Resep Usaha Sosis Tempe Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Ayu Safitri


usaha sosis tempe
 
Bisnis ini memiliki prospek tinggi bagi para vegetarian. Resep usaha sosis tempe pengusaha muda ini meyakinkan kita. Pasarnya spesifik karena selain umum, juga menjangkau mereka yang pantangan makan daging. Sosis tempet ini bisa dibuat sedemikian rupa sehingga rasanya mirip daging sapi.

Soal prospeknya pengusaha ini menghasilkan Rp.30 juta perbulan. Sosis memang memiliki banyak penggemar. Dengan menggunakan bahan tempe menjadi premium dimata vegetarian. Alhasil wanita bernama Ayu Safitri ini sukses besar, dengan bisnisnya bernama The Sozzis, apa yang bisa dipelajari.

Selama ini kita hanya mengenal bahan daging sapi atau ayam. Kemudian bermunculan produk olahan berbahan tempe. Dulu kita mengenal stik tempe, rasanya pun bisa menjadi enak layaknya daging sapi, kedelai bahan dasarnya menyerap dan menahan air, berdaya serap, membentuk gel dan bersifat pengental.

Indonesia merupakan produsen tempe terbesar, menjadi pasar kedelai terbesar di Asia, maka prospek sosis tempe sangat menjanjikan.

Ayu Safitri, pemilik bisnis The Sozzis, apa resep usaha sosis tempe pengusaha muda ini sampai bisa sesukses sekarang. Dia menyebutkan ialah proses yang lama dan komplek. Prosesnya meliputi cara pengasapan, tujuannya agar tahan lama, menghasilkan rasa khas, mencegah oksidasi, dan awet lama.

Selepas diasapi maka sosis tempe dibungkus dengan plastik kedap udara. Tujuannya agar tidak ada organisme yang masuk merusak. Ayu mencoba betul mengemas sosisnya sebagai makanan layaknya sosis biasa. Jadi tidak ada lagi kesan bahwa makan tempe itu untuk mereka kelas menengah kebawah.

Harga jualnya murah kok cuma Rp.2000, dan Ayu menjualnya sampai 500 potong The Sozzis setiap bulannya. Dia menghasilkan omzet Rp.30 juta per- bulan, dengan cakupan pasar Jogja, Semarang, Malang, Surabaya dan Jakarta.

Bos Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo

Profil Pengusaha Kartika Wirjoatmodjo


 
Bos Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo yang orang biasa. Dia seperti kita memulai karirnya dari bawah. Dikisahkan Kartika kecil terlahir dari keluarga pekerjaan Dokter, yah, dan akhirnya paling dia akan bekerja menjadi Dokter kelak tapi tidak. Kedua orang tuanya Dokter bekerja di Rumah Sakit Surabaya.

Walaupun bekerja sebagai pekerjaan mapan, toh keduanya tidak hidup berlebihan, justru kehidupan mereka dipenuhi kesederhanaan. Mereka lebih memilih mengabdik kepada masyarakat dari sekedar komersil. Alhasil sosok Kartike lebih down to earth, yang mana kedua orang tuanya mengajarkan sosial dahulu.

Mereka mengajarkan bahwa integritas diatas. Apapaun pekerjaanya nanti Kartika harus jadi sosok itu. Hidupnya harus sederhana, membuka diri, dan berintegritas tinggi. Ketika kecil ia termasuk sosok anak pintar, ketika SMA masuk jurusan IPA, yang dilanjut kuliah jurusan Teknik pada 1991.

Tetapi ketika melihat secarik iklan masa depanya berubah. Dia tak jadi berkuliah di teknik, lantaran secarik iklan menggugah hatinya untuk berpindah. Universitas Indonesia (UI) menawarkan promosi pendaftaran di jurusan ekonomi. Iklan itu berisi kisah- kisah sukses di Jurusan Ekonomi, Universita Indonesia.

Perjuangan Direktur Bank Mandiri


Mereka menyodorkan para alumni yang jadi Menteri dan gubernur Bank Indonesia (BI). Alhasil ini mengangkat derajat jurusan ekonomi dimata Tiko. Ia terilhami oleh iklan tersebut untuk masuk ke jurusan ekonomi. Tahun 1991, dia mendaftar diterima di jurusan tersebut, yang berlokasi di Salemba, Jakarta Pusat.

Setahun kemudian tempat kuliahnya lalu pindah ke Depok, Jawa Barat. Bos Bank Mandiri Kartika Wiroatmodjo, pria kelahiran 18 Juli 1973, yang mengakui kemegahan Jurusan Ekonomi, Universitas Indonesia. Staf pengajarnya saja masih bekerja pejabat aktif, CEO BUMN, dan Direktur perusahaan swasta.

Bos Bank Mandiri ini merasakan betul dorongan untuk berpartisipasi. Perasaan Kartika tumbuh untuk ikut bekerja seperti di Pemerintahan atau BUMN. Jurusannya itu membuka pandangan lebih luas untuk berjuang. Dia melihat kesuksesan mereka itu nyata, menguatkan keputusan mengambil jurusan teknik.

Tiko memilih berkuliah di jurusan ekonomi mengejar kesuksesan. Baginya kala itu sebagai salah satu mahasiswa UI, kesuksesan itu begitu nyata di depanya seketika. Dikala berkuliah di sana, dirinya ingat betul sosok seperti Sri Mulyani, Darmin Nasution, Chatib Bashir, dan Bambang Brodjonegoro masih aktif.

Sosok- sosok fenomenal di bidang ekonomi dan keuangan itu masih berkuliah. Ia ingat betul ajaran para Dosen yang mendorongnya. Tiko ingin berkontribusi besar di bidang ekonomoi untuk negara. Ini mungkin sudah suratan takdir yang membawanya, sosok ini ke depannya masuk ke dalam dunia keuangan.

Dia bermimpi bekerja di perusahaan multinasional BUMN. Tekadnya begitu kuat hingga berkuliah dengan penuh semangat. Namun harapan itu belum lekas terwujud selepas berkuliah di Universitas Indonesia. Tiko harus melewati rangkaian jenjang karir panjang, yang pertama ialah bekerja menjadi konsultan.

Inspirasi Bos Bank Mandiri Soal Karir


Tahun 1995- 1996, awal karirnya di bidang konsultan pajak RSM AJJ, karirnya sebagai konsultan itu tidak berlangsung lama. Pada 1996, Tiko malah bekerja di perusahaan industri, ya walaupun akhirnya dia kembali berhenti dari sana.

Berselang dua tahun, di 1998, bos Bank Mandiir ini awalnya bekerja sebagai konsultan keuangan dan auditor di perusahaan PricewaterhouseCooper (PWC). Di PWC menurutnya di Kontan, hanya sampai tahun 1999, lalu dirinya bekerja sebagai konsultan senior The Boston Consulting Group pada 2000 -an.

Ini membentuk skill profesional sosok Kartika Wirjoatmodjo ke depan. Ingat, awal 1998, Indonesia terkena krisis moneter dan ekonomi. Ini semakin meyakinkan publik akan kemampuan manajemen dari Tiko. Dari bekerja sebagai analisa penyaluran kredit PWC, ditugaskan sebagai restrukturisasi kredit.

Ada banyak perusahaan yang membutuhkan skillnya di restrukturisasi. Ia mengatakan pengalaman di dunia korporasi berbeda. Tiko tak menemukan semua itu ketika berkuliah fakultas ekonomi. Bahkan ia ingat betul, di kuliah diajari analisa dan kemampuan jasa keuangan, bukannya bekerja menutup bank.

Untuk meningkatkan kemampuan di bidang perbankan, Tiko tak segan melanjutkan kuliah bahkan sampai ke luar negeri. Kartika melanjutkan kuliah di Belnda, pada 1999, mengambil gelar master di bidang Master of Business Administration di Eramus University, Rotterdam, Belanda.

Bekerja di Boston Consultan, dia sempat ditarik menjadi konsultan Bank Mandiri selama 2,5 tahun, dan akhirnya bergabung dengan Bank Mandiri 2003. Di bank plat merah inilah karirnya merangkak justru dari nol. Usianya belum genap 30 tahun, dia diangkat jadi Kepala Departemen untuk proyek training.

Ketika bekerja di Bank Mandiri, karirnya melesat dengan prinsip profesional, jadi cara pandangnya berkembang luas. Baginya ia harus mampu mengembangkan interpersonal skill dulu, membangun yang namanya kerja sama dengan orang lain. "Membangun kepercayaan orang lain itu tidak mudah," tuturnya.

Karir Bank Mandiri Menanjak 


Dia termasuk orang yang cepat belajar dan mudah adaptasi. Alhasil pekerjaannya di Bank Mandiri lebih cepat selesai, begitu pula karirnya yang menanjak terhitung cepat. Dia menyebutkan pekerjaan yang dijalankan meliputi internal dan eksternal. Tahun 2005, Tiko diusia 32 tahun sudah diangkat jadi Senior Vice President.

Tiko termasuk pejabat BUMN termuda dalam jenjang karir tinggi. Biasanya bankir usianya antara 45- 50 tahun, kalau sekarang sih dia termasuk yang senior. Jika pegawai sepantarannya sudah masuk pensiun maka Kartika tidak. Dia bahkan dipercaya untuk membantu BUMN ini mengurusi anak usaha.

Karirnya masuk ke PT. Mandiri Sekuritas, diangkat sebagai Managing Director pada 2008 silam. Ia lalu diangkat menjadi CEO PT. Indonesia Infrastructure Finance (IIF), yang mana tengah menghadapi masalah komplek, oleh Menteri Keuangan kala itu Agus Martowardojo.

Ia mampu meyakinkan Bank Dunia, ADB, dan badan internasional lainnya. Tiko dikenal mampu mengurusi dari urusan legal sampai keuangan. Tidak mudah baginya untuk menegosiasi hutang luar negeri milik negara, tetapi dia termasuk pekerja keras, profesional, dan tidak ada yang sia- sia untuk itu.

Karirnya kemudian masuk ke lingkungan baru yakni pengawasan. Di LPS, Tiko menjabat sebagai Kepala Eksekutif, yang ditunjuk oleh Chatib Basri untuk membenahi Bank Mutiara (eks- Century). Sekali lagi, dia berhasil menangani masalah, yakni sukses menjual Bank Mutiara itu ke Bank J Trust Indonesia.

Siapa Pembuat Aplikasi FaceApp Viral Age Challenge

Biografi Pengusaha Yaroslav Goncharov


viral faceapp siapa penemunya

Jagat sosial media dihebohkan dengan viral Age Challenge. Tetapi siapa sih entrepreneur pembuat aplikasi FaceApp ini. Namanya Yaroslav Goncharov, pendiri sekaligus eksekutif perusahaan yang bernama Wireless Lab, yang semenjak awal membuat aplikasi sudah mendapatkan viral dan respon dunia.

Awalnya dia membuat aplikasi bernama "Spark", yang memiliki konsep merubah ras kita dari orang kulit hitam jadi Eropa. Namun ini menimbulkan perdebatan etika karena menyinggung SARA. Maka Yaroslav memutuskan mencabut fitur ini, tetapi apakah mengahalingnya berkreasi lagi.

Ternyata tidak dia mengembangkan sesuatu berdasarkan fokusnya. Ia bersama perusahaannya yang memang fokus pada Neural Network, yakni kemampuan digital untuk memetakan sistem neural pada fisik manusia.

Ini akan menyebabkan kemampuan mengaltering fisik seseorang. Dari yang awalnya merubah orang berdasarkan ras atau suku. Kemudia dia mengembangkan berdasarkan usia dari jaringan wajah kita. Pengaplikasinya sangat mudah, hanya melalui pemetaan pada wajah kita untuk diprediksi seperti apa kita.

Namun, lagi- lagi masalah bermuncula, respon negatif masih berlanjut tetapi kali ini mengenai hal perlindungan privasi. Bayangkan perusahaan Yaroslav menyimpan data wajah penduduk dunia. Itu mungkin bisa disalah gunakan seperti untuk membuat KTP palsu mungkin.

Startup Asal Rusia


Secara tegas pihak FaceApp memberika Term of Service, meliputi mengingatkan bahwa teknologi ini membuka wajah anda ke publik. Tidak hanya itu tetapi juga menjalar ke sosial media anda, dan juga segala terknologi yang terkait atas foto publik milik anda nantinya.

"Kamu akan mendapatkan FaceApp dengan satu layanan tak terbatas, tidak ekslusip, gratis tanpa royalti, global dunia, dibayar penuh (gratis premium), lisensi transfer untuk digunakan, mofikasi, adaptasi, mempublis, menciptakan kekayaan untuk distribusi di platform gratis dan menampilkan username kamu..."

Kamu akan diberikan akses untuk membagi foto anda ke manapun. Itupun tanpa biaya dan ke media macam apapun. Dari yang semula menghadirkan aplikasi merubah ras, yang kemudian dicabut karena kritik tajam, fokus Wireless Lab masih terus dilakukan dalam hal sistem pemetaan neuron wajah.

Tahun 2019 ini, pihaknya mendapatkan kritik kembali, apalagi dengan isu pihak Rusia yang dikenal canggih dalam mata- mata. Untuk merespon ini, pihak perusahaan mengluarkan pernyataan bahwa semua data wajah, akan ditransfer ke Google Cloud dan Amazon Web Service bukan ke pihak Rusia.

Dalam infonya di Wikipedia FaceApp, dijelaskan bahwa siapa pembuat aplikasi FaceApp ini, adalah sosok pekerja keras. Dalam biografi pengusahanya singkat ia tumbuh di St. Petersburg, Rusia, yang menyelesaikan sekolah di Academic Gymnasium of St. Petersburg State University, hingga berkuliah.

Akhirnya dia berkuliah di St. Petersburg State University, dengan mengambil jurusan matematika dan mekanik. Ingin belajar lebih banyak dia berangkat ke Amerika, dan mendapatkan pekerjaan dari Microsoft, dan tinggal selama 2 tahun.

Dia akan bekerja seharian bekerja sebagai teknisi Microsoft. Seharian dirinya menulis kode untuk sebuah bot. Pada akhirnya Yaroslav tertarik bekerja untuk bidang analisis neural. Pada 2016, dia memiliki ide memproses teknologi foto, yang mana akhirnya membuka bisnsi FaceApp ke depan.

FaceApp Viral Age Challenge


"Saya bekerja untuk Microsoft di Redmond, US, dan di malam hari saya menulis kode untuk sebuah bot yang mana bisa bermain poker sendiri. Sistem Nueral hanyalah bagian terkecil dari bagian bot ini -pada waktu itu, belum ada yang menemukan solusi untuk neural network ini."

Kemudia dia bekerja di berbagai bidang mengasah skillnya bidang IT. Dia fokus pada pembelajar dalam analisa suara. Kemudian pada 2016, perkembangan analisa foto meningkat, sehingga dia ingin mengerjakan hal tersebut. Tahun 2006, dia mendirikan SPB Software yang mengembangkan mobile app.

Pada 2011, SPB Software dibeli oleh perusahaan Yandex, yang mana dijual sampai $38 juta untuk perusahaan multinasional bidang internet ini. Mengenai sistem Neural Network ini, yang dapat dia jelaskan sebagai memudahkan penerapan otak manusia dalam digital.

Dia ingin menciptakan simulasi neuron otak manusia, yang menganologi otak manusia dalam belajar, artifical intelligance, cybernetic, dan lain- lain. Yaroslav telah mengerjakan semuanya ini selama 10 tahun. Pada 2018, Wireless Lab dari St. Peterburg ke Skolvo, atau Silicon Valley nya negara Rusia.

Bahaya FaceApp mungkin sudah dibahas banyak dalam banyak berita online. Namun apapun itu, faktanya bahwa jaman sekarang semua terbuka, FaceApp hanya kecil dibandingkan teknologi sosial media yang sama- sama mengakses privasi kita, mulai foto, alamat, nomor hp, bahkan mentracking itu.

Istilahnya sudah terlambat untuk mengatakan FaceApp berbahaya. Isu mengenai Rusia yang punya teknologi canggih, dimana mereka mampu merubah hasil pemilu Amerika itu kuno. Teknologi foto telah melampaui jauh apalagi ketika smartphone menawarkan aneka teknologi selfi, ini bukan lagi perhatian.

Wirausaha Kopi Ngada Vinsensius Loki Berjaya

Profil Pengusaha Vinsensius Loki


pengusaha kopi ngada


Pengusaha ini tidak menyerah wirausaha kopi Ngada. Walaupun ia sempat ditolak warga Kab. Ngada, Kepulauan Flores, NTT. Pasalnya mereka telah nyaman dengan usaha mereka yang dulu. Bayangkan kala itu harga biji kopi dibawah standar lokal. Mereka cuma mampu menjual Rp.300 ribu kurang per- kg.

Bandingkan dengan usaha setempat yakni produksi biji vanili. Para petani mampu mengantungi Rp.1, 5 juat per- kg. "Bahkan, ada petani yang bisa membeli mobil baru dari hasil jual vanili," ucapnya. Namun Vinsensius Loki tidak mau menyerah, edukasi bertahun- tahun dilakukan walaupun ada saja masalah.

Bayangkan ada banyak tengkulak yang membeli murah biji kopi. Yang masih merah bijinya cuma dijual Rp.600 per- kg dan kering Rp.8000 per- kg. Banyak orang menolaknya untuk menggiatkan biji kopi Ngada. Ia sendiri bukan tanpa alasan, prospek kopi dipandang akan berkembang ke depannya.

Pengusaha yang meyakini kopi Arabika Bejawa memiliki  daya saing tinggi. Ia termasuk yang nekat menerpa badai di tahun 1999 itu. Karena faktanya baru tahun 2000 -an kopi menjadi populer, dan beruntungnya memasuki tahun 2003, harga vanili Ngada turun dan kehilangan masa keemasannya itu dulu.

Mengedukasi untuk Wirausaha Kopi


Desanya Beiwali dikatakan sangat cocok ditanam kopi. Khususnya kopi Arabika, karena lataknya diatas permukaan laut. Tinggi desa Beiwali sekitar 1.400 meter diatas permukaan laut. Kopi Arabika dikenal cocok diketinggian 800- 1600 merter. Apalagi secara umum mereka menanam kopi walaupun tidak terawat.

Tanamanya tetap tumbuh loh walaupun mereka tidak serius. Apalagi kalau semua warga fokus untuk merawat dan mengelola. Nanti mutu dan tingkat produksinya dijamin naik drastis. Warganya diyakini mampu menghasilkan pendapatan banyak. Meskipun begitu tengkulak yang berkeliaran masih jadi hantu.

Ia lalu mengumpulkan 25 orang bergabung kelompok usaha. Namanya Kelompok Tani Penghijauan dan Rehabilitasi Lahan. Vinsensius sendiri menjadi ketua dalam kelompok tersebut. Ia menargetkan menanam 1000 pohon kopi per- anggota. Lalu mereka mengembangkan pakan ternak 1000 meter persegi.

Dia juga mengajak mengembangkan tanaman kayu lokal. Mengapa demikia, karena Vinsensius ingin menarget bukan sembarangan kopi melainkan organik. Untuk itulah ia menggagas petani dibawahnya untuk memelihara ternak, nanti kotorannya akan dijadikan pupuk, khususnya mereka memelihara sapi.

Selain digunakan sebagai pupuk juga menjadi satu investasi tambahan. Ternak dapat digunakan jika ekonomi tengah sulit. Vinsensius menekankan untuk memanage kelompok taninya. Dia selain aktif mengajarkan bagaimana mengkonsep pertanian, juga mengajarkan bentuk managerial kelompok tani.

Dia membagi dari ketua, sekertaris, bendahara, seksi perkebunan, peternakan, dan kehutanan. Tahun 1999, total perkebunan milik kelompok taninya mencapai 40 hektar. Tujuan pembentukan kelompok tani juga untuk mendapatkan bantuan. Termasuk bantuan Pemerintah untuk mengajari mereka cara bertanam.

"Kami ingin mendapatkan bimbingan dan bantuan dari Pemerintah. Ini penting agar petani kopi bisa maju," ia menjelaskan.

Agar mendapatkan bantuan dan bimbingan butuh kelompok profesional. Tidak hanya ia menyusun kelembagaan, tetapi juga mengelola rapat bulanan, program kerja, dan evaluasi tahunan. Tiga tahun sudah mereka menanaman kopi, namun barulah di tahun ketiga atau 2002 tanaman mereka berbuah kopi.

Bisnis Kopi Ekspor Ngada


Tahun 2002 memang menjadi tahun tersulit bagi warga Kab. Ngada. Pasalnya di tahun itulah harga vanila turun. Disisi lain, usaha kelompok taninya berkembang, di tahun yang sama pohon- pohon kopi mulai berbuah. Di tahun 2003, harga vanili terpuruk jadi Rp.4.500 kg untuk basah, dan kering Rp.2.500.

Vinsensius kemudian mengirimkan proposal bantuan kepada DPRD. Proposalnya disetujui dengan hasil pelatihan dan pendidikan dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan. Mereka lalu diajari managerial keuangan untuk mengelolah modal.

Pemerintah lantas mengkukuhkan mereka sebagai petani produktif pada 2004. Ini menjadi tonggak bersejarah bagi Vinsensius soal perkopian. Di 2005, untuk pertama kalinya mereka membangun unit pengolahan hasil, yakni UPH Kopi Arabika Flores Bejawa (AFB) Fa Mas yang lantas mengajukan sertifikasi.

Hasilnya kopi mereka dinyatakan grade 1, atau telah layak diekspor sampai ke Amerika Serikat. Total permintaan ekspor kopi ialah 1000 ton pertahun. Namun sampai 2011, mereka baru bisa memenuhi 300 ton pertahun. Kopi merah atau masih berbentuk buah dijualnya RP.6000 per- kg, dan Rp.51 ribu untuk kering.

"Dalam satu musim (bisnis kopi), seorang petani menghasilkan Rp.20 juta," pengusaha ini bercerita.

Ia terus berinovasi untuk meningkatkan produktifikas. Salah satunya untuk yang disortir dan gagal kirim, dirubahnya menjadi bubuk kopi untuk dijual lokal. Mereka memasarkan di kawasan Nusa Tenggara Timur, hingga Filipina.

Tahun 2002 lahan usahanya mencapai sembilan hektar termasuk untuk kakao. Ini dimaksudkan untuk alternatif ketika menunggu musim panen kopi. Pihak Pusat Penelitian Kopi dan Kakao menjamin hasilnya akan diserap mereka. Kelompok tani Vinsensius telah memiliki kurang lebih 500 pohon kakao.

Guru Sambilan Wirausaha Daur Ulang Drum

Profil Pengusaha Galuh Rahma Wati



Siapa sangka usaha tersebut menghasilkan keuntungan tinggi. Guru sambil wirausaha yang mampu meraup omzet puluhan juta. Galuh Rahma Wati, guru bimbel yang kreatif mengaplikasikan ilmunya dalam pendidikan. Bukan hanya mengajar kesenian, tapi Galuh membuat kerajinan dan menjualnya.

Usaha daur ulang drum bekas membutuhkan kreatifitas. Ia bahkan menggabungkan antara arsitektur dan barang bekas. Ambil contohnya ia menggabungkan kayu dan drum. Omzet yang dihasilkan dari usaha ini mencapai Rp.20 juta rupiah.

Galuh sebetulnya mengerjakan ini sekedar iseng semata. Hanya sekedar sambilannya sembari aktif mengajar bimbel. Pertama kali ia ingin membuat tempat makan yang instagramabel. Dia lalu mulai membuat kursi dari drum ini. Jujur awalnya dia membuat untuk kebutuhan pribadi saja.

Wirausaha Bangku dari Drum


Semula dia melihat kok lucu ya membuat meja seperti itu. Dia pun mencoba kreasi sendiri pada 2016 silam. Bermula dari satu kursi drum itu kemudian menjadi banyak variasi. "Habis itu, nyoba ah, buat sendiri dulu di rumah," tuturnya.

Pengusaha ini tak menyangka hasilnya sungguh mengejutkan. Guru sambilan wirausaha kenapa tidak mungkin. Kursi tersebut lantas dipakai untuk tempat bimbel miliknya. Dia lalu membuat kursi yang bergambar tokoh superhero. Itu sejalan dengan usaha bimbelnya yang berisi anak- anak kecil.

Salah satu anak didiknya kemudian tertarik memiliki. "Ya sudah saya bikin," terusnya. Dia kemudian membuat aneka tokoh lain. Galuh juga membuat aneka warna untuk menarik perhatian. Hasilnya aneka bangku dari daur ulang drum. Ia kemudian mempostikan itu ke sosmed dan coba untuk dijual.

Awalnya dia membuat aneka produk berbahan drum bekas. Tetapi karena jumlah pemesanan banyak maka menyusahkan dia. Pesananan membeludak sehingga suplier offline tidak sanggup. Galuh pun menyisiati dengan memesan dari online.

Ia menambahkan lagi bahan baku dari offline kurang baik. Namanya juga usaha berbahan baku drum bekas. Terkadang Galuh menemukan bahan baku yang tidak sesuai standar.

"Namanya kaleng bekas tidak 100% mulus ya, ada penyok- penyok sedikit, terkadang ada pembeli yang perfeksionis komplain," terang pengusaha ini.

Dia melanjutkan modal daur ulang drum ini tidak besar. Agar ia mudah mendapatkan bahan baku, dirinya tak segan untuk membayar uang muka. Tentu Galuh tidak memesan dari satu orang saja, melainkan beberapa orang dengan waktu tempo panjang.

Pembuatan Bangku Drum


Ia menggunakan uang secermat mungkin. Sisa uang DP itu diputarkan untuk membeli bahan lain. Galuh bekerja sama dengan pemilik toko besi. Karena memang dia masih tetanggaan, maka Galuh mendapatkan bahan dengan bayar ditempo, ini akan mempermudah jika barang belum laku dijual.

Proses produksi diceritakannya butuh waktu tiga hari. Prosesi produksi diawali dari pembersihan, cat pelapis anti karat, pewarnaan dan mencetak gambar. Kalau sudah jadi maka ia tinggal menambah alas duduk.

Galuh lantas menjelaskan detil mengenai pembuatan bangku. Ia mengaku tidak membutuhkan modal besar. Pemesanan desain bangku atau sofa itu tergantung permintaan. Dia melanjutkan, tantangan produksinya ialah cuaca yang menganggu. Ini nantinya berkaitan dengan pengeringan cat setelah finishing.

Selain membuat bangkut tunggal atau satu orang, Galuh juga mengembangkan jenis bangku lain yakni dua orang, tiga orang atau lebih. Jenis sofa ini memiliki waktu pembuatan yang lebih lama. Pasalnya mereka harus lakukan pemotongan, pengelasan, pendempulan, dan pengecatan.

Proses pengerjaan bisa sampai 5- 7 hari semenjak pemesanan. Jujur tidak mudah bagi Galuh untuk memasarkan usahanya. Awal dia hanya mampu mengerjakan sedikit dan menjual 4 bangku. Dalam sebulan dia pernah cuma mengantongi omzet Rp.500 ribu.

Bertahap usahanya itu berkembang melalui pemasaran yang agresif. Melalui penjualan online mampu berkembang hingga omzet Rp.20 juta. Ia menggunakan dua media pemasaran yakni Intagram dan Tokopedia. Akun instagramnya bernama @galuh.creatives, dan akun Tokopedia Mbak Galuh Kursi Drum.

Harga produk yang ditawarkan pun bervariasi sesuai tingkat kesulitan. Ia menjual dari harga Rp.109 ribu untuk paling kecil, dan paling besar Rp.2,5 juta per- item. Dalam sebulan sekarang Galuh bisa menjual 50 sampai 100 item sebulan.

"Dulu Rp.500 ribu sebulan, sekarang stabil di angka Rp.20 jutaan," pengusaha ini menceritakan.

Ia sendiri mengatakan tak banyak kesulitan dalam pembuatan. Galuh berperinsip bisnisnya berjalan baik karena passion. Semua itu berawal dari hobi atau passion, dan karena itulah dia merasa senang mengerjakan. Hasilnya baik mendapat keuntungan tetapi dia juga mendapat kesenangan.

Sumber: Detik.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba