Memulai Bisnis Lingerie Wacoal di Indonesia

Biografi Pengusaha Suryadi Sasmita 



Kisah orang miskin kemudian kaya sudah biasa. Namun, menarik ditelisik adalah kisah Suryadi Sasmita, pria kalem ini ternyata sukses berkat pakaian dalam wanita. Sulit dibayangkan, tetapi ayolah, kita bebas memulai usaha apapun selama bukan ilegal. Lanjut ceritanya sejak Sekolah Menengah Atas, Suryadi sudah menjadi sosok tulang punggu keluarga yang serba kekurangan.

Kesuksesan tentu tidak lah mudah dilalui. Pria kelahiran Jakarta, 12 April 1948 ini, mamang berasal dari satu keluarga tidak mampu. Manalagi dia adalah anak lelaki tertua dalam keluarga. Faktor itulah yang mendorong dia harus berpikir mandiri sejak dini. Dia bersama sang ayah lantas membuka toko konveksi tas. Sayang, itu harus gulung tikar karena bangkrut.

Selepas lulus SMA, ia melanjutkan bekerja di sebuah toko tekstil di Pasar Pagi, Jakarta. Pekerjaanya kala itu bekerja sebagai penjaga toko melayani pembeli. Kerja keras terbukti dari pilihannya untuk bekerja dalam dua sift sekaligus. Ya, Suryadi bekerja dari pagi ke sore dan sore ke malam. Hal ini menarik perhatian sang atasan sampai dikuliahkan.

Keberuntungan memang, Suryadi bisa berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara. Kulih jalan tetapi dia lupa bekerja di tempat atasannya itu. Sebagai wujud terima kasihnya kepada atasan, dilakukanya lewat bekerja lebih keras. Suryadi pun menjadi tidak konsentrasi dalam kuliah. Dikuliahkan, baru jalan enam bulan, Suryadi memilih berhenti kuliah dan kembali bekerja saja.

Alasannya karena dia masih memiliki tanggungan nafkah keluarga. Hasilnya bekerja di toko dikumpulkan sedikit- demi sedikit. Ia belikan toko kecil di Jembatan Lima. Toko inilah modalnya merajut asa untuk masa depan lebih baik.

Bisnis garmen


Toko tersebut sebagai catatan dikerjakan keluarga. Sementara Suryadi memilih tetap bekerja di Pasar Pagi. Empat tahun bekerja dibidang tekstil ternyata cukup. Dia lantas melompat ke perusahaan tekstil asal Jepang. Suryadi bekerja sebagai karyawan disana C. Jtoh. Ini merupakan perusahaan besar kelas dunia. Suryadi mendapatka kesempatan menjadi pengantar dokumen.

"Saya merasa gaji saya terlalu besar kalau hanya bekerja sebagai pengantar dokumen," kenangnya. Dia pun memberanikan diri menghadap pimpinan perusahaan. Dengan gagah berani Suryandi meminta ditambahi kerjaannya. Dia meminta diberikan kesempatan berjualan benang. "Saya minta diizinkan berjualan benang," jelasnya.

Permintaan Suryadi diterima oleh atasa. Ia mendapatkan pekerjaan tambahan selain mengantar dokumen. Dia memang pekerja keras. Dari matahari terbit sampai matahari terbenam, ia bekerja keras menjadi salah satu salesman perusahaan. Semuanya dilakoni sampai- sampai target setahun menjadi setengah tahun. Ya, ia berhasil memenuhi target bahkan sebelum masa tenggangnya.

Singkat cerita karir Suryadi meroket dan menambah banyak koneksi. Jaringan luas membawanya membuka perusahaan sandiri dibidang trading pada 1976. Usaha bernama Moritex Trading Company, menjadi jalan mengumpulkan lebih banyak modal. Dalam tempo setahun dibuka lah usaha lain dibidang rajut (knitting). Ia berinama usahanya tersebut Moritex Knitting.

"Keduanya saya kelola bersamaan dan hanya saya cek di sore hari," jelasnya. Sambil itu dia masih bekerja di C. Jtoh loh. Dan, jabatan Suryadi bukan lagi salesman tetapi sales representative.

Jaringan koneksi


Untungnya menjadi salesman adalah mampu membangun jaringan. Inilah manfaat dirasakan oleh Suryadi di masa menjadi pegawai gugus depan itu. Pokoknya, menurut Suryadi, seorang sales tugas utamanya hanya ya berdagang yang ada di kepala. Hanya kita harus memberikan informasi yang benar tentang produk. Ini akan membangun satu jalan pertemanan seperti halnya Suryadi.

"Kalau mereka puas, mereka pasti akan pesan," paparnya. Berkat ini pula usahanya sekarang menjadi- jadi. Dia dikenal sebagai salah satu pengusaha garmen. Usaha bernama Wacoal mampu menghasilkan penjualan naik 30%. Kini, dia sudah memiliki 50 gerai, balum lagi angka ratusan gerai yang tersebar di pusat- pusat belanja.

Suryadi menyandang gelar Direktur semua berkat salesman. Ia bertemu seseorang yang menawarinya kerja bersama perusahaan asal Jepang, Wacoal. Pernah bekerja di perusahaan Jepang, Suryadi tau betul kualitas dari produk mereka. Wacoal memiliki standar tinggi soal barang, bahan, dan pengerjaan. Bahan baku pun sebagai besar merupakan bahan impor dari luar.

Setelah delapan tahun bekerja di C.Jtoh, barulah Suryadi mengundurkan diri. Waktu cukup lama bahkan ia melakukan pekerjaan sambil menjadi pengusaha. Disaat mundur itulah seseorang menawarinya kerja sama bersama perusahaan Wacoal. Modal dikumpulkan sejak 1981 langsung digunakan untuk mebawa brand ini masuk ke Indonesia.

Usaha premium


Uang dipakai modal katanya sih sedikit. Biaya produksi pakaian dalam lebih menunjang budget Suryadi. Ia bicara alasan lain kenapa menerima tawaran Wacoal: Karena pengerjaanya sukar sehingga sulit menemukan pesaing dalam bisnis garmen pakaian dalam. Satu bra saja membutuhkan 27 komponen berbeda agar bisa nyaman.

Apalagi kalau bicara menyamakan warna dan desain. Butuh karyawan handal dan memilik ketrampilan soal jahit- menjahit. "Saya bekerja sama dengan perusahaan Wacoal dari Jepang, Prancis, dan Taiwan," jelasnya. Ia membeli borong produk mereka. Membawa teknisi kesana bahkan karyawan dikirim kesana. Sejak awal, Suryadi sudah memperhitungkan kerugian berbisnis manufakturing ini.

Hasil bisnis manufakturing jelasnya, bukan merupakan bisnis jangka pendek, tatapi jangkan panjang yang baru terlihat untungnya ke depan. Alurnya beda dengan usaha dagang yang cuma beli lantas dijual. Dia lalu menambahkan investasi jangka panjang yang butuh modal besar. "Bagi saya, salah satu investasi yang paling penting adalah sumber daya manusia," aku Suryadi.

Menarik kalau bicara tentang Presiden Direktur PT. Indonesian Wacoal ini. Secara gambal dia meyakinkan bahwa Wacoal Indonesia adalah Indonesia. Ini seperti dikutip dalam wawancara majalah SWA, bahwa itu tak penting brand luar, asalkan merupakan produksi dalam negeri dan ia setuju mendukung 70- 80% -nya merupakan hasil dalam negeri.

Perbedaan mencolok tentang bisnis pakaian dalam memang berasa. Kalau dulu, orang tidak berani menjual di display depan toko. Jualannya sembunyi- sembunyi bahkan dilarang pegang. Waktu Wacoal mulai jualan pertama kali memasang konsep berbeda. Suryadi memajang produk pakaian dalam di display bahkan boleh dipegang.

"Waktu itu orang cuma pegang- pegang, tapi enggak beli," kenangnya. Tempo tiga bulan semenjak pertama kali diluncurkan responnya datar. Apalagi jualan Suryadi merupakan pakain dalam wanita (lingerie.red) yang harganya 2 lebih mahal. "Sampai istilahnya barang jadi dekil and the kumel, hahahaha!! Dipegang- pegang tetapi tidak beli akhirnya kotor."

Ia ingat bagaimana akhirnya dia menggunakan dry cleaner. Tetapi dia yakin bahwa suatu hari pasti akan laku terjual. Sampai akhirnya sekarang produk pakaian dalam bebas masuk display. Lucunya dijelaskan olehnya sendiri produk pakaian dalam memakai formalin. Loh, kok, ya karena bahannya yang rentan jadi butuh satu sentuhan bahan kimia didalamnya.

Tetapi Wacoal tidak, ia meyakinkan tanpa bahan kimia dalam pakain dalam. Untuk menjual lebih banyak ada startegi 7 hari coba. Bayangkan, orang bisa beli pakaian dalam sampai tujuh hari jaminan. Dipakai dulu kalau nanti tidak nyaman boleh dikembalikan ke toko. Alasan mudahnya karena menyasar kepuasan pelanggan akan produk pakaian dalam Wacoal.

Memberikan pelayanan maksimal menjadi andalan. Suryadi bahkan mengkususkan SPG -nya mencontoh kinerja orang Jepang. Pengandaiannya, pengalaman ketika ia pernah melihat- lihat kamera, ada SPG datang melayani penuh keramahan. Dia pun bertanya tentang kamera tersebut dan malah tidak jadi beli. Reaksinya? Si SPG tersenyum, membungkukan badan, dan berterima kasih.

Produk Wacoal sendiri begitu hygienists proses pembuatannya. Tidak cuma pegawai, direksi juga kalau mau masuk ke pabrik harus disterilkan. Memakai tutup kepala, tidak boleh keringetan, jadinya kalau produksi satu produk harus disemprot AC. "Kalian tahu tidak komponen 1 bra ada berapa? Kalau bikin baju mah enak, 1 lembar cukup, tinggal jahit doang. Nah komponen bra, meskipun kecil, wah ribet dia."

Kenapa memilih bisnis pakaian dalam? Karena cari yang susah produksinya, karena pasti akan jarang lah diminati pengusaha lain. Wacoal sendiri kini sudah mengekspor sampai 10 negara. Kualitasnya sudah kualitas internasional atau dunia loh. "...bukan kualitas Citereup saja," candanya. Untuk inovasi jangan ditanya lagi soal hal semacam ini.

Wanita sekarang sudah menganggap pakaian dalam bukan lagi tempelan. Tetapi ini merupakan wujud dari fashion sendiri jadi ya aneka jenis serta modal pastilah selalu tersedia. Selain itu, mengikuti perkembangan gadget, ia juga mengembangkan pasarnya sendiri lewat Android. Mudahnya berbelanja lingerie kini makin mudah tanpa ribet.

"Makanya kenapa kami bikin Wacoal Sexy Look? Karena perempuan pada dasarnya ingin kelihatan sexy. Jadi kami bikin speck yang memperlihatkan bentuk sexy itu," tutur Suryadi.

Pria Tampan Jualan Kosmetik Online Jumei

Profil Pengusaha Leo Chen


 
Apa dibenak kita ketika melihat situs jualan kosmetik. Seorang pengusaha muda wanita dibidang kosmetik maka itu mungkin bayangan kamu. Siapa sangka hal itu tidak berlaku bagi Jumei Youpin, toko online satu ini malah didirikan oleh seorang pria bernama Chen Ou. Atau, nama tepatnya Leo Chen, pria 29 tahun yang memiliki toko online sejak 2010 sampai sekarang.

Jumei mampu maju selangkah lebih awal. Mereka mampu menjual lebih user- friendly, dan ini benar- benar menyenangkan bagi pengalaman wanita berbelanja. Dia meyakinkan Jumei aman bagi pengguna. Lingkungan website diciptakan semudah mungkin untuk dijalankan pengguna baru. Sama halnya beberapa pengusaha di bidang kosmetik, Chen Ou, juga memanfaatkan personal branding.

Leo Chen, menjadikan dirinya sebagai ikon perusahaan, salah pendiri Jumei.com ini tidak segan untuk jadi perhatian banyak wanita. Pengunjung tidak akan kecewa karena dia adalah pria tampan asal China, penuh karismatik, dan pandai berbisnis. Pria tampan ini tidak cuma tampil di iklan utama perusahaan. Dia juga hadir di billboard, acara telivisi juga.

Dia selalu memiliki profil tinggi di mata fans melalui berbagai sosial media.

"Kenapa saya menjual kosmetik untuk wanita? Karena saya percaya wanita suka membuat dirinya menjadi cantik untuk orang yang menghargai mereka. Jadi opini seorang pria sebenarnya penting di pilihan seorang wanita," jelas Chen.

Marketing sendiri


Chen percaya langkahnya mengendors perusahaan benar. Ini agar reputasi perusahaan dan nilainya nyantol hingga ke pimpinan perusahaan. "Sang CEO naturalnya menjadi wajah perusahaan," jabarnya. Ia sukses bisa mengangkat toko online perusahaan hanya bermodal caranya ini. Hasilnya mengejutkan karena perusahaan bisa menghemat 100 juta yuan untuk biaya iklan.

Leo Chen buka orang baru dalam hal bisnis online. Umur 16 tahun sudah berangkat kuliah ke Singapura. Di tahun 2005, sebelum hari- hari terakhirnya di Nanyang Technology University, dia menemukan Garena, yakni salah satu yang terbesar platform game online. Dia mendapat MBA di umur 26 dari Stanford, lalu menjual Garena, lalu kembali ke China.

Awalnya dia mendirikan perusahaan grup jual- beli kosmetik. Dalam perjalanannya, situs Jumei.com menjadi perusahaan berbasis B2C (businesss to consumers). Produknya meliputi brand terkenal seperti Calvin Klein, Estee Lauder, Avon, Elizabeth Arden, dll. Perlu diketahui awal 2010, dia bersama seorang pria lain, kedua orang ini memulai tanpa paham soal kosmetik sama sekali.

Mereka bahkan tidak paham soal ecommerce. Ketika banyak mengekspos biaya iklan, iklan mereka cuma modal reputasi saja. Ketika perusahaan lain mengajak selebriti untuk mengendors. Maka Chen hadir menjadi sosok ikonik Jumei.com. Akhirnya, toko online Jumei mampu menghasilkan empat juta pengguna di situsnya yang aktif.

Dia muncul dalam sebuah iklan sendiri untuk perusahaan dan mengatakan,"Saya Chen Ou, saya berbicara untuk diri sendiri." Chen mendorong bagi kita pengusaha muda agar maju bergerak. Dia lantas menambah bahwa baik pria maupun wanita harus membangun bisnisnya sendiri. Bertarung lah untuk diri kamu sendiri, atau bersama, dan bangunlah dunia yang benar berharga -seperti halnya Jumei sekarang.

"Jumei memiliki jutaan pembeli, dia, bersyukur kepada kami, menemukan kecantikan dan lebih percaya diri dalam hidup," dia tambahkan.

Rahasia sukses Jumei menurut situs Marketingtochina.com.

1. Pentingnya personal branding

Ketimbang menyewa selebriti menjadi ambasador, Jumei memilih direkturnya, mampu menghemat miliaran biaya iklan. Sosoknya adalah pengusaha muda, pria tampan, akan banyak anak muda mengindolakan dia, utamanya para wanita muda. Di Weibo, sosial medianya China, Chen sudah memiliki 2.701.217 fans.

2. Layanan pasca- barang sampai

Bayangkan. Jumei selalu melakukan 100% barang otentik dan memiliki sertifikasi kredit kelas A. Tentu saja ini menarik bagi kaum Hawa membawa pulang lebih banyak barang. Tambahan lain yakni jaminan barang bisa dikembalikan selepas bungkus dibuka. Ini sangat berarti dibalik kecemasan pembelian barang kosmetik secara online.

3. Barang mahal berdiskon

Tidak menjual barang murahan tetapi berbagai merek dunia. Alhasil menarik pembeli terutama di China ada kepercayaan kuat akan brand luar. Sayangnya, barang luar negeri tentu mahal, itulah kenapa Jumei memberi lebih banyak diskon. Jumie berkolaborasi dengan brand besar seperti Estee Lauder, Clinique, Clarins.. dll. Jumei juga meorganisir dari barang terkecil, hingga dari barang termahal di toko online.

Jumei Youpin mengatakan 75% produknya diterima oleh brand internasional seperti brand Shiseido, KOSE, Laneige, kebanyakan Korea dan Jepang. Ini meningkatkan kepercayaan konsumen bahwa Jumei adalah toko online terpercaya. Bahkan beberapa brand bersedia membuatkan produk khusus untuk Jumei.

4. Promosi reguler

Acara seperti Hari Ibu dijadikan perusahaan jadi ajang efektif berpromosi. Jumei juga menawarkan aneka tagline unik, seperti "7-Day National Day clearance sale" untuk National Day atau golden weeknya China. Pokoknya setiap ada hari libur atau festival akan selalu berpromosi.

Diskon Harian Evoucher Berkah Nilai Skripsi C

Profil Pengusaha Danny Baskara 

 

Dosen emang suka bikin jengkel seperti yang pernah diungkapkan Chairul Tanjung di sebuah artikel. Kisah kali ini tentang seorang bernama Danny Baskara. Seorang mahasiswa IT dari sebuah kampus di Jakarta Barat, yang mana skripsinya itu mendapat nilai C. Yap, disuatu hari di tahun 2005, dia tengah berjalan untuk menghadapi sidang skripsi.

Taukah apa naskah skripsi yang ditulisnya?

Alkisahnya, Danny selesai mengerjakan sebuah skripsi jurusan IT berjudul "Analisa dan Perencanaan Sistem Informasi eCommerce". Dan sudah berada di tangan si dosennya nih. Tapi baru beberapa detik sang dosen penguji malah mengejeknya sinis. Apakah ia mau mengulang skripsinya atau kamu cukup puas dengan nilai C.

Malunya hal tersebut malah terjadi sebelum sidang sempat dimulai. "Loh emangnya kenapa pak?" tanya Danny kebingungan. Sang dosen menganggapnya tak masuk akal karena sudah ada sebuah pengalaman buruk. Yakni kisah tentang kegagalan sebuah bisnis ecommerce bernama Lipposhop.com. Sebuah bisnis ecommerce yang telah punya bekingan modal akan tetapi tetap gagal juga.

Tak mau menyerah dijalan membuatnya menerima nilai C itu. Ia memang lulus skripsi tapi mendapatkan nilai terburuk. Apakah seorang Danny Baskara menyerah. Justru ia memilih mengaplikasikan skripsinya di dunia nyata.

Ketika skripis itu selesai dinilai kisah ecommerce belum seperti sekarang. Orang masih belum percaya akan bisnis online. Namun, ada seorang pemuda masih percaya tentang masa depannya kelak. Ia punya harapan untuk ikut masuk ke dunia ecommerce ke depan. Mengharapkan mampu berkontribusi bagi pertumbuhan Indonesia.

Pada tahun 2010, ia mendirikan sebuah situs daily deal atau situs berisi diskon harian. Atau, dimana orang akan menjual kesempatan untuk kamu mendapatkan penawaran menarik. Ada semacam diskon pada hari tertentu dari jam sekian sampai sekian. Semacam kisah Beeconomic milik dua bersaudara asli Singapura yang pernah kami ulas.

Nama usahanya adalah Evoucher kemudian menjadi di Evoucher.co.id, sebuah perusahaan situs ecommerce yang sukses. Katanya sih pada tahun 2010- 2012 merupakan masa- masam kelam banyak kegagalan bagi pemilik bisnis daily deal. Saat itu menurut Startup Bisnis sudah banyak jenis bisnis macam ini dan gagal.

Salah satunya yang sukses adalah yang berasal dari Singapura itu. Untungnya Danny juga termasuk yang ikut selamat asal Indonesia. Bahkan menjadi yang terbesar setelah Groupon dari luar negeri dan Ensogo yang asli Indonesia, yang masih bertahan di Indonesia. Evoucher sendiri menjadi yang ketiga terbesar untuk pasaran Indonesia.

Untuk ecommercenya situsnya masuk 15 besar dalam hal situs B2C atau business to consumer. Mengalami jatuh bangun semenjak 2010. Bermodal pembiayaan sendiri atau lebih dikenal sebagai bootstrap. Akhirnya Danny mendapatkan pembiayaan dari Valuein Technology Indonesia (VITI). Sang pendiri sekaligus CEO -nya, Danny Baskara, mengungkapkan bahwa startup bisnisnya didirikan lima tahun lalu.

Awalnya ia memulai bisnisnya di sebuah kos- kosan seukuran 3x3 di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Disaat itu ia baru pindah dari Bali 2001 untuk mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Bina Nusantara. Tanpa pendanaan investor ketika memulai Evoucher. Cuma lah bermodal koneksi internet serta sebuah akun sosial media Twitter. Evoucher menawarkan aneka kupon manis dari aneka restoran terkenal di Indonesia.

Lantas VITI sebuah perusahaan pendanaan asal Korea muncul. Ini adalah perusahaan aneka konten digital yang tengah banyak berinvestasi salah satunya disinii. Kini, perusahaan milik Danny itu, tidak cuma menjual voucher atau produk secara online.

Perusahaanya juga menawarkan aneka kategori pilihan. Untuk kategori di voucher ada kategori meliputi restoran, travel, hotel, treatmen kacantikan, dan ada produk- produk yang dijual mulai dari peralatan rumah tangga, gadget dan lain- lain. Selain itu perusahaan Evoucher juga menawarkan 960.000 produk voucher melalui situs ataupun aplikasi smartphone -nya.

Keluarga Wirausaha Bayu Reksa Ganesha

Biografi Pengusaha Muda Pendidikan



Bayu Reksa Nugraha memang terlahir dari keluarga wirausaha. Tetapi mereka menekankan kemandirian sejak kecil. Dia sendiri merupakan putra pemilik bisnsi Ganesha Group, ialah sebuah grup bisnis dibidang jasa pendidikan. Mungkin kamu sudah tidak asing dengan nama Ganesha itu sendiri ya. Pemuda kelahiran Tasimalaya, 23 Mei 1987, yang mepunyai dua hobi memancing dan menyanyi.

Ia menempuh pendidikan biasa di SD Pajajaran Tasimalaya, lalu dilanjutkan ke SMP Tarbiyatul Mua’allimim Al-Islamiyah Ponpes Walisongo Ngabar, Ponorogo. Setelah pindah ke pulau Kalimantan, Bayu melanjutkan pendidikan di SMKN 5 Samarindah. Lalu dia masuk ke Fakultas Ekonomi, Universitas Mulawarman, di Samarinda, KalTim.

Sejak di sekolah dasar kedua orang tuanya sudah mengajarkan hidup hemat. Bahkan terkadang mereka itu tampak seperti orang pelit. Padahal orang tuanya sukses dalam bisnisnya kan. Untuk jajan di sekolah saja, dia hanya diberi uang pas- pasan untuk satu minggu penuh. Dia harus rela menahan diri dengan didikan yang keras itu.

Namun hasilnya sangat bermanfaat untuk Bayu membentuk mental kewirausahaannya. Ia selalu berfikir untuk bisa mendapatkan uang tambahan jajan sendiri karena uang sakunya pas- pasan. Pertama kali berbisnis, nilai uang saku yang sedikit itu, dibelikannya jambu milik tetangga dan dijual lagi di sekolah. Dari situ ia mendapat laba untuk tambahan uang saku.

Tidak berhenti di situ, ia juga berjualan kertas mewarnai dan gambar tempel. Bayu senang menikmati jerih payahnya sendiri dan terus bersemangat berbisnis. Setiap hari sepulang sekolah ia membantu orangtuanya di kantornya Ganesha sekaligus belajar wirausaha. "Lama- lama sayapun resmi menjadi karyawan di kantor ayah saya sendiri," ujarnya.

Usaha sendiri


Semenjak bergabung menjadi karyawan di perusahaan orang tua, terjadi perubahan besar terjadi dalam dirinya. Ia mengaku mulai bekerja membuatnya selalu mengasah otak, menemukan inovasi, dan selalu berfikir untuk kreatif. Bayu kemudian ditempatkan di bagian kepala bidang marketing. Hal itu dimaksudkan orang tuanya agar ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kesempatan sama.

Pola pikir adalah kunci batasan seseorang itu sukses atau tidak.

"Memang Tuhan tidak akan mengubah seseorang, kecuali seorang itu mau mengubah dirinya," katanya lebih bijak.

Perusahaan orang tuanya kini telah bergerak sangar maju menjadi aneka kursus, seperti mengemudi mobil, komputer, bahasa Inggris, serta Ganesha College yang menjalankan program setara diploma. Kali ini Bayu ditempatkan sebagai Customer Service yang merangkap bagian marketing.

Sejak itu pula jiwa kewirausahaan Bayu terus tumbuh pesat. Kebetulan sekali, kala itu di kantor ada ruang kantin yang sudah lama tidak digunakan lagi.

"Naluri bisnis saya muncul. Lima puluhan karyawan ditambah lima ratusan siswa yang kursus setiap hari beraktifitas ditempat ini. Inilah peluang bisnis yang sangat bagus, pikir saya waktu itu," kisah Bayu.

Bermodal kompor bekas dan uang 81 ribu dimulai lah bisnisnya. Pertama- tama ialah berjualan es teh manis dan kopi serta pisang goreng disana. Dalam sebulan itu, modalnya dari 81 ribu berkembang menjadi ratusan ribu rupiah. Keuntungan itu digunakan kembali untuk modal yaitu membeli kompor gas. Seorang karyawan membisikkan padanya bahwa pisang goreng buatannya enak sekali.

"Sayapun berinovasi. Melalui beberapa eksperimen akhirnya terciptalah Banana Crispy," ungkap Bayu.

Ia kemudian membuat gerobak kayu untuk berjualan Banana Crispi di depan kantor dan hasilnya laris manis juga. Tanpa harus mengganggu jam kerjanya di kantor, Bayu terus untuk berusaha agar mengembangkan usahanya sendiri dengan mengikuti pameran demi pameran. Dari situlah, tiap keuntungannya selalu disisihkan utuk membuat gerobak baru dan seterusnya.

Bayu menarik kesimpulan bahwa Berbisnis Tak Harus Modal Besar. Sukses tersebut terus berlanjut hingga Banana Crispy menjadi bisnis berbasis kemitraan. Dalam waktu empat bulan Bayu telah memiliki 9 outlet yang diversifikasi batagor Bandung, bubur ayam Bandung dan kantin di Kampus Ganesha.

Melihat putranya sukses berwirausaha sang ayah timbul ide membuat jurusan kewirausahaan. Kali ini Bayu didaulat memulai semua itu dari pertama hingga berhasil dijalankan. Programnya berupa program wirausaha 1 tahun aplikatif dan menggunakan tenaga pengajar kompeten, dari pengusaha, kepala daerah, lalu kepala dinas dan pimpinan perusahaan swasta nasional.

Di tahun 2008, ia resmi diangkat menjadi direktur utama yang bertanggung jawab atas berjalannya Ganesha Group. Bayu memang bertangan dingin. Di tangannya Ganesha Group tumbuh pesat dimana mereka dikenal sebagai  lembaga pendidikan yang terpercaya. Bagi Bayu ini bukan sekedar bisnis diwariskan oleh orang tuanya, ia tak main- main mengembangkan bisnis Ganesha Group.

Mulai sekedar bisnis jasa pendidikan, Bayu bisa menjalankan sampai merambah jauh.

"Ketika ayah saya mempercayakan kepemimpinan pada saya, dia tahu bahwa saya bisa mengelola Ganesha meski tanpa embel-embel kepemilikan keluarga," tandasnya.

Berbeda lembaga pendidikan lainnya, jasa pendidikan Ganesha mengajarkan berbagai keterampilan. Selain bimbingan belajar, Ganesha membuka kelas keterampilan mengemudi, komputer, dan internet. Muridnya tidak hanya anak sekolahan tetapi juga orang dewasa. Sejak 2009 lalu, Bayu telah mengembangkan jaringan bisnis Ganesha menawarkan peluang kemitraan.

Hingga kini Ganesha sudah memiliki total lima gerai di Samarinda, Tasikmalaya, dan Bandung.

"Tiga cabang merupakan milik mitra," ungkapnya. Tak puas membesarkan bisnis keluarga saja, ia kembali melihat bisnisnya yang tertinggal, Banana Crispy.

Bayu kemudian mendirikan Rexa Group. Ia melanjutkan bisnis sebelumnya, memasukan bisnis itu dalam satu wadah usaha. Tak berhenti di Banana Crispy, Bayu kemudian mendirikan bisnis- bisnis lain. Ini merupakan usaha pribadi yang dijadikan wadah bereksperimen bagi Bayu. "€œJadi, kalau saya tertarik bikin bisnis baru, Reksa Group inilah tempatnya," tuturnya.

Nama Rexa Group kemudian diubah menjadi Reksa Group. Bisnis merambah ke usaha general kontraktor, supplier, trading dan distributor, reksa food yang terdiri dari banana crispy, Rumah Makan Bandung Mang Kasep, Icon Cafe, Bakmie Tasik. Dia masih melanjutkan usaha milik keluarganya sambil tetap mengerjakan usaha- usaha lain.

Ini disebutnya sebagai lompatan- lompatan Quantum, dari satu bisnis ke bisnis lain. Dari hanya bisnis pisang goreng kini merambah ke bisnis kontraktor. Tidak heran jika ia terpilih menjadi salah satu dari Wirausahan Muda Mandiri pada tahun 2007. Padahal, saat itu kompetitornya kebanyakan pengusaha yang bersekala nasional.

"€œSaya juga kaget waktu terpilih karena usaha saya baru skala Samarinda," kata pria 26 tahun ini. €"Ini bisnis formal yang harus terus dikaji secara mendalam," ucap dia. Bisnis pendidikan baginya mengandung tanggung jawab moral pada masyarakat banyak.

Maka itulah, ia selau berusaha terjun langsung untuk memastikan murid- murid mendapatkan pelayanan prima. Sementara, Reksa Group bisa didelegasikan kepada mereka orang- orang kepercayaan. Rata-rata omzet yang didapat Bayu mencapai Rp 300 juta per- bulan. Meski Reksa Group memiliki banyak lini usaha, Bayu mengaku, 80% waktunya didedikasikan untuk Ganesha Group.

Gagal Bermain Football Sukses Pelatih LinkedIn

Profil Pengusaha Lewis Howes 


 
Terkadang hidup memang tidak adil tetapi selalu ada hikmah. Ketika dia tengah di puncak karirnya, Tuhan berkata lain, dimana Lewis Howes harus mengahiri karirnya. Tentu bukan jiwa entrepreneur kalau segitu saja menyerah. Mungkin kata "segitu" relatif ya tetapi memang semua akan ada hikmahnya.

Howes memulai karir di All American football sejak sekolah menengah dan kampus. Dia tercatat sebagai siswa alumni Principia Collage dan Capital University. Karir American football memang hidup Howes sejak jaman dahulu. Dia pernah mencatatkan rekor paling banyak menampilkan atraksi, yakni menangkap 17 pas untuk 418 yard di 2002.

Dia meninggalkan kampus aka drop out buat American football. Karir Howes terpaksa berhenti ketika ikut Arena Liga pertamanya. Mengejutkan, bahkan membuat ia sempat stress berat, dimana dia jatuh membentur tembok ketika akan menangkap bola dan mematahkan pergelangan.

Namun Howes pantang menyerah jadi bahkan hingga akhir musim dia tetap bermain. Selepas permainan terakhir, dia menjalankan operasi perbaikan, sayangnya, itu tidak berjalan baik sampai dia harus berhenti bermain American football selamanya.

Titik balik


Tahun 2002, dia berangkat ke New York menemukan handball. Dia masuk ke olahraga ini menjadi tim di Team Handball Club. Berkat keuletan, dia masuk tim nasional bernama USA Men's National Team. Agustus 2013, ia menandatangani kontrak satu tim terkenal handball asal Spanyol Ademar Leon, menyandang nomor 15.

Dimana entrepreneurship -nya?

Tunggu, dimasa penyembuhan serta vakum di dunia olah raga, dia sempat melakukan semacam eksperimen hingga menghasilkan. Bayangkan, dia menghasilkan jutaan dollar lewat ya bisnis online.

"Saya sempat seperti jatuh saat itu karena nasib dan sangat depresi, duduk di pinggiran kasur," tuturnya.

"Satu hal saya bisa lakukan adalah mengetik dengan satu tangan dan beberapa jari milik pergelangan yang patah ini. Jadi saya baru saja berpikir jalan keluar saya "harus memikirkan jalan keluarnya dari ini,"."

Jalan keluar tersebut tarnyata adalah sosial media. Tetapi bukan Twitter ataupun Facebook, dia mengenalkan LinkedIn. Tempat terbaik bagi profesional berbagi perjalanan profesionalnya. Dia menjelma menjadi seorang LinkedIn Coach menolong banyak orang di penjuru Amerika.

Ia membantu orang mendapatkan pekerjaan lewat sosial media saja. Howes lantas mengibaratkan LinkedIn sebagai sosial medianya orang dewasa. Mereka pengguna ini adalah orang- orang profesional dibidangnya. Orang bisa menulis profil, pengalaman kerja, pendidikan, dan bahkan rekomendasi dari pengguna LinkedIn lain.

"Seseorang mempunyai gelar MBA dan setelah dua bulan, dia tidak mendapatkan pekerjaan," jelas Howes. Ia menambahkan dia akan mengajarkan one- to- one training. Howes mendirikan SportNetWorker di tahun 2008, sosial media buat konsultasi markerting para pengusaha di industri olahraga.

"Apa yang harus saya lakukan? Jadi saya duduk dengan dia, tetap profil LinkedIn dan dalam dua minggu ke depan, ia punya pekerjaan," ucapnya mereka adegannya.

Menulis sosial media sebagai rujukan kerja memang fenomena. Sesuatu yang belum biasa dalam kehidupan di masyarakat. Dia menjelaskan bahwa ini akan sangat berguna.

"Saya hanya memberitahu orang- orang untuk menghabiskan waktu 10 menit sehari atau 30 menit seminggu, hanya duduk di sana dan bermain- main dengan itu sedikit," jelas Howes. "Baca tutorial, memeriksa blog dan akhirnya itu akan mulai membuat merasakan."

Dia menyarankan pengguna LinkedIn agar profil mereka konsisten serta menarik -kamu harus membuat para pencari kerja percaya apa yang kamu benar bisa dan kamu bisa membantu mereka.

Howes menyarankan kita membuat koneksi sebanyak mungkin. Kalaupun kamu sudah melakukan kesalahan diawal jangan takut lakukan perbaikan -semakin terbiasa akan semakin baik.

Dia, salah satu penulis Linkedworking: Generating Success on the World's Largest Professional Networking. Penulis buku sendiri berjudul The Ultimate Webinar Marketing Guide tahun 2012. Howes juga menulis The School of Greatness: A Real-World Guide to Living Bigger, Loving Deeper, and Leaving a Legacy Oktober 2015.

Howes juga baru menjalankan Sport Executives Association. Sebuah website untuk eksekutif dibidang olah raga yang bersifat membership. Tujuannya adalah marketing, menginspirasi, menciptakan bahan edukasi buat sosial media.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba