Penemu Kompor Gastrik Pengusaha Wahono Handoko

Biografi Pengusaha Inovator Pengusaha


komporgastrik.png
 
Pengusaha ini bukan sekedar berbisnis. Dia penemu kompor Gastrik. Ia yang tidak bergantung kepada pemerintah. Membiayai penemuanya sendiri, melakukan penelitian, hingga membuat produk cocok bagi masyarakat.
 
Beberapa penemu menyalurkan idenya dalam bentuk bisnis. Apakah sah- saha saja, menurut kami, tak perlu spesifik kamu penemu dibidang apa. Pada hakikatnya kita semua pengusaha merupakan penemu dibidang masing- masing. Nah, kali ini kita akan membahas sosok dari pria penemu kompor gastrik.
 

Penemu Kompor Gastrik


Namanya Handoko Wahono, dari seorang peneliti jadi pengusaha muda, sukses memproduksi masal apa yang kamu kenal kompor Gastrik. Bukan perkara mudah seperti sebelum- sebelumnya, terhalang biaya jadi satu kendala baginya memperkenalkan ini. 
 
Kisahnya diawali ketika masih berkuliah Semester 8 di Sekolah Tinggi Tekhnik Mandala Bandung, pria 36 tahun ini, sudah mengarang- ngara konsep penelitiannya. Berawal dari tugas kuliah penelitain saat itu.

Kompor Gastrik merupakan jawaban akan sulitnya energi alternatif. Apalagi jikalau kita mendengar baru- baru ini Pertamina akan menaikan harga elpiji. Hati berasa gondok terutama bagi pengusaha kecil menengah yang bertahan lewat tabung 3 kg. 
 
Bagaimana kalau pengusaha beralih ke produk milik Handoko ini?

"Ide awalnya Gastrik ini muncul saat masih kuliah di Semester 8, bukan tugas kuliah tapi penelitian mandiri saat kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Mandala Bandung," jelasnya kepad pewarta detikFinance ketika dirinya ditemui di Hote Bidakara, Jakarta.

Pria 36 tahun ini awalnya tak menyangkan hasilnya akan memuaskan. Bayangkan, berkat usaha berjualan kompor ini, dia bisa mengantongi omzet 36 juta. Awalnya, tak terlalu terbersit benaknya buat memproduksi masal ini apalagi sampai mengkormesilkan; banyak perhitungan dia pikirkan. 
 

Miris- memang miris ketika kita mendengar kisah- kisah inovator kita. Baru saja ada kita mendengar salah satu peniliti muda Indonesia mengeluh "kurangnya dukungan pemerintah". Handoko sudah mengamati hal- hal semacam ini sejak memutuskan mengkonsep Kompor Gastrik. 
 
Ia mengaku tak terburu- buru menjadikan produknya menjadi komersil. Dia telah belajar dari pendahulunya. Menurut pengamatannya, diperlukan satu proyek percontohan terlebih dahulu.

Nah, sayangnya lagi, proyek percontohan juga memerlukan biaya. Ia mengakalinya dengan aktif merogoh isi dompet pribadinya dalam- dalam. Hasilnya keberhasilan produk sudah ditangan. Tinggal lah bagaimana agar bisa menarik perhatian investor. 
 
Salah satu cara menarik buat kamu tiru ialah aktif mengikuti pameran -utama pameran riset dan teknologi pemerintah. Meski tak begitu ambisius, justru keberuntungan lah membawanya ke tujuan.

Hasil risetnya diikutkan acara bertajuk Pameran Inovasi Kementrian Industri. Hingga sebuah organisasi non- profi membidiknya menjadi calon inkubasi bisnisnya. Yayasan INOTEK lantas menghubungi Handoko yang mana tujuannya adalah membangkitkan wirausahawan masa depan. 
 
Didalam kegiatan diadakan organisasi INOTEK ini, Handoko mendapatkan wawasan tentang bagaimana menciptakan produknya, memasarkan itu menjadi usaha.

Kompor Gastrik merupakan energi alternatif. Lebih aman dibandingkan penggunaan gas elpiji yang kadang bisa meledak. Menurut Majalahinovasi.com, dijelaskan bahwa ini adalah produk ekonomis dan aman buat dipakai. Gastrik merupakan singkatan gas dan listrik. 
 
Diciptakan oleh tiga orang selain Wahono Handoko, yakni dua rekannya, Randy Ariaputra dan Han Harrison. 

"Kemudian saya dibina menjadi home industri, dan bagaimana menciptakan kompor sekaligus menjadi usaha yang menguntungkan selama masa inkubasi," terangnya.
 

Pengusaha Kompor


Konsep bisnisnya ialah menakar kompor gas elpiji makin mahal. Selain itu adanya fakta bahwa masyarakat terkadang mengalami kesulitan. Pristiwa- pristiwa meledaknya tabung gas agaknya menjadi faktor lain. Inilah yang disasar oleh produknya, yang memanfaatkan energi bioethanol. 
 
Kenapa lebih aman? Karena produk ini menggunakan bahan cair bukan gas mudah meledak. Loh bukannya listrik, ternyata meski bernama listrik ini tak seperti kamu bayangkan. Meski kompor listrik, dijelaskan oleh Handoko, bahwasanya meski bernama Gastrik. 
 
Adanya baterai listrik pada kompor bukanlah utama. Api kompor bukan berasal dari listrik. Penggunannya cuma menjadi indikator saja, dan fungsi pengaturan api. Kalau bahan bakar utamanya adalah bioetanol berasal dari molases rumput laut gajah. Ia sendiri loh menelitik fakta- fakta tersebut.

"Dari penelitian saya, bahan bakar bioetanol yang saya ciptakan komposisinya 80% bioetanol, sisanya 20% air," ungkapnya lagi.

Soal efisiensi disebutkan Handoko ini sama dengan kompor gas elpiji. Mungkin, menurut penulis, dari aspek jatuhnya habis bahan bakar kuat sebulanan. Selain ditawarkan bahwa produk ini aman. Ia juga menambah satu hal yakni penampilan familiar. 
 
Dimana bentuk kompornya mirip kompor gas elpiji. Jadi buat masyarakat akan mudah menggunakannya. Harapan terbesarnya adalah agar kompor ini tak seperti pendahulunya. Tak cuma akan hilang dari pasaran setelah beberapa lama. 
 
Di tahun 2010, INOTEK mengguyur proyeknya bermodal dana hibah senilai angka Rp.63 juta. Barulah di tahun 2014 kompor Gastrik resmi diluncurkan ke masyarakat. Dibutuhkan waktu bagi dia dan kawan- kawan menelitinya, yakni dari tahun 2007 sampai 2008, fokusnya pada kompornya yang berbahan bioethanol.

Bermodal uang seadanya mereka mencoba membangkitkan idelismenya. Handoko mengaku mereka menjual apa yang bisa dijualnya. Menurut pria kelahiran 6 Juli 1977 ini, mengaku leganya bertemu bisa orang- orang INOTEK.

Kompor bioetanol buatanya diklaim sama murahnya dibanding gas elpji 3kg. Harganya dibandrol di angka Rp.7.500 per- botol isinya 850 mililiter dipakai masak 3-4 jam. Ini masih murah dibanding harga elpiji yang kemungkinan naik lagi. 
 
Soal kompornya, Handoko dan tim menjualnya Rp.220.000 sampai Rp.440.000 yang dua tungku. Cuma dibantu 2 orang dalam sehari pabriknya, yang berlokasi di Gedebage, Bandung, bisa memproduksi 10 kompor satu tungku.

Soal bahan baku didugung oleh UKM Bioetanol. Dimana mereka adalah masyarakat binaannya yang telah dibantu mesin penuyulingan. Bioetanol disuling di Sumedang berbekal mesin yang dibaginya cuma- cuma.

Seiring berjalan waktu, usaha miliknya semakin sukses, bahkan permintaan dari Bandung meningkat tajam. Banyak rumah tangga yang beralih ke Kompor Gastrik. Ia sendiri sudah siap. Salah satu caranya ialah aktif menggaet investor agar bisa memproduksi sendiri bahan bakarnya di Bandung. 
 
Biar gak susah soal ditribusi mungkin. Soal omzet bisnisnya dari bisnis kompor bioetanol, ia mengaku bisa menghasilkan Rp.10 juta per- bulan.

"Tapi kalau dari Bioetanolnya bisa Rp.20- 25 juta per- bulan," katanya bangga.

Pengusaha Membuat Keripik Pare Bisnis Menggiurkan

Profil Pengusaha Sukses Sofyan Hadi


usahapare.png
  
Pengusaha asal Kudus ini mempunyai kisahanya sendiri. Ia membuat keripik pare bisnis menggiurkan. M Sofyan Hadi tidak pernah terpikirkan di dalam benaknya berwirausaha. Dia berkisah semuanya terjadi ketika dirinya menetap di Surabaya, Jawa Timur. 
 
Alkisah ketika itu orang tuanya meminta Hadi tinggal disana saja. Disana mulailah ia bertemu banyak orang- orang baru dan kisah pun berlanjut. 

"Saya lama tinggal di Surabaya, disana teman- teman asal Malang banyak membuat yang berkreasi dengan keripik buah," jelasnya kepada Tribunnews.com.
 

Bisnis Menggiurkan


Terbersitlah pikiran membuka usaha membuat keripik. Tapi, Hadi maunya sesuatu berbeda dari apa teman- temannya buat. Ia pun mulai rajin mencari resep di internet. Mencoba mencari alternatif keripik yang bisa diolahnya. 
 
Sekian lama berselancar di dunia maya, barulah, ia menemukan jalan suksesnya hingga sekarang. Mantan wartawan ini memilih buah pare sebagai bahan baku. Alasannya adalah karena manfaat pare bagi kesehatan.

Alasan lainnya, Hadi mengamati kala itu, usahanya masih belum banyak pemainnya. Jadilah dirinya menjadi salah satu pemain utama. Pria lulusan Universitas Negeri Semarang ini (UNNES), menjelaskan dirinya tak bisa sekonyong- konyong menggoreng pare. 
 
Dia butuh waktu agar parenya tidak berasa pahit. Buah pare harus dibuat seenak mungkin, hingga rasa pahit tak begitu mengganggu. Serangkaian percobaan kemudian dilakukannya.

Hingga, Hadi yakin betul akan formulanya, bagaimana cara mengolah pare menjadi keripik pare. Caranya yakni: pertama, pare dirajang diris tipis- tipis terlebih dahulu, kemudian direndam daun kudo selama dua hari. Kedua irisan pare tersebut dikeringkannya.

"Dari berbagai percobaan, akhirnya ketemu. Caranya ternyata sangat mudah, pare yang telah dirajam dengan daun kudo selama dua hari," jelasnya.
 
Pare kering setelah dijemur lantas ditiriskan ke wadah. Selepas itu Hadi kemudian menggorengnya dua kali sampai benar- benar kering. Perlu kamu ketahui pada penggorengan pertama jangan langsung digoreng lagi. Kamu harus mengangin- anginkan terlebih dahulu. 
 
Terakhir penggorengan kedua akan digoreng benar- benar agar hasilnya benar- benar crispy. Mantan wartawan 1998 hingga 2014 ini, tak lantas menjual hasil karyanya tapi dicobanya dulu.

Dia membagikan keripik parenya ke lingkungan terdekatnya. Hadi menyebutkan semenjak mengkonsumsi keripik buatannya sendiri. Ia merasa kesehatannya membaik. Inilah kelebihan keripik pare menurutnya. Dia menjelaskan, katanya keripik pare ini bisa mengurangi pusing- pusingnya. 
 
Bukti lain yaitu tetangganya yang punya gula darah bisa berangsur- angsur normal. "Ada juga tetangga yang punya gula darah tinggi saya kasih untuk coba, ternyata setelah menghabiskan tiga bungkus gula darahnya berangsur normal," terangnya.

Puas akan hasil kerja kerasnya. Barulah Hadi memasarkan keripik pare tersebut ke pasaran. Beberapa toko di Kudus dijajalnya, hasilnya, tanggapan positif terhadap hasil produknya. Uniknya, Hadi tak cuma menyasar toko- toko jajanan biasa, tapi juga apotik- apotik terdekat. 
 
Ya, karena memang kasiat keripik pare seperti jamu, ternyata keripik pare bisa menjadi alternatif pengobatan kita. Demikian permintaan akan keripik pare lantas membengkak; Hadi mengaku sampai kwalahan memenuhinya.

Permintaan akan keripik pare tak cuma datang di sekitaran Kudus atau Surabaya. Permintaan keripik juga datang dari Semarang, bahkan Jakarta, Bandung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Palembang, dan juga Medan, juga beberapa toko- toko di berbagai kota seluruh Indonesia. 
 
Dia dibantu oleh tujuh orang karyawan telah menikmati hasil kerja kerasnya. Produk keripik pare -nya mengantongi omzet puluhan juta per- bulan.

Juga tak perlu repot- repot marketing karena seluruh Indonesia bisa membaca kisahnya.

"Hampir semua apotek di Kudus juga berminat memasarkan, sudah banyak yang pesan," jelasnya.

Kendala dihadapinya adalah soal bahan baku. Hadi memang tak sembarang memilih pare. Ia menggunakan pare jenis Thailand atau disebut juga pare landak. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Hadi menyiapkan petani plasma binaannya. 
 
Tujuannya agar stok pare Thailand stabil. Menggunakan metode plasma memang bagus terutama guna memunuhi kebutuhan akan bahan baku. Total ada lima petani plasma binaanya yang ia pinta khusus menanam pare Thailand atau landak tersebut.

Setiap bulannya menghasilkan 3 ribu bungkus keripik pare. Yang kemudian dilabelinya "Parea", yang mana ia memproduksi berat 35 gram sampai 100 gram. Mayoritasnya kemasan seberat 35 gram, karena itulah yang paling laku. 
 
Soal harga, Hadi mematok angka Rp.5 ribu sampai Rp.35 ribu, semuanya tergantung berat isi dalam kemasan. Varian rasa kerpik parenya mulai dari rasa orginal, keju, jagung pedas, pedas biasa, dan lain- lain. Pabrik kecilnya juga memproduksi rempeyek pare.

"Yang pokok, untuk membedakannya, yang bertepung itu saya klarifikasikan sebagai rempeyek, sementara yang original dan tak bertepung digolongkan sebagai keripik," jelasnya.

Travel Lets Get Lost Usaha Wisata Lokal

Profil Pengusaha Ricky Surya


pengusahatravel.png
 
Perkenalkan bisnis travel Lets Get Lost karya mahasiswa Prasetiya Mulya. Didirikan oleh pengusaha muda yang menekankan usaha wisata lokal. Namanya Ricky Surya. Punya hobi berkeliling Indonesia, yang mana lantas dijadikannya bisnis mandiri. 
 
Tak tanggung karena tujuan pariwisatanya tak melulu Pulau Dewata. Mahasiswa Universitas Prasetiya Mulia. Dia bersama empat orang kawan. Ricky sendiri barulah 25 tahun. Akan tetapi, diusia segitu, usahanya cukup mapan dibidang pariwisata. 
 

Usaha Wisata Lokal

 
Tepatnya dia berhasil membuka bisnis travel dan tour. Namanya Let's Get Lost Tour. Dimulai cuma bermodal laptop saja, tanpa kantor resmi, akan tetapi bisa dimarketingkan secara apik olehnya.

"Bisnis traveling berbasis full online," jelasnya. Fokus usahanya adalah tempat- tempat wisata dalam negeri. Ia punya prinsip yakni memuaskan pelanggan. Dia mengatakan itulah prioritas utamanya kini. Meyakinkan para pelanggan akan cakupan kebutuhan wisata dan layanan prima. 
 
Dimulai sajk 2015, bisnisnya melaju cukup pesat. Tapi jangan salah konsepnya sudah ada sejak 2014 silam. Ia telah mengumpulkan informasi tujuan- tujuan wisata lokal. Total modal awal ia bersama empat temannya cuma Rp.28 juta. 
 
Bermodal laptop mereka juga memasarkannya melalui situs www.letsgetlostid.com. Perbulan menurut penjelasannya, bisnis ini, bisa senilai Rp.40- 60 juta per- bulan. Ricky mengaku mampu menggaet paling tidak 58 orang per- bulan. 
 
Sejak enam bulan diresmikan angka tersebut bisa dibilang fantastis; bisa balik modal! Total ada 25 tempat wisata lokal di penjuru Indonesia. Dari ujung Barat sampai Timur sudah dipetakan oleh bisnisnya. Paling jauh menurutnya adalah kawasan Sulawesi Selatan. 
 
"Papua dan Raja Empat khususnya kita akan buka dalam waktu dekat," imbuhnya percaya diri.

Let's Get Lost sendiri memberikan paket- paket pariwisata unik. Contohnya ada konsep wisata Escapist Experiences, yakni wisata berbasis outdoor. Kemudian ada Entertainment Experience yakni fokus acara- acara daerah. 
 
Terkahir tapi bukan terburuk, bagi kamu yang hobi selfi atau foto- foto, adanya paket bernama Natural Aesthetics menjadi pilihan mu. Untuk mendukung usahanya, ia tak lupa untuk melakukan kegiatan sosial.

Disebutnya program social dan environment mereka meliputi pembagian buku dan pelepasan penyu. Ia pun punya alasan tersendiri ketika ditanya kenapa memilik lokal. Kenapa pariwisatanya fokus padanya tujuan- tujuan wisata asli Indonesia. 
 

Usaha Travel Lets Get Lost

 
Ricky menuturkan potensi pasar dalam negeri justru lebih besar. Disisi lain, justru masih sedikit perusahaan yang mau fokus menggarap. Kalaupun ada maka cuma itu- itu saja tujuan wisatanya.

Menurut penjelasannya lagi, dari 100% perbanding pariwisata yang terbagi wisata ke luar negeri atau dalam negeri. Nyatanya persentasinya 30:70, dimana 70 -nya merupakan wisata dalam negeri. Yang mana bahkan ia tak sanggup tangani sendiri. 
 
Masihlah luas potensi pasarnya kiranya itulah Ricky coba jelaskan. "Kenapa kita harus main keluar ketika market share wisata di dalam masih luas," imbuhnya.

Dalam sebuah kesempatan lainnya, Ricky ditemui awak Okezone, menyebut bahwa traveling ala mereka ini berbeda! Paket wisatanya bisa mengguggah adrenalin lewat paket Escapist Experience. Para pelanggan akan ditawari seperti apa konsep liburan mereka nanti. 
 
Adapula aspek edukasi atau sekedar bersantai, ataupula ada yang total hiburan juga. Ia menambahkan fokus pada satu aspek. Ini akan menonjolkan pengalaman para pelanggan lebih terlihat.

Untuk wisata domestik sendiri, kesulitannya adalah susahnya menemukan agen- agen yang bisa membawa pelanggan ke aneka wisata. Selain itu agen- agen domestik juga harus dituntut profesional dan menservis bagus. 
 
Baginya fokus pada paket wisata lokal menjadi senjata tersendiri. Intinya kamu harus fokus pasar apa yang tengah kamu garap.

Usaha Waralaba Es Krim Dilirik Malaysia

Kisah Pengusaha Pemilik BC's Cone


pengusahaeskrim.png
 
Usaha waralaba es krim ini dilirik Malaysia. Bisnis bersama teman memang solusi terbaik. Menjadi pengusaha muda dapat dilakukan bersama- sama. Tak melulu tentang uang, melainkan berbicara soal passion dan persahabatan.
 
Menjadi pengusaha muda bersama akan merekatkan persahabatan. Banyak kisah mereka yang gagal dan pecah kongsi. Namun bukan alasan, bila gagal berbisnis bersama jangan pecah persahabatan tatap lanjut.
 

Usaha Es Krim

 
Andrea salah satu pendiri, menyebutkan usaha  bertema kafe es krim ini beromzet Rp.100 juta/bulan. Kafe es krim berkonsep cafe store, diklaim olehnya sebagai satu- satunya ada di Indonesia. Sukses bertema seni mural, dipadukan dalam lembutnya es krim, jadilah apa yang disebut Andrea sebagai artology of soft ice cream. 
 
Terbentuklah es krim warna- warni unik. Ditemui awak media detikFinance, dengan percaya diri, ia menyebut angka 100 juta; menjadikannya salah satu konsep bisnis perlu kamu coba.

Dimulai sejak 7 Maret 2015, berarti baru- baru saja ini, menyasar pasar es krim yang diperkirakan tumbuh sampai 20% per- tahun. Nilai bisnisnya saja bisa mencapai Rp.2 triliun. Karena berkonsep unik maka tak ayal antusiasnya menggila. 
 
Bahkan dari pertama buka sudah menjual 4.000 es krim berbentuk cone dan gelas ditiap harinya. Bila kita berbicara modal membuat kafe es krim. Bisa dibilang 'wah' modalnya memang besar. 
 
Andrea mengaku disini bersama tiga temannya, menggelontorkan Rp.1,5 miliar bersama membangun kafe es krim bernama BC's cone ini.  Total ada 30 jenis produk makanan- minuman sudah dikonsep dulu. Dimana 15 diantaranya merupakan varian es krim. 
 
Meski telihat kebarat- baratan Andrea meyakinkan ini memiliki nilai Indonesia. Ide awalnya karena melihat kebanyakan kafe tumbuh di Jakarta. Kafe- kafe baru itu selalu saja mengusung konsep dari negara lain; tidak ada nilai Indonesianya. 
 
Oleh karena itu bersama kawannya mengusung es krim tapi memiliki cita warna dan rasa Indonesia. "Kami ingin added value dalam rasa dan warna, ada sesuatu yang wah dari es krim," terangnya. Soal pengembangan ke empatnya sepakat mewaralabakannya.

Buat kamu investor harga waralabanya tergolong premium. Ya, mahal begitu buat kamu pengusaha muda jika mau menginvestasikan uangnya. Nilai investasinya Rp2,2 miliar buat hak merek dan menyiapkan lokasi yang luas sendiri. 
 
Tenang ini sudah termasuk bahan baku dan peralatannya, jadi kamu bisa santai. Jikalau dihitung ini lebih mahal dikit dibanding modal awal Andrea; gak perlu repot lagi.

"Kita sudah daftarkan atas nama PT Arte Kreasi Kreatif. Kita punya tim business dan izin dagang serta lain- lain," terangnya.Apakah menguntungkan, maka jawabannya "ya".

Karena apa, karena negara tetangga sudah meliriknya. Ada investor dari Malaysia meminati bisnis waralaba mereka tawarkan. Investor tersebut bersemangat mendirikan bisnis BC's cone milik Andrea di Malaysia. Banyak sekali mereka tertarik selepas melihat postingan di sosial media Instagram. 
 
Ini cukuplah potensial karena belum ada di Malaysia. Olah karenanya kemungkinan mereka membuka ekspansi ke sana besar.

Gak Yakin Jualan Online Shop Pengusaha Friska

Profil Pengusaha Friska Mulya Kharisma 


jualanonline.png

Pengusaha Friska gak yakin jualan online shop. Berawal dia itu hobi belanja online. Kemudian Friska Mulya Kharisman mulai berjualan. Gadis asal Padang, lantas menjajal berjualan online sendiri. Dan menariknya dia berbisnis bermodal Rp.70 ribu.
 
Ia sempat diremehkan. Bisnis online -nya sempat dibilang bisnis iseng. Namun dia yakin mampu membuktikan bahwa ada kesuksesan itu. Mulailah Friska mencari niche barang apa dia akan jual. Tak mudah tetapi dia sudah bertekat bukan sekedar iseng.
 

Online Shop Pengusaha

 
Lewat sosial media, terutama Instagram, bisnis online dianggap hobi bagi dia. Bedanya meskipun hobi ia cermat menganalisa kebutuhan pasar. Selain itu dia menjual apa orang jarang pikirkan. Bisnis Friska adalah jualan aksesoris khusus rambut. 
 
Nah disanalah dia mendapatkan prospek Rp.1 juta per- hari. "...asyik juga nih kalau aku buka online shop juga, kan enggak butuh biaya banyak," ia berujar.

Anak kelima pasangan H. Jhony M Noer dan Ismulyati, kemudian mendalami bisnis online tersebut. Dan memang hasilnya menjanjikan. Bisnis bernama Jedai semakin hari semakin berkembang. 
 
Semenjak kali pertama buka Friska menaruh dedikasinya disini. Hobi bukan lagi sekedar hobi tetapi bisnis nyata!

Manfaat sosial media dia mampu menjual tidak cuma di Padang. Bisnis aksesoris Friska merebak sampai ke penjuru Indonesia. Bahkan nih dia sudah punya reseller sendiri. Cabang usahanya sampai ke Pekanbaru dan Jambi. Kemudian konsumen mulai dari ibu- ibu, pelajar SMP, bahkan mahasiswa.

Dia bercerita bukan mudah. Ada halangan juga dalam berbisnis online. Ia sempat diremehkan karena jualan begitu. Untung kan sedikit mungkin pikir orang. Banyak orang tidak percaya kalau omzetnya bisa jadi saban hari sejuta. 
 
Masih banyak orang tidak percaya kalau omzet dihasilan Friska segitu. Tapi Alhamdulillah... dia bersyukur karena sekarang sudah punya deposito. Dari usahanya jualan jepitan rambut kemudian berkembang ke clothing dan usaha makanan. 
 
Biarin orang mau bilang apa. Friska sudah capek mendengar sindiran orang. Capek mendengarkan pikiran negatif tentang kita. Terus berkarya sebagai pengusaha muda Indonesia. Perempuan yang juga punya karir dokte koas ini. 
 
Mengaku bahwa bisnis dijalankan sekarang bervariasi. Dia juga mau mengajak sang adik ikutan membuka bisnis kafe misal. Kafe dijalankan dia dan adik bernama Opung Waffle. Mereka berjualan aneka varian waffle dan menu lain. Kalau clothing bernama Hello Monday. 
 
Kafe sendiri sudah berdiri di GOR H Agus Salim, Jalan Rokan No. 6. Ia merenovasi tempat agar nyaman. Gadis cantik 25 tahun, kelahiran 10 Oktober 1992, menyasar kalangan anak muda hobi nongkrong. 
 
Adapula konsep dia inginkan sambil nongkrong, makan, dan pilih baju di clothing miliknya. Kafe Friska akan baru buka pukul 3 sore sampai malam.

Kenapa tidak pagi padahal sudah banyak pelanggan. Banyak costumer mau mereka buka pagi hari. Tetapi kedua pengusaha muda tersebut sepakat. Mereka meyakini kuliah masih menjadi prioritas dulu. Terutama buat si adik yang tengah mengejar gelar. 
 
Memang jadi dokter koas masih butuh banyak waktu tersita ya. Prinsip membagi waktu diterapkan Friska. Kedisiplinan terlihat jelas karena semua bisnis dijalankan bisa sukses. Pokoknya dibuat enjoy soal melakukan sesuatu. 
 
Memiliki visi ke depan memang penting, tetapi bukan terus kerja keras tanpa pikir panjang. Jangan melupakan kewajiban untuk diselesaikan jelas Friska. Ia memberi pesan penutup, "mental pedagang harus tahan banting. 
 
Yang penting usaha, asal mau usaha dan optimis pasti akan menghasilkan." Ia mengajak anak muda lain agar bisa bersama membangun Padang, dengan kegiatan positif tentu.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba