Kisah Entrepreneur Muda Kripik Pisang Zanana

Pengusaha Muda Gazan Azka Ghafara 


 
Produk Zanana Chips adalah produk keripik pisang kekinian. Bahkan sudah didaulat oleh sang penemu jadi jajanan ekslusif. Banyak dicari orang, Gazan Azka Ghafara memang sudah merencanakan hal tersebut lama. Dia punya rencana, riset, ditambah do'a jadilah pengusaha muda. Sukses telah membawa namanya tertulis di berbagai media online.

Hanya berjualan kripik pisang Azak mengantongi omzet Rp.200 juta- Rp.400 juta. Menggiurkan memang mendengar omzetnya. Modal Rp.1,05 juta disulapnya menjadi ratusan hanya selang dua tahun. Kepada media Republika pengusaha muda ini bercerita.

Modalnya ingat cuma Rp.1 juta sangat minimum. Dia tambahkan uang Rp.50 ribu dalam rencana bisnis baru tersebut. Uang tersebut dibelikan mesin pengemas dan kripik pisang. Ya, kamu tidak salah dengar kok, awal ia hanya membeli kripik pisang sudah jadi. Kripik tersebut nanti dibungkusi sendiri ditambah taburan serbuk coklat.

Agar menarik pembeli dibungkus sedemikian rupa terlihat modern. Bungkus keren inilah menjadikan kripik Zanana kekinian. Nama awalnya bersumber dari saorang ternama dari Gazan dan Banana. Alias pisang yang jadi Gazanana. Karena terlalu panjang maka dihilangkah dua huruf depannya jadi Zanana. Ia lantas menjual itu ke jalan- jalan menyebutnya kekinian.

Bisnis kapapun


Ia berkisah sejak SMA sudah mengerjakan aneka bisnis. Dan, uniknya mereka berjalan cepat tetapi ya gagal karena alasan tertentu. Dia pernah berjualan ayam tulang lunak. Tetapi karena tidak mengenal manajemen hasilnya itu kebangkrutan. Azak pernah berjualan risoles. Sudah punya cabang tiga tetapi lagi- lagi bangkrut karena suatu hal.

Banyak cibiran dan hujatan ketika dia gagal mengerjakan bisnis. Tetapi dia tetap berusaha menjalankan ini sebagai passion -nya. Untuk mencegah kegagalan terulang mulailah terbersit pemikiran. Kenapa dia tidak masuk ke komunitas pengusaha. Dia harus bersosialisasi dengan lingkungan yang mendukung. Inilah alasan dia tidak bosan mengikuti aneka seminar entrepreneurship.

Azka bertemu banyak pengusaha. Ia merasakan ketulusan dalam diri mereka. Dia mendapatkan mentor yang pengertian. Modal uang Rp.1.050.000 dijadikan usaha kripik pisang kekinian. Mulailah dia berjualan kripik pisang kekinian lewat berbagai media. Jaringan dibuatnya secara bertahap lewat berbagai cara. Ide awal dari bisnis ini katanya kripik pisang Lampung.

Dia melamun membayangkan enaknya kripik pisang Lampung. Pikiran Azka pun buntu tidak bisa mendapat pisang tersebut. Tetapi dia menemukan ide bagaimana kalau dibisniskan. Dia mulai bertanya kepada saudara atau teman tentang kripik pisang Lampung. Ia mulai melakukan riset kecil- kecilan. Memang kripik pisang khas Lampung diminati banyak orang.

Tetapi jangkauan masyarakat di tempatnya terbatas. Ia ingin membawa itu tetapi inovasi berbeda. "Ia masih sebatas jajanan oleh- oleh," paparnya.

Azka mulai membuat kripik seperti itu dulu. Kripik pisang coklat lantas didistribusikan ke seluruh Indonesia. Mantap barulah Zanana Chips diplokamirkan pada 28 November 2013. Usaha ketiga ini berjalan lumayan karena 30 bungkus pertama langsung habis. Jumlah meningkat sampai 50, 60, sampai 100 bungkus. Bahkan sepekan bisa mencapai 500- 600 bungkus Zanana per- hari. Sejalan waktu menjual dua ribuan bungkus per- hari.

Hal pertama yang dilakukan oleh Azka ialah: Membeli kripik pisang mentah yang lantas ditaburinya aneka bumbu. Itu lantas dibungkus dikemas sebagus mungkin. Enam bulan pertama, ia kerjakan produksi sendiri mulai berbelanja kripik, dibumbui, menjual dan melayani, kemudian promosi ke berbagai media. Pemesanan bertambah seiring itu jumlah karyawan juga. Ia mampu mempekerjakan 14 karyawan tetap kini.

Omzet melonjak sampai Rp.200- 400 juta per- bulan. Azka lantas menyewa ruang buat kantor Zanana. Ini sudah termasuk peralatan kantor lengkap, antara lain laptop, dan lain- lain. Sampai- sampai berkat usahanya ini, Azka mampu membeli mobil yang menunjang bisnisnya sendiri. Hasil perputaran uang dari kripik pisang Zanana ini memang terbilang besar.

Marketing kekinian


Lewat media Instagram, Zanana mampu bertahap diperkenalkan ke masyarakat, lantas juga menyebar luas sampai Facebook, Twitter, Line. Ia mengindentifikasi pelanggan Zanana hampir 80 persen adalah perempuan usia 17- 30 tahun. Mereka yang disebutnya suka belanja online, doyan ngemil, suka foto- foto, juga menjadi pengguna aktif Instagram.

Zanana mencoba menempatkan dirinya disana. Ia mengajak beberapa menjadi reseller, membuka outlet di tempat masing- masing. Jumlah reseller mencapai 600 -an tersebar di 70 kota di Indonesia. Zanana tidak lah punya outlet resmi tetapi memanfaatkan reseller. Dia bahkan mencapai Papua- Marauke. Memiliki 100- 150 reseller aktif menghasilkan rata- rata Rp.2 juta- 4 juta per- bulan.

Menjadi reseller Zanana Chips caranya mudah. Cukup kita membayar biaya Rp.50 ribu dan membeli 50 an bungkus Zanana Chips.

Reseller mendapatkan harga Rp.15 ribu seberat 200 grm. Bonus akan diberikan buat mereka yang penjual berprestasi. Misal mampu menjual 250 bungkus akan mendapatkan bonus Rp.250 ribu. Semakin banyak ya semakin banyak untungnya. Ia memisalkan 400 bungkus mendapatkan 500 ribu, jual 600 bungkus berbonus Rp.800 ribu. Ia mengaku tidak ada hal muluk soal resep rahasia sukses bisnisnya.

Semua orang menurutnya akan sukses selama tidak berhenti berusaha, belajar dan berdoa. Dia selalu baca- baca buku soal entrepreneurship. "...saya tetep baca buku bisnis, motivasi, ikut seminar, workshop, training. Itu harus jadi kebiasaan," kata Azka.

Dia menjelaskan bahwa terus belajar menjadi kunci. Azka lantas memberikan contoh usaha wartel yang dulu pernah ramai. Tetapi semakin hilang, ketika jaman telah menyediakan peralatan komunikasi berupa handpon dan seterusnya. Pengusaha harus terus belajar untuk mengikuti perkembangan. Jika dia tidak melakukan hal tersebut maka bisnisnya akan mati.

Masih ingat dua usaha sebelumnya? Ya, ia lantas menambahkan, dari bisnisnya ayam tanpa tulang dan bisnis risoles meninggalkan hutang 10 juta. Dia bangkit mencoba memperbaiki segela lewat Zanana. Dia yakin ada solusi disetiap usaha. Sempat dibuat sedih lantara usahanya selalu bangkrut. Azka semakin bersemangat buat memperbaiki respon negatif itu.

Ungakapan meremehkan dan dipandang sebelah mata sudah biasa. Ia telah kenyang merasakan hal tersebut sampai sekarang. Cerita unik terjadi di enam bulan awal memulai usaha Zanana. Ketika saudara memintanya memberi diskon. Azka berkelit meminta mereka menghubungi admin. Lantas si admin menjawab tidak bisa karena akan dimarahi bosnya. Padahal, Azka adalah bosnya, dia juga berperan menjadi admin perusahaan.

"Kalau kita langsung menolak atas nama pribadi kan tidak enak juga," tuturnya sambil diikuti tawa. Masa lalu yang tidak menyenangkan ketika kecil tidak membuat dia lemah. Usia lima tahun, perlu kamu tau, ibu dan ayah Azka bercerai, hingga menjadi masa sulit bersama ibu dan seorang kakak perempuan. "Saking sulitnya, hingga untuk membeli telur untuk makan pun susah," katanya lagi.

Semangat lah yang membawanya sampai menjadi wirausaha. Dia mulai membaca aneka buku bisnis dan juga motivasi. Zanana Chips memiliki aneka rasa, yakni brown chocolate, creamy milk, green thai tea, smoked beef, classy spicy. Untuk semakin laris maka dilakukan usaha jemput bola. Dia mulai distribusikan langsung ke kafe- kafe, dan tentu, ini sudah termasuk sertifikat Halal dari MUI Jawa Barat.

Tahun 2016, rencananya, ia akan bersiap memproduksi kripik pisang sendiri. Rancangan sudah lama disusun tinggal pematangan saja. Dia sudah punya karyawan binaan yang dijadikan patner produksi pisang. Ini akan lebih mudah dikontrol olehnya akan ketersediaan bahan baku.

Biodata Pengusaha


Nama          : Gazan Azka Ghafara
TTL            : Bandung, 27 Juli 1995
Brand         : Zanana Chips
Website      : www.zananachips.com
Facebook   : www.facebook.com/zananachips.official

Instagram    : @zananachips
Twitter        : @zananachips
Line@        : @zananachips
HP/WA        : 087780080075

Es Krim Potong Kalimantan Barat Raymond Lim

Profil Pengusaha Raymond M. Limas



Es krim potong sempat menjadi primadona. Jajanan yang katanya asli Singapura itu, ternyata sudah 33 tahun berada di Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat. Ialah sosok Raymond M. Limas, pengusaha asli dari Indonesia, yang menyimpan rahasia resep keluarga. Ini sama sekali bukan lah es krim potong Singapura loh. Dia menjelaskan lebih lanjut kisahnya melalui awak media.

Sebenarnya es krim miliknya merupakan bagian menu restoran. Usaha restoran keluarga yang dijalankan oleh Raymond. Es krim disini sebenarnya banyak bentuk. Semenjak es krim potong mulai naik daun maka naik pula es krim potong Raymond. Dia lantas muncul ke permukaan sebagai pengusaha es potong. Padahal dia bukanlah pengusaha es potong secara spesifik.

Hanya menu pelengkap katanya lagi menambahkan. Nama es potong Raymond semakin mencuat dibanding nama restoran Raymond Lim Resto. "Tadinya untuk pelengkap restoran saya, tapi malah jadi terbalik yang pelengkapnya malah restorannya," jelasnya lucu. Mereka pengunjung restoran datang malah mencari es krim potong Raymond.

Pengusaha asal Kalimantan Barat ini meyakinkan es krim miliknya homemade. Resep turun temurun 33 tahun milik keluarga. Es krim potong miliknya lebih tipis dibanding es krim Singapura. Macam varian rasa meliputi rasa coklat, kopi, alpukat, vanila, green tea, strawberry serta  kurma. Lantas ia menemukan resep musiman yakni es krim rasa durian dan mangga.

Awal model es krim milik keluarganya disajikan tradisional yakni dikerok. Hingga muncul ide menjadikan itu es krim potong bersama roti.

"Tapi kita tidak terinspirasi dari es krim potong Singapura. Ketebalan kita berbeda, yakni 18 mm," paparnya. Ketebalan lebih tipis dimaksudkan agar orang tidak jenuh memakannya.

Asli Indonesia menyajikan aneka rasa berbeda. Raymond menetapkan standar tinggi soal pemilihan buah  bahan baku -BMW alias becek, manis, wangi. Untuk wangi es krim durian ditetapkan tidak boleh bau langu, pahit, alkohol, minyak, asam. "Saya bisa badain itu dengan mencicipi buahnya tanpa ditelan," jelasnya. Nama es krim potong miliknya pun semakin menggema.

Dia bahkan bisa meggaet mitra di lokasi berbeda. Usaha tersebut lantas diberinya nama Raymond Lim Es Potong Sandwich. Dia lantas kembangkan lewat usaha berbasis franchise. Ada dua paket investasi yakni es krim booth kecil dan booth besar masing- masing Rp.10 juta dan Rp.35 juta. Mitra bisnis rata- rata menjual 4 ribu potong sebulan seharga Rp.15 ribu per- buah

Mitra bisa menghasilkan omzet rata- rata Rp.60 juta. Dan, Raymond sendiri mengaku mampu menghimpun sukses Rp.540 juta dalam waktu satu bulan. Ia pun telah membuka kemitraan sampai di Pasar Santa yang mana pemesanan mencapai 2.000 potong. Produksi ditempat ini bahkan mencapai 10.000 per- potong.

Jajan Krepes Bunda Sulis Berawal di Rumah

Profil Pengusaha Sulistiawati Ningsih 



Inspirasi wirausahawan muda adalah kebutuhan. Kita butuh semangat untuk terus menjalankan usaha. Kalau bicara sumber bisa macam- macam. Tetapi pengalaman adalah guru terbaik termasuk pengalaman orang lain. Berikut kisah dari buku Rahasia Jadi Entrepreneur Muda. Kisah seorang Sulistyawati Ningsih, 34 tahun, atau sering dipanggil Bunda Sulis mengajak orang lain sukses.

Dia tidak sendiri ketika memulai usaha. Melihat peluang waralaba Bunda Sulis mengajak dua orang teman untuk berbisnis bersama. Ia bersama Teti dan Nopy akhirnya mengerjakan bisnis Lucky Crepes serius. Awal usaha sendiri bermula dari usaha rumahan. Kini, dia dikenal sebagai pengusaha sukses, memiliki 250 gerai cabang Lucky Crepes dan beberapa lembaga pendidikan pra- sekolah. 

"Saya sudah malas bekerja di kantor lagi," aku Sulis. Mantan pegawai Indosat ini memang berawal dari karyawan nyambi pengusaha. Namun kemudia ditekuni sampai sukses. Alasan utama kenapa berbisnis di rumah menurutnya "kebahagiaan".

Dia sendiri seorang ibu rumah tangga. Faktanya mengerjakan usaha di rumah menyenangkan loh. Pemikiran tentang dunia kerja lambat laun ditinggalkan. Bayangkan, ketika dia masih bekerja, lulusan STT Telkom Bandung ini, harus berangkat dari rumahnya yang di Tangerang, Propinsi Banten, ke kantor yang beralamat di Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. 

Berangkatnya dari jam 6 dan harus meninggalkan anak- anaknya yang masih kecil. "...semua saya mulai dari bisnis yang dapat dimulai dari rumah, dan hal itu sangat membahagiakan," ujarnya, yang semuanya ditulis di buku Bunda Luar Biasa.

Bisnis luar biasa


Dia bersama dua orang patungan mengumpulkan Rp.10 juta. Itupun sebagian besar merupakan pinjaman dari bank. Sebelum waralaba, Sulis memang sudah merencanakan usaha sendiri, mengerjakan usahanya itu di rumahnya. Itu pun setelah 10 outlet miliknya sendiri berjalan. Lantas ada seorang temannya menyarankan kenapa tidak di waralaba.

Awal sekali usahanya masih tanpa nama ketika 2004 -an. Selepas patungan uang Rp.10 juta tersebut baru dimulai bisnis sesungguhnya. Dari satu outlet, bisnisnya menjadi empat outlet selepas mendapat modal. Tiga sahabat ini baru memberi nama selepas siap berwaralaba. Mereka sendiri mengerjakan sendiri berbagi tugas karyawan.

Sebelum mengerjakan bisnis crepes ini Sulis pernah berbisnis lain. Menurut bukunya Bunda Luar Biasa, dia pernah mengerjakan jualan bed cover atau sprei. Intinya dia menjadi distributor atau agen produk retail yang bermacam- macam. Ia pernah juga berjualan pakaian, kue, dll. Menurutnya modal usaha rumaha saja tidak membutuhkan modal lebih dari Rp.5- 10 juta.

Kembali ke Luck Crepes, maka jadilah Bunda Sulis menjadi marketing strategy manager, Nopy berperan jadi public relation manager, dan Teti kemudian bertindak sebagai operasional manager. Perkembangan dari usaha ini sangat bagus sampai Teti memutuskan keluar. Dia memutuskan keluar dari pekerjaan untuk fokus di usaha ini.

Mereka membidik pasar menengah kebawah dengan harga mulai Rp.2000 saja. Untuk strategi marketing dari segala penjuru -menyebar brosur, sosial media, iklan media cetak, dan program member. Alhasil inilah yang membuat Lucky Crepes menjadi buruan media manapun seperti SWA, Majalah Pengusaha, Franchise, Pebisnis, Tabloid Peluang Usaha, Kontan,dll. Soal Waralabanya juga tidak memungut fee ataupun royalti dari nama.

Tidak membebani mitra menjadi konsep lain. Modal investasi waralaba terjangkau yakni Rp.5,5 juta rupiah sudah termasuk join fee, peralatan, gerai, seragam dan pelatihan. Kita mencarikan lokasi dan karyawan buat jualan saja. Kemitraan bisa lewat www.luckycrepes.com atau www.luckycrepes.multiply.com. Sukses ini pun tidak begitu saja karena ada hambatan harus ditaklukan.

Sulis sebenarnya tidak berniat mengerjakan bisnis krepes. Ia malah maunya membuka usaha penitipan anak dan lembaga pendidikan TK atupun PAUD. Namun, karena ingin membuka di mall, maka dana yang ia bisa keluarkan bisa membengkak. Meski pernah ditawari investor tetapi kepastian tidak kunjung tiba. Dia lantas bertemu satu perusahaan. Tetapi mereka menawari kerja sama lembaga pendidikan dan pelatihan wirausaha.

Sayang kordinasi diantara keduanya tidak berjalan baik. Karena memang, Bunda Sulis masih sibuk dengan pekerjaanya. Gagal usaha pendidikan justru membawa arah ke bisnis kuliner. Dia yang sadar bahwa teman- teman hobi jajan akhirnya punya ide. Ketika dia bersama teman tengah nongkrong di kantin kantor, ia lantas menemukan jajanan unik bernama kue iekker.

Usaha waralaba


Ia menemukan titik "aha" nya. Lantas direalisasikan oleh mereka lewat gerobak pertama. Mereka lanjutkan lewat mencari literatur resep krepes. Berikutnya Sulis mulai mengumpulkan peralatan memasak. Outlet itu dibuka pertama kali di kawasan pasar rumput di sebuah sekolah, di Bakasi. Cobaan pertama datang lewat karyawan yang kurang bertanggung jawab.

Alhasil, Bunda Sulis harus menomboki biaya pengelolaan outlet pertama tersebut. Ia mencari lagi karyawan yang bisa bertanggung jawab.

Perkembangan positif akhirnya terlihat dari usaha krepes. Berani mengambil resiko, Sulis memutuskan buat meminjam kredit tanpa agunan di bank swasta. Pertaruhannya tersebut menghasilkan hasil memuaskan. Hasil dari usaha krepes ternyata lebih tinggi daripada bunga bank. Dia lantas mendaftarkan nama usahanya agar tidak ditiru. Cabangya telah bertambah 10 outlet dan diliput oleh berbagai media bisnis.

Liputan media bisnis menaikan pamor Lucky Crepes. Ditambah liputan khusus sebuah tabloid bisnis ternama tentu lebih naik. Omzet pun mencapai angka Rp.100 juta per- bulan dari 240 cabang berbeda. Lalu Lucky Crepes menyambut investasi pewaralaba tersebut lewat aneka produk baru, seperti martabak manis, produk wafel, dan pukis parabola.

Memiliki usaha lembaga pendidikan merupakan impian. Jadi ketika Lucky Crepes sukses, maka Bunda Sulis mulai lagi menyasar usaha pendidikan, yang sebenarnya sudah dia impikan sejak sebelum menikah. Ini sudah diyakini tetapi berjalan justru selepas dua tahun Lucky Crepes berjalan. Usaha lembaga pendidikan dimulai sejak 2005, sementara yayasan resmi menaungi lembaga baru berdiri Februari 2006.

Usaha lembaga pendidikan berkonsep kelompok bermain dan TKIT, yang kemudian dinamai Ibnu Rusyid berjalan sejak tahun ajaran 2006- 2007 di Kencana Loka, Bumi Serpong Damai. Dimana fokus pendidikan ada di pendidikan karakter dan multiple intelligence. Tidak cuma diajarkan baca dan menulis tetapi termasuk bagaiamana good character. Semua berdasarkan kepercayaan Sulis akan "golden age" masa pertumbuhan.

Usaha kedua kemudian didirikan di Citra Raya Tangerang. Perjalanan usahanya kemudian berkembang lebih pesat lewat program TPA Plus dan English Club for Kids. Yayasan Ibnu Rusyid juga termasuk rajin dalam hal mengadakan seminar dan pelatihan multi- intelligence. Untuk mereka yang mau membuka usaha ini juga diberikan pelatihan kurikulum berbasis tersebut.

Dalam hal membagi waktu di kantor ataupun di yayasan, Bunda Sulis menyerahkan kepada satu tim yang full time bekerja di yayasan. Kemudian dalam jangka panjang yayasan akan membuka sekolah guru berbasi di konsep multi- intelligence tersebut. Ini juga termasuk bagi orang tua yang mau belajar lebih banyak tentang hal multi- intelligence.

Usaha selanjutnya adalah membuka salon muslimah. Dia membuka usaha ini di kawasan Villa Ilhami, Lippo Karawaci. Meski masih embiro belum sukses tetapi tetap dijalankan. Ia memang sudah berprinsip bahwa ini soal dikerjakan atau tidak. Bunda Sulis menyadari usaha bukan tentang cepat tetapi proses. Maka kalau ada ide bisnis harus segera dilakukan.

"Kalau patokan dan tujuan kita hanyalah hasilnya, setiap proses yang belum menghasilkan akan kita anggap sia- sia," tutur wanita berjilbab ini.

Memanfaatkan Garasi Menjadi Usaha Kue Bakery

Profil Pengusaha Suteja Salim Wijaya dan Istri 


 
Ingin membuka usaha roti sendiri awalnya. Nanik Sumiyati lantas nekat membuka toko kue sendiri berbekal hobi membuat kue. Usaha roti bermodal rumah pribadi pada 1999, bermodal uang tabungan sebesar 25 juta untuk menyewa rumah sekaligus toko. Garasi rumah dijadikan toko roti sekaligus tempat jadi produksi. "...di belakang untuk tepat produksi," papar Nanik.

Modal segitu mampu menghasilkan aneka roti enak. Nani menawarkan pesanan tetangga serta kenalan di sekitar pemukiman Tlogosari, Semarang. Pesanan semakin banyak kian waktu lantaran layanan prima. Juga sudah termasuk rasa enak dan harga terjangkau menjadi daya. Itulah dua aspek sukses toko roti kecil yang kemudian dinamai Virgin.

Bersama sang suami, Suteja Salim Wijaya, keduanya menjual sedikit saja buat awalan. Teja menjelaskan ia sendiri cuma coba- coba. Tidak begitu ambisus, tetapi dikerjakan sebaik mungkin dan penuh tanggu jawab. Inilah kenapa setiap permasalah dilampaui dengan ketekunan. Tahun ke- empat terlampaui dimana toko kue Virgin telah nampak prospeknya.

Sebuah garasi rumah disulap menjadi toko roti. Keduanya menjual aneka roti manis yang dipajangnya rapih di etalase. Awal produksi cuma membuat 100 potong roti sehari. Dan, keduanya cuma bermodal 10 varian rasa, pokoknya beda dengan toko roti terkenal.

"Awalnya memang hanya iseng mengisi waktu saja sambil menyalurkan hobi dan telenta istri saya yang bisa membuat roti," papar Teja.

Keduanya bekerja sendiri dibantu seorang pembantu. Mereka melakukan segala proses produksi, dari mulai belanjar, menyiapkan bahan baku, sampai mengolah dan menjualnya ke orang- orang. Dalam wawancara bersama Pakaroti.com, Teja menjelaskan usahanya mulai berjalan baik, sedikit- demi sedikit maka jumlah karyawan meningkat.

Teja sendiri sampai tahun ke empat masih fokus bekerja. Dia masih tercatat menjadi pemasok toko bahan bangunan. "Saat itu, saya melihat perkembangan Virgin lebih cepat daripada bisnis saya," tuturnya. Alhasil gajinya sendiri terlampaui oleh sang istri. Peputaran uang pun lebih cepat dibanding usaha bahan bangunan yang sering menunggak pembayaran.

Pensiun dini


Iseng menjadi bisnis serius itulah Teja. Ia pun memutuskan pensiun dini menjadi suplier bahan bangunan. Dia sendiri kagum bagaimana istrinya bekerja. Teja ingin turun tangan membantu Nanik yang kewalahan. Modal ilmu marketing menjadi andalannya memajukan bisnis bakery. Sengaja dibidiknya pasar menengah ke bawah meski untung sedikit tetapi banyak. Strategi tersebut terbukti efektif diterapkan oleh Virgin Bakery.

Produk berkualitas ditambah harga murah meraih kelas bawah. Teja lantas menerapkan konsep swalayan. Ini akan mempermudah orang memilih kue berdasarkan rasa dan harga. Kue- kue disusun disediakan di rak- rak kue. Semenjak 2003 -an namanya toko kue Virgin terkenal dan menjadi buah bibir, yang mana pembeli datang juga dari luar Semarang, seperti Ungaran, Kudus, Jepara, Pekalongan, sampai Tegal.

Kekaguman datang tidak cuma penikmat roti tetapi produsen bahan baku. Mereka berbondong berlomba agar bisa menjadi pemasok. Bagaimana tidak selama lima belas tahun, usaha bakery mereka selalu riuh oleh pembeli. Para produsen ini juga memberikan pelatihan mengolah bahan baku mereka. Bukan lagi disebut toko kecil karena tingkat produksi mencapai 10 ribu potong hingga 15 ribu per- hari.

Mereka banyak memasan untuk aneka kesempatan. Taja selalu mengamati prilaku konsumen agar tepat di marketing produk. "Itu penting untuk menekan jumlah produk yang mubazir, karena roti memiliki umur," ujar Teja.

Dia tidak segan memberikan layanan antar. Langsung ditangani sendiri ketika memasan banyak. Sambil itu, ia mengirim pesanan, termasuk melakukan pemasaran dan informasi soal produk. Menurutnya banyak orang memilih praktis. Orang lebih memilih kue buat buah tangan selepas hajatan. Ketika musim hajatan maka toko kue Virgin selalu ramai permintaan.

Untuk produk terlaris, ia menyebut nama kue berbentuk cincin bulat atau donat. Mendukung kebutuhan dari pasar lebih luas maka dibukalah cabang. Dia mencoba menangkap pembeli luar Semarang dari Ungaran. Ya cabang kedua Virgin Bakery di Ungaran, Jawa Tengah. Karena memang banyak pembeli datang dari ujung selatan Kota Semarang.

Garasi yang dulu menjadi pusat kini menjadi besar. Toko besar yang sudah mirip minimarket khusus buat roti memanjakan pengunjung. Permintaan cukup tinggi ditambah dari cabang Ungaran, yang tanahnya seluas 1,1 hektar. Teja mempekerjakan 200 orang karyawan, ditambah pembangungan pabrik roti kedua. Jika bicara mengenai omzet sudah mencapai Rp.50 juta per- bulan.

Teja sendiri masih punya hasrat membuka cabang di kawasan Semarang Barat. Sudah 15 tahun berbisnis di bidang roti, hal paling andalan adalah ketekunan itu sendiri. Apalagi sekarang usaha sejenis telah menjamur di berbagai tempat. Marketing kuat melalui pemahaman akan pelanggan menjadi andalan lain. Melalui cita rasa enak membuat Virgin Bakery juga tersebar dari mulut ke mulut.

Usaha Kue Kacang Kediri Modal Lima Ribu Rupiah

Profil Pengusaha Teguh Poerwono Edi


 
Teguh jualan kacang baru ketika tahun 1989 -an. Dia bersama keluarga baru saja pindah ke Kediri dan ingin buka usaha sendiri. Hingga berjalan waktu, Teguh Poerwono Edi, menjadi pengusaha sukses kue kacang di daerah tersebut. Kisah ini dimulai 26 tahun silam, yang mana ia sekarang kantongi omzet sampai ratusan juta rupiah. Kebetulan dia dan sang istri punya hobi sama, yakni membuat aneka kue.

"Awalnya, istri saya suka membuat kue, terus resepnya saya ubah- ubah," beber Teguh. Hobi itu pula yang melahirkan resep kue kacang bermerek Tidar. Selepas matang kue kacang cukup ditawar- tawarkan ke para tetangga dan teman- teman.

Hasilnya ternyata enak sampai banyak orang berminat. Ia serius akan hasilnya dan mulai meproduksi lebih banyak lagi. Keberuntungan dipihak Teguh karena sekitar rumahnya dekat kawasan pabrik. Mereka pekerja di pabrik ketika sore hari bisa mampir membeli ke toko miliknya. Awal usahanya masih menghasilkan 300 buah kue per- hari.

Modal awal cuma Rp.5000,- ditambah peralatan seadanya. Uang segitu dibelikan terigu 3kg serta gula dan aneka bahan lain. Saat itu, Teguh mengingat harga terigu per- kilo masih Rp.750, dimana bisa diubah menjadi ratusan kue kacang. Untuk peralatan cetak cukup memakai tutup botol minuman anaknya. Roti kacang yang sekarang menjadi khas Kediri ini dijualnya Rp25 per- buah.

Berkat usahanya tanpa menyerah, Teguh mendapatkan penghargaan Bogasari SME Award 2012 lalu.

Resep rahasia


Dia dibantu anak dan seorang pembantu mengerjakan pesanan. Meski keterbatasan, Teguh masih optimis usaha kue kacangnya akan berkembang. Banyak tantangan memang dilaluinya setiap waktu. Hingga selama bertahun- tahun usaha kue kacangnya semakin dikenal luas. Kini, ia memperkerjakan 45 orang karyawan, yang mana sudah punya tempat produksi sendiri.

Dalam sehari, rumah produksi menghasilkan 67.200 kue kacang. Ukuran kue kacangnya sebesar kue bakpia atau donat mini berbentuk bulat. Kue tersebut lantas dikemas dalam toples. Satu toples kue kacang sekarang dijual seharga Rp.240 per- butir. Bahan baku dibutuhkan mancapai 20 sak sampai 22 sak per- hari. Omzet kue kacangnya telah mencapai angka Rp.300 juta per- bulan.

Selain Kediri, kue kacang milik Taguh bisa melalang buana ke penjuru Indonesia, semua berkat internet yang membangun resellernya di berbagai daerah.

Modal memang terbatas tetapi Taguh tidak memilih pinjaman bank. Sebenarnya ada keinginan meminjam ke Bank tetapi dirinya sadar. "Akses terhadap pinjaman modal bank itu tidak mudah," jelasnya. Modal satu- satunya bisa ia tawarkan cuma berhutang ke warung. Lewat cara inilah ia bisa mendapatkan bahan baku tanpa bayar dulu.

Karena salalu bayar tepat waktu dan tidak pernah meleset, Teguh bisa dipercaya oleh pihak pemasok bahan baku. Bahkan sang pemasok menawarkan bahan baku lebih banyak lagi. Jujur, Teguh nyeletuk tidak punya uang buat bahan baku lebih banyak. Pemasok bahan baku pun meyakinkan Teguh dengan kemudahan. Ia boleh mengambil tepung terigu dan bayar kalau sudah akhir pekan.

"...mereka membolehkan saya berhutang," papar Teguh. Semenjak itu, dia mulai mengambil bahan baku buat enam hari ke depan. Dimana biasanya dia memakai tepung terigu sebanyak tiga sampai lima kilogram per- hari. Kini, ia bisa membuat lebih banyak berkali- kali dan laku semua dijual. Karena dipercaya pula usahanya bisa mendapatkan kemudahan lain.

Ia juga dipercaya sama pedagang peralatan kue. Beberapa kali dirinya mengambi peralatan kue seperti oven, plastik, serta barang lain, dan soal pembayaran akan dilakukan belakangan. "Hampir seluruh bahan saya hutang dari pedagangan," ujar Teguh. Berkat bahan baku lebih banyak serta peralatan lebih baik, tentunya ia bisa lebih banyak berekspansi lebih cepat.

Hasil keuntungan beberapa ditabung setiap hari. Di akhir pekan, ia akan membayar semua hutang- hutang yang dimilikinya. Ia tidak mau menyia- nyiakan kepercayaan mereka. Teguh sadar jika kita pandai merawat kepercayaan maka bisnisnya berkembang. Kue kacang bermereka Tidar semakin bersinar. Sekarang, ketika butuh terigu, pemasok tepung akan mudahnya menyuruh Teguh ambil.

"Berapa pun saya ambil pasti dibolehkan pemilik toko," celetuk Teguh lagi, disambut tawa. Ketika sekala dari usahanya membesar baru bank datang menghampiri. Ia memperoleh pinjaman sampai Rp.220 juta dari sebuah bank untuk membesarkan usaha. Uang tersebut digunakan untuk membeli kedaraan buat distribusi kue kacang Tidar.


Ambisi terbesar seorang Teguh adalah memasarkan Tidar ke seluruh Jawa. Jangkauan kue kacang miliknya sejauh ini masih di kawasan Jawa Timur. Bukan dipasarkan dia sendiri tetapi dibawa lewat internet. Reseller lah yang membesarkan usaha kue kacang miliknya. Karena sudah ada reseller, dia optimis bisa menjangkau lebih luas ke seluruh Pulau Jawa. Untuk itupula kapasitas produksi digenjot maksimal olehnya.

"Saya ingin punya mesin cetak kue yang sudah canggih," terang Teguh.

Untuk sekarang pembuatan kue kacang masih buatan tangan. Jika diganti mesin tentu produksi bisa naik sampai seratus persen. Teguh ingin dari 67.200 per- hari menjadi 270.000 kue per- hari. Karena memang itu jumlah pesanan terbanyak yang diminta pasar terutama ketika Lebaran. Ia juga berencana merubah kemasan kue agar tahan lebih lama.

Untung sedikit menjadi prinsip seorang Teguh. Yang terpenting untung sedikit asal bisa berproduksi kembali. Ia sendiri sadar resellernya menjual lebih mahal. Tetapi dia tidak ambil pusing akan hal tersebut,"Tidak apa- apa pedagang lain yang bisa menikmati keuntungan lebih, yang penting saya jalan terus," tuturnya. Hitunganya semakin banyak reseller semakin banyak permintaan dan untung pasti semakin besar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba