Kerajinan Kerang Ekspor Bagaimana Caranya

Profil Pengusaha Nur Handiah Jaime Taguba 



Tidak jarang kita menyepelakan bisnis kecil- menengah kita sendiri. Ternyata diantara pesimisme pasar lokal, ada pengusaha- pengusaha hebat, mereka menjual ke luar negeri dan hasilnya mencengangkan. Kita ambil contoh nih pengusaha kulit kerang bernama Nur Handiah Jaime Taguba.

Lewat tangan kreatif dia merubah kulit kerang. Produk etnik karyanya diekspor sampai ke Eropa, Asia, Afrika, hingga ke Amerika. Nur adalah pemilik perusahaan Multi Dimensi Shell Craft yang membawa kulit kerang Pantura ke kancah dunia.

Bisnis karena cinta


Bisnis Nur berawal dari ketertarikan seorang kawan. Suami kawan tersebut ingin mengekspor kerang buat dijadikan kerajinan. Nah, Nur Handiah, menjadi perantara buat mengirim kerang- kerang tersebut. Tidak lama dia memutuskan berkreasi sendiri.

"Saya penasaran buat apa, akhirnya saya enggak mau kirim bahan bakunya," tuturnya. Setelah dia tau kalau setelah diekspor bahan bakunya naik berkali lipat harga!

Ia berkata, "saya buat barangnya."

Usahanya berdiri pada 2000 silam. Di atas lahan 1000 meter persegi, pabrik kecilnya berdiri mengolah si kulit kerang. Dia mempekerjakan sekitar 60 orang, yang mana adalah tetangganya. Harganya murah kok dari Rp.5000, seperti gantungan kunci, bunga, dan kecil- kecil lainnya.

Tetapi tidak juga terbatas. Nur Handiah juga menyiapkan produk premium. Seperti produk berharga Rp.24 juta, berupa satu set furnitur, mulai lampu, kaca cermin, meja.dll. Inovasi juga terus digalangkan hingga produknya benar- benar menarik.

Berjalan waktu pabrikannya seluas 32.000 m2. Dimana kapasitas sampai 8 kontainer per- bulan. Jangan bilang bisnis dijalankan gampang. Dia sudah mengerjakan bisnis ini selama 12 tahun. Jadilah pantas jika dia sudah mempunyai koneksi dari Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, sampai ke Afrika.

Perusahaan Nur sekarang nilainya tidak kurang 2 miliar. CV. Multi Dimensi beralih dari pengekspor kulit kerang menjadi produsen furnitur kerang. Fokusnya awal menggunakan kerang simping, namun makin ke sini, dia mulai berinovasi dengan aneka kulit kerang lainnya, seperti kerang dara, hijau, dan kerang hitam.

Tidak berhenti kreasi. Suatu hari, Nur ingin mengaplikasikan kerang dengan media lebih luas, maka jadi sebuah rumah bernama Rumah Kerang Cirebon. Dengan kulit kerang ditempelnya menjadi hiasan outdoor. Lalu dia mulai mendekorasi isinya dengan kerang juga.

Dari korden, furnitur, hingga lampu gantung dari kerang!

Tentu tidak langsung sukses. Nur mengaku sempat kelimpungan soal modal. Untungnya dia mendapatkan perhatian dari sebuah BUMN. Pinjaman bunga lunak tidak disia- siakan. Usahanya lalu menjadi salah satu mitra binaan BUMN tersebut. "Inginnya sih pinjaman tanpa pengembalian. Tapi tidak ada," guraunya.

Selain itu dia dimediasi untuk mengikuti aneka pameran. Menurutnya pengusaha harus rajin cari tau. Ia mengatakan pengusaha pemula haru update dari pemerintah. Mereka menyediakan tempat gratis. Namun, ya, akomodasi harus modalin sendiri. Kelebihannya kita bisa mendapatkan koneksi ke luar negeri seperti dia.

Kita diberi booth gratis kok. Kalau startegi pemasaran, selain ikutan pameran tersebut, maka andalkan strategi mulut ke mulut. Dibantu Pemda Cirebon, usahanya makin gampang menyebar ke seluruh pelosok, maka banyak pejabat datang berkunjung termasuk dua presiden kita Pak SBY dan Jokowi datang melihat.

Agar sukses dia tidak lupa mengikuti trend. Mangkanya dia membuka promosi lewat internet. Salah satu caranya adalah lewat toko online www.capizbalishell.com. Tidak lupa membuka outlet di Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. Semua pencapaian itu membuat nama Nur Handiah menjadi satu pengusaha yang ternama Indonesia.

Ide Bisnis Makanan Tradisional Langka Kolombeng

Profil Pengusaha Sukses Sumadi


  
Sumadi bukan orang baru dalam pembuatan roti. Dia pernah bekerja menjadi buruh pabrik roti. Bayangkan puluhan tahun pria 42 tahun ini mengabdi. Penghasilan tidak sebanding dengan keringatnya. Namun, dari sana, ternyata menumpuk tumpukan kerak- kerak pengalaman mengurusi pembuatan roti.

Inilah cikal- bakal pengusaha asal Yogya tersebut. Ketika memutuskan keluar dari pekerjaan tidak mudah. Apalagi niat menjadi pengusaha butuh modal. Bagaimana membuka usaha kalau penghasilan pas- pasan. Ia lantas mencari cara: Sumadi menjual perhiasan sang istri untuk membuka usaha roti.

Berkat kerja keras, keuletan, usaha dijalankan oleh Sumadi sukses. Bermodalkan uang Rp.350 ribu, kini, ia mampu mengantungi omzet minimal Rp.6 juta sehari.

Bisnis tradisional


Warga Dusun Jaten, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, yang mana usahanya dimulai sejak 1999. Usaha kue kolombeng bersama istrinya, Nanik (36), adalah bisnis bermodal perhiasan simpanan mereka. Itu merupakan hasil kerja sepuluh tahun dengan seorang pengusaha roti asal Yogya.

Modal usaha awal buat membangun usaha Roti Kholombeng. Awal Sumadi membuat 1.000 bungkus roti sehari. Roti tersebut lantas dijual ke Pasar Bringharjo, dan beberapa pasar tradisional lainnya di wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Jadi roti akan dibuat seharian dari pagi sampai siang hari. Lalu dikumpukan lantas akan dijual pada esok harinya. Sumadi akan mengayuh sepeda ontelnya. "Saya jualan, keliling dari satu pasar ke pasar lain," ujar Sumadi.

Roti buatannya kok laris manis. Ternyata memang rasanya mak nyus. Roti buatan Sumadi diborong oleh pedagang besar. Apalagi dia menerapkan harga yang sangat terjangkau. Cocok buat pedagang besar jual kembali ke masyarakat. Yakni roti buatannya dihargai Rp.350 sebungkus berisi 10 roti kolombeng.

Bagi para pedagang pasar itu sangat murah. Singkat, bisnis Sumadi naik pesat, bahkan sudah sangat dikenal oleh orang pasar. Lantaran menjadi kompetitor tunggal pesanan membludak. Sumadi bahkan sampai khawalahan. Waktu itu Sumadi sendiri bersama istri mengerjakan semua proses pembuatan roti.

Menghadapai pesanan membludak Sumadi mempekerjakan karyawan. Bahkan tenaga kerja bertambah yang mana disesuaikan permintaan yang juga bertambah. Ia selalu merekrut tetangga untuk membuat roti. Dia sudah memiliki 7 orang karyawan.

Dibantu tujuh karyawan untuk berproduksi. Berapa Sumadi berproduksi setiap harinya. Dia mengaku bisa berproduksi 1.500 roti per- hari. Disisi penjualan semakin mudah karena nama. Sudah ada pedagang roti grosiran yang langsung menjemput. Pedagang roti juga tidak segan buat mengambil langsung ke pusat produksi.

Sumadi mampu menghabiskan 7 hingga 8 karung terigu. Jika posisi pasar sepi, maka Sumadi hanya bisa memproduksi sampai 5 karung tepung terigu. Pamornya yang naik membuat kerja sama datang sendiri. Pemilik produk terigu menawarkan kerja sama memasok tepung terigu ke tempatnya.

Tidak cuma untuk berproduksi. Ia juga mendapatkan pelatihan penjualan dan produksi di Semarang. Omzet Rp.6 juta sehari itu belum dipotong buat gaji, bahan baku, sudah termasuk transportasi yang sudah tidak lagi memakai ontel. Untuk keuntungan bersih Sumadi dan Nanik sepakat tidak menyebutkan angka.

Sumadi menggaji Rp.30 ribu sehari, kalau pesanan banyak, yah dia mengeluarkan uang tambahan buat para karyawannya tersebut. Dengan sistem pesanan borong memberi rejeki lebih ke karyawan.

Bisnis tak lekang


Mungkin orang lebih mengenal nama roti bolu, roti tar, donat, dan yang terbaru brownies. Siapa sangka diantara roti populer tersebut. Nama roti tradisional Kolombeng ternyata masih eksis. Ditangan dia lah, pengusaha asal Yogya, roti tradisional yang terkenal pada 1950 -an ini, kembali terkenal dan laris manis.

Persaingan ketat justru datang dari roti modern. Lewat kue tradisional, Sumadi mengaku senang karena namanya juga ikut menjadi sorotan. Ia bangga sekaligus bahagia. Ternyata kue kolembeng buatanya bisa bertahan sampai sekarang.

Sebelum fokus di Kolombeng Sumadi mengaku sempat membuat bakpia dan wingko. Resep kue tersebut ada telur, gula, essen jeruk, dan ovelat dicampur menjadi adonan. Lalu dimasukan cetakan aneka bentuk. Mulai berbentuk kotak dan persegi. Kemudian dimasukan ke oven selama 20 menit hingga matang siap.

"Kami bangga karena masih bisa membuat dan memproduksi kue tempo dulu," tutur dia.

Bahan baku pun mudah sehingga mudah diproduksi. Bahan bisa dicari meskipun produksinya masuk ke pedesaan. Pasarnya selain untuk umum, bisa dijual buat acara tertentu seperti pengantin, supitan, sripah, atau saat orang meninggal.

Zaman dulu Kolombeng dikenal merakyat. Enak disajikan dengan minuman seperti teh buat teman kita mengobrol. Di jaman kemerdekaan, kue tersebut digunakan sebagai pemerat persatuaan masyarakat di daerah Yogya. Enak teksturnya unik dan memiliki perjalanan sejarah panjang membuatnya masih digemari.

Membuka Usaha di Papua Jayapura Kisahnya

Profil Pengusaha Widiyawati 


 
Memilih menjadi wirausahawan bukan pegawai. Bukanlah pilihan mudah bagi kita semua. Jujur itu pula yang pernah dirasakan Widiyawati. Apalagi bisa dibilang pekerjaanya sudah mapan puluhan tahun. Di umur 37 wanita berambut cepak ini akhirnya memilih membuka usaha sendiri.

Bayangkan keputusan gila itu terjadi tahun 2006 silam. Ia memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tambang emas terbesar, ya PT. Freeport Indonesia. Bekerja di Papua, gaji puluhan juta dikantongi oleh Widi.

Baginya karyawan tetap karyawan. Dia ingin naik kelas menjadi atasan. Bekerja di Freeport tentu  lah dia kesulitan mencapai titik itu. Uang tabungan Rp.70 juta digelontorkan buat mendirikan bisnis. Dimana dia bikin tempat spa di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan. Ternyata berbisnis spa memiliki persaingan sangat ketat loh.

Bisnisnya gagal, uang tabungan puluhan juta hilang. Tetapi tidak sia- sia pengalaman. Meskipun belum merasakan untung sesuai target. Widi tetap semangat mencoba berbisnis kembali. Terbersit penyesalan karena memilih kengkang dari perusahaan Freeport itu.

"Rasa penyesalan kelaur dari pekerjaan mapan itu ada (untuk berwirausaha)," ia berkata.

Namun dirinya harus siap apapun rintangannya. Keputusan telah diambil dan Widi harus bangkit dari rasa keterpurukan itu. Warga Jurangmangu, Tangerang Selatan, ini memilih kembali ke Papua pada 2009. Dia tidak kembali bekerja di Freeport justru memilih berbisnis di sana.

Bermodal tekat dan nekat, dia membuka bisnis serupa, tetapi dengan modal seadanya. Widi memulai dari nol besar. Bermodal sisa jual aset usaha senilai Rp.30 juta. Itupun sebagian sudah dipakai buat biaya hidup keluarga. Di Papua dia mulai lagi membangun bisnis yang pernah bangkrut tetapi dengan perbaikan.

Jika di Jakarta dia menyewa ruko buat bisnis. Di Papu, Widi cuma menenteng proposal bisnis, dengan percaya diri tinggi dia menawarkan bisnisnya ke hotel- hotel. Modalnya hanya niat, keberanian, dan tentu kemampuan dalam hal bisnisnya tersebut.

Tidak mungkin Widi barani kalau belum paham akan bisnisnya. Ternyata membangun bisnis di Jayapura malah lebih susah. Iklimnya ekstrim dimana sering terjadi hujan. Alhasil soal pengiriman barang jadi sangat terganggu. Tidak membuat Widi menyerah. Ia tetap berjuang mengembangkan bisnis barunya itu.

Bisnis bernama Herbal Aroma SPA mulai dibangun. Kegigihan itu membawanya sukses masuk ke hotel- hotel, salah satunya ada Harison Hotel. Sekarang dia memiliki 15 orang karyawan, 10 laki- laki dan 5 perempuan. Sebulan mampu mengantungi Rp.71 juta bayangkan sudah.

Prospek usaha menurut Widi: Menarik jika melongkok Papua dibangun banyak hotel- hotel berkelas. Kita sebut saja Swiss Bell Hotel, Sahid Hotel, dan Yasmin Hotel.

Widi yang memilik kempapuan melobi. Dia mendapatkan tempat bahkan di lantai satu Hotel Horison, yang mana pengunjung begitu masuk bisa langsung spa. Ia juga sudah memegang kontrak dengan Swiss Bell Hotel yang mana sudah mulai beroprasi. Pendapatan tambah begitu juga karyawan bertambah juga pula.

Menjadi pemula berbisnis di Papua, Widi menawarkan keunikan sendiri, memakai rempah dari Yogyakarta dan Bali. Tiap bulan dia berbelanja ke Yogya dan Bali. Karena unik mangkanya pengunjung memburu itu. Pemilihan bahan pasti akan membuat badan segar. Harganya lumayan mahal karena di Papua yakni Rp.199- 999 ribu.

SItus Tiket.com Kapan Berdirinya dan Oleh Siapa

Profil Pengusaha Dimas Surya Yaputra 



Terkadang kita cukup butuh obrolah ringan menjadi bisnis. Ini adalah kisah empat sekawan, terutama kisah seorang anak muda bernama Dimas Surya Yaputra, atau Dimas Putra yang tergila- gila internet. Bagianya disinilah dia menemukan jati diri hingga berbisnis sendiri.

Tahun 2009 dia menemukan Swinde.com, situs barang lelang yang dibandro dibawah harga sebenarnya di masyarakat. Cuma enam bulan dia mampu menghasilkan pendapatan $1 juta, dan mampu menggaet kurang lebih 80.000 orang pengguna.

Pemuda lulusan Universitas Pelita Harapan, tahun 2007- 2010, jurusan ekonomi yang kemudian lanjut kuliah di Beijing Language and Culture University. Dia mengajak Wesna Agustiawan dan Jeffry Anthony mengerjakan bisnis PhaseDev. Menggaet 30 pengembang perangkat lunak dalam tiga divisi bisnis mereka.

Yakni mengerjakan aplikasi mobile, kemudian pengembangan aplikasi desktop, dan membangun situs web buat kamu. Dimas diangkat jadi CFO yang mengurusin keuangan perusahaan. Mereka memiliki 40 orang karyawan yang merupakan anak- anak muda. Meskipun sudah banyak penghargaan Dimas masih merasa kurang.

"Kami masih jauh dari sukses," ujarnya. Bungsu dari empat bersaudara ini merasa performa produksi nanti harus ditingkatkan. Anak muda penghobi golf dan komputer ini, ingin lebih banyak konten karya mereka PhaseDev lebih menarik masyarakat pengguna.

Bisnis tiket


Dia memiliki ide berbisnis tiket. Bayangkan susahnya kala itu, bagaimana orang harus bercalo ketika mau pergi naik pesawat. Tahun itu tahun 2010, dimana kalau mau pergi dari Medan ke Tegal rasanya super sulit, dan berbanding terbalik kisah sukses startup Tiongkok berbasis Online Travel Agent (OTA).

Meskipun begitu OTA itu beda dengan tiket.com. Bisnis Dimas ini, bersama tiga orang temannya, yakni Wenas Agusetiawan, Gaery Undarsa dan Natali Ardiant, mereka juga didukung seorang investor lokal. Berawal dari obrolan karena malasnya mengantri membeli tiket malah menjadi bisnis.

Dimas berkata inilah peluang besar di internet Indonesia saat itu. Berdiri pada Agustus 2011 dan baru bisa beroperasi Desember 2010. Tidak cuma menjual tiket tetapi mereka memberi informasi rute. Tidak cuma bebas calo tetapi lebih gampang mencari ketersediaan di tempat.

Memang usianya belia, tetapi Dimas tidak ragu membangun mimpi bisnis digital nya. Dalam setahun sejak mereka launching. Mereka berhasil menggaet 100 ribu pengguna. Banyak tiket dijual tidak cuma tiket pesawat, ada tiket bioskop, konser.dll.

Tiket.com menjadi salah satu rekanan bisnis PT. Kereta Api Indonesia. Semuanya memang berawal dari kereta api dahulu dan berhasil. Kebetulan pemerintah tengah membenahi penjualan tiket kereta api. Lalu mereka mulai menjalin kerja sama dengan berbagai maskapai penerbangan.

Ada total enam maskapai, jaringan bioskop 21, mengandalkan jumlah mereka mampu mereguk transaksi tidak kurang dari 1.000 tiket. Untuk modal sendiri Dimas tidak banyak bercerita. Yang pasti mereka siap mengeluarkan biaya agar server tidak mati. Dan dari enam orang karyawan sekarang 40 orang karyawan.

Denim Bekas Bisa Dijadikan Kacamata Gaya

Profil Pengusaha Jack Spencer dan Alex Boswell 


 
Dibanding kamu membuat denim bekas kamu. Kenapa tidak mendaur ulangnya menjadi barang berguna. Ini adalah kisah dua entrepreneur bernama Jack Spencer dan Alex Boswell. Bisnis mereka itu diberi nama Mosevic, yang mana mereka berdua juga pernah berbisnis semacam ini.

Bayangkan mereka merubah denim bekas menjadi kacamata. Koleksi mereka bernama Signature Denim dan Worn Sun Glass merupakan produk laris loh. "Kami membeli denim rusak dari tempat jualan barang bekas untuk amal," tutur Spencer.

Mereka mendapatkan uang buat membiayai kegiatan amal. Uang dari penyumbang pemilik pakaian bekas kemudian digunakan amal. Nah, tidak semua bisa terjual, justru Mosevic membeli yang tidak terjual. Yaitu pakaian denim yang sudah terlanjur rusak atau tidak pantas dipakai lagi.

Caranya adalah menumpuk denim menjadi bentuk. Semua dibuat dengan bahan resin sintetik. Dan nanti akan menciptakan bahan baru yang disebut denim keras. Selanjutnya, dengan komputer, pemotongan dan bentuk tekstur dipertahankan.

Bisnis ajaib


Dengan bantuan kompyter pemotongan akan rapih. Tinggal dipasang frae saja kan. Selain bahannya ramah lingkungan, keren, ternyata produk ini ringan. Setiap produk satuanya unik karena merupakan bahan dari pakaian orang yang berbeda. Ada sejarah tertempel pada tektur setiap denim meskipun sama bahannya.

Proyek ini dimulai Juni 2015 berbekal donasi KickStarter, tapi sebenarnya sudah jauh sebelumnya yaitu empat tahun penelitian.

Spencer memang sangat passion kepada kacamata. Meskipun dia tidak memakai kacamata. Tetapi pikiran dia ingin memulai perusahaan kacamata. Untuk menjadi laris manis, maka dia berpikir caranya agar beda dari kebanyakan orang. Dia sudah pengalaman membuat aneka hal berbekal bahan kimia komposisi.

Hingga dia sadar bahwa resin ternyata bisa digunakan pada bidang kain. Jika kacamata matahari adalah produk mewah, maka ini minimalis, dan mereka berdua sadar bahwa bisnis mereka merubah cara hidup kita dalam memanfaatkan produk daur ulang.

Dan ketika orang suka akan produk mereka, maka pakaian bekas untuk dibuang diminimalis. Kita jangan sampai menjadi generasi pakai- buang. Mereka termasuk entrepreneur yang memahami bahwa menjadi biang perubahan itu harus. Tetapi mereka sadar bahwa mengemas produk sebaik mungkin agar laku dijual.

Tetapi mereka juga ingin kemasan minimalis. Efesiensi tidak cuma pada produk, tetapi kemampuan dalam penjualan lewat internet. Mereka bergerak dari organisasi amal ke perusahaan besar yang punya limbah. Mereka ingin mengubah produk lawas tidak laku terjual.

"Kami berharap produk kami akan meningkatkan kesadaran akan limbah fashion," tutup Spencer.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba