Getuk Goreng Terkenal H. Tohirin Sejarah Bisnis

Profil Pengusaha H. Tohirin Sekeluarga

 

getukgoreng.png
 

Sejarah bisnis getuk goreng terkenal H. Tohirin. Banyak bisnis begini tetapi usaha keluarga berikut tetap merajai. Manajemen sederhana berbasiskan kekeluargaan saling membahu. Bila usaha keluarga lain pecah karena dibagi- bagi, mereka tetap berjualan menjadi kesatuan dalam sekomplek.

 

Berjejer toko getuk gorong bernama sama dalam komplek jalan. Sudah 9 dasawarsa usahanya berjalan sampai diwariskan. Tidak menjadi rebutan bahu- membahu sekeluarga usaha. "Yang pertama dan selalu ramai yang bertuliskan Asli 1," ujar seorang tukang becak berdialek Banyumasan.

 

Toko getuk H. Tohirin begitu ramai ketika dikunjungi pewarta SWA. Ini memang toko oleh- oleh khas Sokaraja. Kini Getuk Goreng Asli H. Tohirin namanya dipatenkan. Sudah diwariskan berkembang jadi 10 gerai toko. Gedung toko relatif besar berjejer berdampingan rapih sepanjang jalan utama itu.

 

 

 

Usia bisnis mereka 93 tahun, dihitung semenjak 1918, dan kini banyak usaha getuk goreng berbagai nama. Akan tetapi, menurut pengakuan langsung pelanggan, rasanya getuk goreng H. Tohirin punya cita rasa khas.

 

Penemu resepnya adalah Mbah Sanpirngad (Almarhum) bersama istrinya, Sayem. Bermula keduanya berusaha nasi sayur. Warungnya sederhana berupa gubuk berbahan anyaman bambu. Selain mereka berjualan nasi sayur dan lauk pauk, terselip makanan getuk singkong.


Sayangnya, semua dagangan kurang laku termasuk si getuk, maka pasangan suami istri tersebut akan membuat sisanya. Tidak mau berputus asa keduanya tetap berjualan. Suatu ketika, Sanpirngad punya ide mengolah getuk sisa yang tidak laku digoreng.


Caranya tidak sulit tinggal ditambah gula kelapa. Ternnyata, rasanya berubah menjadi sangat enak dan cocok di lidah pembeli di warungnya. Sejak itulah, selain getuk basah dan getuk goreng, kenyataanya getuk goreng lah paling dicari pelanggan.


Getuk goreng mereka sangat dicari orang. Nama Getuk Kamal, awalnya cumalah makanan olahan sampingan berubah penyelamat. Usaha getuk goreng Pak Sarpingad mulai terkenal. Getuk goreng yang kemudian dijual dibawah pohon kemal atau asem.


Sepeninggalan Sarpingad pada 1967, usahanya menjadi jualan getuk goreng yang diwariskan kepada anak laki- lakinya, Tohirin. Dia meneruskan sekaligus mengembangkan semakin besar. Ditangannya usaha utama nasi campur malah ditutup.


Tohirin berjualan getuk goreng sampai renovasi warung. Dari bahan anyaman dirubah menjadi gedung permanen. Ekonimi meningkat berkat berjualan getuk goreng. Begitu suksesnya sampai mambawa Tohir berangkat Haji.


Haji Tohirin memang memiliki pandangan berbeda. Ia memiliki visi akan bisnis kedepan. Terlihat dari dia memutuskan mendalami bisnis getuk goreng. Dia menutup usaha nasi, fokus mengerjakan bisnis getuk goreng kemudian menjadikannya oleh- oleh khas.


Begitu namanya berada dipuncak, maka Tohirin kembangkan pusat oleh- oleh dengan produk utama getuk gorengnya. Tentu berbeda karena Tohirin telah membranding getuk khas. Bahkan menjadikan getuk goreng oleh- oleh asli daerahnya.


Usaha tersebut mendorong bisnis lain terutama oleh- oleh. Tidak cuma mengembangkan bisnisnya kedepan. Tohirin membranding getuk gorengnya mamakai namanya. Penggunaan nama asli ternyata merespon bertumbuhnya usaha sejenis di Sokaraja.


Tohirin menyematkan nama "Asli" guna memberikan ciri khas. Dimana kawasan JL Jendral Sudirman di kiri- kanan sudah berjejer saingan. Pusat oleh- oleh getuk goreng begitulah mereka menamai. Haji Tohirin tak mau kalah. 

 

Persaingan begitu ketat bahkan sampai saling menonjolkan. Mereka memasang plang nama besar- besar buat menarik perhatian. Tujuannya mereka pelancong yang datang dari luar daerah. Bahkan, beberapa mereka menggunakan nama "Asli" didepan namanya.


Meskipun persaingan ketat toko Getuk Goreng Asli H. Tohirin disukai. Selain mereka berjualan getuk juga produk lain. Oleh- oleh lainnya merupakan produk titipan produsen lain. Ini sekaligus membantu perekonomian asli daerah.

 

Namanya semakin terkenal karena berita rasa khas. Ketika H. Tohirin meninggal usaha tersebut tetap berjalan. Dia mewariskan usahanya kepada tiga anaknya: Hj. Ning Waryati, Slamet Lukito dan Hj. Warsuti. Dari ketiganya bisnis Getuk Goreng Asli H. Tohirin terus berkembang dan berjalan baik.


Pada masa ketiganya nama dipatenkan Getuk Goreng Asli H. Tohirin. "Sejak 1997 kami sudah memiliki paten," ujar Ning Waryati, anak sulung H. Tohirin yang kini berusia 55 tahun. Dimasa sang ayah, usaha getuk gorengnya hanya memiliki tiga gerai dan mengajak keluarga.


H. Tohirin mengajak anak- anak mengurusi ketiga cabang. Sampai pertengahan 2010, usaha mereka membesar memiliki 10 cabang, dimana sembila di Sokaraja, dan satunya di Buntu, Banyumas. Dan tidak menutup kemungkinan akan memiliki cabang baru.


"Kami membuka outlet berdasarkan kebutuhan pasar," ujar Slamet Lukito, anak kedua H. Tohirin. 

 

Ini tidak lain karena keluarga kompak tidak saling menjatuhkan. Sementara pemegang toko Asli 1 adalah anak pertama H. Tohirin, bernama Ning Waryati, yang juga mengajak putri pertamanya Isniani Nurkhumayah.


Pembuatan getuk sangat tradisional dan dapat dilihat langsung. Pembeli akan melihat semua prosesnya pembuatan. Sekeluarga H. Tohirin sangat menjaga kualitas dan keaslian resep. Menjadi pengusaha sekeluarga memang tidak mudah. Pekerjaan dikerjakan dibelakang di ruangan khusus dibelakang toko. 

 

Di tempat inilah, karyawan laki- laki tengah sibuk mengolah getuk, mereka sibuk memasak dalam jumlah besar buat dijual. Ada yang mengupas singkong, membersihkan, merebus singkong, ada pula yang menumbuk di lumpang, dan ada yang menggoreng.


Begitu getuk goreng jadi, maka akan dibawa ke depan langsung dimasukan toko siap dijual. Pekerja kebanyakan lelaki karena memang butuh tenaga. Karena getul goreng terkenal H. Tohirin bukan main- main. Mereka membuat bahkan ribuan biji getuk digoreng perhari.


Walau permintaan tinggi mereka tetap membuat secara tradisional. Contohnya ini, mengukus masih memakai dandang berbahan bakar kayu bakar. Pembuatan adonan juga masih memakai cara ditumbuk lumpang. Lalu kemasan memakai besek yang besarnya disesuaikan berat jualan.


Dalam ruangan memang nampak mesin disel, tetapi itu cuma dipakai memecah ketela. Sedangkan  penghalusan akan memakai si lumpang tersebut. Mesin tersebut juga dipakai apabila permintaan besar sampai kuintal lebih.


Isnaini, mahasiswi Manajemen Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, ini memastikan bahwa ditumbuh menghasilkan cita rasa lebih enak. "Gambarannya seperti sambel uleg dan sambel belnder, pasti enak yang diuleg," jelas pengusaha berhijab yang akrab dipanggil Mbak Is.


Ada hal menarik ketika membahas permintaan pasar luas. Banyak orang menginginkan mereka jualan diluar tempat mereka kini. Tetapi keluarga Tohirin tidak bergeming memilih berjualan sendiri. Jadi jangan harap kamu menemukan produk mereka di toko oleh- oleh lain.


Mereka beralasan getuk gorengnya akan menjadi khas Sokaraja. Bila terdapat getuk bernama sama diluar tempet ini dipastikan palsu. Walau sudah memiliki 10 gerai, tetap mereka kwalahan melayani pesanan pembeli. Tiap toko menjual tidak kurang 50 kg dan 10 kali lipat bila akhir pekan dan liburan.


Menurut Slamet, anak- anak keluarga H. Tohirin dibebaskan mengembangkan bisnis tidak terikat. Ini tinggal disesuaikan kemampuan masing- masing. Mereka diberikan hak nama H. Tohirin dan boleh melebeli produk getuk dihasilkan.


Adapun nama berupa nomor ternyata bukanlah mengenai kepemilikan. Melainkan menandakan urutan gerai dibangun bukan mana lebih baik. Kesepuluh gerai dimiliki orang berbeda- beda, tiapnya punya kemampuan berbeda mengembangkan bisnis jadi hasil beda- beda.

 

Jumlah gerainya lima milik Warsuti anak ketiga, Ning Waryati memiliki tiga gerai, dan Slamet punya dua gerai. Konon gerai Bu Warsuti memang paling cepat berkembang. Ini dikarenakan manajemen lebih baik dan rapih.


Di gerai milik Bu Warsuti sudah memakai mesin kasir bukan manual. Pemasukan dan pengeluaran sudah tercatat rapi. Berbanding gerai milik saudaranya masih memakai hitung manual. Mungkin dari beberapa hal tampak kompak ternyata tidak juga.

 

Tidak nampak persaingan jelas dan sinergi anak- anak H. Tohirin lemah. Maka perkembangan bisnis berbeda- beda masing gerai. Dampaknya suatu ketika mungkin akan ada yang tersingkir. Persaingan malah nampak pada harga berbeda- beda, harusnya tidak begitu.


Perbedaan harga malah akan riskan walau menarik pembeli. Orang akan membeli paling murah meski satu pabrikan. Disarankan semua saling membahu membangun brand bersama. Saling mematikan harga justru akan membuat keuntungan tipis, sampai tidak mampu membiayai pengembangan.

Peternak Telur Puyuh Jadi Miliarder Pengusaha Slamet

Profil Pengusaha Slamet Wuryadi

 
peternakpuyuh.png
 
Pengusaha Slamet peternak puyuh jadi miliarder.  Mungkin kamu belum pernah mendengar namanya. Dialah miliarder Indonesia kaya berkat puyuh. Itulah yang menarik ketika kamu berpikir miliarder itu batu bara atau migas, ini berkat telur puyuh. 
 
Siapa namanya, namanya Slamet Wuryadi, pertama kali beternak puyuh ia mengaku selalu untung. Apa pasalnya usut- punya usut Indonesia masih kekurangan puyuh sampai 7,5 juta sampai 8 juta. Dia sendiri adalah ketua Asosiasi Peternak Puyuh.

Dalam catatannya kebutuhan benar tak seimbang antara supply dan demand. Bayangkan kawan dalam industri puyuh itu dibutuhkan 11 juta telur/ pekan. Sementara itu para peternak cuma bisa memenuhi angka 3,5 juta/ pekan. Sisa sangat banyak bagi kita memulai beternak puyuh. 
 

Usaha Puyuh

 
Kembali ke Pak Slamet, dari 25 tahun lalu, ia tak pernah menjual telur puyuh dibawah standar. Beda dengan harga dari produk lain yang naik turun. "Itu berarti saya untung terus," ujarnya.

Dia menjelaskan empat alasan kenapa beternak puyuh itu untung: Pertama, penawaran- permintaan tak seimbang. Diamana peternak cuma mampu mengisi 15 persen. Inilah kenapa harganya selalu stabil. Kedua ialah meski stok kekurangan tidak ada impor. 
 
Semua karena korporasi belum menyentuhnya ujar Slamet. Ia sendiri kekeh menolak kerja sama dengan perusahaan asal Malaysia. Dia fokus pada penjualan cash and carry, dimana, uang akan langsung kembali.

Beda dengan korporasi yang suka membayar belakangan. Dimana untung dulu baru membayar peternak biasanya. Faktor keempat, usaha ini serba usaha, atau kamu bisa menjual kesemuanya. Dari telur, menjual puyuh hidup, daging puyuh, bahkan kotorannya. 
 
Selain menjadi peternak sendiri Slamet juga ikut berbisnis sendiri. Usahanya meliputi bakso puyuh, telur asin puyuh, ataupun olahan daging puyuh. Dia menjelaskan sebungkus telur puyuh asin dijualnya Rp.15.000.

Kotoran puyuh ternyata juga bisa dijadikan pupu, utamanya untuk tanaman strowberi dan tomat. Selain itu ada pula kajian dirinya untuk program kotoran puyuh jadi biogas. Sosoknya memang nyatanya bukan orang sembarangan. 
 
Dia punya visi dan "ambisi". Bukan perkara jelek, dia telah aktif untuk memperkenalkan puyuh berkeliling tanah air. Bahkan dia telah dipanggil hingga ke Malaysia dan Brunei.

"Dari hulu sampai hilir dan pascapanen terurus. Sehari ada delapan ton kotoran puyuh," ujar dia.

Dia juga pernah ke Korea Selatan memberikan pelajaran tentang puyuh. Lalu dia juga pernah ke Kenya, Afrika, lagi- lagi mempromosikan puyuh. Dalam negeri kamu bisa mendapatkan 3 buku karangannya tentang beternak puyuh. 
 
Yap, visinya memang tentang puyuh, dia pun mendapatkan gelar sarjana dari puyuh. Pria ini meraih gelar S1 dan S2 dari IPB dari hasil beternak puyuh.

 "Saya hanya bermodal baju empat, celana empat, serta uang Rp 175 ribu," ujar pria yang ternyata memulai usaha ternak puyuh pada 1992 itu.

Selain itu dia juga dikenal sebagai satu- satunya Profesor Puyuh. Dia menjadi orang pertama yang dikenal menyadang gelar profesor puyuh. Semua berkat penawaran sebuah Universitas di Belanda, dan dibiayai oleh mereka, semua berkat passion -nya bertenak puyuh. 
 
Namun, ketika menerima tawaran ini Slamet sempat pikir- pikir dulu karena jika ke Belanda, maka dia tidak bisa mengurus usahanya. Disisi lain, pengusaha pemilik CV. Slamet Quail Farm dan juga ketua Asosiasi Puyuh Indonesia, ini jadi satu kebanggaan ketika dirinya mencapi itu. 
 
Disisi lain dia juga menginginkannya untuk mengakat nama puyuh lebih lagi. "Saya ingin menjadi profesor puyuh," ujarnya. Berternak puyuh, jelasnya, bisa balik tujuh bulan sejak memulai usaha. 
 
Misalnya jika kamu punya modal Rp.15,3 juta, kamu bisa beternak 1.000 ekor puyuh diatas lahan 2x10 meter. Itu sudah termasuk lima kandang dan pakan untuk sebulan. Asumsi produktifitas 75- 80 persen dimana itu bisa menghasilkan keuntungan Rp.99.000 per- hari. 
 
Atau kamu bisa mendapatkan Rp.3 juta per- bulan. Untuk penyakit pada hewan dikatakannya puyuh relatif mudah. Penyakit biasanya ada tetelo dan pilek. Fokus pada puyuh kamu bisa memberi makan- minum, mengumpulkan telur, dan membersihkan kotoran, cuma butuh waktu 45 menit.

"Apalagi kalau kita bisa mengusahakan populasi 6.000 ekor," ujar pengusaha Slamet menjelaskan.  Intinya beternak puyuh itu mudah jelasnya dan untung. Dia sendiri telah beternak puyuh sejak 2002. Semua sekali lagi karena kebutuhan pasar telur puyuh dalam negeri yang besar. 
 
Ketua umum Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia ini menyebut untuk wilayah di Jabodetabek, Cianjur, Bandung, Bangka Belitung, dan Palembang, dibutuhkan pasokan 8 juta butir telur puyuh per minggu.

Sedangkan mereka baru sanggup memenuhi pasar sebesar 2,1 juta per- minggunya. Jadi pasar masih saja masih kekurangan sekitar 5,9 juta butir per minggu. Permintaan pasar besar dan tidak pernah turun dari harga BEP (Break Event Point) dimana harga berkisar Rp.180 per- butir. 
 
Slamet menghitung harga pasaran untuk saat ini Rp.215- 225. Lalu jika kamu mengolahnya bisa mencapai 4 kali lipat. Disisi lain jika orang membeli puyuh selalu tunia.

Prospek Beternak Puyuh

 
Slamet mengaku kini usahanya telah memiliki aset 4 miliar. Dengan membudidaya 1.000 ekor puyuh. Ia lalu menyebut angka Rp.14 juta- 15 juta. Angka yang cukup besar tapi tak lebih besar dari menjadi pewaralaba produk tertentu. 
 
Angka itu untuk membuat kandang, membeli peralatan, puyuh anakan dan grower yang digunakan 2 minggu pertama. Minggu kemudian ketika puyuh beranjak dewasa tidak lagi diberi makan si grower ini. Untuk fase memberi makan diperkirakannya Rp.100.000 per-hari.

Pemberian pakan anakan itu dua kali sehari yaitu pagi dan siang. Sedangkan jika sudah remaja atau dewasa kamu bisa memberi makan 1 kali sehari di pagi hari. Pakan grower dan lanjutan bisa mudah didapatkan di pasaran. 
 
Memang jika ditanya tantangan beternak puyuh, Slamet mengaku, dengan tegas ada dibagian pemberian pakan. Nilanya bisa 90% dari proses produksi. Oleh karena itu membuat pakan sendiri bisa jadi altenatif. Slamet pun membidika pasar ini; dia menjual pakannya sendiri.

Berapa banyak puyuh dimilikinya dari artikel yang kami himpun. Dia punya 320.000 dimana setiap 30- 40 hari, puyuh akan mulai betelur, hitungan kasarnya 75% menghasilkan telur. Atau ia bisa menghasilkan 750 telur per- hari. 
 
Puyuh akan terus bertelur sampai maksimal usia 18 bulan. Selepas itu masih bertelur tapi tidak seproduktif sebelumnya. Untuk itulah sebelum umur 18 bulan kamu harus mempersiapkan anakan baru.

Puyuh 18 bulan biasanya sudah dijual oleh pemiliknya. Itu akan dijadikan untuk dipotong dan diolah, benar- benar tak sia- sia. Permintaan daging puyuh juga tinggi ujarnya. Meski dipercaya punya kolesterol tinggi. 
 
Ternyata menurut Slamet, telur puyuh cuma punya 500mg/100gr bukan 844mg/100 kg seperi pemberitaan sebelumnya. Kandungan kolesterolnya terbagi atas HDL (Kkolesterol baik) dan LDL (kolesterol jahat). Pada daging puyuh mengandung protein tinggi yaitu sebesar 22,3%.

Kotoran puyuh juga mengandung protein tinggi, sehingga bisa menjadi pakan alternatif bagi pembudidaya ikan.

Usaha Martabak Fantasy Pekalongan Menginspirasi

Profil Pengusaha Sukses Yono

 
usahamartabak.png
  
Usaha martabak Fantasy Pekalongan memiliki kisah. Bau harum pandan tericum di depan Apotek Asli Pasar Banjarsari Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Sang pemilik usaha martabak Fantasy ini tengah mengolah martabak Bandung rasa manis keju.
 
Varian Martabak Fantasy mengingatkan kita cita rasa martabak Bangka. Jadi memang bukan membuat martabak sembarangan. Yono mampu membuat martabak manis dan asin. Dia mendapatkan resepnya asli dari pembuat asli Bandung.

Yono juga pernah bekerja enak tahun di pusat martabak kawasan Bandung dan Purwokerto. Pengusaha muda asli Purbalingga, memang baru beberapa tahun menjajal peruntungan di Pekalongan. Ia memang lihai memasak sejak lama terutama martabak ini.
 
Delapan bulan dia berwirausaha di Kota Pekalongan. Yono pun mengajak saudaranya asal Purbalingga merantau. Yono tidak menerapkan harga begitu mahal. Uniknya, dia menciptakan tujuh varian rasa dari martabak asin, dari spesial ayam, spesial sapi, kornet, hingga perpaduan ketiganya cuma Rp.17 ribu.
 
Buat martabak biasa kamu cukup membayar Rp.12 ribuan. Kalau martabak manis dia menyajikan dua rasa favorit: pandan keju dan black sweet harganya Rp.12 ribu. Pandan keju merupakan adonan yang ditambah pasta hijau ditambah pasta hijau, jangan lupa ditambah keju Craft.
 
Black Sweet sebenarnya merupakan martabak coklat. "Pelanggan lebih menyukai martabak pandang keju karena warnanya berbeda martabak biasa," jelas pengusaha ini, yang semalam membuat 40 dus baik manis ataupun asin.


Buruh Migran Sukses Richa Susanti Pengusaha Warteg

Profil Pengusaha Richa Susanti

 
usahawarteg.png
 
Buruh migran sukses kita butuh lebih banyak cerita begini. Richa Susanti, pengusaha warteg dulunya mantan TKI Hong Kong. Banyak sudah contoh kesuksesan para TKI menjadi buah bibir. Dunia digital selain membuka pintu peluang usaha, juga menggambarkan bahwa buruh migran sukses mungkin.
 
Utamanya ketika kemunculannya di acara Kick Andy. Siapakah dia Richa Susanti yang kini menjadi pengusaha kuliner di Malang Jawa Timur. Richa yang sudah aktif mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan, mencoba usaha.
 
Total dia bekerja selama 8 tahun berturut- turut. Semua untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari di Indonesia. Bolak- balik dari Hong Kong- Indonesia hasil dari usahanya itu cukup lumayan dibawa pulang. 
 
 

Rahasia Pengusaha Warteg

 
Icha sendiri mengaku berat harus meninggalkan keluarganya. Berat memang terutama meninggalkan anaknya. Waktu itu ia menjelaskan anaknya masih berumur 2 tahun. Ketika di Hong Kong dia masih menyempatkan diri untuk berkomunikasi. Butuh proses ekstra apalagi anak- anak sekecil itu.

Richa menjelaskan dia dan sang anak akan bersama mengerjakan PR via telephon. Suatu hari ada kejadian mengejutkan ketika suaminya mendadak meninggal dunia. Dimana dia tak sempat melihatnya. Anaknya saat itu dititipkan orang tuanya untuk mengasuh. 
 
Namun, kesedihan semakin menjadi, kali ini ketika terjadi sesuatu kepada anaknya dia tak bisa disana. Dia cuma bisa mendengar dari jauh. Tak bisa mendampingi anaknya ketika ia sakit- atau pun bersekolah.

Tak jelas tumbuh kembangnya jelasnya disebuah wawancara oleh situs Ciputra Entrepreneurship.

"Sebagai orang tua satu- satunya bagi anak saya, saya merasa berdosa. Itulah mengapa saya pulang dan memutuskan berwirausaha saja," ungka Rischa.

Menjadi TKI di Hong Kong, dia tak bisa melihat sang suami meninggal dan tak bisa melihat perkembangan sang anak. Ini benar- benar jadi tekanan tersendiri baginya. Dia pun memutuskan untuk pulang membuka usaha sendiri. 
 
Sementara itu sebagai modal Richa aktif mengikuti pelatihan Mandiri Sahabatku. Satu program yang dicanangkan oleh Bank Mandiri. Usaha pertama dijalankan olehnya ialah berjualan aneka pakaian dari online shop.

Cara berbisnis online -nya cukup mudah jika dibayangkan. Ia membeli produk dari sana lalu dijualnya ketika pulang ke Indonesia. Sebaliknya dia bisa menjual barang dari Indonesia disana. Produknya meliputi baju, gamis hijab.dll. 
 
Untuk menambah pemasukan dia juga berjualan pulsa disana. Tak berhenti, ia sempatkan untuk membuka lapak, di Victoria Park dibukannya lapak menyasar sesama TKI. Enam bulan telah berlalu dari rencananya untuk berhenti jadi TKI.

Dimasa persiapan batin untuk pulang kembali ke Indonesia dan berhenti. Kisah pilu menimpanya lagi, ia pun bercerita sambil meneteskan air mata, sang ayah meninggal dunia sebelum dia benar berhenti total. 
 
Akibatnya Icha menjadi panik mendengar kabar itu -harus pulang bagaimanapun caranya. Pada saat itu kontrak satu tahun beru dijalankannya separuhnya. Ayahnya meninggal padahal Almarhum lah, sosok yang menjadi sandarannya dan mendengar aspirasi Richa.

Menjadi anak sulung dirinya harus siap menafkahi ibu dan dua adik, dan pulang ke rumah. "Saya merasa ragu dengan kemampuan saya menjadi sandaran bagi mereka. Tetapi kembali saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa dan lakukan yang terbaik."

Majikan di Hong Kong tak tinggal diam. Mereka sempat menawari gaji lebih 80%. Mereka juga menawari sistem pulang setiap setahun sekali. Dia tak goyah sama sekali. Namun, ketika mereka mendengar kabar tentang ayanya.
 

Buruh Migran Sukses

 
Mau- tak mau akhirnya Rischa diperbolehkan untuk pulang. Ayahnya disebut Icha sebagai sosok sandaran selapas tak ada suami. Dia sumber inspirasinya dan ketika harus mendengar kepergian dia; Rischa benar- benar tertekan dan down.

Sebagai anak sulung, kini, ibu dan kedua adiknya mengandalkan dirinya. Beban hidupnya dirasa semakinlah berat. Tapi dari sini ia yakin kembali ke Indonesia. Dia yakin untuk membuka usaha sendiri di Indonesia. 
 
Untunglah selama bekerja di Hong Kong, ia meminta untuk uangnya dijadikan modal. Selama di perantauan ia sempat berpesan kepada orang tua untuk mulai membuka usaha. Sepulang dari Hong Kong usaha itu lantas dilanjutkan oleh Icha.

Perkembang bisnis kecil- kecilan itu baik. Meski diawal sempat terjadi penurunan tapi sekarang terus naik. Semua berkat pelatihan di Hong Kong. Dia fokus mengaplikasikan semua pengetahuan itu. 
 
Pernah laba itu turun 2 juta, tapi tak pantang menyerah, Icha berhasil menaikan untung hingga Rp.3,5 juta. Fokusnya ada di peningkatan pelayanan jelasnya. Usaha warung makan yang diberinya nama "Barokah".

"Warung Barokah saya terletak di sekitar kampus UMM, Malang. Di sana banyak mahasiswa sehingga kebanyakan pelanggan saya ini mahasiswa," jelas Icha.

Kepada Andy F. Noya ia menjelaskan, pertama kali membuka warteg bermodal kecil. Sebuah warteg yang diberinama "WABAH" atau "Warung Barokah". Menyasar para mahasiswa ia bermain- main dengan anek pelayanan menarik. Ia menerapkan konsep kartu ajaib. 
 
Yaitu kartu berlangganan Wabah, nama kamu akan dicatat, berapa kali kamu makan disana. Nah, melalui kartu ini kamu bisa mendapatkan diskon khusus. Ini konsep member card jelasnya kembali.

Tak berhenti dia juga menggunakan layanan "kejutan". Apa kejutannya yaitu kamu bisa mendapatkan satu es teh gratis. Intinya ada gimmick- gimmick agar usaha itu ramai dan berbeda. 
 
Membuat penasaran mahasiswa- mahasiswa pelanggan disana. Selain berbisnis warteg, dia melanjutkan bisnis lain, yaitu bisnis kuliner bakso bernama "Bakso Tersenyum". Dulu cuma mempekerjakan 4 orang kini ia bisa mempekerjakan 8 orang jadi karyawan.

"Bakso Tersenyum. Jadi dulu ini saya buat saat ada lomba wirausaha dan saya memilih kategori ide bisnis. Lalu saya wujudkan sekarang menjadi bisnis nyata dan mendatangkan untung," ungkapnya.

Insting bisnis tumbuh di Hong Kong. Dia mampu melihat faktor lingkungan tepat. Berbisnis dengan tepat dimana dia menyasar sekitara kampus. Selain berbisnis kuliner dia sempat pula berpikir tentang membuka usaha kos- kosan. 
 
Tepatnya dia mau membuka kos- kosan diatas warung makan. Dia lantas memberikan kita wajangan tentang kewirausahaan untuk para pekerja migran. Dia menyebut jangan lantas tergiur dengan kenaikan gaji.

"Menurut saya, jangan takut untuk melangkah maju. Segala sesuatu akan mengambang saat belum dilakukan, tetapi kalau terus ragu pasti tidak akan bisa maju," saran pengusaha warteg ini. 
 
"Jadi saran saya, jangan pikirkan hasil atau akibatnya, pikirkan prosesnya. Fokus ke setiap langkahnya yang harus diambil. Kalau memikirkan hasilnya, bangkrut tidaknya, pasti akan ragu," tutup Icha.

Aneka Olahan Kedelai Bisnis Pabrikan Menjanjikan

Profil Pengusaha Dewi

 

nugettempe.png
 

Apakah kamu mencari bisnis skala pabrikan menjajikan. Maka aneka olahan kedelai bisa menjadi solusi karena banyak varian. Kacang kedelai bukan cuma diolah menjadi tempe atau tahu. Ditangan wanita bernama Dewi, olahannya begitu banyak dibuat seolah menjadi bahan baku daging atau ayam.

 

Aneka olahan kedelai memiliki nilai vitamin dan gizi tinggi. Dewi membuatnya menjadi altenatif hasilkan uang. Awal dia melihat olahan tempe dan tahu lomba Kabupaten monoton. "Pertamanya saya sering lihat lomba di Kabupaten, kayaknya kalau olahan tempe dan tahu itu kan kita bosan," lanjutnya.

 

Bisnis Passion


Anak- anak pasti akan malas makannya padahal penting. Tempe dan tahu mencukupi gizi mereka, banyak vitamin dan nutrisi penting. Maka Bu Dewi mencari cara semakin banyak variasi. Tujuannya agar dapat diterima masyarakat luas, menjadi bisnis.


Kacang kedelai akan menjadi alternatif daging dan ayam. Apalagi kedelai dikenal makanan semua masyarakat kelas bawah sampai atas. Sudah memiliki nutrisi didalam ternyata mudah diolah. Murah dan bagus buat kesehatan didukung mampu diolah bermacam varian.


Pengusaha 45 tahun tersebut menciptakan aneka olahan kedelai. Ada nuget tempe, rolade tempe, steak gelatin, hingga brownis tempe. Adapula ia menciptakan sate tempe dan kroket tempe. Total 16 sampai 20 olahan mampu dia ciptakan.


Bahkan ampasnya diolah menjadi kerupuk, ujar ibu dua anak ini. Usahanya dirintis bermodal sedikit setara Rp.100 ribu. Dia bersama 3 temannya memulai usaha kecil- kecilan. Harga kedelai saat itu murah yakni Rp.6 ribu perkg.


Perhari Dewi rata- rata mengolah 10 kilogram kedelai. Bermodalkan Rp.100 ribu, kini Dewi hasilkan omzet sampai Rp.950 ribu sampai Rp.1,5 juta perbulan. Paling banyak dipesan nuget tempe karena disukai anak- anak. Ia menjelaskan produk dijual terbatas di wilayah Bantul, Jogjakarta.


Mereka masih menjual di kawasan dia dan teman- teman tinggal. Terkendala modal dia belu mampu memasarkan sampai keluar Yogya. Olahannya nanti masih dititipkan ke pasar- pasar. Dewi mengaku tidak mendapatkan tekanan dalam berjualan.


Karena Dewi melakukan sesuatu dia sukai. Teman- teman juga membantu bersama mereka memasak bersama. Di satu kelompok tersebut berjumlah empat orang sangat kompak. Mereka bekerja sama bergotong royong usaha.


Dewi berharap bahwa pemerintah akan bisa membantu. Karena memang masih Usaha Kecil Menengah (UKM) membutuhkan bantuan. Dan pengusaha baru harus siap menghadapi pesaing mapan. Terutama bersaing dengan usaha- usaha beromzet besar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba