Pengusaha Diejek Karena Inovasinya Kaos Kaki Bambu

Biografi Pengusaha Taufik Rahman


 
Tidak mudah bagi Pak Taufik Rahman menjadi seperti sekarang. Banyak hal pernah dilalui Taufik yang dulu pernah diolok karena inovasinya. Siapa sangka berbekal bambu dia bisa membuat produk fashion. Unik karena produknya menciptakan inovasi di bidang tekstil.

Produk bambu sudah dipakai di Jepang dan China. Tetapi nampaknya baru Taufik yang menggunakan nama fiber bambu. Diolahnya menjadi sepatu dan kaos kaki. Tidak mudah, karena awal- awal tahun, dia tidak mendapatkan laba sama sekali. Bahkan sempat menggadaikan rumah untuk mendanai bisnisnya tersebut.

Keyakinan besar lah membawa Taufik sekarang. Bayangkan pria asal Jombang, kelahiran 8 November 1964, ini mampu menghasilkan Rp.2 miliar perbulan. Mulainya 2010, berawal produk kaos kaki dulu, lalu dia kembangkan sepatu, t- shirt, dan sweater.

Karyawan jadi pengusaha


Sebelum menjadi pengusaha, Taufik menjalani kehidupan seperti kita yakni karyawan. Dari desa pergi ke kota, bekal Taufik membawanya bekerja di perusahaan farmasi. Memulai bisnis sampingan dulu dia mulai coba- coba menjadi pemasok barang- barang komputer, pabrik kaos kaki, dan menyalurkan pupuk organik.

Segala jenis usaha dijalankan dia sebagai sampingan. Menjadi pengusaha memang susah bahkan istrinya sempat pesimis. Menyebutkan tidak berbakat pengusaha. Bukan jalur hidupnya. Tetapi ia ngotot sampai dia juga jadi juragan restoran seafood. 

Aisyah, istri Taufik, melihat betul kegagalan demi kegagalan. Dengan penuh semangat Pak Taufik ngotot mendeklarisikan dirinya sebagai pengusaha ke istri. "Tapi, tak pernah keluar dari jalur marketing, jadi saya memang sudah menguasai bidang ini," terangnya, merasa beruntung pernah jadi karyawan dulu.

Berbisnis aneka macam sampai menggadaikan sertifikat ke bank. Di tahun 2003, dia berbisnis membuat aneka kaos kaki, tidak pernah mendapatkan untung tetapi ia yakin bisnis ini akan sukses. Bisnis kaos kaki bernama Parker. Berbekal uang pesangon kerja Rp.40 juta dibelikan mesin dan menggaji satu karyawan.

Prinsi kerjanya adalah mutu terjamin. Ide tentang menggunakan benang bambu muncul. Tidak segan dia mencari tau kemudian mengimpor. Bahan baku dibeli dari China sebesar 5 ton, yang kemudian dipintal di Bandung sendiri. Awalnya dia mengimpor benang sudah terpintal, kemudian mencoba memintal sendiri.

Disaat bersamaan dia meyakinkan masyarakat. Ia mencoba meyakinkan tentang serat bambu. Bahkan ini bisa dijadikan produk fashion siap pakai. "Saya hampir 2 tahun cuma diketawain orang saja, disangkanya bohong. Karena saya tidak bisa membuktikan ini bambu beneran apa bohong," kenang Taufik.

Memang soal bahan bambu ini belum populer. Menurut penilitian daya serap keringatnya bagus. Inilah yang digunakan dia sebagai landasan promosi. Dua thun tidak laku apa yang dirasakan Taufik? Tidak apa dia katakan. "...yang penting saya mendapatkan pengalaman dan pelajaran dari kegagalan itu," jelasnya.

Kain serat bambu memang ramah lingkungan. Seratnya itu 3,5 kali lebih kuat menyerap air daripada kain katun. Dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah tak terdaur ulang.

Bisnis terus


Sekarang mengantungi omzet Rp.250 juta, omzet meningkat seiring dengan munculnya peminat pakaian berserat bambu. Ia mengatakan modal awal Rp.100 juta dan omzetnya segitu naik- turun. Dijual beraneka ragam dengan harga kompetetif dengan bahan katun.

Kisaran harga untuk kaos kaki Rp.70 ribu sampai Rp.100 ribu. Lalu harga kaos Rp.100 ribu, Rp.200 ribu, sampai Rp.400 ribu. Kemudian sweater harganya Rp.500 ribu dan sepatu antara Rp.400 ribu sampai satu juta rupiah. Bisnis yang diberinya nama Bamboo Studio, sudah melalang buana dibanyak acara UKM.

Dia memiliki 25 karyawan melebarkan sayapnya lewat berbagai pameran manca negara. Mulai pameran di lokal, kemudian Hong Kong, Malaysia, sejak 2012 silam.

Mengenang masa susah selama satu dasawarsa merupakan cara bersyukur. Dia tidak menjadi lupa diri akan kesuksesan sekarang. Dimulai tahun 2010 silam, Pak Taufik membuat kaos kaki kulit sapi setiap bulan. Ia kesukaran mendapatkan bahan. Barulah dia mencari tau bahan lain yang lebih natural dan gampang dicari.

Terpikir kulit ikan nila, biawak, dan katak lebuh. Pokoknya aneh- aneh pikiran Pak Taufik. Tengah mencoba mencari alternatif bahan. Ketertarikan tersebut ditunjang kreatifitas berpikir tentang produk apa. Untuk produksi dia menggaet pengrajin lokal, satu pasang bisa dibuat 2 sampai 5 hari, ada 25 pengrajin dibawah dia.

Produksi sepatu sampai 1000 buah tiap bulan. Dimulai dari serat bambu dipintal, dijadikan benang, lalu dicelup, kemudian dirajut sesuai corak. Barulah digabungkan prosesnya hingga menjadi kain. Dari lining, insole, outsole, hingga heel.

Biografi Singkat Syahir Karim Pengusaha Oleh- Oleh Haji

Profil Pengusaha Pemilik Bursa Sajadah 


 
Hidup Syahir tidak mudah hingga seperti sekarang. Pengusaha oleh- oleh Haji ini, bercerita tentang masa kecilnya harus bekerja keras kepada awak media. Sejak umur 14 tahun sudah "dipaksa" bekerja keras. Dan hasilnya dia adalah pemilik toko Bursa Sajadah, usaha beromzet ratusan juta.

Orang baru naik haji pasti paham nama toko oleh- oleh haji. Buat mereka jamaah haji yang tidak sempat membeli oleh- oleh. Inilah solusi mereka buat membahagiakan keluarga di rumah. Nah, salah satu toko oleh- oleh terkenal adalah Bursa Sajadah, pemiliknya bernama Syahir Karim Vasandani.

Cabangnya sudah tersebar di Jakarta, Bogor, Surabaya, Bekasi dan Bandung. Bisnisnya mulai dari jualan air zam- zam, aneka sajadah, mukena, kerudung, tasbih, teko, cangkir arab, lalu karpet. Produknya datang dari produksi dalam negeri. Sisanya Syahir mengimpor langsung dari Arab Saudi sendiri.

Perjalanan panjang bisnis


Pria kelahiran Surabaya, 18 November 1949, ini sudah bekerja keras sejak kecil. Alasannya karena sejak umur tiga bulan dia sudah yatim. Sejak umur 14 tahun, Syahir kecil sudah mengerti bahwa sebagai lelaki dia harus bekerja. Ia tidak tega melihat perjuangan ibu apalagi Syahir punya empat adik kecil.

Tidak tanggung dia bahkan berhenti sekolah buat kerja. Waktu itu dia sekolah kelas lima sekolah rakyat atau setara sekolah dasar. Pekerjaan pertama dia menjadi pegawai pengusaha tekstil asal India. Kerjaanya apa saja membantu tidak tetap satu bidang.

Ia mengerjakan bahkan hal aneh tidak ada hubunganya dengan tekstil: Seperti menyemir sepatu atau dia akan disuruh membuang sampah. Ia sempat hijrah ke Jakarta namun kembali lagi. Di Surabaya, Syahir lalu kembali bekerja di perusahaan tekstil lagi pada 1864, hingga pekerjaanya mapan jadi manajer penjualan.

Total dia bekerja di Surabaya lagi selama enam tahun. Syahir namapaknya puas dengan karirnya yang mulai bagus. Sesekali dia mencoba berbisnis tekstil sendiri meski gagal. Tahun 1972, ia hijrah ke Bandung dan melamar ke pabrik tekstil di Majalaya, yang juga punyanya orang keturunan India.

Sudah jadi rahasia umum kalau orang India lebih merekrut keturunan India juga. Orang tua Syahir sendiri berasal dari Hydrabad Syind, Pakistan. Cara unik dilakukanya untuk mendapatkan ilmu gratis. Karena dia bekerja pada malam hari, maka paginya Syahir masuk meskipun tidak bekerja sama sekali.

Datangnya pagi hari cuma buat observasi bagaimana pimpinan pabrik bekerja. "Saya mencari ilmu setiap hari," jelasnya. Dia bekerja, lalu menikah, dimana menetap di Bandung sampai 1979. Tahun 1980 dia lalu dikirim ke Negeria membantu penjualan kosmetik si boss. Tidak lama Syahir bekerja di negeri orang dan kembali.

Empat tahun di Indonesia lagi, barulah Syahir berniat membuka usaha sendiri lagi. Tetapi pulang dari sana, dari Negeria membawa masalah, karena kebiasaan minum disana terbawa hingga Indonesia. Dia menjadi sosok pemabuk. Alhasil mau membuka usaha malah gagal terus karena uangnya kepakai buat mabuk lagi.

Tobat jadi pengusaha


Tahun 1992 dia bertobat tidak lagi minum- minuman. Ia berhenti minum sekaligus berhenti merokok, dan mulai mendalami agama. Di tahun 1993, dia mengajak istri menunaikan ibadah Haji di Mekah. Pulangnya dia membuka toko oleh- oleh haji di kawasan Jalan Palaguna, Bandung, yang bernama Babussalam.

Uang modal membuka toko oleh- oleh haji. Ada Rp.10 juta merupakan hasil sisa simpanan dan pinjaman. Dia bisa dibilang genius. Karena apa, karena bisnis semuanya sudah dihitung, dan Syahir belajar buat mengatur uang perusahaan terpisah.

Ceritanya sebelum bisnis oleh- oleh ini. Syahir sudah lebih dulu berbisinis jaket kulit Garut. Bisnis jaket ini menjadi penompang bisnis oleh- oleh Hajinya. Tepatnya tahun 1994, dia menekuni pembuatan jaket kulit sampai ekspor 1000 buah. Karena mulai sepi memutar otak memindahkan uang modalnya ke bisnis ini.

Alasan bisnis oleh- oleh Haji ternyata datang dari pelanggan. Mereka iseng mengucap kebutuhan mereka ke Syahir. Mulai lah dia mendatangkan barang- barang dari Mekah dan Madinah. Lalu pabrik garmen di Majalaya dan Kopo, memproduksi tidak cuma jaket tetapi kemeja, rompi, baju olahraga, dan lainnya.

Alkisah tahun 1993, ia pulang beribadah haji, teman lama datang ke rumah. Ngobrol macam- macam lalu sang teman meminta pekerjaan. Lebih tepatnya tidak meminta langsung tetapi bercerita butuh pekerjaan. Ia langsung menawarkan pekerjaan di tempatnya. Dan kebaikan itu berbuah manis ternyata diujung cerita.

Bayangkan, Pak Krisna, teman lamanya itu ternyata sangat handal dalam penjualan. Seorang salesman yang tangguh dari sejak pengunjung masuk toko. Pokoknya kalau ditangani dia, pengunjung pasti pulang dengan membeli sesuatu. Syahir memang orangnya mengapresiasi orang lain, terutama karyawannya sendiri.

Baginya karyawan merupakan aset penting perusahaan. Disisi lain tidak ada tuh namanya break event point atau target tertentu. Pokoknya ia menekankan bahwa bekerja adalah ibadah. Dari bentuk kerja keras serta didukung oleh sikap baik. Lahirlah perusahaan bernama PD Aarti Jaya yang berbisnis bidang garmen.

Tahun 1998, dari PD Aarti Jaya menjadi CV Aarti Jaya, dan semakin besar jadi PT. Aarti Jaya. Kini SKV -begitu nama bekennya- memiliki sekitar 1000 karyawan. Dimana ada 30 UKM yang menjadi pemasok ke toko- toko miliknya. Tokonya kini menjual lebih dari 6000 jenis produk tekstil dan oleh- oleh haji.

Toko Bursa Sajadah sudah tersebar di Bandung, Jakarta, Bekasi, Bogor, Surabaya, Malang dan Solo. Satu pencapaian lainnya ialah, bahwa Bursa Sajadah merupakan pengimpor terbesar aneka sajadah dan karpet dari Turki, Arab Saudi, India, Iran, dan Uni Emirat Arab pada umumnya.

Kini, bisnisnya, sudah diserahkan ke sang anak Heera Syahir Karim Vasandani, yang mana juga memiliki segudang prestasi dalam melanjutkan bisnis sang ayah. "Allah mau

Usia 50 Tahun Lebih Ingin Wirausaha Bisa

Profil Pengusaha I Wayan Sukhana


 
Sudah tua mau jadi pengusaha apa bisa. Ini kisah seorang pria 52 tahun bernama I Wayan Sukhana. Ketika itu dia sudah bekerja sangat lama. Eh, tempat kerjanya bangkrut, alhasil Sukhan diberhentikan bukan jadi dipensiunkan. Perusahaan farmasi tempatnya bekerja PT. Kresna Karya memaksanya menjadi pengusaha.

Pada 1999, perusahaan tempatnya bekerja memberhentikan dia, tampa percencanaan apapun Sukhan mulai mencari celah bisnis. Cuma dipesangoni Rp.6 juta, dia syok bukan main karena usianya sudah tidak lagi kuat mencari pekerjaan. Dia tidak tau mau bekerja apa dan mau bekerja di mana.

Demi istri dan tiga anak Pak Sukhan merintis usahanya sendiri. Usaha pertamanya jualan bando dan karet gelang buatan China. Ia menawarkan itu ke pasar swalayan. Sayangnya tidak sesuai prediksi, barangnya itu tidak laku, usahanya gagal tanpa mencapai apapun.

Bisnis berbunga


Belajar pengalaman pertama, ia mulai mencari bisnis apa dibutuhkan masyarakat sekarang. Bisnis itu ialah bisnis souvenir menurut pengamatan. Terutama souvenir kesahatan, seperti lulur aroma terapi, sabun buat pijat, sabun batok kelapa, dan aroma terapi, termasuk dupa karena orang Bali.

Meskipun begitu bisnis ini punya kendala sendiri. Yakni pemain bisnis seperti ini sudah banyak di Bali. Ia mengakali hal tersebut dengan jual paket. Harganya dibandrol lebih murah dibanding pesaing. Alasan lain karena dia tidak memiliki jiwa seni ukir seperti orang lain.

Dia dibantu istri bahu- membahu membangun bisnis ini. Bermodalkan mobil Daihatsu Hijet 1000, mulai memunguti bunga kamboja kering, buah ketapang, dan buah camplung di sepanjang jalan raya Denpasar. Kebetulan pohon itu banyak ditanam sepanjang jalan. Dibersihkan bunga langsung dibungkus dan dijual ke pasar.

Melihat keduanya begitu giya wirausaha. Ada seorang pengusaha spa menawari kesempatan. Dia memberi mereka kesempatan untuk membuatkan produk lulur spa. Tahun 2002, pemilik spa di Sanur tersebut minta mereka dibuatkan buat orang Eropa, Jepang, dan Taiwan -waktu itu lulus spa belum dikenal adanya aroma terapi.

Sukhana mengiyakan saja permintaan tersebut. Lantaran terbatas modal serta pengetahuan, tiga kali hasil percobaan mereka ditolak. Ia berusaha keras agar diterima sang pemilik spa. Tidak tau cara bikinnya, ia mengingat sang istri pandai membuat boreh.

Launching produk pertama adalah lulur alami dari tanah. Kemudian berlanjut scrub dari bahan rempah. Ia menggunakan banyak buku referensi. Satu kilogram scrub dijual Rp.25.000. Sukses karena permintaan terus meningkat. Sukhana yang memberi nama Dupa Mutiara kemudian diubah menjadi Bali Tangi.

Kelebihan produk buatannya berbentuk sabun dan bubuk, beda dengan lulur tradisional berbentuk rempah dan dedaunan. Penjualan menggunakan paket siap pakai. Kemudian Sukhan membuat pusat distribusi bernama Rumah Lulur di kawasan Sunset Road, Bali. Di luar bali ada distributor Jakarta, Surabaya, dan Singapura.

Anak Bupati Sederhana Jualan Angkringan Jogja

Profil Pengusaha Yune Prana Elzuhriya 


 
Anak pejabat jualan angkringan. Apa yang kamu pikirkan ketika tau anak bupati Gunung Kidul jualan. Ya, jualan angkringan, memang angkringan adalah kuliner khas Yogyakarta. Yang mana tengah digemari utama oleh anak- anak muda buat nongkrong.

Angkringan masuk tahun 90 -an, yang mana dibawa oleh perantauan asal Klaten, Jawa Tengah. Harganya memang murah dibanding membeli ke tempat makan biasa. Harga sesuai kantong pelajar dan mahasiswa. Lalu anak Bupati Gunung Kidul ini mencoba peruntungannya berbisnis angkringan ini.

Bisnis sederhana


Yune Prana Elzuhriya (38), merupakan anak kedua Bupati Gunung Kidul, dimana tidak malu berbisnis ya meski kecil- kecilan. "Kenapa harus malu membuka usaha kecil- kecilan," terang dia. Dia bersama sang suami, Iwan Purnama (44), membuka usaha di depan rumah Jalang Pangarsa, Purbosari, Wonosari, Kab. Gunung Kidul.

Nama angkringannya Angkringan Batik. Modal awalnya sekitar Rp.5 jutaan. Dimana grobaknya dibikin sang suami sendiri. Seperti namanya ada ornamen batik sekitar gerobak. Juga termasuk kursi dan meja, ada hiasan batiknya.

Meski baru buka sudah dapat dukungan orang tua. Terutama sang ibu (Badingah) yang menjabat jadi Bupati selama dua periode. Makanan termasuk nasi oseng tempe, babat gongso, sambel teri sampai rendang. Dia juga memiliki menu istimewa yakni nasi kucing sambal welut.

Gorengan juga tersedia, termasuk aneka sate yang jadi ciri khas angkringan. Yune mengungkapkan alasan kenapa membuka usaha tersebut. Ya karena dia hobi wedangan alias nongkrong seperti di angkringan. Lain dia membuka usaha batik, tetapi ditutup ketika anak pertamanya lahir.

Iwan menambahkan ceritanya gerobak itu dibuat bermodal Rp.850 ribu. Dimana dia sempat dirawat masuk RSUD Wonosari karena kelelahan membuatnya. Nah kalau Iwan membeli sama orang lain bisa sampai Rp.3 jutaan. 

Dia juga tidak ikutan seperti angkringan modern memasang wifi. Alasannya agar orang bercengkrama tidak diam di depan handphone. Inginnya dijadikan tempat nongkrong dan ngobrol santai orang. Kalau ada wifi orang bisa autis di depan layar handphone karena kuota gratis. Resiko berbisnis angkringan terbilang kecil.

Untungnya juga bisa mendukung kebutuhan keluarga. Kedepan dia bahkan ingin membuka cabang juga. Ia mengenang bisnisnya dulu. Dia pernah membuka jasa rental mobil. Modalnya besar dibanding angkringan, untungnya lebih besar, kadang hasil dan modalnya tidak singkron beda sama angkringan.

Angkringan modalnya kecil dan untungnya lumayan. Jika diketemukan lumayan jaraknya. Dan kita sangat tau bisnis kuliner bisa awet jika tepat manajemennya. Bisnis angkringan memang kelihatannya sederhana tetapi cukup. Apalagi menerapkan konsep bisnis modern bisa "wah" karena bisa becabang- cabang.

Yune sendiri mengatakan kenapa harus malu. Semua hal dimulai dari sesuatu yang kecil. "Dulu ibu juga jualan di pasar," terangnya. Laba kotornya Rp.300- 350 ribu dalam sehari. Memang tidak besar bagi anak seorang Bupati. Walaupun begitu mereka tetap bersyukur dan berpikir ke masa depan bisnis mereka juga.

Jualan Kulit Harimau Sumatra Aman Ala Catur

Profil Pengusaha Debi Catur Setyobudi 


 
Berburu harimau itu dilarang. Tetapi bagaimana cara bisnis aman kulit harimau. Bagaimana kalau kita coba seperti pengusaha muda satu ini. Namanya Debi Catur Setyobudi, yang mana bisnisnya unik, bagaimana dia bisa jualan kulit harimau aman berikut detailnya.

Kulit harimau memang dicari buat koleksi. Warga Dukuh Alastuo, Desa Balegondo, Kec. Ngariboyo, Kab. Magetan, yang berbisnis kulit sapi. Dimana Catur merubah kulit sapi nampak seperti macan. Aneka motif macan bisa dibuat Catur seperti macan tutul kecil/besar, cheetah atau leopard, hingga motif zebra bisa.

Mereka dibuat pakai kulit sapi. Hanya motifnya diubah. Cara pembuatan menggunakan pigmen warna. Tapi sebelumnya dia siapkan dulu motif targetnya.

Bisnis kreatif


Bisnis ini sudah dijalankan sejak lima tahun lalu. Awalnya pengusaha muda, putra pasangan Sirun Priadi dan Eni Sri Mawar, pernah bekerja di pengolahan limbah industri Magetan. Catur memilih membuka usaha sendiri tetapi tidak mudah seketika.

Butuh waktu setengah tahun, untuk mencari cara merubah warna kulit lewat pigmennya. Susah apalagi itu masih ada bulunya. Ia menjelaskan yang diwarnai bukan kulit tetapi bulu sapi. Bagaimana caranya merubah warna bulu menyerupai bulu harimau. "Itu susah bukan main," jelasnya.

Walau kamu oles pigmen hitam belum tentu jadi hitam. Kan motif harimau itu ada hitam- hitamnya, ada coklat- coklatnya kemerahan. Campuran pigmen agar mendapatkan warna itu butuh lebih dari pengalaman. Hingga pengalaman dan teknik itu mendapatkan bayaran berupa maraknya pesanan datang.

Dia menjual aneka ukuran. Ukuran 25 sentimeter persegi kulit motif dijual 35 ribu, itu kalau satu warna, nah kalau warnanya dua harganya Rp.45 ribu.

Produknya sudah ada di wilayah Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Bali. Nantinya akan diproduksi ulang jadi tas, sepatu, dan dompet, yang bahkan diekspor ke Timur Tengah. Motif harimau dan zebra Catur juga dibikin jok mobil bisa. Penggunaan kulit lain juga dimungkinkan seperti kulit domba atau kambing.

Namun tidak semua bisa dicetak semprot. Khusus buat motif harimau Sumatra butuh lukis tangan. Jadilah harganya pantas mahal. Setiap bulan dia mengirim 50- 100 lembar kulit. Kadang bisa melonjak banyak ya kadang juga permintaan sedikit.

Pasar impor


Pria yang cuma lulusan STM Mesin ini. Tidak cuma lokal tetapi juga merambah internasional. Sebuat saja negara Amerika menggemari motif leopard, jaguar, dan zebra miliknya. Untuk motif zebra ada kendala tersendiri nih teman. Karena warna dasarnya harus putih dan kulit seperti itu hanya ada waktu tertentu.

Usut- punya usut ternyata dia pernah belajar kulit. Meskipun singkat tetapi dia bekerja langsung. Dia dulu ikut Lingkungan Industri Kecil (LIK) Magetan. Langsung kerja dipengolahan kulit dari dasar. Ternyata adalah bosnya yang pernah menantang Catur membuat kulit harimau Jawa dan binatang langka lainnya.

Mantan bosnya dapat pesanan entah dari mana. Tapi dia maksa Catur bekerja meski di rumah. Bahkan dia rela memberikan bahan untuk dikerjakan gratis. Sukses membuat sendiri, si bos malah makin rajin buat memberinya proyek sampai ke Bali.

Kendala lain adalah masalah cuaca. Dimana pengeringan masih memakai tenaga matahari. Alhasil pada musim tertentu pemenuhan permintaan bisa dibatasi. Dia cuma dibantu seorang karyawan bernama Tumini yang juga tetangganya. Keduanya mampu memenuhi pesanan seabrek itu hebat bukan.

Harga jual meningkat drastis dibanding jualan kulit sapi polos. Apalagi nih, kalau sudah di kirim ke luar, di pasaran Eropa saja harganya bisa berlipat- lipat. Kulit tanpa motif harganya Rp.15 ribu per- 30 senti, dan kalau sudah bermotif harimau di Eropa harganya bisa Rp.50 ribu per- 30 sentimeter.

Meskipun sudah jadi barang ekspor. Pihak pemerintahan daerah Magetan masih belum sadar. Keberadaan bisnisnya tidak disadari. Walau kebutuhan modal tidak mendesak. Ia masih merasa bisnisnya ini butuh promosi terutama ke daerah lain diluar jangkauannya sekarang. "Atau pembinaan kualitas kerajinan saya."

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba