Mimpi Pengusaha Dodol Keripik Ibu Popon

Profil Pengusaha Popon Suhaemah 



Sosok petani buah satu ini layak kamu tiru. Popon Suhaemah tidak mau 83 pohon mangga miliknya terjual murah, atau bahkan membusuk tidak laku. Ibu Popon lantas membuka usaha jus buah. Sasaran Bu Popon adalah sekolah dekat rumah. Meskipun usaha ini berjalan sebentar, aneka usaha lainnya menyusul lagi.

Pokoknya Popon tidak mau hasil perkebunan mubazir. Inilah cikal bakal usaha camilan dia kembangkan. Yang dari semula berawal buah mangga, Bu Popon terkenal membuat keripik nangka. Dia memanfaatkan segala sumber daya sekitaran daerahnya.

Ide bisnis muncul dari pelataran rumah, Kelurahan Cijati, Kab. Majalengka, yang sebelumnya berjualan jus lantas berbisnis dodol kemudian keripik. Sebelum bisnis buah, Bu Popon ternyata pernah jualan telur asin pada 2000 silam. Bisnis berakhir ketika musim kemarau karena bebek hilang di budidaya desanya.

Bisnis terus


Kenapa bisnis jus buah Popon gagal. Ternyata ada alasan dibalik kisah gagal tersebut. Menurutnya jus buah tidak awet. Dalam seminggu disimpan maka akan keluar bakteri pembusuk. Ia mulai memutar otak caranya agar jus buah mangga awet. Dia lantas berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan, bagaimana biar tahan lama.

Ia mengenang awal usahanya: Cuma ingin bagaimana produk jualan yang bertahan lama. Atas saran Dinas Kesehatan, dia diberi surat mengikuti pelatihan, mendapatkan ilmu baru tentang bagaimana mengawetkan buah mangga. Dia merubah mangga menjadi dodol kemudian keripik.

Segera bisnis ini berjalan, dan sejak 2002, nama usaha Ibu Popon sudah terdaftar menjadi merek dagang. Ia menggunakan nama Ibu Popon biar nyarinya gampang. "..karena saya asli orang sini," jelasnya. Kan orang sana kenal sama Ibu Popon, jadi orang tau siapa pembuat camilan mangga menggiurkan itu.

Agresifitas bisnis Popon memang meningkat. Apalagi semenjak sang suami di- PHK, bisnis keripik ia jalankan semakin gencar promosi. Pada Oktober 2003, mangga Popon melimpah, menghasilkan banyak buah yang dijadikan modal usaha.

Popon lantas merubah mangga menjadi dodol, dengan berbekal pengawet. Semua berkat ilmu pengawet baik yang sudah berijin Dinas. Mengendarai motor GL 86, Popon titipkan dodol mangga ke warung, ada 20 bungkus dodol setiap warung disinggahi, dodol pokoknya harus habis tidak ada sisa di rumah.

Namun, berbisnis tidak semudah harapan, dodol Ibu Popon kok tidak selaku dibayangkan. Laku cuma 2- 5 bungkus setelah dia menagih ke warung- warung. Sisanya dikembalika ke Popon dan berlangsung lumayan lama. Popon tidak lupa membawa gunting, tidak laku dodol dipotong kecil, dan merek dibakar dibuang ke sungai.

Tetapi Popon tetap ulet menggarap bisnis dodol mangga. Meskipun hasilnya rugi tetap dia perjuangkan. Ia lantas menarik perhatian Dinas Pertanian. Senang banget ketika itu, tempat usahanya didatangi pejabat- pejabat berseragam cokelat. Mereka membeli dodol- dodol mangga Ibu Popon akan dijual ke Provinsi.

Mereka ingin memamerkan bahwa Majalengka punya khas. Dodol mangga menunjukan bahwa sumber daya utama Majalengka, yakni mangga, bisa diusahakan menjadi hal baru. Inilah titik terang bisnis Popon berkembang. Lewat obrolan dan sepucuk nomor telephon yang dia minta seolah membuka jalan.

Bisnis keripik


Selepas Lebaran, Bu Popon mampir ke Dinas Pertanian, untuk bertemu Kepala Seksi Usaha tingkat Kab. Majalengka, bernama Pak Nunu. Dia berkesempatan menceritakan mimpinya. Panjang lebar tentang apa yang hendak Popon capai dari bisnis dodol mangga.

Dia kemudian diajak menjadi warga binaan tani. Syaratnya Bu Popon harus membentuk kelompok tani dulu. Ada 4 orang dalam satu kelompok Popon. Mereka adalah saudaranya sendiri. Mengumpulkan uang Rp.50 ribu buat mendapatkan pelatihan. Mereka melakukan trial- error usaha dodol mangga bersama.

Dengan dukungan Dinas Pertanian, beberapa hal mendasar mendapatkan bantuan. Tetapi untuk bagaimana menciptakan produk berkualitas. Sepenuhnya ditangan kelompok tani Bu Popon. Sudah membuat dodol tapi malah sudah jamuran meski belum beredar. Dinas memberi saran lemak sapi tetapi dodol malah bau.

Didampingi Dinas, usaha terus dilakukan, hingga mereka diajak melalukan kunjungan ke Ciamis. Di sana dia belajar mengenai cara benar membuat dodol. Pokoknya Dinas Pertanian mendampingi pasca panen sampai akhirnya membantu memberi pencerahan.

"Ooohh... rupanya begini caranya membuat dodol," ujar dia. Mulai studi banding dodol ke Ciamis hingga Sukasena. "Kalau orang lain bisa, kenapa saya enggak," yakinnya. Pelatihan mulai cara membuat sampia ke pengemasan.

Dia pun belajar mengenai arti merek. Nama harus memiliki filosofi kuat dibaliknya. Nama merek berarti intergritas bisnis mereka. Popon mendapatkan bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad), dan juga Universitas Pasundan (Unpas). Semua masalah dikonsultasikan ke Jurusan Teknologi Pangan keduanya.

Bahkan Popon rela mahasiswa datang melalukan penelitian ke rumah. Berkat bantuan para mahasiswa itu, Popon dapat menempelkan kandungan nutrisi.

Tahun 2004, bisnis Popon makin maju, aneka camilan diolah yang berbahan dasar buah- buahan hasil pertanian. Dia kemudian mendapatkan tawaran mesin vacuum frying untuk membuat keripik. Aneka macam keripik buah dibuat. Dari kerpik pisang, dia belajar, bagaimana agar keripik tidak letoy kelamaan.

Ia belajar jenis pisang berpengaruh, disisi lain tingkat kematangan mempengaruhi. Kita harus tentukan dulu, pisangnya apa, kulit pisangnya seperti apa, kemudian harus kita goreng sampai ke tingkat kematangan berapa. Kalau gagal disortir maka akan diolahnya menjadi dodol.

Kalau awal, pisang dihajar, langsung kupas goreng tanpa mikir. Bu Popon belajar bahwa berbisnis adalah kesabaran. Meskipun dianggap sepele, Popon barulah mampu membuat keripik pisang sesuai dengan apa yang dia inginkan setelah tiga tahun. Nama dodol dan keripik Ibu Popon mulai dikenal khalayak ramai nih.

Bisnis tidak berhenti


Usaha dijalankan Popon terus berkembang. Dia terus belajar termasuk cara menentukan harga. Jika dia jual ke warung Rp.3.500 maka kalau ke pembeli langsung Rp.5000. Disisi lain ada orang jualan 1/4 ons dijual Rp.2.500. Alhasil keripik Popon tidak laku di pasaran, meski rasa lebih mantap, hanya karena harga.

Ia kembali dapat retur. Dia kemudian menentukan ulang harga. Disisi lain, permodal juga masalah, untung ada jaminan dari Dinas Koperasi. Alhasil Popon mendapat pinjaman bank BJB senilai Rp.9 jutaan di tahun 2009 silam.

Dia kemudian diajak ikut pameran oleh Dinas Perindustrian. Hampir seluruh wilayah Indonesia sudah dia kunjungi, contoh NTB, Makassar, Surabaya, Jakarta, dan Batam. Produk Ibu Popon juga pernah muncul di pameran Singapura Expo. Kemudian masalah packing produk juga mulai diperbaiki Bu Popon.

Dibantu Packing House asal Bandung, disarankan produk buatannya tidak cuma diplastik, tetapi dibentuk jadi souvenir lewat kardus. Melalui itulah nama Ibu Popon semakin besar -pemasaran merambah sampai ke Majalengka, Jakarta, termasuk rest area jalan tol dan kantor koperasi Jakarta.

Di Bogor, kamu bisa dapati produk Ibu Popon di sentra oleh- oleh Priangan Sari. Pusat perbelanjaan di Carrefur Yogya juga sudah ada. Sudah berkembang, Popon mulai berbagi ilmunya lewat pelatihan kepada ibu- ibu sekitar. Ada sekitar 40 kelompok tani, terdiri dari 10 orang, dimana mereka berkeahlian khusus.

Ada bagian pembuatan keripik pisang, karipik jagung, keripik salak. Soal SOP dan bumbu dikontrol oleh Bu Popon langsung. Dengan bantuan mereka bisa menghasilkan berbagai jenis keripik. Kemudian tidak cuma berhenti di keripik, juga ada peyek kacang hijau, sumpia isi oncom, dimana juga mak nyus.

Siapa sangka wanita sederhana ini, adalah pemilik pabrik memproduksi aneka jajan, banyak sekali dari aneka dodol sampai aneka keripik buah. Popon sendiri termasuk suka inovasi. Dia mengutak- atik setiap produknya menjadi lebih unik. Ia sekarang terkejut karena setiap idenya diminati masyarakat luas.

Dengan upah Rp.2000 per- kilogram, maka Popon mempekerjakan sumpia oncom. Lalu ada juga emping jagung yang diminati konsumen Bogor. Awalnya cuma bikin emping original. Permintaan konsumen mau lebih: Mereka ingin diberi taburan bumbu barbeque, ini menjadi jalan Popon mengembangkan produk lagi.

Inovasi selalu dilakukan Popon. Dia menyikapi hal tersebut seperti hobi. Biasanya dia membuat sesuatu yang baru di bulan sepi order yakni Maret hingga Mei. Banyak mimpi ingin direguk Popon akan produk olahan bermerek Ibu Popon. Seperti keripik nanas, dimana tengah dia agresif pasarkan dan berhasil.

Kerja keras 8 tahun Popon, apa yang telah dihasilkan wanita tersebut. Tidak banyak dibanding pengorbanan waktu. Dia menghasilkan omzet Rp.180 juta, dimana keuntungan bersih 15- 20 persen. Dimana Popon sudah memiliki lima buah mesin penggoreng sekaligus pengering keripik sendiri.

Kegemaran -atau hobi- Popon berkreasi praktis membuatnya sulit disaingi. Pokoknya selalu ada yang baru ditampilkan produknya ini. Selain mimpi pribadi menjadi pengusaha sukses, mimpi lainnya, yakni memberdayakan petani sekitarnya telah berhasil lewat kelompok tani binaan.

Semua kesuksesan karena dia ikhlas membantu orang. "Dengan membantu orang lain, Insya Allah urusan kita juga dibantu sama Yang Kuasa," tegasnya.

Hiasan Magnet Kulkas Lucu Berbentuk Makanan

Profil Pengusaha Megawati Suganda 


 
Kegemaran Megawati Suganda akan miniatur. Membuatnya berpikir tentang bisnis sendiri. Dia dan suami lantas mempunyai ide bikin hiasan kulkas. Berbekal kecintaan akan miniatur, dari minatur diubah mereka jadi pernak- pernik kulkas bermagnet itu.

Ide bisnis dimulai sejak 2009 silam. Dengan nama TechnoCraft membuat aneka miniatur. Lalu dijadikan pernak- pernik kultas menarik. Kebetulan sang suami bekerja sebagai arsitek. Jika orang berpikir mereka akan membeli barang impor. Salah. Mereka berencana membuat miniatur buatan sendiri hingga jadi.

Mereka berpikir desain khas Indonesia. Mereka mencari trend disekitaran sendiri. Pokoknya makanan apa yang dikenal masyarakat Indonesia. Dikaji dulu, membuat desain, dan mulai berproduksi. Awal bisnis ia dibantu suami membuat semua manual, tanpa mesin.

Siring perkembangan usaha, mereka sudah memiliki lima mesin. Menurut Detik.com ada mesin pencetak kemudian mesin pengecil miniatur. Macam- macam minatur tersebut lantas dipasangi magnet. Desain meliputi produk makanan dan minuman terkenal Indonesia, contohnya Freshmilk dan Teh Botol. 

Awal usaha mengeluarkan uang mencapai Rp.30 juta. Itu buat beli bahannya saja. Mesin beru kebeli ketika sudah berjalan bisnisnya.

Semakin dikenal usaha semakin banyak promosi. Mega mulai mengikuti aneka pameran bisnis, aneka ajang pameran kerajinan seperti di Jakarta Convention Center (JCC), dan Indonesia Convention Center (ICC) di BSD, Tangerang. Juga memajang produknya di pusat perbelanjaan kota wisata Bandung.

Biasa mereka membuka pameran kecil, di mal Kasablanka, tetapi memakai konsep tidak menetap seperti cuma dua bulan. Termasuk ke floating market Lembang, atau di Farm House. Mereka juga mengirim ke Siangpura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Timur Tengah.

Website: www.magnetkulkas.com

Usaha Kaos Limited Edition Nagud Banyuwangi

Profil Pengusaha Annisa Febby Chaurino dan Hendra Gunawan 




Bagi pecinta kaos khas Banyuwangi, nama Nagud sudah tidak asing didengar di telinga. Tetapi buat kita nih namanya Nagud adalah bisnis berkonsep unik. Kamu layak mencoba bisnis mereka. Bisnis kaos distro itu memang tidak ada matinya. Bagaimana jika membuat kaos distro limited edition?

Distro Nagud! Banyuwangi dipelopori pasangan pengusaha. Sang suami, Hendra Gunawan (34), melihat peluang ada di bisnis istrinya. Annisa Febby Chaurino, memulai brand Nagud! Banyuwangi sengaja untuk membuat desain tidak pasaran.

Annisa juga mengangkat nama Banyuwangi sendiri. Hasilnya tidak asal membuat kaos distro. Ia juga tidak mau memproduksi banyak, tetapi kualitas kaos rendah. Dimulai sejak 2012 silam, satu bulan selepas dia lulus Design Industri ITS Surabaya, modalnya cukup Rp.2 juta sudah bisa membuka distro milik sendiri.

Uang tersebut pinjaman orang tua. Berarti Annisa harus sukses mengembalikan. Dengan pemasaran lewat sosial media, ada Facebook, Twitter, ada webnya juga, desainnya original tidak copy- paste desain milik orang lain. "Desainnya juga asli karya saya dan mengharamkan copy- paste desain orang lain," ujarnya.

Memang sejak awal Annisa menawarkan sesuatu beda. Dia sendiri pernah dapat juara lomba desain kaos se- Jawa Timur pada 2010. Waktu itu dia masih aktif berkuliah. Dan, oleh karenanya, dia sangat percaya diri buat memulai bisnis clothing.

Dua bulan dia mengembangkan bisnis. Mulai belajar administrasi dulu, pembuatan kaos, lalu dia beranikan diri meminjam uang. Ia sudah perhitungkan betul perputaran uang. Akhirnya memberanikan diri meminjam uang kembali ke bank. Kemudian dia mengajak kerja sama kakak di Surabaya, untuk mulai membuat kaos.

Bisnis pintar


Harga produksi Annisa memang sedikit lebih mahal. Patokan harga kaosnya mencapai Rp.90.000 sampai Rp.150.000. Satu desain diselesaikan selama satu minggu. Tetapi terkadang juga malah mengikuti mood -nya sih, jadi bisa lebih panjang. Setiap dua bulan Nagud! dan dia minimal mengeluarkan dua desain.

Bersama sang suami Hendra, mereka menyasar konsep tradisi khas ke- Banyuwangian. Bisnis mereka juga sudah berkembang tidak cuma kaos, termasuk jeket, jamper, aksesoris, batik, pokoknya khas Banyuwangi lah.

Nama- nama tradisi diambil mengangkat Banyuwangi. Baik gambar ataupun tulisan semuanya Banyuwangi. Ia mengaku bisnis mereka berjalan. Alasan karena konsep ditawarkan mereka beda. Tidak ada produksi kaos banyak. Bisnis mereka cuma memproduksi 18 potong kaos.

Dimulai kaos anak- anak hingga dewasa diproduksi terbatas. "Sengaja terbatas dengan desain yang khas agar tidak pasaran," Hendra mempromosikan.

Pengalaman memakai pakaian branded berkualitas. Yang tidak banyak dimiliki orang lain. Ada perasaan yang berbeda Hendra rasakan. Ditambah tradisi lokal membuat bisnisnya makin bersinar. Pengabdian akan tradisi lokal membuat Nagud! Banyuwangi makin matang.

Bisnis mereka sudah sampai ke Jakarta, Surabaya, Sulawesi, dan Denpasar, dan juga sampai ke luar negeri loh, seperti ke Taiwan dan Hongkong. Untuk jaket harga kisaran Rp.120.000 sampai Rp.150.000. Juga ada tas seharga Rp.60.000. Batiknya kisaran Rp.100.000 sampai Rp.600.000.

Bisnis kaos mereka berharap mampu memindahkan. Trademark tentang kota distro Bandung, ataupu kalau orang mau ke distro di Jawa Timur, ya Surabaya. Maunya nama Banyuwangi menjadi trademark tersendiri lewat Nagud! Soal omzet mereka mengaku pernah mampu mengantungi omzet Rp.60 juta perbulan.

Keripik Daun Apa Saja Jenis dan Untungnya

Profil Pengusaha Sri Lestari Murdaningsih 



Hobi memasak menghasilkan untung. Ketika banyak kaum hawa tidak pandai memasak. Banyak pengusaha lahir kerena masakan mereka. Mau belajar masak. Cobalah datang ke Ibu Sri Lestari Murdaningsih yang hobi memasak. Wanita 46 tahun ini memang suka membuatkan aneka camilan buat keluarga.

Tahun 2007, mencoba membuat camilan berbeda, gimana membuat keripik tidak berbahan umum. Tidak harus berbahan tempet. Tidak pula berbahan singkong. Ini keripik bayam dan daun singkong khusus buat keluarganya.

Karena bikinya terlalu banyak. Dia mulai membungkusi sisanya. Keripik daun- daun tersebut terkumpul 20 bungkus. Iseng dia tawarkan ke warung- warung dekat rumah. Eh, kok, antusias pembeli begitu besar terhadap keripik buatan Sri. Keripik daun tersebut laris manis habis diborong tetangga.

"Saya terkejut banyak yang suka," selorohnya. Kan dibuat tidak banyak juga. Malahan ada yang bertanya apakah Sri bisa buat lagi.

Melihat peluang bisnis terbuka sendiri. Sri membuat kembali keripik daun bayam dan daun singkong. Dia juga menambahkan keripik daun kemangi. Ketiga daun tersebut diolah kemudian dipasarkan. Tidak cuma dititipkan ke warung, Sri menyasar pula toko oleh- oleh sekitaran Solo- Yogya, hasilnya mencengakan!

Semua daun buatan Sri habis terjual. Mulailah dia semakin serius menekuni. Bisnis keripik aneka daun itu mulai dikembangkan bukan sekedar iseng. Ide bisnis Sri adalah bagaimana membuat pilihan keripik dari bahan daun.

Bisnis Puluhan Juta


Meskipun terlihat sukses besar. Tetapi juga membutuhkan jalan, hingga Sri sampai di titik dimana bisnis dia jalankan menghasilkan puluhan juta. Di awal, tentu bisnis Sri sekedar tambahan uang belanja keluarga saja. Selepas 1,5 tahun barulah terlihat hasil memuaskan, dan Sri memutuskan membuat inovasi lebih.

Dibuat lah keripik daun sirih, daun seledri, daun kenikri, terong, dan pare. Orang jaman dulu suka makan sirih. Nah, sekarang bisa digiatkan kembali lewat jajanan keripik daun sirih. Rasanya tidak pahit melainkan gurih dan renyah. Tidak cuma sirih, kemangi yang cuma lalapan bisa menjadi keripik buat dimakan santai.

Produksi awal sedikit jadilah dia bisa gampang. Sri mengaku cukup memetik di halaman rumah. Namun, ketika pesanan makin banyak, jika sekarang ia harus membeli ke pasar. Perlu kamu tau, Sri mengaku dulu sempat kesulitan meracik bumbu berbeda- beda. Mengkomposisikan pare dan daur sirih yang pahit tidak gampang.

Tiga tahun berjalan, bisnisnya menyebar, keripik aneka daunnya mulai meluas. Pemilik warung atau toko oleh- oleh dari Bantul, Klaten, Sleman, bahkan Solo, menyetok keripik daun milik Bu Sri. Pesanan luar Jawa juga banyak seperti Bali, sampai Sumatra.

Kalau musim liburan telah tiba. Bisnis Sri mengundang orang luar lokal ataupun luar negeri. Meskipun rumah Sri terletak di belakang Candi Ratu Boko, yang mana jalannya pedesaan sekali. Sri Lestari telah memiliki tiga karyawan memproduksi 40kg keripik berbagai jenis.

Keripik dijual per- 2 ons seharga Rp.5000 untuk daun bayam dan daun singkong. Adapun kemangi, sledri, kenikir, terong dan daun pare, per- 2 ons dihargai Rp.8000. Buat perkilo keripik bayam dan singkonga dia hargai Rp.35.000. Keripik kemangi, sirih, seledri, kenikir, terong, dan pare, harganya Rp.40.000 per- kilo.

Untuk tengkulak bisa mengambil sehari 35kg sampai 40kg. Stok sehari sering habis sehari, padahal dia juga menarget wisatawan Candi Boko dan Candi Ratu Boko belum makan.

Bisnis wisatawan


Pasar Sri juga termasuk wisatawan dua candi dekat rumah. Disini, awal mula, Sri semakin niat menyeriusi usaha keripik. Setelah sepuluh tahun pencapaian Sri tidak terduga. Pelanggan bukan lagi sebatas mereka dari kedua candi. Berawal dari lomba kelurahan bertema lingkungan hidup, Sri menjajakan aneka keripik daun.

Modalnya Rp.500 ribu saja, dan bisnis Sri berkembang dengan omzet mencapai Rp.15 juta per- bulan. Dia kemudian merambah aneka dedaunan lain. Contoh olahan laris adalah keripik daun sirih dan kemangi, yang sangat bercita rasa unik. Selain renyah daun keduanya memiliki khasiat buat tubuh kita.

Tiap hari dia menyiapkan 45 kilogram beraneka ragam. Untuk daun singkong, caranya potong batang, dia kemudian rebus, diperas airnya, untuk daun direbus dianginkan. Rebusan daun dicampur bawang putih, kemiri, ketumbar, garam dijadikan satu dengan tepung terigu.

Goreng pakai tungku berbahan kayu bakar agar renyah. Ingat panas api dan minyak harus stabil ya. Tidak mau berhenti di dedaunan. Keripik Sri sampai tempe, jamur tiram, usus ayam, serta daun seledri. Apapun jenis daunnya bisa diolah jadi keripik. Inti bisnis Sri selalu berkembang tetapi tidak "ngoyo" sendiri.

Bisni Sri bahkan menyentuh angka Rp.1 juta sehari. Bayangkan kalau dikalikan 30 hari saja. Sangat lebih dari cukup buat memenuhi kebutuhan perempuan sederhana ini.

Sukses keripik Sri membawa banyak media masa, baik lokal maupun nasional. Akhirnya membawa banyak orang menjajal peruntungan. Disisi lain, banyak pesaing, Sri juga kebanjiran orderan sampai dari luar Jawa berkat pemberitaan. Antrean pesanan bahkan sampai tiga hari, karena saking banyak pembeli.

"Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," ujarnya. Total ada 30 orang tetangga Sri ikutan berbisnis sejenis. Lumayan hasilnya bisa menambah dapur masing- masing. Sri sendiri merasa tidak tersaingi ya karena Sri sudah makan garam keripik daun puluhan tahun.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba