Usaha Jamur Ir. Eddy Pengusaha Teknik ITB

Biografi Pengusaha Ir. Eddy Santoso

ir. eddy usaha jamur

Pengusaha teknik ITB ini membuka usaha jamur. Namanya Ir. Eddy W. Santoso, sosoknya menjadi catatan penting dalam bisnis hortikultural. Eddy, begitu sapaanya, bukan hanya sukses dalam bidang akademis namun di dalam berbisnis.

Memulai berbisni ketika krisis moneter juga masuk catatan tersendiri kita semua. Pada awalnya lelaki lulusan Teknik ITB ini tak tertarik ikut- ikutan terjun menekuni usaha jamur. Dia lebih berminat pada bisnis komputer sesuai latar pendidikannya.

Sayangnya, bisnis itu harus gulung tikar ketika krisis moneter. Eddy harus rela bisnis 15 tahun telah digeluti itu hilang oleh kejamnya krisi moneter di tahun 1997.

Memulai Bisnis Jamur


Ir. Eddy sempat memulai usaha lain sebelum jamur. Kegagalan bisnis komputer tak membuat Eddy patah semangat. Dia kembali mencari- cari bisnis lain, mencoba bangkit kembali. Saat itu permintaan akan komputer berhenti total.

Eddy setiap hari meriset pasar dan mulai belajar banyak dari pengusaha sukses di berbagai sumber. Setelah cukup lama mengamati pasar, ia akhirnya memutuskan menekuni bisnis jamur sebagai usahanya. Budidaya jamur terbilang mudah dilakukan pemula -mudah dipelajari pula.

Menjadi pengusaha teknik ITB malah memilih usaha jamur.  Ini karena tempat tinggal Eddy memang memiliki iklim sesuai buat budidaya. Meski begitu tiap jamur tetap memiliki pengaturan suhu khusus dan berbeda- beda loh.

Ambil contoh jamur kuping akan tumbuh optimal di suhu 22 0C dan kelembaban 93 %, jamur tiram akan tumbuh dengan optimal pada suhu 27 0C dan kelembaban 60 %, jamur lingzhi akan tumbuh dengan optimal pada suhu 25 0C dan kelembaban 65 %, jamur shiitake akan tumbuh dengan optimal di suhu 16 0C dan kelembaban 97 %.

Jika kamu melihat potensi bisnisnya budidaya jamur sangat menguntungkan. Untuk jamur merang saja, para petani di sekitar Jawa Tengah, Yogya, Jawa Barat, bahkan Jakarta telah masuk pasar ekspor.

Jawa Tengah saja bisa menghasilkan ekspor tercatat sebesar 11.800 ton atau senilai $12,1 juta ke Amerika, Australia, Taiwan, Korea Selatan, Saudi Arabia, dan Kanada. Milihat permintaan jamur (hiartake dan lingzhi) yang terus menerus meningkat, Eddy optimis bisa menjalani bisnis tersebut.

Meski melenceng dari latar belakang pendidikan tak membuat minder. Bahkan sukses memanfaatkan kurang lebih 1 hektar lahan yang ada di Lembang. Eddy menggandeng para pemuda pengangguran di sekitar lokasi tersebut.

Dia turun tangan mengajari mereka budidaya jamur. Ia kemudian membangun PT. Teras Desa Intidaya sebagai bendera bisnis, mengajak pemuda- pemuda itu menjadi pegawai tetapnya. Setelah tiga tahun berbisnis ternyata pilihannya memang tak salah.

Bisnisnya kini maju pesat meski hambatan itu masih ada. Pada 1994 saja tecatat bisnis ekspor jamur terlihat menurun dari tingkat jumlah. Hal ini telah berlangsung cukup lama. Namun optimisi itu masih ada mengingat permintaan itu tumbuh kembali.

Eddy tak ambil pusing akan hal ini. Ia masih memiliki pasar lokal untuk digarap. Dia bahkan menambah jaringan bisnis jamur melalui sistem plasma. Ini akan membantu memenuhi jumlah permintaan dalam negeri yang cukup tinggi.

Di pasar swalayan lokal, harga eceran jamur merang khususnya berkisar antara Rp.11.000- Rp.12.500 per- kg. Sementara dari petani sendiri harga jamur berkisar Rp.5.800 per- kg. Asumsinya petani memiliki satu kumbung (tempat budidaya) mengantungi untung Rp.600.000 per- bulan.

Asumsi tiap petani memiliki delapan kumbung berarti mencapai Rp.4,2 juta per- bulan. Perusahaan milik Eddy bisa mendapatkan nilai dua kali lipat jika satu petani binaan memiliki delapan kumbung; sebuah simbiosis.

Sejarah Kamera Canon Pengusaha Yoshida Goro

Profil Pengusaha Yoshida Goro


sejarah kamera canon
 
Kita tidak pernah mendengar pengusaha Yoshida Goro ini. Siapa sangka dia dibalik sejarah kamera Canon. Bermula dari pekerjaannya sebagai tukang betul elektronik. Yoshida tertarik akan kamera asli Leica, yang konon pada masanya sangat mahal karena suatu sebab.

Yoshida kelahiran Hiroshima, Jepang, dan merantau sampai ke Tokya. Di sana, Yosida bersekolah sampai tamat pendidikan menengah. Dia dulu sempat magang di perusahaan perbaikan dan renovasi film. 

Dua tahunan, di pertengahan 1920 -an, pertumbuhan dunia film membuat hidupnya penuh kesibukan baru. Dia bisa berkali- kali berkunjung ke Sanghai, China. Usianya masih 20 -an dengan kemampuan mengaggumkan. Ia lantas dipasrahi mengelola kamera besutan perusahaan asal Jerman, Leica.

Membesarkan Perusahaan


Leica Model II diperkenalkan pada tahun 1938, kemudian disusul Contax Model I diperkenalkan di 1933. Teknologi kamera merupakan kebanggaan bangsa Jerman. Bahkan sebutan kamera kerajaan karena dianggap paling memuaskan hasilnya.

Teknologi terbaru ini membuat semangat penggemar kamera di dunia. Untuk membuat kamera kelas tinggi ukuran 35mm dibutuhkan keahlian. Yoshida bercerita dirinya dipasrahi kamera tersebut. Dan ia sengaja mengutak- atik bahkan sampai melihat ke dalam.

"Saya hanya membongkar kamera tanpa rencana khusus, tetapi hanya sekedar ingin melihat isinya," ia menjelaskan.

Dia bertanya- tanya mengapa kamera tersebut begitu mahal. Tidak ada mesin spesial disana, bahkan imajinasi liar kita membayangkan ada berlian tidak terbukti. "Saya begitu terkejut ketika barang tak mahal ini dimasukan menjadi kamera," lanjutnya.

Isinya kuningan, alumunium, besi dan karet. Yoshida "marah" karena material murahan dijual dengan harga terlalu tinggi.

Yoshida kemudian memiliki ide gila membangun bisnis. Pengusaha Yoshida Goro mengajak adik iparnya, Uchida Saburo. Mereka awalnya hanya melakukan riset terlebih dahulu. Keduanya mencari tau cara membuat kamera berkualitas

Mereka lalu memunculkan ide gila membuat kamera sendiri. Tujuannya menciptakan kamera 35mm berkualitas. Pada Juli 1934, mereka mengeluarkan produk kamera pertama bernama "Kwanon". Yang namanya diambil dari nama Dewa di agama Budha.

Kemudian mereka memberi nama lensanya Kasyapa, dari nama murid Budha bernama Mahakasyapa. Mereka meluncurkan tiga produk Kwanon. Sayangnya, ketiganya tidak satupun dijumpai di pasar, nama- nama ketiga produknya merupakan model kamera.

Ada Kwanon Model D yang ditemukan 1995, produk tiruan yang persis Leica Model II dan bukanlah buatan Yoshida. Perusahaan besutan Yoshida tidak mampu memproduksi sendiri. Alhasil mereka ini membuat namun tidak dipasarkan.

Kwanon mulai aktif ketika berdiri Precision Optical Instrument Laboratory. Di 1937, sosok Takeshi Mitarai bergabung, yang memiliki latar belakang optikal. Ada empat orang dalam Precision Optical Instrument Laborartory, ialah Takeshi Mitarai, Goro Yoshida, Takaeo Maeda, dan Saburo Uchida.

Mereka bekerja sama dengan Nippon Kogaku Kogyo atau Nikon Jepang. Kerja sama yang memberi kesempatan Kwanon memakai lensa Nikon. Mereka bekerja sama membangun produk Hansa Canon, yang meluncur pada Februari 1936 tetapi sudah ada di Oktober 1935.

Test pasar mungkin bila kita istilahkan. Keberhasilan Canon nampak nyata namun serba tanggung. Ini karena Precision Optical Instrument Laboratory belum lengkap. Mereka belum bisa membuat apa isi kamera Kwanon -kemudian bernama Canon.

Dulu Yoshida dan kawan- kawan hanya membuat prototipe. Itupun isinya merupakan produl Leika. Perusahaan mereka sekarang sudah memiliki semua aspek. Precision Optical Instrument Laboratory menggarap focal- plane sutter, rangefinder, dan merakitnya dengan brand Canon.

Sementara Nippon Kogaku atau Nikon mengerjakan lensa Nikkor 50mm, mount lensa, opical system, viewfinder, dan rangefinder. Nama Kwanon diganti Canon berdasarkan nama standar script Alkitab. Uniknya, ketika Hansa Canon diluncurkan, nama Precision Optical Instrument Laboratory tidak ada.

Alisa nama perusahaan Yoshida tidak dicantumkan. Karena memang ini bukanlah perusahaan resmi atau tidak punya jaringan penjualan. Precision Optical lantas bekerja sama dengan perusahaan Omiya Shasin Yohin, Co, yang bertugas menjadi penjual produk.

Ingat Nippon Kogaku sendiri hanya kerja sama material. Maka Shasin Yohin yang memang bisnisnya penjual dan toko, menjalankan tugas penjualan. Shasin Yohin sendiri memegang kamera Omiya. Nah, lantas "Hansa" menjadi merek dagang Omniya, yang namanya berasal dari perjanjian Uni Eropa abad pertengahan.

Membingungkan bukan ketika kamu membuat produk tetapi tidak jelas. Kamu memiliki usaha tetapi hanya brand sementara tanpa perusahaan. Proses penjualan pun "dititipkan" melalui perusahaan lain lagi.

Bulan Juni 1946, nama Precision Optical Instrument Laboratory berubah nama, lebih tepatnya cuma diberi nama Jepang di depannya. Usaha asal daerah Meguro mulai muncul ke publik. Melalui sebuah majalah bernama Asahi Camera, namanya muncul bersamaan produk "Hansa Canon" ini.

Perkembangan bisnis pengusaha Yoshida Goro bagus. Bahkan mereka telah mampu memproduksi lensa sendiri. Tahun 1937 bernama lensa "Serenar" dan mulai memiliki status kuat. Mitarai ditunjuk menjadi Presiden Direktur perusahaan yang baru ini.

Takeshi Mitarai teman Yoshida melakukan perubahan besar. Nama perusahaanya diubah menjadi Canon Camera Co., Ltd. Nah, semenjak itu namanya menjadi Canon, semua produk dilabeli nama Canon sebagai brand asli.

Uniknya perusahaan Canon juga membuat produk kalkulator. Mereka terinspirasi usaha perusahaan asing Bell Punch. Mereka meluncurkan Canola 130, dimana menjadi kalkulator Jepang pertama yang memiliki 10 kunci.

Canon memfokuskan ke produk elektronik. Terciptanya produk kalkukaltor bukan berarti mereka ganti arah. Justru perusahaan ini semakin menstabilkan dirinya dalam bisnis kamera. Lebih jelasnya mereka mulai menguasai bisnis image meliputi produk turunan kamera lensa.

Mereka membuat scanner, binocular, digital kamera, film SLR, digital SLR kamera, lensa, video cam, dan unit layanan digital visual. Canon juga menyediakan business solution untuk produk printer mereka.

Canon memiliki brand Lasser meliputi aneka produk. Dari produk perkantoran sampai medis, antara lain mesin x- ray. Mereka juga menjadi pemain di bisnis broadcasting dari lensa, semi konduktor, display, dan digital mikro film scanner.

Yoshida Goro diakui menjadi sejarah kamera Canon. Namun, sepanjang hidupnya, tidak merasakan keuntungan perusahaan sampai 3 triliun yen. Hidupnya sederhana namun menghasilkan aneka produk membantu manusia.

Pengusaha Sepatu Agit Sudah Usaha Sejak Sekolah

Profil Pengusaha Agit Bambang Suswanto


pengusaha sepatu kulit

Membuka usaha sejak sekolah merupakan pilihan terbaik anak. Pengusaha sepatu Agit telah mantab mengekspor sepatu sampai keluar negeri. Siapa sangka, dulu, dia harus meniti jalan naik- turun jadi wirausaha muda. Dua kali gagal membangun bisnis tidak membuatnya jera.

Agit Bambang Suswanto sudah menjajal wirausaha sejak sekolah menengah. Ia belajar dari dua kali kegagalan. Aneka strategi bisnis diterapkan Agit guna bangkit. Dia tidak malu menyebut dua bisnis gagal tersebut walau sungguh berantakan.

Dia tidak pernah lupa mereka yang setia mendukung. Berkat dorongan mereka, Agit bangkit menjajal usaha sepatu kulit buatan sendiri. Agit bercerita semasa SMA dulu, bisnisnya sederhana yakni jasa membuat pin. Dia juga nyambi jaga warnet.

Bisnis Pertama


Ketika Kota Bandung ramai bisnis distro, Adit seolah tidak mau ketinggalan trend, maka dia menjajal bisnis kaos distro. Adit mendesain kaos lantas dijual- jualkan ke distro Bandung. Empat bulan jalan, usahanya tutup, Adit menyadari bahwa dirinya pengetahuan manajemen dan pemasaran.

Soal desain sendiri memang belum hebat. Namun Adit nampak kurang puas maka belajar kembali. Di masa kuliah, ia memperdalam dunia desain otodidak dan membuka bisnis sampingan. Adit berbisnis sampingan menjadi desainer website dan desain grafis sebuah majalan di Bandung.

Uang hasil bisnis sambilan bisa dipakai menambah biaya kuliah. Itu juga bisa dipakai modal usaha berikutnya. Semangat Adit berwirausaha memang tidak pernah padam. Buktinya dia langsung tancap gas membuka usaha. 

Dia mengajak dua temannya berbisnis wafel. Namun hanya bertahan enam bulan, pasalnya kedua teman Adit memilih berhenti. Dia menyebut kedua temannya itu tidak berniat berwirausaha. "Mereka tidak serius," tuturnya.

Agit meyakini kegagal merupakan pengalaman berharga. Dari sanalah, pengalaman berharga tersebut mengajarkan cara membuka usaha. Pengalaman juga mengajari Adit kapan bekerja sama atau tidak membangun usaha.

Ketika berbisnis wafel, dia sangat rajin datang wara- wiri pertemuan komunitas dan pameran. Tujuan Adit hanya satu memperkenalkan produk bikinannya. Dimanapun dia akan membuka stand baik di acara musik maupun seni budaya.

Namun berbeda, ketika dia menjalankan usaha sepatu sekarang, maka lebih pilih- pilih tema pameran dan acara. Dia pernah diundang ikut acara fashion di Jakarta; Adit menolak. Itu lantaran tema acara dan penonton tidak sesuai citra produk ekslusif dan mahal.

Dia memang sekarang sukses berjualan sepatu. Namun, awal Agit memasarkan sepatu tidak mudah, bingung merupakan kata kunci pertama. Dia bingung mau diapakan tiga pasang sepatu pertama. Di Bandung, concept store yang menjual khusus sepatu kulit memang telah menjamur.

Uniknya, mereka hanya memajang sepatu kulit impor, belum sepatu lokal dan apalagi sepatu kulitnya belum tenar. Dia lalu mencoba berjualan melalui situs jual- beli Kaskus. Tak disangka, tiga pasang laku terjual, sepatu kulitnya diminati hanya dalam waktu sehari.

Agit makin percaya diri memproduksi beberapa pasang lagi. Semua terjual habis dalam tempo waktu sekejab. Pada masa itu, Adit mengenang melakukan semua sendiri, mulai dari pemasaran, produksi serta pemotretan produk.

"Saya mengambil foto sepatu yang akan dijual di belakang rumah," tuturnya.

Agit menjual produknya melalui website www.amblefootware.com. Dia dibantu dua pegawai sewaan bagian produksi. Adit berhasil memasarkan melalui dunia maya. Berikutnya, Adit menawarkan brand Amble kepada toko- toko sepatu di Bandung.

Karena memang produk sepatunya telah laku di pasaran online. Mereka toko- toko sepatu di Bandung setuju. Dalam sepekan, toko- toko yang dititipi meminta dipasok kembali sepatu. Untuk mendukung manajerial, Adit mengajak dua temannya yang memiliki latar belakang ini.

Berkembang, bulan berikutnya toko -toko Jakarta tertarik menjual. Permintaan dari toko toko lainnya masuk mulai dari Surabaya, Yogyakarta, dan Balikpapan. Walaupun dia telah berhasil menjual lewat beraneka macam jalan. Adit pun tidak pernah melupakan forum tercinta Kaskus kita.

Dia masih berjualan melalui di Kaskus. Ia masih berjualan sepatu kulit produksinya di sana. Adit pun masih menjalin komunikasi dengan sesama anggota forum.

Bangga Menjadi Pengusaha


Umurnya masih muda tetapi sudah berhasil berbisnis sepatu. Tidak terbayangkan membuat sepatu yang tak kalah dari merek luar. Agit memang memiliki jiwa wirausaha kuat. Usia 21 tahun sudah memiliki omzet ratusan juta.

"Selain ulet, untuk menjadi seorang yang sukses berwirausaha juga membutuhkan pendidikan dan kreativitas," ia melanjutkan.

Mengapa dia memilih sepatu padahal sempat berbisnis kuliner. Ia mengenang sempat kesulitan cari sepatu lokal pada 2009 silam. Bukan karena tidak ada produksi luar negeri. Adit yang hobi koleksi sepatu, menganggap harga sepatu kulit luar negeri terlalu tinggi.

Adit berpikir bahwa kita bisa memproduksi produk berkualitas. Bahwa kita mampu bersaing dalam hal sepatu kulit. Pengusaha 21 tahun ini mulai mendesain sepatu sendiri. Kecil- kecilan ia produksi tiga pasang yang dijual di komunitas Kaskus.

Tetapi itu dulu, sekarang sang mahasiswa manajemen bisnis Universitas Widyatama Bandung ini, telah memproduksi tidak kurang 300 pasang sepatu. Total omzetnya mencapai Rp.60 juta sampai Rp. 85 juta.

Pada Desember 2010, dia mengekspor 200 pasang sepatu kulit buatannya ke Eropa, Jerman, dan juga Perancis. Pendapatan dari ekspor sepatu mencapai Rp.20 juta sampai Rp.60 juta. Omzet yang dapat dicetak Agit mencapai Rp.100- 145 juta.

Agit sangat serius menggarap pasar ekspor. Pasalnya pembeli diluar membayar kontan bukan tunggu laku. Dikisahkan si eksportir merupakan asli Eropa yang tengah kebingungan. Ia tengah mencari sepatu kulit buatan Asia dan Amerika Latin.

Kebetulan dia menemukan website milik perusahaan Agit. Kebetulan sang eksportir tengah bingung, mencari produsen yang memproduksi produk berkualitas berstandar internasional. Agit sendiri telah menjual ke negara tetangga dari Malaysia, Singapura, dan Australia.

Sayangnya, penjualan di sana melalui penjualan ritel, kadang laku banyak atau sekedar mendapatkan Rp.6 juta. Amble memiliki dua lini produk antara lain Premium dan Seasonal. Seasonal merupakan produk yang akan berganti musiman atau enam bulan sekali.

Produk premium berharga Rp.1 juta sampai Rp.1,5 juta per- pasang. Produk seasonal harganya dari Rp.450 ribu- Rp.600 ribu. Pasar ekspor dia mematok harga $135- $170 untuk premium dan seasonal $65- $85.

Perdesain diproduksi hanya 200 pasang sekali produksi. Ia menjaga agar produknya tetap ekslusif. Sampai sekarang dia telah memproduksi 400- 500 pasang perbulan, meskipun maksimal 700 pasang sepatu. Pembatasan dilakukan agar tidak over stock atau membanjiri pasar.

Agit menjelaskan karena dijual mahal perlu menjaga kualitas. "Karena dijual dengan harga mahal, jadi kita tidak perlu mengejar kuantitas untuk mencari untung," tuturnya.

Dia memiliki 12 keryawan bagian produksi dan empat manajemen. Bengkel kerjanya terletak di Kota Bandung, Jawa Barat. Harga sepatu Amble mahal sebanding dengan kualitas yang unggul. Bahan bakunya 100% kulit asli.

Bagian dalam sepatu Ambel menggunakan kulit kambing. Desain dibuat maksimal dengan 70%  nya produksi tangan. Agit memasok bahan kulit dari pengrajin Tangerang, Bogor, dan Surabaya. Ia cukup selektif soal bahan baku. Ia menuntut bahan baku dengan mutu dan warna tertentu.

Agit tidak pernah mencontoh desain lain. Ini karena tujuannya menjadikan Ambel brand trend setter sepatu. Dia rajin membaca majalah fashion dan terinspirasi. Produk sepatu Ambel bikinannya sudah 100% bahan baku asli Indonesia.

"Jadi, memang 100% Indonesia, dari bahan bakunya sampai proses pembuatannya," ujarnya kepada Kontan.co.id, bangga.

Koleksi sepatunya coba meruntuhkan bayangan bahwa sepatu luar lebih berkualitas. Agit bercerita, bahwa dulu orang senang sepatu impor, tetapi aslinya bahan baku kulit didatangkan dari Indonesia sendiri. Orang Indonesia bangga pakai sepatu impor padahal kulit asli Indonesia.

Agit tidak berasumsi loh. Dia kenal sendiri para pengusaha pemilik pabrik pengolahan kulit. Sepatu Ambel memiliki semangat cinta Indonesia. Terbukti setiap sepatunya, akan nampak tulisan "Made with Produk in Indonesia".

Jujur Agit memang sangat sibuk bahkan pendidikannya tersendat. Namun, ia memastikan bahwa soal pendidikan berjalan semua, dan sangat penting. Di kuliah, memberikan dasar yang baik, karena Agit mengambil jurusan bisnis sesuai apa diaplikasikan.

Namun tidak bisa dipungkiri, Agit merasa beberapa ilmu diberikan tidak bisa teraplikasikan di dunia nyata. "Seharusnya, setiap pelajaran dapat diaplikasikan di dunia nyata," jelasnya. Baginya namanya mahasiswa harus mampu mengaplikasikan ilmu, bukan cuma hadir dan mengikuti ujian saja.

Ketika mempelajari manajemen pemasaran Agit begitu mendalami. Ia langsung aplikasikan pelajaran ke bisnis- bisnisnya. "Dengan begitu, ilmunya tidak sia- sia," ujar Agit. Selain ilmu bisnis, Agit juga mendalami desain, dimana kratifitas merupakah hal mutlak dalam berbisnis sepatu ini.

Kreativitas diperlukan guna menambah produk baru. Selain memproduksi sepatu, ke depan Agit akan menjajal produksi dompet dan sabuk kulit. Kedua produk tersebut diproduksi sebagai tambahan agar mensuport penjualan. Alasan lain, karena produk sabuk dan dompet kulit lebih mudah diproduksi.

Bisnis Teknologi Pengusaha Muda Asal Australia

Profil Pengusaha Michael McCoogan


bisnis uber global
 
Pengusaha muda asal Australia ini bernama Michael McCoogan. Dia yang begitu dekat dengan bisnis teknologi. Bermula dari kesenangan mengutak- atik komputer, McCoogan sering dipanggil teman- temannya membantu. Dia dimintai tolong bila ada kerusakan pada komputer milik mereka.

Usianya masih 14 tahun mendapatkan banyak permintaan tolong. Dari bermain internet dia mampu menghasilkan uang karena menjual jasa. McCoogan membantu semua hal termasuk membuatkan situs web. Dia menyadari bahwa banyak usaha kecil membutuhkan bantuan online.

Bisnis Teknologi Internet


McCoogan mulai membantu usaha kecil berjualan online. Dia mendapatkan 500 dollar membantu orang- orang. Bila pemilik usaha membutuhkan admin tinggal bayar 50 dollar perbulan. "Itu terjadi di awal dimulainya industri internet, dan saya beruntung berada di saat yang tepat," tuturnya.

McCoogan beruntung pintar internet sehingga dibutuhkan banyak orang. Jaman itu usianya masih 16 tahun, hingga mendapatkan kontrak pertama dari Pemerintah Australia, dimana mengerjakan otoritas sungai Murray- Darlin Basin.

Pemerintah Australia dilarang berhubungan dengan bisnis individu. Maka dia mendirikan perusahaan sendiri. Usianya masih 16 tahun, tentu tidak boleh menjadi pimpinan perusahaan, lantas apa solusi bagi pengusaha muda ini. McCoogan kebetulan menemukan tetangganya yang baru pensiun.

Pria bernama Michael Massop baru pensiun pegawai negeri. McCoogan lantar menawari sebagian dari saham perusahaan. Massop pun dilantik menjadi direktur utama, sampai McCoogan berumur 18 tahun. Massop merupakan sedikit dari orang tua yang mendukung McCoogan.

"Saya percaya penuh dengan modal bisnis saya, dan bisa menjual kepada orang yang saya temui," ia melanjutkan.

Uniknya Massop malah meminjamkan uang $15.000 untuk modal. Uang tersebut merupakan iuran keluarga lain. Massop pun masih bekerja ketika usia McCoogan memenuhi syarat. Bisnis yang diberi nama UberGlobal.

Ayah McCoogan mampu melihat anaknya begitu memiliki visi. Bahkan dia setuju ketika suatu hari anaknya datang meminjam uang. Tepatnya, sang ayah membiarkannya memakai rumah senilai Rp.1,5 miliar untuk modal. Uang tersebut dipakai buat membeli perusahaan saingannya di bidang internet.

UberGlobal melakukan akuisisi pertama dilanjut perusahaan lain. Total omzet yang didapat mencapai $13,3 juta pada 2011. McCoogan semakin bersemangat dengan jumlah total klien 500 lebih. Upaya akuisisi ini terbukti menjur menambah kekuatan dan daya saing berbisnis ini.

UberGlobal menjadi perusahaan layanan internet dan webhosting terbesar di Australia. McCoogan membuka lapangan pekerjaan buat tiga sahabatnya. Diusia 18 tahun, dia telah memiliki rumah sendiri dan mobil bernilai Rp.2,5 miliar, dan membagikan saham 20% untuk keluarga dan sahabatnya.

Usianya masih 14 tahun ketika membuka usaha reseller webhosting Amerika. Dia membantu menjual dan membuatkan website untuk warga Australia, memakai layanan Amerika. McCoogan melakukan semua melalui kamar tidurnya pada 2002.

Usaha tersebut diberi nama McGooHQ dan dalam tiga tahun naik daun. Kemudian ia merubah nama menjadi AussieHQ. Usaha ini membesar karena diawal- awal sedikit sekali persaingan. Alhasil dia berhasil membuat layanan website terbesar bernama UberGlobal.

Hingga perusahaan bernama Melbourne IT menawar pembelian. Mereka membayar $15,5 juta untuk perusahaan, dengan memberi pendapatan sebelum pajak bagi pemegang saham. Total dikeluarkan dari pembelian tersebut $2,1 juta.

Melbourne IT memang tengah naik daun dibanding UberGlobal. Meskipun membeli nyatanya nilai UberGlobal cuma menghasilkan kecil. Usaha Melbourne sendiri mengalami lonjakan pendapatannya 14% dari 2014 senilai $124 juta.

Ini berarti bahwa McCoogan gagal menjadikan usahanya lebih besar. Nampaknya semakin terbuka internet membutuhkan lebih banyak kerja keras. "Kami hanya masyarakat menengah- kebawah, jadi ini cerita menarik untuk kisah sukses Australia miskin menjadi kaya," ujarnya.

Dia menangis ketika harus menjual perusahaanya itu. Usaha tersebut dilepas 2013, dimana melewati waktu yang panjang, bayangkan modalnya berbekal iuran keluarga. McCoogan berhasil mengangkat nilainya sampai lebih dari $20 juta.

Sayangnya, tidak mudah membesarkan perusahaan, bahkan McCoogan pernah lima kali bangkrut karena UberGlobal. "Semua pelajaran dari pengalaman merupakan paling bernilai untuk dibawa," ujar dia. McCoogan sendiri sekarang menjadi pimpinan perusahaan Crucial, sesama usaha hosting.

Lantunan Musik Bar Bisnis Tak Pernah Mati

Profil Pengusaha Edward Chia


bisnis bar musik

Mau tau bisnis apa tak pernah mati maka ini. Lantunan musik bar mengiringi pengusaha muda. Pria bernama Edward Chia, usianya baru 27 tahun, yang sudah menempati posisi strategis. Kebanggaan bagi pria seusianya memiliki karir dan bisnis sendiri.

Chia menempati posisi manajer direktur dan pendiri suatu perusahaan tercepat pertumbuhannya di Singapura. Bukannya terbang ke Boston University, dia memilih menetap tinggal di Singapura bukan berkuliah, kemudian menginvestasikan uangnya ke bisnis sendiri.

Ia, seorang pria ambisius yang menemukan bisnisnya di Singapura. Inilah bisnisnya Timbre Group, kelompok bisnis dimulai dari sebuah bar kecil bernama Timbre @ the Substation. Chia yang lulusan ilmu politik dan ekonomi di National University of Singapore, lebih memilih tak berkuliah kembali.

Bisnis Live Musik


Malah ia secara spontan menggunakan uang kuliahnya. Dia memilih mengerjakan bisnis musik bar bersama seorang teman, Danny Loong. Timbre Group memiliki misi sosial mengembangkan musik Singapura. Mereka membantu musisi lokal tampil dan menumbuhkan penggemar.

Edward Chia telah memulai bisnis musik sedari nol dari umur 23 tahun. Dia bersama patner bisnisnya, Danny Long, 39 tahun, kini telah sukses menjalankan 11 jenis bisnis. Bisnisnya meliputi bar, makanan dan minuman, dari cocktail bar sampai festival musik.

Dan, yang terakhir, ia mengerjakan bisnis pendidikan bernama music academy. Bisnisnya dimulai dari Timbre@the Substation, sebuah bar berkonsep live music, di umur masih 21 tahun. Dia kala itu masih berkuliah. Memulai bisnis bahkan ketika baru memulai kuliah pertama di universitas.

Chia, awalnya, kesulitan membagi waktu antara bisnis dan kuliah. Dia mengaku lebih ke kuliah sampingan (seperti hal kerja sampingan) daripada sangat serius kuliah penuh. Ia selalu melewati beberapa mata kuliah penting, kemudian mengejar pertemuan guna memenuhi absensi.

Hasilnya? Ia tidak terlalu mampu mengimbangi. Chia bahkan menyebut menyelesaikan kuliah sama seperti keajaiban. Bayangkan saja dia hanya mampu mendapatkan skor rata- ratanya dibawah 3 dari 5.

Akan tetapi, janjinya kepada kedua orang tua untuk tak berhenti membuatnya harus tetap berkuliah. Sejak itu pula, mereka, orang tuanya, sanggup menaruh harapan buta akan bisnis Timbre. Chia tak mau setengah- setengah selepas lulus kuliah.

Meski hati itu berkata akan memulai bisnis, nyatanya ia tak memilih jurusan bisnis. Ia justru memilih jurusan ilmu politik dan ekonomi, pilihan tersebut telah dipikir masak.

"Itu adalah hal yang sangat praktis, karena saya selalu merasa bahwa bisnis adalah sesuatu yang sangat nyata -anda harus belajar di jalanan dan melalui pengalaman praktis," katanya.

Apa diajarkan di sekolah bisnis hanyalah teori di matanya. Contoh mudahnya, dalam bisnis, semua hal bisa berubah sangat cepat; bisnis sekarang bisa jadi tidak sesuai besok. Prinsipnya bahwa bisnis selalu akan tumbuh karena mengikuti arah pasar bukan mengikuti jumlah lembaran buku.

Dia menambahkan bisnis masa depan mungkin belum terpikirkan hingga saatnya. Dan, kamu akan melihatnya dan bergumam tentang kenapa tak terpikirkan.

"Bagi saya, itu hanya mendapatkan dasar yang tepat. Banyak teori-teori bisnis ekonomi oleh alam, dan bagi saya yang terbaik untuk hanya menghabiskan waktu dengan bijaksana dan belajar sedikit dasar-dasar," katanya.

Berjuang dari nol


Memulai bisnis di usia muda memberikan berbagai rintangan dan tantangan. Utamanya Chia harus berdiri antara mengerjakan bisnis sambil berkuliah. Dia lalu menggunakan uang melanjutkan kuliah senilai $80.000 sebagai modal kembali.

Bukan tanpa masalah, uang tersebut bukanlah miliknya melainkan milik kedua orang tuanya. Dia harus membujuk keduanya agar mau memberikan uang tersebut. Syaratnya? Ia harus membayar $1.000 tiap bulannya dan tak boleh meminta uang apapun lagi.

Sebagai pengusaha muda, ia punya hasrat agar sukses itu cepat di tangan. Dia mulai mempekerjakan banyak pegawai lebih tua (lebih berpengalaman) darinya. "Cara saya menghadapi situasi seperti itu hanya dengan bersikap humble," dia berkata.

"Saya ikut berkerja langsung... saya melakukan segala sesuatu dari mencuci toilet, membersihkan kantor, menjalankan bar, dan kadang-kadang saya membantu di dapur juga."

Pengetahuan akan bisnis menjadi penting bagi bisnis baru. Chia selalu meluangkan waktu berdiskusi, bekerja, dan belajar dari mereka. Jika kita bersikap tulus hanya butuh waktu mereka mendekat bukanlah kebenaran, terangnya.

Melalu belajar praktik, membuat bisnisnya bisa tumbuh hingga sekarang memiliki ekosistem bisnis kuat. Di akademi buatannya, para musisi berlatih masuk ke berbagai lini usaha Timbre Group.

Mereka bisa saja masuk ke Timbre @ Old School, Timbre @ the Art House, atau Timbre @ the Substation. Mereka para "siswa" di Timbre Academy akan menunjukan kretifitas mereka di dalam bermusik.

Dan, bagi yang telah sukses akan mendapatkan jadwal mingguan. Chia bersemangat mengadakan festival musik setempat melalui Beerfest Asia dan Timbre Rock&Roots. Dia menjelaskan melalui Yahoo! Singapore bahwa bisnis ini tidaklah tentang uang.

Secara garis besar, Chia menyebut tentang menciptakan ekosistem musik di dalam tubuh Singapura. Inilah bisnis tak pernah mati. Chia menciptakan lantunan musik bar melalui berbagai nama.

Profil Timbre Group sini 

Website: Timbregroup.asia

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba