Anak Muda Berbisnis Distro Batik Hasilkan Ratusan Juta

Profil Pengusaha Hita Erlangga


pemilik distro batik
 
Namanya anak muda memiliki banyak ide mengenai bisnis. Seperti berbisnis distro batik yang lebih nampak kekinian. Dibanding membangun butik, Hita Erlangga memilih memanfaatkan internet dan konsep distro untuk memasarkan. Dia merupakan anak dari penjual batik yang sudah memiliki nama.

Suatu hari dia mengambil beberapa potong batik buat dijual. Berbekal 10 potong pakaian batik, dijual Angga kepada teman- temannya pada 2009 silam. Hasil penjualan lumayan namun tidak membuat Angga puas. Dia kemudian membuat website menamainya batikdistro.com dan mulai berjualan lagi.

Memanfaatkan Internet


Ia memanfaatkan Facebook menjaring pembeli sebesar- besarnya. Salut Angga tidak lagi bergantung kepada produk pakaian jadi ibunya. Dia mulai mendesain kaos, jaket, topi batik, dan aksesoris. Bukan jualan monoton baju- baju formal seperti kebanyakan dijual.

Hita mengarahkan usahanya berkonsep anak muda. Berbisni distro batik ini, ia mampu mengantungi omzet ratusan juta. Sasaranya mulai mereka anak muda baik laki- laki atau perempuan. Tidak kurang 1000- 2000 potong terjual setiap bulan.

Dia menjual batik- batik tersebut dengan harga murah. Biar dipercaya Angga menuliskan testomoni dari para pembeli. Ia juga membuat video interaktif untuk menarik perhatian. Tidak lupa dipasanya nama perusahaan dibawah website, tujuannya untuk menujukan bahwa usaha ini dapat dipercaya.

Detail tersebut meyakinkan pembeli bahwa ini bukan toko fiktif. Angga cekatan dalam menarik daya beli masyarakat. Melalui detail tersebut ditambah produk variatif. Angga pun tidak lupa mendirikan toko offline.

Tahun 2009, dia sebagai anak ikut membantu ibunya berjualan batik, dari pasar mengambil baju batik untuk dijual di arisan dan pengajian. Kemudian Angga mendari bahwa teman- teman sekampusnya berasal dari luar Jawa. "Saya melihat potensi ini," tuturnya.

Tidak jarang mereka pulang membeli oleh- oleh batik ke kampung. Nah kebetulan, waktu itu masih tersisa 10 potong kemeja, maka dibawanya untuk ditawarkan kepada teman Angga. Dibawalah ke kampus, untung beberapa potong laku terjual hingga balik modal.

Selepas itu muncul keinginan menjual kembali, namun dia merasa kesusahan bila harus membawa batik tersebut. Daripada dia membawa batik banyak- banyak kenapa tidak diposting. Melalui sosial media Facebook, dipasangnya foto- foto barang, yang mana teman- temannya bisa memilih bebas.

"Saya berfikir daripada bawa batik ke kampus, mending batiknya saya foto dan saya pajang di Facebook saja, biar mereka bisa pilih di Facebook," kenangnya.

Pemasaran sendiri melalui sosial media, seperti Instagram, Facebook, Line, WhatsApp, Blackberry, dan lain- lain. Dia juga menggandeng kerja sama dengan Lazada dan BliBli. Dari SMA, dia memang dikenal berjualan yang pertama kali jualan kaos geng.

Ia memanfaatkan tren kaos geng. Waktu itu kaos kelompok- kelompok tengah ramai, jadi Angga niat mendesain sendiri, lalu menawarkan desainya ke teman- teman. Termasuk ikut menyediakan seragam buat keperluan acara sekolah.

Gemar Berjualan


Angga sempat melepaskan kebiasaan berjualan selepas sekolah. Dia memilih mewujudkan cita- cita utamanya. Lulus SMA dia mendaftarkan diri ke akademi militer, namun gagal maka Angga masuk ke Teknik Pertambangan UPN V Jogja. Masuk kuliah dia melanjutkan berjualan namun tidak fokus.

Dalam acara- acara kampus dia yang menghandle kaos. Ia kemudian mencoba berbisnis online jualan batik. Waktu Semester 5, tahun 2009 bermodal punya ibunya, dia mulai berjualan menggunakan internet. Angga mengatakan Batik Distro memiliki banyak macam produk unggulan.

Salah satunya blus kantor, Batik Distro menyediakan banyak macam dengan aneka warna. Semua demi untuk memenuhi kebutuhan wajib batik setiap Jum'at dan Sabtu. Mereka berjualan dari produk batik termurah, mulai dari harg Rp.25 ribuan sampai ratusan ribu yang bebas dipilih.

Angga tinggal memasang gambar- gambarnya di website untuk dipilih. Kita seolah diajak masuk ke distro pakaian tetapi digital. Soal harga mereka mengikuti kenaikan harga kain, dan tidak masalah pembeli bisa mengerti bahwa batik memang ekslusip.

Pembeli bisa memilih dengan tawaran harga variatif didukung desain kekinian. Berkorban Angga tak sedikit lakukan demi mencapai semua ini. Termasuk ketika dia banting haluan dari pegawai tambang menjadi pedagang lagi. Kuliah 5 tahun disana mahal dan berat namun tidak dilanjutkan karir mapan.

Angga memilih menjadi pengusaha muda. Semua seolah terbayar ketika peluang menjual sampai ke luar negeri terbuka. Ia melihat prospek bisnis ini begitu besarnya sampai ekspor. Tahun 2009, awal- awal jualan dia mengenang, harus meminjam kamera DLSR demi mendapatkan kualitas gambar.

Tidak pernah sedikitpun dia menggunakan lensa kamera biasa. Kualitas foto menjadi nomor 1 bagi bisnis Batik Distro. Hampir setiap hari mereka mengupload produk baru. Barang yang dijualan harus sesuai fotonya tidak boleh melenceng.

Terakhir, layanan costumer service secara live dari jam 8 pagi sampai 12 malam. Angga pun diganjar menjadi finalis Wirausaha Muda Mandiri 2012 regional. Kemudian Dia berhasil memenangkan Sosro Youth Business Competition 2011 regional Jawa Tengah.

"Saya liat peluang, bukan kendala, teknologi makin maju cepet banget, kita harus sadar itu," tuturnya.

Ia melanjutkan bisnis harus siap menghadapi masalah apapun. Harus menguasai teknologi termasuk soal webstore dan metode pembayaran. Kita siap menggunakan berbagai macam metode, kita harus ready agar orang melihat bahwa toko kita maju dan berkembang.

Termasuk kesediaan kita melayani Cash On Delivery yang marak. Teman sesama pedagang penting buat kamu selalu termotivasi. Bahwa sembilan dari satu pintu rejeki datangnya melalui berdagang. Ia selalu mampu meyakinkan dirinya ketika merasa down.

Usaha Tas Warna- Warni Pengusaha Muda Aditya

Profil Pengusaha Aditya Rahman


pendiri tas niion
 
Ide usaha tas warna- warni bikinannya ternyata berhasil mengena. Aditya Rahman, pengusaha muda yang memang ingin berwirausaha sejak kecil. Ia merupakan cucu dari pemilik butik pakaian. Sejak itulah, mimpi mempunyai bisnis tertanam, dia pun mengusahakan sendiri membangun bisnsi dari nol.

Dia termasuk sosok nekat keluar dari pekerjaan untuk wirausaha. Tahun 2012, Aditya mengundurkan diri padahal sudah lumayan, ia merupakan pegawai desain interior di Singapura. 

"Saya tak ingin terus menerus bekerja, mengerjakan sesuatu yang diminta, karena saya mempunyai mimpi brand sendiri," tegasnya.

Mimpi Wirausaha Muda


Wujudkan mimpinya melalui bisnis brand Niion. Usaha tas warna- warni berbahan nilon. Selain di bisnis tas, Aditya juga mengerjakan bisnis wedding organizer, desain interior, dan busana muslim. Ia menyatakan ratusan juta rupiah dapat dihasilkan.

Semua bermula ketika tinggal di Singapura, ia melihat potensi berbisnis tas simple, yang banyak dipakai orang ketika disana. Ia pikir pasti orang Indonesia menyenangi tas totebag tersebut. Simple dibawa kemana- mana, tas macam ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat Singapura sehari- hari.

Apalagi dia menyadari di Indonesia belum terdapat produk sejenis. Aditya lantas mematangkan ide bisnis tersebut. Waktu kuliah dia pernah menjalankan usaha sendiri tetapi gagal. Ia pernah membuat usaha penyewaan playstation. Aditya sempat mengajak tiga orang orang bekerja sama berbisnis ini.

Dia terinspirasi mereka bertiga karena pengalaman. Aditya pun mengajak mereka kembali lantaran pengalaman berbisnis fashion. Memenuhi janji ketika mereka sama- sama mengalami kegagalan. Dia sempat berjanji akan mengajak mereka berbisnis kembali.

Bermodal uang Rp.20 juta hasil menabung setelah lama bekerja. Dia telah terlebih dahulu merintis tas Niion ketika di Singapura sejak 2012. Sepulangnya 5 Maret 2013, Aditya menghubungi ketiga orang ini, dan tancap gas memasarkan tas warna- warni berbahan nilon ini.

Diluncurkan di Bandung, pertama kali ditawarkan terbas kepada rekan- rekan kenalannya. Aditya lalu menyusuri kampusnya dulu di ITB. Aditya sendiri mengambil gelar MBA di Intitut Teknologi Bandung ini. Kebetulan kampusnya sering menyelenggarakan acara kurasi dan ramai di sana.

Aditya berjualan tas di situ dan semuanya sold out. Menurutnya semakin banyak orang mengerjakan bisnis, maka akan menghasilkan lebih cepat. Ia membuktikan sendiri. Pria asli Bandung yang baru memanfaatkan sosial media belakangan.

Dia membangun jaringan semua sosmed dari Facebook, Blackberry Messenger, dan Line. Tidak ada trik khusus hanya berjualan layaknya penjual door to door. Tidak lupa, Aditya memanfaatkan para selebriti untuk mendongkrak promosi.

"Jadi, kami meminta artis memakai Niion dan memasang fotonya di akun Instagram mereka," tutur Aditya ke pewarta.

Ia menekankan produk berdesain simple. Penekanan desan juga harus lebih menarik. Usaha tas ini juga membandrol harga lebih murah. Inilah strategi jitunya cepat masuk ke dalam pasar lebih mudah. Maklum, dia memposisikan Niion sebagai tas pilihan kedua, karena dianggapnya tidak menterang.

Tas ini lebih cocok dipakai sehari- hari atau jalan. Tetapi justru itulah mengapa Niion berkembang pesat. Mungkin karena akan mudah dijumpai dimana- mana dan dikenal. Aditya menjelaskan tim masih solit tidak bermasalah dalam pengembangan pasar.

Rekan Aditya, Rangga telah memiliki pengalaman berbisnis fashion, fokus mengatur stok agar tidak berlebihan. Lalu Tanjung, mitra lainnya, berperan sebagai desainer utama bagi brand Niion. Fungsi Tanjung mengikuti pasar, meskipun pada awalnya mereka mencoba membuat tren sendiri.

Niion sampai sekarang memiliki 20 desain tas berbeda. Mereka mengandalkan sosial media dan juga website. Aditya kemudian membuka peluang membuka gerai Niion. Perusahaannya bahkan memberi desain toko, produk, dan training bagi karyawan.

Berbisnis Lain


Aditya lantas mendirikan bisnis lain bersama istri. Bersama istrinya, beberapa tahun lalu, mereka membuat wedding conceptor, desain interior, dan busana muslim. Layaknya investasi banyak bisnis mereka kembangkan. Prinsip mereka menyebar telur dalam keranjang- keranjang berbeda.

"Sejak awal, memang saya punya rencana menjalankan beberapa bisnis berbeda," tuturnya.

Suami dari Qishitina Ghaisani, yang nampak menikmati hidupnya sebagai pengusaha muda. Sejak awal dia menekankan konsep menggandeng rekan. Para petner inilah yang ikut memikirkan sekaligus ikut menanam modal.

Tujuannya menanam modal biar mereka ikut bertanggung jawab. Aditya juga menciptakan budaya memiliki perusahaan. Walaupun begitu, Aditya tetap pemilik saham terbesar, bukan berarti menjadi sewena- wena tetapi menjadi lebih startegis mengembangkan bisnis.

Keputusan tertinggi tetap diputuhkan Aditya mengenai masa depan. Namun setiap keputusan akan dibicarakan dalam rapat pemegang saham. Perusahaan Aditya tergolong ramping hanya memiliki 18 karyawan. Aditya memproduksi 4000 sampai 5000 tas untuk memenuhi permintaan.

Ia memanfaatkan pemasok untuk produksi tas. Aditya sengaja melakukan itu agar lebih fokus kepada penjualan. Total 10 vendor mengerjakan tas Niion untuk dipasarkan.

Menjadi pengusaha merupakan impian semenjak masih kecil. Kepuasan mencapai posisi sekarang dia tidak bayangkan. Ya pengusaha memang menanggung resiko besar. Inilah tantangan yang Aditya nikmati, hidupnya lebih seru dan penuh tantangan.

Meskipun telah memiliki pekerjaan mapan, memiliki latar belakang berbeda dari bisnis, Aditya tidak merasakan penyesalan. Ia sejak kecil memang ingin menjadi pengusaha. Bahkan ketika SMA, ketika masa remaja, ia malah berjualan ketimbang bermain bersama teman- teman.

"Dulu, saat SMA, saya jualan baju dan yogurt di sekolah," kenang Aditya.

Aditya memang memiliki ketertarikan akan produk tas. Pengalaman membekas ketika masa kuliah berbisnis playstation. Ini bangkrut lantaran salah pengelolaa. Semenjak itulah, Aditya bertekat tidak mengerjakan sendiri, jika punya usaha maka rekrutlah orang- orang berpengalaman.

Walaupun tidak sejurus, latar pendidikan di bidang perencanaan memegang peran. Bahwa dia mampu menjalankan banyak bisnsi sekaligus. Dia benar- benar matang menjalankan bisnis- bisnisnya. Aditya mengajak tiga patner buat memikirkan bersama kemajuan perusahaan.

Demikian pula tiga bisnis yang dikerjakan bersama istrinya. Bukan perkara mudah, pria kelahiran 28 September 1985 ini, akan mendapatkan masalah bertumpuk bila tidak terselesaikan. Kebiasaan buat berpikir dan bekerja multi- tasking telah ia kembangkan.

Sejak kuliah dirinya terbiasa mengerjakan sesuatu bersamaan. Keahlian ini telah ditempa pula ketika menjadi aktivis kampus. Ia melakukan kordinasi banyak kegiatan himpunan mahasiswa. Kunci sukses menjalankan banyak bisnis: Dia memilih tidak menunda menyelesaikan satu permasalahan.

"Yang penting, ada patner yang bisa menggantikan di usaha lainnya," tutupnya.

Tomura Pijat Syariah Buka Waralaba Murah

Profil Pengusaha Pijat Adam Nova


waralaba pijat syariah

Pernah mendengar nama waralaba pijat syariah. Ide bisnis bisa muncul dimana dan kapan saja. Ini kisah pengusaha Adam Nova, idenya muncul begitu saja tanpa direncanakan. Kisah ini bermula tahun 2010, ketika Adam tengah asik dipijat di suatu tempat pijak refleksi di Jawa Barat.

Saat dipijat tersebut sempatlah terpikir bertanya seputar bisnis pijat- memijat. Dia memulai bertanya kepada sang terapis siapakah orang dibalik bisnis pijat memijat ini. Alhasil dari sang terapis itu didapatlah nomor telephon sang pemilik.

Keduanya kemudian berjanji saling bertemu dan berbicara. Kemudian Adam mengutarakan niatnya agar bisa membuka usaha sejenis. Singkat cerita sang pemilik bisnis pijat setuju membantu. Ia setuju membantu dalam pemenuhan SDM, peralatan, sewa tempat, dll.

Menasionalkan Syariah


Adam secara total mengeluarkan modal uang 75 juta rupiah. Mulailah ia berpikir bagaimana caranya membuat bisnis pijat dengan konsep berbeda. Karena tempat pijat selalu dikaitkan tempat esek- esek, maka lahirlah konsep pijat syariah. 

Berbekal konsep syariah inilah, Adam mencoba membuat pelanggan yang memang lelah serta letih merasa nyaman. Dimana klien laki- laki akan dilayani oleh terapis laki- laki, sedangkan untuk perempuan terapisnya juga perempuan. Keduanya akan dipisahkan tempat pijatnya.

Bisnisnya meliputi pijat tradisional, refleksi, pijat tradisional, totok wajah, lulur dan totok langsing. Setelah sistem itu terbangun barulah ia merencanakan anggaran biaya. Adam telah menghitung biaya awalnya ada 75 juta.

Ditotal biaya lain seperti sewa tempat dan lain- lainnya, total investasinya naik menjadi 150 juta. Darisana Adam berpikir menutupi sisa biayanya melalui sistem kerja sama, atau nantinya bermitra dengan orang lain.

Dia pun mendatangi seorang investor manawarkan pembagian saham 50%. Jadi jika bisnisnya ini telah berjalan dan untung besar maka labanya akan dibagi senilai aset (50-50). Investor tersebut cukup menyetor uang senilai 75 juta.

Dia kemudian mendatangi si pemilik pijat sebelumnya. Dari dialah tempat pijat bernama Tomura Pijat Syariah itu resmi memiliki satu outlet resmi. Outlet pertamanya dibuka di kota Garut, Jawa Barat, dengan omset 30 jutaan per- bulan dimana profit 40% atau sekitar 12juta.

Dari profit 12juta tersebut disharenya ke investor pemilik 50% saham sebesar 6jt. Setelah dia mengerti seluk- beluk bisnis pijat, sekarang dia kembangkan sendiri tanpa bantuan si pemilik pijat pertama yang mebantuinya.

Dia lakukan sendiri saja. Setelah berjalan setahun, saat ini dia sudah punya 6 cabang, 2 punya sendiri dan 4 bersistem mitra bagi hasil 50:50. Dia membuktikan untuk punya bisnis gak perlu modal sendiri dan gak perlu ahli, terbukti sampai sekarang dia gak bisa mijit; tapi punya banyak karyawan yang ahli mijit.

Siapa bilang pijat tidak bisa diwaralaba? Nah, ada kabar nih, Tomura Pijat Syariah telah membuka bisnis konsep waralaba.

Dengan misi dan visi agar menyebarkan berbasis syariah. Tomura Pijat Syariah berniat kerja keras melebarkan sayap hingga ke penjuru Indonesia. Dari blog Tomurapijatsyariah.blogspot.com, Adam siap menawarkan dua konsep waralaba.

Yakni Paket A dimana waralaba memiliki total investasi hanya 25 juta dengan layanan 5 orang karyawan untuk dilatih, krim pijat, krim lulur, krim pijat langsing, seragam karyawan, kartu nama dan standard operasional.

Paket B akan senilai 75 juta, dengan rincian terapis profesional (terapis dari pusat), kursi refleksi, dipan pijat, meja keci, seragam karyawan, krim lengkap, standard operasional.

Adam juga menawarkan paket tambahan berisi bantuan survey lokasi, pengadaan therapist yang profesional, menyediakan bahan baku cream pijat dan lulur, melakukan kegiatan promosi nasional, dan pendampingan usaha.

Pewaralaba nanti cukup mengerjakan hal yang wajib seperti mengajukan usulan lokasi, melakukan pengawasan.

Oh ya, pewaralaba juga diwajibkan membeli bahan krim dari pusatnya, bertanggung jawab atas pendapatan, bertanggung jawab atas sewa tempat, dan melakukan promosi sendiri sepanjang 1km- 10km. Sisanya kamu bisa mengambil untungnya penuh. Untung kan?

Info cabang saat ini:

Kuningan
- Jl. Siliwangi No. 86 Cijoho Kuningan  Tlp. 0232 9215525 / 082127658555
- Jl. Pramuka No. 92 Kuningan Tlp 0232 9215525
- Jl. Raya Jalaksana No. 64 Tlp. 087723875645 / 082120924645

Garut
- Jl. Cimanuk No. 140 Jayaraga Tarogong Garut Tlp. 0262 9184555 / 081313621888
                                                                              
Tasikmalaya
- Jl. Ibrahim Adji No. 142 Indihiang Tasikmalaya Tlp. 082120111080

Cirebon
- Jl. Sultan Ageng Tirtayasa No.288 Kedawung Hp. 082121104104


Kontak:

Adam Nova.,CHt
Jl.Pramuka no.96 Kuningan
No Hp: 081802037981
Pin BB: 28C88518
Blog: http://adam-nova.blogspot.com
Twitter: @adamhl

Oscar Lawalata Sang Fashion Desainer Terkemuka

Biografi Desainer Pengusaha Kultur



Bernama lengkap Oscar Septianus Lawalata atau lebih dikenal Oscar Lawalata. Sang fashion desainer kelahiran Pekanbaru, Riau, 1 September 1977. Dia anak pertama dari pasangan Ragnild Antoinette (lebih dikenal sebagai Reggy Lawalata) dan Alexander Polii.

Saudara laki- lakinya, Mario Lawalata, dikenal sebagai sosok pemain sinetron terkenal. Oscar memang telah menunjukan sisi feminimnya sejak kecil. Pria yang berdarah campuran Jawa- Ambon- Manado ini lebih sering bermain dengan anak perempuan.

Karena itu, meskipun ia pandai bermain basket tetaplah menjadi olokan karena sifat feminim itu. Pembawanya memang gemulai, kulitnya halus, alis mata yang bagus dan bibirnya merah alami, membuatnya lebih diolok- olok oleh teman sebayanya.

Minat dan Bakat


Meskipun begitu Oscar bukanlah anak cengeng; ia selalu melawan ketika dirinya mendapatkan perlakuan tak baik. Prinsip tersebut ternyata diajarkan oleh sang ibu yang akhirnya merasuk ke dalam dirinya; selama tak salah, ia harus berani membela diri.

Ia tumbuh menjadi anak tahan banting di kehidupan sehari- hari, meski terkadang kenyataan memang sulit. Ibu Oscar, Reggy Lawalata, yang memilih bercerai serta membawa kedua anaknya dalam pengasuhannya.

Dia harus menjadi orang tua tunggal untuk Oscar dan adiknya yang masih dibawah umur. Reggy pun pontang panting menghidupi dua buah hatinya itu. Ia menjahit cempal pegangan panci sampai tengah malam untuk dijual seharga lima ratus rupiah sepasang.

Reggy pernah berjualan gado- gado dan es cendol, menjadi sopir bus sekolah, bahkan menenteng tas besar berisi barang kreditan ke rumah teman- temannya. Ia tak malu menawarkan barang di tempat arisan. Bahkan sambil Reggy menuntun Oscar dan Mario, semua dilakoninya.

Kehidupan sang ibu, membuat Oscar membuat dirinya kuat meski tau dirinya berbeda. Sifat feminimnya itu ternyata membawanya ke dunia fashion desainer. Dia tau betul apa bakatnya tersebut. Oscar mampu menyelami perasaan wanita berkat kepekaan, lahirlah karya- karya mengagumkan.

Berbekal bakat menggambar yang dimilikinya, Oscar mulai meniti mimpinya dengan bersekolah di Esmod, Jakarta. Program pendidikan seharusnya tiga tahun, hanya dijalani separuhnya saja. Oscar kemudian memilih berhenti sekolah saat terjadi krisis moneter tahun 1998.

Uang sedianya untuk biaya sekolah di Esmod, digunakan untuk membuka usaha sendiri. Meskipun belum menyelesaikan studinnya, jiwa wirausaha begitu kuat dibenaknya. Itu berawal dari kisah persahabatannya dengan seorang model, Novie yang dikenalnya mengikuti lomba model di majalah remaja ketika SMA.

Bersamanya yang sudah dianggap sebagai kakak, Oscar mulai memasuki dunia fasion dan mode Indonesia. Lantas bersama pacaranya, yang disapa Mas Awi, di EO (event organizer) nya, Oscar sering mendapatkan banyak pekerjaan sebagai show director.

Oscar dan Novie baru mencetuskan ide membangun butik di tahun 1997. Berkata pengalaman serta tekatnya keduanya mantap mengerjakan bisnis ini. Oscar bekerja sebagai pengelola, sedangkan Novie bertugas sebagai sang investor.

Mereka berkolaborasi dan membuka butik dengan nama Ne' Tes di Jalan Senopati, Jakarta. Itu cuma butik sederhana dibandingkan apa yang didapatkan Oscar sekarang ini. Meskipun sederhana, ia tetap telaten mengerjakan bisnisnya.

Bagian depan dijadikan tempat memajang baju- baju rancangan Oscar, sementara bagian belakangnya untuk tempat jualan barang interior, seperti kain-kain tenun dari Jawa Barat atau sofa dan lain-lain.

Walaupun tanpa promosi besar- besaran bermodal marketing mulut ke mulut saja, butik Ne' Tes berkembang cukup pesat. Tahun 1998, ia mengeluarkan produk tas dari bahan bulu. Ternyata sembutannya sengat baik bahkan hingga menjadi tren se- Jakarta.

Setelah pecah kongsi dengan rekannya Novie, Oscar mulai lagi membangun kerajaan fashionnya sendiri. Dengan bendera merek Oscar Oscar bisnisnya menjual pakaian siap pakain, yang dijualnya berkisar Rp.200 ribu per- potong.

Setelah semakin berkembang, ia mulai membuat gaun malam seharga Rp.1,5 juta bermerek Oscar Lawalata. Sebagai awalan berbisnis ini, dia musti mengumpulkan modal dulu, oleh karena itu ia tak malu mengambil pekerjaan non- fashion.

Ia pernah membuat rancangan seragam bagi karyawan di department store seperti Matahari. Lalu merancang seragam maskapai penerbangan Merpati, seragam perusahaan telekomunikasi, Telkomsel. Semua dilakoninya meski terlihat tak berkelas macam butik.

Namun, siapa sangka sejak itu, butik miliknya semakin berkembang, hingga ibunya mulai ikut turun tangan yaitu membantunya dalam hal urusan administrasinya. Pada tahun 1999, Oscar mengikuti lomba desain di Singapura dimana menjadi ciri khasnya sekarang.

Dia, kala itu, membuat rancangan yang terinspirasi baju Bodo, khas Sulawesi Selatan. Ia mengaku memang menyukai keindahan dan keunikan kultur Indonesia. Dia sukses membawa budaya dari Indonesia ke pentas dunia.

Berkat rancangan yang unik membawanya menjadi pemenang ajang di Singapura. Oscar meraih juara kedua ASEAN Young Designer Contest, Singapura. Namanya kian melejit hingga profil dirinya ditulis di berbagai media cetak seperti halnya Kompas.

Menurut Oscar, rancangan miliknya muncul disaat tepat ketika gaya hidup Kota Jakarta sedang berkembang. Saat dunia gemerlap kota metropolitan muncul, dirinya telah siap bercokol. Selanjutnya, di tahun 2000 an, dia mulai giat mengadakan fasion show dimulai dari kafe- ke kafe.

Hampir seluruh kafe di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, acara grand opening-nya selalu diisi dengan pagelaran. Pergaulannya pun semakin luas. Ia banyak berkenalan dengan kalangan selebriti dan orang-orang kreatif lainnya.

Di dunia video klip juga mulai muncul nama Dimas Jayadiningrat dan Rizal Mantovani. Lewat sosok- sosok mereka lah, baju- baju rancangannya mulai sering dipakai di video klip.

Rancangannya telah dipakai artis- artis wanita yang tengah menanjak saat itu seperti Titi DJ dan Penyanyi, aktris Krisdayanti. Di usia belum genap 30 tahun, dia berhasil masuk jajaran 'desainer mahal', yang menawarkan tiga label utamanya: OscarOscar Couture, Oscar Lawalata etnik, dan OscarOscar ready to wear.

Ia juga jeli melihat peluang pasar di dunia fashion pada khususnya. Antara lain dengan menggarap seragam perusahaan besar dengan label khusus, Oscar L. for Uniform.

Tidak melulu tentang pakaian bermotif- motif. Dua kali setahun ia menunjukkan tren secara luas pada acara model kalender dan kreasi yang ditemukan di sejumlah majalah fashion dan banyak fitur iklan di televisi serta video klip musik.

Oscar juga berkonsentrasi di pengembangan nasional tenun tekstil sebagai warisan budaya Indonesia melalui label Oscar Lawalata Couture. Pada Februari 2009, Oscar lantas meraih penghargaan International Young Creative Entrepreneur (IYCY) yang digelar British Council.

Dia berhak atas hadiah uang sebesar 7.500 Pounsterling. Kompetisi internasional yang rajin digelar sejak 2005 itu diikuti 115 perancang dari 47 negara di Asia, Afrika, Eropa Tengah, Timur Tengah dan Amerika Latin.

Dalam ajang tersebut, Oscar berhasil menyingkirkan perancang- perancang muda lain dari banyak negara, seperti Brazil, India, Polandia, Arab Saudi, Srilangka, Thailand, Tunia dan Vietnam.

"Saya merasa senang bercampur sedih, haru, dan merupakan suatu kehomatan bagi dunia mode di Indonesia," ujar Oscar, seperti dikutip di situs Surya.co.id.

Banner Bekas Dijadikan Tas Kisah Pengusaha Gita

Profil Pengusaha Gita Riska


 
Gita Riska memiliki pandangan mengenai berwirausaha. Banner bekas dijadikan tas kemudian dijual dan ternyata laku. Ditangan dinginnya kain bekas tersebut dijahit cantik. Dipola membentuk tas yang berwarna- warni namun serasi. 

Bisnis kerajinan tas yang dimulai pada 2014 ini mendapatkan respon positif. Masyarakat Palembang menyenangi tas bikinan Gita. Pesan mulai dari yang kecil sampai besar dia terima. Pesanan termasuk dari acara khusus seperti souvenir pernikahan. Baru dua bulan dia memakai bahan banner tersebut.

Tas berbahan baner dijual seharag Rp.35 ribu sampai Rp.150 ribu. Bentuk tasnya beragam jenis dari waist yang disenangi semua kalangan, tas tangan, dan selempang. Gita mengakui semakin rumit dan bermotif unik maka akan semakin mahal.

Pertama kali dia menggunakan sisa baner milik usaha sang suami. Karena pembeli banyak, maka tak jarang dia menyasati. Termasuk Gita menyasar baner- baner bekas calon legislatif dulu. Menurutnya, lebih baik dijadikan tas, daripada menjadi polusi pemandangan karena sudah lama tidak terpakai.

"Sembari berbisnis, saya juga ingin mengampanyekan gaya hidup minim sampah," Gita menjelaskan kepada Tribunnews.com

Semakin banyak pesanan dia tidak segan meminta bantuan. Masyarakat bebas memberi atau menjual baner bekas yang dimiliki. Pernah nih dia mendapatkan pesanan sampai 100 tas buat souvenir. Diakui Gita buat Palembang, bisnis berbahan baner bekas memang belum dikenal masyarakat.

Kalau diluar negeri malah lebih terkenal dibanding dalam negeri. Ia pun menyadari bahwa semua karena masyarakat kurang sadar lingkungan. Namun orang kesini semakin sadar bahwa bahan plastik sulit terurai.

Bisnis sepertinya sangat dianjurkan diperbanyak. Ini sangat bermanfaat membuat bumi lebih baik dan nyaman.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba