan dan adik sepupunya. Mulai lah tampak pelanggan mulai bertambah. Pengunjung bertambah sampai kesulitan menangani. "... karena setiap hari dan bulan pelanggan yang datang ke Sang Spa semakin bertambah," jelasnya. 
 
Memasuki bulan kedua ini omzet bisnisnya melesat jadi Rp.5,6 juta. "Masih sangat jauh dari utang yang harus dilunasi," timpal Sudarma. Astini sendiri sempat merasa putus asa akan keadaan. Ia merasa ini akan sangat sulit, hingga memutuskan bekerja di tempat lain. 
 
Ini semua agar bisa membantu sang suami. Mereka berdua masih terus mencoba melunasi hutang. Kalau dihitung- hitung total hutang mereka berdua sampai angka Rp.100 juta. Cinta sang istri terlihat begitu kuat membuat Sudarma semakin semangat. 
 
Inilah asal mula nama Sang Spa. Ini merupakan kepanjangan nama tiga orang: "S" dari nama ayah yang memberi mereka hutang, "A" untuk nama istrinya Astini, sedangkan "NG" berasal dari dirinya, Ngurah. Bulan ketiga akhirnya omzet bisa menembus Rp.15 juta.

Sudarma akhirnya berani mengambil satu pegawai. Sejak saat itu pula usahanya semakin tumbuh pesat saja. Di bulan Agustus 2009, ia memutuskan memutar uangnya kembali, yaitu lewat membuka satu tempat spa lagi. 
 
Sang Spa 2 didirikan di tanah sewa seluas 600 m2, yang hanya berjarak 100 meter dari Sang Spa 1. Dibulan sama, di tahun 2010, ia mengambi alih kontrak bisnis spa di Jalan Monkey Forest, dijadikannya Sang Spa 3.

Sukses Sang Spa karena pelayanannya memuaskan. Pelanggan rela merekomendasi Sang Spa ke keluarga dan teman. Melalui mulut- ke mulut bisnisnya menyebar ke seantero Bali. "Jadi dari mulut ke mulut," ujarnya. Beberapa tamu spa -nya juga mempromosikan Sang Spa lewat internet. 
 
Senang hati mereka menyebarkan lewat Blog, Facebook, Travel Pod, Tripadvisor, dll. Hal lainnya ada standar pelayanan wajib yaitu pelatihan tiga bulan. Satu bulan pelatihan, terapis baru bisa lengsung praktik kerja dengan pengawasan satu terapis senior. 
 
Buat menyenangkan terapis baru, Sudarma bahkan rela membayari mereka meski masih di dalam masa training. Kalau mereka lolos pelatihan maka akan dikontrak dua tahun. Total sudah ada 68 terapis bekerja di tiga spa -nya. 
 
Bulan Agustus 2012, Sudarma sempat membuka Sang Spa 4 di Kuta, sayangnya, terpaksa harus ditutup. Kini, bisnis Sang Spa menyebar, setiap harinya ada 70 orang atau 80 orang per- hari. Mayoritas pengunjung adalah para turis asing.  
 
Mereka yang berlibur di Bali, asal Australia, Jepang, Taiwan, Malaysia, Singapura, Eropa dan lain- lain. Bisnis yang dirintis sejak Januari 2008 ini, mampu menghasilkan omzet Rp.3,5 miliar per- tahun. 
 
Sementara itu Sudarma dan Astini merasa lebih tenang hidup sederhana. Mereka tinggal di rumah kos sederhana sejak awal. Dari motor butut sudah berubah menjadi dua minibus dan satu BMW. Untuk spa lamanya yang mirip "kandang kuda", dijadikan mereka tempat mengasuh 13 orang anak asuh. 
 
Mereka bersekolah formal dan diajarkan menjadi terapis. Layanan antar jemput area sekitar Ubud masih gratis. Sementara diluar Ubud ada tarif sendiri. Dibawah bendera PT. Ngurah Sudarma, tahun 2014, sejak itu fokusnya membengun sistem manajemen.

Hasrat lain, Sudarma ingin menjadi konsultan spa di tiga tahun mendatang. Tambahan dia membuka satu kafe disebarang Sang Spa 2. Kafe yang akan menawarkan minuman herbal. Selain itu ada pula satu vila yang dibangun di daerah Pejeng. 
 
Atas prestasinya tersebut I Putu Ngurah Sudarma pernah memanangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri 2013. "Semuanya memang bermula dari mimpi, motivasi dan semangat," tutur penggemar buku biografi dan motivasi ini.

Pengusaha Boneka Lucu Dewanto Purnomo

Profil Pegawai BUMN Jadi Pengusaha


pengusahaboneka.png

Menjadi pengusaha boneka lucu ternyata mengasyikan. Begitu pikir pria berkacamata, yang relakan pekerjaan mapan di sebuah perusahaan milik negara. Dia mau jadi pengusaha. Dalam sebuah episode di Kick Andy, kamu mungkin pernah melihat profilnya, rasa salut terasa buat bapak 
 
Dewanto Purnomo atas inspirasinya kepada kami. Bagi kamu yang belum pernah melihat episodenya, maka kami tuliskan kisahnya disini, untuk kamu bisa pelajari.
 

Usaha Mainan


Menjadi orang gajian seperti dirinya pastilah tak mudah beralih dari pegawai (apalagi BUMN) menjadi pengusaha. Apalagi bisnisnisnya berjualan boneka untuk pria setengah baya seperti dirinya, aneh, pasti berasa aneh gimana gitu tetapi it's work.
 
Tapi, it's work... Ia berhasil melewati fase- fase sulit, bermodal berjualan lewat internet, akhirnya menguasai bisnis jualan boneka lucu.

Awal karir dimulai dari menjadi pegawai perusahaan PT. Erlangga Mahameru. Kerja dibagian sales berjualan buku pelajaran ke sekolah- sekolah di tahun 2005. Selama empat bulan menimba ilmu menjadikan Dewanto ahli dalam penjualan. 
 
Sukses kerja membawanya bisa melompat ke perusahaan yang lebih mapan, Bank Danamon. Selama lima tahun mengabdi, dari 1995- 2000, ia mendapatkan gaji lumayan tinggi yakni Rp.2 juta per- bulan.

Kemudian bekerja di BUMN di PT. Permodalan Nasional Madani selama 11 tahun. Dia telah menjadi orang bergaji Rp.7- 10 juta. Awal mengenal wirausaha sebenarnya sudah sejak tahun 2005. Dimana dia pernah menjadi salah satu mitra waralaba mie ayam. 
 
Sukses bisa berkembang pesat hingga punya satu gerobak lagi. Tak puas dibelinya waralaba lagi di tempat berbeda sampai ada 45 master franchise di Bekasi. Total uang masuk ke kantongnya melonjak mencapai Rp.3.400.000 per- hari. 
 
Omzet perbulan sudah bisa dibayangkan mencapai Rp.102.000.000 per- bulan. Menakjubkan, tapi sayangnya, Dewanto harus rela menelan pil pahit kebangkrutan di tahun 2010. Ada dua hal yang mendasari bisnisnya gagal menurutnya. 
 
Satu adalah karena yang manajemen buruk. Keduanya dia yang masih sibuk bekerja di Permodalan Madani. Ya, ketika bisnis itu menjadi sangat besar. Justru ia mengalami kesulitan mengontrol bisnisnya lagi. Ini diakuinya lewat pewarta Detik.com. 
 
Perjalanan yang menjadi catatan khusus bagi bisnis selanjutnya. Dimana di bisnis selanjutnya ialah menjadi agen susu segar di tahun 2006- 2010. Sudah ada total 100 orang pelanggan setia menunggu Dewanto tiap pagi. Namun, sayang, lagi- lagi bisnis ini gagal dan dijual seharga Rp.25 juta.

"Saya beli bisnis itu dengan harga Rp.10 juta dan saya jual Rp.25 juta, saya untung Rp.15 juta," jelasnya.

Dulu, disaat bekerja di BUMN, ada kawannya yang juga aktif "nyambi" pengusaha. Sang kawan terlihat tengah  kwalahan menjual dagangan. Saat itu, Dewanto sudah cukup lama mengamati bisnis online dan sudah cukup ahli. Lantas dibantunya sang kawan membuat toko online. 
 
Masih ada peluang besar untuknya di bisnis online ini. "Tentu saja saat itu hanya sebagai usaha sampingan," jelas Dewanto.

Menurut pengamatan banyak orang mencari barang di mesin pencari. Oleh karena itu setelah mantap dicarilah kata apa yang paling diminati dibeli. Satu kata ditemukan yaitu "boneka". Segeralah dibangun tiga situs www.bonekalucu.com, www.bonekabesar.com, dan www.bonekabear.com. 
 
Ternyata animo masyarakat cukup besar. Ini mendorongnya semakin yakin, hingga mulai mencari- cari teman seperjuangan. Mulailah pria penghobi baca ini memilih masuk lebih dalam, bahkan rela merogoh kocek pribadinya sampai Rp.15 juta. 
 

Pengusaha Boneka

 
Mulailah pegawai BUMN kelahiran 1971 ini mencari dimana bonekannya. Dia mulai dari pusat produksi boneka terbesar di Indonesia yaitu di Kota Bekasi.

 "Selama wanita masih bisa melahirkan, bisnis boneka cerah," katanya.

Memulai bisnis boneka sejak 2009 -an. Semakin lama semakin mantap menatap bisnisnya. Aneka boneka telah dijual lewat toko online. Target eceran sampai grosiran disanggupinya. Pembelian juga tidak terbatas untuk hadiah tapi juga kebutuhan promosi. 
 
Beberapa perusahaan memesan boneka sekala besar untuk kebutuhan promosi. Mereka akan membeli lewat toko onlinenya. Ternyata boneka prospek omzetnya mencapai Rp.5- 10 juta. "Modal Rp 15 juta dan dapat omset perbulan Rp 5-10 juta dan akhirnya saya keluar dari BUMN," terang Dewanto. 
 
Tahun 2010 tekatnya untuk berpisah dari perusahaan yang digelutinya kesampaian. Ia memberanikan diri fokus berbisnis boneka online. Sejak keluar dari BUMN omzet bisnisnya naik menjadi Rp.10- 30 juta per- bulan.

Dan, terus berkembang, bahkan di tahun 2011 saja, sudah Rp.100 juta dan lebih.

"...target saya tahun 2012 adalah lebih meningkat dari Rp 100 juta rupiah," lanjut Dewanto.
 
Permintaan boneka khusus perusahaan jumlahnya besar. Diakuinya banyak pesanan ia tolak ketika awal- awal berbisnis. Alasannya apalagi kalau bukan keterbatasan sumber daya manusia. Tidak sayang loh, karena ia bertutur penjualan grosir dan eceran jauh lebih besar. 
 
Ini disebabkan perusahaan lebih banyak meminta diskon dari pembelian banyak.

"Selain itu, waktu pemesanannya pun kadang sangat mepet," katanya.

Dewanto masih menerima permintaan boneka korporasi. Tentu melalui peningkatan produktifitas, termasuk bersama teman- teman lain membuka gerai baru di sejumlah daerah. Gerai tersebut akan memenuhi kebutuhan boneka anak dan mainan lain. 
 
Termasuk memenuhi kebutuhan perusahaan sekitarnya. Penjualan grosir maupun eceran datang banyak dari luar Pulau Jawa. Ini memang sudah dibaca olehnya. Penjualan online menjadi cara mereka yang keuangan mampu. 
 
Tetapi ada batas ruang dan waktu menghalangi. Dia mencontohkan pesanan dari pegawai Freeport, dimana mereka bekerja di Papua, mau mengirim boneka buat anaknya di Medan sebagai hadiah ulang tahun. 
 
"Maka mereka pun mencari penjual boneka di internet dan meminta mengirimkan boneka itu ke Medan," paparnya.

Jumlah penjualan meningkat membuatnya semakin bersemangat. Ditambah beberapa mitra pemasok dan pabrik yang memproduksi boneka. Ada 12 mitra tercatat menjadi bagian dari usahanya. Mereka siap untuk mensuplai kebutuhan boneka. 
 
Apalagi beberapa permintaan menyangkut boneka spesifik (custom). Ini hanya bisa dipenuhi pabrikan boneka tertentu. Pengalaman berjualan boneka lama, membuat Dewanto seolah hafal boneka berkualitas.

Ciri fisik boneka yang berkualitas menurutnya, yaitu jika dipencet tangan bentuk boneka segera kembali ke bentuk semula. Penjualan boneka juga mengikuti trend. Ambil contoh warna merah laris di tahun baru China. Warna pink atau merah muda laris memasuki hari Valentine. 
 
Umumnya warna boneka yang selalu terjual adalah warna coklat. Trend sekarang ini, untuk warna- warna ngejreng sudah jadi pilihan seperti hijau atau ungu. Adalah "ketidak pastian" menjadi hambatan tersendiri, tidak pasti apakah sukses atau gagal. 
 
Ketika memutuskan keluar perusahaan, orang pertama yang akan protes keras adalah istri kamu kemudian keluarga besar kamu. Butuh waktu dua tahun lebih hingga Dewanto memutuskan keluar. Sambil bekerja di kantor, disela- sela waktunya, ia kerjakan untuk berjualan boneka online.

Cukup melelahkan sampai perasaan tidak enak itu muncul dan akhirnya Dewanto keluar.

"Apalagi saya sempat menerima surat peringatan (SP) dari atasan.Saya selalu ikhlas ketika dapat SP, karena memang sering telat kalau ordernya lagi banyak. Saya juga kerap meminta ijin" kenang Dewanto.

Oleh karenanya ketika surat peringatan muncul, Dewanto sudah siap untuk kemungkinan terburuk. Tercatat sudah ada 440 pelanggan eceran, 34 pelanggan grosir, 15 perusahaan, itu di tahun 2009 sampai 2012 saja. 
 
Padahal kala itu masih diantara menjadi pegawai atau pengusaha. 440 pengecer meyumbang 20%, grosir ada 65%, dan perusahaan menyumbang 15% pendapatan. Pelangganya tersebar dari Aceh sampai Papua.

Tahun 2009- 2012 pasaran lokalnya meningkat pesat seiring sadar eCommerce. Boneka miliknya juga aktif mengikuti trend teknologi. Seperti baru- baru ini menggarap boneka emoticon blackberry. Cuma dibantu 10 karyawan usaha yang terlihat kecil menghasilkan Rp.10 juta sekali pesan. 
 
Target selanjutnya adalah bagaimana agar produk karyanya go internasional. Ia yakin masyarakat luas akan melihat manfaat berbelanja online kedepan. Tips jualan online menurut Dewanto Purnomo lakukanlah riset terlebih dahulu. 
 
Pastikan kamu mencari apa yang digemari orang lewat situs seperti www.researchinternet.com, yang akan menjadi satu panduan mencari produk apa paling dicari. Selepas itu carilah distributor atau produsen produknya. 
 
Cari barang contoh dan potongan harga khusus. Barulah membuat toko online sederhana bermodal sekitar Rp.5 juta- 10 juta. Selain dari pengalaman juga kesiapan secara mental dan modal buat bergelut di dunia bisnis online. Kesiapan itu menurutnya adalah adanya produk apa yang akan dijual.

Modal Percaya Diri Pengusaha Keripik Durian Tamita

Profil Pengusaha Tawardi Ramli


pengusahakeripik.png
 
Mau jadi pengusaha modal percaya diri. Dia pengusaha keripik, yang dengan PD -nya bertanya kepada pengelola supermarket. Pria pemberani ini bertanya,"produk apa yang tengah dibutuhkan?". Tidak mau mencoba- coba menjadi pengusaha.
 
Dia langsung bertanya kepada marketnya. Bertanya panganan apa yang mereka inginkan darinya. Ternyata jawabannya adalah kebutuhan akan keripik nangka. Mendengar itu langsung menyanggupi permintaan mereka. Padahal, perlu kamu tau, ia sama sekali belum memulai bisnisnya.
 

Usaha Modal Percaya Diri


Bahkan bentuk keripik nangka pun tidak tau. Sebuah mall di Medan tersebut juga tak kalah aneh. Mereka mau saja "dibodohi" oleh Tawardi. Ini kejeniusan seorang pengusaha bukan penipuan. Ia menyanggupi langsung mengerjakan aneka bisnis apapun itu. 
 
Pria asal Deli Serdang, Sumatra Utara, akhirnya menjadi pengusaha dibidang aneka keripik buah.

"...bentuk keripik nangka saja saya tidak tau," jelasnya kepada Tribunnews.

Terlanjur menandatangani kontrak mau- tau mau haruslah mau. Terpaksa, akhirnya Tawardi mencari jalan dan menemukannya sampai di Malang. Dipesan keripik asal Malang dibawa ke Medan. Bukan pula untuk dijual malah dipelajari lagi. 
 
Diamatinya bentuk, terkstur, serta rasa khas si keripik nangka Malang. Sampai ia bisa memproduksi keripik nangka sendiri.

Bantuan datang dari LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), membantunya modal berupa mesin pemotong keripik. Ternyata bantuan tersebut ada prihalnya tersendiri. Tawardi menyebutkan dirinya merupakan korban konflik Aceh yang lari ke Medan. 
 
Dia pindah ke Sumatra sejak tahun 2000-an lalu. Sejak tahun 2004, ia sudah punya bisnis sendiri, yakni mengolah nangka menjadi keripik. Lewat nangka merambah ke kripik buah lain.

Tawardi punya keripik mangga, salak, cempedas, nanas, jamur tiram, tape singkong, hingga durian. Andalan pengusaha satu ini bukan keripik nangka. Justru keripik duriannya menjadi andalan karena menjadi keripik durian satu- satunya di Indonesia. 
 
Kemasan 60gram per- bungkus keripik durian dijual seharga Rp.30.000. Sementara itu keripik lain dijual Rp.20.000, itupun berisi 100gram. Ditambah olehnya keripik buatannya bebas pengawet.

Memakai pembukus alumunium foil membuat keripik awet sampai 4 tahunan. "Tapi saya tulis di kemasan expire hanya satu tahun," katanya. 
 
Keripik buah yang berlabel Tamita, diambil dari bahasa Aceh yang artinya yaitu "yang dicari", Tawardi berharap keripiknya memang menjadi incaran banyak orang. Sekali produksi, kini, ia menghasilkan 400 buah bungkus. Dibantu oleh kerabat dan keluarganya menjadikan bisnis ini lebih efektif.

Permintaan akan produknya memang banyak. Tapi dia belum bisa memenuhinya sendiri. Soal pemasaran pun baru di Sumatra Utara dan punya agen di Bandung. Ketika ditanya ekspor, ia mengaku tak sanggup, alasan karena tenaganya tidak ada. 
 
Keterbatasan modal dan peralatan menghalanginya. Namun tak mematahkan ia mengikuti pameran di Bangkok loh. Bukan perkara mudah ternyata berbisnis seperi ini.
 

Masa Lalu Pengusaha

 
Menelisik lebih dalam, menemukan Tawardi dalam kenangan masa lalu. Dia mulai menceritakan kisah masa lalunya kepada pewarta. Akibat konflik Aceh membuatnya kehilangan harta sampai Rp.1 miliar. Sekitar 12 tahun lalu, dia bukanlah orang biasa, namun pengusaha kopi asal Aceh. 
 
Dia sudah terbiasa soal jual- beli. Bisnisnya sudah mencukupinya buat hidup layak. Hasil berbisnis kopi kala itu sudah lebih dari cukup untuk -nya. Konflik Aceh memakan korban banyak penduduk sipil. Tak mau mengambil resiko nyawa, pergilah dia dari Aceh ke Medan. 
 
Dia mengontak sanak saudara disana. Sampai dia menyelamatkan diri meninggalkan harta, bisnisnya, dan kenangannya. Cuma menyisakan sepetak rumah sederhana di Kota Medan. Itulah harta yang tersisa dimana ia dan keluarganya tinggal. 
 
Meski sudah puluhan tahun masih tersisa gurat emosi ketika mulai bercerita. Kisah konflik Aceh membuat keluarganya terseok- seok di tempat orang. Air mata masih mengalir sedikit dari matanya itu, ketika mengingat kembali beratnya memulai kembali. 
 
Dia punya passion dibidang bisnis. Tawardi jatuh cinta kepada bisnis kopinya hingga hilang. Ketika di Medan pikirannya cuma memulai kembali usaha. "Saya tidak punya apa-apa lagi ketika tiba di Medan, tapi dengan modal nekat," ujarnya.

Seketika didatanginya Carrefour menanyakan peluang usaha. Buat awalan cuma bertanya produk apa yang bisa ia pasok. Gayung bersambut karena mall besar itu memberikan kesempatan buat UMKM. Dan mereka butuh pemasok buat keripik nangka. 
 
Padahal kita tau Tawardi bukanlah siapa- siapa kala itu. Bisnisnya tidak bersisa, yang tersisa hanya kemampuanya  meyakinkan orang lain. Tanpa berpikir panjang diterimanya secarik kontrak. Ditanda tangani tanpa tau apa itu keripik nangka. Ia pun pontang- panting sampai ke Malang. 
 
Berkeliling mencari informasi mengenai keripik nangka. Tak dirasa akhirnya bisa mengisi kebutuhan supermarket. Pria yang bernama Tawardi Ramli ini tak menyerah. Dia bisa memproduksi sendiri dan menyuplai kebutuhan orang. Sayangnya, dia harus menelasn pill pahit kehidupan sekali lagi.

Pasalnya, olahan Tawardi tak cocok buat supermarket tersebut, bukannya untung malah merugi. Jadilah ia hanya memasok dua kali pengiriman. Prinsipnya pengalaman adalah modal sejati. Itulah dirinya, justru jadi semakin bersemangat. 
 
Memutar otak bagaimana agar bisa berproduksi sempurna. Maka lah, di tahun 2004, Tawardi secara intens melakukan komunikasi dengan LSM. Lembaga nirlaba Swiss Contack lah menjadi solusi bisnis.

Lembaga khusus yang membantu masalah Aceh ini memberikan bantuan. Khusus buat mereka warga korban konflik dan juga tsunami Aceh. Nah, Tawardi beruntung kebagian satu mesin vacuum frying. Cocok, mesin penggorang krispiy ini digunakan buat keripik nangkanya lagi. 
 
Seketika ia bisa memproduksi kembali aneka jajanan kripik. Satu mesin itu diberikan mereka secara gratis.

"Mulanya saya hanya memasok keripik nangka saja, tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai membuat inovasi lain," ujarnya.

Omzet bisnisnya meningkat sampai Rp.3 juta per- hari. Karena Medan terkenal akan buah duriannya. Maka ia berinisiatif membuat keripik durian. Inilah andalan bisnis aneka keripik Tamita. Nama itu bisa merambah ke seluruh Indonesia lewat keripik durian dan pewarta digital. 
 
Di tahun 2008 dibukannya pasar dari Jakarta, Yogyakarta, Makasar, hingga Bandung. Sudah menjadi pengusaha lama membuatnya paham strategi. Dibuatnya harga bisnisnya bisa bersaing dengan produk sejenis. Hal unik dilakukannya yakni mengurangi pasokan di pasar ritel. 
 
Loh, bukannya banyak yang malah pengen masuk? Alasan utama sistem pembayaran yang tidak sesuai waktu produksi. Ia menyebut uangnya harusnya langsung masuk ke kas, diputar kembali jadi bahan, hingga bisnis bisa terus berjalan bukan lewat sistem konyasi.

Ayah gadis kecil bernama Mentari, lanta menjelaskan bisnis Tamita bisa naik 150% lewat musim Lebaran. Omzetnya mencapai Rp.4 juta per- hari. "Saya sangat bersyukur, dari tahun ke tahun usaha saya semakin meningkat deras," puji syukur Tawardi. 
 
Soal varian keripik baru? Ia tengah mengkonsep keripik berbahan ikan tawar khas Danau Toba. Kini, dia berharap bisnisnya makin besar dan berkembang dari sekarang.

Es Krim Durian Monthong 36 Pengusaha Awenk

Profil Pengusaha Awenk Liem


eskrimdurian.png
 
Es krim durian Monthong 36 milik pengusaha Awenk. Usaha durian memang enggak ada matinya. Ini contohnya durian menjadi es krim, hingga pancake durian. Rasa memabukan dan bikin nagih. Tekstur lembut bikin enak di lidah.  Harumnya, rasanya, benar- benar menggigit ketika kamu coba rasakan. 
 
Pengusaha ini bernama Awenk Liem. Tak banyak jejak kami temukan lewat internet tentang profil pribadi dan usahanya. Dia dikenal sebegai pengusaha dibalik brand Durian Monthong 36.
 

Usaha Es Krim Durian


Es krim Durian Monthong 36 sudah lama menawarkan kerja sama waralaba. Bisa dibilang Awenk lah pionirnya usaha es krim durian di Kota Jakarta. Waktu itu, katanya tak punya pilihan lain selain harus menjadi pengusaha, memilih mundur dari perusahaan. 
 
Mencari- cari bisnis hingga melihat penjual es krim durian di 1999 -an. Usaha sederhana itu belum setenar sekarang lewat aneka variasi.

"...saya coba jual es krim duran di tahun 1999. Alhamdulillah bisa bertahan dan berkembang," ucapnya.

Meski belum bermerek, usahanya laris manis berkat resep pribadinya. Mereka pecinta durian itu menikmati betul bisnis barunya. Baru satu tahun barulah nama Durian Monthong 36 barulah jadi. Es krim Monthong 36 memang spesialis durian. Harga jualnya seporsi 10- 15 ribu. 
 
Setelah sukses es krim tawaran lainnya buah dari inovasinya adalah pancake durian. Pancake durian original isinya monthong. Ada pula pancake durian rasa pandan berisi durian medan asli. 
 
Tak lekas berpuas hati, ada produk lain seperti puding durin dan es potong durian, pilihannya rasanya ada yang coklat, vanila, alpukat, strawbery, kacang hijau dan alpukat. Agar rasanya legit memang dibutuhkan durian jenis monthong yang tebal dan legit. 
 
Sedangkan durian Medan -nya dipasok langsung dari Medan langsung sebagai variasi. Hitungannya tak lagi kiloan tapi ton- tonan dikirim dari Sumatra Utara. Total ada 3 ton durian tiap bulannya, "tapi dikirimnya secara bertahap," ujar Awenk. 
 
Tanpa bahan pengawet membuatnya cocok dikonsumsi oleh anak- anak dan manula. Bahkan soal fla atau toping pun tidak ada campuran neko- neko. Ia mengontrol kualitas produknya sendiri. Melalui pengolahan yang baik, membuat es durian Monthong 36 bertahan sampai 3 bulan.

Ia bisa berproduksi 150kg es krim durian dan 2000 pancake durian. Keuntungan bersih dikantongi Awenk 300 juta. Keuntungan bersihnya dari sana 15% nya. Untuk meyakinkan mitra waralabanya, bisnis ini memiliki aspek legal lewat CV. Monthong 36. 
 
Tahun 2014, bisnisnya mendapatkan 3 penghargaan, yakni Best Brand Award 2014, Citra Pengusaha Franchise dan The Best Kulineraward 2014. Tepat lima tahun lebih bisnisnya bermodel waralaba. Awenk memiliki 60 cabang sendiri dan 62 milik mitra. 
 
Paket investasi ada 4 jenis, total investasi dari Rp.7,5 sampai 50 juta. Paket A, senilai 50 juta, terdiri seragam, gerobak, banner dan produk awal 50 bal es krim dan 200 pcs pancake durian. Dimana per- balnya ada 40- 50 gelas es krim, sedangkan Paket B, modal Rp.17 juta dapat booth 1,8 meter, seragam, banner, brosur, 100 cup dan 200 pancake durian.

Paket C investasinya Rp.12 juta, ada booth, seragam, banner, brosur, dan bahan baku awal es krim bernilai 100 cup besar, 100 cup kecil, dan 200 pcs pancake durian. Tterakhir ada Paket D yang investasinya Rp.7,5 juta dimana isinya seperti Paket C. 
 
"Sistemnya kita juga bisa retur," ujar Awenk. Dan, menariknya tidak ada batasan waktu kontrak, franchise fee maupun royalti fee! Hanya saja, agar tidak merubah rasa, Awenk mewajibkan membeli di pusat.

Ketika bisnis kamu sukses, kamu bisa membeli es krim lagi dari tempatnya atau berhenti. Namun ia menyarankan pembelian minimal 100 bal es krim dan 2000 pcs agar harga pengirimnya lebih murah. Harga satunya bisa ditanyakan Awenk langsung. 
 
Ia menjelaskan mitra bisa mencapai omzet Rp.30 juta dan untung 40%. Ini benar- benar menarik rata- rata balik modal dari mitranya hanya 2 bulan. Kendalanya, menurut Awenk ada pada buahnya yang musiman, ketika permintaan tinggi maka akan sukar buat memenuhi. 
 
Untuk mengatasi hal tersebut pihak CV. Monthong 36 telah menyiapkan ruang stok. Dimana ketika musim durian maka Awenk akan menyetok durian disana.

Ibu Pecinta Burung Berbisnis Mudah

Profil Pengusaha Ibu- Ibu Muda

 
pecintaburung.png
 
Kisah ibu pecinta burung membuktikan berbisnis mudah. Para ibu muda tak monoton berjualan itu- itu saja. Biasanya mereka berjualan baju atau makanan. Nah, kali ini para ibu pecinta burung, tak cuma berjualan mereka juga mampu menternakan.
 
Mereka sukses dari hobi, hingga menghasilkan banyak keuntungan. Berikut daftar perempuan- perempuan luar biasa berbisnis burung yang notabennya passion -nya laki.

1. Kisah Ny. Alex asal Depok


Ibu muda satu ini sukses menangkar burung cucakrowo. Bermodal cuma halaman rumah lamanya di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, terlihat kandang- kandang kecil berejer berisi Cucakrowo. Ny. Alex menyebut ini bukan hasil seberapa karena rumahnya ini sudah tak cukup. 
 
Saking banyaknya permintaan dan hasil dari tangkarannya ciamik. Pemilik CBS Bird Farm ini haruslah memindahkan bisnisnya ke tempat lain.

Dipindah lah bisnisnya ke rumah barunya semuanya ya berkat bisnis ini. Sukses menangkar cucakrowo ini mampu membuatnya bisa membeli rumah baru, di kawasan Jalan Sawang Permai Baya, Kampung Kupu RT. 02/RW. 08, di depan GKLH An- Nur, Bedahan Pasir Putih, Depok. 
 
Suksesnya menangkar Cucakrowo menghasilkam 28 kandang indukan produktif. Setiap bulan kadangnya mengasilkan anakan laris manis terjual.

Cucakrowo milik CBS Bird Farm memang eksotis. Beda dari biasanya dijual dipasaran. Ny. Alex tepatlah memilih cucakrowo kepala hitam. Dimana dikepalanya ada bercak bulu berwarna hitam. Warna itu menurun ke anak- anaknya dan ternyata mengundang perhatian pecinta burung. Anak menetas dalam perawatannya, akan ia biarkan diasuh induknya 1 minggu. Barulah diangkat dan dipanen, maksudnya dipindahkan ke ruang inkubator.

Sebuah ruangan hangat beralas rerumputan atau alang- alang. Siap dipasarkan setelah umur 1,5 bulanan dimana sudah bisa makan sendiri. Nah, sukses menangkar burung cucakrowo, kamu bisa mengikuti jejak Ny. Alex dalam budidaya jangkrik. 
 
Ini bisa menambah pundi- pundi uang keluarga loh. Sukses mengangkar cucakrowo apalagi burung idaman ibu muda satu ini; burung murai batu. Bahkan dalam jangka waktu dekat Ny.Alex akan mendatangkannya dari Sumatra.

2. Kisah Ibu Andri Bogor


Kalau ibu berhijab satu ini sudah lebih jago soal menangkar burung. Juga punya burung cucakrowo yang ia tangkar di lahan terbatas, tak jauh dari rumahnya yakni di komplek Mutiara Bogor Raya Blog E9/No 1, di daerah Kutalampa, Bogor. 
 
Pertama kali punya burung buat ditangkar. Ia mengaku cuma punya tiga pasang indukan cucakrowo, dan dua pasang indukan jalak bali. Berkat usahanya kini sudah ada 17 kandang permanen. Untuk jenis burungnya juga sudah bertambah, yakni burung jenis lovebird. 
 
Jenisnya juga beragam antara lain lution, albino, blorok, dan lain- lain. Yang mana dari setiapnya menghasilkan burung- burung nan- eksotis. Usaha bernama MBR Farm memberikan perawatan 10 hari buat induknya. Kemudian dimasukan inkubator dan dirawat sendiri selepas umur 1,5 bulan.

Dua minggu setelah dilepas dari induknya; sang induk bertelor kembali.

Diakuinya dirinya cuma penangkar pemula. Dari perawatan dan lain- lain dikerjakannya sendiri. Mulai proses penjodohan, memanen anakan, hingga perawatan sebelum penjualan. Sukses menangkar membuatnya siap untuk memperbesar folume kandangnya.

3. Ibu Sadimin dari Cibinong


Beda wanita diatas, ibu yang satu ini bertekat menjadi breeder, justru karena ingin membantu bisnis sang suami. Enam tahun lalu, Sadimin, memulai usahanya menjadi penangkar sendiri. Usaha bernama Dwi Jaya Bird Farm Cibinong ini khususkan menangkar burung cucakrowo. 
 
Mereka lantas bersama membangun ini dari nol. Modal usaha pun didapat dari menjual sepeda motor. Uang tak seberapa dibelikannya dua pasang induk cucakrowo. Hasilnya dari indukan produktif ini jadilah satu pengorbanan manis. Bayangkan dari satu pasang terus berkembang biak. 
 
Kesemuanya seolah tanpa ada hambatan. Memang jika tak berkorban mana ada kesuksesan. "Alhamdulillah, semuanya lancar. Baru sehari masuk kandang, induk langsung bertelur," kenang Ibu Sadimin.

Mau tau kunci sukses Ibu Sadimin breeder cucakrowo?

Pertama adalah kamu harus penyuka burung. Penangkar dari hobi atau hati biasanya akan lebih sukses. Ini jika dibandingkan mereka yang punya uang banyak tapi tak suka burung. Kalau hobi pasti sayang ketika nanti diharuskan merawat burung. 
 
Kedua, kamu tak boleh malu ketika harus belajar dari awal bagaimana cara merawat burung. Caranya ya kamu harus belajar -berteman dengan para penangkar burung yang lebih profesional. Bertanya lah dari mereka dan belajar lah dari mereka. 
 
Nah, terakhir atau ketiga, maka perlu kamu ketahui bahwa ini adalah mahluk hidup. Butuh tempat penangkaran yang baik bukan alakadarnya. Meski dari nol haruslah kamu paham resiko burung mati, sakit, terlepas, atau dicuri oleh orang, dan juga gagal beternak.

"Misalnya, induk sudah jodoh dan bertelur. Tetapi saat mengeram tidak menetas. Bisa juga sudah menetas, tiba- tiba anakan dibuang oleh induknya," ujarnya. 
 
Perlu sebuah kesabaran buat kamu menjalani prosesnya. Diperlukan kesabaran, dievaluasi kembali apa yang salah, jikalau gagal maka itu pengalaman yang nyata, yang bisa kamu ingat ketika menjalankan kembali.

4. Kisah Ibu Marni asal Samarinda


Kalau Bu Marni sama juga mau membantu sang suami. Wawan, nama suaminya memang hobi soal burung, tapi biasanya soal perlombaan jadi beda kalau mau menangkar burung. Karena merasa tidak kunjung merasa beruntung maka beralihlah menjadi penangkar kenari dan lovebird. 
 
Tiga tahun lalu, keduanya membangun satu kandang di kawasan Suryanata Air Putih, Samarinda. Usahnya tak disangka maju pesat. Dan, Wawan kwalahan untuk mengerjakanya sendiri. Dari sinilah sang istri datang ikut membantu nyemplung di bisnis penangkaran burung. 
 
Telaten sang suami mengajar Ibu Marni dari memberi minum, makan, kemudian membersihkan kandang. Memulai dari kenari dan lovebird, kedua breeder semua istri ini juga melirik cucakrowo.

Sayangnya, memiliki dua pasangan indukan cucakrowo, belum menghasilkan piyikan jadi tapi ini tak lantas menjadikan mereka menyerah. Mereka bersama tetap berusaha hingga mendapatkan piyikan cucakrowo.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba