Pengusaha Bumbu Masak Sukses Waralaba

Profil Pengusaha Yanty Melianty Isa


pengusahabumbu.png
 
Dia membuktikan bahwa sukses waralaba tidak melulu makanan jadi. Pengusaha bumbu masak, Yanty Melianty Isa, salah satu penggagas berwaralaba brand bumbu masak. Ialah sosok pendiri perusahaan PT. Magfood Inovasi Pangan. 
 
Usaha yang telah didirikannya semenjak Februari 2001, telah memiliki pengalaman 17 tahun menangani berbagai perusahaan multi- nasional sebagai mitra. Bidang yang ditanganinya ialah food seasoning dan product development. 
 
Sudah berbagai perusahaan menyerahkan bisnisnya ditangan Yanty. Bisnisnya dibidang bumbu instan bukan berarti usahanya juga instan. Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaan mapan di berbagai perusahaan multi- nasional. 
 

Merintis Usaha

 
Semua karena kecintaanya akan dunia kuliner, dan hasratnya untuk memiliki perusahaan sendiri. Lulusan Institut Teknologi Bandung (1994) tersebut tercatat 17 tahun berkiprah di bidang pengembangan produk beberapa perusahaan multinasional. 
 
Tiga diantaranya adalah di PT Mayora Indah Tbk, PT Nestle Indonesia, dan PT Mustika Ratu Tbk. Dan kembali lebih jauh sebelum Megafood didirikan, lebih jauh sebelum dia bekerja di perusahaan. Sosok Yanty adalah bocah 10 tahun yang sudah gemar memasak dan berwirausaha. 
 
Kecintaanya akan kewirausahaan telah muncul dan tumbuh sejalan waktu bersama kesenanganya memasak. Waktu masih kelas 3SD, ia telah memenangkan lomba di majalah Femina dimana lomba itu diperuntukan untuk orang dewasa. 
 
Dia waktu itu membuat resepnya sendiri, yakni Sop Tahu Sawi Asin. Dia meminjam KTP ibunya untuk mengikuti lomba. Seusai kuliah, pekerjaan pertamanya adalah konsultan teknik lingkungan dalam proyek pengolahan limbah dan air. 
 
Tapi, Yanty hanya bertahan 1,5 tahun bekerja di perusahaan konsultan ini. Terjun ke banyak proyek pemerintah begitu mengusik nuraninya. "Banyak proyek dikorupsi, jadi saya memutuskan membuka perusahaan konsultan sendiri, khusus untuk proyek swasta,"€ ujarnya.

Pada tahun 1992, istri Isa Surya ini kemudian bekerja di sebuah perusahaan sanitasi. Lagi- lagi tak awet, ia hanya bertahan setahun dan memutuskan pindah ke Nestle. €
 
"Agar bisa terus berinovasi, saya harus bekerja di perusahaan fast moving product atau consumer goods," tuturnya, mengikuti nalurinya yang memang gemar memasak.

Kecintaanya akan berwirusaha terasah sampai sudah bekerja sekalipun. Ia masih menyempatkan diri untuk mempunyai usaha di bidang water treatment tapi gagal. Dia juga punya usaha pakaian yang masih ada sampai sekarang. 
 
Barulah di tahun 2001 usahanya sukses moncer jadi bisnis besar.Semuanya karena ia tak mau lagi hidup di zona nyaman. Dimana dia memilih berhenti bekerja. Usaha yang bermodal sedikit menjadi tantangan besar selepas tak lagi jadi karyawan.

Yanty memulai usahanya dengan usaha Magfood Inovasi Pangan hanya ditemani satu karyawan. Usaha yang dirintisnya sejak 2001 membuahkan hasil dan merembet ke beberapa bidang usaha lain. 
 
Perusahaan pertama yang didirikannya 8 tahun lalu itu bergerak dalam bidang pengembangan varian bumbu serta produk baru industri makanan dan minuman.

"Saya kasih karyawan saya PR untuk men-develop produk, jadi kalau saya ngantor ada orang yang melanjutkan pekerjaan di bisnis saya ini," terangnya menambahkan.

Tidak puas akan apa yang dicapai usahanya di awal. Dua tahun berselang, dibuatlah satu usaha baru yang bernama Magfood Red Crispy pada 2003. Yanty menginvestasikan sekitar Rp10 juta sebagai modal awal Magfood Red Crispy. 
 
Bisnisnya ada dibisnis makanan cepat saji, yaitu bisnis ayam goreng. "Sempat berhenti bekerja satu tahun, dengan modal minim saya mulai dari satu gerobak di Bintaro," ujar Yanty.

"Dulu saya berbisnis tetapi kebanyakan gagal. Ada yang karena berantem, tutup, lalu saya pilih usaha sendiri. Saya memang memiliki cita-cita membuat bisnis dari rumah, tetapi mereknya nanti harus multinasional," ujarnya.

Kesemua usahanya dimulai dari sebuah garasi mobil yang dijadikan kantor sekaligus tempat produksi. Usaha itu tumbuh mempunya 40 orang karyawan yang berdesakan di tempat itu. Bukan perkara mudah bagi wanita berjilbab ini, ia butuh satu inovasi. 
 
Dia tak menggunakan cara konvensional dalam berbisnis ini. "Jadi bukannya saya jaga gerobak satu, itu lama besarnya. Saya orang manajemen, jadi saya selalu berpikir untuk mendidik orang, membuat sistem dan menjaga sistem," jelasnya.

Waralaba Sukses


 Ia menekankan kepada kita: pengembangan bisnis itu penting sebagaimana sulitnya itu. Sedikit demi sedikit telah ia rasakan bagaiman cara menngendalikan segala sesuatu tanpa harus hadir di tempat yang bermasalah.

"Walau kantornya di rumah dan masih berantakan, tetapi kita harus cari cara mengembangkan bisnis. Di kondisi seperti itu dulu saya mengusahakan ikut pameran waralaba yang besar-besar, mana bayarnya berat pakai dolar AS lagi."

Mengembangkan usaha rumahan memang butuh konsentrasi dan dedikasi yang besar. Pasalnya, privasi hidup sudah tentu terganggu oleh bisnis yang dikembangkan itu. Tidak hanya itu, tetapi juga ada saja kendala pada masa merintis usaha datang silih berganti. 
 
Begitu yang dirasakan Yanty selama mengerjakan dua usaha yang berbeda. Usahanya di Magfood dan Magfood Red Crispy buktinya bisa dia kawal hingga total ada 400 karyawan.

Salah satu kendala diawal adalah tidak adanya pekerja yang kompeten. Mereka yang terdidik biasanya akan mundurk jika melihat usahanya masih usaha rumahan. Tapi jangan lantas membangun kantor besar jelasnya. Dia lebih memprioritaskan kepada keberlangsungan usahanya dulu. 
 
Dia lebih memilih memfokuskan pikiran kepada pengembangan produk. Pemasukan hasil usaha pun tidak dicampuradukkan dengan penggunaan dana pribadi.

"Saya menahan diri selama 7 tahun untuk bisa punya tempat usaha sendiri, mobil juga masih sewa pada waktu itu." terang Yanty

Kunci kesuksesan baginya ialah pengembangan usaha dan pengembangan diri sendiri. Keduanya merupakan investasi terbesar bagi Yanty. Dalam mengembangkan diri pengusaha penting untuk selalu menjaga reputasi. 
 
Menurut dia, tidak berguna kelihaian berbisnis yang disertai kemampuan berinovasi, kreatif, dan produktif tanpa disertai kemampuan menjaga nama baik dalam berbisnis.

Kini, reputasi baiknya dipertaruhkan dalam mengembangkan merek baru Magfood Amazy, makanan cepat saji yang dirintis sejak 2 tahun lalu. Peluang usaha tersebut menawarkan beberapa pilihan gerai penjualan dan skala usaha. 
 
Tipe usahanya berupa booth standing, food court, kafe mini hingga kafé dengan menyetor dana Rp40 juta-Rp163 juta-an. Untuk biaya royalti, Yanty mematok 3,5% dari omzetnya untuk masing-masing pilihan.

"Ini bisnis uang receh, tetapi saya yakin break even point (BEP/titik impas) untuk setiap tipe yang dipilih hanya memakan waktu sekitar setahun. Kalau mau berhasil di bisnis ini kuncinya adalah harus punya minat di bisnis makanan dan pelayanan." terangnya.

Omzet gerai- gerai itu, baik yang berbentuk booth maupun restoran cukup lebar dan cukup untuk kita pikirkan prospeknya, yakni antara Rp 300.000 -Rp 12 juta per hari. 
 
Sayang, Yanty enggan membeberkan laba bersih yang berhasil ia kantongi dari kedua bisnis waralabanya, Magfood Red Crispy dan Magfood Amazy. "Usaha kami masih akan berkembang terus," katanya beralasan.

Lantaran memulai bisnis dari nol, di tiga tahun pertama, Yanty harus jatuh bangun membangun bisnis bumbunya. Untuk mencari pemasok atau menawarkan contoh dan formula bumbu ke calon klien, ia terpaksa mengerahkan supir. 
 
"Mencari pemasok bahan baku juga sulit karena saya cuma usaha kecil," katanya. Untuk menyiasati kesulitan ini, Yanty mencari calon pemasok lewat internet.

Yanty juga gencar menjadi agen penjual bumbu. "Saya menawarkan ke agen bahan makanan dengan mengirimkan formula buatan kami," katanya. Para agen itu kerap didatangi adalah produsen makanan kecil. Ternyata, sebagian besar menyukai formula bumbu dari Magfood. 
 
"Kami juga punya rasa yang tailor made, sesuai dengan pesanan," katanya.

Agar lebih merasakan kualitas bumbu buatannya, pada tahun 2001, Yanty mendirikan jaringan penjualan ayam goreng Red Crispy, yang didirikan bersama seorang teman sebagai pendorong bisnis bumbunya. 
 
Tujuannya agar orang tau bagaimana rasa bumbu racikan mereka di Megfood Inovasi Pangan. Sayang, kongsi itu pecah dan ia memutuskan meneruskan sendiri dengan merek baru, Magfood Red Crispy dan Magfood Amazy.

Kini, Yanty tengah berambisi membangun perusahaan hilir dengan menjadi produsen minyak goreng. Dimana dia telah memiliki kebun kelapa sawtinya sendiri. Bisnis lain? Ia memiliki ide membuat perusahaan biskuit, menakjubkan.

Es Mendem Duren Sukses Pengusaha

Profil Pengusaha Yustinus Agus Nugroho

 
mendemduren.png
 
Es Mendem Duren begitu mengejutkan. Sukses tersebut pengusaha bermula hobi makan durian. Dia mampu merubah hobi bisa jadi duit. Pria yang bernama lengkap Yustinus Agung Nugroho. Bersama istrinya, Anne Kartika, sukses mengembangkan bisnis es durian. 
 
Usahanya bernama Mendem Duren atau mabuk durian. Dalam bahasan Jawa menunjukan bagaimana memang nikmatnya rasa durian yang memabukan.

Meski gagal karena bisnis handphone, lobster, dan laundry -nya bangkrut. Ia tetap bangkit. Berkat hobi makan durian jadi uang miliaran berkat konsep waralaba. Idenya datang ketika suatu ketika sang istri ingin membeli durian.
 

Es Krim Durian

 
Sulitnya, Anne meminta es krim rasa durian yang memang disenangi suaminya. Lalu terpikir kenapa tidak membuatnya sendiri saja. Lalu pria kelahiran Palembang, 8 Januari 1980, itu menggunakan idenya tersebut dalam bisnis berikutnya. 
 
Waktu itu pula, empat tahun lalu, dirinya juga sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Gagal berbisnis membuatnya berhutang hingga ratusan juta rupiah. Solusi dalam kegundahan memberikan harapan bagi Agung. 
 
Sang pengusaha dan istrinya Anne akhirnya bertekat untuk berbisnis es durian ini. Bermodal gerobak kayu, tanpa rasa malu, ia menjalani usahanya ini dari nol. Mengusung kata Mendem Durian dimaksudkan agar para pembelinya jadi ketagihan. 
 
Modalnya Rp.7 juta hasil jualan motor sang istri. Tak disangka respon masyarakat luar biasa. Dalam dua jam saja, dagangannya bisa laris manis terjual. Usaha yang dirintis sejak 10 Oktober 2009, menyediakan dua jenis rasa, yaitu rasa susu coklat dan putih. 
 
Ia kemudian membagi produknya dalam tiga ukuran berbeda: Kids (70 gram), Large (125 gram), dan Jumbo (200 gram). "Bisnis ini didirikan benar- benar dari ketidak sengajaan," cetusnya. Nampaknya Agung tidak mau kehilangan momentum. 
 
Memasuki 2010, ancang- ancang waralaba sudah ada dana akhirnya jadi. Saat itu, es krim Mendem Duren sukses sukses tembus 14 gerai dalam satu tahun saja. Dimana 6 gerai miliknya sedangkan 8 milik mitra. 
 
Semakin tak terbendung, dari Desember 2011 sampai akhir 2012, sudah ada 58 gerai berhasil didirikan oleh Mendem Duren. Bahkan per- Mei 2013 sudah ada 90 gerai jadi, yaitu 7 cabang milik sendiri, dan 83 gerai lainnya dimiliki mitranya (franchisee).

Perkembangan yang begitu pesat tak lepas dari pemasaran masif. Agung memanfaatkan berbagai media baik offline atau online, melalui media sosial. Ia juga rajin menjalani kerja sama dengan majalah/ tabloid waralaba nasional serta ikut acara kuliner nasional. 
 
Fokusnya ialah agar mendemers sebutan bagi fans Mendem Duren, agar tetap mendukung perkebangan produknya dan pelayanannya. Ia pun menyebut modal awalnya bagi para franchiser sekitar 45 juta.

Ia menjelaskan dari semua mitranya yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia mencatat bahwa gerai Tarakan, Kalimantan Timur dan Karawang, Jawa Barat, menjadi gerai pemegang rekor balik modal. Hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun saja sudah balik modal. 
 
"Untuk penjualan 50 cup/hari balik modal bisa 11 bulan, 75 cup/hari balik modal 7 bulan, dan 100 cup/hari balik modal lima bulan," ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini.

Durian yang digunakan adalah durian lokal jadi kadar alkoholnya lebih kentara. Es krim buatannya memang bikin mendem tapi bukan memabukan loh. Perbulannya ia bisa menghabiskan 30.000 butir durian. 
 
Apa yang membuat usahanya maju pesat, ternyata terletak dari sedikitnya pengusaha yang bermain. Andai ada, mereka tak berkonsep, berjualan dengan gerobak seadanya, belum lagi kualitas jualannya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Agung bahwa: Mendem Duren, kini telah memiliki varian produk, dari es mendem duren putih, es mendem duren cokelat, juice mendem duren putih, dan juice mendem duren coklat. Namun,  masih sama cara berjualannya dalam ukuran gelas. 
 
Harga jumbo bisa dijual dari Rp.10.000 hingga Rp.18.000 per- cup.  Dia juga meyakinkan kita bahwa stok durian untuk tiap garai terjamin. Meski buah musiman ia meyakinkan kita ada stok bagi setiapnya. Bahkan jika tak musim, Agung memastikan harga tak akan ikut naik, jelasnya lebih lanjut. 
 
Bagi yang berminat investasi pre- bootnya mebayar cukup Rp.35 juta, gratis fee kemitraan 2 tahun, tenda 2x2, frezer 200 L, gerobak stainless, ice chruser, blender, neonbox 2pcs, bahan awal ±700cup, peralatan, perlengkapan, promosi, buku panduan dan DVD pelatihan. 
 
Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi fans page -nya di Facebook.

Usaha Bandeng Tanpa Duri Kantongi Omzet 50 Juta

Profil Pengusaha Erni Herawati

 

usahabandeng.png

Ingin kantongi omzet 50 juta cobalah inspiriasi berikut. Ibu dua anak ini usaha bandeng tanpa duri. Ibu bernama Erni Herawati, perempuan 46 tahun yang mana merupakan hasil mencari kesibukan. Ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang sembari mengurus suami dan dua anak.


Ikan bandeng memang dikenal banyak durin. Hingga orang enggan membelinya dan memilih ikan lain. Nah, inilah cikal bakal usahanya, dimana bandeng bikinannya tanpa duri. Alhasil ikan bandeng buatannya menjadi makanan khas oleh- oleh.


Dia menjelaskan kedua anaknya mau masuk sekolah dasar. "Mulai lah saya berjualan, karena sejak kecil sudah belajar berdagang dengan orang tua," jelas Yesi kepada Detik.com


Pengusaha ini menceritakan kembali awal Bandeng Rorod. Bagaimana dia mampu menjadikannya oleh- oleh khas Bekasi. Usaha bandeng tanpa duri memiliki makna. Baginya bandeng merupakan menu khas keluarga. Ini dinikmati keluarga bersama- sama dan tidak memandang usia.


Dulu dia menemukan makanan sejenis di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan. Ide Yesi gampang bahwa bandengnya akan disenangi. Resep makanan keluarganya dijamin memanjakan. Nanti tinggal bandeng dikemas agar mudah dipasarkan.


Yesi mulai bergeriliya ke teman- teman dan tetangga. Di tahun 2011, dia memasarkan masakan khas keluarganya, bertahap bersama suami sepakat membuka rumah makan Betawi. Sembari dia pasarkan Bandeng Rorod ke masyarakat.

 

Justru orang berdatangan menanyakan Bandeng Rorod ke rumah makan. Begitu mendapatkan reaksi positif, Yesi menggelontorkan 10 juta buat modal. Dia semakin banyak mendapat penggemar, bahkan sampai keluar Jawa.


Inovasi dihadirkan Yesi termasuk bandeng frozen. Menggunakan sistem agensi, maka ia memiliki 50 orang agen tersebar di Jabodetabek, dijual di toko oleh- oleh, dan mensuplai ruma makan Betawi yang di Bekasi. Yesi sendiri malahan menutup rumah makan miliknya.


Fokus Yesi mengembangkan sekaligus terus melakukan inovasi. Contohnya Yesi membuat tahu bakso bandeng, steak bandeng, dan cilok bandeng. Berkat inovasinya dia mampu mengantongi omzet Rp.50 juta perbulan.


Titik sekarang bukanlah kesuksesan mudah. Awal dia pernah diberikan pesanan banyak, sampai tiga hari tiga malam mengerjakannya. Bayangkan dia lakukan pembersihan duri ikan semalaman. Dalam tiga hari, Yesi mengambili duri menggunakan tangan manual sebanyak pesanan sendiri.


Satu persatu pack dia tangani sampai 200 pesanan terpenuhi. Beruntung teknologi sekarang memberi kemudahan mencabut duri. Kini dia sudah mampu membeli peralatan lengkap bandeng tanpa duri. Yesi memberikan pelajaran bahwa berbisnis haruslah fokus.


Dia menambahkan, harus menjaga kualitas atau tingkat, dan terus melakukan inovasi. "Harus fokus pada bisnis yang dijalani, tidak mudah pindah ke lain hari," tuturnya, dan buat yang mau beli silahkan ke @bandengrorofoficcial

Pengusaha Decky Suryata Bisnis Salak Pondoh Jutawan

Profil Pengusaha Decky Suryata

 
bisnissalak.png
 
Inilah pengusaha Decky Suryata memulai bisnis salak pondoh. Sejak bangku sekolah menengah di Yogyakarta, sosoknya memanglah gemar berbisnis bahkan sejak sekolah dasar. Terakhir, ayah dua anak ini dikenal sebagai pengusaha muda sukses berkat aneka olahan berbahan salak pondoh. 
 
Siapa dia, bagaimana cara bisnisnya mencapai kesuksesan seperti sekarang. Menelusuri lebih dalam kamu akan menemukan sosok tahan banting. Meski sudah berbagai bisnis dilalui dan berhenti di tengah, dia tetap melanjutkan setiap ada kesempatan bisnis baru.

Decky Suryata lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Desember 1983, dimana semenjak kelas 3 SD ia telah berbisnis mandiri. Decky yang punya banyak komik menumpuk di rumahnya, memilih untuk menyewakannya.
 

Bisnis Salak Pondok

 
Dia menyewakan komiknya itu dengan harga Rp200,00-Rp300,00. Decky juga pernah berjualan macam- macam aksesoris seperti gantungan kunci. Cukup membawa produk tersebut dari tetangga kemudian dijual ke teman- temannya waktu itu ia masih tinggal di Kalimantan.

Pindah ke Yogyakarta, bisnis Decky masih bekisar di kegiatan pinjam- meminjam buku, tidak hanya komik. Dia memang menyukai kegiatan membaca buku. Dia ingin agar teman-teman sebaya dia di desanya juga suka membaca buku.

"Awalnya saya bisnis jual-beli handphone (HP). Saya jual HP pemberian ayah yang mestinya untuk alat komunikasi. Keuntungannya saya gunakan untuk beli HP yang selanjutnya dijual lagi," kisahnya tentang bisnis lain semasa sekolah menengah.

Dari bisnisnya ia bisa punya counter  telepon sendiri di kawasan Jalan Monjali.  Sebagai seorang remaja, Decky mengaku memang tergolong nakal. Jujur- jujuran, sebagian dagangan miliknya kala itu adalah barang black market alias tak resmi. 
 
Dan,  dari 10 barang yang ia berhasil jual, paling hanya 1 atau 2 yang bagus.  Karena  itulah di tahun 2006 kiosnya ditutup. Ia juga pernah berjualan chip operator seluler bekas. Namun, bisnisnya gagal lagi, karena chip bekas nya hilang.

Oleh karena bisnisnya bangkrut ia butuh berhenti sejenak. Dan Decky memutuskan untuk menikah di waktu itu ketika bisnisnya mandek dan kuliahnya di UGM tersendat. 
 
"Nikah! Ha ha ha... Habis mau bagaimana? Kuliah saya di Fakultas Ekonomi UGM mampet, bisnis bangkrut, jadi nikah sajalah. Siapa tahu justru ada rezeki. Saya menikahi teman SMA saya, namanya Fara. Sekarang anak kami sudah dua," kisahnya yang tak berhenti di kegagalan.

Tiga bulan sejak menikah ia ingin berbisnis lagi. Kala itu Pakdhenya punya usaha sendiri dan Decky pun ingin ikut nimbrung dalam bisnisnya itu. Ia ingin mandiri meski harus dari nol lagi. Apa yang dilakukannya? Ia kala itu berjualan burger keliling. 
 
Melalui bisnis burger dia dikenal, usahanya cukup ambisius karena memang ada cara terbaik mengembangkan bisnisnya. Decky memanfaatkan sistem waralaba kala itu yang memang masih jarang untuk bisnis burger.

Tumbuh pesat dari 40 gerai jadi 60 gerai dalam beberapa tahun. Akhirnya, bisnis yang bernama Burger' Qu itu laris manis tumbuh sampai ratusan gerai di berbagai tempat. Selain burger Burger' Qu juga menawarkan hotdog dan kentang goreng. 
 
Tepat di tahun 2009, Burger' Qu tak lagi menawarkan waralaba karena sudah terlalu banyak. "Saya tidak lagi mengembangkan waralaba yang pernah saya tawarkan sebelumnya," kata Decky yang gerainya telah tersebar di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Memang harga kemitraan yang ditawarkan bisnis Burger' Qu tergolong murah, dibawah 10 juta. Waktu iu ia menawarkan tiga paket kemitraan Burger'Qu. Yakni, paket medium, eksklusif, dan super eksklusif. 
 
Dimana paket- paket ekonomisnya banyak dilirik. Untuk paket medium, jelasnya mitra harus menyiapkan investasi awal hanya sebesar Rp 4 juta. Dengan modal sebesar itu, mitra akan mendapatkan satu unit gerai, peralatan memasak, pelatihan pegawai.

Selain itu, adapula paket bahan baku awal yang untuk kebutuhan operasional selama dua hari pertama, atau senilai Rp 220.000. Sementara untuk paket eksklusif, mitra akan mengeluarkan uang sebesar Rp 6 juga. Mitra akan mendapatkan fasilitas yang sama dengan paket medium. 
 
Cuma bedanya pada paket ini ada penambahan fasilitas promosi berupa banner atau spanduk. Paket ketiga adalah paket super eksklusif dengan investasi awal Rp 18 juta.

Paket eksklusif ini lebih lengkap karena ada penambahan pada perlengkapan promosi berupa banner dan juga neon box, disertai gerai yang lebih berkelas dan menarik. Kerja sama untuk tiga paket itu berlangsung selama tiga tahun, setelah itu harus diperpanjang lagi. 
 
Pada saat itu, Decky menjanjikan, setiap mitra dapat menjual burger sebanyak 20 porsi sehari dengan harga berkisar Rp 5.000-Rp 7.000 per porsi. Dari situ, mitra akan mendapat omzet Rp 5 juta per bulan.

Sebuah keuntungan dengan hanya menjual makanan cepat saji. Usahanya pun terus berkembang hingga bisa mencapai 350 outlet di seluruh Indonesia. Namun, bisnisnya akhirnya berhenti karena pebisnisnya sudah mulai banyak sejak 2009- 2010. 
 
Barulah kemudian, ia memiliki bisnis lain yaitu salak pondoh yang menjadi kuliner khas Yogyakarta.

Kenal Pengusaha Decky Suryata


Dicky berserta istrinya sama- sama mensurvei pasar. Ia juga menemui para petani salak pondoh. Dan dari apa yang didengarnya kenyataan sungguh sangat menyedihkan. Dia menjelaskan bahwa bila musim panen, harga salak para petani anjlok dan hasil panen dibiarkan busuk. 
 
Jadi tiap kali pa­nen, petani menggali tanah lagi untuk menimbun salak busuk itu sebagai pupuk. Lebih parah lagi bila tiba musim buah musiman seperti durian dan rambutan, harganya semakin jatuh.

Bertolak dari kepedulian itulah dia dan istri mau membeli hasil panen petani lebih tinggi dari para pengepul. Lalu, apa yang dilakukannya, bersama istrinya malah mencari- cari cara mengolahnya. Biar gak terbuang apa yang sudah dibelinya. 
 
Di Yogyakarta sendiri, salah pondoh bakan seolah menjadi limbah karena memang saking banyaknya dan terkadang tak terjual baik. Dikatakan Decky lagi, padahal jika di luar Yogyakarta, salak pondoh sangat diminati masyarakat, bahkan harganya cukup mahal, tapi disini seperti 'sampah'.

"Atas dasar itu, saya memikirkan bagaimana 'sampah' ini bisa jadi 'emas', muncu lah ide dijadikan makanan seperti cake, sirup dan bakpia, apalagi bakpia isi salak belum ada di daerahnya yang terkenal juga dengan makanan khas bakpia-nya," tuturnya.

Tapi masalahnya, kata Decky, dirinya tidak punya keahlian membuat cake, sirup apalagi bakpia. Tak patah arang, dia bersama sang istri cari- cari resep, mulai cari di-internet, resep warisan keluarga. 
 
Dengan berbagai macam percobaan akhirnya ketemu resep andalan dan rahasia brownies dan bakpia dari buah salak pondoh. Sebagai tambahan sang istri tidalah pandai memasak. Semuanya mereka lakukan secara otodidak malah juga secara eksperimental.

"Istri saya, kan, tidak punya basic  memasak. Makanya saya kumpulkan aneka resep kue. Akhirnya ketemu brownies kukus salak pondoh. Saya mempromosikannya lewat media sosial. Begitu kue keluar dari kukusan dan bentuknya sudah kelihatan bagus, saya foto. Langsung saya  upload.  Soal rasa belakangan, hajar saja," celetuknya.

Waktu itu ia menjaslak hanya bermodal sekitar Rp 4 juta- an, itu pun sebagian merupakan hasil pinjaman. Dari modal itu, dia dan istri membeli berbagai perlengkapan seperti membeli mixer, baskom, oven kecil dan bahan baku pendukung. 
 
Dengan berbagai resep dari internet, resep orang tua, buku dan lain- lain di mix begitulah rahasia suksesnya. Hasilnya bagus banyak peminat ingin mencicipi produk buatannya itu. Sambil jalan, ia mulai membenahi kue kukus tersebut agar rasanya lebih baik.

Suatu ketika ada chef yang menghampirinya; bertanya berapa telor dipakainya. Bukannya mengkomplain malah si chef membeberkan jumlah telor seharunya. Lumayan lah bisa belajar gratis pikirnya. Produknya itu pun dibeli pula oleh dia imbuhnya. Ia mengaku:

"Tapi kami tidak mau menyerah, akhirnya dapat adonan dan hasil brownies yang pas, sari salak terasa dilidah dan menarik. Dari resep itu, kami keliling ke tetangga, keluarga dan kerabat. Alhamdulillah responnya bagus dan laku, dengan hasil penjualan tersebut kami putar lagi beli buat beli bahan dan dijual lagi," terangnya.

Meski sudah memiliki kebun salak sendiri hasilnya kurang saking larisnya. Padahal dahulu hasil buahnya itu hanya dijadikan pupuk kompos pada 2008- 2009, sekarang justru dibutuhkan banyak. Produksi dari kebun salak diolah beragam seperti bakpia salak, dodol salak, sirup salak dan lainnya. 
 
Perlu ada trobosan karena ia tak mampu berbisnis sendiri. Lalu ide untuk memiliki petani binaan terpikir agar bisa fokus antara bisnis dan bahan baku.

"Susah kalau saya harus tambah luas kebun salak saya, beli? Bisa juga, tapi saya lebih berpikir lebih baik membina petani salak yang banyak di daerah tempat tinggal saya di Danikerto, Jawa Tengah," kata Decky.

Hingga akhir 2009 dirinya sudah memiliki 5 petani binaan. Namun sukses yang didapat Decky saat itu harus berakhir saat bencana Gunung Merapi pada Oktober 2010 menerjang desanya. Otomatis ia kini kembali menjadi pengangguran lagi,

"Saya jadi pengangguran lagi. Biar irit, tiap hari kami makan di warung  angkringan," celetuknya lagi.

Kebunnya dan kebun petani binaan serta harta lainnya porak poranda diterjang wedus gembel (awan panas) dari gunung Merapi. Habis semua hasil jerih payahnya, namun dia bukan lah pengusaha yang mudah untuk putus asa. 
 
Dengan harta yang tersisa dia dan istrinya mulai menata kembali hidup dan usahanya.

"Tinggal melanjutkan saja yang kemarin, resep andalan sudah ada, pelanggan setia tetap setia, dan kebun kita perbaiki kembali, dan sampai hari ini, semua berjalan seperti semula, usaha brownies salak pondoh terus maju," katanya

Tahun 2011 laba bersih usaha Decky tersebut sudah mencapai sekitar Rp 50 juta. Saat ini dirinya justru semakin berjaya setelah gagal dan bangkru, ia sudah mempunyai 'showroom' brownies setara 3 (tiga) ruko berlantai 2 yang dengan luas lapangan parkir yang dapat menampung 5-7 bus besar. 
 
Brownies salak pondoh dan bakpia andalan Decky tersebut diberi nama Salaka dengan nama toko Terminal Sukses. Produk jadilah Brownies Salaka sendiri dijual Rp 30.000 per kotak dan Bakpia salaka dibandrol Rp 25.000.

Decky pun membuka peluang bagi yang ingin menjalin kerjasama dengannya. Kamu berminat? Ia beralamat di Danikerto, RT 01 RW 07, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Jogjakarta.

Usaha Dendeng Daun Ubi Diekspor Sampai Abu Dhabi

Profil Pengusaha Ernawati

 
dendengdaun.png
 
Serius usaha ini mampu diekspor sampai Abu Dhabi. Usaha dendeng daun ubi tersebut dijalankan emak- emak perkumpulan. Ernawati, 51 tahun, yang mengajak ibu- ibu sekitar bekerja bersama. Ernawati sendiri sebelum menggagas perkumpulan, adalah pembantu rumah tangga.
 
Dia menjadi pembantu sebuah keluarga. Lalu Bu Erna menjajal aneka wirausaha sampai sekarang. Dulu dia pernah berjualan mie ayam dan martabak. Kini Bu Erna berusaha dendeng daun ubi dimana bermula pelajaran.

Tahun 2007, usahanya dirintis berbekal ajaran seorang guru ajar. Kemudian dia lanjut diajari kelurahan lewat Dinas UMKM, mulai dari pengemasan, legalitas, desain produk, pembukuan, dan bertahap. Intinya Erna dilatih bertahap dan tidak enggan mencari pelatihan.

Ia pun menjelaskan kenapa memilih membuat usaha dendeng daun ubi: Dia beranggapan ada keunikan yang ditawarkan. Ernawati menjelaskan sekali produksi bermodal Rp.50 ribu. Memproduksi 100 bungkus dendeng ubi.

Itu buat membeli pekingan. Sementara bahan baku tinggal mengambil di kebun sebelah rumah. Usaha ini melejit semenjak dibawa sampai Abu Dhabi. Kini perminggu memproduksi 300 bungkus dan omzet mencapai Rp.17 juta.

Cerita gimana awalnya mereka mampu menjual sampai Abu Dhabi. Dijelaskan, awalnya dititipkan di sebuah perumahan, dan mereka (orang Abu Dhabi) menelphon nomor yang dipasang. Mereka telephon nomornya di banner buat membeli oleh- oleh.

Mereka membawa produk mereka sampai Abu Dhabi dan Malaysia. Usaha berikut dimulai merebus daun ubi sampai empuk, kemudian ditiriskan sampai kering, lalu dipotong kecil. Bumbu tumbar lalu dihaluskan, bawang putih, bawang merah, merica, dan digiling menjadi satu.

Dimasukan telur agar lengket dengan tepung sebagai pengikat, kemudian daun diiris kecil- kecil lalu dibungkus. Setelah adonan rata kemudian dipadatkan ke loyang diberi minyak, lalu dikukus sampai keras sekitar sejaman.

Dinginkan lalu potong- potong dikeringkan setengah hari, lama kering tergantung cuaca kemudian itu digoreng. Usaha ditengah pandemi tentu tidaklah mudah dilalui. Berkat permodalan KUR dari BRI, Ernawati mampu menaikan pendapatan 2- 3 kali lipat dari pendapatan Rp.10 juta.

Seperti diceritakan Detik.com, Ernawati pun didapuk menjadi pembicara kewirausahaan. Bu Erna telah menjadi role model bagi mahasiswa berbisnis.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba