Usaha Nasi Uduk Kue Hasilkan Omzet Ratusan Juta

Profil Pengusaha Tania Jean Winarta

 

kuenasiuduk.png
 

Menjajal berbisnis kue hasilkan omzet ratusan juta. Tirulah Tania Jean Winarta usaha nasi uduk menjadi bentuk kue. Pengusaha wanita yang akrab dipanggil Nia, menjelaskan sudah lama menekuni usaha masak memasak. Tetapi ide membuat nasi uduh kue memang muncul tiba- tiba.


Awal dia memang berbisnis nasi uduk bukan kue ya. Nia bercerita awal usahanya memang tidak sukses. Dimulai sejak Februari 2017, nasi uduk miliknya dijual biasa layaknya menjual nasi warungan. Bersama lima orang temannya membuka di foodcourt di daerah Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat.


Berjualan nasik uduk biasa kemudian dikemas nasi kotak. Mau berjualan begitu saingan banyak dari baru sampai yang lama. Nasi uduk memang begitu umum walau sudah dikemas foodcourt tidak naik omzet. Penjualannya kurang menjanjikan sampai ia sempat berpikir ganti usaha.


Mereka bermodalkan kecil cuma Rp.7 juta patungan bersama. Barulah setelah ide usaha nasi uduk kue muncul modalnya ditambah. Mereka menambang sekitar Rp.3 juta modal tambahan. Nia berkata ide membuat nasi uduk memang berawal keisengan.


Nia menangkap pikiran iseng sahabat. Menjadikan nasi uduk menjadi layaknya kue ulang tahun. Dia lalu mencoba membikin. Sayangnya, usaha nasi uduk berbentuk kue telat, justru ketika mereka telah menutup tempat jualan mereka.


"Saya sendiri hobi baking, nah lima orang ini bilang coba dong bikin kue dari nasi," kenang Nia. Dulu ketika masih nasi uduk biasa, udah promosi di sosial media hasilnya tetap sama. Kurang bagus karena sudah banyak saingan usaha nasi uduk online.


Walau sudah menemukan ide baru bukan berarti sukses. Nia harus banyak mempromosikan bukan buat laku dulu, Nia berpromosi buat meyakinkan pembeli. Konsep baru tersebut memang belum dikenal masyarakat. Nama usahanya Nasi Uduk Manja mulai dipromosikan melalui food blogger.


Selain unik tetap harus berasa enak tinggal disuport food blogger. Mereka diendors buat mereview suatu konsep baru. Hasilnya memuaskan walau mengeluarkan modal Rp.50- 500 ribu perendors. Nia menjelaskan selain sudah percaya diri, juga sudah belajar mengenai marketing.


Udah percaya diri dan meyakini akan sukses diendors. "Dari situ kita kirim- kirim ke food blogger, jadi people lebih aware dan marketnya lebih kebuka," ucapnya. Karena mulai berkembang mereka sudah mempekerjakan pegawai.


Mereka mempekerjakan dua pegawai. Walau dikerjakan banyak orang termasuk masih keteteran. Dia mengatakan pesanan sudah banyak. Nia dan kelima temannya menjual dikisaran Rp.150- 1 juta. Harga ditentukan oleh porsi diminta pemesan kedalam pesanan.


Kalau kue senilai Rp1 juta dapat dinikmati 40- 50 orang. Kuenya empat tingkat, atau lebar, menunya menampung banyak. Hitungan perporsi. Nia menghitung makan buat 50 orang bernilai sejuta. Ada pula Rp.150 ribu buat empat orang dimana ukuran bisa disesuaikan.


Perhari mereka memproduksi delapan pesanan perhari. Mereka kini sudah membuka toko kembali. Nia mengatakan mereka menerima pesanan sosmed. Mereka sudah memiliki dapur sendiri. Strategi bisnis mereka unik, pasalnya mereka nanti akan membuat dapur perkota dan dipasarkan di sana.


"Kita enggak mau buka toko lagi, benar- benar lewat online. Yang mau itu diluar kota, jadi misalnya buka dapur di Bandung, di Makassar kaya gitu, tapi bukan toko, hanya dapur saja," Nia menjelaskan kepada Detik.com


Berbisnis tradisional tetapi dikemas kekinian memang menjanjikan. Bukan sekali pengusaha mencoba mengikuti pola tersebut. Usaha nasi uduk kue menghasilkan omzet ratusan juta. 

 

Tahun 2017, usahnya memang lebih banyak makanan baru bukan tradisional seperti nasi uduk. Nia bangga akan pencapaian sekarang. "Hasilnya sekarang sih happy banget, soalnya yang kita lalui awal- awal sih menyedihkan ya, susahnya, dan lain- lain," pungkasnya.

TKI Ganteng Nur Cholis Hidup Susah Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Nur Cholis

 
tkiganteng.png
 
TKI ganteng Nur Cholis tidak menyangka akan hidup susah jadi pengusaha. Dia mantan TKI di Taiwan. Berniat merubah nasib berwirausaha malah membuatnya "menderita". Dia bukanlah tidak berpendidikan tinggi dan menjadi TKI menjanjikan. 
 
Dia itu sarjana. Wajahnya juga tampan akunya ketika hadir di acara Kick Andy. Ilmu bisnisnya ya cumalah bermodal pengalaman. Memulai dari nol, bisnisnya dimulai 15 tahun lalu, bermodal uang sisa menjadi TKI, ia mulai dengan menyewa toko di sebuah pasar di Wonosobo.
 

Jadi Pengusaha

 
Rencananya dia akan membuka sebuah toko tekstil yang lantas diberinya nama "Multazam". Kisah pun berlanjut ketika ia menyadari bahwa modalnya tak cukup. Bukan membangun toko tekstil yang seharusnya. 
 
Dia membuat ala kadarnya. Sebuah ide unik muncul yaitu membeli langsung dari pabriknya. Nur langsung berangkat ke pabrik- pabrik tekstil dan membeli kain murah. Dalam acara Kick Andy, dia lantas menjelaskan kain itu merupakan kain sisa pakai. 
 
Jadi bukanlah kain reject dari produksi yang gagal. Kain ini masih berkualitas tandasnya. Bermodal kain sisa yang dibelinya kiloan dan dijual kiloan. Menjual kiloan justru menjadi tagline sendiri. Bagi bisnis sumur jagung tersebut menjadi beda berarti menjual lebih banyak. 
 
Kelebihan tekstil Multazam, ya, karena Nur Cholis menjualnya secara kiloan. Lantas ketika semua mulai berjalan baik barulah hambatan itu datang. Dia menceritakan bahwa toko kontrakannya mau diambil pemilik lagi. Kontrak dua tahun barulah satu tahun dijalankan.


Bekerja sebagai TKI Nur Cholis ternyata cuma jadi cleaning service. Dia berkisah meski bewajah ganteng, punya ijasah, bisa komputer, itu tidak jadi jaminan. Sudah menyiapkan dasi dan jas, eh malah, dia disuruh untuk membersihkan kamar mandi. Dia disuruh membersihkan WC. 
 
Tidak hanya satu tapi ratusan buah di hotel tempatnya bekerja. Kala itu Nur Cholis masih belum menikah dengan pacaranya semasa kuliah. Dia masih lah membujang ketika menjadi TKI di Arab Saudi. Bekerja penuh ketekunan akhirnya bisa naik pangkat. 
 
Dari menjadi cleaning service yang cuma kebagian membersihkan WC. Saat itu ia naik pangkat jadi tukang bersih di kamar- kamar hotel. Sambil bercanda dia pun berkata kalau datang ke rumahnya kini; WC dan kasur akan sangat bersih seperti di hotel. 
 
Beberapa kali naik pangkat akhirnya dia bisa bekerja di bagian Marketing Manajer. Dia lega akhirnya tak sia- sia membeli jas dan dasi.

Selepas menikah dangan Siti Nur Qomariyah atau Itong, keduanya memutuskan mengumpulkan modal membangun usaha sendiri. Uang itu digunakan untuk membangun usaha di Indonesia. Keduanya sepakat untuk kembali menjadi TKI mengumpukan modal. 
 
Sebelumnya Nur Cholis sempat menjadi TKI di Taiwan. Dia sempatkan membuka usaha sendiri di kampungnya dulu. Ya, itulah Multazam Tekstil, sepanjang berjalannya bisnis tersebut, Itong akan mengirimi uang, dan memberikan tambahan modal.

Berjalan waktu usaha tekstilnya maju. Dia menyebut dari bisnisnya diatas menghasilkan 3 juta per- harinya. Itu berkat kepandaian Nur Cholis memanfaatkan modal seminim mungkin. Biar lebih hemat dia bahkan mau untuk tidur sendiri di tokonya sendiri. 
 
Ketika pagi sampai siang berjualan kain. Ketika di malam harinya, ia akan pura- pura pulang, lalu kembali ke toko menyelinap untuk tidur. Semua dilakukannya agar tak ketahuan satpam yang berjaga di ruko sewanya.

Hidup Susah

 
Kain dijadikan kasur dipakainya tidur di malam hari. Selepas pagi kain itu dibersihkan- dijemur lalu dijual kembali. Semua dilakukannya hingga tokonya makin laris. Menghasilkan tiga juta per- bulan siapa sih yang gak akan iri. 
 
Mungkin inilah mengapa sang pemilik ruko meminta tokonya kembali. Alasan sang pemilik ruko ialah toko utamanya kebakaran. Meski berberat hati ia akhirnya rela melepaskan sisa satu tahun sewanya.

Sang pemilik toko pun mau mengganti kerugian Nur Cholis. Dia dipindahkannya ke tempat lain. Yang sepi dan cuma menghasilkan Rp.17 ribu per- hari. Miris ketika itu omzetnya sangatlah turun drastis. Tentu saja ia jadi stress bahkan berniat menyusul istrinya bekerja ke Taiwan jadi TKI. 
 
Dalam keadaan stress itulah ide kreatifnya muncul lagi. Ia meminta ijin Itong menjual mobil kreditan yang belum lunas dan beberapa perhiasan miliknya. Saat itu sang istri sudah tak bekerja lagi di Taiwan.

Ia mengontrak satu roku di Banjarnegara. Ternyata menjual di luar Wonosobo malah usahanya bisa sangat diterima. Nur Cholis dan istrinya bekerja sama mengerjakan dua toko. Dari Wonosobo ke Bajarnegara dan sebaliknya keduanya tampak kelelahan. 
 
Mereka menjaga dua toko di dua daerah berbeda. Dalam keadaan kepepet, ide kreatif lagi, Nur Cholis berpikir bagaimana biar tokonya tetap berjalan. Bahkan disaat ia dan istrinya tak berada di anatara keduanya.

Dia mulai membuka- buka buku tentang bisnis. Mencari ilmu bagaimana menjalankan "perusahaan" seharunya. Dia secara trial- error (coba- coba) mulai mempekerjakan orang lain. Cuma menunjuk orang menjadi manajer toko dan juga seorang general manager. 
 
Nur Cholis mendelegasikan tuganya ke orang lain. Beberapa orang manajer toko akan mengerjakan pelayanan. Dia akan bertanggung jawab ke si general manajer. Nah, satu general manager akan memberikan laporan ke dirinya.

Untuk ongkos sistemnya ini ia menggelontorkan puluhan juta. Selain menggelontorkan ongkos uang untuk membayar gaji, ada pula ongkos penyalahgunaan kasir, piutang tak terbayar, dan lain sebagainya.

"Saya tidak pernah menganggap kehilangan itu sebagai sebuah kerugian, saya menganggapnya sebagai ongkos belajar, karena dari situlah akhirnya saya mencoba untuk membikin suatu sistim audit yang benar, bikin cash flow report yang bagus, neraca, laporan rugi laba, dan lain sebagainya," jelasnya.

Soal SDM dijelaskannya cuma mengandalkan kejujuran. Dia memprioritaskan passion, barulah integrity, dan juga kejujuran. Selain sistem marketing ia juga membangun sistem pemasaran, periklanan, dan promosi yang terus dikembangkannya. 
 
Dia juga membuat front liner yang fungsinya memberikan panduan bagi karyawan. Tugasnya meliputi bagaimana karyawan menerima telephon, memberi salam, menjelaskan produk, memberi garansi, closing penjualan dan lain- lain.

Punya karyawan sendiri


Menjadi pengusaha besar itulah yang tengah dibangun Nur Cholis. Dimana semua karyawannya punya satu SOP sendiri. 
 
"Karena semuanya melalui trial and error maka SOP yang saya buat masih selalu dalam progress, belum jadi 100%, karena setiap kali ada masalah baru dalam perusahaan maka hal itu akan menjadi item baru dalam SOP kami," tutur ayah dari Julio Maulana Muhamad yang juga hobi fotografi.

Bermodal SOP tersebut dari dua toko saja, kini, usahanya bisa merambah ke tempat- tempat lain. Menjadi puluhan menyebar di Jawa Tengah. Menerapkan konsep jangan menaruh satu telur di satu keranjang. Ia mulai membukan berbagai bisnis lain yang bersumber dari bisnis tekstilnya. 
 
Usaha miliknya mulai merambah kuliner, pengiklan, percetakan, aksesoris motor, sekolah musik, dan pendidikan. Untuk bisnis pendidikan ia bekerja sama dengan Primagama Group.

Memperluas sektor bisnis lantas dipahaminya sebagai cara menambah lapangan pekerjaan baru. Dia bisa membangun lapangan kerja bagi saudara- saudara yang belum berwirausaha. 
 
Alumnus IAIN dan ISI Yogya ini ia juga menambahkan dirinya juga sibuk menghandle lembaga keuangan berkaryawan 800 orang. Dari sana pula  Ia menyadari satu hal: peningkatan SDM menjadi kunci. Dia sadar betul akan kualitas mereka yang bekerj di tempatnya. 
 
Nur Cholis pun mengadakan pelatihan intern perusahaan dan juga memberikan pelatihan diluar melalui aneka seminar. Bisnis baginya tak lagi cuma melulu jual- beli tapi sudah meluas.

"Bisnis itu adalah bagaimana kita bisa menciptakan bisnis yang tersistemasi sehingga kita sebagai business owner tidak harus selalu in business, tetapi bisa work on bussiness, dengan begitu saat ini saya sangat merasakan manfaatnya bahwa karyawan-karyawan saya ternyata lebih pintar dan kreatif dibanding saya," ucapnya.
 
TKIganteng asal Magelang kelahiran 1966, menjelaskan bahwa sinergi dengan karyawan akan mampu mengembangkan perusahaa. Lebih maju hingga pemilik usaha dapat jalan- jalan, bisnis tetap jalan. Ia menemukan kebebasan itulah dia cari.
 .

Kebebasan dalam nama pengusaha bukan berarti bebas bekerja selama mungkin. Kamu bebas bekerja apapun jenis bisnisnya. Dan kamu bebas dari beban pekerjaan apapun. 
 
Menurutnya menikmati hidup itu memang penting, justru karena hidup cuma sekali, kita harus ikut menikmati jalannya bisnis kita. Bentuk menikmati bisnis juga tidak melulu bekerja. Itu termasuk kontribusi perusahaan bagi masyarakat luas.

Untuk itulah perusahaan mantan TKI ini mengadakan aneka CSR. Bentuk tanggung jawab lingkungan ini ia bagikan dalam bentuk biaya listrik dan PAM masjid- masjid, menjadi sponsor khitanan, menyumbang ke panti asuhan, dan mensuport anak -anak asuhnya. 
 
Tidak dipungkiri sosoknya menjadi salah satu pengusaha menginspirasi asal Wonosobo. Sekian kisah hidup susah jadi pengusaha tetapi senang diakhir.

Pengusaha Bawang Goreng Go International

Profil Pengusaha Ragwan Al Idrus

 

bawanggoreng.png
 

Bayangkan pengusaha bawang goreng go international. Memang di jaman sekarang semua dapat terjadi berbekal aneka kemudahan. Produk bawang goreng khas Palu sudah terkenal. Makin terkenal ketika bisa menembus pasar internasional.


Bahkan produk tersebut sudah masuk jenis komoditas. Bawang goreng Palu mendapatkan penghargaan Upakarti. Ini menjadi pendongkrak semangat pengusaha bawang goreng lokal. Seperti Ragwan Hasan Al Idrus, pemilik usaha bawang Sal Han, penerima Upakarti pelopor usaha dari Palu.

 

Bisnis Bawang Goreng


Permintaan datang terutama dari Malaysia ingin membeli. Bawang goreng Palu memang khas, namun belum mampu mencukupi permintaan dari Malaysia tersebut. Berkat penghargaan tersebut maka para pengusaha akan mendapat akses pelatihan dari Dinas Perindustrian.


Ragwan mendapatkan penghargaan langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kedepan akan menjadi perhatian Dinas Perindustrian Kota Palu dan Sulawesi Tengah. Adalah mantan guru fisika alumni Universitas Samratulangi Manado.


Akses lembaga keuangan lebih terbuka semenjak diapresiasi. Mereka memberikan dukungan modal pengembangan usaha. Ragwan sendiri mendapatkan bantuan PT. Telkom pada 2010. Usahanya dapat bantuan pinjaman lunak sampai Rp.40 juta sampai Rp.100 juta.


Ragwan dibantu suaminya Fauzi Salim mengembangkan usaha. Mereka mendapatkan kepercayaan akan akses kredit lembaga keuangan. Bahkan nilai kredit sampai Rp.1 miliar buat mendirikan gedung produksi.


Mereka tidak kurang menggoreng bawang sampai 200kg bawang mentah. Ragwan dan Salim memiliki 20 orang pegawai. Mereka pegawai bertugas mengupas, memotong, sampai menggoreng. Bawang goreng dihasilkan 50kg sampai 60kg, harga jualannya Rp.150.000 perkg dan omzet perhari Rp.8 juta.

 

Ditanya mengenai keuntungan bersih tidak disebutkan. Pokoknya Ragwan mampu menstor arisan sampai Rp.20 juta. Ragwan Al Idrus merupakan pengusaha satu- satunya diluar Jawa. Ini sangat perlu diapresiasi Indonesia sebagai negara besar.

 

Salim menjelaskan usaha mereka mendapatkan pasokan khusus. Bawang berkualitas tersebut berasal dari Lembah Palu. Jadi rasa dihasilkan berbeda bila dibandingkan ditanam tempat lain. Suhu disana menghasilkan kualitas berbeda menjadi istimewa.


Strategi keduanya membangun bisnis bawang Sal Han termasuk menanam. Mereka tidak mau cuma berpatok di lembah Palu. Pengusaha bawang goreng ini juga memiliki tanah ditanami lain. Di lokasi berbeda luas lahan pengelolaan mereka sampai 20 hektar.


Perlu diketahui walau sama- sama lembah Palu, dijarak 1- 2 kilometer cuaca sudah berbeda. Lewat lahan 20 hektar tersebut menghasilkan 2,5 ton bawang goreng. Harga jualnya dari 180 ribu sampai Rp.235 ribu.


Ragwan sempat berpikir mau menjadi PNS. Alih- alih dia memutuskan mengembangkan usaha ini sampai sukses. Perjalanan mereka lumayan terjal namun dapat diatasi. Tahun 2006, ia membatalkan niatnya bahwa sepakat membangun pusat oleh- oleh khas Palu, bersama sang suami Fauzi Salim.

Pengusaha Gagal MLM Ide Jualan Batagor Hanimun

Profil Pengusaha Angga Januar


pengusaha batagor

Pengusaha gagal MLM memilih berjualan biasa. Dia memiliki ide jualan batagor. Ide berjualan kecil- kecilan nyatanya lebih melegakan. Dia tau hasilnya lebih kecil dibanding bisnis MLM. Tetapi pria ini tak susah- susah mencari downline.

Kalau sudah punya produk sendiri dia lebih percaya diri. Lebih mampu mengontrol dan bertanggung jawab. Mungkin dia enggak berbakat bisnis MLM. Dan mungkin, kamu bisa meniru langkah pri muda bernama Angga Januar K ini.
 

Berbisnis Batagor

 
Dia pernah merasakan apa yang pernah kamu rasakan sekarang. Bagaimana rasanya (dijanji- janjikan) mendapatkan mobil mewah dari bisnis MLM. Sayangnya, memang tak semua orang bisa sesukses orang lain. Alkisah ada mantan pemulung yang memang menjadi bahan omongan. 
 
Namanya Sunarno, sukses bisnis MLM dimasa jayanya dahulu loh. Cuma bermodal seadanya, dirinya mampu menduduki posisi tinggi di Forever Young.


Kisah sukses seperti Sunarno ini sudah mulai jarang ditemui. Kisah seorang pemulung sukses berbisnis MLM tanpa modal; adalah seperti legenda saja. Kembali ke sosok Angga, kapankan ia memulai bisnisnya tersebut. 
 
Tepatnya, di 2008, Angga bersama ibunya, mulai tertarik berbisnis MLM yang menjamur. Mereka tergiur iming- iming mobil mewah hingga rumah megah. Tentu jika sukses merekrut orang menjadi downline. Faktanya gambaran serba manis tersebut cuma semu belaka. 
 
Mereka tidak bisnis berbisnis MLM. Mereka tidak berbakat bisnis MLM. Mereka tak mampu mengikuti pola usahanya. Bahkan ibunya sudah menggelontorkan uang banyak. Mereka bahkan sempat kehilangan mobil, rumahnya di kawasan Cimahi, Jawa Barat. 
 
Harta mereka digelontorkan buat menutupi biaya dikeluarkan mereka. Kapok berbisnis MLM membuatnya memilih bisnis konvensional. Sayangnya, lagi- lagi Angga mengalami satu kegagalan kembali. Bisnis konvensional juga sama gagalnya dengan MLM. 
 
Dari bisnis konveksi justru tertipu salah seorang konsumen asal Kalimantan. Jadilah Angga menutup bisnis konveksinya, bangkrut, kehilangan semua modal yang ada.

"Kejadian itu terjadi di tahun 2005, konsumen baru bayar DP (uang muka) 25% untuk order konveksi saya. Setelah orderan selesai dan dikirim, orang yang order tidak bisa dihubungi lagi," jelas Angga kepada situs Myoyeah.

Otaknya berputar keras buat memulai bisnis kembali. Dia seolah tak kapok mengalami kegagalan. Angga mulai berpikir usaha apa yang baru tapi bisa cepat menghasilkan. Ia lantas mencurhatkan kegalauannya ke ayahnya, yang kebetulan adalah seorang akuntan di salah satu bank swasta.

Secara getir, ayahnya kemudian menyodorkan uang 20 juta. "Papa tinggal punya sisa tabungan Rp.20 juta untuk keluarga waktu itu," ia lantas menjelaskan. Angga menceritakan papahnya mengajari dia kunci bisnis cepat.

Menurutnya bisnis yang perputaran uangnya capat adalah bisnis kuliner. Kemudian ia berpikir buat berbisnis batagor karena penggemar batagor. Karena ayahnya bekerja sebagai akuntan. Bisnisnya pun tak terlepas dari sorotan matanya.

Pengusaha gagal ini menceritakan ketika akan memulai usaha; dia diperintahkan menulis anggaran. Dia diperintahkan menulis anggaran usaha yang ia perkirakan nanti.

"Awalnya rencana anggaran itu mencapai angka Rp.15 juta," jelasnya. Papanya kemudian mulai menyarankan agar Angga menghitung ulang. Disarankannya untuk mengambil bahan- bahan dan peralatan lebih murah.

Hasilnya modalnya bisa ditekan menjadi Rp.6 juta. Tapi tentunya tanpa mengurangi kualitas dari batagor buatannya nanti loh. Angga tidak lama dalam keterpurukan kegagalan. Dua tahun semenjak kebangkrutan parah bisnisnya terdahulu tanpa kembali bisnis MLM.

Yakni dari bisnis konveksinya dulu. Moda Rp.6 juta digunakan segera tanpa basa- basi. Pada Februari 2007, resmi bisnis kuliner yang bernama Batagor Hanimun diluncurkan. Adanya pengalaman gagal MLM kemudian gagal berbisnis konveksi menyadarkan satu hal.

Bahwa bisnisnya salah manajemen bukan karena apa. Ini fakta yang diambil ketika memulai brand -nya sendiri.

"Ya,saya menyadari kalau waktu dulu kami buruk dalam hal manajemen," terangnya.

Pengusaha Gagal MLM


Selain sibuk membenahi manajemen, disaat itupula Angga mengikuti anake pameran. Ini memang merupakan strategi khususnya memperkenalkan brand -nya. Ia tak absesn hadir di pameran khususnya pameran kuliner di Bandung.

Saking kerajinan mengikuti pemaran membuatnya dikenal. Sosok Angga sudah dikenal oleh kawan- kawanya sebagai hantu pameran atau jurik pameran. Agresifitas memperkenalkan bisnisnya ternyata membuahkan hasil.

Strateginya buat memperkenalkan juga sebagai sarana membangun koneksi. Disana, Angga mampu menggaet konsumen, bahkan dalam jumlah lebih besar, dan dalam waktu singkat pula. Dibanding lewat cara biasanya berjualan normal yakni berjualan lewat mobil keliling.

Hasilnya mampu naik berkali- kali lipat. Tidak cuma 2- 3 kali lipat tapi mencapai belasan kali lipat untungnya jualan di pameran. Itulah alasan utama lainnya selain memperkenalkan brand -nya.

Apalagi kalau bukan cara cepat menggaet konsumen non- konvensional. Bahkan lewat berjualan di pameran membawanya untung besar. Bukan cuma untung uang loh, tetapi sebuah kesempatan memperluas jaringan bisnis

Dalam penjelasannya, ketika mengikuti pameran PKBL UKM Expo 2009 silam, selain terjual habis Batagor Hanimun -nya; ada sosok investor miliriknya. Inilah tonggak sukses besar dari jualan batagor Hanimun. Dia bercerita saat itu ada satu keluarga yang setiap hari datang ke booth -nya sendiri.

Namun, karena pembeli selalu laris manis jadilah mereka selalu kehabisan. Hingga akhirnya mereka datang lebih awal agar bisa kebagian. Bahkan mereka rela datang ke pameran selanjutnya. Karena datang dari awal, jadilah, satu keluarga itu bisa kebagian lezatnya Batagor Hanimun.

"Hari berikutnya mereka datang lebih awal dan membeli batagor," katanya.

Setelah itu, sang ibu keluarga tersebut menyodorkan nomor telephon. Maksudnya adalah sang ibu itu tertarik menjadi mitra bisnisnya kelak. Angga pun tak menyia- nyiakan tawaran tersebut, dan mulai menjajal konsep bisnis kemitraan.

Untuk pertama kalinya, Angga bisa membuka satu toko bersifat permanen, jika sebelumnya cuma berjualan lewat mobil pribadi. Toko tersebut terletak di Rest Area 97, dimana mitranya adalah si ibu tersebut.

Unik karena Angga tak punya rencana khusus buat kerja sama. Dia bahkan tak menulis proposal bisnisnya. Tak mengira bahwa si ibu mau mengajaknya bemitra. Bahkan menawarinya berapa uang dibutuhkan buat berinvestasi di tempatnya.

Asal- asalan saja terucap kata Rp.10 juta seketika. Ternyata ibu itu tidak surut ketika mendengar angkanya. Jadilah usahanya berkembang berkat hal spontan tersebut. Penjualan dilokasi barunya mencapai 40 ribu pcs/bulan.

Jumlah tersebut dibilang sangat besar dibandingdibayangkannya. Selepas membuka bisnis di Rest Area 97 tersebut membawa keburuntungannya terus saja menanjak. Batagor Hanimun bahkan bisa memiliki 4 cabang di Bandung, 1 di rest area Tol Cipularang, 2 di Jakarta, dan 1 lagi di Bogor.

Cabangnya banyak membawanya jadi kaya mendadak. Bukannya karena sukses MLM tapi karena berbisnis batagor beromzet Rp.300 juta per- bulan.

Profil Dea Valencia Pengusaha Cantik Batik Kultur

Profil Pengusaha Dea Valencia


batik kultur dea valencia

Mau mengenal pengusaha cantik pemilik Batik Kultur. Profil Dea Valencia membuktikan bahwa batik tidak jadul. Bagi kamu yang baru lulus kuliah pasti akan merasa minder. Tetapi Dea Valencia, adalah gadis manis yang sukses besar meskipun baru berusia 19 tahun. 
 
Jika pendapatan kamu per- bulan cuma beberapa juta, pengusaha cantik ini punya miliaran rupiah yang dihasilkan. Apa rahasianya? si pengusaha cantik Dea Valencia, umurnya baru 19 tahun, tetapi berkat ketekunan di dunia bisnis batik, sukses dan mampu mengharumkan nama Indonesia.
 

Bisnis Batik

 
Diberinya nama bisnis batik budaya, Batik Kultur, kisah batik lawas yang dipadu- padankan. Dea pun tak segan berbagi kisah bagaimana, dan kapan usahanya ini berjalan. Sejak usia 16 tahun Dea sudah memiliki ketertarikan terhadapa pola batik. 
 
Namun, ketidak mampuannya membeli batik sendiri membuatnya memutar otak. Dea lantas membuka- buka kembali lemari, menemukan batik- batik lawas yang mungkin tak sesuai lagi. Batik- batik lawas yang sudah mulai rusak atau mungkin tak cukup lagi dipakai. 
 
Batik- batik itu dibentangkannya lalu dipotong- potong. Ia mulai menggunting sesuai pola yang ia sukai, dan membordirnya. Ia ciptakan pakaian dengan hiasan batik lawas berbordir tadi. Baginya batik lawas bukanlah barang buangan. Bukan untuk orang simpan saja di dalam lemari.

"Ini pakai batik lawas yang udah lama disimpan di lemari misalnya. Kan sering rusak, entah dimakan ngengat ataupun bolong kena banjir. Ya nggak bisa disimpan lagi kan? Makanya itu saya gunting-guntingin, misalnya bunga- bunganya," pengusaha cantik ini bercerita. 

"Nah dari situ saya bordir dan digabung dengan kain lain," ungkap Dea untuk situs beritasatu.com di acara Wirausaha Muda Mandiri, Istora Senayan, Jakarta Pusat.

Ternyata dari pola- pola itu terbentuklah pakaian baru. Inilah cikal- bakal Batik Kultural. Awal produksinya, Dea hanya membuat 20 potong pakaian. Kini? Ada 800 potong Batik Kultur yang dipasarkan per bulannya.

Dengan harga antara Rp 250.000 - 1,2 juta, nilainya setara Rp 3,5 M per tahun atau Rp 300 juta per bulan. Dia benar- benar memulai usahanya dari nol. Bahkan dia sendirilah yang menjadi model dadakan untuk Batik Kultur.

Kebetulan gadis cantik dan manis ini memang cocok jika menjadi model profesional.

sejarah batik kultur

Dea yang membuat desain setiap produknya sendiri meski ia mengaku tak bisa menggambar. Kemudian ia bergaya di depan kamera memakai produk miliknya sendiri.

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

Prinsip yang dipegangnya sangatlah menarik dan patut dicontoh. Dia mengaku tak akan menjual produk yang dia tidak suka. "Kalau sudah jadi pasti saya bikin prototype ukuran saya sendiri. Saya coba, saya suka apa enggak? Karena saya nggak mau jual barang yang saya sendiri nggak suka.

Jadi barangnya itu kalau dilihat tidak terlalu nyentrik, lebih seperti pakaian sehari-hari," imbuh gadis asli Semarang.

Tak berhenti di Batik ia mulai merambah kain tenun ikat. Meski lebih sulit, dia tak gentar bahkan rela datang ke pusatnya di Jepara, tepatnya di Desa Troso yang merupakan sentra tenun ikat. Jika dulu membeli beberapa meter kain, kini membelian tak kurang dari 400 meter tenun ikat.

Sebagai alumni program studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Dea paham betul kekuatan internet untuk pemasaran. Batik Kultur 95 persen memanfaatkan jaringan internet dalam urusan marketing.

Karena tidak punya pengalaman membatik, ia mulai belajar membatik sambil jalan katanya. Jujur dia tidak memiliki latar belakang membatik. Dia juga bukan dari keluarga pembatik atau punya usaha batik. Ini semua karena hobi dan kecintaan akan dunia budaya batik ini.

"....kecintaan saya terhadap batik Indonesia, yang ditularkan dari ibu saya. Dan juga, keinginan saya untuk mengoleksi batik yang bagus-bagus, tapi enggak ada uangnya," kata Dea mengawali ceritanya.

Dari sekedar menggunakan batik lama yang didaur ulang, Dea kini punya bengkel sendiri. Sebuah bengkel yang terletak di kawasan Semarang, Jawa Tengah. Saat ini, ia tengah menyiapkan pembangunan butiknya.

"Mayoritas produk (harganya) Rp 400.000-Rp 600.000," imbuhnya. Batik- batik ini kemudian dipasarkan ke luar dan dalam negeri dengan usaha sendiri atau pemerintah, tepatnya dari Kementrian Perdagangan dan Dewan Kerjinan Nasional (Dakernas).

Pengusaha Muda Batik Kultur


Pelanggannya saat ini tersebar di seluruh Indonesia maupun luar negeri yang mayoritas pembelinya dari daerah Jakarta untuk Indonesia. Untuk luar negeri, jangkauannya sudah bisa sampai ke Australia, Amerika Serikat, Inggris, Norwegia, Jepang, Belanda, Jerman, dan banyak negara lainnya.

Saat memulai usahanya itu, Dea hanya bermodalkan sekitar Rp 50 juta. Kini, setiap bulan ia mampu memproduksi sekira 800 potong pakaian batik. Upah karyawannya dihitung dengan sistem harian dan dibayarkan setiap bulan.

Dea fokus menjalankan online marketing. Dia  menjadikan Facebook dan Instagram sebagai katalog dan media komunikasi dengan konsumennya. Dari online, referensi Batik Kultur akhirnya menyebar dari mulut ke mulut. Integrasi dunia maya dan dunia nyata menyukseskan bisnis Dea.

Bukannya tanpa hambatan bisnis yang dikerjakannya. Pengusaha muda ini pernah berhenti produksi dan depresi selama berminggu- minggu karena satu masalah hak paten.

"Hambatan... dulu pernah masalah di hak paten. Sebenarnya dulu namanya bukan Batik Kultur by Dea Valencia tapi Sinok Culture," terang dia.

Tapi waktu diurus nama merek ternyata sudah ada yang pakai merek Sinok. Dea Valencia sempat stress selama seminggu. Karena nama Sinok sangat berarti buat dirinya pribadi. "Sinok adalah nama panggilan saya sejak kecil," tutur Dea.

Melihat segala pencapaian Dea sekarang pantaslah kita mengapresiasi. Sulit bagi kita mempercayai bahwa sukses batik ini ada ditangan seorang gadis 19 tahun yang kini telah lulus menjadi sarjana komputer.

"Saya dulu nggak tahu kenapa sama ibu 22 bulan udah disekolahkan. Umur lima tahun udah masuk SD. SMP dua tahun, SMA dua tahu. Jadi itu 15 tahun masuk kuliah. Tiga setengah tahun kuliah, jadi umur 18 udah lulus," jelas Dea.

Meski masih muda dan memiliki pendapatan miliaran rupiah, Dea tak melupakan lingkungan sekitar. Menarik jika mendengar pengakuan Dea tentang beberapa karyawannya. Dia sengaja mempekerjakan mereka yang kebutuhan khusus.

Pertimbangan bahwa kesukses dirinya adalah milik sosial. Enak penjahitnya merupakan tuna rungu dan tuna wicara. Menarik jika dilihat ternyata mayoritas yang dipekerjakan di Batik Kultur adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Bisnis yang dimulai tiga tahun silam telah memasuki semester ke 4. Hingga saat ini Dea telah mempekerjakan 36 karyawan, kebanyakan warga sekitar jebolan dari LPATR (Lembaga Pendidikan Anak Tuna Rungu) kejuruan jahit.

Ada juga beberapa  pegawai Dea yang lulusan RC Jebres, Solo, sambung Dea. Mempekerjakan tunarungu menjadi cerita sendiri bagi perjalanan usaha Dea.

Terlebih lagi, para tunarungu itu bekerja di bagian jahit dan potong, meskipun kebanyakan dari mereka telah mendapatkan pendidikan kejuruan jahit. Memang menjadi tantangan tersendiri baginya ketika memilih mempekerjakan mereka.

Namun dengan beberapa penyesuaian mereka mampu bekerja sama. Masalah komunikasi bisa dia akali lewat media tulis.

Dea lantas berkisah salah satu karyawannya bernama Ari. Kali pertama bekerja di batik Dea, waktu itu usia Ari baru 17 tahun. Jarak rumahnya yang cukup jauh dari workshop membuat Ari memilih memakai angkot atau menaiki sepeda onthel tiap kali bekerja. S

ekarang, lanjut Dea, Ari sudah mampu mencicil motor sendiri. "Pertama kali lihat Ari naik motor baru yang dia sangat sayangi, ada perasaan yang tidak bisa tergambarkan," ucap Dea. Kemudian ada kisah tentang Mbak Tumisih, yang tangannya hanya sampai siku dan kaki sampai lutut.

"...memiliki semangat yang sangat saya kagumi," kata dia.

Dia menceritakan, mulai dari makan, melepas jahitan, menulis, memasukkan benang ke dalam jarum, hingga mengirim SMS, dia bisa melakukannya sendiri. Demikian juga dengan Sriwat, gaji pertama Sriwati yang didapatnya dari Dea seluruhnya dikirimkan ke sang ibu yang berada di desa.

"Selain untuk membalas budi kepada ibu, Mbak Sriwati juga ingin membuktikan apabila bisa bekerja dan menghasilkan seperti yang lainnya," ujarnya.

Terakhir, ia sangat mengapresiasi tindakan pemerintah yang telah melakukan pembinaan terhadap mereka melalui Balai Besar Rehabilitasi Sentrum Bina Daksa (BBRSBD/RC) Jebres, Solo. Beberapa pegawai Mbak Sriwati, Mbak Tumisih, dan Mbak Nikmah diberikan pengarahan dan pendidikan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba