Pengusaha Sendal Kelom Geulis Merambah Eropa

Profil Pengusaha Junjun Arif Nugraha 


pengusahakelom.png
 
Menjadi pengusaha sendal kelom menjanjikan. Kini Kelom Geulis merambah Eropa, berkat kegigihan dan kecerdasan memanfaatkan dunia digital.  Arif termasuk generasi kedua usaha keluarga. Sejak lulus dari kampusnya, mata Junjun Arif Nugraha sudah tertuju kepada sendal kelom. 
 
Usaha pembuatan sandal tradisional khas Jawa Barat. Maklum saja, usaha ini sudah digeluti kedua orang tuanya sejak 1980 -an. Oleh karenanya Arif merasa terpanggil meningkatkan nilai sandal kelom dimata masyarakat. Lewat internet marketing usahanya tersebut ternyata tidak sia- sia.
 

Jadi Pengusaha Sandal Kelom


Usaha sandal geulis dirintis kedua orang tuanya dari toko eceran di kawasan Pasar Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka awalnya pedagang yang mengambil dagangan. Mengambil aneka kerajinan dari para perajin sekitar wilayah Tasikmalaya untuk dijual kembali. 
 
Ayah Arif bahkan bisa memasok sampai ke Bogor hingga Jakarta. Kios kecil milik mereka terus tumbuh. Sebagai pedangan kedua orang tuanya termasuk jeli dalam mengambil pasar.

Terbukti, dari perjalanan permintaan pelanggan akan sandal geulis semakin banyak saja. Di wilayah Bogor khususnya sudah beberapa tempat dipasoknya, seperti di Pasar Cisarua dan Cipanas. Untuk wilayah Jakarta sendiri sudah masuk sampai ke Pasar Jatinegara. 
 
"Saat itu, saya sering bantu- bantu orang tua jaga kios," imbuh Arif. Karena jumlah permintaan semakin meningkat, kedua orang tua Arif memilih membuka bengkel sendiri.

Tepatnya di tahun 1995, orang tuanya membuka bengkel pembuatan sendal khas Tasikmalaya tersebut. Selain memproduksi selom geulis juga memproduksi sendal kulit. Kemudian dibawah bendera PD Zunzun semakin berjayalah usaha mereka. 
 
Berjalannya waktu modal kedua orang tua Arif semakin kuat. Sampai berdiri satu bengkel lagi memperkuat kapasitas produksi mereka. Sumber daya manusia pun naik menjadi 40 perajin berpengalaman. 

"Usaha orang tua saya menunjukkan kemajuan pesat saat krisis 1998, saat itu banyak pesanan yang masuk," kenangnya.

Arif menjelaskan kebanyakan pesanan datang untuk pasar ekspor. Sedangkan pemasaran dalam negeri terbatas Jawa Barat dan Jakarta. Kisah ini semakin berjalan apik ketika Arif mengambil alih bisnis. Jika cerita pengusaha banyak unsur kesedihan dan kegagalan. 
 
Justru kedua orang tua Arif semakin sukses berbisnis. Hingga, di tahun 2006, karena faktor usia mereka mewariskan ini ke tangan seorang Junjun Arif Nugraha.

Merambah Eropa


Usaha Arif terbilang makin memoncerkan PD Zunzun. Itu juga termasuk berkat pengetahuan selama kuliah di kampus Universitas Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Sosok Arif dianggap sebagai generasi kedua yang perlu kamu contoh. 
 
Di tangannya produk mampu merambah daerah- daerah lain. Bahkan sudah sampai ke tanah Eropa berkat internet. Tahun 2007 fokusnya adalah membangun internet marketing. Upayanya itu tidak sia- sia.

Tahun itu permintaan akan produk Kelom Geulis naik. Ia kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di penjuru Indonesia. Pesanan bahkan naik sampai 200 persen. Semua orderan masuk melalui website buatannya. Arif bahkan mengaku kwalahan. 
 
Alhasil pemenuhan pesanan terkadang terkendala dan terpaksa harus dia tolak halus. Untuk saat ini, PD Zunzun hanya mampu memenuhi permintaan Kelom Geulis untuk 2000 pasang per- bulan.

Harga jual Kelom Geulis diantara Rp.15.000- Rp.25.000 per- pasang. Omzet penjualan mencapai Rp.160 juta- Rp.200 juta per- bulan. Soal laba bersih Arif blak- blakan menyebut 10 persennya. Pelanggan darinya sendiri adalah para pedagang grosir asal daerah masing- masing. 
 
Biasanya, ia menjelaskan mereka akan jual menjadi Rp.50.000 per- pasang. Untuk eceran jumlah permintaannya jauh lebih besar. Arif bahkan tidak sanggup lagi. Terobosan dalam marketing menggunakan online menjadi kunci. 
 
Namun ingat memperbaiki manajemen dan kualitas harus berjalan beriringan. Itulah kunci sukses Arif lewat pembelian 40 unit mesin jahit baru berbagai jenis dan ukuran. Adapula mesin pendukung lain yang lebih modern. 
 
Seperti mesin cangklong, mesin press otomatis, mesin penipis kulit, ruang oven, mesin oven elektrik, gergaji besar, penyedot debu, dan peralatan lain. Bahan dasar pembuatan sandal Kelom Geulis sendiri dari kulit sintetis atau kayu. Seluruh produksi sudah ada standarisasi satu atap. 
 
"Sehingga lebih gampang mengawasi quality control dari produk kami," ujar Arif lagi. Jadi tidak salah kalau namanya menjadi salah satu pengusaha muda rujukan. PD Zunzun meski kecil tetapi sudah memiliki berbagai inovasi dalam produksi. 
 
Tahun 2007, PD Zunzun mendapat pengakuan Dji Sam Soe Award.

Secara pribadi, Arif juga pernah mendapatkan penghargaan bernama Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi 2010 dari Bentoel.

Sejak mengambil alih dari kedua orang tua, sejak 2006, fokus Junjun Arif Nugraha ialah memperbaiki brand miliknya. Lewat penjualan interaktif berbekal media sosial digalang. Terobosan tersebut memang tidak sia- sia. Dia sukses membangun image kembali Kelom Geulis. 
 
Pesanan bahkan naik 200% dan semua orderan masuk lewat website toko online milik perusahaan. Trobosan lain adalah memperbaiki variasi desain dan bentuk kelom. Modal dan bentuknya Kelom Geulis menjadi lebih bervariasi. Bahkan motif mega mendung khas Cirebon sudah dimasukan. 
 
Selain itu, adanya ukiran cantik dari bahan kayu semakin menarik kaum hawa. Jadi tidak monoton berbahan kulit sintetis saja.

"Harga sandal ini menjadi mahal," tutur Arif.

Sandal khas Tasikmalaya ini makin moncer. Tidak cuma dikenal di dalam negeri tetapi hingga Eropa sampai ke Spanyol. Kalau dulu paling mentok sampai pasar Jakarta. 
 
Ditangan Arif, Kelom Geulis sudah merambah ke seluruh Pulau Jawa, sampai pula ke Indonesia Timur, seperti Sulawesi Tenggara, Manado, Gorontalo, Bali dan ke Pulau Sumatra. "Saya juga memasarkan kelom geulis hingga ke Sumatra," tutupnya.

Mahasiswa Lulusan Terbaik Universitas Malah Jualan

Profil Pengusaha Fendra Agoprilla Putra 


pengusahamie.png
 
Ia memilih menjadi pengusaha tanpa kerja. Mahasiswa lulusan terbaik universitas malah jualan. Dia yakin menjadi wirausahawan. Padahal katanya nih, dia termasuk mahasiswa berprestasi di kampusnya. Fendra Agoprilla Putra, lulusan Ekonomi Manajemen pernah ditawari bekerja di sebuah bank. 
 
Juga pernah dia belajar berbisnis saham. Meski tampak hebat mimpi tentang jualan mie lebih utama. Ya Ago begitu panggilannya adalah pemilik Mie Nyonyor khas Banyuwangi itu.
 

Menjadi Pengusaha


Dimulai sejak masih berkuliah berkat kegemaran makan bakso. Ketika ada bazar di kampus maka keluarlah kegemarannya itu. Hasilnya bakso buatan sendiri yang menjuari bazar tersebut. Ago memilih mengikuti alur passion -nya. 
 
Bahkan soal berbisnis memilih berjualan apa yang dia suka. Bakso tersebut lantas diberinya nama bakso cinta. Bakso yang berbumbu aneka sayuran sehat. Ada sayur tomat dan beberapa sayur lain warna- warni.

Namun, setelah diamati, menurutnya bisnis bakso tidak bertahan lama. Dia berpikir ulang bisnis lain yang masih sejenis. Maka mulailah otak- atik selama dua minggu. Ago mulai mencari tau aneka resep mie enak. Hingga lahirlah resep sendiri yakni resep Mie Nyonyor. 
 
Untuk menarik perhatian pembeli ditambah konsep level pedas 1-5. Soal mienya cukup memakai mie kering biasa ditambah bumbu istimewa tersebut.

"Rahasianya ada dari saos yang saya buat sendiri," jelasnya.

Sukses membuat resep tinggal bergeriliya mencari pembeli. Awal berjualan ditawarkan kepada teman- teman satu kampus. Pria lulusan Untag Banyuwangi ini pun mendapat respon positif. Modal 1,5 juta digelontorkan untuk berjualan di depan rumah. 
 
Warung mie sangat sederhana berdiri bermodal teras rumah dan dua meja kecil bekas kosan. Uang tersebut merupakan uang pribadi juga dari mantan pacar.

"... uang mantan pacar yang sekarang menjadi istri saya. Uang itu juga termasuk uang "jaga- jaga" kalau gagal," pungkasnya.

Ia tngat betul pertama kali Mie Nyonyor diluncurkan. Pelanggan pertama mienya 20 orang yang sebagian besar teman satu kampus. Ketika pesanan datang Ago akan bergegas lari ke belakang. Letak dapur yang jauh dibelakang membuat keluar ekstra tenaga. 
 
Selepas itu barulah dibongkarnya garasi rumah dijadikan dapur. "... memanfaatkan garasi rumah yang dulu pernah jadi kamar saya untuk di jadikan dapur," kenang Ago. 
 
Memang kenangan pertama kali itu begitu membekas. Dia ya menjadi kasir, menjadi tukang masak, menjadi tukang bersih- bersih yang dibantu ibu. "Istri yang saat itu masih menjadi pacar," jelasnya lagi. Dalam tempo singkat Mie Nyonyor sudah memiliki 20 orang pegawai. 
 
Startegi marketing pertama Mie Nyonyor ialah lewat teman satu kampus. Kemudian marketing itu ditambah penggunaan aneka media sosial memakai nama sendiri. Untuk meramaikan medsos diadakan aneka lomba. Yakni aneka lomba ekspresi kepedasan ketika memakan Mie Nyonyor. 
 
Ternyata cara ini terbilang cukup ampuh menarik perhatian pelanggan. Hadiahnya berupa makan gratis atau bisa aneka diskon. Respon dari marketing tersebut cukup baik. Bahkan banyak pelanggan yang datang membawa teman dan seterusnya. 
 
Dari mulut ke mulut nama Mie Nyonyor mulai dikenal oleh masyarakat. Sukses Mie Nyonyor membuatnya percaya diri menolak pekerjaan. Lowongan pegawai bank atau broker saham ditolak. Semua demi fokus di bisnis mie buatan sendiri. 
 
Hasil kerja keras Ago terlihat dari berdirinya cabang di beberapa daerah. Ada cabang Sukowidi, Ganteng, kemudian di wilayah Banyuwangi. Di luar kota ada di Surabaya (dua cabang), Jember, dan Sidoarjo. Dia dibantu keluarga lewat bagi hasil 3-4 persen omzet.

Soal pengiriman bumbu utama serta ayam tabur khas memanfaatkan jasa travel. Pesatnya pertumbuhan Mie Nyonyor menarik tawaran membuka cabang lain jauh, seperti di Palembang, Batam, Sulawesi, dan Jakarta. Namun kesempatan ini ditolak karena masalah jarak tidak memungkinkan.
 

Lulusan Terbaik Jadi Pengusaha

 
Ago tau pesawat pasti menolak paketnya. Mereka menolak pengiriman paket berupa barang cair seperti pasta. Ago tidak berkecil hati soal ini.  Tidak mau berhenti cuma di mie pedas aneka level. Ago naik pangkat bermodal resep kreasi lain, seperti Mie Nyonyor Saus Bolognese, Ramen Nyonyor, Club Sandwich Panggang dan aneka buah salad. 
 
Adapula layanan tawaran tambah toping atau porsi. Ditanya soal apa resep Mie Nyontor, Ago menjelaskan sedikit rahasianya yaitu tanpa MSG dan cabe tanpa biji. Dimaksudkan agar lebih sehat dan tidak menyerang usus buntu.

Cabai diblender kemudian direbus hingga menjadi pasta. Lalu dicampurkan diatas mie kering siap masak. Ini ternyata menghasilkan kombinasi menarik. Kemudian tidak ada minuman soda karena selepas makan pedas tidak boleh minum soda. 
 
"Itu sudah saya coba sendiri," jelas Ago. Meski cuma berjualan mie, Ago mengaku tidak malu, meski dia menjadi lulusan terbaik dari kampusnya.

Berawal dari konsep mie sendiri yaitu Mie Nyonyor, Ago mulai melirik resep masakan lain seperti mie raman khas. Kebetulan sekali karena di Banyuwangi belum ada mie ramen. 
 
Ternyata hasil karyanya banyak disukai tidak cuma anak muda, tetapi segala usia. Ini bisa dilihat dari banyaknya sepeda motor berjejer. Mereka rela datang jauh ke rumahnya yang disulap menjadi warung. Total sudah ada 6 cabang yang bersebar di daerah Jawa Timur.

Satu porsi mie ramen Nyonyor ada ayam, wortel, sayur hijau, kembang tahu, sosis dan jamur. Tidak cuma itu ada pula potongan sayap ayam dicampurkan. Untuk minuman ada khas juga yakni Es Temulawak Ndut yang segar bergelas super besar. Ini disebutnya kombinasi makanan Jepang dan tradisional Indonesia, tutur Ago lagi.

"Rekomendasi buat mereka yang suka mie dan suka pedas. Apalagi ramennya lengkap toppingnya mulai sayur sampai telur dan jamur," ujar Herpein salah satu pelanggan tetap.

Tidak Punya Pekerjaan Sukses Memelihara Lele

Profil Pengusaha Agus Efendi


pengusahalele.png
 
Tidak punya pekerjaan sukses memelihara lele. Pengusaha lele ini juga sibuk menjadi ketua organisasi kepemudaan GP Ansor Kecamatan Gudo. Ini yang dikerjakan Agus Efendi di kampungnya, adalah berbisnis sendiri. Usaha dijalankan kolam budidaya lele. 
 
Hasilnya lumayan loh, ia pun bercerita bagaimana bisnis kecilnya menguntungkan.

"Siapa bekerja dengan sungguh- sungguh, pasti akan berhasil," Agus membuka.
 

Sukses Memelihara Lele


Pemuda Desa Sukopinggir, Kec. Budo, Kabupaten Jombang ini, awalnya bermodal dari usaha kolam ikan satu kolam. Lumayan usaha kecil Agus menghasilkan 2 juta bibit per- bulan sekarang. Sudah dijalankan lebih dari 12 tahun bukan tidak ada halangan ataupun kerugian.

Ini ternyata usaha keluarga. Ia sendiri tidak begitu berminat meneruskan. Tetapi susah mencari pekerjaan lah mendorong Agus berpikir cepat. Anjuran orang tua didengarkan berkah hasilnya. Bermula dari satu kolam di pekarangan rumah lambat laun diperbanyak.

Dia sekarang jutawan. "Alhamdulillah hasilnya bisa dilihat sekarang," ujar pria 35 tahun ini. Seorang alumni Universitas Brawijaya sudah menekuni usaha sejak 2005. Kalau awal cuma satu kolam kini banyak kolam yang sudah menempati tanah seluas 2 hektar.

Usaha Agus menghasilkan jutaan. Padahal usaha lele dijalankan ayah sebagai sambilan. Ayah Agus seorang petani biasa. Cuma sebuah kolam ikan kecil di belakang rumah. Agus mengamati sang ayah serius beternak lele. 

Tamat SMU, dia tidak berminat meneruskan usaha ayah. Ayah Agus meninggal dunia ketika dia hendak dewasa. Dia memilih melanjutkan kuliah. Membiayai sendiri, dan akhirnya Agus lulus dan bekerja di sebuah Bank Swasta di Kediri.

Sebagai karyawan dia tidak tahan. Uang gaji dianggap pas- pasan. Dorongan menjadi wirausaha bergejolak sampai dia memilih keluar. Uniknya pertama terpintas dalam benak Agus hanyalah jadi petani. Ternyata dari sana hasilnya malah semakin tidak seberapa.

Mata Agus lantas melirik ke tanah galian ayahnya. Kolam ikan tersebut menggelitik Agus melanjutkan usaha budidaya ikan lele. Dia ingin beternak lele. Berbeda dengan sang ayah, Agus tidak mau menjadikan usaha budidaya lele sebagai pekerjaan sambilan. Dia kesana- kemari memasarkan hasil budidaya tanpa kenal lelah.

Ia menembus pasar. Kemudian mendapatkan kepercayaan menjadi penyedia bibit lele. Singkat cerita bahkan dia mampu mengirim sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Bali, dan Kota besar lain. Pasaran diambil Agus meluas begitu pula tanah kolam lele miliknya. Menjadi dua hektar usaha lele Agus makin berjaya saja.

Omzet diraup Agus berlipat ganda sampai ratusan juta. Angka fantastis buat pengusaha asal desa yang tidak dia nikmati sendiri. Dia lalu membuka lapangan pekerjaan puluhan pemuda kampung. Omzet 2 juta bibit ikan lele dan omzet mencapai Rp.200 juta per- bulan.

Semakin bersemangat Agus mulia menyasar ikan Gurame dan Patin. Banyaknya permintaan, ia mulai aktif mengajak kawannya membantu usaha Agus. Ada 30 orang pegawai membantu Agus setiap harinya untuk membudidaya ikan. Ia percaya bahwa usaha apapun jangan dipandang sebelah mata.

Usahanya memang besar tetapi bukan tidak pernah rugi. Ia bercerita pernah bibit lele ratusan ekor miliknya mati. Agus lalu mencari solusi disetiap kegagalan pernah dia rasakan. Dia membuktikan, tidak punya pekerjaan sukses memelihara lele.

Akbar Karikatur Bisnis Online Sering Dituduh Menipu

Profil Pengusaha Akbar Satriawan


bisnisonline.png

Bisnis online sering dituduh menipu. Pengusaha Akbar Karikatur bercerita perjalanan bisnisnya sampai sekarang. Memang dunia digital memberikan kemudahan total. Tetapi tidak semua orang memiliki kemampuan. Itu adalah kemampuan membedakan dunia nyata dan internet. 
 
Beberapa malah kerepotan mengerjakan bisnis mereka disini. Dunia internet memberikan kemudahan juga kesukaran.
 

Jadi Pengusaha


Seperti kisah pemilik Akbarkarikatur. Dia mendapatkan banyak komplain tentang pesanan. Banyak mereka komplain bahkan merasa tertipu. Orderan tanpa didukung sumber daya manusia. Padahal Akbar katanya menyanggupi pesanan tetapi sulit dihubungi dan gagal memenuhi pesanan. 

Padahal sudah mengirimkan uang pembayaran. Penulis tidak menjudge tetapi menyoroti fenomena. Dalam berbisnis dibutuhkan profesionalisme. Ingat bahwa pembeli adalah raja. Maka sebagai pengusaha layaknya tidak menjanjikan jika tidak sanggup.

Kamampuan membuat karikatur digital Akbar berbuah bisnis. Kisah pria berambut gondrong, bernama Akbar Satriawan, seorang pengusaha muda asal Semarang. Bekal kemampuannya menggambar digital. Akbar lantas iseng buat memasarkan karyanya lewat sosial media. 
 
Salah satu hasil karyanya yang menarik ialah ketika Pilkada Kota Semarang. Akbar menggambar karikatur buat salah satu calon Wali Kota. Setelah gambar selesai, kemudian dapat ia perbanyak diatas kaos. 
 
Nah, lewat ajang inilah, nama Akbar semakin dikenal sebagai pembuat kaos asal Semarang. "Saya mulai serius membisniskan gambar karikatur digital sejak 2011 silam," jelas Akbar.

Pada awalnya dia mulai membuat blog sendiri. Diunggah kemudian dikomentari orang bahwa hasil karyanya bagus. Berjalan waktu dia mulai mengembangkan konsep kaos printing. Sebelum itu Akbar mendapatkan banyak job membuat gambar buat web Pemprov.

Lambat laun dia juga dikenal sebagai ahli dekor. Salah satunya menjadi pendekor aksesoris gambar untuk Achmad Dhani Masterpiece Karaoke. Kemudian menggambarkan ke kaos buat dipasarkan lewat berbagai event. Melalui bisnis kaos printing usahanya mulai menggurita tidak cuma online.

Tahun 2004 barulah kaos karikatur Akbar dipasarkan. Dengan pengalaman seadanya dia mencari tau, cara bagaimana sih menempelkan gambar ke kaos. Bagaimana dia menjahit, mendesain, dan bagaimana caranya menjual ke orang banyak.

Ia menyasar pasar backpacker awal. Dia menganggap pasar ini masih sepi. Memang kala itu demam traveling semacam ini belum booming. Kaos berkata- kata dan gambar simple diunggah Akbar. Isinya kebanyakan tentang sindiran untuk menikmati hidup dengan traveling. 
 
"Anda kerja, saya libur. Anda libur, saya liburan."

Kalau Akbar lebih memilih menjadi pelopor. Dia tidak suka mengikuti demam acara televisi. Seperti kaos yang bertuliskan My Trip My Adventure ataupun National Geography. Akbar memilih membuat gambar yang original dengan tulisan nyeleneh khas.

Pria asli Wonosobo, kelahiran 29 April 1990 ini, memang memiliki idealis dalam berkarya. Jiwa kesenian di dirinya lebih kental dibanding sekedar bisnis. Karya gambar Akbar lain seperti menggambar hewan- hewan yang hampir punah seperti gambar badak bercula satu.

Bisnis Online

 
Ia mendapatkan inspirasi selama menjadi backpacker. Ya Akbar memang hobi bertraveling jadi pantaslah kalau dia tau betul. Anak ketiga pasangan Supardi dan Yuli memang suka bepergian ke beberapa negara. 
 
Terutama di kawasan Asia Tenggara seperti Bangkok. Dari sanalah ide tentang gambar dan kata muncul. Uniknya, Akbar menjelaskan, untuk memberikan kesan spesial setiap desain diproduksi maksimal 22 kaos jadi benar ekslusip.
 
Akbar juga mengadakan lomba quotes kata- kata unik. Melalui Instagram berhastag mengajak konsumen ikutan membikin kata- kata unik. Pemenang lomba akan mendapatkan dua kaos gratis. Satu kaos berdesain kata pemenang sendiri, dan satunya lagi bebas memilih. 
 
"Satu dengan desain quote tersebut, satu lagi bebas memilih."

Alumnus Universitas Dian Nuswantaro (Udinus) tahun 2014 ini, semakin eksis berbisnis lewat perpanduan antara sosial media dan nyata. Belum ada setahun sudah menghasilkan puluhan juta. 
 
Tidak cuma masuk ke pasaran Semarang tetapi juga luar Jawa, mulai Sulawesi, Kalimantan, sampai ke Papua.

Bahkan pernah dia mendapatkan pesanan sampai 150 potong dari Hong Kong. Memanfaatkan internet bagi Akbar adalah memperluas pasaran sekarang. Dia juga rajin bertemu konsumen langsung. Salah satunya yaitu lewat ajang Car Free Day Jalan Pahlawan Semarang.

Harga ditawarkan Akbar juga kompetitif. Yakni Rp.55 ribu untuk kaos lengang pendek dan harga Rp.65 ribu buat lengan panjang. Walau murah tetapi margin untung dihasilkan pria gondrong ini besar. Mungkin ini berkat uniknya karya Akbar.

Dia dibantu empat karyawan mampu mengerjakan 3 lusin per- hari. Baru setahun berbisnis omzet Akbar sudah menyentuh puluhan juta. "Kalau omzet bulanannya sudah cukup buat memenuhi kebutuhan sehari- hari dan uang saki backpackeran," selorohnya.

"Rencananya, akhir tahun mendatang, mau plesiran ke Turki sekalian bulan madu," tutupnya. Mungkin ini alasan utama kenapa Akbar menjadi sukar melayani. 
 
Disisi lain dia masih di luar negeri -seperti kasusnya dia katanya sedang di Bangkok tidak ada sinyal- sementara internet tidak pernah tutup.

Tidak Mau Melamar Pekerjaan Pengusaha Es Krim

Profil Pengusaha Adam Amrullah 


pekerjaanpengusaha.png
 
Dia tidak mau melamar pekerjaan memilih wirausaha. Pengusaha es krim sukses, yang beroperasi awal di wilayah Yogya. Tempat ini menjanjikan buat usaha kuliner tumbuh. Itu yang diyakini oleh Adam Amrullah. Ini kesempatan baginya menghasilkan penghasilan. 
 
Seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM). Disini gudangnya makanan enak tulis sebuah artikel. Banyak kuliner tersebar menjamur di Kota Gudeg ini. Adam tidak menyia- nyiakan. Ia ingin menjadi pengusaha kuliner seperti lainnya. 
 
Maka lulusan UGM tahun 2013 ini mulai coba- coba jualan di pinggir UGM. Target Adam ialah mahasiswa dan juga para pelancong yang tengah menikmati liburan. Berawal dari ajang Sunday Morning (Sunmor) UGM, berlabel RedBean Ice Cream.

Jadi Pengusaha Es Krim


Sejak lulus kuliah dia bahkan tidak sempat melamar pekerjaan. Dan dia tidak mau melamar pekerjaan dulu. Adam langsung mencoba membuat es krim sendiri dari bahan kacang merah, dan berhasil. Tepat sebulan sebelum lulus Kampus Biru, tepatnya di Desember 2013, lulusan Akuntansi serius berbisnis.

"Awalnya saya jualan es krim saat masih ramai Sunmor UGM setiap hari minggu," tutur dia. Waktu itu dia mengenang cukup banyak yang suka.

Awal usaha nama es krim Adam ribet. Namanya Green Tea Patbinsu. Bagi warga UGM familiar bagi anak- anak muda, pelajar, dan mahasiswa, sebagai es krim berbahan kacang merah. Kacang merah Adam dibuat dengan racikan aneka buah- buahan, susu, dan ditambah keripik jagung gurih enak.

Untuk meningkatkan kepercayaan diri. Dia mengikuti kompetisi digelar oleh PT. Nissan Motor Indonesia, berlabel Datsun Rising Challange, menyisihkan ribuan peserta lain. Dia bermodal nekat dengan uang sedikit buat berbisnis. 
 
Eh, ketika ikut ajang, ternyata sambutan masyarakat akan es krim kacang merah meriah. Dia beruntung ikut kompetisi. Karena juga mendapatkan pelatihan kewirausahaan. Adam memang dasarnya nekat. Belum bisa berenang malah langsung nyebur ke dunia kewirausahaan. 
 
Disana dia belajar agar tidak lekas tenggelam bagaimana mengambang ketika masalah datang. Untuk hadiah ajang diadakan perusahaan mobil ini terbilang "wah". Bayangkan selain Adam mendapatkan uang juga satu unit mobil Datsub GO+. 
 
Lewat uang tersebut Adam melebarkan sayap bisnisnya. Pertama ia lakukan adalah membuka cabang kedua. Lalu, ia tidak cuma menjual minuman tetapi juga mengembangkan makanan. Uang sebesar itu dibukakan satu cabang. 
 
Jadi Adam memiliki tempat di Jalan Gambir 142a, Karanggayam (Deresan), Depok, Sleman, dan Jalan Monjali 106a, Mlati, Sleman. Adam juga sudah punya 20 karyawan paruh waktu. Dia mangajak kalangan mahasiswa agar tidak cuma bengong begitu kuliah selesai.

Kemudian kedua tempat tersebut mengusung nama baru Minke Dessert Bar. Dimana kamu bisa berkunjung dari pukul 10.00 pagi sampai 22.00 malam. Omzet usaha ini menurut Adam sudah mencapai Rp.90- 100 juta.

Adam menyebut usahanya tidak cuma enak. Dilihat dari komposisi memang kelihatan sehat, sebut saja ada es krim Green Tea Patbingsu, Mango Saved Ice, Apple Puff, Matcha Crepes, dan lain- lain. Bahan dasar sih tinggal mencari sekitaran Yogya. 
 
Agam pun tidak mau berhenti disana. "Kedepan saya ingin bukan franchise, cukup 50 juta."

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba