Sejarah Pemilik Rumah Makan Padang Sederhana

Biografi Pengusaha H. Bustaman 



Lahir dari keluarga kekurangan H.Bustaman tertimpa musibah lagi. Pria kelahiran Lubuk Jantan, Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, ditinggalkan kedua orang tua meninggal. Jadilah hidupnya lebih luntang- tantung lagi dari sebelumnya. Bustaman cuma bertahan lulusan kelas dua sekolah rakyat atau sekelas SD.

Dia bekerja apa saja. Mengadu nasib bukan lagi gengsi. Baginya tanpa menjadi keturunan Minang pun, dia sudah dipaksa bekerja sampai keluar kota. Mulai bekerja di perkebunan karet, berjualan koran, mencucikan piring di rumah makan, sampai berdagang asongan.

Bustaman juga pernah bekerja sebagai tukang bantu rumah sakit. Waktu dia bekerja di ruma makan, suatu hari, dia berpikir bahwa tempat itu begitu ramai pembeli. Terbersit pikiran dan do'a dalam hatinya, "ya Allah kapan saya bisa hidup sukses,".

Niatan merantau tidak terbendung. Langkah kakinya ingin melebar sampai ke Kota Jakarta. Padahal tahun itu, pada 1970, dia berulah menikah dua tahun dengan Fatimah. Mereka pun dikarunia seorang anak. Tapi itu mungkin alasan lain mengapa Bustaman ngotot ke Jakarta. Ia lantas ikut kakak ipar di Matraman, Jakarta Utara.

Pilihan usaha pertama sesampai dia Jakarta ialah jualan rokok. Pakai gerobak, berjalan Bustaman menjaja keliling kota.

Sukses kerja keras


Sukses rumah makan Padang miliknya memang melegenda. Dia lah pemilik usaha bernama RM. Sederhana. Pria penyandang gelar haji ini memang sekarang kaya raya. Sosoknya menjadi salah satu pengusaha dikenal disandingkan dengan M. Jusuf Kalla.

Memakai konsep waralaba menjadi pionir dalam bisnis tersebut. Bustaman menjadi salah satu pionir dalam hal bisnis waralaba. Dapat disandingkan dengan sosok pengusaha pemilik Es Teler 77.

Terlahir dari keluarga miskin. Ditinggal kedua orang tua, Bustaman kecil hidup bersama pamannya. Sejak 60 tahun yang lalu sudah pekerja keras. Tidak mau menyusahkan paman katanya. Hijrah ke Jakarta pada tahun 1970 memboyong keluarga kecilnya kemudian.

Dia tinggal bersama saudara yang bersuamikan sopir taksi. Usaha pertama ialah berjualan rokok bermodal uang Rp.27.000. Tidak mau menyusahkan orang lain. Bustaman bersama istri lantas pindah dari Matraman. Mereka tinggal ke wilayah Pejompongan. Tetap berjualan asongan, dia cuma mengantungi Rp.2000 lebih sedikit.

"Padahal waktu di Matraman penghasilan saya bisa Rp.8000," jelasnya, waktu itu padahal dia berjualan 24 jam.

Susah berjualan asongan, dia memilih menjadi penjual nasi dibantu istri. Dia menyadari berjualan makanan itu lebih awet. Bustaman berinisiatif menyewa lapak satu kali satu meter di pinggir jalan senilai Rp.3000. Lalu dia berjualan diatasnya bermodal gerobak.

Dia dibantu istri memasak. Akunya dia tidak bisa memasak, tetapi sedikit pengalaman bekerja di rumah makan membuatnya nekat. Asal coba- coba maka Bustaman mulai mahir memasak sendiri. Dua bulan sudah berlalu tetapi dia tetap tidak menjual sepiring pun.

Bustaman menghasilkan omzet Rp.425 dari modal uang Rp.13.000. Menyedihkan sekali kalau melihat dia berjuang.

Walaupun begitu, Bustaman tetap melanjutkan usaha jualan nasinya di Bendungan Hilir. Hingga dia bertemu seorang penjual nasi pinggri jalan lainnya. Dia adalah pendatang asli Solok. Dan ketika Bustaman mencicipi masakan miliknya. "Ternyata masakannya sedap," tandasnya.

"Saya lalu memberanikan diri berkenalan dengan pemasaknya dan meminta resep masakan," kenangnya.

Titik balik


Layaknya pedagang kaki lima lainnya, ada masa dimana Bustaman harus berlarian karena dikerja satpol pp. Ia mengenang dulu pernah kelimpungan sampai gerobaknya rusak. Dua bulan berlalu usahanya berpindah- pindah sebekum nyasar ke Bendungan Hilir.

Sesampai di Bendungan Hilir pun belumlah senang. Dia harus mendekatai pemuda setepat atau preman yang  diwajibkan membayar uang agar bisa berjualan. Ia menerima hal tersebut dengan lapang dada. Hasilnya dia diperbolehkan berjualan diemperan dengan uang setoran Rp.3 ribu.

Selain mentap di Bendungan Hilir, Bustaman juga menarget ajang tertentu, seperti ketika ada acara SEA GAMES, Indonesia Vs Myanmar, gerobaknya langsung nangkring di Senayan agar bisa menjamu masyarakat pecinta bola. Uniknya, ketika warung lain harganya naik, ia justru menjual seharga sama seperti biasanya.

Alhasil jualannya laku keras sampai ludes habis tidak bersisa. Empat bulan kemudian malah musibah datang kembali. Ia berkisah gerobaknya ditertibkan. Cuma diperbolehkan berjualan seluas satu meter, dan sialnya ia harus ikut undian agar bisa dapat ruang kosong. Bustaman menyiasati dengan mengadakan pendekatan ke aparat.

Hasilnya dia mendapatkan ruang seharga kontrakan Rp.5000. Nasib untung berkat kepandaian berstrategi membuat Bustaman bertahan.

Sebenarnya pemerintah Jakarta menetapkan harga per- lapak Rp.750. Tetapi melihat keadaan lapak yang tidak mencukupi. Ia mencoba menyiasati "membeli" sewa lapak sebelahnya. Bustaman bermaksud membeli dua lapak menjadi satu. Untuk itulah ia meminjam uang kepada sang paman.

Berkat tempat strategis maka usahanya maju. Usaha Bustaman nampaknya sudah berkembang tetapi justru musibah malah datang lagi. Pernah suatu ketika jarinya tersayat pisau karena memotong tunjang, menangis begitulah nasib Bustaman masih saja dicoba.

"...menangis karena susahnya hidup," kenangnya sambil berkaca- kaca.

Usahanya sudah berkembang jika dulu menanak 30 liter sehari, lalu Bustaman mampu menanak nasi sampai 60 liter. Hingga dia mengajak kerjasama istri dari pamannya. Dia mengajaknya menambah modalnya lagi.

Masalah lain datang ketika tante Bustaman terlibat piutang. Waktu itu ia meminjam uang Rp.15.000,"tetapi sudah saya bayar," imbuhnya. Akhirnya sang tante malah naksir lahan ditempati Bustaman selama beberapa tahun itu. Bahkan urusan ini sempat membawa polisi di malam pada akhirnya.

Menangislah Bustaman menerima perlakuan tersebut. Padahal dia bersusah payah membangun usaha dari nol besar. Sukses mendatangkan pelanggan tetapi pada akhirnya dia mendapat musibah kembali menyusul lagi.

Dia mendapatkan warungnya kena gusur kembali. "Gerobak dagang saya diangkut," imbuh Bustaman. Lalu ia mendapati tempat tinggalnya di Pejompongan kebakaran. Dia cuma mampu menyelamatkan diri, bersama istri, anak, dan gerobak.

Mereka lalu tinggal di rumah salah satu pemasok bahan masakan warungnya dan berusaha kembali di Bendungan Hilir.

Hidup mambawanya membuka cabang di Roxy. Sebelum ke Roxy, untung Bustaman sempatkan makan dulu di warung makan sebelahnya. Ia menyadari loh ternyata masakan itu lebih enak. Pantaslah kalau orang Solok itu mempunyai pelanggan dan lebih ramai dikunjungi daripada warung barunya.

"Dan suatu sore, saya dekati tukang masaknya, saya ajak kenalan saja. Dan ternyata orangnya sangat baik, ia mau menuliskan resep masakannya buat saya," kenang Bustaman lagi.

Warung sederhana


Berkat resep orang itulah ketika membuka cabang di Roxy tahun 1976. Dia mendapatkan lebih banyak lagi pelanggan. Resep gulai itu enak meresap ke hati pengunjung. Berbekal resep itulah, semangatnya berusaha bangkit, dia mau belajar terus mencoba olahan lain bermodal resep itu.

Pada awalnya dia berbisnis cuma untuk bertahan hidup. Tidak ada pemikiran tentang akan memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia. Bermodal resep olahan yang sudah disesuaikan. Rasanya sudah dapat dinikmati oleh siapapun bukan cuma orang Padang. "Jadi, saya tidak buat terlalu pedas," imbuhnya.

Ayah enam anak dan kakek dari enam orang cucu ini gembira. Pasalnya resep karyanya "ayam pop" menjadi kesukaan utama di warung sederhana. Ayam goreng tanpa kulit berwarana putih seperti aslinya. Maka dia membuka warung permanen di Pasar Inpres, Bendungan Hilir, di tahun 1974, bermodal kredit dari sebuah bank.

Ruma Makan Sederhana lantas berkembang biak. Menjamur jadi 30 buah, dan seterusnya dimana dia aktif mempekerjakan saudara agar mengelola. Cuma suatu ketika terjadi pertikaian antar saudara karena usaha ini jadi makmur. Dia bersengketa dengan Djamilus Djamil atas nama Sederhana yang diusung oleh Bustaman.

Caritanya pada tahun 2004, Djamil membuka usaha rumah makan padang sendiri (tidak ikut Bustaman.red), yang lantas diberinya nama Sederhana. Sayangnya, pada tahun 1997, Bustaman terlebih dulu memakai nama RM. Sederhana, dan sudah mematenkan brand "Sederhana" menjadi miliknya.

Usut- punya usut ternyata keduanya sempat kerja sama tapi pecah kongsi. Karena sudah masuk HAKI, lalu Bustaman menuntut Djamil atas nama Sederhana dan menang di Mahkamah Agung. Pada tahun 2009 itu maka jalan damainya adalah Djamil diwajibkan menambahkan nama Bintaro -menjadi Sederhana Bintaro.

Sampai tahun 2000 -an, akhirnya HJ. Bustaman resmi mendirikan badan hukum, tujuannya agar menjaga merek Sederhana dan mengembangkan sayap bisnisnya. Jadilah PT. Sederhana Citra Mandiri yang juga menjadi pemegang hal waralaba atas RM. Sederhana di seluruh penjuru Indonesia.

Berkat resep dari orang itu, ia mampu membuka usaha sampai ke Pasar Inpres Bendungan Hilir. Merambah sampai 30 rumah makan. Bahkan sudah sampai ke Malaysia berkat sistem waralaba. Jika waralaba maka ia cuma mendapatkan fee ketika dia menyediakan semua karyawan. "Satunya lagi punya keponakan saya," tuturnya.

Untuk menjaga loyalita terutama 15 cabang asli RM. Sederhana; Bustaman memiliki trik tersendiri. Yakni ia akan menerapkan sistem bagi hasil terbuka. Dia mengungkapkan seluruh omzet kepada 300 orang karyawan dibawah PT. SCM. Kalau bicara omzet harian dia mengaku hasilkan dua sampai tiga juta per- hari.

Tetap berjaya


Meski menjamurnya waralaba fast- food tidak membuat gentar. Dalam perjalanan Bustaman ini malah jadi tantangan. RM. Sederhana menyebar dan menggeliat. Cuma saja beberapa RM. Sederhana itu merupakan hasil karya mantan karyawan Bustaman.

Ia tidak masalahkan nama dipakai. Tetapi rasa tidak karuan dapat menganggu usaha sebenarnya. Itulah ia jadi ngotot menaruh nama Sederhana menjadi brand. Dia khawatir kalau nanti pelanggan menyalahkan atas rasa tidak karuan.

"Hampir tidak ada rumah makan Padang bertahan dalam dua generasi," terusnya.

Bahkan anak Bustaman juga tidak tertarik melanjutkan usaha rumah makan. Inilah lahir PT. SCM sebagai akomodasi berbentuk badan hukum. Yang kelak menertibkan kesemrawutan RM. Sederhana. Tujuan lain agar tentu menjaga karyawan loyal.

Dengan berbentuk badan hukum maka karyawan bisa nyaman. Mereka mampu bekerja baik dan tidak akan takut karena mereka dapat ambil bagian dalam perusahaan.

Mengenang sang pemilik resep, Bustaman mengaku pernah mencarinya kemana- mana. Tetapi orang yang tidak disebutkan namanya itu tidak ketemu. Ia akan mengangkat orang itu naik haji kalau ketemu. Dia juga akan mengajaknya menjadi penasihat di perusahaan.

Memang dia tidak memiliki ambisi khusus buat RM. Sederhana. Dia cuma mau perusahaanya tumbuh. Dan kelak akan diwariskan, mungkin bukan ke anak, tetapi orang yang tertarik memegang amanah dari lisensi miliknya. Seperti lisensi atas nama RM. Sederhana, serta logo, warna, lengkung khas rumah makan Padang.

Soal "rumah makan sederhana" ternyata nama itu nama usaha dulu dia bekerja. Sebuah rumah makan yang menginspirasi Bustaman. Sang istri lah yang menyarankan memakai nama usaha tersebut. Ia menganggap itu akan mudah dikenang dan diingat.

Surabi Imut Kecil Enak Bandung Berkah Krisis Moneter

Profil Pengusaha Ating Supardi dan Keluarga 



Mantan penjual daging ini melihat peluang lain. Namanya pengusaha pasti ada saja kejadian menimbulkan ide tentang bisnis. Waktu itu Ating Supardi merasakan pahitnya bangkrut karena krisis moneter. Memiliki lima orang anak yang perlu dibiayai, Ating berpikir ulang bagaimana berbisnis dan menemukan usaha baru.

Uang Rp.50.000 dijadikan modal usaha. Ating membuka usaha khas Bandung yaitu surabi di depan rumah. Ia nekat jualan surabi setiap sore hari. "Karena kan belum ada yang jualan sore," jelasnya. Lalu dia menyebut bahwa kebanyakan penjualnnya nenek. Awalnya berjualan siang hari tetapi memilih sore harinya.

Surabi miliknya punya dua varian rasa: surabi oncom dan surabi manis. Berjalannya waktu ia mampu buka di pinggiran jalan Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Geger Kalong, Bandung.

Dia dibantu sang putri, Riana Rismawati, membulatkan tekad membuka usaha Juli 1998. Pada Juli 2001, ia membuka usahanya di tempat lain yakni Jalan Dr. Setiabudi 175 Bandung. Sebagai sosok pelopor membuat mereka mudah mendapatkan hati masyarakat.

Lambat laun usahanya dikenal diantara masyarakat Bandung. Keberhasilan mereka karena ketekunan dalam hal berbisnis.

Surabi imut menjadi pelopor serabi aneka rasa. Sejak berdirinya sudah memiliki 27 rasa berbeda. Ada rasa ayam, strawberry, telur, cokelat,dll. Pembeli tidak lagi sekitaran Bandung tetapi banyak juga dari Jakarta. Ia menyebutkan mereka rela datang jauh untuk menikmati surabi.

"Jaman dulu oma, menyebutnya panekuk... dunia internasional menyebutnya pancake, Indonesia menyebut itu Serabi..., Bandung menyebutnya Surabi," jelas Risma.

Dona Lubis, menantu dari bapak Ating, menjelaskan usaha mereka memang berkembang pesat. Nama dari Surabi Imut sendiri menjelma berdasarkan tempat cabangnya. Tetapi semuanya masih dikerjakan oleh satu usaha bersama Surabi Imut.

Yang berlokasi di NHI dikenal dengan Surabi NHI. Topping rasanya dibikin lebih faktual, memiliki 54 varian dan terus berkembang. Harga dikisaran Rp.3000 sampai Rp.9000 per- surabi.

Pindah tempat memang sudah biasa. Mereka tidak cuma berbisnis surabi termasuk pisang bakar ataupun colenak. Keluarganya sendiri sudah terbiasa akan persaingan. Banyak orang meniru mencoba mengambil si Surabi Imut. "...tapi kalau mereka yang cari rasa, insyaAllah mereka akan datang ke sini," papar Dona.

Pindah lokasi memang mempengaruhi omzet sampai 80 persen. Mempertahankan konsumen cara satu- satu ya menjaga kualitas rasa. Untuk memperkuat identitas maka mereka memperkecil ukuran surabi. Tentu juga dengan penambahan kualitas rasa agar semakin ajib.

Paling beda ya rasa mayonnise. Paling beda dibanding surabi bikinan usaha lain ya oncom. "Oncom itu yang bisa ngeracik cuma mama saja," Dona menambahkan. "Yang lain gak ada yang bisa."

Meski masih bertahan mengkontrak, Dona berharap mereka mampu membangun tempat sendiri, yang kelak diberi nama Rumah Surabi Imoet, yang akan memproduksi 1.500 porsi setiap hari.

Fotografer Remaja Terpopuler Indonesia

Profil Pengusaha Casko Wibowo 



Pemuda berprestasi ini layak kamu contoh. Berkat sentuhan kreatifnya dia mampu menghasilkan jutaan loh. Pemuda 19 tahun asal Bali, bermodal kamera video menghasilkan ratusan juta rupiah. Hasil karyanya juga jadi perbincangan karena ketekunan.

Casko Wibowo menghasilkan ratusan juta rupiah sebagai kameramen profesional. Padahal umurnya barulah belasan tahun. Total 400 juta rupiah per- bulan dikantungi berkat ketekunan. Tidak secara instan tetapi dia lakukan penuh usaha.

Umur 14 tahun masih duduk di bangku SMP. Berkat memotret mendapatkan voucher hadiah. Dua voucher menginap ke hotel. Tidak dibayar uang. Tetapi dia dibayar menginap dua malam. Bukanlah sia- sia berkat itu dia memiliki ide brilian.

Casko pernah mendapatkan pengargaan Musium Rekor Indonesia (MURI). Memecahkan rekor menjadi fotografer tunggal memotret maraton 1.000 jam, memotret 112 brand hotel ternama di Bali tahun 2011. Salah satunya menghasilkan foto berkelas dunia.

Tidak cuma teori tetapi dari pengalaman. Selain pelajaran teori didapat dia langsung memfoto. Berkat tekun dia mendapatkan banyak proyek. Dari video klip, fotografi pribadi, dan sebagainya. Usianya 19 tahun sudah bisa menghasilkan ratusan juta.

Ketekunan menghantarkan dia menjadi fotografer khusus hotel bintang 4 dan 5. Ditangan remaja ini sudah melahirkan banyak karya; salas satunya memproduseri film pendek. Film yang dipakai sebagai teaser sebuah novel berjudul Romantika Sang Jendral.

Casko juga masuk ke dunia presenter. Dua acara di telivisi swasta nasional ANTV, yaitu Mata Lensa yang dipresenteri bersama Darwis Triadi, Jerry Aurum.

Padahal normalnya pencapaian tersebut biasanya disandang orang berumur 40 -an. Tetapi anak muda Bali ini mampu mengukir prestasi.

Meyakinkan Orang Tua Tidak Mau Jadi Pegawai

Profil Pengusaha Bandi Simarmata 



Bandi bukan pengusaha pertama yang menolak keinginan orang tua. Sama halnya orang tua biasa, mereka cuma mau yang terbaik dirasa bagi anaknya. Itulah kenapa mereka berharap Bandi Simarmata akan jadi pegawai kantoran.

Mereka ingin Bandi menjadi pegawai ataupun PNS. Namun, ketika itu, matanya sudah tertuju di bidang lain yaitu otomotif. Ia mengingat kenapa gandrung terutama kepada motor. "Sejak kecil saya senang dibonceng di motor keliling desa oleh Bapak," kenang Bandi.

Suatu hari saja tidak diajak naik motor. Bandi kecil akan merengek minta naik. "Saya ingin diajak jalan- jalan," tuturnya.

Pria kelahiran Desa Batu Marta, Ogen Komering Ilir, Sumatera Utara, yang mana masuk SMA semakin dia menjadi berhobi motor. Diam- diam dia menabung mengumpulkan uang. Lantas dia belikan motor skuter biar masuk klub vespa Kota Palembang, King Blues Scooter (KBS).

Dia senang kumpul bareng teman. Mereka akan touring keliling beberapa kota. Pria kelahiran April 1980 ini mengaku gembira.

Bisnis pertama

Masuk kuliah hasratnya akan motor tak pupus. Lulusan SMA, dia langsung berangkat ke Palembang, masuk Universitas Muhammadiyah mengambil Jurusan Hukum. Sibuk kuliah tidak membuatnya lupa menikmati tiap hari bersama skuter.

Sampai lantas mulai bepikir bagaimana jika dijadikan bisnis saja. Waktu itu ia berpikir enak kalau membuka usaha bengkel di kampung. Bandi yakin karena kampungnya banyak anak muda suka motor tetapi sedikit bengkel perawatan. Tahun 2004, dia resmi lulus kuliah, dan memantapkan diri mengejar bisnis pertamanya.

Inilah inspirasi Bandi memulai usaha modifikasi, variasi, dan jualan aneka aksesoris. Ia bahkan merambah hal lain yang masih dalam lingkup bisnis otomotif. Pemuda berdarah Batak itu lantas menemui batu sandungan pertamanya, yaitu orang tua.

"Sampai lima kali saya memohon- mohon supaya bapak dan ibu mau merestui keinginan saya membuka usaha sendiri," utasnya.

Tidak sia- sia mereka setuju Bandi jadi pengusaha. Bahkan mereka memberi uang saku agar dia mampu jadi mandiri. Mereka memberikan suntikan modal Rp.13 juta. Uang tersebut tidak disia- siakan Bandi, langsung dia tancap gas.

Bandi lantas berangkat ke Jakarta. Dia membeli aneka kunci, aksesoris, segala keperluan bengkel kecilnya di kampung. Sebagai orang masih hijau, mata Bandi terpana melihat lautan barang- barang otomotif di depan mata. Mulai benda yang tidak tau kegunannya, sampai benda yang sama sekali belum lihat.

Ia mulai menyadari ilmu bekal dari teman klub tidak cukup. Tidak patah semangat, ia mulai dari nol belajar akan hal baru. Bandi menyambangi penjual di Jakarta. Mulai belajar tentang barang- barang yang dijual oleh mereka.

Singkatnya perjalanan di Jakarta membawa tidak cuma barang. Tetapi dia dapat ilmu hingga barang bawaan dia lebih variatif. Pertama kali buka orang bingung menebak jasa apa ditawarkan Bandi.

Bisnis bengkel hot


Nama bisnis Hot Variasi memberikan bukan sekedar memperbaiki sepeda motor. Dia menjadi pionir dalam hal variasi dan modifikasi. Ada pepatah kuno, "tak kenal maka tak sayang". Orang kampung menatap aneh apa dilakukan Bandi; mereka akhirnya mencemooh dia.

Butuh waktu sampai orang mampir ke bengkel kecilnya. Di daerah bernama Batu Marta, begitu jauh butuh waktu lama kalau mau ke Palembang. Pantas mereka tidak paham akan hal baru dipamerkan Bandi. Cukup menguras kesabaran memulai usaha bengkel di tempat kecil.

Tidak disangka ketika bengkel itu mulai berjalan. Justru bengkel dilalap api terbakar habis. Hancurlah pikir Bandi sesaat. Untunga dia segera bertidak menyelamatkan barang di dalam bengkel. Meski terselamatkan tapi tempatnya berbisnis ludes terbakar.

"...waktu dan kesuksesan tidak akan menunggu saya," batin Bandi. Dia lantas bangkit tidak mau terpuruk lama. Kesuksesan masih belum direngkuh dari bengkel Hot Variasi ini.

Kesuksesan Bandi menjadi pionir segera diikuti orang lain. Mulailah persaingan ketat antar bengkel variasi menawarkan layanan. Bahkan tidak sedikit bermain curang, mereka membajak pegawai Bandi dengan diberi iming- iming gaji besar.

"Buat saya, itu adalah momen paling buruk dalam usaha saya," ujarnya prihatin. Perang harga pun tidak dapat dihindarkan di kota kecil tersebut.

Tepatnya tahun 2008, dua tahun selepas usahanya berjalan, persaingan sengit membuat Bandi menelan pil pahit. Dari lima orang karyawan empat diantaranya mengundurkan diri. Mereka dibajak oleh pesaing Bandi. Maka praktis usaha Hot Variasi dikerjakan cuma dua orang.

Ia hanya yakin pada akhirnya konsumen yang menentukan. Siapa terbaik diantara bengkel variasi yang telah ada disana.

Bukan bisnis biasa


Semenjak kebakaran kios Bandi mulai bangkit. Dia lalu menyewa kios seluas 3 x 5 m dijadikan bengkel baru di tempat baru. Memutar otak dia mempekenalkan bengkel variasi lewat ajang kompetisi. Ajang bertajuk modifikasi sepeda motor itu ternyata berhasil.

Lambat laun usahanya dikenal dikalangan anak muda. Bandi juga aktif mengikuti ajang roadrace. Mencoba membuktikan eksistensi Hot Variasi. Lewat ajang balap motor terjalinlah koneksi diantara pecinta motor. Ia tidak segan bertanya -membaur dengan sesama pecinta sepeda motor.

Melalui mereka pulalah usahanya menghadapi pesaing. Berkat koneksi ke pecinta motor, Bandi menghimpun kekuatan mengajak mereka bekerja bersama. Bengkel Hot Variasi menampilkan cita rasa penuh passion tidak sekedar bisnis.

Nilai lebih dalam hal selera akan modifikasi memberi angin segar. Usahanya mampu bertahan meski banyak pesaing bermunculan. Kualitas perusahaan siapa paling baik mulai terlihat. Dalam tempo beberapa tahun kemudian usaha pesaingnya kelihatan kesukaran.

Tempat dimana empat mantan karyawannya mulai sibuk mencari pelanggan. Sementara HOT Variasi malah makin berkibar, pamor perusahaan Bandi menjalar tanpa marketing keras. Ini menjadi jalan pembuktian akhir dimana ia meyakinkan orang tua bahwa jalan hobi itu benar.

Membuktikan bahwa tidak salah dia memilih hobi menjadi bisnis. Menjadi pengusaha itu merupakan jalan lain selain pegawai. Kini usaha Hot Variasi telah menempati ruko dua lantai. Dimana Bandi mempekerjakan 16 orang karyawan. Hot Variasi -jika dalam bahasa Batak berarti "akan selalu"- tidak cuma memberikan modifikasi.

Mereka menawarkan tune- up, bubut, korter, dan lainnya. Omzet mencapai Rp.15- 20 juta per- hari. Bandi juga merekrut anak putus sekolah. Ia mendorong agar mereka mampu membuka usaha sendiri. Mereka jadi mitra binaan. Mereka tinggal mencari tempat. Selepas itu Bandi akan memberikan bantuan modal lengkap.

Obsesi Bandi ialah Hot Variasi jadi one stop modification. Bagaimana memberikan pelayanan terlengkap dan terpercaya semua jasa dibawah satu atap. Ia mengatakan orang nantinya tidak lagi mencari tempat berbeda buat berbagai perawatan motor.

Alasan Memilih Wirausaha Sendiri Conie P. Putri

Profil Pengusaha Conie Pania Putri



Menjadi pegawai tidak bahagia. Itulah kiranya penulis katakan ketika membaca kisah Conie. Wanita yang bernama lengkap Conie Pania Putri, 36 tahun, ternyata pernah mendapatkan gaji Rp.20 juta. Bahkan dia sudah punya mobil mewah dan rumah bernaung.

Kenapa masih berwirausaha dan berhenti bekerja. Conie mengaku tidak lekas puas. Bagianya ada satu hal yang kosong ketika dia bekerja untuk orang lain. Dia pernah bekerja sebagai penjual, admin, sampai naik pangkat manajer, perusahaan asal Palembang pada 2004 hingga 2012.

Memilih menjadi pengusaha karena tidak puas akan empat tahun. Meski naik pangkat sampai jadi Direktur Utama membawahi beberapa provinsi; dia tetap tidak puas.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, yang mendapatkan banya fasilitas dari perusahaan ini resah. Fasilitas mewah tidak memuaskan Conie. Alasan bewisausaha Conie: Setinggi apapun jabatan yang anda miliki. Anda tetaplah pegawai. Sekecil apapun usaha anda, maka anda lah bosnya.

"Sekecil apapun usaha yang anda punya, anda lah bosnya," Conie bertutur. Keresahan bukan soal apa. Tapi dia sudah terbiasa difasilitasi orang lain. Kini, dia mau jadi pengusaha, berwirausaha berarti dia harus siap memulai dari nol.

Gaji besar menjadi direktur, tidak susah cari duit, tetapi Conie bosan. Jenuh tetap jadi karyawan mengikuti tiap kebijakan perusahaan. "...tidak bisa ambil kebijakan, itu perusahaan orang," gusarnya. Berkat relasi kuat serta pengalaman jadi presiden, Conie mantap keluar dan memilih membuka perusahaan sendiri.

Awal- awal diakuinya sukar banyak masa sulit membangun usaha. Uang modal boleh pinjam sana- sini, dia tidak turun semangat. "Pokoknya saya buka usaha sendiri," serius Conie. Ia sepakat melakukan kongsi usaha dalam bentu perusahaan PT. Srikandi Tiga Putri -usahanya memenuhi kebutuhan alat kesehatan.

Dengan sabar lambat laun usahanya punya jalan setelah tiga tahun. Dalam kurun waktu tiga tahun sejak tahun 2012, usahanya menghasilkan omzet Rp.1 miliar. Kerjanya pun tidak ngoyo karena keputusan ada ditangan. Ia menyebut dia lebih fleksibel soal waktu. Kalau dulu berangkat jam 7 pagi pulang malam karena lembur.

Sebagai wanita muslimah dia tidak lupa akan hak pegawai. Hak karyawan menjadi tonggak kejayaan dari perusahaan tersebut. Bahkan dia mengajak mereka bewisata sampai Singapura. Bekerja menurutnya sesuai hati nurani. Usaha itu juga menambah amalan seperti diajarkan oleh Rasulallah Nabi Muhammad.

Dia berharap kita juga mengikuti jejaknya berwirausaha. Memang butuh ektra sabar tuturnya, tetapi bukan berarti kita tidak bisa loh. Begitulah kisah pengusaha berjilbab -yang suka warna pink itu- yang juga aktif dalam kegiatan komunitas sedekah Jum'at.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba