Pengusaha Membuat Keripik Pare Bisnis Menggiurkan

Profil Pengusaha Sukses Sofyan Hadi


usahapare.png
  
Pengusaha asal Kudus ini mempunyai kisahanya sendiri. Ia membuat keripik pare bisnis menggiurkan. M Sofyan Hadi tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya berwirausaha. Dia berkisah semuanya terjadi ketika dirinya menetap di Surabaya, Jawa Timur. 
 
Alkisah ketika itu orang tuanya meminta Hadi tinggal disana saja. Disana mulailah ia bertemu banyak orang- orang baru dan kisah pun berlanjut. 

"Saya lama tinggal di Surabaya, disana teman- teman asal Malang banyak membuat yang berkreasi dengan keripik buah," jelasnya kepada Tribunnews.com.
 

Bisnis Menggiurkan


Terbersitlah pikiran membuka usaha membuat keripik. Tapi, Hadi maunya sesuatu berbeda dari apa teman- temannya buat. Ia pun mulai rajin mencari resep di internet. Mencoba mencari alternatif keripik yang bisa diolahnya. 
 
Sekian lama berselancar di dunia maya, barulah, ia menemukan jalan suksesnya hingga sekarang. Mantan wartawan ini memilih buah pare sebagai bahan baku. Alasannya adalah karena manfaat pare bagi kesehatan.

Alasan lainnya, Hadi mengamati kala itu, usahanya masih belum banyak pemainnya. Jadilah dirinya menjadi salah satu pemain utama. Pria lulusan Universitas Negeri Semarang ini (UNNES), menjelaskan dirinya tak bisa sekonyong- konyong menggoreng pare. 
 
Dia butuh waktu agar parenya tidak berasa pahit. Buah pare harus dibuat seenak mungkin, hingga rasa pahit tak begitu mengganggu. Serangkaian percobaan kemudian dilakukannya.

Hingga, Hadi yakin betul akan formulanya, bagaimana cara mengolah pare menjadi keripik pare. Caranya yakni: pertama, pare dirajang diris tipis- tipis terlebih dahulu, kemudian direndam daun kudo selama dua hari. Kedua irisan pare tersebut dikeringkannya.

"Dari berbagai percobaan, akhirnya ketemu. Caranya ternyata sangat mudah, pare yang telah dirajam dengan daun kudo selama dua hari," jelasnya.
 
Pare kering setelah dijemur lantas ditiriskan ke wadah. Selepas itu Hadi kemudian menggorengnya dua kali sampai benar- benar kering. Perlu kamu ketahui pada penggorengan pertama jangan langsung digoreng lagi. Kamu harus mengangin- anginkan terlebih dahulu. 
 
Terakhir penggorengan kedua akan digoreng benar- benar agar hasilnya benar- benar crispy. Mantan wartawan 1998 hingga 2014 ini, tak lantas menjual hasil karyanya tapi dicobanya dulu.

Dia membagikan keripik parenya ke lingkungan terdekatnya. Hadi menyebutkan semenjak mengkonsumsi keripik buatannya sendiri. Ia merasa kesehatannya membaik. Inilah kelebihan keripik pare menurutnya. Dia menjelaskan, katanya keripik pare ini bisa mengurangi pusing- pusingnya. 
 
Bukti lain yaitu tetangganya yang punya gula darah bisa berangsur- angsur normal. "Ada juga tetangga yang punya gula darah tinggi saya kasih untuk coba, ternyata setelah menghabiskan tiga bungkus gula darahnya berangsur normal," terangnya.

Puas akan hasil kerja kerasnya. Barulah Hadi memasarkan keripik pare tersebut ke pasaran. Beberapa toko di Kudus dijajalnya, hasilnya, tanggapan positif terhadap hasil produknya. Uniknya, Hadi tak cuma menyasar toko- toko jajanan biasa, tapi juga apotik- apotik terdekat. 
 
Ya, karena memang kasiat keripik pare seperti jamu, ternyata keripik pare bisa menjadi alternatif pengobatan kita. Demikian permintaan akan keripik pare lantas membengkak; Hadi mengaku sampai kwalahan memenuhinya.

Permintaan akan keripik pare tak cuma datang di sekitaran Kudus atau Surabaya. Permintaan keripik juga datang dari Semarang, bahkan Jakarta, Bandung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Palembang, dan juga Medan, juga beberapa toko- toko di berbagai kota seluruh Indonesia. 
 
Dia dibantu oleh tujuh orang karyawan telah menikmati hasil kerja kerasnya. Produk keripik pare -nya mengantongi omzet puluhan juta per- bulan.

Juga tak perlu repot- repot marketing karena seluruh Indonesia bisa membaca kisahnya.

"Hampir semua apotek di Kudus juga berminat memasarkan, sudah banyak yang pesan," jelasnya.

Kendala dihadapinya adalah soal bahan baku. Hadi memang tak sembarang memilih pare. Ia menggunakan pare jenis Thailand atau disebut juga pare landak. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Hadi menyiapkan petani plasma binaannya. 
 
Tujuannya agar stok pare Thailand stabil. Menggunakan metode plasma memang bagus terutama guna memunuhi kebutuhan akan bahan baku. Total ada lima petani plasma binaanya yang ia pinta khusus menanam pare Thailand atau landak tersebut.

Setiap bulannya menghasilkan 3 ribu bungkus keripik pare. Yang kemudian dilabelinya "Parea", yang mana ia memproduksi berat 35 gram sampai 100 gram. Mayoritasnya kemasan seberat 35 gram, karena itulah yang paling laku. 
 
Soal harga, Hadi mematok angka Rp.5 ribu sampai Rp.35 ribu, semuanya tergantung berat isi dalam kemasan. Varian rasa kerpik parenya mulai dari rasa orginal, keju, jagung pedas, pedas biasa, dan lain- lain. Pabrik kecilnya juga memproduksi rempeyek pare.

"Yang pokok, untuk membedakannya, yang bertepung itu saya klarifikasikan sebagai rempeyek, sementara yang original dan tak bertepung digolongkan sebagai keripik," jelasnya.

Travel Lets Get Lost Usaha Wisata Lokal

Profil Pengusaha Ricky Surya


pengusahatravel.png
 
Perkenalkan bisnis travel Lets Get Lost karya mahasiswa Prasetiya Mulya. Didirikan oleh pengusaha muda yang menekankan usaha wisata lokal. Namanya Ricky Surya. Punya hobi berkeliling Indonesia, yang mana lantas dijadikannya bisnis mandiri. 
 
Tak tanggung karena tujuan pariwisatanya tak melulu Pulau Dewata. Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulia. Dia bersama empat orang kawan. Ricky sendiri barulah 25 tahun. Akan tetapi, diusia segitu, usahanya cukup mapan dibidang pariwisata. 
 

Usaha Wisata Lokal

 
Tepatnya dia berhasil membuka bisnis travel dan tour. Namanya Let's Get Lost Tour. Dimulai cuma bermodal laptop saja, tanpa kantor resmi, akan tetapi bisa dimarketingkan secara apik olehnya.

"Bisnis traveling berbasis full online," jelasnya. Fokus usahanya adalah tempat- tempat wisata dalam negeri. Ia punya prinsip yakni memuaskan pelanggan. Dia mengatakan itulah prioritas utamanya kini. Meyakinkan para pelanggan akan cakupan kebutuhan wisata dan layanan prima. 
 
Dimulai sajk 2015, bisnisnya melaju cukup pesat. Tapi jangan salah konsepnya sudah ada sejak 2014 silam. Ia telah mengumpulkan informasi tujuan- tujuan wisata lokal. Total modal awal ia bersama empat temannya cuma Rp.28 juta. 
 
Bermodal laptop mereka juga memasarkannya melalui situs www.letsgetlostid.com. Perbulan menurut penjelasannya, bisnis ini, bisa senilai Rp.40- 60 juta per- bulan. Ricky mengaku mampu menggaet paling tidak 58 orang per- bulan. 
 
Sejak enam bulan diresmikan angka tersebut bisa dibilang fantastis; bisa balik modal! Total ada 25 tempat wisata lokal di penjuru Indonesia. Dari ujung Barat sampai Timur sudah dipetakan oleh bisnisnya. Paling jauh menurutnya adalah kawasan Sulawesi Selatan. 
 
"Papua dan Raja Empat khususnya kita akan buka dalam waktu dekat," imbuhnya percaya diri.

Let's Get Lost sendiri memberikan paket- paket pariwisata unik. Contohnya ada konsep wisata Escapist Experiences, yakni wisata berbasis outdoor. Kemudian ada Entertainment Experience yakni fokus acara- acara daerah. 
 
Terkahir tapi bukan terburuk, bagi kamu yang hobi selfi atau foto- foto, adanya paket bernama Natural Aesthetics menjadi pilihan mu. Untuk mendukung usahanya, ia tak lupa untuk melakukan kegiatan sosial.

Disebutnya program social dan environment mereka meliputi pembagian buku dan pelepasan penyu. Ia pun punya alasan tersendiri ketika ditanya kenapa memilik lokal. Kenapa pariwisatanya fokus padanya tujuan- tujuan wisata asli Indonesia. 
 

Usaha Travel Lets Get Lost

 
Ricky menuturkan potensi pasar dalam negeri justru lebih besar. Disisi lain, justru masih sedikit perusahaan yang mau fokus menggarap. Kalaupun ada maka cuma itu- itu saja tujuan wisatanya.

Menurut penjelasannya lagi, dari 100% perbanding pariwisata yang terbagi wisata ke luar negeri atau dalam negeri. Nyatanya persentasinya 30:70, dimana 70 -nya merupakan wisata dalam negeri. Yang mana bahkan ia tak sanggup tangani sendiri. 
 
Masihlah luas potensi pasarnya kiranya itulah Ricky coba jelaskan. "Kenapa kita harus main keluar ketika market share wisata di dalam masih luas," imbuhnya.

Dalam sebuah kesempatan lainnya, Ricky ditemui awak Okezone, menyebut bahwa traveling ala mereka ini berbeda! Paket wisatanya bisa mengguggah adrenalin lewat paket Escapist Experience. Para pelanggan akan ditawari seperti apa konsep liburan mereka nanti. 
 
Adapula aspek edukasi atau sekedar bersantai, ataupula ada yang total hiburan juga. Ia menambahkan fokus pada satu aspek. Ini akan menonjolkan pengalaman para pelanggan lebih terlihat.

Untuk wisata domestik sendiri, kesulitannya adalah susahnya menemukan agen- agen yang bisa membawa pelanggan ke aneka wisata. Selain itu agen- agen domestik juga harus dituntut profesional dan menservis bagus. 
 
Baginya fokus pada paket wisata lokal menjadi senjata tersendiri. Intinya kamu harus fokus pasar apa yang tengah kamu garap.

Usaha Waralaba Es Krim Dilirik Malaysia

Kisah Pengusaha Pemilik BC's Cone


pengusahaeskrim.png
 
Usaha waralaba es krim ini dilirik Malaysia. Bisnis bersama teman memang solusi terbaik. Menjadi pengusaha muda dapat dilakukan bersama- sama. Tak melulu tentang uang, melainkan berbicara soal passion dan persahabatan.
 
Menjadi pengusaha muda bersama akan merekatkan persahabatan. Banyak kisah mereka yang gagal dan pecah kongsi. Namun bukan alasan, bila gagal berbisnis bersama jangan pecah persahabatan tatap lanjut.
 

Usaha Es Krim

 
Andrea salah satu pendiri, menyebutkan usaha  bertema kafe es krim ini beromzet Rp.100 juta/bulan. Kafe es krim berkonsep cafe store, diklaim olehnya sebagai satu- satunya ada di Indonesia. Sukses bertema seni mural, dipadukan dalam lembutnya es krim, jadilah apa yang disebut Andrea sebagai artology of soft ice cream. 
 
Terbentuklah es krim warna- warni unik. Ditemui awak media detikFinance, dengan percaya diri, ia menyebut angka 100 juta; menjadikannya salah satu konsep bisnis perlu kamu coba.

Dimulai sejak 7 Maret 2015, berarti baru- baru saja ini, menyasar pasar es krim yang diperkirakan tumbuh sampai 20% per- tahun. Nilai bisnisnya saja bisa mencapai Rp.2 triliun. Karena berkonsep unik maka tak ayal antusiasnya menggila. 
 
Bahkan dari pertama buka sudah menjual 4.000 es krim berbentuk cone dan gelas ditiap harinya. Bila kita berbicara modal membuat kafe es krim. Bisa dibilang 'wah' modalnya memang besar. 
 
Andrea mengaku disini bersama tiga temannya, menggelontorkan Rp.1,5 miliar bersama membangun kafe es krim bernama BC's cone ini.  Total ada 30 jenis produk makanan- minuman sudah dikonsep dulu. Dimana 15 diantaranya merupakan varian es krim. 
 
Meski telihat kebarat- baratan Andrea meyakinkan ini memiliki nilai Indonesia. Ide awalnya karena melihat kebanyakan kafe tumbuh di Jakarta. Kafe- kafe baru itu selalu saja mengusung konsep dari negara lain; tidak ada nilai Indonesianya. 
 
Oleh karena itu bersama kawannya mengusung es krim tapi memiliki cita warna dan rasa Indonesia. "Kami ingin added value dalam rasa dan warna, ada sesuatu yang wah dari es krim," terangnya. Soal pengembangan ke empatnya sepakat mewaralabakannya.

Buat kamu investor harga waralabanya tergolong premium. Ya, mahal begitu buat kamu pengusaha muda jika mau menginvestasikan uangnya. Nilai investasinya Rp2,2 miliar buat hak merek dan menyiapkan lokasi yang luas sendiri. 
 
Tenang ini sudah termasuk bahan baku dan peralatannya, jadi kamu bisa santai. Jikalau dihitung ini lebih mahal dikit dibanding modal awal Andrea; gak perlu repot lagi.

"Kita sudah daftarkan atas nama PT Arte Kreasi Kreatif. Kita punya tim business dan izin dagang serta lain- lain," terangnya.Apakah menguntungkan, maka jawabannya "ya".

Karena apa, karena negara tetangga sudah meliriknya. Ada investor dari Malaysia meminati bisnis waralaba mereka tawarkan. Investor tersebut bersemangat mendirikan bisnis BC's cone milik Andrea di Malaysia. Banyak sekali mereka tertarik selepas melihat postingan di sosial media Instagram. 
 
Ini cukuplah potensial karena belum ada di Malaysia. Olah karenanya kemungkinan mereka membuka ekspansi ke sana besar.

Gak Yakin Jualan Online Shop Pengusaha Friska

Profil Pengusaha Friska Mulya Kharisma 


jualanonline.png

Pengusaha Friska gak yakin jualan online shop. Berawal dia itu hobi belanja online. Kemudian Friska Mulya Kharisman mulai berjualan. Gadis asal Padang, lantas menjajal berjualan online sendiri. Dan menariknya dia berbisnis bermodal Rp.70 ribu.
 
Ia sempat diremehkan. Bisnis online -nya sempat dibilang bisnis iseng. Namun dia yakin mampu membuktikan bahwa ada kesuksesan itu. Mulailah Friska mencari niche barang apa dia akan jual. Tak mudah tetapi dia sudah bertekat bukan sekedar iseng.
 

Online Shop Pengusaha

 
Lewat sosial media, terutama Instagram, bisnis online dianggap hobi bagi dia. Bedanya meskipun hobi ia cermat menganalisa kebutuhan pasar. Selain itu dia menjual apa orang jarang pikirkan. Bisnis Friska adalah jualan aksesoris khusus rambut. 
 
Nah disanalah dia mendapatkan prospek Rp.1 juta per- hari. "...asyik juga nih kalau aku buka online shop juga, kan enggak butuh biaya banyak," ia berujar.

Anak kelima pasangan H. Jhony M Noer dan Ismulyati, kemudian mendalami bisnis online tersebut. Dan memang hasilnya menjanjikan. Bisnis bernama Jedai semakin hari semakin berkembang. 
 
Semenjak kali pertama buka Friska menaruh dedikasinya disini. Hobi bukan lagi sekedar hobi tetapi bisnis nyata!

Manfaat sosial media dia mampu menjual tidak cuma di Padang. Bisnis aksesoris Friska merebak sampai ke penjuru Indonesia. Bahkan nih dia sudah punya reseller sendiri. Cabang usahanya sampai ke Pekanbaru dan Jambi. Kemudian konsumen mulai dari ibu- ibu, pelajar SMP, bahkan mahasiswa.

Dia bercerita bukan mudah. Ada halangan juga dalam berbisnis online. Ia sempat diremehkan karena jualan begitu. Untung kan sedikit mungkin pikir orang. Banyak orang tidak percaya kalau omzetnya bisa jadi saban hari sejuta. 
 
Masih banyak orang tidak percaya kalau omzet dihasilan Friska segitu. Tapi Alhamdulillah... dia bersyukur karena sekarang sudah punya deposito. Dari usahanya jualan jepitan rambut kemudian berkembang ke clothing dan usaha makanan. 
 
Biarin orang mau bilang apa. Friska sudah capek mendengar sindiran orang. Capek mendengarkan pikiran negatif tentang kita. Terus berkarya sebagai pengusaha muda Indonesia. Perempuan yang juga punya karir dokte koas ini. 
 
Mengaku bahwa bisnis dijalankan sekarang bervariasi. Dia juga mau mengajak sang adik ikutan membuka bisnis kafe misal. Kafe dijalankan dia dan adik bernama Opung Waffle. Mereka berjualan aneka varian waffle dan menu lain. Kalau clothing bernama Hello Monday. 
 
Kafe sendiri sudah berdiri di GOR H Agus Salim, Jalan Rokan No. 6. Ia merenovasi tempat agar nyaman. Gadis cantik 25 tahun, kelahiran 10 Oktober 1992, menyasar kalangan anak muda hobi nongkrong. 
 
Adapula konsep dia inginkan sambil nongkrong, makan, dan pilih baju di clothing miliknya. Kafe Friska akan baru buka pukul 3 sore sampai malam.

Kenapa tidak pagi padahal sudah banyak pelanggan. Banyak costumer mau mereka buka pagi hari. Tetapi kedua pengusaha muda tersebut sepakat. Mereka meyakini kuliah masih menjadi prioritas dulu. Terutama buat si adik yang tengah mengejar gelar. 
 
Memang jadi dokter koas masih butuh banyak waktu tersita ya. Prinsip membagi waktu diterapkan Friska. Kedisiplinan terlihat jelas karena semua bisnis dijalankan bisa sukses. Pokoknya dibuat enjoy soal melakukan sesuatu. 
 
Memiliki visi ke depan memang penting, tetapi bukan terus kerja keras tanpa pikir panjang. Jangan melupakan kewajiban untuk diselesaikan jelas Friska. Ia memberi pesan penutup, "mental pedagang harus tahan banting. 
 
Yang penting usaha, asal mau usaha dan optimis pasti akan menghasilkan." Ia mengajak anak muda lain agar bisa bersama membangun Padang, dengan kegiatan positif tentu.

Usaha Sepatu Kulit Motif Batik Trevon Footware

Profil Pengusaha Jevon Wirianto.dkk


usahasepatu.png

Usaha sepatu kulit motif batik Travon Footware berbeda. Sebab berbisnis bersama teman sangatlah mengasikan. Selain banyak terinspirasi kamu juga lebih mudah buat kumpul modalnya. Akan tetapi tak mudahnya yaitu menyatukan diri di dalam sebuah visi- misi korporasi. 
 
Mereka berempat lebih kuat berkat rasa persahabatan. Berbisnis bersama yang mereka sukai yakni bisnis fashion. Jevon Wirianto, pemuda 22 tahun, berkuliah di Universitas Prastya Mulya Jakarta, berbisnis dan berkuliah bersama tiga temannya, Rizky Akbar Lubis, Yudha Leonardi, dan juga Agnes.
 

Mengembangkan Usaha


Mereka menggarap pasar batik. Eit, bukan batik biasa loh, karena mereka menggarap sepatu kulit bertema batik. Mereka tengah fokus menjadi ikon fashion anak- anak muda di Indonesia. Mereka menciptakan beraneka sepatu trendy, kasual, dan juga nyaman. 
 
Produk tersebut diberi mereka nama Trove Footware. Bicara tentang omzet menurut Detik.com, omzetnya bisa mencapai Rp.35- 40 juta.

"Batik itu kesannya tua nah kita aplikasikan di sepatu. Sehingga bisa lebih terlihat kasual," jelas Jevon, ketika ditemui di acara entrepreneurship.

Dimulai dari kampus, mengambil jurusan bisnis, tentu hidup berempat adalah tentang bisnis. Setiap harinya di perkuliahan para dosen menggembleng mereka. Seolah tiada hari tanpa sesi motivasi agar mereka semua para mahasiswa bisa jadi pengusaha sendiri. 
 
Mereka diajarkan harus berani mengambil resiko jelasnya lagi, dalam sebuah wawancara bersama Mediabisnisonline.com. Mereka diharuskan berpikir di luar kotak. Dituntut untuk menciptakan produk maupun jasa berbeda. 
 
Setelah berkuliah cukup lama berulah mereka dituntut lebih. Singkat cerita di Semester 3, mereka dituntut punya satu bisnis mapan sendiri, sebuah mata kuliah mengharuskan mereka berbisnis beneran. Dari mereka berempat satu gagas bisnis muncul. 
 
Bagaimana jika mereka membuat sepatu kulit bertema batik. Diatasnya nanti diberi akses batik; jadilah Trove Footware!


Dimulai sejak 2011, bisnis berkembang cukup pesat karena idenya masih segar. Berempat mereka diawal sudah sukses menjual banyak. Meski harga yang dibandrol tidaklah murah. Jevon menjelaskan bahwa target pasarnya mereka berumur 15- 22 tahun. 
 
Harga sepatunya dipatok berkisar Rp.360.000 sampai termahal Rp.550.000. Jevon menjelaskan modal awalnya cuma Rp.20 juta. Siapa sangka jika sampai artikelnya terbit brand mereka sudah punya pelanggan tetap.

Mereka mampu mempekerjakan 8 orang bagian produksi. Meski masih baru, ia mengaku, untuk pasarnya yaitu Jakarta dan Bandung, mereka memproduksi 4-5 lusin. Yang menjadi senjata utama bisnisnya adalah yah apalagi kalau bukan online. 
 
Ia pun menjelaskan kenapa kita mesti berbisnis sepatu. Pertumbuhannya itu 8,3%/tahun. Ada 250 juta penduduk Indonesia meminati sepatu baik untuk gaya hidup ataupun kebutuhan. Itu pasaran potensial, jikalau dihitung pasar onlinenya, maka senilai Rp.21 triliun/tahun.
 

Pengusaha Bersama


"Kekuatan apa yang kita miliki? Kita tembus nilai hak paten, situs resmi dengan costumer service," jelasnya.

Sejak mulai menjual sepatu ini, mereka fokus pada sosial media populer, mulai dari Kaskus, Facebook, Twitter, dan situs sendiri. Adapula konsep direct marketing ataupun penjualan secara langsung. Mereka ikut membuka stand di event- event diselenggarakan di Jakarta. 
 
Meski sukses mereka mengaku melakukan satu pengorbanan besar. Mereka harus membagi antara bisnis, kuliah, dan fakta bahwa modal mereka itu tipis.

"Dalam Aktivitas kami sehari-hari juga terkadang mengalami kesulitan dalam membagi waktu, sehingga kami  terkadang harus pintar dalam mengusahakan waktu kerja yang terbaik," jelasnya.

Mereka harus mengakali waktu mereka. Juga, mereka harus mengakali uang mereka. Sebisa mungkin modal diputarnya kembali melalui penjualan.

Trove sendiri bukan seperti sepatu kulit biasanya. Karena ada tiga tema diambil dalam sepatu buatanya. Ini antara lain kulit, denim, dan ukiran batik. Kejenuhan akan sepatu kulit mendorong mereka menggunakan satu bahan lain yakni denim. 
 
Namun, juga satu kenyataan bahwa, bahan denim mulai sering digunakan jadi satu pembeda dalam bisnis anak muda. Jadilah mereka mengambil tema lain. Yakni menggabungkan keduanya di satu tema batik.

Sukses Trove terbukti ketika memenangi ajang Indonesia Creative Award 2013. Mereka bahkan sukses bisa tembuh London, Inggris. Menjadi salah satu produk yang mewakili Indonesia diajang bernama Palapa Network di London, tahun 2013 silam. 
 
Pengalam paling berkesan ditambahnya yakni ketika diliput oleh pihak Trans 7 untuk acara bernama Brownies Trans 7. Tantang terbesar bisnis mereka adalah masih adanya tanggapan dari masyarakat bahwa batik itu kuno, kampungan, tidak modern.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba