Awal Usaha Tas Gembool Inspirasi Wirausaha

Profil Pengusaha Vidia Chairunnisa


usahatasgembol.png

Inspirasi wirausaha membuat produk sendiri. Kisah awal usaha tas Gembool, bikin tas sendiri, jualan sendiri, untungnya membawa nama Vidia terkenal. Bukan cuma nama brand tasnya dikenal jagat bisnis fashion Indonesia. Namanya juga dikenal menjadi sosok fashion designer.
 
Peluang bisnis fashion masihlah sangat menjanjikan. Kamu juga tak lah perlu menjadi seorang fashion desainer dulu. Usia baru 25 tahun, tapi sudah sukses bisnis tas sendiri ialah sosok Vidia Chairunnisa, masih berkuliah di Fakultas Teknologi Kelautan saat itu.
 

Menjadi Pengusaha

 
Jurusan tak sesuai bisnis dijalaninya. Memang, namun jiwa wanitanya yang mendorongnya berbisnis saja. Ia melihat adanya kebutuhan berpenampilan modis. Tak perlu jauh cuma dari lingkungan teman- temannya saja. Vidia lantas mulai berdagang tas murah. 
 
Diambilnya produk asal Bandung sebagai awalan. Usahanya dimulai di tahun 2009 ketika itu tak disangka bisa laku keras. Kemudian mulailah mencari- cari pasar lain. Melompat ke aneka pameran bisnis dilakoninya.

"Tak disangka, ternyata laku keras! Saya pun mulai coba- coba ikut pameran untuk meraup pasar lebih luas," terangnya kepada awak media.

Dirinya merasakan ada kekurangan dalam bisnis. Yaitu bahwa apa yang dijualnya tak menutupi seleranya. Ada kekurangan dalam model tas bikinan orang lain itu. Lantas mulailah Vidia buat memberanikan diri mulai untuk membuat tas -nya sendiri. 
 
Ia cukup memodifikasi apa- apa model di Internet. Kemudian lahirlah tas pertama karyanya bermerek Tas Lutjuw. Dia cukup meminta dibuatkan oleh pembuat tas asal Bogor.

Lantaran dibuatkan oleh pengrajin tas lain. Belum tentu memuaskan keinginan hati Vidia akan produknya. Ia menjelaskan bahwa sistem dibuatkan orang lain atau "makloon" ini, memang punya kelemahan pada kualitas kontrolnya. 
 
Ia tak bisa menetapkan material ataupun aksesoris tambahannya. Jadilah bahan yang digunakan oleh si pembuat berkualitas rendah. Bahkan mereka melakukan finishing seadanya saja. Benar- benar tidak bisa dipertanggung jawabkan.

"Produk saya pun tak maksimal karena saya dipaksa membeli material berkualitas rendah yang telah mereka sediakan dengan finishing seadanya," jelasnya kepada majalah Femina.

Tak memilih pembuat tas lain. Vidia langsung tancap gas memilih membuka workshop sendiri. Akhirnya jadi lah produk ternama itu yang bernama tas Gembool. 
 
Untuk ini dia mempekerjakan 50 orang pengrajin wanita asal Kampung Cihampea, Bogor, dimana tasnya ini memiliki nama Gembool dari kata gembul (dalam bahasa Jawa). Konsep tasnya fun, warna- warni, serta dekat dengan selera remaja.

Kata gembul sendiri bisa berarti banyak uang atau menggelembung tasnya. Mengembul karena banyak uang atau isinya. Harapannya biar usahanya lancar serta memakmurkan. Vidia langsung saja membidik pasar anak muda ABG. 
 
Alasannya karena mereka konsumtif, centil, ingin sesuatu yang menarik mata mereka. Ingin juga gonta- ganti tas sayangnya masih terbatas uang jajannya. Selain itu warna- warna Gembool juga nge- jreng jadi bisa dipadu- padankan.

Riset sederhana dilakukannya. Dalam risetnya anak muda masih abg memilih sesuatu yang trendi, tapi dari segi harganya murah, sesuai daya beli mereka. Untuk bahan sudah disesuaikan olehnya. Akan tetapi masih dalam tataran kualitas terbaik bisa disuguhkan. 
 

Bisnis Tas

 
Ia berusaha keras agar menekan biaya produksi serta harga jual. Meski material hitungannya biasa, tapi finishingnya rapih, inilah menjadi kekuatan tas Gembool.

Produk miliknya juga memberikan garansi reperasi hingga setahun. Reperasi bahkan digratiskan jika terjadi kerusakan dari pabrikan. "Produk Gembool yang handmade terjaga betul kerapian jahitan dan lemnya," jelas Vidia lagi.

Agar usahanya tetap kompetitif dirinya tak pernah lupa berinovasi. Selalu mengikuti tren desain tas, terus mengikuti perkembangan termasuk tren tas Korea belakangan. Ia lantas memodifikasinya. Tas- tas dari sana biasanya berwarna pastel, tabrak warna, dan motif hewan. 
 
Vidia meyakini pasaran anak abg lebih peka di update pasar, variasi model, kemudian harga ketimbang kualitas bahannya. Memang anak- anak remaja baru gede ini suka warna- warna ngejreng.

Ia pun menyediakan aneka warna. Total 8- 10 pilihan warna disediakan untuk produk tasnya. Kemudian ada produk dompet maksimal diproduksi 15 warna berbeda. Gembool juga mengeluarkan tiap bulannya 2-3 model berbeda.

Serbuan produk impor tak menyurutkan Vidia. Ia sudah menyusun marketing apik. Ia fokus memanfaatkan sistem reseller. Pendekatan teman ke teman atau remaja ke remaja diandalkannya. Ini terbilang sukses besar apalagi memanfaatkan sosial media. 
 
Ia juga mempersilahkan mereka buat men- dropship tas Gembool. Tak ada syarat pemebelian minumun tapi... Tapinya bagi reseller order banyak akan mendapatkan potonga per- unit produknya 15%. Dari resellernya sendiri bahkan sudah ada rutin memesan Rp.5 juta sekali order. 
 
Biasanya kalo begini akan dijual secara offline. Cara pemasaran lain yakni melalui sistem toko online besar. Gencar sekali Gembool buat membangun branding -nya. Terbukti ada toko online besar siap menjual produknya, dari toko Zalora, Lazada, serta Blibli. 
 
Khusus membantu para reseller produknya menyediakan katalog. Total ada 50 reseller yang tersebar Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, bahkan Negeri Jiran.

Setiap minggunya workshopnya menghasilkan 10 lusin tas dan 25 lusin dompet. Ini juga termasuk produk lain seperti halnya sarung ponsel dan organizer. Harganya, dompet seharga Rp.45.000- Rp.155.000, lalu buat tasnya Rp.125.000- Rp.179.000.

Memanfaatkan sistem marketing panjang komplek. Berapa total omzet dihasilkan oleh Vidia. Jawabanya tak main- main yakni rata- rata Rp.200 juta- Rp.250 juta. "Laba bersih saya sekitar 20%- 30% dari omzet," terang Vidia. 
 
Telah sukses menyasar pasar anak muda maka selanjutnya adalah pasaran dewasa. Dibawah bendera CV. Gembool Mulia Jaya, kini, workshopnya sukse berproduksi 1.300 tas tiap bulan. Menyasar target pasar dewasa disiapkanlah produk khusus.

Nama produk barunya Vidiap dibawah label Bagtitude. Merupakan konsep tas wanita dewasa masa kini. Ini sudah mulai berjalan sejak November 2013. Pemilihan warnanya beda karena bukan anak baru dewasa. 
 
Ia menggunakan warna elegan seperti coklat, hitam, atau ivory, material digunakan pun lebih diatasnya. Jadilah harga jualnya juga jadi lebih tinggi yakni Rp.350.000. Atas kerja bagus perusahaan barunya inilah ia sempat menjadi finalis Joytea Grean Sosro Youth Business Competition (YBC) 2011.

Ketika ditanya sejak kapan mulai berbisnis. Ternyata, eh ternyata, jauh sebelum jualan tas asli Bandung, ia sudah pernah menjajal tas impor. Ini dijualnya secara retail di sebuah mal di kawasan Bogor. 
 
Aktifitas bisnis ini dijalani dari kurun waktu Januari sampai Agustus 2009. Disinilah, kemampuanya mengamati pasar terasah melalui serangkaian pengalaman berjualan sendiri. Delapan bulan pula sudah diketahuinya jelas apa kelebihan kekurangan tas impor.

"Saya melihat tas impor maju karena mengikuti tren mode. Padahal kualitasnya tidak terlalu hebat dibanding lokal," terangnya.

Selepas rajin berjualan tas impor beralih ke lokal. Ia lantas memutuskan membuat workshop sendiri seperti penulis kisahkan diatas. Modalnya cukup besar yakni Rp.24. juta. Dibuatlah semacam satu bengkel kecil tas bertempat di kawasan Bogor. 
 
Orderan pertama dirinya ingat betul yaitu Rp.350.000. Vidia senang sekali -ini menjadi pesanan pertama kali dan merupakan kunci. Sukses menjual pertama kali ternyata usaha tasnya itu semakin berkibar.

Tiga tahun berjalan usahanya awalnya cuma dibantu 25 orang. Setidaknya sudah ada 40 orang reseller online diawal tas ini berdiri. Dari Aceh sampai Papu sudah ada resellernya. Dimana pada awal bisnisnya reseller sudah menyumbang 15%- 30%. 
 
Tas Gembool ditargetkan buat mereka yang berumur 14 tahun sampai 30 tahun. "Saya berharap bisa memiliki 100 reseller," pungkasnya.

Halangan berbisnis


Tidak ada halangan baginya memulai usaha sejak muda. Namun, bagi pemilik perusahaan CV. Gembool Mulia Jaya ini, satu- satunya penghalang kamu adalah pengalaman. Akan tetapi kita tak akan berpengalaman jika tak mencoba. 
 
Tidak tahu apa- apa soal bisnis. Vidia nekat nyemplung saja. Ini ajang pembelajaran yang tak mungkin didapatnya di pendidikan formal.  Sejak kecil sudah berjualan jepit rambut ketika masih duduk sekolah dasar. 
 
Kemudian, mulailah berjualan produk fashion lain kali ini adalah pakaian tidur dan muslin. Ketika itu ia sudah beranjak dewasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama di Lombok, Nusa Tenggara Barat. 
 
Cuma modal kenalan ibunya anak SMP itu berani mengajukan kerja sama. Ia kemudian tanpa malu menjual produk itu secara door- to- door saja. Dari sini, ia bisa mengumpulkan uang saku, bahkan sudah bisa beli ponsel sendiri.

"Saya lupa berapa bayarannya, tapi yang jelas saya bisa membeli ponsel dari hasil tersebut," ia mengingat.

Namun, ketika kedua orang tuanya tau, Vidia justru dilarang keras buat berjualan. Alasannya karena akan mengganggu tugas sekolahnya. Mereka takut mengganggu prestasi sekolahnya. Karena menghormati kedua orang tuanya berhenti sejenak Vidia dari berdagang. 
 
Tapi tekadnya sudah bulat kelak dia harus jadi pebisnis. Disisi lain orang tuanya berharap dirinya menjadi pegawai negeri sipil. Tahun 2005 selepas menamatkan sekolah menengah atas di Lombok. Dia memutuskan melanjutkan kuliah di Bogor yakni di Institut Pertanian Bogor (IPB). 
 
Di masa kuliah jiwa kewirausahaanya merdeka dan mulai lagi berjualan. Awal kuliah beralih berjualan mutiara. Saat itu banyak teman mencari mutiara khas Lombok. Dia sendiri tak spesifik menyetok. Cukup menghubungi pengrajinnya disana langsung. Semuanya itu ada setiap ada orang pesana saja.

"Jadi saya tidak menyetok, semua sesuai pesanan," jelasnya, semua pesanan temannya ditampung oleh Vidia kemudian ketika pulang kampung barulah dibelikan. Harga jualnya Rp.160.000 per- butir.

Kegiatan bisnis tanpa sepengatahuan ibu itu pun berlanjut. Bahkan menjadi lebih terobsesi dari sebelumnya Ia tumbuh terus dari berjualan. Produk mutiara tersebut dijual seharga Rp.160.000 dimana margin untungnya mencapai 50%. 
 
Meski margin tinggi bisnisnya dianggap terbatas kalangan tertentu. Dia merasa bisnis begini tak menjanjikan. Tahun 2008 dimulailah bisinis tas impor kemudian tas buatan loka. Sejak itu pula tekadnya buat memiliki brand sendiri timbul.

Mantan Satpam Jadi Pengusaha Sosis Caplin

Profil Pengusaha M. Aries Zara


mantansatpam.png
 
Mantan satpam jadi pengusaha sosis Caplin. Dia salah satu anggota wirausahawan Tangan Diatas atau TDA. Dialah M. Aries Zara, menceritakan pengalamannya menjadi pengusaha muda. Kepada kita dia membuka ceritanya dengan kalimat, "persaiangan adalah wajar". 
 
Apalagi persaingan bisa meningkatkan semangat kita. Persaingan baik menurutnya adalah yang mampu memberikan dampak positif. Usahanya memang tipikal usaha umum jaman sekarang.

Mantan Satpam

 
Bahkan udah terlalu banyak usaha sejenis. Akan tetapi prinsipnya selama ini persaingan haruslah sehat. Tak masalah Pemuda 25 tahun ini menyebut tak masalah. Ketika ia ditemui oleh pewarta. Ia berprinsip jangan bohong sama konsumen, jagalah relasi, selalu berinovasi menjadi andalan. 
 
"InsyaAllah lancar- lancar saja," ungkapnya. Aries menceritakan awal mula menggeluti wiraswasta. Dulunya, dia hanyalah seorang satpam di salah satu perusahaan BUMN perminyakan. Apa membuatnya tertarik membuka usaha sendiri. 
 
Pikirannya muda yakni jikalau berhasi tentulah penghasilannya lebih dari satpam. Sebuah pertaruhan dilakukannya ketika memulai usaha ini. Hal lain karena usaha sendiri berarti waktunya fleksibel.

Dia bisa jalankan sambil santai katanya.

 "Saya kerja (jadi satpam) dua tahunan. Habis itu coba usaha sendiri. Sempat jatuh bangun juga. Dari main proyek dekorasi, sampai buka usaha capucino cincau," katanya.

Ini tidak semudah membalikan telapak tangan saja. Selepas menjadi satpam kurang lebih selama dua tahun. Dirinya langsung tancap gas mengerjakan usaha pertama. Pertama kali mencoba membuka usaha sendiri ya jatuh bangun. 
 
Ia mulai berbisnis dekorasi. Gagal disusul menjual capucino cincau. Usaha terakhir capucino ini berjalan lumayan baik. Bahkan masih bertahan menyisakan dua outlet. Soal capucino cincau menurutnya paling susah soal sewa tempat.

Bayangkan saja, selepas masa kontrak habis, pemilik tempat pastilah menaikan harga sewanya. Pengalaman semacam ini menjadi perhitungannya. Hingga akhirnya ia memutuskan membuka usaha sosis bakar. Sebuah inovasi dimana sosisnya dijual lewat warung tenda. 
 
Modal pengalaman capucino cincau, ia memilih membuat seperti itu. Alasannya bila sewaktu- waktu disuruh pindah ya pindah. Cuma modal tanah lapang, kemudian dipasangnya tenda, tak perlu pula pusing soal biaya sewa.

"Kalau model kios misalnya kontrak enggak diperpanjang repot cari tempat yang baru," terang Aries lanjut. Memang tak disangka usaha sederhana ini menghasilkan.

Meski cuma lulusan SMA dirinya bisa menghasilkan uang lebih. Bahkan lebih banyak dari kita yang menjadi pegawai negeri. Konsep bisnisnya sosis ditambah aneka jajan lain dibakar. 
 
Ada sosis bakar ayam dan sapi, kemudian aneka bakso bakar, cumi- cumi, kepiting, tuna, bahkan sampai otak- otak, semuanya ditusuk sate. Harganya dibandrol Rp.5.000 ukuran sedang dan kecil Rp.10.000. Aneka bakso dibandrol lebih murah yakni cuma Rp.2.000 per- tusuk.

Jadi Pengusaha Sosis


Meski kecil- kecilan tapi berani menawarkan konsep warlaba. Bahkan untungnya bisa sangat tinggi kalau dihitung dari omzetnya 150 juta. Usaha aneka sosis bakar ini diberinya nama Si Caplin. Soal pemasok tak perlu risau karena ia distok oleh perusahaan- perusahaan besar. 
 
Dan, sudah terjamin kehalalannya, dari itu semuanya jika dihitung untungnya "tak masuk akal". Tapi faktanya omzetnya bisa minimal 5 juta per- bulan dimana itu dari empat tempat saja. Ini bahkan belum termasuk apa yang dihasilkan dari 21 cabang mitra warlabanya.

"Yang pasti dari usaha ini alhamdulillah saya bisa mandiri, punya penghasilan lebih, walaupun hanya tamatan SMA," kata Aries.

Untuk menjadi mitranya cukup membayar modal Rp.5 juta. Kemudian mendapatkan stok sosis langsung, kemudian tenda jualan, ditambah perlengkapan dan dekorasinya termasuk merek dagang Si Caplin. Soal pemasaran baiknya kamu menjual di waktu sore pukul 16:00 sampai 23:00. 
 
Si Caplin tidak mengenakan fee cuma diwajibkan membeli kepadanya. Murah banget buat waralaba sejenis sosis yang pernah kami ulas dari sini. Aries sosok tak sekedar berteori. Membuktikannya melalui kerja nyata. Dia sudah memiliki 25 cabang kini. 
 
Yang tersebar di wilayah Ciputat, Pamulang, Cileduk, Depok, Cikupa, Kebayoran Lama, Bekasi, juga di Karawang. Sukses berbisnis sosis bakar dirinya sangatlah bersyukur. Dimana ia sudah bisa mengajak kedua orang tuanya pergi umroh. 
 
Nah, sukses berbisnis sosis, ia siap masuk ke bisnis lain dibidang kuliner juga. Menurut informasi Warta Kota Tribunnews, diberitakan kini, Aries Si Caplin tengah fokus menggarap bisnis kuliner lain. Sukses Si Caplin usahanya beralih ke soto kalong. 
 
Dia menjelaskan konsep bisnisnya kuliner dan bisa dijajakan di jalan. Lokasinya ada di depan Perumahan Bukit Nusa Indah, Serua, Ciputat, di Tangerang Selatan. Soto Kalong sendiri dikonsepnya kuliner malam hari. Konsep kaki lima tapi tak memakai lilin. Ia menjelaskan ini pakai obor!

Konsepnya gelap- gelapan, ditemani obor, dibawah taburan bintang, romantis, dan susanannya seperi halnya di puncak. Aries sendiri menjelaskan ini bukan soto biasa. Resepnya merupakan pemberian neneknya. 
 
Dan dijamin akan menggugah selera kamu. Selain rasanya nendang ditambah susananya. Hal lain, yang menjadi keunggulan adalah harganya murah dari standar soto. Ada kerupuknya kemudian minumnya teh tawar yang hangat.

"Teh tawar hangat semuanya gratis dan bisa menambah sepuasnya," jelas Aries.

Soto ayam dibandrol Rp.8.000 per- porsinya. Harganya murah akan tetapi tidak murahan. Dia menawarkan startegi beli satu dapat satu mulai 16 September 2015. Ini bukanlah startegi baru. Sudah pernah dicobanya ketika merintis bisnis sosi bakar. 
 
Menjalankan bisnis barunya Aries Si Caplin tak lupa teman. Menggandeng teman sekolahnya Udin sebagai juru racik sotonya. Kebetulah mitra barunya itu memang suka masak. Ya, ia tinggal mentransfer ilmu resepnya.

Ia sendiri juga turun langsung. Modalnya kesuksesan bisnis kuliner sebelumnya. Aries berharap nantinya bisa sukses seperti sosis bakar Si Caplin. "Saya jualan soto tidak mau mengejar keuntungan saja," terangnya. 
 
Dia mau membuka lapangan pekerjaan seluasnya. Termasuk buat sahabat- sahabat SMA nya dulu. Disini pilihan tempatnya di kawasan romantis. Menggarap usaha sotonya, Aries memiliki lima karyawan, menarget 30 cabang soto.

Sementara itu belum setahun Si Caplin berdiri. Baru 14 bulan sudah berani berekpasi ke bisnis lain. Itulah pengusaha muda ini, bahkan, sudah mampu membuka 45 cabang bermodal kemitraan atau waralaba. 
 
"Insya Allah dalam waktu ini sosis bakar mau buka enam cabang lagi," tambahnya. Sukses bermodal ijasah SMA layaknya menggugah hati kita. Menggugah buat kita agar tetap fokus berusaha. Jadilah pengusaha yang bisa menginspirasi banyak orang.

Pengusaha Asal Semarang Berbisnis Tahu Crispy

Profil Pengusaha Anggih Heri Saputra

 

pengusahasemarang.png

Perkenalkan pengusaha asal Semarang beromzet ratusan juta. Pemuda bernama lengkap Anggih Heri Saputra, berbisnis tahu crispy sampai memiliki 40 gerai cabang berbekal waralaba. Diceritakan pemuda 24 tahun berbisnis disebabkan keterpaksaan.


Pengusaha kepepet dia pernah merasakan kesusahan. Pernah hampir kelaparan di perantauan ketika masih kuliah dulu. Anggih tidak punya uang. Disisi lain, Anggih harus membeli baju olahraga buat berkuliah di jurusan Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang (UNNES) di Semarang.

 

Pengusaha Semarang


Perlu diketahui Anggih bukanlah anak orang kaya. Hidup di keluarga biasa, didorong guru dan orang tua mimpinya menjadi guru diperjuangkan. Lewat jalur prestasi Anggih masuk kuliah lewat Bidikmisi. Jalur beasiswa tersebut ia manfaatkan baik- baik.


Kini cita- citanya masuk jurusan keguruan terkabul berkat beasiswa. Anggih pun menjadi mahasiswa yang baik dan berprestasi. Dia lulus bernilai IPK 3,63 dan bergelar Cumlaud. Ia sempat minder lahir di keluarga berekonomian rendah.


"Saat itu saya sangat ingin kuliah, tetapi keluarga tidak mampu," ia menambahkan. Dan dia merupakan satu dari empat bersaudara. Kesemua saudaranya tidak pernah masuk Universitas. Jalan terjal Anggih lampaui, walau optimis namanya kuliah tetap membutuhkan biaya lebih.


Disinilah Anggih terpaksa mencari pekerjaan. Tidak punya biaya membeli kaus olahraga buat praktek. Ia ingin kerja sampingan. Tetapi dia memutuskan berbisnis sendiri. Usaha kecil- kecilannya berjalan lancar. Inilah berbisnis tahu crispy berbahan murah dan mudah.


Merintis usaha Maret 2018, usahanya kecil- kecilan tetapi berkembang pesat dalam tiga tahun. Dia bahkan mampu membuka cabang. Memiliki 40 gerai cabang tersebar di penjuru daerah. Dia memiliki 60 orang pegawai dan beromzet ratusan juta.


Menjadi mahasiswa memberikan ruang belajar lebih banyak. Mahasiswa diajarkan mampu mencari peluang. Kewirausahaan merupakan bekal mutlak. "Tidak ada proses yang menghianati hasil. Sukses itu butuh pengorbanan dan perjuangan," Anggih melanjutkan.


Menjadi pengusaha tidak melulu dibayar uang. Malah pengusaha akan dibayar kegagalan, bangkrut, rugi, ditipu. Harus optimis bahwa akan tiba waktu kesuksesan. Anggih optimis dia akan sukses kelak dan jadilah bisnis tahu crispy Kekinian.

Pengusaha Hendi Avanda Pemilik Panda Rumput Laut

Profil Pengusaha Sukses Hendi Avanda


hendiavanda.png
 
Pengusaha Hendi Avanda pemilik Panda Rumput Laut. Tidak setenar Top Tao Kae Noi asal Thailand, tetapi merupakan salah satu perintis usaha sejenis. Padahal laut Indonesia begitu luas tetapi hanya Hendi Avanda mampu bertahan. Tapi bisa juga dia belum lah pernah mendengar namanya. 
 
Namun, pastinya pengusaha satu ini sama- sama bukan tipikal pemuda pantang menyarah. Dia bernama Hendi Avanda, pria kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Februari 1992, dimana juga mahasiswa Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). 
 

Usaha Rumput Laut

 
Sejak kuliah pikirannya tak pernah bisa fokus berkuliah. Jiwa kewirausahaan telah mendarah daging. Sosok entrepreneur muda ini sudahlah berbisnis sejak dini. Yah, akan tetapi lagi- lagi usahanya selalu gagal -padahal sudah berbisnis aneka macam. 
 
Waktu itu dirinya masih berbisnis buat membantunya berkuliah. Vanda memang bukan dari golongan orang mampu. Contoh bisnisnya yaitu menjual ketan durian buatan sendiri ke GOR UNY. Usahanya berjualan cuma menghasilkan penjualan tiga porsi itupun dalam sebulan.

"Habis itu aku juga sempat buka aksesoris komputer sama teman- teman, tapi hanya bertahan tiga bulan," kenang Vanda.

Kegagal tak membuatnya patah arang. Malah memunculkan ide- ide unik keluar. Tujuannya bagaimana sih mengakali kegagalan. Hingga, seorang teman membawakan oleh- oleh khas, yakni jajanan rumput lau asli dari Korea Selatan. Vanda lantas berangan- angan punya produk seperti ini.

Jajanan rumput laut di pasaran memang asalnya dari Negeri Gingseng. Namun tidak semuanya dihasilkan dari sana sendiri. Oleh karena itulah dirinya meyakinkan diri. Ia ingin membuat jajanan rumput laut khas asli Indonesia. 
 
Dia mulai bereksperiman membuat jajanan rumput laut sendiri. Pemilik produk bernama Panda Rumput Laut ini tak langsung jadi nyata. Tidak langsung jadi produk idam- idamannya tersebut. Sepanjang tahun 2011 dijadikan perjalanan mencari resep terbaik.

"Saya pun bereksperimen membuat snack rumput laut buatan Indonesia," tegasnya. Pengusaha muda 20 tahun ini memang tak ada matinya. Mahasiswa Manajemen Pendidikan semester akhir ini sudahlah bertekat bulat. 
 
Semuanya bermodal otodidak saja. Tahun 2011 berbekal uang pas- pasan mulailah dikelilinginya pantai di Pulau Jawa, mulai dari pantai Gunungkidul, Kepulauan Seribu, Semarang, Jepara, lalu Surabaya hingga Pacitan.

Kesimpulannya saat itu adalah tidak menemukan rumput laut idamannya. Memang produk Panda Rumput Laut menggunakan rumput laut khusus bernama porphyra. Di Timur Indonesia sendiri sudah ada rumput laut jenis. 
 
Sayangnya, mutunya tak sebaik ketika dirinya impor, ya, akhirnya Vanda memutuskan untuk impor saja dari Korea. "Jalan satu- satunya ya saya impor. Hingga kini juga masih impor," pukasnya. Tak tanggung kini dirinya sudah bisa mendatangkan satu ton rumput laut.

Usaha Sendiri

 
Rumput laut jenis ini yang satu ton tersebut, digunakannya buat kebutuhan sebulan dan produksinya memang bersekala rumahan. Bermodal rumah kontrakan di Perum Graha Palem Indah A10, Condongcatur, Sleman, dimana produksinya sudah harian. 
 
Kesemuanya dikerjakan di tempat tersebut dari pemasakan sampai hal pengemasan. Di setiap harinya memproduksi mencapai 400 bungkus. Kemudian dipasarkan ke 28 toserba di Jogjakarta. 
 
Selain disana, Panda Rumput Laut sudah menyebar ke Bandung, Bangka, Lampung, Malang, Solo, dan juga Magelang, totalnya sudah ada 120 toko di luar Jogja. Bahan spesifik porphyra ini ternyata justru membuat jajanannya berbeda dari asli Korea. 
 
Karena snack rumput lautnya jadi tidak membutuhkan MSG atau bahan penyedap rasa. Jajanan ini juga jadi lebih murah terangnya lagi ke awak media. Dia dibantu oleh enam karyawan. Juga masih terus mengembangkan bisnis rumput lautnya ini. 
 
Total ada tiga varian rasa rumput laut yaitu original, barbeque, dan spicy, tapi belum lah cukup. Rasa penasarannya akan sukses asli Indonesia akhirnya melahirkan rasa gudeg. Namun, masih belum mendapatkan komposisi enak buat rasa gudegnya tersebut. 
 
Tak cuma varian rasanya, Vanda bermimpi membudidayakan rumput laut porphyra sendiri. Sejujurnya ia menjelaskan bahwa petani lokal sudah membudidayakan rumput laut. Selama ini mereka baru bisa membudidayakan jenis ulva (yang biasa jadi minuman es). 
 
Nah, Vanda ingin agar jenis ini juga bisa aktif dibudidayakan tapi dengan kualitas sama baiknya. Dia berharap agar ini bisa cepat terealisasi, Agar nantinya bisa ia gunakan untuk produk- produk jajanan rumput lautnya dan varian produk olahan lainnya.

Tak Suka Diatur Atasan Pengusaha Toko Olahraga

Profil Pengusaha Randy Fitranadi


pengusahatoko.png
 
Jadi pengusaha toko olahraga tak suka diatur atasan.  Dulu gagal usaha batik tak membuatnya lantas surut. Malah semakin menjadi- jadi berbisnisnya. Dia Rady Fitranadi, awalnya merintis usaha pakain batik tapi beralih pakaian lain. 
 
Beda bukan pakaian distro tapi malahan pakaian olah raga. Dan, hasilnya, tak terlalu buruk pengusaha kelahiran Padang, 25 April 1980 ini bisa bernafas lega. Usahanya terbilang lancar jaya dibanding sebelumnya. Randy bahkan jadi sorotan karena bisnisnya tak biasa.
 

Usaha Toko Olahraga


Randy cuma berjualan di kampusnya saja. Tiap berangkat ke kampus punggung Randy selalu terbebani. Tas ranselnya berisi barang dagangan aneka pakaian. Kemudian seiring waktu sedikit- demi sedikit mulai lah ia membangun toko perlengkapan olah raga sendiri. 
 
Ia memang suka sekali menjadi pengusaha muda. Berawal ketika mengikuti ajang Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) oleh Universitas Andalas. Berlanjut ke bisnis batik pertamanya.

Sukses dari ajang tersebut didapatkannya modal Rp.8juta. Ia lantas gunakan sebagai modal membeli batik. "Saat itu saya melihat batik sedang populer di Indonesia," ujarnya. Ada prospeknya bagus disana di bisnis batik ini. 
 
Sayangnya, dalam beberapa bulan malah tidak ada perkembangan berarti. Dia berpikir sederhana mungkin batik di Padang belum sepopuler di Jawa. Secepatnya ia banting stir memilih berjualan pakaian olah raga; seketika keburu modalnya habis.

Randy memulai usaha dari nol lagi. Uang modal digunakan membeli pakain olah raga dari Jakarta. Idenya muncul karena kebiasaanya beli peralatan olah raga. Ketika membeli perlengkapan olah raga di tempatnya, ia lantas berpikir kenapa tidak berbisnis pakain olah raga. 
 
Peniliaian akan prospeknya memang tak salah. Terbukti pembeli selalu datang mampir. Peminatnya tak surut utamanya buat olah raga futsal.

"Apalagi saat ini, olahraga futsal menjadi olah raga yang top di tengah- tengah masyarakat," jelasnya.

Usaha pria penghobi futsal ini semakin berkibar saja. Dari awalnya cuma menjual peralatan atau kaos olah raga seadanya. Ia tawarkan kepada teman- teman sekampusnya. Kini, usahanya sudah punya tempat tetap, padahal dulu modalnya cuma tas ransel. 
 
Ini membuktikan bisnis tak harus bermodal besar. Kawan- kawannya pun mendukung langkah Randy mengembangkan sayap. Kawan- kawanya jadi pelanggan pertama tetap toko kecilnya. Ini memberikan dorongan motivasi baginya.

Ia jadi lebih percaya diri. Kerja kerasnya berbuah ketika itu dihargai. Penghargaan itu salah satunya dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui pinjaman KUR. Putra ketiga dari pasangan Indra Nadhi dan Nursidah ini tak menyia- nyiakan. 
 
Toko pertamanya itu berdiri di Jalan Adinegoro No.11 Tabing di Simpang, tepatnya ada di arah ke kampus ATIP Padang. Waktu telah berlalu dimana usahanya tak seperti dulu. Kini, Randy bisa bolak- balik naik pesawat Jakarta- Padang cuma buat menyetok barang. 
 
Jumlah pelanggannya juga sudah bertambah seiring waktu. "Saya tidak menyangka, saya sekarang sudah bisa bolak- balik Jakarta- Padang," ungkapnya. Ia merasa senang karena tak perlu lagi susah kesana- kemari mencari kerjaan. 
 
"Ternyata jadi pengusaha itu memang enak," tambah pria berbadan atletis ini.

Randy blak- blakan mengaku kenapa jadi pengusaha. Ternyata semenjak merasakan enaknya. Ia malah ketagihan karena memang tak ada batasan. Tepatnya dia tak perlu diatur- atur orang. "Saya tidak suka diperintah," jelasnya. 
 
Dirinya merasa gaji menjadi pegawai itu kecil. Padahal jika dibaca dari pengalamannya diatas dia belum pernah bekerja. Padahal dia belum pernah jadi karyawan tapi langsung pengusaha, "Jadi pegawai itu harus siap seperti robot, yang senang tiasa dikendalikan orang."

"Itu bukan tipe saya," sebut Randy. Menurutnya menjadi pengusaha memberikan banyak manfaat. Bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ia kemudian menjelaskan, kita tidak makan gaji pemerintah saja. Ini mungkin merujuk kepada pegawai negeri sipil. 
 
Malahan menurutnya pengusaha lebih berguna bagi negara. Tak makan gaji buta justru malah jadi sumber pajak negara. Mampu membantu masyarakat banyak.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba