Penulis Pengusaha Keripik Singkong Gadung

Profil Pengusaha Siti Maria Ghozali 


penulispengusaha.png

Penulis pengusaha keripik singkong gadung. Penulis bernama Siti Maria Ghozali tidak familiar di telinga. Atau, kamu akan lebih kenal nama penanya Maria Bo Niok. Meski kamu tidak mengenalnya, penulis meyakinkan dia adalah sosok wanita hebat. 
 
Dia dikenal oleh kalangan aktifis sebagai wanita vokal. Khususnya menyuarakan hak buruh migran wanita di Hong Kong. Wanita berumur 40 tahun, seorang novelis, hal lain adalah dia seorang pengusaha wanita asal Wonosobo.
 

Menjadi Penulis dan Pengusaha


Mari telah menulis sejak 2002, ketika dia tinggal di Hong Kong. Seorang teman mailist menyadarkan dirinya menulis merupakan bakatnya. Sosok teman itu selalu mendukung, menyemangati, bahkan seolah menjadi guru jarak jauh Mari. 
 
Hasilnya ia telah menulis tidak kurang dari 20 judul cerita pendek. Dan kebanyakan dipublikasikan oleh tiga majalah Indonesia yang diterbitkan di Hong Kong.

Tiga majalah yang dikhususkan untuk buruh migran, seperti Intermezo, Berita Indonesia, dan Rose Mawar. Kebanyakan ceritanya tidak jauh dari pengalaman pribadi. A Ne Ge , contohnya, merupakan cerita pendek tentang kehidupan buruh migran Hong Kong. 
 
Utamanya bagaimana kesulitannya mereka berkomunikasi satu sama lain.

"Mereka menggunakan tiga kata A, Ne, Ge yang menjelaskan 1001 kosa kata dengan pekerja migran," tuturnya.

Karya lainnya meliputi Embun Pagi di Hong Kong (A Morning Dew in Hong Kong), Desah Keluh Pejuang Devisa (Grievance by Foreign Exchange Fighters), Batik, dan Kelobot Tembakau Kasih (Love of Klobot Cigarette).

Sekembalinya ke Indonesia, Maria memutuskan tidak kembali ke Hong Kong. Tepatnya waktu itu, tahun 2004, dia kembali ke kampunya di desa Pasunten, Lipursari, Wonosobo Jawa Tengah. Disana pula ia bisa menemukan cara lain untuk hidup. 
 
"Saya tidak mau jauh dari anak- anak saya lagi," jelasnya kepada pewarta the Jakarta Post. Ibu enam anak ini memiliki jiwa entrepreneurship. Inilah yang coba dituangkannya selepas di Indonesia.
 
Lahir dari keluarga sederhana pasangan Siti Ngaisah dan Muhammad Ghozali, Maria membuktikan dirinya merupakan sosok tangguh. Dia menjalankan bisnis kecil- kecilan di 2004 yakni sebuah wartel. Dia juga jadi guru bahasa Kanton di sekolah lokal. 
 
Untuk tambahan dia (saat menjadi migran) juga pernah belajar Kanton di Abraham Collage di Hong Kong. Dia masih sempat menulis novel Ranting Sakura Dalam Bingkai Abstrak. Sambil menunggu kembalinya ke perusahaan penerbit. 
 
"Saya selesai menulis dalam sembilan bulan tetapi ide telah ada selama empat tahun. Beberapa cerita dalam novel berdasarkan pengalaman saya sendiri. Beberapa yang lain dari teman-teman saya," kata Maria.

Pengusaha Keripik Singkong Gadung

 
Umur 12 tahun, Maria pergi dari rumah kedua orang tuanya, ke Bandung bekerja menjadi pembantu. "Saya harus pergi dari rumah karena saya harus bekerja, bekerja, dan bekerja. Tidak ada waktu buat saya bermain," pungkasnya. 
 
Tetapi kemudian ketika diperjalanan, hidup merantau jauh dari orang tua justru malah membuatnya kesepian. Dia dibayar kecil dari pekerjaanya di Bantung. Selepas dua bulan malah pulang ke rumah.

Sekembalinya, ia bersekolah kembali hingga lulus sekolah menengah atas. Dia lantas dinikahkan diumur 17 tahun. Untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan sehari- hari yang bisa dilakukan adalah menjual burung di pasar. 
 
Suatu hari pasar tradisional Wonosobo tersebut terbakar habis -membawa semua barang dagangan. Api besar menghanguskan segala modal Maria. Tetapi yang terberat adalah ketika itu membuatnya harus bercerai.

Tidak cuma bercerai tetapi ia (sang suami) meninggalkan hutang menumpuk.

Itulah Maria memilih menjadi buruh migran di negara orang. Dia meninggalkan anaknya kepada keluarga. Ia mempunya lima orang anak. Dimana yang termuda masih bayi empat bulan, dimana Maria meminta bantuan seorang babysitter untuk menjaganya di Jakarta. 
 
Pergi jauh dari orang tuanya membuatnya menjadi sedih, bosan, dan kesepian. Menulis merupakan bentuk penyaluran luapan tersebut.

Hingga, suatu hari di 2002, dia bertemu sosok Stevi Yean Marie, seorang penulis puisi asal Yogyakarta. Dimana semenjak itu ia menjadi guru Maria Bo Niok secara online.

"Dia adalah orang yang menemukan bakat menulis saya. Dia selalu berani mengoreksi saya ketika saya membuat kesalahan," kata Maria.
 
Setahun sudah Maria mendapatkan pelatihan wirausaha. Pelatihan bagaimana merubah ketela menjadi kripik gadung di Balai Latihan Kerja, Wonosobo. Usaha yang didasari bahwa ketela memang banyak di daerah itu. Maria sendiri langsung mempraktikan pelatihan tersebut. 
 
Prosesnya memang cukup rumit tetapi akhirnya ia bisa. Ia lantas memberi nama usahanya UD Mari. Dia menjadi penulis pengusaha. Keripik ketela rasa gadung lantas dikemas dengan merek. Warga desa Lipursari ini lantas menitipkan produk tersebut menjadi oleh- oleh khas. 

"Banyak toko mau menerima keripik buatan saya," ujarnya bangga. Kian lama usahanya semakin berkembang. Bahkan keripik gadung Mari sudah tersedia di toko oleh- oleh dan juga supermarket. Ia tak sanggup lagi mengerjakan sendiri. Usaha keripik tersebut lantas dibantu 4 orang karyawan.

"Bahan bakunya gampang dicari, kok. Di sekitar desa saya banyak ketela," celetuknya. Jikalau kurang pun, ia bisa membeli dari desa lain. Perbulan usaha UD Mari memproduksi satu ton ketela. Usahanya ternyata bisa menjadi rezeki buat warga sekitar. 
 
Pasalnya dia mengajak warga memasok bahan ketela siap masak. Yaitu ketela yang sudah dikupas, dirajang, dan dibersihkan, ia bahkan berani membeli seharga Rp.1.500 per kilo. Harga normal ketela di daerahnya Rp.200 per- kilo. Maria memberikan nilai lebih bagi petani di kampunya. 
 
Alhasil usahanya terus tumbuh sebagai jawaban kebaikan hati Maria. Harga jual dari keripik rasa gadung adalah Rp.45 ribu. Memang relatif mahal diakuinya dibanding produksi rumahan lain. Ia meyakinkan produk UD Maria benar- benar berkualitas. 
 
Mereka sendiri tidak saling bersaing karena sudah punya pelanggan. Meski sederhana Maria senang usahanya berjalan. Dia bahkan sudah siap berjualan lewat Facebook. Lewat nama Mari Singkong Rasa Gadung. Disela- sela berbisnis sendiri Maria masih aktif menulis. 
 
Selain itu ia juga aktif mengajar anak- anak di kampung. Ia mendirikan Rumah Rumbia, sebuah taman bacaan yang gratis buat anak- anak sekitar. Dia sendiri dibantu kawan- kawan soal pengedaan buku.

Juragan Bawang Goreng Bisnis Bapeda

Profil Pengusaha Dewi Rahmaniati 

 
bisnisbawang.png
 
Bisnis bawang goreng menjanjikan dicoba. Sebut juragan bawang goreng satu ini bermula kegemaran makan suami. Ibu Dewi Rahmaniati, pernah membawakan bawang goreng untuk suaminya. Ia lantas mecoba meniru cara membuatnya. 
 
Hasilnya, bukan cuma enak, tetapi jauh lebih enak dan diakui oleh sang suami langsung. Tak terburu- buru ditawarkan bawang goreng tersebut ke keluarga. Lagi- lagi respon positif diterima oleh Dewi, jadilah awal mula bisnis bawang goreng Bapeda.
 

Juragan Bawang Goreng


Teman- teman datang juga berpendapat sama. Mereka bahkan tertarik memesan ke Dewi. Hingga ia lantas memutuskan menjual bawang goreng racikan tersebut. Produk bernama Bapeda bukan Papeda. Artinya itu kepanjangan dari Bawang Goreng Pedas Bunda. 
 
Panggilan Bunda merujuk kepada panggilan sang anak pertamanya. "Biar berbeda dengan panggilan ibu lainnya," ujarnya.

Dengan variasi rasa menggoda membuat Bapeda bukan bawang goreng biasa. Ada rasa teri, pedas, original teri dan orginal bawang. "Permintaanya dalam jumlah sedikit," ujar Dewi. Namun, itu tidak membuatnya jadi patah arah. 
 
Bahkan Dewi menyanggupi Bapeda rasa teri Medan spesial. Itu semua untuk menyenangkan satu pelanggan saja.

Di Agustus 2011, bisnisnya mulai berkembang dari 1kg, 2kg, hingga maksimal memproduksi 5kg.

Jujur kualitas bawang yang dihasilkan Dewi masih rendah. Menurutnya masih berminyak dan terkadang ada rasa pahit. Pada awalnya, ia pun menggunakan bungkus plastik biasa, kesemuanya merupakan proses yang berjalan. 
 
Hingga permintaan semakin banyak menumbuhkan asa. Sekali produksi, kala itu, ia mengaku sudah menghasilkan 2kg atau omzet Rp.600.000. Ia bertekat memperbaiki kualitas produknya. Sang ibu mertua sempat merasa tidak nyaman dengan kegiatan baru tersebut. 
 
Alih- alih meminta Dewi berhenti, sang mertua malah memberikan solusi berupa alat pengiris bawang. Dia juga membangunkan dapur sendiri. Tiga bulan kemudian, Dewi membeli alat penyaring, hingga hasil bawangnya tidak terlalu berminyak. Dewi juga mengganti kemasan dengan toples. 
 
Serta memulai menjual Bapeda nya melalui Facebook. Sukses Dewi didukung kerabat dan saudaranya. Ia juga dibantu oleh sang suami, yang kebetulan merupakan Ketua Suzuki Jeep Indonesia (SJI) wilayah Bandung, yang kerap aktif mempromosikan Bapeda ke komunitasnya. 
 
Teman- teman sang suami menyambut baik dan mengajak istri mereka menjadi reseller.

"Paling banyak Jakarta 30 orang," pungkasnya.

Makanan unik satu ini sudah mempunyai 50 reseller yang tersebar di Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, Batam, Palembang, dan Sumatra Utara. Bahkan sudah merambah jauh lewat tangan teman- temanya sampai ke Malaysia, Singapura, Dubai, Kuwait, dan California. 
 
Di Malaysia sendiri, ia punya kerabat sekaligus pelanggan tetap. Ia setiap sebulan sekali membeli 100 toples. "Teman- teman saya suka ternyata," paparnya.

Untuk musim lebaran permintaan bisa melonjak sampai 1.200 toples. Kemasan rapi serta terdapat hiasan pita membuat Bapeda menarik dijadikan parsel. Ia lantas berpromosi bahwa Bapeda cocok jadi pelengkap kupat sayur dan opor. 
 
Ketika musim Haji, Bunda akan berpromosi bahwa Bapeda bisa menjadi bekal kamu ke tanah suci.

"Terkadang reseller tidak kepikiran," jelas Dewi. Meski terkesan mulus dan tanpa hambatan ketika memulai usaha; faktanya tidak demikian. Dia bercerita pernah suatu ketika alat pemotongnya rusak. Ia pun langsung ke Maxindo buat reperasi. 
 
Sayangnya, itu membutuhkan waktu lama, padahal Dewi sudah ditunggu banyak pelanggan. Dalam ingatannya lagi waktu begitu sempit, ditambah jasa pengiriman akan tutup H-1 minggu.

"Kalau mau nangis, saya mungkin nangis darah," kenang Dewi. Disaat mendesak muncul sosok yang juga seorang pengusaha. Ia pemilik usaha nasi liwet instan. Dengan senang hati, ia menawarkan pinjaman Dewi alat pemotong bawang miliknya. 
 
Dia bahkan mau mengantarkan langsung ke tempat. "Ini benar- benar jalan dari Tuhan," kenangnya haru.

Alat tersebut disebutnya lebih bagus ketimbang mesin. Jika mesinya menghasilkan 20 toples maka pakai alat potong ini bisa 25 toples. Alat tersebut lantas menjadi andalan Dewi menghadapi permintaan pelanggan. 
 
Kekurangan dibanding mesin, ya apalagi kalau bukan pedih dimata, karena tidak ada penutup maka aroma bawang menyebar. Untuk kedepan, harapanya menambah mesin lagi, itupun kalau permintaan nambah.

"Biar jadi 'Juragan Bawang Goreng' sebenarnya," candanya. Dewi sendiri memang dikenal kalangan teman- teman sebagai Juragan Bawang Goreng.

Membuat Kaos Pengusaha Muslim Modal 3 Juta

Profil Pengusaha Sukses Warsandi


pengusahamuslim.png
  
Pengusaha muslim modal 3 juta sukses menghadapi pandemi.  Pemuda 23 tahun yang telah memulai usaha semenjak dini. Sejak kecil merupakan keharusan baginya agar bekerja keras. Ia sempat tidak melanjutkan sekolah. 
 
Tetapi dia tidak menyerah, malah pemuda bernama Warsandi ini makin gila bekerja saja. Akhirnya, Warsandi sukses di pendidikan, menjadi Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga.
 

Pengusaha Muslim


Perjalanan Warsandi memang terbilang unik. Ayahnya adalah tukang becak sedangkan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa di Kaliurang. Semenjak kecil, Sandi bekerja mandiri mengumpulkan biaya sekolah sendiri. 
 
Keinginan tetap sekolah membuatnya tetap bertahan. Ia memang sempat berhenti satu tahun lebih ketika lulus sekolah dasar (SD) mau ke menengah pertama (SMP). 

Selepas cukup biaya, ia melanjutkan sekolah menengah atas sendiri (SMA), kemudian berhenti sejenak dan masuk perguruan tinggi.

"Lelaki sejati datangi ayahnya, bukan putrinya," seloroh Andi menunjukan bisnisnya sekarang. Sebuah kata- kata unik yang terlahir dari pengamatan dan pengalaman hidup.

Andi langsung hijarah ke Jogja ketika lulus SMP. Masuk ke SMK, semua biaya merupakan hasil kerja, salah satunya bekerja menjadi pembersih kuburan. Ia harus berpisah dengan kedua orang tua dan tinggal di sebuah panti asuhan.  Disana dirinya bekerja agar bisa menopang biaya sekolah. 
 
Pemuda asli Karawang, Jawa Barat ini, lantas menatap hidupnya dalam kewirausahaan.. Aneka usaha telah dijalani seorang Warsandi. Pertama kali berjualan buah- buahan, jualan gorengan keliling, berdagang asongan, kerja di penggilingan kopi, dan juga membersihkan kuburan. 
 
Untuk soal membersihkan kuburan ternyata dilakoninya pas tamat SDN 03 Rengasdengklok, Karawang, dan juga lagi selepas lulus dari SMP Terbuka 1 Rengasdengklok. Ketika kuliah lantas Warsandi berjualan sendiri. Modal Rp.50.000 disulapnya menjadi bisnis jual Snackdes. 
 
Atau, lebih jelasnya jualan panganan ringan asal desa yang di kampusnya menjadi favorit. Ketika sore telah tiba, Sandi berangkat ke Kaliurang membeli aneka snack, yang kemudan dijualnya kembali. Usaha satu ini berjalan sejak masih siang hingga larut malam.

Untuk malamnya, ia gunakan sebaik- baiknya mengerjakan tugas kuliah. Kemudian ia kembali ke makanan desa itu. Dibungkusinya satu per- satu untuk dijualkan besok. Tidak jarang Sandi bekerja larut sampai pukul 02:00 WIB dini hari.
 

Aneka Usaha


"Lumayan, dari asalnya hanya berjualan snack seharga Rp3.000 per bungkus hingga pernah menjual snack yang seharga Rp10.000 per- bungkus," papar Sandi.

Untung berjualan aneka jajanan desa itu sampai Rp.100.000 per- hari. Sedikit- demi sedikit usaha jualan itu berhasil bahkan bisa mengirimi kedua orang tua. Tetapi usaha itu tidak memuasakannya, sejak 2012, usaha lain sudah digenjotnya sebagai usaha utama. 
 
Matanya tertuju kepada tren usaha clothing di Indonesia sendiri. Dia lantas membuka usaha clothing bernama Naidu Positive. Bermodal awal Rp.3 jutaan sudah bisa berjualan. Ia terus kembangkan sampai menghasilkan omzet Rp12 juta per- bulan. 
 
Sandi mengaku tidak punya pengetahuan sama sekali soal clothing. Semua dijalankan sambil berjalan dan belajar dari berbagai sumber. Salah satunya ya ia pernah mengikuti seminar wirausaha mandiri.

"Selain dapat uang saku, saya juga dapet coaching, pemahaman soal visi- misi, pelatihan marketing, dan membuat laporan keuangan," aku Sandi.

Usaha clothing memang baru bagi pemuda kelahiran 1991 ini. Kios sederhana, namun rapih tertata, ukuran 3 m x 3,5 m memamerkan aneka kaus buatan sendiri. Di ruangan tersebut lah, Sandi melayani sendiri pembeli yang berkunjung. 
 
Namun, ia menjelaskan, usahanya lebih banyak menerima pesanan via online. Tidak kurang ratusan kaus diproduksi dan dipesan lewat internet sampai 1.000 -an.

Keuntungan menjadi pengusaha muda?

Ia sudah bisa meminang gadi impiannya awal tahun 2015. Dia juga mendapatkan pengakuan masyarakat luas lewat ajang Wirausaha Baru Bank Indonesia 2012. Andi juga bisa bersekolah kembali berkat beasiswa Uno Foundation (MRUF) periode 2013- 2014. 
 
Meski sibuk, ia tetap melanjutkan kuliahnya dan tengah mengerjakan skripsi.

"Pintar- pinta membagi waktu saja," katanya.

Selain itu berkat kerja kerasnya, Sandi sudah punya satu unit rumah di Kaliurang. Rumah yang rencananya akan ditinggali ayah dan ibunya, adik- adiknya, dan istrinya. Visi besar Warsandi pun akan tetap diuji dalam hal berwirausaha ini. 
 
"...impian saya mendirikan usaha tingkat internasional," lanjutnya. "Tapi saya mencoba dari hal- hal kecil dan lokal seperti usaha clothing dulu," tutup Sandi.

Bakmi Naga Kembangan Bisnis Waralaba 30 Tahun

Profil Pengusaha Susanty Widjaya 


bakminaga.png
 
Kembangkan bisnis waralaba membuat usaha 30 tahun bertahan. Dia adalah pengusaha wanita, yang melanjutkan bisnis warisan. Banyak pengusaha enggan melanjutkan memilih usaha. Tetapi beberapa orang berhasil bisa bangkit dari keterpurukan berkat keluarga. 
 
Lewat ketekunan dan cinta akan keluarga, Susanty Widjaya mencoba kembali lewat Bakmi Naga. Dia mencoba bangkit dari keterpurukan.
 

Bisnis Keluarga


Bakmi Naga merupakan usaha mie yang telah bertahan 36 tahun lamanya. Berdiri sejak 1979, didirikan oleh generai pertama yaitu Ny. Liong. Menjaga kualitas menjadi andalan produk ini tetap bertahan. "Dari nenek moyang saya rasanya tidak berubah," papar Susan.

"Keunggulan bakminya tidak mengandung air abu." Lantaran memang usaha ini mengandalkan bakmi buatan sendiri. Cita rasanya tidak sama dibanding mie lain. Ia menambahkan air abu berkaitan dengan penyakit mag. 
 
Karena kalau mengandung air abu, Susan menjelaskan, ini akan menyebabkan kembung dan kumat lah si penyakit mag tersebut. Kualitas terjaga mampu menghantarkan Bakmi Naga menjadi brand kuat. Ditambah melalui sistem franchise selepas 30 tahun; tidak terbendung lah pamornya. 
 
Bakmi Naga tercatat memiliki 59 outlet berbeda mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Ternate sejak 2010. Menurut catatan Susan rata- rata outlet barunya bisa menghasilkan Rp.5 juta per- hari, dimana untungnya 25 persen.

Bakmi Naga sendiri merupakan brand lama tangguh. Dimulai dari menjajakan lewat gerobak, kini masuk ke restoran dan diwaralabakan. Mungkin bukan dari nol ketika Susan mencoba masuk ke Bakmi Naga. 
 
Tetapi dia telah melewati masa kegalauan dalam hidupnya. Memilih antara menjadi pengusaha atau pegawai di satu perusahaan mapan.

Alasan keluarga menjadi sangat begitu penting bagi kehidupan Susan. Ketika nama Bakmi Naga telah begitu populer, ia kembangkan skema bisnis franchise. Usaha yang dimulai dari grobak tahun 1980 -an ini, telah sukses menjelma menjamur di mal- mal. 
 
Dia memang patut bersyukur usaha ini merupakan usaha keluarga. Kalau bukan dukungan anak, suami, dan keluarga, siapa lagi yang mengangkatnya menjadi seperti sekarang.

"Mereka memberikan pelajaran tentang hidup dan bisnis kepada saya. Jika mereka bisa, kenapa saya tidak," tuturnya.

Filosofi "never give up" dijadikan modal bangkit dari keterpurukan. Pantang menyerah dalam melewati segala keterpurukan. Dia adalah seorang ibu rumah tangga. Seorang pengusaha sukses, tetapi masih tetap menjadi istri yang baik. 
 
Semua itu dilewati karena dukungan keluarga dibelakangnya. Wajah usaha Bakmi Naga pun mulai bertransformasi menjadi PT. Naga Jaya Sejahtera Indonesia. Usaha Bakim Naga sendiri menyediakan tiga investasi: restoran, food court, dan gerobak. 
 
Untuk model dari restoran sendiri menyediakan investasi Rp.500 juta. Tipe food court sendiri dan gerobak masing- masing itu nilai investasinya Rp.250 juta dan Rp.55 juta. Biaya waralaba sendiri Rp.150 juta dan berlaku salama lima tahun. 
 
Bakmi Naga mengutip royalti Rp.6 juta dan biaya pemasaran Rp.2,5 juta. Perkiraan penjualan menurut Susan adalah 250 mangkok per- hari. Pemegang franchise diperkirakan balik modal selama 14 bulan.

Alamat Bakmi Naga

Jl. Janur Kuning VI Blok WL 2 No. 1B
Kelapa Gading, Jakarta
Telp. 021-45789688
021-96500688

Pengusaha Penyamakan Kulit Miliaran Rupiah

Profil Pengusaha Muchammad Yusuf Tojiri


pengusahakulit.png
 
Dia merupakan inspirasi pengusaha penyamakan kulit. Beromzet miliaran rupiah dia mensuport bahan baku dan turunannya, seperti tas kulit, sepatu, dan aksesoris lainnya. Jumlah usaha penyamakan kulit sendiri di Kabupaten Garut mencapai 400 usaha. 
 
Sayangnya, beda dengan industri turunannya, usaha penyamakan kulit biasanya masih level rumahan. Tidak ada perkembangan berarti dikehidupan mereka pula.
 

Pengusaha Kulit


Sejak tahun 1992, sosok Muchammad Yusuf Tojiri mencoba merubah paradikma usaha penyamakan kulit. Seorang sarjana ilmu agama yang diplot ibunya menjadi guru. Bukannya menjadi guru saja, pria 46 tahun ini malah memilih banting stir menjadi pengusaha penyamakan kulit. 
 
Alasannya karena merasa terpanggil fakta usaha penyamakan kulit keluarga tidak berkembang.

"Bisnis penyamakan kulit sangat menjanjikan. Besarnya permintaan selalu dua kali lipat dari kemampuan kita berproduksi," terangnya.

Keluarganya memang punya usaha penyamakan kulit turun- menurun. Tetapi tidak bisa mengaplikasikan apa itu manajemen perusahaan. Yusuf sendiri bukanlah seorang sarjana ilmu bisnis. Tetapi dirinya punya konsep, inovasi, dan kemauan untuk selalu belajar.

Untuk menaikan kemampuan usaha kecil keluarga, Yusuf rela merogoh kocek sendiri. Dia mengambil uang dari beasiswa Supersemar 23 tahun lalu. Modal Rp.600.000 tersebut lantas digunakan sebagai modal awal dari nol. 
 
Usaha yang dijalankan sambil tetap berkuliah di UIN Bandung. Uang receh yang ia gunakan untuk membeli 60 lembar kulit.

"Kemudian saya samak kulit itu dan dijual. Ternyata untungnya lumayan," kenang Yusuf.

Ia sendiri tidak langsung menikmati hasil jerih payahnya. Uang hasil jualan langsung diputar kembali sebagai modal awal. Bertahap dari keuntungan membuat jumlah kulit meningkat. Kulit yang disamak oleh Yusuf mulai mengikuti jumlah permintaan pasar. 
 
Pada 2006, ia sukses membeli tanah di Sukaregang, tujuannya adalah membuat pabrik penyamakan kulit. Sistem memutarkan keuntungan terus dilakoninya. Sedikit- demi sedikit namun pasti usahanya menyentuh level tertinggi. 
 
Yusuf mulai membeli mesin penyamakan kulit. Dibantu modal dan konsultasi oleh PT Sarana Jabar Venture, impian seorang Yusuf tentang usaha berkelas mulai tercapai. Akhirnya, berkat kerja keras tak kenal berhenti, usaha Endies Leather Company bernilai aset Rp.28 miliar dan beromzet Rp.800 juta.
 

Merintis Usaha Penyamakan Kulit


Yusuf memulai dari mengamati tantangan terbesar dari usaha milik keluarga. Ia pun mulai mengikuti berbagai macam pelatihan dari Balai Besar Kulit, Karet dan Plastik Yogyakarta. Dari pelatihan tersebut lah ditemukan ramuan pas buat menciptakan kulit terbaik. 
 
"...misalnya untuk ketebalan kulit untuk jaket, sarung tangan, dan aksesoris lain," papar Yusuf.

Kelebihan Endies Leather Company ialah inovasi produk tidak monoton. Bahkan menyentuh produk turunan bila dibutuhkan. Seperti baru- baru ini memproduksi sarung tangan kulit sendiri. Produk yang menjadi buruan para pecinta olah raga golf ataupun baseball. 
 
Ia sudah melihat pasarnya dan banyak industri meminta dirinya memproduksi. Namun, mengingat permintaan lain juga menumpuk, Yusuf memilih menahan diri untuk tidak jor- joran.

"Jujur saja, saya kwalahan. Dan tidak berani memasok kepastian bahan bakunya. Misalnya, dari Amerika ada merek Timberland pernah meminta saya memasok kulit, namun saat ini masih saya tolak karena pesanan lokal saja kadang masih kwalahan," ujarnya.

Usaha Elco (singkatan) memang dikenal akan kualitasnya. Bahan kulit yang dihasilkan terbilang lebih rapih dalam hal ketebalan. Selain itu adapula kelebihan dibidang warna, dimana Elco memiliki warna yang tidak dimiliki oleh usaha sejenis.
 
Saat ini, perusahaan milik Yusuf mempekerjakan 200 orang karyawan. Dimana laba bersihnya mencapai 120 juta per- bulan. Usaha lain yaitu 12 gerai penjualan jaket kulit dan produk turunan lain. 
 
Mereka tersebar yakni di Bali ada 7 gerai, dan sisinya ada di Yogyakarta, Surabaya, dan Garut. Soal pengelolaan ia serahkan kepada masyarakat dimana dia tinggal menyetok barang. Produksi Elco sudah mencapai 120 square meter kulit.

Yusuf sendiri berharap bisa mencapai angka 200 square meter. "Saya mempekerjakan 100 orang, padahal dulu cuma mempekerjakan 3 orang karyawan. Tidak menyangka, padahal orang tua saya dulu inginya saya menjadi guru agama," paparnya. 
 
"Ternyata menjadi pengusaha lebih menguntungkan," canda anak ketiga dari enam bersaudara ini.

Proses finishing memang dioptimalkan. Dimana semua disesuaikan akan permintaan konsumen. Selepas dari pengolahan kemudian diserahkan ke perusahaan leather garment lain atau leather tailor. Agar tidak menjadi layanan buruk maka kulit rejeck akan diolah sendiri. 
 
Mereka dijadikan aneka tas kulit, jaket, sabuk, atau aksesoris lain, yang kemudian dipajang di showroom. Hasil produksi sendiri kemudian dipasarkan sampai ke Bali. Mesin sendiri baru memenuhi kapasitas 30%, jadi masih ada sisa 70% kapasitas terisisa yang sebenarnya sayang kalau tidak dimanfaatkan. 
 
Masalah ketersediaan bahan baku dan pengolahan limbah sama menjadi hambatan utama. Dibutuhkan biaya sekitar Rp.5 miliar cuma untuk mengolah limbah produksi. Menurutnya ini sudah mendesark. Oleh karenanya diharapkan pemerintah bisa menyediakan lahan pengolahan limbah ini.

Hal lain, Yusuf juga mencoba mengembangkan tempat pengolahan limah sendiri. Bekerja sama dengan pihak Universitas Islam Bandung diharapkan bisa menciptakan solusi bersama.

Sebagai pengusaha yang tengah maju usahanya. Ia memang "gatal" untuk berekpansi jauh bahkan sampai ke lini bisnis lain. Tetapi hal tersebut selalu ditahan- tahan, semua berkat konsultasi PT. Sarana Jabar Venture yang selalu mengingatkan. 
 
Ia mengatakan,"banyak pengusaha tidak bisa menahan diri melakukan ekspansi usaha... Akhirnya banyak yang kolaps."

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba