Batik Godog Sekar Ayu Pengusaha Melawan Bom

Profil Pengusaha Uswatun Hasanah


batikgodog.png

Batik godog Sekar Ayu telah melampaui masa. Pengusaha ini melawan bom hingga bertahan sampai sekarang. Bisnis yang datang dari tradisi masa lalu. Kemudian meresap dan diaplikasikan ke jaman sekarang. Seperti hal pola- pola batik kuno, yang kini, menjelma menjadi aneka pakaian modern. 
 
Kisah berikut adalah kisah pengusaha wanita asal Tuban. Pengusaha asal Tuban pemilik Batik Gedog asli Tuban, Jawa Timur, yang jika dirunut akar tradisinya begitu dalam. Pada jamannya, sebelum dipopulerkan pengusaha ini, awalnya Batik ini digunakan sebagai syarat pernikahan.
 

Pengusaha Melawan Bom


Seorang pria diharuskan membawa 100 kain batik tersebut. Kesemuanya harus punya cora  berbeda agar bisa melamar seorang gadis. Masih terngiang diingatakn Uswatun Hasanah, yang sekarang sudah berumur 41 tahun, disaat masih kecil mengingat betul bagaimana ibunya tengah membatik. 
 
Batik Gedog dimana berasal dari tradisi kini sudah tak ada lagi sejak tahun 1970 -an. Tradisi tersebut hilang ditelan perubahan jaman. Tapi coraknya masih terngiang dalam benak Uswatun kecil.

Dari 100 kain batik Godog punya arti sendiri- sendiri. Pada tahun 1990 -an, ia melihat batik itu kembali, dan ingatannya kembali ketika masih kecil. Batik Gedog peninggalan nenek sekarang masih tersimpan rapi. Dia pun lantas belajar membatik. 
 
Ingin mengembalikan tradisi yang telah lama hilang. Dan, tentunya itu dengan cara sendiri, yakni dengan cara menjadi pengusaha batik.

"Awalnya di sini orang- orang hanya bisa menenun. Semua saya mulai dari nol. Saya mulai mengumpulkan 20 anak- anak putus sekolah," ujarnya.

Sayang, eh, apa- apa yang dimulainya tak semudah diharapkan. Mengajari mereka membatik justru hasilnya yaitu kain- kain rusak. Dia tak mau menyerah. Uswatun bahkan rela menjual rumah warisan ibunya.

Usahanya membangun bisnis Batik Sekar Ayu tak sia- sia. Akhirnya pada tahun 2000 -an, Uswatun lantas mendapatkan suntikan modal dari PT. Semen Gresik. Usahanya itu menjalar bahkan sampai ke pulau Bali sebagai basis besar bisnisnya. Usaha tersebut memang sukses. 
 
Hingga, pada bulan 1 Oktober 2005, sebuah pristiwa mengguncang laju bisnisnya. Ada apa? Pada saat itu ada pristiwa Bom Bali II, efeknya bagi bisnis Sekar Ayu adalah seretnya permintaan dari Bali.

Batik Godog Sekar Ayu


Kejadi Bom Bali II merusak sektor bisnis pariwisata di Pulau Dewata. Alhasil, Uswatun yang basis bisnisnya disana, juga kena imbasnya. Bahkan ia menjelaskan dari sanalah 40% produksinya tersedot dipasarkan. Dia mengaku sempat tertatih- tatih menghadapinya. 
 
Ia akhirnya limbung di tahun 2007 -an. "Saya angak tangan. Pembayaran macet semua," tambahnya. Ini adalah kebangkrutan pertama dilalui seorang pengusaha asal Jawa Timur tersebut.

Ada cicilan yang belum lunas kepada PT. Semen Gresik Tbk. Dimana dirinya mendapatkan bantuan modal kemitraan. Padahal perlu kamu tau dirinya tak pernah telat membayar cicilan. Dia, akhirnya, mulai melakukan yang terburuk yaitu merumahkan pegawainya. 
 
"Akhirnya saya beranikan menghubungi pihak Semen Gresik, saya menjelaskan apa adanya," jelasnya kepada Kabarbisnis.com. Alhamdulillah... bisnisnya justru dapat perhatian, bahkan, pihak Semen Gresik menyemangatinya.

Mereka bahkan mengeluarkan bantuan modal. Total 150 juta digelontorkan oleh Semen Gresik kepadanya sebagai modal usaha kembali. Uswatun tertantang kembali bangkit. Bahkan ia kembali aktif mempekerjakan tetangga sekitar. Luar biasa memang kekuatan wanita yang satu ini. 
 
Bisnis Batik Sekar Ayu perlahan tapi pasti mulai bangkit kembali. Bisnis yang awalnya dimulai dari usaha rumahan sang nenek di 1984, dulu, cuma mempekerjakan sepuluh orang.

Kini, usahanya menghasilkan omzet minimal Rp.200 juta per- bulan, dengan karyawan mencapai 400 orang sekarang. Tak mau berputus usaha bagi pengusaha ini merupakan kunci sukses.

Pada 2000, ia memberanikan diri mengajukan pinjaman kembali, setelah lunas sebelumnya tentunya. Yakni modal Rp.25 juta. Pemasaran batiknya juga tak lagi berfokus pada Bali. Dia menyebut ada di Surabaya, Bali, Yogyakarta, Jakarta hingga Batam. 
 
Sudah ada 200 motif batik dikembangkan olehnya. Dimana motif uniknya bertema buah dan tanaman lokal, seperti kates gantung atau pepaya gantung, dangkel sungsang atau bunga cempaka.

Unik, Uswatun juga memberikan kesempatan anak- anak sekitar. Dia mengajak ibu- ibunya, dan juga anak- anaknya untuk membatik. Meski hasilnya belum berhasil dirinya tetap memberikan upah. 
 
Setelah lama sejak kebangkitan bisnisnya, ia mendapat banyak penghargaan, seperti Upakarti 2010 yaitu kategori pelestarian. "Alhamdulillah sudah bertemu Presiden SBY, pameran di beberapa negara di Swedia, Thailand, Belanda, dan pernah berangkat sendiri ke Kamboja," ujarnya.

Dalam sebulan omzet Uswatun adalah antara 100 juta hingga Rp. 250 juta. Bahkan yang tertinggi, jelasnya ke awak media, bisa mencapai 450 juta. Yakni batik kuno yang perlembarnya ditaksir Rp.100 juta oleh seorang kolektor, dimana ia menyimpan 400 lembar. 
 
Tapi dia menolak hal itu karena kelak dia berharap beralasan anakanya ingin membangun sebuah meseum batik sendiri. "Anak saya yang SMA punya cita- cita ingin membuatkan museum batik," jelasnya.

Pengusaha Pernah Ditipu


Awal belajar membatik bukanlah tentang bisnis semata. Sejak awal, keluarga Uswatun, pada dasarnya tak spesifik berbisnis. Diturunkan dari satu generasi ke generasi lain demi tradisi. Tak ada arahan untuk dijual, ya, semuanya cuma untuk koleksi pribadi. 
 
"Saya lihat koleksi batik nenek saya sampai ratusan. Dari situ saya tertarik untuk membuat sendiri," kata Uswatun, yang telah belajar membatik dan menenun sejak masih kecil. Ada filosofinya ditiap canting ditangannya ketika membatik.

Dimulai dari mengajar anak- anak belajar membatik di tahun 1993. Pada tahun yang sama itu pula, seperti dilansir dari laman Kontan, ia mulai berani menjual batik hasil karyanya. Saat itu menjual batik dalam bentuk kain bahan bukanlah kewajaran atau familiar bagi masyarakat. 
 
Oleh karena itulah ia mulai fokus pada batik jadi yakni membuat batik diatas kaus atau kaos. Batik kaos nyatanya, saat itu, kurang diminati masyarakat juga.

Modal cuma Rp.300.000 telah mengempis. Pasar menolak batik kaosnya, dan akhirnya, uang itu hilang dan dirinya praktis juga merugi. Hasil karya tersebut dijualnya murah.

Model bisnis batik Sekar Ayu yaitu melalui penjualan dari pintu ke pintu. Dia belum lah punya mitra untuk menampung batik buatannya. Meski terus merugi tak membuatnya berputus asa. Dibantu oleh ibu- ibu dan anak- anak tetangga terus berkarya sampai sekarang. 
 
Pada awalnya, ia pernah meminjam modal 15 juta, tapi sayangnya; ia kena tipu. Hingga jatuh tempo utangnya tak terbayar. Uang tersebut justru dibawa lari oleh patnernya di Bali. Bisnisnya pun berubah jadi titip tanpa uang muka. Yakni yang dititipi tak perlu membayar hingga jualannya laku terjual. 
 
Nah, pada ada Bom Bali, dia mengaku semua titipannya ditolak bayar. Alias mereka para penjual yang dititipi tak mau membayar. Alasanya karena batiknya kena bom. Semua orang yang dititipi juga berkata seperti itu, entah, itu cuma alasan saja atau benar; Uswatun memilih legowo. 
 
Total kerugiannya mencapai 25 juta. Sebagai kompensasi gagal bayar. Uswatun pun haru mengajar membatik. Dia diminta sang empunya kredit untuk mengajar sebagai kompensasi maaf. Di Tuban, ia tak cuma mengajar, tapi juga aktif mencari- cari cara baiknya berbisnis. 
 
Dari belajar marketing, manajerial, pengemasan, dan lain- lain. Aneka pelatihan ia jalani di sela- sela mengajar sementara Batik Sekar Ayu tutup sementara. Dia bahkan tak sungkan pergi ke daerah lain, seperti Pekalongan untuk memperdalam ilmunya.

Dengan konsisten fokus usahanya ada pada batik tulis. Berjalannya waktu workshop dibangunnya kembali, dan sukses besar, semua berkat konsisten dan selalu belajar selain pantang menyerah.

Jadi Pengusaha Nasi Jeroan Dampak Pandemi

Profil Pengusaha Arus Harhara

 

jadipengusaha.png
 

Jadi pengusaha nasi jeroan dampak pandemi Covid 19. Bukan rahasia banyak orang kehilangan pekerjaan sebab pandemi ini. Salah satunya pria bernama Arus Harhara, yang awalnya bekerja di biro perjalanan, yang sudah pasti terdampak pandemi karena pembatasan pergerakan.

 

Ia mengatakan 100 persen biro perjalanan tutup. Bertumbangan membuat pegawainya menganggur. Dia salah satunya setelah sekian lama bekerja. Arus bahkan sudah menganggur sejak awal pandemi. 

 

Pengusaha Nasi Jeroan

 

"Jadi mau tak mau kita harus banting stir untuk menjalani penyambung hidup. Jadi terpikirkan membuka warung," ia lanjut.

 

Pengusaha warungan asal Kudus, Jawa Tengah, beralih profesi menjadi penjual sego kinco. Atau kita menyebutnya nasi jeroan bandeng. Profesi sebelumnya ia bekerja di biro perjalanan wisata. Dampak pandemi membuatnya memutar otak.

 

Ia membuka warung sederhana diluar rumah. Arus melayani sendiri pembeli. Dia tampak cekatan meramu sego kinco. Tampak jeroan bandeng atau weleran sudah disiapkan di atas wangkok. Ia lalu menyiapkan bahan bawang buat dibuat sambal.

 

Campuran sambal terdiri dari bawang merah, putih, dan cabai digoreng. Selanjutnya jeroan bandeng dimasukan wajan kemudian dimasukan sambalnya. Dia terus menggoreng sambal dicampur jeroang. Ia lalu menaruh jeroan sambal tersebut di atas piring bersama nasi.

 

Nasi kinco dihidangkan ke pembeli. Arus ternyata hobi memasak. Dan dia melihat bahwa nasi kinco jarang ditemui di daerah lain.

 

"Buka warung karena saya hobi masak, kenapa saya memilih sega kinco ini karena merupakan salah satu makanan yang otentik. Dalam artian tidak semua daerah ada," jelas Arus.


Nasi kinco dikatakan memiliki manfaat kesehatan. Ikan bandeng kan memiliki omega tiga. Baik buat kesehatan tubuh mencegah penyempitan pembulu darah. Waleran bandeng kaya omega tiga baik buat pembulu darah dan kolesterol.


Ia mengatakan sego kinconya relatif murah dibanding tempat lain. Harganya Rp.13 ribu Satu piringnya takaran nasi sudah cukup mengenyangkan. "...biasanya tambah lagi," terangnya ke pewarta Detik.com. 

 

Puluhan piring habis disuguhkan kepada pembeli perhari, bahkan pembeli datang dari luar Kudus. Stok 20- 30 porsi pasti habis perhari tidak bersisa. Ada mereka yang makan di tempat, atau dibawa ke rumah. Pelanggan dari luar Kudus, meliputi Semarang dan Pati. 

 

Menunya selain sego kinco termasuk sego kepel. Walau memakai jeroan ikan ternyata rasanya tidak pahit, masaknya beda, nikmat sekali.

Awal Pura Group Biografi Jacobus Busono

Biografi Pengusaha Jacobus Busono


jacobusbusono.png

Awal Pura Group tidaklah sementereng gedungnya sekarang.  Biografi Jacobus Busono, usahanya unik dibanding pengusaha lain semua bermula toko percetakan kertas. Perusahaan asli Kudus, Semarang, yang kini megah disejajarkan perusahaan nasional lain.
 
Perusahaan ini tercatat pemenang Anugrah Siddhakretya. Untuk perusahaan atau individu dipandang sebagai sosok invator penemu. Pasalnya, kamu tau perusahaan ini sukses menspesialisasikan diri. Perusahaan ini sebelumnya cuma tiga toko percetakan kecil, kini, telah memiliki teknologinya sendiri.
 

Merintis Bisnis

 
Utamanya yaitu teknologi percetakan anti- pemalsuan. Perusahaan ini juga mampu mencetak surat berharga bahkan uang untuk Bank. Sukses dari Pura Group tak jauh dari sang CEO sekarang, Jacobus Busono.

Melalui bendera PT. Pura Barutama, perusahaan berkantor pusat di Kudus, Jawa Tengah, sukses menjadi pemimpin dibidang percetakan. Pura Barutama dikenal sebagai perusahaan percetakan atau printing, proses lanjut kertas atau converting, kemasan atau packaging, rekayasa atau engineering. 
 
Juga seperti yang dijelas diatas perusahaan punya sistem anti- pemalsuan terpadu. Mereka mampu membuatkan surat berharga atau pun mencetak uang.

Untuk Pura sendiri, penghargaan tersebut bukanlah pertama, prinsip Jacobus bahwa perusahaan harus selau punya inovasi. Bukan sekedar perusahaan trading atau cuma mengurusi jual beli. Presiden 
 
Direktur sekaligus pemilik perusahaan tersebut menjelaskan dirinya lebih senang mengembangkan. "Industrialis itu cenderung care about the game. Sedangkan, trader itu care about money," jelasnya dalam biografi Jacobus Busnono, oleh karena itu segala usahanya bukan sekedar jual- beli.
 
Selain penghargaan diatas yang diberikan langsung oleh Presiden Megawati Sukarnoputri. Di tahun 2013, ia bersama Pura Group menyabet gelar anugrah teknologi bidang Agroindustri dari Menteri Riset dan Teknologi tahun 2001 silam. 
 
Penghargaan tersebut untuk suksesnya menciptakan mesin pengering padi. Ya, perusahaan ini memang perusahaan holding, jadi jangan salah sangka cuma mengurusi percetakan saja loh. Dalam penjelasan sukses Para Group adalah sosok Jacobus sendiri.

Bisnis keluarga


Sukses Para Group adalah Jacobus Busono. Kenapa pernyataan ini ditekankan oleh artikel ini. Memang jika dirunut dari tangan dinginnya lah; perusahaan ini menggurita. Kisahnya dimulai dari sang kakek yang memulai bisnis percetakan terlebih dahulu. 
 
Didirikan oleh pendiri Ong Djing Tjong bernama awal Electriche Drukkery. Didirikan hampir satu abad lalu. Tahun  1908, saat itu, perusahaan ini merupakan satu dari tiga percetakan kecil yang ada di Kudus; selain Hoo Kongso dan Tjung Hwa.

Ketika genap dirinya berumur 16 tahun, Jacobus kecil sudah punya mimpinya sendiri. Remaja penuh warna yang memilih melanjutkan sekolah sampai jenjang tertinggi. Dia melanjutkan sekolah ke Concordance HBS atau Hoogere Burger School setingkat SMU. 
 
Sekolah dikhususkan untuk mereka yang mau melanjutkan ke luar negeri. Bersekolah di HBS dirinya fokus belajar Inggris, Belanda, Jerman, dan Prancis. Usai pendidikan di HBS pergilah ia ke Belanda. Mimpinya ternyata tak jauh di dunia perbisnisan keluarga. 
 
Ia memilih melanjutkan pendidikan di Akademi Percetakan ternama di Belanda. Kemudian meneruskan ke Fach Hochschule (FH) dibidang percetakan dan kertas Jerman. Disela ia mendalami fotografis, litografi, seperasi warna, dan bidang lain. 
 
Passion -nya dan mimpinya memang tentang percetakan. Di Eropa dirinya benar- benar mengikuti nasihat ayahnya. Dia belajar serius dengan penuh semangat ria selalu. Tahun 1970, Jacobus telah kembali ke Indonesia, namun akhirnya sadar akan satu hal: 
 
Ilmu yang dipelajari cuma lah seonggok teori. Tidak berarti apa tanpa ia praktikan langsung. Dia harus memulai dari awal. Mulai dari beradaptasi kembali dengan situasi kerja, cara kerja, sistem, budaya bahkan soal penggajian. 
 
Baginya realitas di lapangan merupakan sejatinya pengetahuan. Inilah yang membangun visi seorang Jacobus lebih jadi tajam. Visi untuk membangun Pura Group sebagai bisnis terdepan. Menjadikan perusahaan ayahnya yang bernama PT. Pura Barutama menjadi percetakan kualitas terbaik. 
 
Dia membangun tradisi perusahaanya sendiri. Yang dalam penjelasannya ada pada nilai inovasi selalu. Dalam perjalanannya, ia tak cuma mau agar Pura Group jadi lebih besar, hasratnya mulai mencangkup cakupan luas. 
 
Dia ingin menyelipkan pesan- pesan kepada dunia bahwa orang Indonesia sejatinya tidak bodoh.

"Bangsa ini memiliki etos yang kondusif bagi pengembangan teknologi, yaitu sikap sepi  ing pamrih rame ing gawe," ungkapnya.

Didukung sikap tepo seliro, santun, dan taat, menjadikan etos kerja jadi lebih efekti. Namun, Jacobus lantas mengingatkan itu tergantung pemimpinnya. Kita membutuhkan pemimpin kuat tegasnya juga. Pura Barutama lantas berkembang dari cuma 35 karyawan jadi 8.500 karyawan. 
 
Dikenal atas kemampuannya dalam proses lanjut kertas, kemasan, rekayasa mesin, dan sistem anti- pemalsuan. Buktinya produk- produknya telah digunakan oleh perusahaan besar seperi Tempo, Sanbe Farma, Sampoerna, Djarum dan lain- lain.

Bisnis Awal Pura Group


Sukses Pura Group punya startegi sendiri. Minimnya publisitas membuat perusahaan terlihat "wah". Padahal sebagai generasi ketigi dirinya sama saja membangun dari nol. Usaha yang dibangun sejak jaman kakeknya tak akan seperti ini tanpa waktu. 
 
Dia sendiri sengaja menutup publisitas diri. Termasuk kinerja perusahaan hingga terkuak lah kesuksesannya (yang besar). Ketertutupan itu sengaja, pasalnya, ia mengikuti sang tokoh panutan di dunia percetakan, Hubert Steinberg serta filosofi diri. Dalam diam mereka menjadi hidden champion. 
 
Akan tetapi, semenjak, perusahaan miliknya sukses menang tender kertas uang untuk BI; beda pula akhirnya. Perusahaan besar tersembunyi ini, dan dirinya yang selalu menghindari publisitas, terkuak karena sukses menyisihkan pabrik kertas dunia di tahun 1999. 
 
Dia lantas jadi incara media masa. Agaknya ketersembunyian tersebut juga punya faktor X  yakni mitor generai ketiga. Di sebutkan bahwa generasi ketiga jadi kehancuran. Ada sejarah perusahaan di negara- negara berkembang. 
 
Bahwa perusahaan kaluarga di negar berkembang, generasi pertama adalah pembangun. Generasi kedua adalah penikmat sementara ketiga, apalagi kalau lah bukan generasi penghancur. Ini tidak berlaku bagi kisah Pura Group. 
 
Sukses Pura Group dihantarkan oleh nya berpegang pada filosofi dan visi- misi kuat. Suksesnya bahkan mampu menjadi percetakan kelas dunia terbesar di Asia Tenggara. Jika visi- misinya menyangkut mengembangkan bisnis keluarga. 
 
Maka falsafahnya adalah agar menjaga diri untuk tidak sombong. Jika tidak sombong maka orang akan menghargai kita. Itulah apa yang tercermin di kehidupan dan cara bisnisnya.

"Sombong itu merugikan diri sendiri dan orang lain. Pinta itu relatif. Pemimpin yang baik itu tidak mungkin sombong, pemimpin tidak boleh sombong dengan bawahannya," jelas Jacobus Busono.

Menjadi sombong berari sulit menerima ucapan orang lain. Padahal mendengar merupakan salah satu cara menentukan keputusan. "Filosofi ini berasal dari proses belajar saya, saya juga pernah sombong, dulu memimpin 200 orang (karyawan) saja setengah mati," ungkapnya lagi. 
 
Filosofi ini dibawanya meski ia lantas dipilih menjadi salah satu anggota resmi Word Entrepreneurship Forum. Jumlah anggota forum pengusaha ini cuma maksimal 70 orang. Bersamanya ada orang lain dari Asia yaitu total 7 orang dari kawasan Asia. 
 
Yaitu dua dari Jepang, satu dari Hong Kong, China, India dan Filipina. Ia menjadi satu- satunya wakil Indonesia kala itu. Ini adalah kebanggaan untuk Indonesia. Pasalnya sistem seleksi keanggotaannya sangatlah ketat dan tidak diperjual belikan. 
 
Semuanya berkat kesukaan atau bahasa jaman sekarang passion. Pengusaha hologram yang pernah merugi 10 tahun ini, menunjukan bentuk nyatanya, dalam kehidupan hari- harinya dilalui dengan mengendarai mobil tua. 
 
"Yang celaka orang tidak punya, tapi sombong," ungkapnya kepada Detik.com. Dia punya mobil Kijang. Baginya yang terpenting nyaman karena ada AC -nya. Dia lantas berseloroh memilih Kijang ber- AC daripada Mercy tanpa AC. Entah apakah ini sebuah bahasa kiasan atau benar.

Menjadi pemegang tampu kepemipinan. Apakah yang pernah dilakukannya disana. Ia sukses mengepakan sayap ke luar negeri. Berbagai ekspor telah dilakukan lebih dari 40 negara di kawasan Asia, Australia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika. 
 
Dia bersama Pura Barutama mendapatkan gelar eksportir terbaik di bidang non- migas Primaniyarta dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 2011. Bisnisnya bergeliat menghasilkan omzet Rp.3,5 sampai 4 triliun di tahun 2008 saja.

Bisnis Kue Arisan Bermodal Resep Tradisi Gorontalo

Profil Pengusaha Mona Melani Djamal

 
kuearisan.png

Pengusaha ini bisnis kue arisan bermodal resep tradisi Gorontalo. Kalau mau berbisnis kue mungkin kamu bisa kembali jadul. Pikirkan makanan apa berasal dari kampung halaman kamu. Temukan yang layak dijadikan usaha sekarang.
 
 
Pelajari kisah ibu rumah tangga berikut. Ibu berhijab bernama Mona Melani Djamal, mengusung kue tradisi guna mempertahankan budaya lokal. Selain tentu Mona gunakan mereguk rejeki. Sukses Mona kini sukses berjualan kue khas Gorontalo.
 

Bisnis Kue Arisan


Dia cuma bermodal Rp.500.000 awalnya. Masa hari raya lebaran menjadi andalannya seperti ibu- ibu lain yang memulai berbisnis sendiri. Asli Gorontalo tapi sudah lama menetap di Jakarta, modalnya adalah resep tradisional asli. 
 
Di Jakarta, dimulai lah berbisnis kue Gorontalo, khususnya jenis kue peranu. Yakni kue khas yang digemari oleh masyarakat- masyarakat Sulawesi Tengah.

"Meski saya sudah di Jakarta, saya ingin membuat kue khas Gorontalo, biar kue Gorontalo gak hilang," kata Ibu Mona.

Kue perau atau kue perahu berbahan utama gula merah, santan, irisan kelapa, dan ditempatnya di wadah berupa daun pandan. Meski terlihat jajanan sederhana, ternyata rasanya maknyus, dan itu semua berkat satu kata yaitu ketekunan. 
 
Dalam pembuatan kue Mona harus menunggui kue tersebut sendiri. Dari proses pewadahan saja harus dipegangnya sendiri. Soal bahan baku santan kelapa sampai gula merah untungnya masih bisa ditemui di mana saja.

Ibu Mona memasarkan kue pertama- tama ke tetangga sekitar. Melalui acara arisan  kue- kue -nya mulai diperkenalkan. Sukses memperkenalkan kue ke tetangga. Dia lantas melanjut ke pasaran bahkan sampai ke luar kota. 
 
Mula- mulanya dari arisan ke arisan, karena cuma dia yang bisa membuatnya, jadilah banyak daang pesanan- pesanan khusus. Bahkan, ia menjelaskan dia bisa menjual sampai ke Gorontalo sendiri, ke tempat kuenya berasal.

Mungkin karena rasanya lebih enak pikir penulis dari kue aslinya. Untuk membuat 50 kue perahu dibutuhkan biaya cuma 50 ribu. Harga perpotong cuma 2.500 saja. Sekelas kue "kampung" ada beberapa orang yang masih mencibir kue buatannya itu kemahalan. 
 
Tapi Ibu Mona tetap cuek saja. Mereka adalah orang yang tak mengerti kesabaran yang harus dibayar dirinya membuat kue tersebut. "Kadang- kadang orang bilang mahal, tapi terserah deh orang bilang apa. Ini mahal jasanya," terang Mona.

Dia mengaku bahwa setiap bulan bisa menghasilkan Rp.3 juta. Pembelian pun cuma memenuhi kebutuhan pesanan saja. Selain memproduksi kue perahu ada pula kue- kue Gorontalo lain, seperti kue Sirikaya Bakar, Cara Isi, Wapili. 
 
Mona juga melayani pesanan kue sus dan puding. Buat kamu yang mungkin berminta untuk memesan silahkan kunjungi alamatnya di Jalan Dokter Saharjo, Sawo III No.8 Rt 10/09, Jakarta Selatan.

Sukses Jualan Sate Petir Pak Nano Pengusaha Sutiarno

Profil Pengusaha Sutiarno

 

satepetir.png
 

Pengusaha Sutiarno menyuguhkan sate bagi pecinta pedas. Sukses jualan sate petir Pak Nano berkat rasa pedanya menggelegar. Sutiarno sempat berjualan sandal dan kerajinan . Dirinya telah lama berjualan di kawasan ramai wisatawan Malioboro, Yogyakarta.


Dia sudah berjualan semenjak muda. Namun hasilnya nihil tetap hidup kekurangan. Padahal dia punya anak dan istri yang perlu dinafkahi. Suatu hari dia mengingat resep masakan tongseng dan sate yang pernah digeluti kakek dan ayahnya dulu.

 

Pengusaha Sate


Mereka merupakan penjual sate dan tongseng. Sutiarno lantas berpikir kenapa tidak menjadi penjual sate. Dia memulai usaha di tahun 1984. "Modalnya Rp.500.000 pinjam dari tetangga, pinjam sana sini. Saya punya mimpi, anak saya semua harus sarjana," ia menjelaskan.


"Intinya sabar, kalau dikasih cobaan sama Tuhan, sabar," ucap pengusaha ini. Pak Nano butuh waktu puluhan tahun sampai melegenda. Nano sukses membuat anak- anaknya sarjana. Berawal gerobak pikulan tanpa lelah dia berkeliling.


Kini ia berjualan di warung permanen di Jalan Ring Rod Selatan 09, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Dari pejabat sampai selebriti sudah menikmati sate petir. Mereka datang ke rumah Nano demi menikmati sensasi pedas unik.


Pak Nano pun menawarkan konsep level sekolah tentang pedasnya. Mulai dari PAUD buat sate yang tidak pedas atau tak pakai cabai sama sekali. Kemudian berkembang menjadi level SD, SMP, SMA, dan yang paling tertinggi level Profesor atau level 50.


"Itu awalnya dari saya, saya bercanda kalau tamu minta tak pedas berari PAUD. Begitu seterusnya, sampai yang paling pedas saya sebut profesor," ia menjalaskan kepada Kompas.com


Menurut Marmi, istri Nano, kalakar suaminya selalu bikin betah dan pelanggan kembali lagi. "Kasihan tamu- tamu, apalagi yang dari luar kota kalau penjualnya hanya diam dan cemberut," ujar Marmi. Ia dan suaminya merasa telah puas menjadi pengusaha sate.


Mereka memegang prinsip Jawa "Tak Ngoyo". Dalam berbisnis mereka gampang, kwaktu anak- anak kuliah, dirasa kurang laku tinggal tambah daging. Tidak takut rugi. Kini mereka tinggal menikmati bulan madunya. Tinggal duduk manis, kipas- kipas, baunya sate sudah datangkan pelanggan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba