Kue Buah- Buahan Ide Bisnis Untung

Profil Pengusaha Maria Wardhania

 

kuebuah.png
 

Kue buah- buahan mampu menjadi ide bisnis untung. Tengok pengusaha bernama Maria Wardhania, sang pemilik usaha bernama Rumah Pisang di Bekasi, Jawa Barat. Menerapkan konsep spesial kue berbahan utama pisang, dia merubahnya menjadi kue kering atau cake.


Tidak cuma diolah minuman jus atau keripik buah. Maria merubah pisang menjadi cake beromzet Rp.100 juta perbulan. Keuntungan dari satu jenis makanan sudah menggiurkan bukan. Pengusaha Maria untung sampai 30% margin dari Rp.100 juta.


Cara pembuatan kue sangat mudah. Itu sama kayak membuat kue pada umumnya. Pertama langkahnya, kamu menyiapkan adonan berbahan terigu. Kedua kamu masukan pisang ambon atau sunpride yang telah dihancurkan. 

 

Ketiga kamu campurkan dua adonan menjadi satu di dalam cetakan dan siap dioven. "Jumlah pisang harus dominan dari adonan trigu supaya rasa pisangnya lebih berasa," terang Maria.


Maria memilih kue buah- buahan karena mudah dikonsep. Kenapa dia memilih pisang karena lebih dikenal masyarakat. Bahan baku juga mudah didapatkan dibanding buah lain. Ide bisnis untung bukan karena bahan baku mudah.


Pisang juga buah favorit keluarga dapat dinikmati siapapun. Buah pisang juga mengandung banyak gizi dan vitamin. Mari sukses menggaet pelanggan sampai Jakarta dan Bandung. Harga banana cake miliknya Rp.50 ribu perloyang.


Maria juga mengembangkan kue berbahan oatmale Rp.35 ribu pertoples. Pertama Maria mampu mengantongi omzet Rp.30 juta, laba bersih 20% atau lebih. Sementara dia pernah membua kue pisang tetapi kurang.


Kebanyakan orang memahami kue dibuat cake buka kue kering. Maka Maria giat mempromosikan kue kering pisang bermodal internet. Pengusaha Maria Wardhani aktif membagikan resep- resep kue secara online.

Kedai Kopi Luwak Asli Bisnis Merambah Kota

Profil Pengusaha Satiran

 
 
kopiluwak.png
 
Kedai kopi luwa asli Wonosalam memang sedap disruput. Kini kedai mereka merambah kota lewat kemasan instan. Meski kaki lima, kedai kopi khas Wonosalam memang otentik. Sedap sempat dikira mahal ternyata dapat dinikmati siapapun.
 
 
Apakah kamu yakin itu benar- benar dari luwak asli. Jikalau kamu tak meyakin maka mampirlah ke Wonosalam. Di kedai kopi sederhana milik Satiran kamu akan mencicipi kopi luwak asli.
 

Bisnis Merambah Kota


Warung Pojok milik Satiran memiliki kopi seduhan tak kalah restoran kelas atas. Warung yang terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Tempatnya disebuah dataran tinggi di lereng Arjuno, pas untuk menikmati panasanya secangkir kopi. 
 
Meski sederhana dari tempat, gelas, tapi dia sangatlah tau betul mahalnya kopi luwak. Diperkotaan dijual seharga 100.000 maka Satiran menjualnya satu nol berkurang. Kamu bisa menikmati satu cangkir kopi cukup 10 ribu.

Di kawasan itu ternyata dikenal sebagai penghasil kopi. Sayang, kopi bukanlah komoditas primadona disana. Suatu ketika ia pun bercurhat bagaimana agar komoditas asli bisa berkembang. Ide tentang kopi luwak ia dapatakan ketika berbincang dengan anaknya. 
 
Sejak tiga tahun lalu, sosok- sosok Satiran yang bermunculan dan menawarkan konsep sama. Yaitu menawarkan kopi dari luwak yang ditangkarkan. Perjalanan kakek 16 cucu ini tidaklah mudah. Meski sukses bermodal sedikit membangun kopi luwaknya; tetap sepi. 
 
Berjalan lebih lama, dia mencoba menawar produknya secangkir 10 ribu. Awalnya kopi buatan miliknya diragukan apakah asli. Cara terbaik yang dia lakukan ialah menunjukan luwak- luwak miliknya dibelakang. 
 
Meski terlihat jijik, ketika kamu bisa melihat si luwak mengeluarkan biji dari belakang melegakan. Alhasil, usahanya tersebut tidak sia- sia, banyak peminat kopi datang ke tempatnya. Dia benar total untuk selalu menjaga kualitas. 
 
Bahkan ketika ditanya kenapa tidak membeli kopi luwak sudah jadi; ia menolak hal itu. Satiran tak ragu membeberkan bagimana dirinya memperlakukan kopinya. Dia menunjukan cara baik dalam menangkar si luwak. Semua dilakukan bermodal cara sederhana tapi bersih.

Satiran lantas menunjukan proses pencucian secara tujuh kali dari air mengalir.Setelah benar bersih dari sisa kotoran barulah ia menjemurnya di terik matahari. Usai itu Satiran menyangrai atau disangan di nanangan, dia lalu membakarnya dengan kayu bakar. 
 
Nanangan ini adalah wajan dari tanah liat. Apinya digunakan bahan bakar kayu bakar. Proses sangrai membutuhkan satu jam lamanya. Caranya khusus jadi jangan takut untuk berkunjung ke sana. Setelah kering dia akan menyeduh kopi ke gelas dengan air, lantas ia diamkan selama tiga menit. 
 
Nah, setelah itu kopinya akan ditutup agar baunya tetap terasa hingga dinikmati. Dia mengaku usahanya ini bukanlah main- main. Kopi buatannya nyatanya mulai dinikmati banyak orang. Ia bahkan menyiapkan kemasan khusus. Ia menanggap peluang dari pamor Warung Pojoknya.

Kopi produksi usahanya memiliki slogan "harga murah berkwalitas prima". ika secangkir kopi luwak ia hargai Rp 10 ribu, untuk satu ons bubuk kopi luwak, pembeli cukuplah merogoh kocek sekitar Rp 100 ribu. Harga yang pantas dan jauh lebih murah dari harga kopi luwak di perkotaan.

Usaha Telur Puyuh TKI Ingin Merubah Nasib

Profil Pengusaha TKI  Sukisman dan Dewi

 

usahatelur.png

TKI ingin merubah nasib tidak mau selalu bekerja diluar. Usaha telur puyuh banyak tidak terpikirkan oleh mereka. Kebanyakan TKI memilih berbisnis rumah makan atau warung. Ke depan para pejuang devisa ini diharapkan mampu lebih kreatif berbisnis.


Kalau tenaga kerja kita pulang dari luar negeri pasti pusing. Mereka akan tinggal sebentar dan harus siap- siap berangkat. Godaan gaji lebih besar memang tidak terelakan. Beberapa tenaga kerja luar negeri kita bahkan tidak memiliki opsi lain.


TKI Ingin Merubah Nasib


Banyak TKI gagal memanfaatkan uang dibawa pulang. Lebih baik kembali keluar negeri karena gaji kuli lebih mahal. Tapi usia produktif juga menjadi permasalahan. Usaha telur puyuh TKI memang belum orang opsikan. 

 

Menyadari keadaan pasangan suami- istri, Sukisman dan Dewi, meyakini mereka harus berbuat suatu perbedaan. Mereka merupakan tenaga kerja berangkat ke Korea Selatan. Usia keduanya telah 35 tahun dan harus menyiapkan hari tua nanti.


Pasangan yang dipertemukan ketika pulang mampir ke Jakarta. Keduanya sepakat menikah, kemudian bekerja sama membangun usaha telur puyuh. Mereka ingin merubah nasib dan berhasil mengantongi Rp.1 juta perpekan.


Modal awalnya kembali dalam tempo enam bulan. Ternyata mereka sempat beternak sapi. Usaha yang lebih mainstream tersebut malah gagal. Mereka tidak langsung berhasil ketika berpindah. Akibat gagal beternak sapi membuat habis- habisan.


Sebelum mereka membuka usaha baru membutuhkan modal. Dewi harus ikhlas ditinggal. Suaminya berangkat ke Korea demi mengumpulkan uang. Bertahap warga Garut, Jawa Barat, merintis usaha budidaya puyuh.


Dewi bahkan sempat mengandung ketika merintis. Suami istri tersebut berbagi peranan antara yang mencari modal dan usaha. Dewi melahirkan anak pertama mereka, Gerrad Milano, dan putra keduanya lahir ketika usaha sudah jalan, berusia sebelas bulan.


Mereka memang mengawali usaha tanpa kepastian. Kini mereka sudah mapan, memiliki toko pakan ternak dua tingkat dan 4 ribu burung puyuh. Penjualan stabil sudah memiliki keagenan. Pengepul datang dari Klaten dua minggu sekali mengambil telur.


Suami juga beternak burung kicau hasilkan ratusan ribu sampai jutaan. Kesuksesan mereka datang selepas bangkrut usaha sapi. Dewi sendiri memiliki latar belakang pendidikan menengah atas. Lulus tahun 1999, dirinya sudah bekerja dan tidak berharap melanjutkan kuliah.

 

Usaha Telur Puyuh


Buat sekolah saja sudah bekerja keras. Dewi lebih memilih merantau merubah nasib. Pernah dia kerja di pabrik di Purwokerto. Cuma bertahan dua tahun kemudian pulang kampung. Dewi langsung jadi pengangguran ketika pulang ke desa, tetapi tidak betah dan ingin bekerja kembali.


Dia tidak mau berpangku tangan.. Keingina bekerja teralisasi lewat program bekerja keluar negeri. Ia memutuskan menjadi TKI. Dia mendaftar PJTKI. Bersusah payah akhirnya diberangkatkan keluar negeri. Pertama kali Dewi bekerja menjadi buruh di pabrik pembalut Korea.


Ketika akan diberangkatkan  dia bertemu sosok Sukisman di Jakarta. Sosok yang berasal dari Sleman yang hendak diberangkatkan ke Korea juga. Perkenalan mereka berlanjut bahkan ketika sampai di negeri orang. Dewi dan Sukisman pulang bersamaan ke Indonesia pada 2005.


Tahun 2006, mereka menikah, "waktu menikah itu, kami sama- sama masih menganggur," kenang Dewi. Pusing tidak mendapatkan pekerjaan kembali. Suami nekat berangkat ke Korea kembali. Dan Dewi menetap di Garut bersama anak pertamanya berusia dua minggu.


Tiga tahun suami bekerja di Korea kemudian pulang. Keduanya sepakat membuka usaha di kampung halaman Sukisman di Pendowoharjo, Sleman. Dewi setuju. Di tahun 2009 itu, keduanya sepakat buat beternak sapi, mereka membeli sepuluh sapi.


"Kami berdua membeli sapi sepuluh ekor. Tapi, semua itu gagal. Harga sapi terjun bebas dan kami rugi dua juta rupiah perekor," ia mengenang. Belum termasuk kerugian waktu mereka merawat. Kegagalan tidak membuat mereka berhenti berusaha.


Mereka terus memompa semangat suaminya berusaha. Dewi kemudian mendapatkan saran seorang kawan. Dia akan mengajarkan Dewi beternak burung puyuh. Akhir tahun 2009, Sukisman dan Dewi bahu- membahu membangun bisnis telur puyuh.


Uang sisa penjualan sapi yang rutin tetap ada. Uang kemudian diputar kembali ke bisnis telur puyuh.  ini. Mereka investasikan semua uang kedalam bisnis puyuh. Bahkan mereka mulai membangun usaha toko pakan burung.


Bermodal 4 ribu ekor semua bertelur dan balik modal. Dalam enam bulan mereka sudah kembali uang modal. Walau memelihara burung puyuh cukup sulit tetapi sepadan. Burung puyuh dikenal ternak sensitif. Burung mudah terkena penyakit dan stres.


"Kalau mendengar suara keras yang mendadak, puyuh bisa stres. Tapi dengan kandang yang tertutup dan dibersihkan setiap hari, semua kendala tidak bermasalah," imbuh Dewi. 


Bahkan Dewi melarang orang lain masuk ke kandang. Keuntungan telur puyuh memang sangat bagus kedepan. Bahkan mereka menerima penjualan kotoran burung. Kotoran mereka hasilkan dari 4 ribu burung mencapai 3 ember, satu embernya dijual Rp.1000.


Puyuh yang tidak produktif masih bisa dijual Rp.2500 perekor. Itu nanti diganti burung puyuh muda berusia 3 minggu. Burung puyuh akan bertelur setelah berusia 60 hari. Mereka baru mencapai puncak produktif pada usia 10 bulan.

Pengusaha Kerupuk Kemplang Palembang Eva Yunus

Profil Pengusaha Eva Yunus  

 
evayunus.png
 
Usaha kerupuk kemplang Palembang memang prospek. Pengusaha Eva Yunus telah mampu patahkan mitos usaha butuh modal besar. Eva juga mampu mematahkan bahwa usaha kerupuk recehan. Dia adalah wanita asal Palembang, cuma pembuat kemplang, ya makanan remeh- temeh itu.
 
 
Tapi apakah kamu tau berapa ia menghasilkan. Kini bisnis kemplangnya bisa menghasilkan omzet Rp.35 juta rupiah per- bulannya. Kalo setahunnya bisa menghasilkan cuma Rp.420 juta atau hampir bisa setengah miliar dalam satu tahun.
 

Rahasia Kerupuk Kemplang


Apakah rahasia pengusaha kerupuk kemplang Palembang ini. Eva Yunus berbisnis dengan modal kecil, berapa modalnya ketika ditelusuri tenyata ia cuma punya Rp.200.000 kala itu. Semua dijalaninya dari pertama hingga sekarang sukses. 
 
Apakah rahasianya ya tentu soal inovasinya. Eva dikenal sebagai pengusaha wanita inovatif soal kemplangnya. Salah satu jajanan hasil karyanya yaitu kemplang dari wortel. Kemplang itu manis, sedap, dan gurih dalam satu waktu.

Ia pun tak segan memanfaatkan teknologi modern. Disentuh teknologi dibisnisnya membuat sosoknya jadi semakin bersinar dalam bisnis ini. Bisnis rumahan tapi menguntungkan.



Perlu diketahui Eva menjadi pengusaha karena desakan ekonomi. Mudahnya dia kepepet jadi pengusaha dan itu nyatanya berhasil. Suaminya hanyalah guru, bergaji pas- pasan, hanya mampu menghidupi kebutuhan keluarga sehari- hari. 
 
"Dari situ, saya menguatkan tekat menambah penghasilan," pungkas wanita yang sudah mengerjakan bisnisnya sejak 1998.

Piliha bisnisnya jatuh pada usaha kerupuk. Alasanya usaha apa yang tak bermodal besar, ya, usaha kerupuk inilah hitungan kasar Eva. Tentu hasilnya besar jika benar ia mengerjakannya. Nyatanya ia punya modal yaitu dari ilmu kerupuk dari orang tuanya. 
 
Ia mengaku kedua orang tuanya sudah berbisnis kemplang sejak dulu. Untungnya bisa 20% dari omzet setelah dipotong bahan baku dan lain- lain. Selepas menentukan mau usaha apa. Eva lantas mencari- cari peralatan milik orang tuanya. 
 
Kebetulan juga peralatan itu sudah tak pernah digunakan lagi. Dia lantas membeli bahan- bahan baku pembuatan kerupuk seperti tepung, ikan, dan bumbu. Modalnya cuma minim ia tak punya uang lebih. Upaya meminta tambahan modal dari kerabat nampaknya sia- sia. 
 
Karena mereka sendiri hanya cukup untuk rumah tangganya masing- masing. Makanya Eva lantas meminta sang suami meminjam koperasi. Guna melunasi hutangnya ini suami harus rela uang bulanan kena potong. Eva pun berkata tak mengapa asal usaha jelasnya.

Sayang, menjadi pengusaha itu susah tak segampang ia bayangkan. Dia harus melalui masa- masa sulit di awalnya. Semua karena di Palembang sendiri banyak pengusaha kemplang. Tapi Eva tampak tak mau untuk menyerah. 
 
Alasannya karena kemplang punya pasar banyak dicari oleh masyarakat sekitar dan juga para pelancong. "Mencocol kerupuk ke sambal sambil nonton TV," pungkasnya.

Sasaran pertama "uji coba" kerupuk kemplang buatannya ialah mereka para tetangga dan sanak sudara. Ia lantas menggelar lapak di emperan rumahnya. Agar bisa laris manis sagala upaya dilakukannya. Eits, bukan upaya mencurangi isinya ya. Eva paham betul konsekuensinya. 
 
Ia pun memilih menambah takaran untuk ikan gabus dan tengiri agar lebih dominan diadonannya. Jika biasanya orang memilih lebih banyak tepung, ia lantas menjual 1kg ikan hanya menghasilkan 4 kerupuk mentah.

"Dengen begitu rasa ikannya akan lebih terasa," ungkapnya. Selain pada kualitas ikan ditingkatkan, andalan usahanya ialah ia menggunakan bumbu khusus. Untuk yang satu ini Eva enggan mengungkapnya kepada kita. 
 
Tak puas cuma dikonsumsi orang terdekatnya, berjalan waktu, ia menjual produknya ke halayak luas. Satu kendala lagi yaitu modal untuk promosikan produk olahannya.

Upaya akhirnya ialah ia menawarkan produk itu di acara- acara arisan, sunatan, hingga perkawinan. Dia pun tak lupa menawarkan daganganya ke toko- toko. Dari sanalah ia mendapatkan pesanan- pesanan datang hingga sekarang. 
 
Eva, kini. menjajakan produknya di JL. K.H. A. Azhari Lr. Anten- Anten No.557 RT 165, Ulu Laut, Palembang. Rumah sekaligus tempatnya berjualan dan juga pabriknya itu berada tepat di pinggir jalan besar.

Ia mengaku usahanya ini tak fokus pada untung sebesar- besarnya. Dia malah lebih senang karena kurupuk miliknya Kerupuk Yunus jadi terkenal. Eva lebih fokus pada branding produknya ini. Dengan nama kerupuk miliknya semakin besar maka pembeli akan datang sendirinya.

Modal Usaha Kerupuk Kemplang


Semakin terkenalnya Kerupuk Yunus mengantar Eva ke keberuntungan lain. Konsistensinya membangun dari nol brand miliknya. Membuat usahanya kini didatangi banyak orang, bahkan, kamu akan melihat rentengan mobil- mobil berjejer di depan rumahnya. 
 
Melihat itu PT. Pupuk Sriwijaya mengajak bermitra dengan Eva. Gayung bersambut kesempatan itu dimanfaatkan. Pada tahun 2003, ia resmi mengajukan proposal pinjaman ke Pusri.

Dia mengajukan modal cuma 9 juta. Pinjaman berbunga 6% ini digunakannya nanti untuk menambah jumlah karyawannya. Belum sampai jatuh tempo ia sudah bisa melunasinya. Karena itulah Pusri mau memberikan modal kedua untuk Eva. 
 
Untuk kali ini Eva berani mengambil modal 40 juta, kali ini digunakannya sebagai modal mengembangkan pabriknya. Namun kali ini pengusaha berkerudung ini diberikan syarat tambahan yaitu membimbing petani plasma.

Eva harus membina para nelayan plasma. Mereka adalah para nelayan pemasok ikan gambus dan tengiri. Ini bukanlah persoalan baginya. Justru dengan adanya hal ini ia bisa mendapatkan koneksi. Mereka itulah para nelayan yang membantu memasok usahanya kini. 
 
Cuma ia tak mau asal borong meski ada embel- embel harus membantu mereka. Eva membantu mereka untuk memenuhi kreteria yang ditetapkannya.

"Saya tak segan menolak jika ikan dari nelayan ternyata berkualitas jelek," tandas Eva.

Mendapat sentuhan teknologi Eva mampu berinovasi lebih. Kerupuk kemplang miliknya ini bisa jadi aneka rasa. Dia mendapatkan dorongan bimbingan Badan Litbang dan Inovasi Daerah Sumatra Selatan. Produk kerupuk kemplangnya bisa jadi aneka rasa. 
 
Sebelumnya cuma satu rasa kini ia memiliki 14 model rasa. Ada 4 rasa dengan 18 model bentuk jelasnya; ada digoreng dan dipanggang. Penjualannya bisa mencapai Rp.5 juta- 10 juta, kerupuknya ini telah melalang buana ke Jakarta, Bandung, hingga Batam. 
 
Eva juga tengah menjajaki penggunaan oven khusus. Ia menjelaskan ketika hujan nanti tetap bisa berproduksi tanpa dikeringkan dengan matahari. Meski sudah aneka rasa, Eva Yunus, pengusaha wanita ini menjelaskan produk rasa originalnya tetap paling diminati.

Bisnis Pengusaha Ganteng Max Gunawan Lampu Ajaib

Profil Pengusaha Max Gunawan 


maxgunawam.png
  
Bisnis pengusaha ganteng Max Gunawan memang ajaib. Memiliki latar belakang arsitek dia menekuni pembuatan furnitur. Nama Max Gunawan sedikit dari pengusaha muda asal Indonesia, yang justru sukses di negeri orang. 
 
Max bukanlah anak orang kaya -meski tampan. Dalam sebuah diskusi umum inovasti dan motivasi, TEDxTalks, Max sedikit membocorkan kenapa dia membuat produknya sekarang.

Sejarah Pengusaha Ganteng

 
Alkisah Max kecil hidup dalam kekurangan. Bahkan nih, ia mengaku, waktu kecil iri dengan teman- teman yang memiliki mainan baru. "Semasa kecil saya selalu iri pada hal yang tidak bisa kami miliki," kenangnya. 
 
Mulai dari liburan keluar negeri, robot transformer, dan banyak lainnya, itu semua diirikan oleh Max kecil. Hingga suatu hari ayahnya membawakan jeruk bali. Dia gembira sekali. Tetapi bukan karena mau makan buah tetapi apa yang dia dapat lakukan. 
 
Max kecil menggunakan kulit jeruk menjadi mainan. Itu loh mainan mobil- mobilan dari kulit jeruk Bali yang besar. Kulit jeruk menjadi  badan, sementara rodanya berbahan tutup botol, tinggal dia menariknya dengan seutas tali. 
 
Penoton acara tersebut terkejut bukan main. Namun disanalah, awal kecerdasan Max kecil, dalam hal membangun sebuah konsep dan membawa nasibnya menjadi arsitektur. Jurusannya arsitektur di Connecticut, Amerika Serikat, dimana dia mengambil spesifikasi desain produk.
 
Walau dia memilih arsitektur kecintaan akan seni lebih dominan. Kecintaan akan seni memuncak di semeseter kedua, dimana Profesor nya bercerita tentang Tadao Ando. Dia, Tadao Ando, merupakan sosok arsitektur ikonik asal Jepang yang mengerjakan lampu.
 
Lebih tepatnya dia menciptakan lampu natural, terkonsetrasi dan menyatu alam. Dimana Ando dapat penghargaan Pritzker Prize 1995. Ketika semester ketiga, Max lebih menyeriusi dunia arsitektur karena melihat sudut pandang lain.
 
Ia mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar. Secara finansial dia telah sangat mapan. Namun kekosongan timbul. Apalagi ketika dia mengerjakan budget planning atau rencana anggaran. Dorongan membuat kemandirian sendiri.
 
Tepatnya 2012, dia merasakan kekosongan akan dunia arsitektur menurutnya. Dia bekerja lebih banyak memanajemen proyek dan kurang kreatif di desain. Ternyata dunia arsitekur tidak seseni bayangannya ketika masih berkuliah sangat korporasi.
 
Diwaktu sela dirinya mengerjakan sesuatu dalam workshop. Banyak mesin- mesin membantunya buat mendesain. Dia menciptakan sesuatu. Workshop memberikan pandangan berbeda. Terutama mengenai produk arsitektur idealnya.

Max tak segan memasarkan buatannya ke pasaran. Max ingin membuka usaha sendiri, mendesain, membuat produk sendiri. Dan pekerjaan tidak memberikan kesempatan. Disana dia tidak menciptakan sesuatu. Max disana justru bekerja dibidang perencanaan anggaran, bukan merancang. 

Sebuah pekerjaan bergengsi, gaji besar, dan memiliki nilai tinggi diatas kertas. Kemudian suatu ketika, dimana ia mengerjakan tugas, dan akhirnya memutuskan sudah cukup. Max selalu tertarik akan jenis objek bentuk sampai yang memiliki multi- fungsi.
 

Bisnis Dulu

 
Inilah titik dimana dia memilih entrepreneurship. Max menjadi pengusaha bukan soal uang. Tetapi Max ingin membuat produknya sendiri dan diapresiasi. Inspirasi Max tercipta ketika melihat karya seni arsitektur dunia bernama Jembatan Rolling Bridge, London.

Merupakan bentuk karya urban monumental berbentuk lipat. Awal dia ingin mencipatakan benda lebih besar, yakni rumah lipat yang dapat dimasukan mobil. Tentu semua membutuhkan uang terutama buat dia membuat prototipe.

Maka dia indahkan tetapi tetap produktif membuat benda kecil. Inilah awal dibuatnya Lumio, sebuah lampu portabel, yang bentuknya seperti buku. Lampu yang dapat digunakan kapapun, dimanapun, dan oleh siapapun.

Tahun 2013, dia memutuskan resign kerja, menggeluti desain Lumio. Dalam ketidak pastian, dia mendapat ide mengumpulkan modal. Lewat KickStater yaitu website investasi startup, yang mana didalamnya siapa saja dapat berinvestasi.
 
Max ingat bahwa dia senang membawa kertas catatan. Membuat lampu berkonsep buku memang nampak keren. Idenya September 2010, dia mengerjakan prototipenya dahulu. Max mengatakan ada tantangan dimana dia harus benar membuatnya menyala tanpa mengurangi fungsi lipat.
 
Max berhasil membuat prototipe, dan kebingungan apa orang mau membeli. Tapi Lumio memang bisa menarik perhatian orang. Max makin percaya diri. Harapannya pada Februari 2013, dia akan dapatkan donasi KickStarter senilai $60.000, tetapi malah dapat sepuluh kali lipatnya yakni $578.000.
 
Max berencana membawa itu ke San Fransisco. Berbekal mesinnya dia akan membuat beberapa ribu lampu. Tetapi apakah dia akan mampu membuat segitu dan laku.
 
Dia keluar dari pekerjaan pindah ke China. Max mencari material termasuk rekanan pabrik. Dan pihak pabrik meyakini bahwa Lumio tidak akan laku. Beruntung Max tidak mudah menyerah, memilih buat mengiklankan dan mampu menjual $1 juta.
 
Produknya cantik sampai membuat orang terpesona. Alhasil Max tidak mengeluarkan banyak uang beriklan. Namun masalahnya permintaan menaik tajam sampai pusing. Max kepusingan karena tak mempunyai modal tambahan.

Ikut Shark Tank

 
Awalnya dia cuma berniat mengumpulkan $60 ribu dollar saja. Alangkah terkejut, karena ternyata dia mampu mengumpulkan 580 ribu dollar, menakjubkan dia mampu mengumpulkan 10 kali lipat! Untuk memproduksi Lumio, dia menetap sementara di China, disanalah satu per- satu Lumio diproduksi. 
 
Max sama sekali tidak memiliki pabrik pembuatan sendiri di manapun. Langkah cerdas Max ternyata membuahkan hasil. Namun perlu diingat, dalam perjalanannya, Max langsung turun tangan sendiri mengamati standarisasi. Uniknya dia mampu menjual Lumio tanpa marketing sulit. 
 
Soal satu ini berterima kasih kepada pihak ABC TV dengan acara bertajuk Shark Tanks, yang mengangkatnya. Kerap kali Max berpikir, "apakah ini akan berhasil?" Keraguan tersebut ditepisnya melalui terus bekerja. 
 
Ia tau dirinya tidak bahagia menjadi pegawai kantoran. Max terus berpikir apa yang harus diciptakan. Mulai lah berpikir apa yang dibutuhkan manusia jaman sekarang ini.

Lumio merupakan solusi energi manusia. Tidak cuma berhenti di lampu, Lumio juga sudah ada buat kita pengguna gadget, sebuah carger mini Lumio. Tidak cuma berhenti di Lumio dirinya juga mulai aktif memproduksi aneka furnitur multifungsi.

Shark Tanks, episode 15, ditayangkan 16 Januari 2015, dan Max Gunawan selaku pembuat Lumio mulai memperagakan produk hasilnya. Max mengdapatkan investasi sampai $350.000, dalam bentuk pembagian saham hasil 10%. 
 
Mark Cuban menyebut Lumio lampu terkeren, dan ditulis oleh People Magazine. Akhirnya Robert Herjaveck adalah Sharks -istilah investor di acara tersebut- yang setuju dengan tawaran Max. Lumio sendiri berbentuk buku lipat yang akan terbuka 180 derajat membentuk lingakran. 
 
Ujungnya ada magnet yang dapat kita tempelkan dimanapun. Awalnya Robert mengajukan $100 ribu. Tetapi ternyata ke lima Sharks ini memiliki minat. Mereka lantas berebut memberikan nominal tertinggi. Max adalah bukti nyata kesuksesan tidak semalam.
 
Lumio memang sangat fleksibel. Di jamannya sudah memiliki kemampuan menyimpan daya. Lumio memakai lampu litium layaknya handphon. Dapat diisi ulang melalui kabel USB, tentu bisa dilipat buat dibawa kemana- mana.
 
Bagi para Shark (nama juri Shark Tank) produk Lumio sangat menjual. Gampang dipasarkan serta rasional dalam proses produksi. Lumio beromzet $125 juta di November 2015, dan makin naik seiring penayangan Shark Tank keseluruh penjuru dunia.
 
Dari seluruh dunia ia mendapatkan pemesanan 3000 pesanan. Selepas Shark Tank Januari 2015, bisa menjual $3 juta di akhir 2014, dan seterusnya berlipat. 
 
Seperti diprediksi para Shark, bahwa Lumio akan sangat laku, bahkan sampai dijual sebagai barang high end di Design with Reach, Foundation of Louis Vutton dan MoMA Store.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba