Situs Resep Makanan Jepang Terbesar Cookpad

Profil Pengusaha Akimitsu Sano



Tidak banyak diketahui tentang seorang Sano. Ialah dibali situs aneka resep terbesar Jepang, Cookpad.com, yang sudah memulai sejak bangku kuliah. Pria 42 tahun ini jarang berbicara kepada media masa. Ia memiliki sedikit biodata bisa disusuh oleh media, bahkan sekelas Forbes.com

Kuliah di kampus terkenal Jepang, Keio University, asik mengerjakan Cookpad. Tahun 2012 meninggalkan tugas sebagai CEO mengerjakan aneka akuisisi. Ia mengakuisisi Minanno Wedding, situs review buat tempat pernikahan Jepang, dan Cucumbertown, blog platform buat aneka makanan asal Amerika, untuk nilai tidak diketaui.

Menurut Wikipedia semua dimulai dari perusahaan bernama Coin Ltd pada Oktober 1997. Kemudian ia meluncurkan Kitchen@coin tempat berbagi resep makanan. Kemudian namanya berubah menjadi Cookpad pada 1999 dan tahun 2002 mulai membuka ruang bagi pengiklan masuk.

Bisnis memasak


Tiga tahun situs milik Akimitsu Sano telah mencapai 12 kali lipat. Dia mampu merubah Cookpad masuk jajaran 55 situs paling dilihat di Jepang. Usahanya memang ambisius. Sejak awal dia sudah melihat diluar apa orang lihat sebagai situs resep masakan Jepang.

Data dihimpun menyebutkan situs ini dikunjungi setangah wanita di Jepang. Umur antara 20 -an sampai 30 -an, dimana penghasilan diperkirakan $122 juta dan tahun 2016 mencapai $150 juta. Kemenangan situs ini ternyata merupakan cerminan wanita Jepang, yakni banyak ibu rumah tangga kesukaran bersosialisasi.

"Banyak ibu rumah tangga memiliki kekurangan dalam koneksi ke sosial -and Cookpad memberikan satu link - jadi disanalah banyak peluang," ujar Takahiro Kazahaya, pakar analisis dari Deutsche Bank di Tokyo, Jepang.

"Itu bukan berarti orang sekarang tidak mau memasak," Sano menambahkan dalam wawancara bersama Japan Times, tahun 2008 silam. 

Lanjut dia bahwa ibu muda sekarang tidak memahami cara memasak. Bukan karena tidak mau memasak tapi tidak mendapatkan ilmunya dari generasi sebelumnya. Sano sendiri meyakini memasak membantu satu keluarga menyatu. 

Sano sendiri suka memasak atau dimasakan oleh istrinya. Di kantornya juga ada sebuah dapur raksasa yang seukuran industri buat seluruh pegawai. Ia sendiri tidak mau makan kecuali orang dikenalnya membuatkan ia makanan.

Percaya diri, Cookpad.com masuk ke bursa efek Jepang, dimana sahamnya naik 80% semenjak diluncurkan dulu. Dimana saham dipasarkan mencapai 20% saham. Sementara Sano memiliki saham mencapai 44% yang membuatnya memiliki kemampuan merubah susunan eksekutif Cookpad.com, dan disinilah masalahnya.

Cookpad.com memiliki 58,8 pengguna -dan menyimpan 2,1 juta resep masakan khas Jepang- contohnya saja pancake sotong khas, tetapi tidak juga menafikan masakan khas Jepang layaknya Bolognese ataupun Cheesecake.

Kegaduhan bisnis


Ia mengejutkan semua pemilik saham. Sebagai pemilik 44% saham membuatnya memiliki kuasa. Pada bulan Januari 2016 dia membuang semua jajaran direksi utama. Alasanya Sano merasa perusahaan mulai tidak lagi fokus di bisnis utama. Akibatnya saham jatuh 23% dalam satu hari dan kabarnya ada pertarungan hebat di dalam.

Sebagai situs yang memiliki pengguna 85 juta hal ini menganggu. Jalannya roda bisnis Cookpad dibutuhkan tetap dalam jalur. Pada Februari, Sano setuju tidak mengusik beberapa orang, dimana ini merupakan hasil dari perpinjangan panjang pertemuan pemilik saham.

Ia sendiri ingin kembali menjadi direktur. Sayangnya, banyak staf merasa tidak mau jika ia kembali ke bagian tersebut. Banyak orang percaya direksi sebelumnya telah menjalankan tugas bagus. Harga saham semakin turun karena ributnya perusahaan di dalam.

Pada 10 Mei, pendapatan turun sampai 73%. Bahkan mereka mencoba menjual bagian dari perusahaan itu. Sebuah kekecewaan kenapa Sano melontarkan proposal tersebut. Sebuah proposal yang berisi kekecewaan pribadi Sano terhadap kinerja perusahaan dan mencoba mengambil alih.

Meski coba diganjal, Sano tetap mendapatkan kedudukan direktur kembali, di dalam proposalnya terdapat rasa kecewa sebagai pendiri bahwa perusahaan mulai melupakan bisnis utama. Ia juga menambahkan lagi mereka yang bekerja di kantor diluar Jepang memiliki visi kurang.

Ia menginginkan kembali bisnis mereka di memasak. Dia berpikir bahwa manajemen dulu tidak cukup dalam hal berpikir ekspansi keluar.

Masalah sebenarnya


Dimulai sejak 1998, Cookpad menjadi pemain sentral situs berbagi resep, dan memiliki lebih dari 60 juta pengguna lokal, yang mana kebanyakan wanita. Tidak cuma masakan Jepang, mereka juga memiliki resep khas Amerika sentuhan Jepang, yang aneh. Mereka punya burger hitam dari kacang atau mufin kelapa.

Sejak membuka diri melalui IPO, perusahaan telah tumbuh berkali lipat sejak 2009. Dan nilai iklan bisnis dari situ resep ini mencapai $1,5 miliar. Pada tahun 2012 Sano memutuskan mundur sebagai presiden, dan digantikan mantan pemilik Kakaku.com, yang diakuisisnya, yaitu Yoshiteru Akita, untuk menyendiri sendiri.

Tidak banyak diketahui apa dilakukan oleh Sano. Namun Akita sukses berekspansi ke bisnis review layanan pernikahan, dimana memperlebar dari tujuan semula Sano. Sementara itu Sano dikabarkan tengah membuka cabang di Amerika, dan mengakuisi Cucumbertown sebagai satu aset perusahaan.

Tiba- tiba Sano mendadak "berilusi" bahwa para eksekutif tengah bermain. Mereka tidak fokus mengerjakan fokus bisnis mereka yakni di bidang masakan. Padahal Sano sendiri mengambil keputusan untuk mengakusisi beberapa usaha diluar resep.

Ia meminta merubah susunan direksi perusahaan. Aneh, memang dia bisa, namun akan menjadi masalah utama jika dia lakukan. Apalagi Sano dianggap tidak jelas dalam kebijakannya. Padahal banyak perusahaan besar memegang saham di Cookpad.com, sebut saja Citigroup.Inc, Seven & I Holding.Co, Sharp Corp.

Sano mulai propektif akan pemilik saham minoritas. Dia telah mengambil orang dari luar perusahaan, yang disebut sebagai independen, tetapi tidak seindependen itu. Memang sebagai pemilik saham 44% Sano sudah menunjukan kekuatannya. Meski begitu akan menjadi masalah jika sampai dia salah mengambil keputusan.

"Mereka (pemilik saham utama) bisa melakukan apapun mereka suka (jika serius)... tetapi kasus seperti ini sangat langka," ujar Ishida, pengamat ISS, karena bisa membuat pemilik saham melepas saham dan untung karena pemegang saham utama ketiga masih melihat potensi Cookpad.com

Contoh Sukses Warung Pecel Bu Wied Barokah

Profil Pengusaha Wiedyanti 


 
Tidak semua usaha keluarga berjalan lancar. Beberapa anak memilih membuka usaha sendiri, tidak maunya meneruskan usaha keluarga. Beberapa orang terpaksa menjalankan amanah tersebut. Namun tidak sedikit orang ikhlas menjalankan usaha keluarga sebagai bakti maupun passion.

Panggilan hati Wiedyanti melanjutkan usaha keluarga. Wanita 56 tahun ini merupakan anak pemilik usaha pecel asli Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Nama usaha Warung Pecel Bu Wied, karena dijalankan penuh ikhas oleh Wiedyanti alhasil usaha tersebut makin moncer.

"Ya, saya pilih pecel karena disamping tradisional juga sayuran kan lebih banyak peminatnya," ujar dia jelas singkat.

Meneruskan usaha ibu bukan berarti tanpa modal. Berkisah dia mengeluarkan uang Rp.500 ribu. Ibu empat putra ini telah mampu mengantungi Rp.7 juta sampai Rp.10 juta per- bulan. Untung memang banyak yah ia menyebut karena harga sayur tidak terlalu mahal.

Kualitas bumbu kacang pecel Bu Wied memang legit. Itulah kenapa pelanggan akan kembali apalagi harga murah. "Yang penting semuanya senang, pelanggan balik lagi," tandasnya.

Dia sendiri tidak mau untung sendiri. Wied mendapatkan bantuan banyak orang. Saking ramainya ketika hari libur dia dibantu lima orang. Kalau hari biasanya Bu Wied cuma dibantu dua orang karyawan. Kalau di hari biasa memang tidak begitu ramai. Tetapi karena enak pelanggan pastilah akan balik lagi.

Rahasia bisnis pecel


Sebagai pengusaha perjalanan Wied memang tidak gampang. Dia berkisah pernah mengalami masa dimana tidak ada pembeli. Susahnya mencari pelanggan pernah dirasakan dia. Wied cuma berdoa kepada Allah agar diberi kesabaran serta kesuksesan nanti. Bertahap usaha sederhana itu mulai membenahi diri mengikuti arus.

Warung Pecel Bu Wied terkenal rasanya. Berkat kegigihan dan selalu menjaga pelanggan, membuat Bu Wied mampu menguliahkan dan menjadikan putra- putranya pegawai negeri. Dia begitu terharu dari cuma jualan pecel mampu menghantarkan anak- anaknya mapan.

Tiga putra Bu Wied menjadi pegawai negeri sipil. Sementara satu lagi memilih membantu ibunya berjualan. Mungkin yang satu ini lebih berminat ke dunia wirausaha. Mereka yang menjadi PNS bertempat di Medan, Kalimantan dan Jakarta. "Mereka suka pulang kesini," tuturnya terharu.

Prinsip usaha Bu Wied adalah demi keluarga. Dia bekerja sekuat tenaga agar anaknya jadi orang. Tidak apa jika dia tidak bersekolah tinggi asalkan anaknya sukses. "...anak- anaknya bisa kuliah semua, bisa sukses. Saya kadang- kadang enggak percaya, kok bisa ya," imbuhnya.

Ia mengingatkan pengusaha muda bahwa tidak ada usaha sia- sia. Terpenting bagi pengusaha menurut dia adalah harus ulet, ikhlas, dan jujur, maka akan dimudahkan segalanya. Menurut Wied tidak ada usaha sia- sia. Asal kita mengikuti tiga kunci diatas -ulet, ikhlas, dan jujur- maka usaha akan berjalan sesuai arahnya.

"Kalau moda bisa dicari kan, kalau kitanya ulet," imbuh dia.

Usaha sederhana untung banyak

Pelanggan Wied kabanyakan warga sekitar. Jadilah pastikan usaha kamu dekat dengan tempat keramaian. Ia menuturkan usaha buka pukul 08.00- 09.00 wib kalau dihari biasa dan pukul 06.00 kalau akhir pekan. Untuk konsep bisnis ditawarkan Bu Wied terbilang unik dan modern.

Dia menawarkann konsep prasmanan. Tujuan dia agar pelanggan tidak ribet dan dia enak. Pembeli sesuai selera bisa memilih sesuai selera. Kalau ia pilihkan terkadang malah dibuang. Mubazir katanya,  terbukti dari konsep prasmanan membuat usaha Bu Wied lebih menonjol.

Pembeli tidak mengeluh sampai saat ini. Kualitas masakan Bu Wied memang jos gandos. Kebanyakan sudah jadi pelanggan tetap pecel Bu Wied. "Saya menjaga mutu, harga naik tidak apa- apa yang penting mulutnya terjaga," imbuhnya. Biarkan saja produk kamu naik sesuaikan modal tanpa mengurangi cita rasa.

Takaran bumbu tidak berubah meski harga cabe naik, misalnya. Wied tidak pernah mengurangi takaran dari bumbu pecelnya. Namun dia tetap berharap harga tetap stabil tidak berubah. Tujuannya agar memudahkan dia menentukan harga tidak merepotkan.

Kadang naik- kadang turun membingungkan Wied. Dia sendiri susah menaikan meski kenaikan tidak dapat dihindari -kualitas merupakan nomor satu. "Kalau jualan gini kan enggak bisa naiki harga sembarangan," ia menutup.

Jadi Petani Jahe Merah Setelah Lulus SMA

Profil Pengusaha Wahyu Widodo 



Umur masih muda tapi mau jadi petani. Tentu orang tua akan berpikir dua kali keputusan Wahyu. Pria yang bernama lengkap Wahyu Widodo memilih bertani. Alkisah semua bermudal dari perpustarakan yang digagas oleh CSR Coca- Cola Foundation. 

Keinginan wirausaha


"Bapak ibu saya seorang petani. Tahun lalu selepas SMA saya tidak bisa melanjutkan kuliah," kisah Wahyu tentang kehidupan keluarganya. Tetapi satu hal tidak pernah dia tidak lanjutkan yaitu kebiasaan membaca.

Dia memang petani sejak kecil. Membantu keluarga bertani memang sudah kebiasaan. Namun mana ada orang tua mau anaknya menjadi petani jaman sekarang. Mereka lebih suka melihat dia bekerja di pabrik. Apalagi ketika gagal panen susah hidup mereka terasa. Namun dibenak hati Wahyu ada keinginan membuka usaha.

Waktu itu dia belum terpikir menjadi pengusaha agro. Bayangan pemuda 19 tahun tersebut itu mengambang antara keinginan merubah nasib tetapi tidak tau caranya. Bak pungguk merindukan bulan niat Wahyu menjadi pengusaha ditanggapi kedua orang tuanya seolah tidak mungkin.

Pola pikir mengenai berwirausaha butuh modal melekat. Anak petani gurem ini cuma sampai bermimpi pikir orang tuanya. Hingga sebuah acara pelatihan kewirausahaan diadakan dalam bentuk perpustakaan. Mereka mengajarkan bagaiman menjadi wirausaha lewat buku.

Seorang pengelola perpustakaan desa (perpusdes) lantas mengajak dia ikutan. Bayangan pertama dia mana bisa berhasil. Perpustakaan kan tempat membosankan. Awal dia menolak karena bayangan tempat berdebu, kumuh, gelap dan membosankan menghantui. Tetapi ayah ibu Wahyu mendorong dia agar mau ikutan saja.

Mereka paham keinginan sang anak mau berwirausahaan. Meski mereka pesimis mereka tetap memahami. Akhirnya Wahyu ikutan mendaftar dan dia mendapatkan kejutan disana.

Orang tua cuma bilang mungkin disana merupakan jalan Wahyu. Omongan orang tua ternyata benar adanya. Ia mendapatkan pelatihan internet dan cara memakai internet. Bayangan tentang perpustakaan jadul tidaklah terlihat sama sekali. Wahyu juga mendapatkan cekokan banyak video motivasi menjadi wirausaha sukses.

Video berisi orang- orang sukses berwirausaha. Perpustakaan desa membuat Wahyu tidak cuma ingin. Dia mulai membangun mentalnya, bisnis apa yang akan dijalankan, dan semakin ingin lagi. Tidak cuma Wahyu belajar sendirian. Ada kawan sesama pelatihan dapat berbagi obrolan termasuk usaha apa menarik.

Dari obrolan dia tertarik dengan usaha temannya yaitu budidaya jahe merah. Meneliti lebih dalam Wahyu tak cuma membukan buku juga membuka internet.

Bisnis jahe


Disela pelatihan dia mulai mengumpulkan informasi tentang jahe merah. Pemuda ini memang sudah ingin jadi pengusaha sejak lulus SMA pada 2014 silam. Pulang pelatihan kakak meminjamkan uang Rp.200.000 buat usaha. Kemudian mengumpulkan uang jajan sampai Rp.400 ribu dibuat membeli bibit jahe dari internet.

Sayangnya, bertani tidak semudah dibayangkan, apalagi tanaman tengah dibudidaya adalah komoditas yang mahal dan susah. Awal memulai semua bibit ditanam dia mati. Dia tidak pantang menyerah. Dia kemudian kembali Sragen membrowsing dan mencari buku literatur. 

Ia membaca bagaimana cara membuat bibit jahe merah sendiri. "Ketika ingin menanam jahe lagi tetangga saya tertawa karena kegagalan sebelumnya," kenang Wahyu. Justru ketika dia mencoba kembali malah hasil bibit jahe Wahyu lebih bagus dibanding bibit beli.

Sudah sukses mau diapakan pikir Wahyu. Dia ingat memiliki akun Facebook. Ia lalu memfoto bibit dia miliki dan memposting ke sosial media, meminjam komputer dari Perpusdes. Pagi bangun tidur dia sudah bangun memfoto bibit jahenya. Dia masih memakai kamera jadul hp kemudian dimasukan komputer lalu diupload.

Dua jam saja seseorang dari Purwodadi menelepon. Kemudian disusul orang asal Solo dan Purwerojo. Dia menghantar sendiri ke pesanan ke kota tersebut. Dua bulan kemudian datang dari Jawa Barat serta Sumatra. Lima bulan kemudian lebih banyak pesanan, bahkan mencapai Rp.4- 10 juta lebih dari cukup membiaya kuliah.

Lalu, dia memutuskan melanutkan kuliah, menjadi mahasiswa jurusan Agrobisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Semua dia syukuri beruntung dia mengikuti saran orang tua. Dia mencari ilmu dari perpustakaan  Dari membaca kemudian memanfaatkan koneksi internet dan komputer. 

"...akhirnya saya bisa membuka usaha sendiri dengan berjualan online dari perpustakaan," tutur dia.

Dia kemudian ingin menjadi eksportir jahe merah. Tidak berhenti disana, dia membuka usaha lain seperti hal bisnis penjualan karung, tetes tebu, kemudian dia akan menyasar jahe gajah. "Omset saya sampai Rp.10 juta per- bulan," imbuhnya.

Pabrik Hanger Pakaian Rajawali Raup Ratusan Juta

Profil Pengusaha Joko Ibrahim 


 
Menjadi pengusaha tidak disangka- sangka. Siapa sangka niat hati menyenangkan calon mertua, eh ternyata, malah menjadi bisnis berbuah ratusan juta. Inilah kisah Joko Ibrahim seorang pengusaha alat rumah tangga. Ia menceritakan awal kisah dia sama sekali tidak berniat menjadi pengusaha muda.

Dia awalnya berkunjung ke rumah kekasih di Dusun Ngunut, Tulungagung. Ternyata calon mertua Joko itu pengusaha alat rumah tangga. Dan kebanyakan warga dusun memang pengrajin peralatan rumah tangga. Satu kecamatan tersebut menjadi sentra alat rumah tangga. 

Kan kalau dia bisa membuktikan diri, siapa tau makin mudah. Jadi mudah buat Joko melamar sang kekasih. Lalu dia menawarkan diri untuk menjualkan hanger buatan calon mertua. Pria lulusan IAIN Wali Songo ini lantas menawarkan tetangga, kebetulah dia tengah melanjutkan sekolah Universitas Paramadina Jakarta.

Tawaran tersebut diterima senang hati. Jadilah Joko pengusaha alat rumah tangga dadakan. Ditawarkan itu ke tetangga tempat dia bertempat. Tidak cuma berhenti disitu saja, ia lantas membidik pasar internet melalui situs gratisan.

Bisnis siapa sangka


Joko sendiri bukan orang susah. Lahir dari keluarga berkecukupan membuat dia bisa bersekolah tinggi. Dia pun mengingat masa kecil menyenangkan. Ayah Joko sendiri adalah seorang kepala sekolah. Mereka sudah memiliki sepetak sawah. Kemudian ibu Joko merupakan penjual tanaman palawija.

Tumbuh menjadi pemuda biasa sampai berkuliah. Waktu kuliah di Semarang, ia juga aktif mengikuti aneka kegiatan kemahasiswaan. Berkat itu dia memiliki kemampuan komunikasi baik. Dalam hal membangun relasi juga mudah.

Itulah kenapa, ketika lulus 2003, pekerjaan bagus dapat digenggam Joko yakni menjadi manajer sebuah yayasan pendidikan di Solo. Namun karir dijalani Joko sangat lambat. Lima tahun berlalu kemudian ditawari beasiswa S-2, tanpa berpikir panjang Joko mengiyakan berkulih kembali ke Jakarta.

Sambil kuliah sambil bekerja. Joko bekerja di sebuah kantor pengacara. Disaat bersamaan juga menemukan wanita kekasihnya, yang sekarang istrinya, Prisa Ani Yulia.

Prisa sendiri merupakan warga Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur. Ketika berkunjung ia melihat orang tua kekasihnya mengerjakan hanger kawat. Sebuah usaha yang kelihatannya maju karena banyak pekerjaan tiap hari. Dia mencoba mengambil hati mertua. Joko sampai rela berhenti dari kantor pengacara.

"Sebab, bisa jualan sambil pacaran lebih menyengangkan,"cletuknya.

Ketika di Jakarta dia menjual melalui internet. Ternyata hanya berbekal situs penjualhanger.multiply.com bisa menghasilkan banyak pesanan. Transaksi online dijalankan Joko sudah seperti sekarang. Selepas membayar transfer barang akan langsung dikirim. Untuk penjualan dengan syarat tertentu tidak dipungut biaya mengirim.

Dia baru tau dahsyatnya berjualan hanger. Apalagi penjualan alat rumah tangga melalui internet kan masih sangat jarang. "Hasilnya lumayan," imbuh Joko. Produk dijual Joko masih produk hanger kawat biasa tidak ada spesial.

Penjualan melalui internet berbeda dari langsung. Ketika menjual rumah ke rumah, bayangkan Joko hanya mampu menjual 2- 3 calon pembeli. Dan ketika ia pindah berjualan dari multiply. Bayangkan dia melayani pembeli sampai belasan. Jika pembeli langsung membeli sedikit, pembeli internet akan membeli jauh lebih banyak.

Makin banyak dibeli


Suatu hari dia kedatangan seorang pembeli asal Korea. Ternyata dia merupakan pemilik laundry asal Korea. Ia pun menawarkan kerja sama bisnis menarik. Dia menginginkan hanger dibuat khusus. Kemudian datanglah seorang kawan menawarkan contoh hanger khusus. Hanger sesuai dengan keinginan pengusaha Korea itu.

Sang pengusaha laundry menginginkan hanger khusus. Bukan hanger kawat bekas, namun hanger dengan ukiran di gagang. Joko lantas membuat sampel. Kemudian beberapa contoh tersebut diberikan kepada si pengusaha Korea tersebut. Akan tetapi pemesan tersebut tidak kunjung memesan. Ia merasa dikecewakan sekali.

Namun, apa sudah berlalu tinggal pelajaran, banting stir Joko menawarkan hanger sama ke orang lain. Sabar dia menawarkan ke beberapa laundry. Hasilnya satu pesanan datang dari laundry di Nusa Tenggara Barat pada Mei 2009 silam. Tidak tanggung mereka memesan sampai 250 unit hanger.

"Saya senang sekali, tetapi juga bingung," ia berlanjut. Pasalnya Joko belum berproduksi sebanyak itu. Pria kelahiran 19 Maret 1980 ini lantas memberitau kesusahan ke pacar. Sang calon mertua ternyata merespon masalah ini mengejutkan.

Calon mertua menawarkan modal Rp.2,5 juta kepada Joko. Maksudnya agar dia dapat membelikan mesin cetak buat hanger. Untuk menambah modal usaha, ia menarik uang tabungan Rp.5 juta, lantas dibeli gulungan kawat dan bahan kimia buat mewarnai hanger. Sukses besar Joko memenuhi pesanan tersebut tepat waktu.

Kisah berlanjut dia membuat kembali hanger berdesain sama. Dia bekerja bersama empat orang karyawan yang dipinjamkan mertua. Kisah berlanjut tetapi tidak sesuai harapan dia. Pesanan malah kembali sepi tidak ada pesanan banyak.

Bertahan sabar


Ia sempat menawarka ke eksportir. Namun ditolak karena waktu itu belum punya mesin. Ia sempat bersedih cuma dia tetap semangat. Dia merasa bertanggung jawab bahwa dia sanggup. Keinginan memajukan usaha mertua membuat dirinya lebih bersemangat. Alhasil pesanan hanger baru membuka peluang bisnis pembuatan sendiri.

Hanya saja, bagaimana jika ternyata pesanan kembali sepi ya? Padahal dia barulah menikah. Juga masih ada stok 30.000 hanger. Mereka pasangan suami istri baru terpaksa berhemat. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dari pesanan hanger yang sepi.

Tidak mau lama- lama berdiam diri. Apalagi sampai gila karena pesanan tidak kunjung datang. Joko memiliki ide brilian. Dibukannya buku YellowPage, mencari- cari internet, bagaimana dia bisa menemukan pasar lain potensial.

Akhirnya Joko membuat surat penawaran, ditawarkan hangernya kepada 7 laundry dari Bali dan Makassar. Startegi seperti ini ternyata tidak sia- sia. Pesanan mulai berdatangan. Namun, ketika sudah bersemangat, ia menemukan tidak se- "wah" dibayangkan. Dimana tidak setiap saat mereka akan butuh hanger tergantung musim.

Tujuh bulan berlalu, hingga Joko mampu menguasai pasar hendak dicapai. Joko akhirnya mampu memetakan calon pelanggan.

Masuk Idul Fitri 2009, pesanan mulai menaik, dan pesanan datang salah satunya Simply Fresh. Ya laundry besar tersebut memesan hanger ke Joko. Selain Simply Fresh, ada nama Martinizing Dry Cleaning memesan hanger juga. Dua bulan stok hanger produksinya habis tanpa sisa di gudang.

Simply Fresh Yogya pun secara teratur memesan hanger dari Joko. Kemudian sejak itu lahirlah nama produk Rajawali Hanger. Secara rutin mereka memasok hanger 8.000 buah ke Simpy Fresh setiap bulan. Kemudian dari Marinizing Dry Cleaning memesan sampai 2.000 unit setiap bulan.

Visioner bisnis


Rajawali Laundry masuk pasar ritel berbekal semangat. Bayangkan mereka memproduksi sampai 360.000 hanger setiap bulan. Juga termasuk masuk ke pasar grosir. Ternyata banyak orang membeli peralatan rumah tangga disana. Tidak berhenti di hanger, banyak orang meminta dipasok sapu, keset, dan kemoceng.

Melihat potensi itulah dia mulai mencari produk lagi. Dia menampung produk karya warga Desa Ngunut. Ia melalui perusahaan Rajawali Hanger berekspansi. Dari menjual aneka peralatan kebersihan, Joko lantas masuk ke bisnis pembuatan peralatan dapur sampai 100 jenis.

Ia menjalin kemitraan dengan pengrajin sekitar. Dia bertindak sebagai distributor. Kemitraan memasok alat- alat dapur. Dari empat orang karyawan pinjaman mertua, Joko merekrut empat lagi karyawan lepas buat membantu dia. Omzet jangan ditanya, Joko mampu meraup omzet sampai Rp.250 juta per- bulan.

Semua karena tidak cuma lokal. Joko bahkan mendapatkan tawaran ekspor. Joko mengekspor sampai ke Kanada lewat PT. Seven Continent, dimana mereka merupakan pemasok display buat produk ke Amerika seperti Lea Jeans. Tidak berhenti dia mendapatkan tawaran ekspor lain dari dua perusahaan asing.

Tetapi dia cuma mau jika bisa dikerjakan disela- selag kesibukan. Joko sendiri lebih nyaman berhubungan langsung dengan pelanggan, baik website, Twitter, ataupun Facebook. Meskipun begitu dia tetap merekrut orang buat menjalankan marketing. Karena itu merupakan kunci sukses sebuah perusahaan berbisnis.

Meski efek internet membantu, nyatanya, penjualan tidak 50% datang dari internet. Semua justru kerena ia memiliki kedekatan langsung ke konsumen. Cuma bedanya sekarang dia telah membangun citranya. Sudah memiliki brand awareness berkat internet. Kini, dia sibuk mengunjungi mereka bahkan ke seluruh Indonesia.

"Mungkin banyak yang bilang itu buang- buang duit tapi yang penting bisa menjaga hubungan baik," imbuh dia.

Menjalin hubungan dengan pengrajin rumahan sulit. Ia mengakui mereka cenderung sensitif. Ketika dia mulai menyusun data untuk keperluan jaringan distribusi. Mereka melihat Joko penuh curiga. Apalagi ketika mulai dia beralasan mengambil gambar dan banyak bertanya.

"Mereka tidak mau kalau sekedar kita tanya- tanya dan ambil gambar tanpa membeli," Joko menjelaskan lagi.

Oleh karena itulah setiap survei, maka Joko akan membeli barang dari mereka. Tujuh bulan lamanya sampai dia benar- benar menyusun data base. Dia akhirnya mampu memetakan produk apa saja. Dia juga mulai menyusun rencana pendekatan. Lantaran kebanyakan mereka sudah memiliki pengepul sendiri jadi susah.

Dia akhirnya mendekati pengepul juga. Mereka adalah pemberi orderan kepada perajin. Pendekatan dalam hal bagaimana meningkatkan penjualan. Serta memberikan sedikit pelatihan pengembangan produk. Karena mereka kebanyakan memproduksi satu jenis produk sesuai pesanan.

Mereka memang terbiasa memproduksi apa adanya tanpa inovasi. "Saya ajarkan bagaimana pengemasan, ukuran, atau pengembangan model baru," ia menjelaskan lebih lanjut. Joko sendiri ingat betul bagaimana ia berawal. Sebagai pembuat hanger pemula berbekal kawat bekas dibentu seadanya.

Dia berharap mitra juga merasakan pengalaman. Bagi Joko, kesuksesan milik siapa saja, bukan mereka yang terlahir kaya ataupun keturunan tertentu. Siapapun mau bekerja keras pasi bisa. Memulai usaha adalah soal keberanian. Keberanian mengambil keputusan penting dan fokus akan apa pekerjaan kita.

Pengusaha Sekaligus Trainer Gelas Lukis Alia Kraft

Profil Pengusaha Laksmiwati Etty  



Seorang ibu rumah tangga telah sukses membuka peluang bisnis. Berkat kemampu seni menghantarkan ibu rumah tangga satu ini sukses berkat Alia Kraft Glass Painting. Melalui media kaca meraup jutaan rupiah dari bisnis gelas lukis. Dari hobi membuat souvenir kemudian melukis gelas kaca meraup sukses.

Warga Sidoarjo, Jawa Timur, baru mendalami sebagai bisnis pada 2009. Melalui bisnis sederahan tersebut, Laksmiwati Etty sudah mampu mengantongi omzet Rp.20 juta. Dimana perlu kamu tau prospek margin untung telah mencapai 50% nya.

Namun tentu hal tersulit dalam hal ini menyangkut cita rasa. Sisi lain adalah bagaiman kita memasarkan ke masyarakat. Aneka media kaca bisa digunakan. Jika Laksmi menggunakan media gelas minum. Kamu bisa mencoba dari botol minuman ataupun gelas lain.

Masalah lain ialah menyangkut penjiplakan desain. Untuk pemasaran, melalui sosial media, memang lebih bisa mengena di hati masyarakat kita. Bahan digunakan tergolong barang bekas. Cuma dibutuhkan jiwa seni yang memang tidak semua orang memiliki. Inovasi aneka media gelas dilakukan agar pasarnya tidak bosan.

Sukses unik


Laksmi memiliki empat orang karyawan membuat lukisan diatas kaca. Tidak cuma gelas tetapi vas bunga, guci, toples kaca, lampu, tempat permen, piring kaligrafi, serta benda lain yang kaca. Tetapi memang paling laris menurutnya ialah gelas kaca. Gelas bukan buat minum, tetapi buat dipajang. 

"Kecuali toples kaca buat tempat kue," tuturnya. Untuk gelas yang panjang Laksmi mampu menghasilkan 50 buah per- hari. Kalau vas bunga atau kuci besar baru mampu menghasilkan satu buah per- hari.

Soal harga bervariasi dari tingkat kesulitan serta ukuran. Kalau buat souvenir pernikahan Laksmi menjual antara Rp.15 ribu sampai Rp.25 ribu per- buah. Kalau yang besar- besar seperti lampu, guci, dan lainnya dijual Rp.100 ribu sampai sejuta.

Soal bahan baku, Laksmi sudah memiliki sumber sendiri yakni diambil di kawasan Kedawung, Jawa Barat. Kalau produknya kelas premium maka tidak segan dia mencari sendiri. Dia rela berkeliling suatu tempat hanaya buat mendapatkan gelas unik. Laksmi ketika berkunjung ke suatu kota, maka tidaklah lupa mencari gelas.

Biasanya khusus untuk gelas panjang, vas bunga, ataupun guci juga dicari khusus. Sedangkan untuk gelas- gelas kecil cukup dipesan saja ke pengepul.

Laksmiwati sendiri adalah seorang trainer. Selain berbisnis sendiri aktif mengajarkan aneka kerajinan tangan. Dia juga seorang penulis loh. Contoh buku pernah ditulis olehnya, antara lain Kreasi Bunga dari Biji, Glass Painting, Modern Patchwork, Kriya Kertas Semen, Art Painting, dan Gift BoBox.

Trainer kerajinan


Laksmi disibukan hari- harinya dengan mengajar. Selain berbisnis gelas lukis dia sibuk mengajarkan kepada siapapun yang tertarik akan kerajinan tangan. Sudah puluhan buku diterbitkan oleh wanita asli Surabaya ini. Ia pernah melatih ke Malaysia. Ibu 58 tahun ini memang lihai menggerakan jari- jarinya horizontal- vertikal.

Ia sibuk mengajari para calon wirausaha. Terutama mereka yang tertarik akan kesenian melukis gelas. Ia memastikan setiap selesai pasti akan ada wirausaha baru. "Setelah ini (pelatihan) selesai, saya pastikan dari mereka ada yang benar- benar menggeluti usaha ini," tuturnya.

Dua pekan pelatihan buat 30 orang. Laksmi memilih 10 orang terbaik dari pemantauan dan pendampingan proses seminar. Ia memang dikenal suka berkeliling mengajarkan ilmunya. Semua permintaan dari berbagai kota dipenuhi. Sambil mengajar dia mulai menulis buku kembali. Buku ke 11 yang masih tentang kerajinan tangan.

Tahap pelatihan sudah diperhitungkan. Mulai proses paling bawah sederhana dulu. Kalau urutan sebenarnya sih apa diajarkan Laksmi tidak berurutan. Ia mencoba menghitung kemampuan peserta saja. Tidak adanya kesulitan berarti menunjukan keahlian Laksmi.

Memang dibutuhkan pengulangan terus menerus. Tujuannya agar semakin cekatan nempel bagaimana cara melukis garis. Tiga tahun sudah ia mengajari banyak orang melukis gelas terutama di Jawa Timur.

Tidak cuma gelas lukis loh, ia juga memiliki keahlian kerajinan tangan lain, ahli lukis kain, kemasan kraton, daur ulang barang bekas, hantaran pernikahan, dan membuat bros. Pasar gelas lukis dianggap Laksmi masih luas. "Gelas lukis masih jarang," imbuhnya. Kalau dilihat cantik, apalagi kalau kena cahaya bisa memancar.

"Orang beli kebanyakan untuk hiasan atau souvenir," imbuh Laksmi. Bisa dibilang untuk seniman gelas lukis masih jarang di Indonesia. Ia menyebut empat orang terkenal. Sisanya merupakan produk impor dari Italia, Republik Ceko, dan Turki.

Dia menyebut kalau mau memulai mulailah yang mudah. Jangan langsung melukis gelas dengan motif batik. Memang motif batik akan susah apalagi medianya gelas. Buat mempertegas warna disarankan gunakanlah warga emas. Dilanjutkan dengan teknik menggunakan warna biasa. Warna gunakan sesuai selera kemudian keringkan.

Keringkan dibawah sinar matahari. Lama pengerjaan antara enam jam dapat 10 gelas. Kalau media gelasnya besar bisa sampai seminggu.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba