Dua Kisah Pengusaha Hispanik Berjuang

Contoh Kerja Keras



Alkisah, ini kisah Adriana Rodriguez, seorang wanita kelahiran Meksiko mencari jalannya. Wanita 38 tahun yang memiliki latar pendidikan master dari National Pedagogic University. Kuliah yang diambilnya di tempat asalnya Meksiko sebelum memutukan pindah ke Austin, Texas. Ia sebagai seorang anak punya mimpi membuka sekolahnya sendiri. Meski maunya begitu tapi hidup berkata lain.

Dia memilih membuka usahanya sendiri. Akhirnya ia bisa membuka sekolahnya sendiri. Semua berkat modal pinjaman sang ayah. Dibukannya sebuah bisnis pendidikan dibantu ayahnya, seorang pegawai di Departemen Pendidikan Meksiko. Ternyata pinjaman tersebut tak mencukupi, biayanya bahkan menanjak dan jikalau ia mengajukan pinjaman ke bank akan sia- sia. Karena bisnisnya tak punya arus kas tetap. Dia bersama suami, Henry, memilih bertaruh.

Seminggu sebelumnya, seperti dikutip dari Nbcnews.com, dia merasakan tegang dimana- mana. Akhirnya ia membuka bisnis sekolahnya sendiri. "Oh my gosh. Saya tidak tau jika saya akan bertahan," jelasnya. Mungkin sebuah perasaan tegang karena bisnis pertama. Tapi nampaknya menjadi pertanda buruk kelak. Di tahun 2008, dia bersama suaminya, memutuskan mempertaruhkan rumah empat kamarnya ke bisnisnya. 

Mereka menjual rumah, membayar beberapa hutang, mengurangi biaya ini- itu dan akhirnya pindah tinggal di apartemen. Mereka bersama dua anaknya yang masih 6 dan 9 tahun, bersama- sama berbagi satu ranjang kamar. Anaknya pindah dari sekolah privat ke sekolah publik.

 "Itu transisi besar, terutama untuk anak-anak, dan itu adalah tantangan besar. Kami bekerja 24-7 pada bisnis," kata Rodriguez kepada NBC.

Sebagai pengusaha baru memulai bisnis sekolah bukanlah mudah. Bayangkan, wanita paruh baya ini harus lah bekerja ganda. Dia adalah direktur sekolah, guru sekaligus tukang bersih- bersih. Selepas seharian dia bekerja, langsung melarikan diri ke rumah, memberi makan kedua anaknya. Ketika mereka tertidur, ia akan kembali lagi bekerja dan membalas email wali murid.

Ini adalah gaya hidup baru. Susahnya menjadi pengusaha cukup membuatnya keteteran. Semakin sulit saja ia merasakan, "makin banyak waktu yang kamu ambil dari keluarga ke bisnis." Pengorbanan ini terbayar ketika ia bisa membayar hutang orang tuanya. Akhirnya sekolahannya bisa punya daftar tunggu. Yah, sekolah itu kini tumbuh dari satu jadi tiga dengan total aset lebih dari $2 juta, mempunyai 260 murid, dan 58 pegawai. Bisnisnya berubah jadi Austin Eco Bilingual School.

"Itu tidak mudah," dia berkata dia akan menyarankan kamu agar jadi entrepreneur. "Jangan pernah berhenti percaya. Lakukan yang terbaik dan percaya kepada mimpi mu. Itu butuh waktu."

Website: www.austinbilingualschool.com

Pengusaha McDonald



Lain halnya German Ustariz, berbeda dengan Rodriguez, ketika berumur 13 tahun dirinya sudahlah bekerja keras. Dia bekerja sebagai pembersih meja dan lobi di restoran McDonald di asalnya Los Angles. Hari ini, dia dan istrinya Delmy, yang juga bekerja sebagai pegawai bersih- bersih, keduanya kini menjadi pemilik dan operator franchise McDonald di Austin. Dari hasil bisnisnya saja mereka menghasilkan $13 juta dan punya 120 orang pegawai.

Pasangan German dan Delmy menikah di tahun 1988. Ketika itu ia sudah menjabat supervisi di McDonald, sementara istrinya adalah cleaning service. Butuh waktu 10 tahun semenjak itu buat memastikan keduanya jadi pemilik franchise sendiri. Keduanya pindah ke Dallas. Mengorbankan dan tantangan sendiri bagi hidup mereka. "Kami tidak kenal siapapun," jelasnya. German mulai membangun 6000 meter persegi bangunan baru.

"Kami harus mulai dari awal membangun dasar untuk bisnis. Bagian tersulit adalah hanya menemukan orang yang tepat anda dapat percayai buat berbisnis dengan anda." jelas German, yang kini berusia 50 tahun.

Semua yang dia ketahui adalah pengalaman bekerja di McDonald. Dari pelatian itulah kesempatan buatnya jadi pengusaha sendiri. Tahun 2000, pasangan suami istri ini punya kesempatan membuka tiga toko lagi, itu ada di Austin. Mereka semakin berhasil hingga punya total empat franchise di tahun 2010. Bisnis baginya itu adalah bisnis orang. Maksudnya pemilik usaha harus tau lingkungan. Haruslah tau siapa pekerja kamu seperti latar belakangnya.

6 Alasan Pacaran Jadi Mimpi Buruk Pengusaha

Artikel Bisnis: Pengusaha Sulit Temukan Cinta


 
Kenapa menjadi pengusaha susah punya pacar. Dan, kenapa itu bisa menjadi satu mimpi buruk buat kamu para entrepreneur muda. Ada sebuah artikel dari Entrepreneur.com, ditulis oleh entrepreneur muda bernama Jonathan Long. Dia punya namanya cinta sejati. Tapi cinta pengusaha muda satu ini bukanlah apa yang kamu bayangkan. Ia jatuh cinta dan bersama- sama cintanya ini selama lima tahun. Ini adalah cinta terpenting bagi hidupnya, merupakan bagian dari hidupnya.

Inilah kisah seorang entrepreneur jatuh cinta kepada bisnisnya.

Baginya kencan dengan wanita, bagi seorang pengusaha seperti dirinya, hubungan bisa jadi mimpi buruk. Dia mendefinisikan bahwa entrepreneur itu stubborn atau keras kepala, menjadi pemilih dan selalu memasang "work mode". Tidak ada kata bersantai bersama wanita baginya. Ia pemilih hingga bisnis Market Domination Media (www.marketdominationmedia.com) sukses setelah lima tahun.

"Saya punya hubungan terbaik... saya sudah bersamanya selama lima tahun, tak pernah berkelahi dan punya waktu- waktu indah bersama. Hubungan saya bicarakan adalah bisnis saya," tulisnya.

Target bisnisnya adalah membantu mereka para pemilik bisnis online tak cuma mengejar pengunjung. Tapi memastikan jumlah pengunjung aktif membeli bisnis kamu. Kembali ke kenapa berpacaran bisa menjadi satu mimpi buruk bagi pengusaha, berikut penjelasannya:

"Saya tau saya bukan satu- satunya di kapal ini, jadi saya menghubungi seorang kawan Patti Stanger, pendiri Millionaire's Club, dan bintang dari acara TV populer Millionaire Matchmaker.... Ketika berbicara dengan Stanger, dia mengindentifikasi enam alasan kenapa pacaran bisa sangat sulit bagi beberapa entrepreneur," tulisany lagi.

1. Entrepreneur meprioritaskan bisnis

Dalam pemahaman kami, bahwasanya bisnis adalah nomor satu, sementara sebuah hubungan bisa jadi satu bagian lain. Tidak cuma soal cinta sih sebenarnya akan tetapi semuanya. Hasrat terbesar seorang pengusaha ada pada bisnisnya. Inilah mengapa Long merasakan betul -bisnis adalah yang pertama, dan sudah antisipasi bahwa ini tak akan berubah beberapa saat lagi.

"Sejak pengusaha memprioritaskan bisnis mereka cenderung menempatkan asmara menjadi kedua, yang menempatkan calon pasangan off dan meninggalkan cinta di bagian belakang kompor, "kata Stanger.

2. Entrepreneur workaholic

Pekerja keras. Dan, Long sering merasa bersalah soal ini, dia bahkan lupa berapa kali menunda kencan atau membatalkan rencana karena ia merasa harus bekerja hingga larut malam. Itu semua karena tekanan agar selalu melihat bagaimana seharusnya ini dan itu. Ia merasa kecanduan bekerja hingga merasa aneh jika tak melakukannya. Tenang ini bisa diperbaiki itulah yang tengah dilakukannya. Menciptakan suasana bekerja yang tepat dan seimbang.

"Seni kesepakatan sering (pengusaha) jadi cinta sejati, selalu menciptakan produk baru dan jalan untuk membangun bisnis mereka," katanya. "Mereka sering mengambil menggadaikan hubungan mereka dan ini mengganggu pasangan mereka dan mereka akhirnya putus karena ini."

3. Entrepreneur sering berpergian

Bepergian bisa sering terjadi dikehidupan pengusaha. Dan, itu bisa saja tidak terencana betul, tiba- tiba saja pengusaha bisa berada di suatu tempat. Jauh dari pasangan kamu bisa jadi masalah besar. Lihat bagaimana para atlit atau artis Hollywood kehilangan cinta. Perjalanan dan jarak selalu disalahkan.

"Seorang pengusaha dan pasangannya akan jarang di tempat bersama diwaktu yang sama," ujar Stranger. Tapi tentu beda jikalau kamu sudah jadi kaya, jadi jutawan atau miliarder. Kamu bisa meninggalkan bisnis kamu dikerjakan orang lain. Akan tetapi tetap saja akan mengalami kesulitan.

4. Entrepreneur menderita "lebih besar, kesempatan lebih baik"

Stranger mendeskripsikan terkadang pengusaha akan susah memilih. Disaat masa mereka menemukan rasa bahwa pasangan mereka tak menarik; tantangan berhenti. Terkadang inilah penyebab mereka "kenapa ya pengusaha itu banyak playboy", padahal ini mungkin sebuah sindrom saja. Ingin membangun perusahaan lebih besar menjadi pengusaha lebih baik. Long mengamini ini bahwa mereka bisa dapat lebih.

"Saya bisa berkencan dengan model Victoria Secret dan saya akan berpikir di kepala saya," aku Long. Tapi ini cumalah alasan saja menurut kami -pada akhirnya pengusaha cuma akan kembali ke bisnisnya.

5. Entrepreneur tertantang mencapai tujuan bisnis

Ketika tujuan bisnis itu sudah ada. Akan ada poin- poin ingin dicapai secara berkelanjutan. Inilah terkada berarti mengorbankan kebutuhan sosial jika tak ada hubungannya.

"Beberapa pengusaha cenderung hidup ingin jadi besar, selalu ingin dilihat di tempat terbaik dan pergi pada saat liburan terbaik," kata Stanger. "Beberapa juga dapat menjadi pemburu status, dan mendaki sosial ke atas berubah menjadi cinta sejati mereka, vs pasangan mereka."

Dalam pengertian kami terkadang mengejar bisnis itulah sendiri mencari cinta sejati. Mendaki status sosial lalu menemukan cinta sejati mereka atau sekedar menemukan pasangan saja. Mungkin juga tidak ada nama cinta sejati bagi seorang pengusaha ketika ia sukses kelak.

6. Entrepreneur mencampur emosi bisnis dan emosi pribadi

Akan susah membedakan emosi pribadi ataupun emosi dalam halnya berbisnis. Long mengakui hal ini dalam tulisannya. Ketika kita membawa masalah pribadi dalam pekerjaan, akan ada masalah. Namun, ketika kita tak menaruh pribadi kita, akan kehilang komunikasi baik. "Kamu butuh mencari kebahagiaan ditengah."

"Beberapa pengusaha tidak pandai mengekspresikan emosi mereka kepada mereka yang dicintai. Mereka sering tidak akan menyadari apa yang mereka miliki sampai mereka telah kehilangan seseorang yang khusus," kata Stanger.

"Hal ini karena bisnis dapat menjadi dingin dan menunjukkan emosi adalah berarti menunjukkan tanda kelemahan. Jika ini membawa lebih ke dalam hubungan, itu menghasilkan bencana. Tak seorang pun ingin menjadi tambahan dalam film hidup anda. Entah mereka mendapatkan peran dibintangi atau mereka pergi. " itulah kenapa pacaran bisa jadi mimpi buruk pengusaha.

Uniknya CEO Bergaji Triliunan El- Erian

Biografi Pengusaha Mohamed A. El- Erian


 
Istilah orang yang terlahir penuh keberuntungan. Dari keluarga mapan terpandang serta juga diberkahi otak cerdas (jenius). Keberuntungan sejak lahir itulah sosok Mohamed A. El- Erian menurut paham kami. Dari Wikipedia.org dijelaskan ayahnya merupakan pejabat di PBB. Dia kelahiran New York, 19 Agustus 1958, tapi melewati masa kanaknya di Mesir. Ketika ayahnya menjabat pada 1968 ikutlah dirinya kembali ke Amerika.

Dia selalu mengikuti jalan ayahnya. Bahkan ketika menjadi Diplomat di Prancis (1971- 73). Cuma datang ke Mesir beberapa kali. Ia lantas ikut pindah hingga menetap di Inggris.

Sosoknya jenius dalam bidang ekonomi. Masih kecil bersekolah di St. John's School, Leatherhead, sebuah sekolah sementaranya, hingga akhirnya bisa masuk ke Queen's Collage, Cambridge. Benar- benar singkat sekali pendidikannya. Ia kemudian mendapatkan gelar honoris Sarjana Ekonomi. Dia kemudian mendapat gelar Master dari Oxford University. Kemudian mendapatkan lagi gelar honor buat Doktoral dari American University in Cairo.

Sukses membawanya mendapatkan jabatan di PBB, yakni di IMF. Dikenal sebagai begawan -nya ekonomi membuatnya masuk daftar pembicara. Dia bahkan masuk daftar A- List di Financial Times. Adalah sebuah koran ekonomi asal Inggris. E- Erian menjadi penulis utama disana. Ia juga editorial di Foreign Policy dan jadi penulisa utama. Tak cukup ulasannya masuk laman situs Bloomberg, Business Insider, The Wall Street Journal, Fortune, The Economist, dll.

Bicara soal karir diluar dari kegiatannya menjadi kolumnis. Paling menonjol apalagi kalau bukan ialah dia menjadi CEO PIMCO. Sebuah perusahaan investasi global bermarkas di Newport Beach, California, yang mana punya 2.000 orang pegawai bekerja di 13 kantor di 12 negara berbeda. Asetnya tak main- main yaitu $2 trilion. Perlu diketahui perusahaan ini merupakan bagian dari Allianz.

Jenius ekonomi


Tahun 2008, dia menulis buku yang jadi best seller dibidang ekonomi, judulnya "When Markets Collide" Itu terdaftar salah satu buku terbaik. Sosoknya juga disebut sebagai orang paling berpengaruh di "500 orang paling berpengaruh di Planet" oleh Foreign Policy tahun 2013. Keahilaanya dibidang ekonomi diakui super mumpuni melalui serangkain jabatan ke- organisasian. Dia pernah bekerja buat IMF khusus Deputy Head of the Middle East.

Namanya berpengaruh besar dalam pertubumbuhan ekonomi di dunia Arab. Dia kemudian bekerja sebagai direktur untuk Solomon Brother bagian pajak. Sebelumnya, ia bekerja untuk IMF, dimana dirinya didapuk menjadi orang penting selama 15 tahun. Sosoknya membuat gebrakan ketika mengumumkan konsep New Normal. Sebuah cara baru melihat ekonomi dan pasar saham dunia. Khususnya bagaimana ia mampu melihat masa depan Eropa.

Ia bahkan meramalkan krisis finansial Eropa sekarang. Itu sudah ada jauh di tahun 2010 -an.

"Investor harusnya menginvestasikan apa yang mereka tau. Kesalahan paling besar adalah sebuah investasi di apa yang mereka tidak ketahui," sebuah kata bijak darinya tentang investasi.

Dia mampu melihat sisi lain sejak krisis global 2008 di Eropa. Bahkan ketika meramalkan hal itu. El- Erian bahkan sempat- sempatnya meminta istrinya. Dia sempat meminta istrinya mengambil uang tunai sebanyak- banyak dari ATM. Dia bahkan mengajukan surat bangkrut Chapter 2011 pada 2011 padahal kejadian yang namanya krisis hutang terjadi di 2015.

"Saya meminta istri saya untuk pergi ke ATM dan mulai menarik uang tunai sebanyak ia bisa," ujarnya.

Ketika sang istri bertanya kenapa, dia berkata ringan, El- Erian tidak tau apakah ada kesempatan buat bank buka ketika krisis hutang (Yunani) datang ke Eropa. Padahal hal itu belum terjadi sama sekali saat itu. Oh, ya, sebagai tambahan dia punya seorang anak perempuan. Ini akan menjadi kisah menarik pada bagian lain dari artikel ini.

Dia bergabung dengan PIMCO tahun 1999. El- Erian digadang- gadang menjadi pengganti sang CEO saat itu Bill Gross. Bahkan digadang bisa melebihinya di aspek bisnis. "Saya terkadang bercanda bahwa dia akan lebih lama dari saya. Saya mengakui itu akan buruk, jika disetiap sisi, Bill tidak disini," ujarnya. Menunjukan bagaimana dekatnya dirinya dengan sang pendiri PIMCO Bill Gross. Dia sempat berhenti dari PIMCO lantas membantu Harvard soal keuangan.

El- Erian juga dikenal sebagai salah satu dosen di Harvard sejak 2006- 2007.

Keluarga lebih penting


Sukses duduk di PIMCO membuatnya bergaji hampir satu triliun. Bayangkan gajinya begitu besar tapi takut akan resesi dunia. Bukan karena dia tak mampu mengatasi. Tapi dia telah melihat lebih jauh dan beberapa orang tak yakin kepadanya. Sosoknya mungkin jenius dibidang ekonomi keuangan namun juga merupakan sosok sayang keluarga pula. Sukses justru memakasanya keluar dari pekerjaan, loh kok bisa?

Rumornya sih dirinya keluar dari jabatannya sekarang CEO. Karena hubungannya memburuk dengan Bill Gross tapi faktanya tidak. Alasannya justru sangatlah manis buat dicermati. Hal ini terjadi karena sebuah waktu ia sedang berdiskusi dengan putrinya. Sebuah pembicaraan santai ketika ia meminta putrinya berumur 10 tahun itu buat menyikat gigi. El- Erian sadar kehilangan 22 momen bersama putrinya ketika mereka asik saling bercanda.

Dia terlalu sibuk bekerja. Kehilangan momen pertaman ialah ketika hari pertama putrinya baru saja masuk sekolah, kemudian pertandingan futbal pertama, juga parade Halloween. Dilansir dari India Times, ia lantas menyebut insiden itu karena pekerjaanya mengharuskan berkeliling dunia. Dia melanjutkan ceritanya. Ketika dirinya menyikat gigi. Putrinya meminta tunggu sebentar beberapa menit jangan tidur dulu. Putrinya kemudian keluar membawa secarik kertas.

"Dia kembali membawa secarik kertas. Ternyata itu adalah sebuah catatan daftar momen dan aktivitas pentingnya yang terlewatkan oleh saya karena komitmen pekerjaan. Mata saya terbuka karenanya," inilah masa sulit baginya.

Sejak kejadian tersebut terjadi ketidak seimbangan dalam hidupnya. El- Erian merasa buruk sekali. Ia jadi sangat defensif. Sadarlah dirinya kehilang satu momen penting. Dia butuh perubahan. Hingga pria bergelar master investasi, berumur 56 tahun, memutuskan menukar jabatannya menjadi pekerja paruh waktu. Dia juga keluar dari pekerjaan menjadi penasehat perusahaan pusat Allianz.

Sosoknya jenius dibidang ekonomi, keuangan, dan investasi. Dan, ternyata juga seorang sayang keluarga, lantas apalagi bisa kita lihat dari biografi ini. Faktanya setelah tidak bekerja dirinya masih "bekerja" menjadi anggota aneka organisasi ekonomi. Dia juga humoris loh. Dia adalah penggemar American Football. Dimana ia merupakan penggemar NY Jets. Lucunya ketika ditanya soal krisis Eropa. Secara "njeplak" berkata ini masalah krisis di Zona Eropa ada hubungan dengan New England Patriots.

Apa itu adalah sebuah tim rugbi asal Inggris. Dimana sebagai penggemar NY Jets sendiri merupakan musuh bebuyut. Dia menggabungkan korelasi antara Inggris di New York. Menggaris luruskan hubungan kedua tim berbeda negara dengan masalah krisis ekonomi. Dia juga pada satu sesi wawancara menyebut. Jikalau kamu mau jadi karyawan PIMCO maka jadilah atlet dibidang ini.

"Pertama, kita mencari atlet terbaik. PIMCO telah sangat baik untuk membawa seseorang dan kemudian menemukan posisi baru bagi mereka di tim, dan kemudian menemukan bahwa mereka unggul. Beberapa orang anda ajak berbicara punya keunggulan di posisi baru. " terangnya kepad wartawan.

Hal lain yakni dari kacamata Business Insider lewat Simmon Foxman. Ia melihat bahaw El- Erian tidak buat soal fashion. Meski sudah sukses seharusnya punya aneka dasi. Anehnya bahwa selama dua bulan El- Erian memakai dasi sama. Yah, ia mengenakan satu dasi bermotif sama atau mungkin dasi yang sama terus- terusan. Selama Wawanacara Bloomberg TV tentang lapangan pekerjaan sejak Februari- Maret 2012; terlihat mengenakan dasi itu- itu saja.

Hampir Bangkrut Karena Menaikan Upah Minimum

Profil Pengusaha Dan Price 



CEO perusahaan satu ini bikin geger seluruh dunia baru- baru ini. Memang namanya tak fimiliar bagi telinga kita. Juga tidak bagi dunia ketika kami amati. Namun, berkat satu langkah nyata, usahanya menanjak tinggi mendapatkan perhatian banyak media masa. Apakah sebuah taktik marketing tertentu. Apalagi masalahnya ia menaikan gaji pegawainya berkali lipat. Ada harga harus dibayarnya buat sekedar "baik hati".

Namanya Dan Price, CEO sebuah perusahaan asal Seattle, Washington DC, membuat geger dengan tiba- tiba menaikan gaji pegawainya. Tak tanggung sampai 93% dimana bersumber dari gaji pokoknya. Dimana perusahaannya Gravity Payment memang dikenal punya performa baik. Ada 120 orang karyawan dimana ia menaikan gaji mereka $70.000 per- tahun atau setara 13 miliar rupiah kala itu. Sebagai catatan sendiri, Gravity Payment, merupakan perusahaan kartu kredit dan pemprosesan keuangan.

Didirikan pada Fabruari 2004 oleh Lucas dan Dan Price sendiri. Berdiri dari kamar asrama Seattle Pacific University berlanjut menghasilkan miliaran rupiah. Dan waktu itu masih berumur 19 tahun loh ketika memulai usahanya. Modal usahanya adalah pengalaman mengatur keuangan sebuah band sekolah, Starightforward. Sukses dari sinilah Gravity Payment punya modal, di Juni 2008, merupakan perusahaan kredit nomor 1 di Washington, melayani total lebih dari 12.000 klien di penjuru negara.

Pada Juni 2010, sosok Dan mendapatkan penghargaan dari Presiden Barack Obama, dirinya mendapatkan penghargaan Small Business Administration untuk National Young Entrepreneur of the Year.

Memilih beda


Menurut sumber Wikipedia perusahaanya memang tak mengenal sistem gaji standar. Tahun 2013 lalu memilih untuk menaikan gaji 2% buat karyawan bergaji dibawah $100.000. Padahal Kongres memutuskan bahwa akan ada kenaikan pajak atas gaji karyawan. Menarik karena seharusnya karyawan miliknya kehilang 2% dari apa yang gaji mereka bayarkan.

Gravity Payments sendiri menghasilkan $100 juta dari kostumernya dan cukup percaya diri akan ekonomi Amerika. Apakah alasan menaikan gaji sampai miliaran per- tahun kali ini. Dalam artikel disebutkan bahwa ia tidak peduli soal uang. Dia ingin mensejahterakan mereka. Ketika dirinya memotong gajinya di tahun 2015 ini menjadi pengalaman luar biasa katanya. Ia merasakan uang menggerogoti hidupnya. Di Amerika Serikat sendiri ada kesenjangan gaji yang sangat tinggi antara atasan dan bawahan.

"Mengetahui ada yang hidup seperti itu menggerogoti saya dari dalam," imbuh Dan, menyatakan apa yang dia lakukan murni adalah rasa kasihan.

Riset yang didukung oleh badan Standard & Poor's, dimana level presiden dibayar 354 kali lipat di atas karyawan paling junior. Langkahnya menimbulkan kehebohan karena baru sekarang ada eksekutif mau untuk dibayar murah. Sekedar informasi lagi nih Washington punya UMR terbesar seantero Amerika, dimana kamu akan dibayar $9,47 per- jam.

Dan sendiri merupakan pemilik saham terbanyak perusahaan. "Kita peduli akan investor dan kita tak begitu juga peduli jika tentang karyawan," tegas Dan.

Ia menambahkan melihat nasib karyawannya itulah mengingatkan dirinya masa dimana dia memulai dulu. Dan mengingin karyawannya mendapatkan liburan penuh. Bennet (28 tahun) salah satu karyawannya mengaku senang sekali. Selama bekerja bersama Gravity Payments dirinya mendapatkan $43 ribu atau setara Rp.55,8 juta per- tahun. Kini, gajinya bertambah drastis $10 ribu atau Rp.130 juta per- bulan, atau setara $53 ribu per- tahun.

Nasib sial


Dan Price merupakan salah satu contoh atasan mulia. Sayangnya, beribu sayang, fakta kinerja perusahaan tak mendukung ini. Sejak memotong gajinya sendiri dan menaikan gaji karyawannya. Tau kah kamu nasib dari bos perusahaan besar ini. Menurut The New York Time, ia "dipaksa" bekerja lebih keras, dan haruslah hidup jauh dari rasanya menjadi bos. Ia bahkan dipaksa menyewakan rumahnya.

"Saya bekerja sangat keras seperti saya mencoba bekerja agar itu (rencananya) bekerja," ujarnya.

Mencoba memenuhi kebutuhan lain melalui menyewakan rumah. Ketika menaikan upah minimun diatas itu bukannya pekerja bekerja lebih giat; ia kehilangan dua pekerja utamanya. Semua karena ketika mereka itu mulai merasa gaji mereka "kecil". Dibanding mereka yang baru saja bekerja. Mereka yang telah bekerja lama merasa "dibedakan" atau disama- samakan dengan karyawan baru. Mereka itu adalah karyawan lama eksekutif perusahaan.

Salahnya adalah faktanya, Dan Price, memerintahkan kepada manajer finansialnya, Maisey McMaster, buat menaikan gaji mereka yang kurang skill dan bepengalaman. Tujuan awalnya mungkin agar mereka pekerja baru lebih bersemangat. Sayangnya lagi mereka yang gajinya bertambah tak optimal bekerja. Perusahaan itu akhirnya kehilangan pula beberapa pelanggan. Mereka mulai melihat ada kesalahan dalam manajemen uang perusahaan.

Maisey McMaster sendiri merupakan salah satu yang keluar. Yang lainnya adalah sosok Grant Morgan, 29 tahun, alasanya simple saja, "sekarang orang- orang yang cuma santai didalam dan luar menghasilkan gaji sama dengan saya." Terus bagaimana dengan pelanggan layanan yang kabur. Ada masalah kepercayaan soal mereka. Bayangkan beritanya begitu masif di media masa menakutkan. Mereka khawatir harus membayar lebih banyak.

Mereka khawatir harus membayari kenaikan gaji karyawan Gravity Payments. Meskipun ada pelanggan baru sayangnya, katanya, tak akan bisa menutupi pengeluaran tahun depan. Disisi lain kisah ini, pendiri lain dari perusahaan, Lucas yang punya 30 persen saham mengadukan tuntutan hukum. Dua minggu saja sejak kenaikan gaji gila- gilaan tersebut. Tuntutannya karena melalaikan pemegang saham minoritas. Dan itu telah mengambil kebijakan sepihak.

Ya, Dan Price bergaji $1 juta per- tahun, sekarang tak cuma kehilangan banyak gajinya. Akhirnya justru membuat karyawannya kabur karena gajinya naik.

Semua karena pengaturan kenaikan gaji sangat berantakan. Kenaikan gaji itu dibuat berlaku penuh semua karyawan baik lama ataupun baru. Alasannya membangun ekonomi berkeadilan gaji. Namun muncul efeknya negatif bagi karyawan lama mereka. Disisi lain, pelanggan khawatir atas langkahnya, hingga di Agustus 2015 ini kehilangan banyak pendapatan dari pelanggan, kemudian disusul patnernya sekaligus saudaranya, Lucas, menuntutnya karena tak sepaham.

Anak 15 Tahun Dihukum Karena Jualan di Sekolah

Profil Pengusaha Tommie Rose



Sejak kapan menjadi entrepreneur diajarkan. Kapan anak- anak baiknya diajarkan tentang entrepreneurship itu sendiri. Di era sekarang, waktu yang tepat adalah sedini mungkin, mungkin ada beberapa orang tua bilang jadi pengusaha itu bakat. Tidak juga lah demikian. Sebut saja seorang Warren Buffett semenjak kecil ia telah diajarkan hitung- hitungan ekonomi. Ya, semua karena ayahnya adalah seorang broker saham ternamaan, apalagi yang bisa diajarkan.

Ada istilahnya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sama halnya padi makin berisi akan makin menunduk. Dan, pada akhirnya akan anak kamu raih sebagai sumber kehidupan. Tidak ada istilah terlambat tapi lebih cepat lebih baik. Tidak perlu spesifik belajar tentang apa itu kapitalisme. Akan tetapi ajarkanlah bahwa anak kamu harus bekerja keras buat mendapatkan sesuatu.

"Tidak ada kebanggaan dalam kemudahan," sebuah pepatah.

Entrepreneur dunia mengajarkan kita bagaimana mereka memulai. Mereka adalah contoh kapan layaknya anak mendapatkan pelajarannya. Contoh kecilnya dari Forbes: Andrew Carneige, sejak umur 13 tahun, sudah asik mengolah benang di tempat penenunan kapas; Jack Welch, umur sama, mulai menjual koran dan bekerja sebagai kady; kemudian paling legendaris, sosok Warren Buffett, diumur segitu sudah menjual aneka permen karet, soda, dan majalah.

Ketika kamu telah mengajarkan makna menjadi pengusaha. How to be entrepreneur kepada anak kamu nantinya. Nah, kamu akan menghadapi masalah, ketika lingkungan lain di luar keluarga tak mendukung usaha anak kamu. Sebut saja kisah pengusaha cilik berikut bernama Tommie Rose asal Salford UK. Dia sudahlah mendapatkan pendidikan cukup soal kewirausahaan. Entrepreneurship merupakan panggilan hatinya, akan tetapi sayangnya, sekolah tak mendukung!

Jualan diam- diam


Umur 15 tahunm, tengah dipuncak menikmati apa itu entrepreneurship, meski baru sekedar hobi tapi sudah cukup menghasilkan dollar. Dia menurut laporan Mirror.co.uk menghasilkan $22.000. Cuma bermodal jualan jajanan di sekolahnya. Sayangnya, ada aturan melarang berjualan di sekolah jadilah jualannya ini diam- diam saja. Dia menjual jajanan dan minuman bersoda. Bahkan mampu mengaplikasikan marketing modern yakni dibantu temannya.

Modalnya $100 uang saku harian. Kemudian dia membayar $9 buat dua temannya. Tujuannya adalah agar lebih banyak menjual. Tiga sekawan memulai bisnisnya sendiri. Karena rajin berjualan jadilah ada diskon dan kemudahan dari pihak toko langganannya. Di Inggris, ada aturan ketat tentang berjualan apalagi yang dijual adalah jajanan dan soda (junk food). Hingga Tommie akhirnya mendapatkan suspensi 10 hari di sekolahnya. Hingga pindah ke sekolah baru hukuman sama telah menanti.

Tommie mengaku buat apa uangnya. Maka ia menjelaskan bahwa uangnya akan digunakan buat kuliah. Yah, inilah yang diajarkan oleh orang tuanya tentang nilai uang. Bukan pentingnya kita mempunyai uang. Ia bahkan cukup ambisius bertekat masuk Oxford atau Cambridge -pengusaha cilik ini tak berhenti. Semuanya karena adanya "larangan" berjualan makanan tak sehat. Sayangnya orang tuanya tak mengajarkan bagaimana untuk beradaptasi.

Pengusaha harus punya attitude selain menghormati uang. Ajarkan bahwa konsumen adalah raja berarti anak harus tau bagaimana berjualan sehat. Jujur- amanah itulah ajaran Nabi Muhammad jikalau berbicara apa itu entrepreneurship bukan sekedar paham nilai uang; kamu harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Tidak ada yang mudah termasuk soal pengajaran kewirausahaan. Tommie sendiri didakwa menjual produk ilegal tak sesuai aturan.

Jiwa entrepreneurshipnya atau kewirausahaanya tak sejalan. Benar memang konsepnya tapi salah dalam hal eksekusi idenya. Disisi lain ada pengusaha cilik tengah merintis karir. Disisi lain adanya aturan di sekolah agar tidak semua anak bisa berjualan tanpa pedulia kesehatan. Menurut juri acara Dragon's Den semacam acara Shark Tank atau Berani Jadi Miliarder menyebut bahwa nila entrepreneurship sudah ada di dalam dirinya. Tidak perlu berdebat atas apa yang dilakukannya.

Ini memang tentang cara pandang. Cara bagaimana kita mengajarkan dan memilih sekolah. Mungkin kasus di atas tak terjadi di Indonesia. Karena sekolah di Indonesia, umumnya, tidak memiliki aturan spesifik tentang berjualan di sekolah. Ini merupakan kesempatan buat kamu orang tua. Ajarkanlah nilai uang sejak dini agar anak tau hidup mandiri. Akan tetapi ada riskan karena berarti anak bisa berjualan apa saja; contohnya jualan petasan?

So, jangan ragu juga, ajarkannlah bagaimana berjualan sehat, menghormati pembeli, bersikap amanah dan juga jujur berbisnis. Termasuk jujur kepada orang tuanya bahwa mereka tengah berbisnis. Jangan biarkan anak kamu manja tapi juga jangan biarkan anak kamu jadi penyelundup (pedagang gelap).

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba